← Daftar isi Filipi (2) · bab 13/20

PIKIRAN YANG UNIK DAN TINDAK TANDUK YANG UNIK

Pembacaan Alkitab: Flp. 3:15-16; Gal. 5:25; 6:15-16

Dalam Filipi 3 kita nampak satu wahyu dari satu persona yang unik — Kristus yang unggul dan almuhit. Dalam berita ini kita akan melihat bahwa sebagai orang Kristen kita harus memiliki pikiran yang unik di batin kita dan tindak tanduk yang unik di lahir kita.

PIKIRAN YANG MENUNTUT

KEBANGKITAN YANG UNGGUL

Dalam ayat 15 Paulus berkata sebagai penutup 3:1-14, “Karena itu, marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.” Apakah maksud Paulus mengatakan “berpikir demikian”? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu merenungkan perkataan Paulus dalam ayat 13-14, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Kata “berpikir demikian” yang diucapkan Paulus berarti memiliki pikiran yang melupakan apa yang telah di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan untuk berlari-lari kepada tujuan demi memperoleh hadiah (pahala).

Kita telah menunjukkan bahwa tujuan itu adalah kehidupan, tindak tanduk, dan diri kita dengan mutlak terlepas dari ciptaan lama dan masuk ke dalam Allah. Inilah tujuan kebangkitan yang unggul (ayat 11). Berlari-lari kepada tujuan kebangkitan yang unggul berarti menuntut kehidupan yang terlepas dari ciptaan lama dan sepenuhnya berada di dalam Allah. Kebangkitan yang unggul ini sebenarnya adalah Kristus itu sendiri dalam kebangkitan. Kita dapat juga mengatakan bahwa diri Kristus sendiri justru melukiskan kebangkitan yang unggul. Sebelum inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus, lukisan ini belum ada, sebab belum ada perihal kebangkitan yang unggul. Sebelum inkarnasi Kristus, Allah belum bersatu dengan ciptaan-Nya. Tetapi pada suatu hari Anak Allah datang ke dalam ciptaan lama. Ketika Ia disalibkan, Ia membawa segenap ciptaan lama ke atas salib dan memakunya di sana. Karena itu, melalui penyaliban, Kristus telah mengakhiri ciptaan lama. Tidak hanya demikian, ketika Ia dikubur, Ia membawa ciptaan lama (yang dilambangkan oleh kain kafan) masuk ke liang kubur bersama-Nya. Ketika Ia dibangkitkan, Ia menanggalkan kain kafan itu (Yoh. 20:6-7). Ini menunjukkan bahwa ciptaan lama telah ditinggalkan di makam. Ketika Kristus muncul kembali dalam kebangkitan, Ia menjadi persona yang mutlak di luar ciptaan lama dan sepenuhnya berada di dalam Allah. Inilah makna ungkapan “kebangkitan yang unggul”. Kristus mencapai kebangkitan unggul ini melalui penyaliban dan kebangkitan.

Menurut Perjanjian Baru, kita tidak boleh memisahkan kebangkitan yang unggul dari persona Kristus, sebab Kristus itu sendiri sebenarnya adalah kebangkitan yang unggul. Ini berarti ketika kita menerima Tuhan Yesus, kita pun menerima kebangkitan yang unggul. Namun, berabad-abad lamanya, dari abad pertama hingga kini, hal ini tidak diberitakan secara jelas. Betapa kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam belas kasihan-Nya, Ia telah membuka mata kita untuk melihat apa itu kebangkitan yang unggul dari antara orang mati!

