← Daftar isi Filipi (2) · bab 11/20

MEMPEROLEH KRISTUS MELALUI MENCAPAI KEBANGKITAN YANG UNGGUL

Pembacaan Alkitab: Flp. 3:10-14

Dalam 3:10-14 Paulus menitikberatkan kebangkitan yang unggul. Ayat 11 mengatakan, “Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (yang unggul) dari antara orang mati.” Usaha Paulus ialah mencapai kebangkitan yang unggul ini. Dalam ayat 12 ia meneruskan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Paulus di sini mengakui bahwa ia sendiri belum mencapai kebangkitan yang unggul, tetapi ia terus mengejar agar ia menangkapnya. Kristus telah menangkapnya bagi kebangkitan yang unggul ini, sekarang keinginan Paulus ialah menangkap kebangkitan yang unggul. Tujuan Kristus dalam menangkapnya ialah agar ia bisa memperoleh kebangkitan yang unggul. Karena itu, dalam ayat 11 dan 12, kebangkitan yang unggul merupakan sasaran Paulus, atau obyek pengejarannya.

Dalam ayat 13 dan 14 Paulus melanjutkan, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah (pahala), yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Di sini kita nampak bahwa Paulus tidak menganggap dirinya telah menangkap kebangkitan yang unggul. Namun, ia mengejar sasaran itu, sasaran kebangkitan yang unggul demi pahala dari panggilan surgawi Allah di dalam Kristus Yesus.

SASARAN DAN PAHALA

Sasaran berbeda dengan pahala. Paulus mengejar sasaran demi pahala panggilan surgawi Allah. Setiap panggilan mempunyai satu tujuan dan sasaran. Apakah tujuan dan sasaran panggilan surgawi Allah? Ungkapan “panggilan surgawi” di sini berarti panggilan ini berasal dari atas, dari surga. Menurut bahasa Yunani kata ini dapat diterjemahkan langsung menjadi “panggilan dari atas”. Dalam Ibrani 3:1 Paulus memakai istilah “panggilan surgawi”. Kebangkitan yang unggul merupakan tujuan dan sasaran panggilan surgawi Allah ini. Karena itu, jika kita merenungkan 3:10-14 dengan teliti, kita akan memahami bahwa kebangkitan yang unggul adalah judul utama Paulus.

Istilah “kebangkitan yang unggul” dalam Alkitab hanya terdapat dalam Filipi 3:11. Menurut pengetahuan saya, kebanyakan penerjemah mengabaikan awalan “ek” dalam bahasa Yunani yang berarti “luar biasa”, “unggul”. Di sini Paulus menambahkan awalan ini pada istilah Yunani yang umum: kebangkitan. Apakah alasan Paulus melakukan hal ini? Berdasarkan visi dan pengalaman, ia mengetahui bahwa kehendak Allah dalam alam semesta ini mutlak berhubungan dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang berada dalam kebangkitan, tetapi kebangkitan yang sangat khas, bukan kebangkitan yang biasa.

KELUAR DARI CIPTAAN LAMA DAN

MASUK KE DALAM CIPTAAN BARU

Makna kebangkitan yang umum ialah sesuatu yang telah mati dan hidup kembali. Inilah kebangkitan yang dialami Lazarus. Ia telah mati dan dikubur, bahkan telah berbau busuk. Kemudian, Tuhan datang dan berseru dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” Dan Lazarus keluar dari kubur (Yoh. 11:43-44). Apakah kebangkitan Lazarus merupakan peristiwa kebangkitan yang unggul? Tidak, sekalipun Lazarus telah bangkit dari antara orang mati dan hidup kembali, tetapi tidak ada sesuatu yang berasal dari ciptaan baru yang tergarap ke dalamnya. Sebaliknya, ia tetap menjadi seorang ciptaan lama. Lazarus hanya mengalami pemulihan, ia telah dipulihkan dari maut kepada hayat alamiah. Tetapi pada saat itu dia juga tidak dilahirkan kembali dan menerima suatu susunan yang baru. Pernahkah Anda mendengar satu berita yang mengatakan bahwa kebangkitan Lazarus bukan dibangkitan ke dalam ciptaan baru, tetapi ia tetap berada dalam lingkungan ciptaan lama? Fakta bahwa Lazarus tidak dimasukkan ke dalam ciptaan baru melalui kebangkitannya, terbukti dari ia akan mati lagi dan kemudian tubuhnya yang pernah bangkit itu akan dimasukkan sekali lagi ke dalam kubur.

