← Daftar isi Filipi (2) · bab 12/20

BERLARI KEPADA TUJUAN UNTUK MEMPEROLEH PAHALA DARI PANGGILAN SURGAWI

Pembacaan Alkitab: Flp. 3:10-14; Rm. 8:11; Why. 20:6

Berita ini akan berfokus pada dua istilah yang tercantum dalam Filipi 3:14: tujuan dan pahala. Bila kita mencapai tujuan, kita akan menerima pahala. Jadi, berlari kepada tujuan adalah untuk memperoleh pahala. Namun, apakah tujuan itu, dan apakah pahala itu? Kebanyakan orang akan menjawab bahwa tujuan maupun pahala itu adalah Kristus. Walaupun jawaban itu boleh dianggap benar, tetapi dalam berita ini kita harus melihat sesuatu yang istimewa ten-tang tujuan dan pahala dari Filipi 3:10-14.

Filipi 3:10-13 membantu kita memahami tujuan dan pahala dalam ayat 14. Dalam ayat 11 kita boleh mengatakan bahwa kebangkitan yang unggul sebenarnya bersino-nim dengan Kristus. Dalam ayat 10 Paulus membicarakan tentang mengenal Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan penderitaan-Nya. Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa jika kita ingin mengenal Kristus, kita harus mengenal kebangkitan-Nya. Namun, kebanyakan orang Kristen mengabaikan perkara yang penting ini. Mereka paling banyak hanya mengenal Kristus dan kematian-Nya, bukan kuasa kebangkitan-Nya. Di antara orang-orang Kristen hari ini jarang sekali terdengar berita yang wajar dan tepat tentang kuasa Kristus. Tidak banyak pengkhotbah membicarakan kuasa kebangkitan Kristus seperti yang dibicarakan oleh Paulus.

Kita telah menunjukkan bahwa Paulus damba mendapatkan Kristus dan ditemukan di dalam Dia, mengenal Dia, kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan penderitaan-Nya. Mengenal Kristus sedemikian ini adalah hasil dari mendapatkan Dia dan ditemukan di dalam Dia. Pemikiran di sini begitu dalamnya sehingga jarang orang Kristen yang memberi perhatian ke atas hal ini. Pikiran alamiah kita tidak mampu menjamah kedalaman dari apa yang dimaksud dengan “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya”.

Sekarang, kita perlu mengajukan satu pertanyaan yang penting: Di manakah Yesus Kristus hari ini? Dalam berita ini saya akan menjawab bahwa Kristus ada dalam kebangkitan. Sudah pasti, di satu pihak Kristus ada di surga, dan di pihak lain, Dia berada di dalam kita. Namun, saya akan menekankan satu fakta yang menakjubkan, yaitu bahwa Kristus hari ini ada dalam kebangkitan. Pada suatu hari, sebagai persona yang ada dalam kekekalan ini, Kristus telah menjadi seorang manusia melalui inkarnasi. Akhirnya, Dia disalibkan dan dikubur. Melalui kematian Dia memasuki alam lain, alam kebangkitan. Dalam eksistensi-Nya dahulu Kristus adalah Allah dan bersama-sama Allah dalam kekekalan; melalui inkarnasi, Dia menjadi manusia dalam daging; kemudian, melalui penyaliban dan penguburan, Dia memasuki kebangkitan. Pernahkah Anda mendengar bahwa Kristus sekarang berada di dalam kebangkitan? Pada hari kebangkitan-Nya, para malaikat memberi tahu beberapa orang perempuan bahwa Kristus tidak ada dalam makam, karena Dia telah bangkit dari antara orang mati (Luk. 24:1-6). Hal ini menunjukkan bahwa Kristus ada dalam kebangkitan.

Karena Kristus sekarang ada dalam kebangkitan, maka kita tidak dapat mengenal Dia dalam pengalaman kecuali kita mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Hari ini ada beberapa orang Kristen yang mengenal Kristus pada aspek inkarnasi dan penyaliban-Nya. Tetapi dalam Filipi 3 Paulus ingin mengenal Dia tidak hanya dalam kematian-Nya, terlebih pula dalam kebangkitan-Nya.