“Berpikir demikian” berkaitan dengan menuntut kebangkitan yang unggul. Berpikir demikian berarti mempunyai pengertian dan pemahaman bahwa sebagai orang yang telah dipilih, ditebus, dan dilahirkan kembali oleh Allah, kita wajib menuntut satu hal, yaitu agar kehidupan kita terlepas dari luar ciptaan lama dan sebaliknya berada di dalam Allah. Ini berarti seluruh kehidupan kita harus berada di dalam kebangkitan yang unggul. Kita telah nampak bahwa kebangkitan yang unggul ini sebenarnya adalah persona Kristus yang terkasih, mustika, dan unggul, yakni persona yang melalui penyaliban dan kebangkitan, telah melalui ciptaan lama dan telah masuk ke dalam Allah. Persona yang ajaib ini jauh lebih unggul daripada para malaikat. Para malaikat masih menjadi milik ciptaan lama. Mereka tidak mengalami penyaliban atau kebangkitan. Tetapi setelah Kristus disalibkan dan dikubur, Ia dibangkitkan ke luar dari ciptaan lama dan masuk ke dalam Allah. Pernahkah Anda mendengar lukisan yang sedemikian tentang Tuhan Yesus? Haleluya, Kristus itu sendiri adalah realitas kebang-kitan yang unggul ini! Sekarang kita harus menuntut suatu kehidupan yang adalah persona Kristus yang ajaib ini. Kita harus berkata bersama Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Paulus juga dapat bersaksi bahwa ia telah disalibkan bersama Kristus dan Kristus hidup di dalamnya (Gal. 2:20). Kristus yang hidup di dalam Paulus adalah persona yang dalam diri-Nya sendiri adalah kebangkitan yang unggul.

Selama kita hidup dalam ciptaan lama, kita tidak dapat memperhidupkan Kristus, sekalipun kita bisa melakukan hal-hal yang baik. Misalkan, ada seseorang yang hidupnya mencapai standar etika yang lebih tinggi daripada standar etika ajaran tertentu, namun kehidupan semacam itu bukanlah Kristus; itu hanya kehidupan yang etis, yakni etika yang hidup dalam ciptaan lama. Kita harus menuntut tidak hanya mengalahkan dosa-dosa, tetapi juga mengatasi aspek-aspek yang terbaik dari ciptaan lama, termasuk etika-etika ciptaan lama. Kita harus menuntut kepada tujuan kebangkitan yang unggul, yaitu Kristus yang terkasih dan yang unggul itu sendiri. Alangkah bahagianya jika kita nampak tujuan ini! Betapa bahagianya kita jika dalam kehidupan keluarga, kita dapat menuntut suatu kehidupan yang di luar ciptaan lama, yang berada di dalam Allah.

Kita semua perlu “berpikir demikian”, suatu pikiran yang menuntut Kristus sebagai kebangkitan yang unggul. Bagi orang muda, menuntut sasaran ini tidak semata-mata memperbaiki perilaku atau karakter, atau menjadi seorang pelajar yang lebih baik, melainkan menempuh satu kehidupan yang sebenarnya adalah Kristus itu sendiri dalam kebangkitan. Ini adalah kehidupan yang sepenuhnya di luar ciptaan lama dan berada di dalam Allah. Semoga kita semua mempunyai pikiran yang unik ini.

TIDAK BERPIKIRAN LAIN

Dalam ayat 15 Paulus berkata, “Jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.” Berpikir lain adalah hal yang umum di antara orang Kristen hari ini. Orang Kristen mempunyai ratusan macam cara berpikir, pemahaman, dan pengertian yang berbeda. Oh, betapa banyaknya pikiran yang terdapat di kalangan kaum beriman! Tetapi Paulus menganjuri kita untuk memiliki satu pikiran, yaitu “berpikir demikian”.