Kebangkitan yang unggul dalam 3:11 sangat berlainan dengan kebangkitan Lazarus. Apakah Paulus berharap kembali ke kubur lagi setelah ia beroleh kebangkitan yang unggul? Pasti tidak! Kebangkitan yang Paulus tuntut dalam Filipi 3 adalah sesuatu yang sama sekali di luar ciptaan lama; itu mutlak di dalam ciptaan baru. Apa yang Paulus sebut kebangkitan yang unggul ini ditujukan kepada kebangkitan yang keluar dari ciptaan lama dan masuk ke dalam ciptaan baru.

SASARAN PAULUS

Menurut tata bahasa, kebangkitan yang unggul dalam ayat 11 adalah sasaran yang Paulus tuntut dalam ayat 10. Dalam ayat-ayat ini Paulus berkata, “Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (yang unggul) dari antara orang mati.” Dalam ayat 10 kita nampak bahwa Paulus ingin mengenal: Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, persekutuan dalam penderitaan-Nya, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Ia ingin mengenal Kristus, mengalami Kristus, dan menikmati Kristus. Sasaran Paulus terdapat dalam ayat 11 — beroleh kebangkitan yang unggul. Pada hakikatnya, ini bukan hanya sasaran ayat 10, tetapi juga sasaran ayat 8 dan 9. Paulus menganggap segala sesuatu sampah untuk mendapatkan Kristus (ayat 8) dan ditemukan di dalam Kristus (ayat 9), mengenal Kristus, kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, agar ia dapat mencapai kebangkitan yang unggul. Menurut tata bahasa, inilah interpretasi yang tepat dari ayat 8 hingga 11. Sasaran Paulus ialah mencapai kebangkitan yang unggul.

Dalam berita ini kita perlu merenungkan bagaimana kita dapat mencapai kebangkitan yang unggul. Untuk ini haruslah kita mengenal Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya, haruslah kita mengenal Dia dalam persekutuan penderitaan-Nya, dan haruslah kita mengenal Dia melalui diserupakan dalam kematian-Nya.

MATI TERHADAP CIPTAAN LAMA

DAN HIDUP TERHADAP ALLAH

Melalui inkarnasi, Tuhan Yesus mengenakan sifat insani. Ia mengenakan satu tubuh yang berdarah dan daging. Tubuh ini milik ciptaan lama atau ciptaan baru? Darah dan daging adalah bagian dari ciptaan lama. Satu Korintus 15:50 mengatakan, “Daging dan darah tidak mewarisi Kerajaan Allah.” Ini termasuk daging dan darah Tuhan Yesus. Di sini prinsipnya ialah, segala yang menjadi milik ciptaan lama tidak bersangkut-paut dengan Kerajaan Allah. Karena itu, tubuh yang dikenakan Tuhan Yesus adalah milik ciptaan lama.

Selama hidup di bumi, Tuhan Yesus menempuh kehidupan insani. Kehidupan insani Tuhan ini bagian dari ciptaan lama atau ciptaan baru? Walaupun Tuhan Yesus mempunyai satu tubuh yang berdarah dan daging yang menjadi milik ciptaan lama, dan walaupun Ia hidup dalam lingkungan ciptaan lama, namun kehidupan yang Ia tempuh itu bukan milik ciptaan lama. Sebaliknya, kehidupan yang ditempuh Tuhan Yesus sepenuhnya adalah milik ciptaan baru. Tetapi bagaimanakah Dia, seorang yang bertubuh ciptaan lama dan tinggal dalam lingkungan ciptaan lama dapat menempuh kehidupan ciptaan baru? Ia dapat berbuat demikian melalui terus-menerus mati terhadap tubuh dan lingkungan ciptaan lama-Nya dan hidup terhadap Allah. Inilah cara Dia menempuh kehidupan yang sepenuhnya menjadi milik ciptaan baru.

Kita tidak seharusnya berpikir bahwa Tuhan Yesus hanya mati pada saat Dia disalibkan. Tidak, Ia sudah mulai mati dan menempuh kehidupan yang tersalib sejak Dia lahir. Tuhan memang telah menempuh kehidupan insani, tetapi itu adalah kehidupan yang tersalib. Melalui menempuh kehidupan yang tersalib itulah Dia telah mati terhadap ciptaan lama.

Kehidupan Tuhan yang tersalib ini terlukis melalui satu peristiwa yang terjadi ketika Dia berusia 12 tahun. Ketika Dia dicari-cari berhari-hari lamanya dan akhirnya ditemukan oleh ayah dan ibu-Nya, ibu-Nya lalu berkata, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk. 2:48). Jawab Tuhan, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ayat 49). Di sini kita nampak bahwa Tuhan sudah menempuh kehidupan yang tersalib sekalipun Ia baru berusia 12 tahun. Ia memang telah menerima hayat ciptaan lama melalui ibu-Nya, Maria. Tetapi Ia tidak hidup menurut hayat ciptaan lama, melainkan mati terhadapnya, dan hidup menurut hayat lain, yakni menurut hayat Bapa-Nya.