Sebagai lanjutan ayat 10, dalam ayat 11, Paulus berkata, “Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (yang unggul) dari antara orang mati.” Istilah “kebangkitan yang unggul” ini sukar dimengerti. Setelah Kristus dibangkit-kan, Dia menjadi satu persona yang sepenuhnya berada dalam kebangkitan. Tidak hanya demikian, kebangkitan di mana Kristus berada hari ini bukanlah suatu kebangkitan yang biasa, seperti yang dialami Lazarus; melainkan kebangkitan yang luar biasa. Karena alasan inilah, Paulus menambahkan awalan “ek” di depan kata Yunani yang berarti “kebangkitan” itu untuk memperlihatkan bahwa kebangkitan Kristus adalah yang luar biasa. Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan yang unggul.

DEFINISI KEBANGKITAN YANG UNGGUL

Berada dalam kebangkitan yang unggul berarti meninggalkan setiap hal milik ciptaan lama dan dibawa ke dalam Allah. Walaupun Lazarus telah dibangkitkan, tetapi ia tidak meninggalkan hal-hal milik ciptaan lama, juga tidak dibawa ke dalam Allah. Pada akhir zaman yang akan datang semua orang yang tidak percaya yang telah mati akan dibangkitkan. Namun, kebangkitan itu tidak membawa mereka keluar dari ciptaan lama, dan tidak membawa mereka ke dalam Allah. Hanya sejenis kebangkitan yang membawa kita keluar dari ciptaan lama dan membawa kita ke dalam Allah, itulah kebangkitan Kristus. Jadi, kebangkitan Kristus adalah kebangkitan yang unggul atau yang luar biasa. Kristus adalah persona yang unik yang melalui ciptaan lama dan masuk ke dalam Allah. Dalam berita terdahulu telah kita tunjukkan bahwa Kristus hidup dalam tubuh dan lingkungan ciptaan lama selama tiga puluh tiga setengah tahun. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia meninggalkan ciptaan lama dan dibawa ke dalam Allah.

Jangan mengira Kristus tidak pernah ada dalam ciptaan lama. Menurut Kolose 1:15 Kristus adalah yang sulung dari ciptaan Allah. Tubuh jasmani-Nya adalah milik ciptaan lama dan hidup dalam keluarga seorang tukang kayu di Nazaret; Dia hidup dalam lingkungan ciptaan lama. Pada akhirnya, Dia membawa ciptaan lama di atas diri-Nya sendiri sebagai beban dan memakunya di atas salib. Sekarang, dalam kebangkitan, Kristus sepenuhnya keluar dari ciptaan lama dan masuk ke dalam Allah. Segala apa adanya Dia, segala yang dimiliki-Nya, dan segala yang Dia lakukan ada di dalam Allah. Inilah makna kebangkitan yang unggul.

Jika kita ingin mengenal Kristus, haruslah kita mengenal kebangkitan yang unggul ini dan mencapainya. Perkataan Paulus “mencapai kebangkitan yang unggul” menyiratkan satu tujuan. Tujuan yang disebut dalam ayat 14 ini adalah kebangkitan yang unggul yang disebut dalam ayat 11. Karena itu, mencapai kebangkitan yang unggul berarti mencapai tujuan tersebut. Dalam ayat 12 dan 13 Paulus mengaku bahwa ia sendiri tidak menganggap ia sudah mencapai tujuan ini. Tetapi, ia melupakan apa yang telah di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, dan ia berlari-lari kepada tujuan kebangkitan yang unggul itu.

Dalam berita terdahulu saya mengatakan bahwa tujuan itu adalah Kristus itu sendiri, dan sekarang saya mengatakan bahwa tujuan itu adalah kebangkitan yang unggul. Mengatakan Kristus adalah tujuan berarti membicarakannya secara umum menurut ayat 8 dan 9. Tetapi jika kita membicarakannya secara khusus, maka tujuan itu adalah kebangkitan yang unggul. Jika kita merenungkan ayat 14 dalam kaitannya dengan ayat 11, kita akan nampak bahwa tujuan itu semestinya adalah kebangkitan yang unggul. Karena itu, secara umum tujuan itu adalah Kristus, tetapi secara khusus tujuan itu adalah kebangkitan yang unggul.