Ketika dulu saya memberitakan Injil di Tiongkok, saya sering dituduh berpikiran sempit. Mereka menganjuri saya untuk tidak mengatakan bahwa hanya Kristus Penyelamat. Mereka menyatakan jika kita memberitakan bahwa Yesus Kristus satu-satunya Penyelamat manusia, itu terlalu sempit. Saya lalu berkata kepada mereka bahwa dalam hal Kristus, saya masih kurang sempit, sebenarnya saya harus lebih sempit lagi, sehingga kecuali Kristus itu sendiri tidak ada yang lain. Sejumlah orang Kristen juga menasihati saya untuk tidak berpandangan sempit. Khususnya mereka menyuruh saya untuk tidak mengatakan bahwa jalan pemulihan Tuhan yang kita tempuh barulah jalan yang benar. Saya menjawab. “Kalau jalan ini tidak benar, aku tidak dapat menempuhnya. Tetapi kalau jalan ini yang benar, tidak hanya aku sendiri harus menerimanya, aku juga harus menganjuri orang lain untuk menerimanya. Kalau tidak, aku menipu diri sendiri, dan juga menipu kaum beriman yang lain. Kalian menganggap diri kalian lapang dada, tetapi kalian sebenarnya menipu diri sendiri dan menipu orang lain. Kalian tidak mengenal jalan yang benar ini, dan kalian tidak menempuhnya.” Dalam hal rohani, Allah mencela sikap “lapang dada” manusia. Tuhan Yesus berkata, “Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan” (Mat. 7:14).

Menurut Alkitab, kita hanya memiliki satu Allah, satu Tuhan, satu Roh, dan satu gereja. Penekanan dalam Alkitab ialah kesatuan. Hanya ada satu Pencipta dan satu Penyelamat. Dari fakta Paulus mengatakan jika lain pikiran kita, maka “hal itu akan dinyatakan Allah juga”. Kata “dinyatakan” di sini dalam bahasa aslinya adalah “diwahyukan”; ini menunjukkan bahwa kalau kita menaruh pikiran lain, berarti kita kekurangan wahyu. Jika kita mempunyai pikiran lain, kita perlu wahyu. Karena alasan inilah, maka dalam ayat 15 Paulus tidak mengatakan Allah akan meng-ajar kita, melainkan Allah akan menyatakan (mewahyukan) hal itu kepada kita.

Kaum beriman tidak bisa memiliki satu pikiran hanya dengan membaca Alkitab secara harfiah. Sewaktu Tuhan Yesus datang ke bumi ini, ketiga puluh sembilan jilid kitab Perjanjian Lama telah ditulis. Namun, sekalipun para ahli agama menyelidiki Alkitab, mereka tidak mau datang kepada Kristus supaya mereka beroleh hayat. Dalam Yohanes 5:39-40 Tuhan Yesus berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Jika kita menyelidiki Alkitab tanpa datang kepada Tuhan, kita akan memiliki banyak pikiran yang berbeda-beda. Ada orang yang lebih menyukai Musa, lainnya lebih menyukai Elia atau Yeremia. Hanya bila kita datang kepada Kristus, persona yang unik ini, barulah kita dapat memiliki satu pikiran yang sama.

Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” (Luk. 24:44). Ini menunjukkan bahwa kita perlu nampak Kristus di dalam Kitab Suci.

Situasi orang-orang Kristen dewasa ini merupakan peng-ulangan dari keadaan para ahli agama ketika Tuhan Yesus berada di bumi. Pada hakikatnya, situasi hari ini bahkan lebih buruk lagi. Sekarang para pembaca Alkitab memiliki enam puluh enam kitab, bukan tiga puluh sembilan kitab. “Orang Farisi”, “orang-orang Saduki”, dan “ahli-ahli Taurat” hari ini jauh lebih banyak daripada abad pertama, sebab pembaca Alkitab lebih banyak dan kaum beriman yang berpikir lain pun lebih banyak.

Meskipun ada ratusan pikiran yang berbeda-beda di kalangan orang Kristen hari ini, tujuan kita bukanlah menyeragamkan orang beriman. Namun, bila Kristus, persona yang unik ini, diwahyukan kepada kita, kita akan disatukan di dalam Dia dan oleh Dia. Pada hakikatnya, Dia sendiri adalah kesatuan kita.

