KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (1)
Pembacaan Alkitab: Flp. 4:1-7; 1:8; 2Kor. 10:1
Ketika kita membaca Kitab Filipi mungkin merasa bahwa pemikiran Paulus dalam 4:1-7 kelihatannya tidak setinggi yang terdapat dalam ketiga pasal pertama. Dalam pasal 1 ia menyinggung tentang memperhidupkan dan memperbesar Kristus. Dalam pasal 2, ia menyinggung tentang menerima Kristus sebagai teladan kita, dan bercahaya seperti bintang-bintang di dunia, dan menyatakan firman hayat; dalam pasal 3 dibicarakan tentang keunggulan pengenalan atas Kristus dan berlari-lari kepada sasaran bagi pahala panggilan surgawi dari Allah di dalam Kristus Yesus. Kemudian, dalam pasal 4, Paulus menggunakan ungkapan-ungkapan yang kelihatannya sangat biasa: Bersukacita senantiasa dalam Tuhan; “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang”; dan “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga”. Misalkan, ketika Anda sedang berlari-lari kepada sasaran bagi pahala, tiba-tiba ada orang menganjuri Anda jangan khawatir tentang apa pun juga, tidakkah Anda menganggap hal itu suatu gangguan, dan berkata kepadanya, “Aku sedang mengejar Kristus. Aku ingin mencapai sasaran kebangkitan yang unggul, mengapa Anda berkata kepadaku tentang kekhawatiran?” Kebanyakan pembaca Kitab Filipi memustikakan ketiga pasal yang pertama, tetapi mungkin tanpa disadari, mereka menganggap pasal 4 sedikit lebih rendah levelnya daripada pasal 1 sampai 3.
Dahulu saya juga lebih mengapresiasi ketiga pasal pertama daripada pasal 4. Menurut saya setelah Paulus menanjak ke atas puncak pada pasal 1, 2, dan 3, pada pasal 4 ia tiba-tiba turun ke level yang lebih rendah. Saya tidak mengerti mengapa terjadi perubahan yang demikian mendadak dalam tulisan Paulus ini.
PERLUNYA BELAJAR RAHASIA
Dalam 4:12 Paulus berkata, “Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal aku telah belajar rahasia” (tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku, LAI). Untuk melakukan hal-hal yang disebut dalam pasal 4 kita memerlukan hayat ilahi. Paulus telah belajar rahasia untuk mampu melakukan segala hal di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya. Dalam pasal 4 ia menasihati kita untuk bersukacita senantiasa di dalam Tuhan. Mungkin kita mengira bersukacita senantiasa di dalam Tuhan adalah suatu hal yang mudah. Sebenarnya bersukacita di dalam Dia memerlukan kebangkitan yang unggul. Untuk dapat bersukacita di dalam Tuhan, kita perlu berada di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita. Karena itu, perkara yang nampaknya sederhana seperti bersukacita di dalam Tuhan pun menuntut kita belajar rahasianya. Kalau kita tidak tahu rahasianya, kita tidak dapat bersukacita di dalam Tuhan.
Dalam pasal 4:5 Paulus berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Dalam 2Korintus 10:1 ia berkata, “Aku memperingatkan kamu dengan kelemahlembutan dan kebaikan hati Kristus” (demi Kristus yang lemah lembut dan ramah, LAI). Kebaikan hati yang disebut dalam 4:5 bukanlah kebaikan hati yang biasa atau yang etis. Kebaikan hati ini adalah kebaikan hati Kristus, suatu sifat rohani atau pekerti Kristus. Kebaikan hati ini haruslah menjadi kebaikan hati kita, dan kemudian, kita harus menyatakan kebaikan hati kita, yakni kebaikan hati Kristus ini, kepada semua orang.
Apakah arti kebaikan hati di sini, dan mengapa Paulus menyebut kebaikan hati dalam 4:5, tidak menyebut pekerti-pekerti yang lain? Jika Paulus berkata kepada kita, “Hendaklah kasih atau keramahanmu diketahui semua orang”, maka ayat ini tidak sulit dimengerti. Tetapi, di sini Paulus tidak menyebut kasih, keramahan, kerendahan hati, atau pekerti-pekerti insani lainnya. Sebaliknya, ia hanya menampilkan kebaikan hati. Kita memahami apakah kasih, ramah, dan rendah hati, tetapi siapakah yang dapat memberi definisi yang tepat atas kebaikan hati? Jika beberapa tahun yang lalu saya diminta untuk mengartikan kebaikan hati, saya akan berkata bahwa kebaikan hati berarti menanggung suatu beban berat dalam jangka waktu yang panjang. Namun, definisi yang demikian sangat alamiah dan tidak dapat membantu kita mengerti mengapa Paulus membicarakan kebaikan hati dalam 4:5, tidak mengatakan pekertipekerti yang lainnya.
