KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (2)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 4:1, 4-5, 11-13; 1Tim. 3:3; Tit. 3:2; Yak. 3:7
Dalam 4:5 Paulus berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Walaupun kita mengenal istilah kebaikan hati, tetapi kita sulit menafsirkannya dengan tepat. Banyak yang akan mengatakan bahwa kebaikan hati ialah sabar hati. Namun, istilah ini dipakai pada akhir sebuah kitab yang menekankan pengalaman atas Kristus. Kitab Filipi terutama bukan membicarakan moralitas, perilaku, karakter, atau etika. Pokok Surat Kiriman ini ialah pengalaman atas Kristus. Keseluruhan dari keempat pasal kitab ini berkaitan dengan pengalaman atas Kristus.
SUPAYA KRISTUS DIKETAHUI ORANG
Ketika kita membaca beberapa ayat pertama dalam pasal 4, kita mungkin tidak terkesan bahwa ayat-ayat ini tetap berjudul pengalaman atas Kristus. Tetapi dikatakan dalam ayat 13, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” “Segala hal” tentunya mencakup kebaikan hati yang disebut dalam ayat 5. Paulus menganjuri kaum saleh untuk berbaik hati. Ia sendiri tentu menempuh kehidupan yang berbaik hati. Jika tidak, ia akan menjadi orang yang munafik dalam menasihati yang lain supaya kebaikan hati mereka diketahui, sedangkan dia sendiri tidak menyatakan kebaikan hati. Perkataan Paulus dalam 4:5 pasti berdasar pada kehidupan, pengalaman, dan prakteknya sendiri. Jadi, kebaikan hati pasti adalah satu pengalaman atas Kristus. Selain itu, fakta bahwa Paulus mengatakan segala hal dapat ditanggungnya di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya menunjukkan bahwa kebaikan hati tidak lain adalah Kristus sendiri.
Dalam 1:20-21 Paulus mengatakan tentang memperbesar Kristus dan memperhidupkan Dia. Dalam pasal 2 ia mengemukakan Kristus sebagai teladan kita yang unik, dan kemudian membicarakan tentang menyatakan firman hayat. Menyatakan firman hayat sama dengan mengekspresikan Kristus. Dalam pasal 3 kita nampak bahwa Kristus seharusnya menjadi tujuan dan pahala kita. Kita perlu berlari-lari kepada tujuan bagi panggilan surgawi Allah dalam Kristus Yesus (3:14). Baik kita muda maupun tua, kita semua harus menuntut Kristus. Inilah konsepsi Paulus ketika ia berkata dalam 3:16, “Tetapi, tingkat mana yang telah kita capai, baiklah kita berjalan menurut aturan yang sama” (Tl.). Kita semua wajib memperhidupkan Kristus, memperbesar Kristus, mengekspresikan Kristus, dan menuntut Kristus. Lalu dalam pasal 4 Paulus menyinggung tentang berdiri dengan teguh di dalam Tuhan, bersukacita di dalam Dia, dan membiarkan kebaikan hati kita diketahui semua orang. Jika kita memiliki pemahaman yang tepat mengenai pokok Kitab Filipi, yakni memahami bahwa kitab ini berfokus pada pengalaman atas Kristus, kita akan nampak bahwa agar orang mengetahui kebaikan hati kita sebenarnya berarti membuat Kristus diketahui orang. Saya yakin inilah yang menjadi pemikiran Paulus.
Untuk memahami Alkitab, cara yang terbaik ialah menyelami pikiran penulisnya dan memegang butir-butir uta-manya sesuai dengan kitab yang ditulisnya. Melalui menelaah keempat pasal Kitab Filipi, kita akan nampak bahwa pemikiran pokok Paulus dalam Surat Kiriman ini ialah: Kristus sebagai kehidupan, teladan, tujuan berikut pahala, dan kekuatannya. Dalam kitab ini Paulus berkata bahwa kita perlu memperhidupkan Kristus, menerima Kristus sebagai teladan kita, menuntut Kristus sebagai tujuan kita, dan mengalami Kristus sebagai kekuatan kita. Kesemuanya ini harus menghasilkan satu kehidupan tertentu, yakni satu kehidupan yang mengekspresikan Kristus.