Kita bukan hanya tidak bertujuan mempersatukan seluruh orang beriman, sebenarnya, kita tidak bisa mengharapkan sejumlah besar orang beriman mau menempuh jalan pemulihan Tuhan ini. Pada akhir ministri-Nya di bumi, Tuhan Yesus tidak mempunyai banyak pengikut. Menurut Kisah Para Rasul 1, hanya seratus dua puluh orang yang berhimpun bersama di sebuah loteng di Yerusalem. Sasaran kita bukan ingin disambut dengan hangat atau memiliki anggota yang banyak. Dalam hal ini, kita perlu diingatkan, yakni Paulus tidak menulis Kitab Filipi ketika ia disambut khalayak ramai. Sebaliknya, Surat Kiriman ini ditulis ketika Paulus ditolak, dianiaya, dan ditawan dalam penjara.

Andaikata ada jutaan orang Kristen menerima jalan pemulihan Tuhan, mungkin pemulihan itu akan tamat. Ia akan diakhiri oleh banyaknya pikiran yang berbeda-beda di antara kaum beriman. Pemulihan Tuhan benar-benar adalah sebuah jalan yang sempit, yang sukar diterima kebanyakan orang Kristen. Semua orang yang berada dalam pemulihan harus memperhatikan perkataan Paulus, yakni “berpikir demikian”.

SUATU PEMAHAMAN DAN SUATU KETETAPAN

Kita tidak dapat menyangkal bahwa kita telah menerima wahyu dari Tuhan tentang Kristus yang almuhit. Hanya wahyu Allahlah yang dapat membuat kita “berpikir demikian”, pikiran yang unik (satu-satunya), yaitu pikiran yang ada dalam diri Paulus dan yang ada dalam kebanyakan orang yang mengasihi serta menuntut Tuhan Yesus. Pikiran ini bukan pikiran yang menuntut suatu pekerjaan atau pergerakan, melainkan menuntut suatu kehidupan yang mutlak di luar ciptaan lama, dan mutlak di dalam Allah. Inilah pikiran yang unik dalam Filipi 3.

“Berpikir demikian” mencakup suatu pemahaman dan ketetapan, untuk berlari-lari kepada tujuan. Praktek agama dan etika sama sekali berbeda dengan pemahaman akan tujuan Allah dan ketetapan untuk menuntutnya. Berpikir demikian berarti memiliki satu pikiran untuk menuntut Kristus dalam kebangkitan-Nya, agar kita boleh memperhidupkan Dia sebagai kebangkitan yang unggul. Kita semua perlu memiliki pikiran demikian, pemahaman demikian, dan ketetapan demikian, supaya kita dapat berlari-lari kepada tujuan ini.

TERKENDALI OLEH PIKIRAN YANG UNIK

SEHINGGA MEMILIKI TINDAK TANDUK

YANG UNIK

Jika kita memiliki pikiran yang unik, kita juga akan memiliki tindak tanduk yang unik. Sebagai umat manusia, kita berada di bawah kontrol pikiran kita. Pikiranlah yang mengendalikan tindak tanduk, bukan tindak tanduk yang mengendalikan pikiran. Apa yang kita pikirkan itulah yang mengatur tutur kata dan tindakan kita. Karena itu, pikiran kita mengatur dan mengontrol seluruh kehidupan kita. Inilah sebabnya kita perlu diubah melalui pembaruan pikiran.

Kita telah dituduh dan difitnah dengan sembarangan, dianggap membengkokkan pikiran orang. Padahal kita sama sekali tidak membengkokkan pikiran orang, tetapi kita memang menganjurkan pembaruan pikiran. Pikiran kita harus diperbarui agar kita memiliki pemahaman dan ketetapan yang tepat. Dengan demikian kehidupan kristiani kita akan dikendalikan oleh satu pikiran yang telah diperbarui oleh Allah.

Istilah “jalan” dalam Filipi 3:16 dalam bahasa aslinya bukan istilah jalan yang biasa, melainkan istilah yang juga tercantum dalam Galatia 5:25. Ini adalah istilah yang sangat khas, yaitu satu kata benda yang berbentuk kata kerja “unsur”. Setidak-tidaknya ada satu terjemahan yang menerjemahkan istilah Yunani ini “mengamati unsur”. Istilah Yunani stoicheo ini berasal dari kata steicho yang berarti berjalan menurut urutan, berjalan menurut barisan militer, dan mengatur langkah. Berjalan dengan cara demikian berarti berjalan pada satu jalur atau ruas jalan tertentu. Ini adalah cara berjalan yang teratur seperti halnya para prajurit maju dengan irama yang sama. Mereka berjalan dalam waktu dan irama yang sama.