Setelah Paulus mengatakan hendaklah kebaikan hati kita diketahui semua orang, ia menyambung dalam ayat 5 pula, “Tuhan itu dekat” (Tl.). Kebanyakan penafsir Alkitab mengira ini berarti kedatangan Tuhan sudah dekat. Saya tidak berani mengatakan bahwa arti demikian tidak tercakup, tetapi di sini Paulus tidak berkata bahwa Tuhan segera akan datang, melainkan Dia itu sudah dekat. Kemudian dalam ayat berikutnya, Paulus memberi tahu kita untuk tidak khawatir tentang apa pun juga, tetapi “nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Dalam hal menyatakan kebaikan hati kita agar diketahui semua orang, dalam hal jangan khawatir tentang segala hal, dan dalam hal menyatakan keinginan kita kepada Allah, Paulus meng-umumkan bahwa Tuhan itu dekat.
Dalam diri kita sendiri, kita tidak mampu memperlihatkan kebaikan hati kita kepada semua orang, bebas dari kekhawatiran, dan menyatakan keinginan kita kepada Allah. Ada beberapa orang mungkin mengira berdoa sangat mudah, padahal berdoa adalah satu hal yang sukar. Untuk melakukan semua hal ini, kita harus seperti Paulus, yakni belajar rahasianya. Kita juga harus berada di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.
BERDIRI DENGAN TEGUH DALAM TUHAN
Filipi 4:1-7 merupakan bagian dari kata penutup dari Paulus atas pasal 1, 2, dan 3. Apa yang ia ungkapkan dalam 4:1-7 berdasar pada apa yang ditulisnya tentang memperhidupkan Kristus, memperbesar Kristus, menerima Kristus sebagai teladan kita, mengenal keunggulan Kristus, menuntut kepada sasaran, dan hidup dalam kebangkitan yang unggul.
Dalam 4:1 ia berkata, “Karena itu, Saudara-saudara yang kukasihi dan kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai Saudara-saudaraku yang terkasih!” Dari pasal 3 kita tahu Paulus damba ditemukan di dalam Kristus. Dalam 4:1 ia menyuruh kita berdiri dengan teguh dalam Tuhan. Berdiri dengan teguh dalam Tuhan merupakan kunci untuk memperlihatkan kebaikan hati kita kepada semua orang. Jika kita tidak berdiri dengan teguh dalam Tuhan, tidak mungkin kita memperlihatkan kebaikan hati kita kepada orang. Untuk melakukan segala hal perlu ada pendirian yang tepat. Demikian pula dalam hal menyatakan kebaikan hati kita kepada semua orang. Untuk ini wajiblah kita berdiri dengan teguh dalam Tuhan, yakni kita wajib tinggal di dalam Dia. Karena itu, perkataan Paulus tentang berdiri teguh dalam Tuhan sama dengan perkataan Tuhan tentang tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:4).
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir (memikirkan hal yang sama) dalam Tuhan.” Sebagai orang-orang yang berdiri dengan teguh di dalam Tuhan, kita pun harus “memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan”. Di luar Tuhan kita mustahil memikirkan hal yang sama. Jika kita ingin memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan, pertama-tama kita harus berdiri dengan teguh di dalam Dia.
Ayat 3 meneruskan, “Bahkan, kuminta kepadamu juga, yang benar-benar memikul satu kuk: Tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” (Tl.). Di sini Paulus minta mereka yang benar-benar memikul satu kuk supaya menolong Euodia dan Sintikhe untuk memikirkan hal yang sama. Paulus seolah-olah berkata, “Kedua saudari ini adalah kawan sekerjaku, tetapi untuk sementara ini mereka tidak berada di dalam Tuhan. Aku menganjuri kamu, teman satu kuk yang sejati, agar berusaha sekuat tenagamu untuk membawa mereka kembali kepada Tuhan, dan membantu mereka supaya memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan.” Mereka adalah kawan sekerja yang telah bekerja keras dengan Paulus dan berjuang dengannya dalam pekabaran Injil, dan yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Namun demikian, untuk sementara waktu itu mereka tidak berada di dalam Tuhan.