EKSPRESI KRISTUS
Perkataan apakah yang akan Anda gunakan untuk melukiskan suatu jenis kehidupan yang mengekspresikan Kristus? Dapatkah Anda melukiskannya sebagai suatu kehidupan yang penuh kasih, patuh, sabar, rendah hati, atau murah hati? Tidak ada satu pun dari istilah-istilah itu yang memadai. Tidak salah, kehidupan yang mengekspresikan Kristus memang penuh kasih, patuh, sabar, rendah hati, dan murah hati, tetapi kehidupan yang mengekspresikan Kristus mencakup jauh lebih banyak daripada semuanya itu. Tidak dipakainya istilah-istilah itu oleh Paulus dalam 4:5 sangatlah bermakna. Sebaliknya, ia memakai istilah kebaikan hati. Ia tidak menyuruh kita membuat orang lain mengetahui kasih atau kesabaran kita, melainkan agar orang lain mengetahui kebaikan hati kita.
Mengapa dalam 4:5 Paulus menyuruh kita agar kebaikan hati kita diketahui semua orang? Mengapa ia tidak menyinggung kebajikan-kebajikan lainnya, misalkan kesucian atau keadilan? Istilah apakah yang akan Anda pakai andaikata Anda yang menulis Surat Kiriman ini? Boleh jadi ada yang akan memakai istilah kesetiaan, ketaatan, atau keesaan. Tetapi agaknya tidak satu pun istilah-istilah tersebut yang tepat. Rasanya tidak memadai jika kita berkata, “Hendaklah kesetiaanmu diketahui semua orang,” atau “Hendaklah keesaanmu diketahui semua orang.” Coba saja cari, kita tidak akan dapat menemukan sebuah istilah yang cocok untuk mengganti istilah kebaikan hati. Sekalipun kita tidak dapat mendefinisikan atau menjelaskan kebaikan hati dengan sepenuhnya, ketika kita membaca ayat ini, kita merasa kebaikan hati adalah satu-satunya istilah yang paling tepat untuk ayat ini.
Ketika Paulus mengatakan bahwa kita harus membuat orang lain mengetahui kebaikan hati kita, ia mengacu kepada kepenuhan dari kebaikan hati kita. Suatu kebaikan hati yang dapat diketahui semua orang bukanlah kebaikan hati yang terbatas atau sebagian, melainkan kebaikan hati yang penuh.
Jika kita ingin memahami makna kebaikan hati, kita tidak perlu mencari buku-buku filsafat atau etika. Sebaliknya, kita perlu kembali kepada Alkitab dan mempelajari makna kebaikan hati yang ada dalam Filipi 4:5. Sebagaimana telah kita ketahui, istilah ini pastilah merupakan ekspresi Kristus. Terlebih dahulu, Paulus menyuruh kita agar kebaikan hati kita diketahui semua orang. Karena menyadari bahwa kita tidak mampu melakukannya, dia lalu mengetahui, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ini menunjukkan bahwa kebaikan hati setidaknya merupakan bagian dari ekspresi Kristus.
Kebaikan hati berkaitan dengan ekspresi Kristus. Hal ini menjadi lebih jelas ketika kita memperhatikan Filipi 4:5 dalam konteks keseluruhan Kitab Filipi. Dalam Filipi 1:20-21 Paulus membicarakan tentang memperbesar Kristus dan memperhidupkan Dia. Agar kebaikan hati kita diketahui kepada semua orang, tentu saja harus meliputi memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia. Ini berarti kebaikan hati kita haruslah merupakan Kristus yang kita perhidupkan dan kita perbesar. Seharusnya kita tidak memisahkan keempat pasal tersebut dengan pasal yang lainnya dalam Kitab Filipi. Dalam pasal 1 Paulus membicarakan mengenai memperbesar Kristus dan kemudian di akhir kitab ini membicarakan mengenai diketahuinya kebaikan hati kita. Kebaikan hati yang kita nyatakan haruslah Kristus yang kita perbesar.
Dalam pasal 2 Paulus mengemukakan Kristus sebagai teladan kita yang unik. Tidak diragukan lagi bahwa kebaikan hati pasti berkaitan dengan Kristus sebagai teladan kita. Ini berarti kebaikan hati harus mencakup pengalaman dan ekspresi Kristus sebagai teladan yang diwahyukan dalam pasal 2.