Yohanes 6:57 membantu kita untuk memahami hal ini. Dalam ayat ini Tuhan Yesus berkata, “Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa.” Ya, Tuhan Yesus memang hidup, tetapi Ia hidup oleh Bapa. Bapa hidup di dalam Dia dan Dia memperhidupkan Bapa. Ini berarti Dia tidak menempuh hidup ciptaan lama yang diterima dari ibu-Nya. Karena itu, walaupun Dia memiliki satu tubuh ciptaan lama dan berada dalam lingkungan ciptaan lama, Dia tidak menempuh kehidupan ciptaan lama. Sebaliknya, Ia menempuh suatu kehidupan yang ilahi dan kekal, hayat Allah diperhidupkan-Nya dalam ciptaan lama. Kehidupan yang sedemikian ini adalah unsur ciptaan baru.

Paulus pernah dua kali mengetengahkan ciptaan baru. Dalam Galatia 6:15 ia berkata, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Dalam 2Korintus 5:17 ia mendeklarasikan, “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.” Kapan ciptaan baru ini dimulai? Kalau ciptaan lama dimulai dari Kejadian 1:1, yang mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” maka ciptaan baru dimulai dari permulaan Tuhan Yesus menempuh kehidupan lain, kehidupan yang tersalib. Ia sudah menempuh kehidupan ciptaan baru ketika Dia masih berada dalam tubuh dan lingkungan ciptaan lama. Selama Dia hidup dengan cara demikian, Dia telah mati terhadap setiap perkara yang berasal dari ciptaan lama secara terusmenerus.

Pada suatu hari, dengan bantuan Iblis dan pengikut-pengikutnya, tubuh Tuhan Yesus telah diletakkan dalam kematian yang sesungguhnya dan semutlaknya. Kemudian, tubuh ciptaan lama-Nya dikubur dalam makam. Tiga hari setelah itu tubuh ini telah dibangkitkan. Namun, kebangkitan tubuh Tuhan Yesus berbeda sekali dengan kebangkitan tubuh Lazarus. Tubuh Lazarus yang bangkit tidak berubah; tetap ciptaan lama. Tetapi tubuh Yesus Kristus yang bangkit telah berubah baik dalam sifat maupun bentuknya. Tubuh ciptaan lama adalah tubuh darah dan da-ging, sedangkan tubuh ciptaan baru menjadi tubuh yang rohani.

MENGENAL KRISTUS DALAM KEBANGKITAN

Kristus yang telah berinkarnasi, tersalib, dan dibangkitkan ini telah menjadi sebutir benih yang tertanam di dalam kita. Kristus yang kita terima bukanlah Kristus yang alamiah, melainkan Kristus yang telah dibangkitkan dan diubah. Petrus mengenal Kristus dalam daging, yakni semasa Dia dalam tubuh ciptaan lama. Tetapi Kristus yang kita alami hari ini adalah Kristus yang mutlak berada dalam ciptaan baru. Apakah Anda masih iri terhadap murid-murid yang mengenal Tuhan Yesus dalam daging? Apakah Anda masih damba seperti Yohanes, yaitu berbaring di ribaan Yesus? Dalam batin dan mungkin di bawah sadar, diam-diam kita masih ingin hidup pada masa Petrus, Yohanes, dan Yakub, karena mereka dapat beserta dengan Tuhan secara jasmaniah. Namun, mengenal Kristus dalam kuasa, alam, dan unsur kebangkitan-Nya dan dalam persekutuan penderitaan-Nya adalah jauh lebih baik.

DISERUPAKAN DENGAN KEMATIAN KRISTUS

Mungkin kita menganggap rendah ciptaan lama dan ingin bebas dari pengaruhnya. Tetapi, semakin kita benci akan ciptaan lama, ia akan semakin melekat pada kita. Hanya di dalam Tubuh Kristus barulah kita dapat bebas dari pengaruh ciptaan lama. Hanya bila kita diduduki dengan dan oleh Tubuh Kristus baru kita dapat bebas dari mengeluarkan begitu banyak waktu untuk memikirkan diri sendiri. Paulus telah diduduki oleh Tubuh Kristus sedemikian rupa sehingga tidak ada ruang lagi dalam dirinya untuk memperhatikan perkara-perkaranya sendiri. Karena Paulus begitu memperhatikan Tubuh Kristus, maka ia mengambil bagian dalam persekutuan penderitaan Kristus. Dengan jalan inilah ia diserupakan dengan kematian Kristus.