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Bila dalam pengalaman kita, kita tidak berada di dalam Tuhan, maka kita tidak akan memiliki sukacita apa pun, dan kita tidak dapat bersukacita. Dulu Euodia dan Sintikhe bisa bersukacita, tetapi sekarang, karena mereka tidak di dalam Tuhan, mereka tidak dapat bersukacita lagi di dalam Dia.
Ada satu cara yang riil untuk dapat mengetahui apakah kita berada dalam Tuhan atau tidak. Asalkan Anda tidak bersatu dengan seorang saudara atau saudari tertentu dalam gereja, itu berarti Anda tidak berada di dalam Tuhan. Sudah tentu, mengenai posisi Anda di dalam Kristus, memang Anda selama-lamanya berada di dalam Kristus, tidak ada apa pun yang dapat mempengaruhi posisi kita di dalam Kristus. Tetapi, secara riil dan dalam pengalaman, kita mungkin tidak tinggal di dalam Dia. Fakta tidak bersatunya kita dengan satu orang kudus tertentu membuktikan bahwa kita tidak berada di dalam Tuhan.
Tidak bersatu dengan seorang saudara atau saudari saja sudah merupakan satu hal yang sangat serius. Kebanyakan kaum saleh setidak-tidaknya memiliki satu orang lain yang tidak bersatu dengannya. Misalkan, ada beberapa saudari sedang bersama-sama melayani perjamuan kasih. Mungkin ada seorang saudari yang tidak senang dengan cara pelayanan saudari lain, dan ia mungkin enggan melayani bersamanya, bahkan mungkin ia meninggalkan saudari itu. Dengan meninggalkan saudari itu, ia sebenarnya meninggalkan Tuhan. Ia tidak seharusnya enggan melayani bersama-sama dengannya, tetapi ia harus memperlihatkan kebaikan hatinya kepada orang lain dalam situasi yang demikian.
Melayani dalam gereja bersama-sama dengan kaum saleh bukan suatu hal yang mudah. Jika seorang pekerja di sebuah pabrik tidak bekerja dengan baik, majikannya dapat memecatnya. Tetapi, dalam hidup gereja tidak ada yang menerima upah dan tidak ada yang dapat dipecat. Sebagaimana kita telah dilahirkan dalam suatu keluarga dan tidak dapat dipecat dari status kita sebagai anggota keluarga, demikian pula kita telah dilahirkan dalam gereja, dan kita tidak dapat dipecat dari status kita sebagai anggota gereja. Ketika ada kesulitan, kita tidak seharusnya meninggalkan kaum saleh atau enggan melayani bersama-sama dengan mereka. Sebaliknya, kita harus menyatakan kebaikan hati kita.
TIDAK ADA KEKHAWATIRAN
Jika kita menyatakan kebaikan hati, kita tidak akan khawatir. Kapan saja kita memperlihatkan kebaikan hati kita, kekhawatiran kita akan tersingkir. Ketika kita menyatakan kebaikan hati, kita akan bersukacita di dalam Tuhan, dan kekhawatiran kita akan lenyap. Jadi, kebaikan hati dapat memelihara sukacita kita, dan sukacita akan mengikis kekhawatiran kita. Tetapi, kapan saja kita tidak menyatakan kebaikan hati, kita tidak dapat bersukacita. Kemudian, terbukalah jalan bagi masuknya kekhawatiran. Ini bukan semata-mata suatu doktrin, melainkan suatu perkataan yang menyentuh situasi kehidupan kristiani kita yang sebenarnya.