Sekarang kita harus mengajukan satu pertanyaan yang penting: Dapatkah kita mencapai tujuan kebangkitan yang unggul dalam zaman ini, atau kita hanya dapat menempuh perlombaan dan berharap mencapai tujuan itu pada zaman yang akan datang? Ada beberapa orang mungkin mengira bahwa kita harus menunggu hingga zaman yang akan datang baru dapat mencapai tujuan itu. Tetapi, jika kita tidak dapat mencapai tujuan pada zaman ini, kita tidak akan mencapainya pada zaman yang akan datang. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan ini selama kita masih hidup.

Dalam Filipi 1:21 Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Kristus ini adalah tujuannya. Karena itu, bagi Paulus hidup adalah tujuan — Kristus sebagai kebangkitan yang unggul. Demikian pula, bagi kita, hidup kita pun seharusnya adalah kebangkitan yang unggul, sebab Kristus yang harus kita perhidupkan adalah kebangkitan yang unggul. Sebagai contoh, seorang saudara sangat mengasihi istrinya. Ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kasihnya itu kasih yang alamiah atau dalam kebangkitan. Suami yang bukan Kristen pun bisa mengasihi istrinya dengan kasih yang alamiah. Jika seorang saudara mengasihi istrinya dalam kebangkitan, maka kasihnya adalah kasih yang di luar ciptaan lama dan di dalam Allah. Hal ini me-nunjukkan bahwa memperhidupkan Kristus berarti memperhidupkan kebangkitan yang unggul, menempuh suatu kehidupan yang mutlak di luar ciptaan lama, dan mutlak di dalam Allah.

Ketika saya masih muda, saya heran mengapa nam-paknya Paulus begitu sukar untuk mencapai tujuan. Saya kira yang membuatnya sukar adalah penganiayaan yang dideritanya. Saya kira ada oposisi dari pihak lain yang menghalanginya dalam menempuh perlombaan kristianinya. Beberapa tahun kemudian, melalui pengalaman saya baru tahu bahwa mengalahkan penganiayaan lebih mudah daripada mengasihi istri saya dalam kebangkitan yang unggul dan tidak menurut hayat alamiah. Saya berada dalam Kristus sudah lebih dari lima puluh tahun. Selama ini saya adalah orang Kristen yang bergairah. Setelah melalui banyak rintangan dalam perlombaan kristiani, saya sadar bahwa rintangan terbesar adalah hayat alamiah berikut pikiran dan kebiasaannya. Hayat alamiah menghalang-halangi kita dalam menempuh perlombaan kita mencapai tujuan itu.

Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, berapa banyak percakapan Anda sehari-hari yang berasal dari alamiah, dan berapa banyak yang berasal dari kebangkitan yang unggul? Walaupun Anda mungkin tidak membicarakan sesuatu yang jahat dan memfitnah, tetapi tutur kata Anda boleh jadi sangat alamiah. Mungkin Anda banyak membicarakan hal yang positif, namun kata-kata Anda terucap secara alamiah, tidak dalam kebangkitan. Memperbaiki karakter, kelakuan, etika, atau akhlak mudah, tetapi hidup dalam kebangkitan sulitnya luar biasa.

Salah satu ciri khas hayat alamiah kita ialah khawatir. Apakah Anda bebas dari kekhawatiran dan ketakutan? Belakangan ini saya mengalami masalah kesehatan, dan saya khawatir akan hal tersebut. Saya menyatakan perkataan Tuhan dalam Filipi 4:6-7, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Tetapi, segera setelah saya menyatakan bahwa saya berdiri di atas janji ini, saya menjadi khawatir lagi. Saya ingin bebas dari kekhawatiran, tetapi kekhawatiran itu enggan membebaskan saya. Tahukah Anda mengapa saya khawatir? Saya menjadi khawatir karena saya tidak sepenuhnya berada dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan yang unggul tidak ada kekhawatiran. Kekhawatiran adalah milik ciptaan lama, dan tidak dapat masuk ke dalam alam lingkungan kebangkitan, ke dalam alam ciptaan baru.