Beberapa orang mungkin heran bagaimana mungkin kaum saleh yang tingkat pengalamannya berbeda-beda bisa berjalan dalam langkah dan irama yang sama. Sebagai contoh, bagaimana seorang saudara yang berpengalaman lebih dari lima puluh tahun di dalam Tuhan bisa berjalan dalam langkah yang sama dengan seorang yang baru beroleh selamat? Janganlah mengira berjalan demikian itu tidak mungkin. Cara pengajaran dalam Alkitab berbeda dengan apa yang dipraktekkan dalam sistem pendidikan duniawi. Di sekolah ada buku pelajaran yang berbeda-beda bagi murid yang berbeda usia. Tetapi sebagai orang Kristen, kita memiliki Alkitab sebagai buku pelajaran kita yang unik. Di aspek rohani, orang yang dalam tingkat taman kanak-kanak maupun yang dalam tingkat perguruan tinggi, hanya memiliki satu buku pelajaran, yakni Alkitab.

Dalam ayat 15 Paulus mengatakan “yang sempurna” (dewasa). Ini menyiratkan adanya orang-orang beriman yang lebih matang daripada yang lain. Tetapi dalam ayat 16 ia menyambung, “Tetapi, tingkat mana yang telah kita capai, baiklah kita berjalan menurut aturan yang sama” (Tl.). Ungkapan “tingkat mana yang telah kita capai” menunjukkan bahwa kaum saleh, tidak peduli apa tingkat kematangan mereka, semuanya tercakup di dalamnya. Kita semua harus berjalan dengan aturan yang sama. Kaum saleh yang termuda pun harus menempuh jalan yang sama dengan yang ditempuh mereka yang sudah matang. Dalam hal ini pikiran Allah lebih tinggi daripada pikiran kita. Kita semua harus “berpikir demikian” dan menempuh jalan yang sama.

Pada akhirnya kita semua akan terkendali oleh wahyu atas pikiran dan tindak tanduk yang unik. Kemudian, kita akan berkata dengan spontan, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu dalam cara yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Tuhan, aku bertekad di hadapan-Mu untuk mengejar-Mu sebagai kebangkitan yang unggul. Aku ingin setiap hal dalam kehidupanku berada di luar ciptaan lama dan hanya berada di dalam Allah.” Jika kita nampak wahyu ini dan memiliki ketetapan ini, kita akan memiliki kehidupan yang dikontrol dan dikendali oleh pikiran yang unik.

BERJALAN MENURUT KAIDAH CIPTAAN BARU

Galatia 6:15-16 menunjukkan bahwa kehidupan yang unik ini ialah suatu kehidupan yang menurut kaidah atau peraturan ciptaan baru, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” “Bagi semua orang yang memberi diri-nya dipimpin oleh patokan (kaidah) ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Berjalan menurut kaidah ciptaan baru berarti berjalan menurut kaidah kebangkitan yang unggul. Jika kita berjalan menurut kaidah ini, kita akan menjadi Israel milik Allah yang sejati.

Nama Israel berarti “Pangeran Allah”. Kita menjadi pangeran Allah melalui memiliki pikiran yang unik yang memimpin kita memiliki tindak tanduk yang unik, yakni berlari-lari kepada tujuan kebangkitan yang unggul. Hari ini Tuhan damba memiliki sekelompok orang yang mengejar tujuan ini. Semoga kita semua nampak pentingnya pikiran yang unik yang mengendalikan tindak tanduk yang unik ini, dan semoga kita semua berlari-lari kepada tujuan yang unik — Kristus sebagai kebangkitan yang unggul.