PUAS DENGAN APA YANG LEBIH
SEDIKIT DARIPADA HAK KITA
Pada batin ini kita perlu merenungkan makna kebaikan hati secara sepenuh-penuhnya. Kebaikan hati di sini berarti mudah merasa puas, sekalipun dengan apa yang lebih sedikit daripada hak yang selayaknya. Puas dengan apa yang lebih sedikit daripada hak, berlawanan dengan bersikap adil secara tepat. Berbaik hati berarti tidak menuntut sesuatu atas diri orang lain, melainkan puas dengan apa saja yang dilakukan atau diberikan kepadanya. Misalnya, seorang saudari memberikan minuman dingin kepada suaminya ketika suaminya lebih suka minuman panas. Suaminya sangat tidak puas, dan menegurnya; ini bukan kebaikan hati melainkan bersikap adil secara tepat. Jika saudara itu memperlihatkan kebaikan hati kepada istrinya, sekalipun ia tidak dapat meminumnya, ia akan puas dengan apa yang lebih sedikit daripada haknya yang layak.
SATU PEKERTI YANG ALMUHIT
Wuest dalam Word Studies (Pengkajian Kata) yang ditulisnya, menunjukkan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan “kebaikan hati” di sini tidak hanya berarti puas dengan apa yang lebih sedikit daripada hak kita yang selayaknya, tetapi juga berarti ada kelayakan yang manis. Istilah ini mencakup penguasaan diri, kesabaran, lapang, ramah, dan lemah lembut. Tambahan pula, berdasarkan pengalaman orang Kristen, kebaikan hati adalah pekerti yang almuhit, sebab kebaikan hati merangkum semua pekerti kris-tiani. Ini berarti, jika kita gagal menyatakan kebaikan hati, kita akan gagal menyatakan setiap pekerti kristiani yang mana pun. Jika seorang saudari memberikan minuman dingin yang bertentangan dengan kesenangan suaminya dan suaminya menggerutu, maka pada saat itu suaminya tidak memamerkan pekerti kristiani yang mana pun. Tetapi, demi anugerah Kristus, jika ia puas dengan apa yang lebih sedikit daripada haknya dan menyatakan kebaikan hati terhadap istrinya, tidak mengkritik atau mengecam istrinya, maka dengan kebaikan hatinya itu ia akan memperlihatkan suatu pekerti kristiani yang almuhit. Kebaikan hatinya akan mencakup ketabahan, rendah hati, penguasaan diri, dan menengadah kepada Tuhan, bahkan mencakup pekerti mengakui bahwa Tuhanlah yang berdaulat di dalam segala hal.
Kadang-kadang kita bertindak kurang tepat, karena kita kekurangan kebaikan hati. Sikap yang negatif dan tutur kata yang kurang ramah juga berasal dari kurangnya kebaikan hati. Bila kita tidak bisa mengasihi, penyebabnya adalah kurang kebaikan hati. Demikian pula, kita mungkin tidak memiliki tenggang rasa karena kita kekurangan kebaikan hati. Bahkan banyak bicara atau cerewet mungkin disebabkan karena tidak adanya kebaikan hati. Jika tidak ada kebaikan hati, kita akan kehilangan damai sejahtera. Kalau kita tidak menunjukkan kebaikan hati terhadap anggota keluarga kita, tidak akan ada damai sejahtera dalam kehidupan keluarga kita. Damai sejahtera berasal dari kebaikan hati.
MEMPERBESAR KRISTUS MELALUI
MEMPERLIHATKAN KEBAIKAN HATI KITA
KEPADA ORANG LAIN
Paulus menyadari bahwa kebaikan hati adalah pekerti yang almuhit. Itulah alasan ia berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Kebaikan hati ini sebenarnya adalah Kristus sendiri. Dalam 1:21 Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Karena Kristus adalah kebaikan hati, maka bagi Paulus hidup adalah kebaikan hati. Harapan Paulus yang sesungguhnya ialah Kristus dapat diperbesar di dalam dirinya, baik melalui hidup maupun mati. Bagi Paulus memperbesar Kristus berarti memperlihatkan kebaikan hatinya. Karena itu, diperbesarnya Kristus dalam diri kita sama dengan memperlihatkan kebaikan hati kita kepada semua orang. Ini dikarenakan kebaikan hati adalah Kristus yang kita alami secara riil. Kita boleh membicarakan tentang memperhidupkan Kristus dan bersaksi bahwa bagi kita hidup adalah Kristus. Tetapi, dari hari ke hari, dalam kehidupan kita di rumah, yang kita butuhkan ialah kebaikan hati. Bila kita memiliki kebaikan hati, maka dalam pengalaman barulah kita benar-benar memiliki Kristus. Jika seorang saudari bersalah kepada suaminya, yang harus diperlihatkan suaminya ialah Kristus sebagai kebaikan hatinya.