Dari pengalaman Paulus tahu bahwa untuk menempuh hidup yang sama sekali bebas dari ciptaan lama dan berada dalam Allah tidaklah mudah. Dalam 1:21 ia menyatakan: “Bagiku hidup adalah Kristus.” Tetapi dalam pasal 1 kita hanya nampak satu penyataan, tanpa penjelasan atau definisi. Dalam pasal 3, baru kita nampak bahwa memperhidupkan Kristus berarti memperhidupkan kebangkitan yang unggul, dan ini seharusnya menjadi tujuan kita. Perilaku dan tutur kata kita seharusnya berada dalam kebangkitan. Jika ada perilaku tertentu tidak berada dalam kebangkitan, janganlah kita lakukan. Jika ada perkataan tertentu tidak berada dalam kebangkitan, janganlah kita ucapkan. Persoalannya bukan perkara itu benar atau salah, melainkan ia berada dalam kebangkitan atau bukan. Bahkan kasih kita pun harus berada dalam kebangkitan.

Dalam kebangkitan yang unggul tidak ada unsur ciptaan lama. Sebaliknya, setiap perkara penuh dengan unsur ilahi. Inilah alasannya orang dapat merasakan Allah ketika mereka hadir bersama orang yang hidup dalam kebangkitan yang unggul. Kehidupan orang yang demikian, yakni perilaku dan tutur katanya berada dalam kebangkitan. Inilah kebangkitan yang unggul dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam Filipi 3 Paulus menuntut kehidupan semacam ini. Inilah pikiran yang tersirat dalam benaknya ketika ia menyatakan bahwa keinginannya ialah mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, dan akhirnya ia dapat memperoleh kebangkitan yang unggul. Ia tidak menganggap dirinya sendiri telah memperolehnya, tetapi ia berlari-lari kepada tujuan kebangkitan yang unggul tersebut.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia memperlihatkan kedalaman ayat-ayat dalam Kitab Filipi ini kepada kita. Apa yang Ia katakan tentang kebangkitan yang unggul tidak akan sia-sia. Saya percaya banyak di antara kita akan memiliki suatu kehidupan yang bebas dari ciptaan lama dan berada di dalam Allah.

Sebagaimana tujuan itu adalah kebangkitan yang unggul, maka pahala itu juga adalah kebangkitan yang unggul. Tujuan adalah untuk kita capai, sedangkan pahala untuk kita nikmati. Kita dapat mencapai tujuan ini pada zaman ini, tetapi kita akan menikmati pahala pada zaman yang akan datang.

Dalam Roma 8:11 Paulus berkata, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kebangkitan yang unggul pada zaman sekarang ini. Di sini Paulus berkata bahwa Roh Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati akan memberikan hayat kepada bagian diri kita yang fana, yakni tubuh kita yang fana. Kita telah nampak bahwa Roh itu adalah realitas kebangkitan Kristus, realitas kebangkitan yang unggul. Roh itu diam di dalam kita dan menggarapkan kebangkitan yang unggul ke dalam diri kita secara riil dan praktis. Karena itu, Roma 8:11 menunjukkan bahwa kita harus mencapai kebangkitan yang unggul pada zaman ini.

Wahyu 20:6 mengacu kepada pahala pada zaman yang akan datang, yaitu pahala kebangkitan yang pertama: “Berbahagia dan kuduslah orang yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia selama seribu tahun.” Istilah “pertama” di sini sama dengan istilah yang dipakai untuk jubah yang “terbaik” yang diberikan kepada anak hilang yang kembali dalam Lukas 15. Kebangkitan pertama adalah kebangkitan yang terbaik, kebangkitan yang unggul. Jika kita pada zaman ini tidak menuntut suatu kehidupan yang sama sekali bebas dari ciptaan lama dan berada di dalam Allah, kita tidak akan memiliki pahala bagi kenikmatan kita pada zaman yang akan datang. Tetapi, jika kita hari ini beroleh kebangkitan yang unggul, kebangkitan itu akan menjadi suatu pahala bagi kita pada zaman yang akan datang. Kemudian, apa yang sekarang menjadi tujuan kita akan menjadi pahala kita kelak selama seribu tahun; kita akan memerintah sebagai raja bersama Kristus. Hal itu akan menjadi kenikmatan atas kebangkitan yang unggul sebagai pahala kita. Di dalam Kristus, Allah telah memanggil kita dengan panggilan surgawi untuk pahala ini. Pahala ini seharusnya menjadi tujuan yang kita kejar dan peroleh pada zaman ini.