Dalam ayat 10 ada empat perkara yang penting: mengenal Kristus, mengenal kuasa kebangkitan-Nya, mengenal persekutuan penderitaan-Nya, dan diserupakan dengan kematian-Nya. Sebenarnya diserupakan dengan kematian-Nya berkaitan baik dengan mengenal kuasa kebangkitan Kristus maupun dengan mengenal persekutuan penderitaan-Nya. Kata “diserupakan” menunjukkan bagaimana kita dapat mengenal kuasa kebangkitan Kristus dan persekutuan penderitaan-Nya.

Kita telah menunjukkan bahwa kematian Kristus berlangsung dalam keseluruhan kehidupan-Nya di bumi. Sewaktu Dia hidup, Dia pun selalu mati; mati terhadap ciptaan lama untuk hidup dalam ciptaan baru. Inilah makna “kematian-Nya” dalam ayat 10. Kita perlu diserupakan dengan kematian Kristus baik dalam hidup gereja (church life) maupun dalam kehidupan keluarga, yakni mati terha-dap ciptaan lama, supaya kita dapat memperhidupkan ciptaan baru.

Pemakaian kata “diserupakan” dalam 3:10 oleh Paulus menyiratkan Kristus sebagai satu acuan atau cetakan. Ketika para saudari membuat kue, mereka sering menggunakan sebuah cetakan. Adonan dituang ke dalam cetakan dan akan terbentuk kue sesuai dengan bentuk cetakan. Pada hari pertama kita menempuh kehidupan orang Kristen, kita seperti segumpal adonan yang dituang ke dalam cetakan kematian Kristus. Ketika kita menderita bagi Tubuh, kita diserupakan dengan kematian Kristus. Inilah arti diserupakan dengan kematian-Nya.

Melalui diserupakan dengan kematian Kristus, kita mengalami kuasa kebangkitan-Nya dan memasuki persekutuan penderitaan-Nya. Inilah cara kita mencapai kebangkitan yang unggul, dan mencapai tujuan sepenuhnya keluar dari ciptaan lama serta dibangkitkan sepenuhnya ke dalam ciptaan baru.

HIDUP DALAM CIPTAAN BARU

Jika seorang saudara telah mencapai kebangkitan yang unggul dalam pengalamannya, maka kasihnya terhadap istrinya juga berada dalam ciptaan baru. Kasihnya tidak lagi kasih yang alami, kasih dalam ciptaan lama. Seorang saudara boleh jadi sangat mencintai istrinya, namun kasihnya mungkin tidak ada sangkut-pautnya dengan kebangkitan yang unggul itu. Demikian pula seorang istri mungkin sangat taat kepada suaminya menurut etika dan latar belakang kebudayaan, tetapi ketaatannya itu juga mungkin mutlak berada dalam alamiahnya, dalam ciptaan lama, dan sama sekali tidak di dalam ciptaan baru. Misalkan, seorang saudari bertekad menaati suaminya. Sebenarnya ia tidak mau mematuhinya, tetapi mungkin dengan meneteskan air mata ia memaksa dirinya untuk berbuat demikian. Ketaatan semacam ini adalah ketaatan dalam ciptaan lama. Allah tidak menghendaki kasih atau ketaatan yang alamiah, kasih dan ketaatan yang bukan di dalam kebangkitan yang unggul; sebaliknya, Dia menghendaki kita memperhidupkan kehidupan yang diwahyukan dalam Filipi 3. Untuk ini kita perlu memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia untuk mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, diserupakan dengan kematian-Nya agar kita dapat mencapai kebangkitan yang unggul.

Pada waktu Paulus menulis Surat Kiriman ini kepada orang Filipi, ia tidak menganggap dirinya sendiri telah mencapai kebangkitan yang unggul. Karena itu ia berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Paulus hanya memperhatikan satu perkara — melupakan apa yang telah di belakang, dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan. Dia berlari ke sasaran yang di depan untuk meraih hadiah atau pahala panggilan surgawi Allah dalam Kristus Yesus. Semua perkara yang di belakang adalah milik ciptaan lama, tetapi perkara yang di depan adalah milik ciptaan baru. Allah telah menyelamatkan kita dari ciptaan lama dan meletakkan kita dalam suatu perlombaan menuju sasaran untuk memperoleh pahala. Sekarang kita harus berlari-lari dalam perlombaan ini untuk mencapai kebangkitan yang unggul dari antara orang mati dan segala perkara milik ciptaan baru.