Menjadi seorang suami atau istri yang baik sungguh sangat sulit. Kunci atau rahasia untuk menjadi seorang suami atau istri yang baik ialah kebaikan hati. Saya ulangi, kebaikan hati mencakup lebih banyak daripada sekadar ramah atau rendah hati. Sebagai pekerti kristiani yang almuhit, kebaikan hati adalah Kristus itu sendiri. Baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam hidup gereja, kita perlu memperhidupkan Kristus melalui menempuh hidup yang penuh kebaikan hati.
Semakin kita merenungkan makna kebaikan hati, kita akan semakin dapat mengapresiasi alasan Paulus menyebut kebaikan hati dalam 4:5. Kegagalan dan kekalahan kita dalam kehidupan kristiani berasal dari kurangnya kebaikan hati pada diri kita. Semua orang saleh, yang muda maupun yang tua sama saja, yakni cenderung mengabaikan kebaikan hati. Bila kita ingin memperhidupkan Kristus, kita harus puas dengan apa yang lebih sedikit dari hak kita. Janganlah kita menuntut sesuatu secara keras terhadap orang lain.
Tuhan Yesus menempuh suatu kehidupan yang penuh kebaikan hati ketika Ia berada di bumi. Di satu aspek, Ia memang sangat keras, tetapi di aspek lain, Ia sangat bertoleransi. Sebagai contoh, meskipun Ia sendiri banyak berdoa, tetapi Ia tidak menuntut murid-murid-Nya berbuat demikian, dan tidak menyalahkan mereka dalam hal kurang berdoa.
TUHAN ITU DEKAT
Setelah membicarakan kebaikan hati, Paulus segera melanjutkan, “Tuhan itu dekat” (Tl.). Saya telah mengatakan bahwa saya tidak menentang pengertian bahwa perkataan ini ditujukan kepada dekatnya kedatangan Tuhan. Namun demikian, berdasarkan pengalaman, bukan berdasarkan doktrin, saya dapat mengatakan bahwa perkataan ini ditujukan kepada kehadiran Tuhan bersama kita pada hari ini. Ini juga memperkuat anjuran Paulus bahwa kita harus memperlihatkan kebaikan hati kita kepada semua orang. Karena Tuhan itu dekat, tiada alasan bagi kita untuk tidak memperlihatkan kebaikan hati kita kepada semua orang. Sering kita gagal dalam memperlihatkan kebaikan hati kita karena kita lupa bahwa Tuhan itu dekat. Bahkan kita tidak ingat bahwa sebenarnya Dia berada di dalam kita. Bila seorang saudara diberi istrinya minuman dingin bukan minuman panas, apakah yang ia perhatikan, minumankah atau Kristuskah? Kalau ia memperhatikan minuman, bukan Kristus, maka dalam pengalamannya yang dekat adalah minuman, Tuhan jauh dengannya. Karena kita tidak menyadari bahwa Tuhan itu dekat, maka kita tidak menyatakan kebaikan hati. Sebaliknya, kita akan memperlakukan orang dengan keras, dan menuntut sesuatu terhadap mereka, tanpa memperhatikan situasi mereka. Semakin kita menyadari Tuhan itu dekat, kita akan semakin merasa puas dan semakin bisa bersimpati kepada orang lain, serta memahami keadaan orang dengan ramah. Kalau kita tahu Tuhan itu dekat, kita akan beralih dari ciptaan lama ke ciptaan baru, ke dalam kebangkitan yang unggul yang terekspresi sebagai kebaikan hati.
EKSPRESI KEBANGKITAN YANG UNGGUL
Bagi Yesus, orang Nazaret, menempuh hidup yang penuh kebaikan hati memerlukan hidup di dalam kebangkitan. Hanya kehidupan dalam kebangkitan yang unggullah baru berarti hidup dalam kebaikan hati. Kebaikan hati sebenarnya adalah ekspresi suatu kehidupan yang berada di dalam kebangkitan yang unggul, dalam ciptaan baru, bukan dalam ciptaan lama. Memperlihatkan kebaikan hati kita kepada semua orang tidak sekadar menyatakan keramahan hati atau tenggang rasa, bahkan memperlihatkan suatu kehidupan kristiani yang tepat. Kehidupan ini adalah Kristus sebagai kebangkitan yang unggul terekspresi melalui kebaikan hati.
BERSIMPATI KEPADA ORANG LAIN
Kita pernah menekankan perlunya kebaikan hati dalam hidup gereja maupun dalam kehidupan keluarga kita. Kalau kita berbaik hati, ketika kita berhubungan dengan orang lain, kita akan bisa bersimpati kepada orang lain. Misalkan, seorang saudari ingin membantu saudari lain untuk memperbaiki pelayanannya di dalam gereja. Saudari yang ingin membantu itu perlu memikirkan apakah saudari yang hendak dibantunya itu dapat menerima koreksinya atau tidak. Ia juga harus memikirkan apakah dalam hal memberikan koreksi kepada saudari itu, ia sendiri berada dalam roh atau dalam daging.
Kebaikan hati menuntut kita untuk tidak berbicara tergesa-gesa kepada orang lain. Sebaliknya, kita harus mem-pertimbangkan matang-matang sebelum kita mengatakan sesuatu. Kita akan melukai saudara atau saudari dalam gereja atau anggota keluarga kita sendiri jika kita berbicara terlalu cepat terhadap mereka.
Saya dapat bersaksi, sebagai orang tua, sekarang cara saya memperlakukan keluarga saya jauh berbeda dengan cara yang saya praktekkan tahun 1940-an. Hari ini saya jauh lebih banyak memperlihatkan kebaikan hati daripada yang sudah-sudah. Dahulu saya berdiri di atas kedudukan sebagai suami dan ayah dan mengatakan apa saja yang saya anggap perlu. Namun, saya nampak bahwa praktek demikian sering melukai hati orang lain. Sekarang, sebelum saya mengatakan sesuatu kepada istri saya, saya mempertimbangkan istri saya dan situasinya. Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah ia mampu menerima apa yang ingin saya katakan, dan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Saya juga mempertimbangkan apa yang dapat membuatnya gembira dan terhibur, dan sampai di mana kemampuannya untuk menerima apa yang hendak saya katakan kepadanya. Semuanya ini tercakup dalam memperlihatkan kebaikan hati.
Ketika Tuhan Yesus berjalan bersama-sama dengan dua orang murid menuju ke Emaus, Ia memperlihatkan kebaikan hati. Ketika Ia bertanya kepada mereka apa yang sedang mereka bincangkan, seorang di antaranya berkata, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari ini?” (Luk. 24:18). Sekalipun Tuhan tahu segalanya, tetapi Tuhan bertanya kepada mereka, “Apakah itu?” (ayat 19). Kemudian, dengan sabar Ia mendengarkan mereka ketika mereka memberi tahu Dia apa yang telah terjadi itu. Akhirnya, pada saat yang tepat, barulah Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka. Ia benar-benar berbaik hati terhadap kedua murid tersebut.
Jika kita memperlihatkan kebaikan hati kepada orang lain, mereka akan beroleh perawatan, kesembuhan, dan bantuan untuk bertumbuh. Dalam segala hal kita tidak akan membuat mereka tersandung atau terluka. Tetapi, karena kurangnya kebaikan hati, kita telah melukai banyak orang dalam hidup gereja maupun dalam kehidupan keluarga kita.
HIDUP DALAM KEBANGKITAN YANG UNGGUL
Saya ingin menekankan fakta bahwa kebaikan hati bukanlah soal etika. Kebaikan hati adalah Kristus. Dalam Filipi pasal 1, 2, dan 3, Paulus telah banyak membicarakan Kristus. Kemudian, dalam 4:5, ia bukan berbicara tentang Kristus, melainkan tentang kebaikan hati. Sebenarnya ketika ia berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang” sama dengan ia berkata, “Hendaklah Kristus dinyatakan dan diperbesar di hadapan semua orang.” Setelah berbicara tentang memperhidupkan Kristus, memperbesar Kristus, menerima Kristus sebagai teladan, dan mengejar Kristus sebagai sasaran, Paulus menunjukkan bahwa kita perlu memperhidupkan Kristus ini sebagai kebaikan hati kita. Kita semua memerlukan Tuhan menjadi kebaikan hati kita. Memperhidupkan Dia sebagai kebaikan hati benar-benar berarti hidup dalam kebangkitan yang unggul.