Sebagaimana telah kita jelaskan, dalam pasal 3 kita memiliki Kristus sebagai tujuan kita. Kita harus mengejar tujuan ini bersama-sama Paulus. Kristus yang kita tuntut sebagai tujuan haruslah mencakup kebaikan hati itu sendiri. Kalau tidak, bagaimana mungkin Paulus dapat mendorong kita untuk menuntut Kristus yang ada dalam pasal 3 dan kemudian dalam pasal 4:5 menyuruh kita untuk memperlihatkan sesuatu selain Kristus kepada semua orang. Itu tidaklah masuk akal. Paulus sangat konsisten, apa yang dia suruh kita nyatakan dalam Filipi 4:5 adalah tujuan yang dia anjurkan kita tuntut dalam Filipi 3. Karena Paulus mendorong kita untuk menuntut Kristus, dalam Filipi 4:5 dia tentu tidak menyuruh kita untuk memperlihatkan sesuatu yang lain kepada semua orang selain Kristus sendiri. Paulus mengulas begitu banyak mengenai Kristus dalam ketiga pasal yang pertama dari kitab itu, maka apa yang dia bicarakan dalam pasal 4 pastilah berkaitan dengan Kristus. Sebab itu, kita yakin bahwa kebaikan hati yang ada dalam Filipi 4:5 adalah Kristus.
Jika istilah “kebaikan hati” yang ada dalam Filipi 4:5 dapat digantikan oleh istilah yang lain, maka istilah terse-but haruslah “Kristus”. Selain mengatakan, “Hendaklah ke-baikan hatimu diketahui,” dapat juga kita katakan, “Hendaklah Kristus diketahui,” Ini berarti membiarkan Kristus yang kita perhidupkan dan kita perbesar, yang kita terima sebagai teladan kita, dan yang kita tuntut sebagai tujuan kita diketahui oleh semua orang.
AGAR KEBAIKAN HATI KITA
DIKETAHUI SEMUA ORANG
Kebaikan hati adalah Kristus menjadi kehidupan kita. Kristus yang kita perhidupkan menjadi kebaikan hati kita, juga menjadi kebaikan hati yang diketahui orang lain. Jika kita nampak hal ini, kita akan memahami bahwa kebaikan hati merupakan hal yang sangat bermakna. Kebaikan hati bukanlah suatu kebajikan yang terpisah dari kehidupan orang Kristen. Sebaliknya, kebaikan hati sesungguhnya sinonim dengan “Kristus” dalam kehidupan kristiani kita. Di satu pihak, kita dapat mengatakan bahwa kehidupan kristiani kita adalah Kristus itu sendiri. Di pihak lain, kita dapat mengatakan bahwa kehidupan orang Kristen merupakan kehidupan yang berbaik hati. Jadi, membuat orang lain tahu kebaikan hati kita berarti membuat orang lain tahu Kristus kita.
Jika kita tidak bisa membuat orang lain mengetahui Kristus kita, kita akan memiliki Kristus hanya di dalam doktrin atau istilah, tetapi kita tidak akan mengalami Kristus di dalam pengalaman kita. Kaum muda, boleh jadi orang tua kalian mengetahui bahwa Kristus ada di dalam kalian. Tetapi kalian perlu membiarkan Kristus kalian diketahui oleh orang tua kalian melalui memperlihatkan kebaikan hati kalian kepada mereka. Kita harus membiarkan Kristus kita diketahui setiap orang yang berkontak dengan kita setiap hari. Inilah artinya kebaikan hati kita diketahui semua orang.
Saya ingin menekankan fakta bahwa kebaikan hati tidak lain adalah Kristus itu sendiri. Dalam doktrin, kita dapat membicarakan tentang Kristus, tetapi dalam pengalaman, kita perlu kebaikan hati. Kebaikan hati kita diketahui orang berarti Kristus yang kita alami, perhidupkan, dan perbesar diketahui orang. Inilah pengertian yang tepat dari 4:5 dalam terang pengalaman kristiani.
Kristus diwahyukan dalam setiap pasal dalam Kitab Filipi. Namun, dalam pasal 4 satu istilah yang istimewa — kebaikan hati — telah dipakai untuk menunjukkan Kristus dalam pengalaman kita. Jangan mengira Filipi 4 berada di level yang lebih rendah daripada pasal 1, 2, dan 3. Tidak, dalam pasal 4 kita memiliki Kristus yang kita alami dan yang kita ekspresikan sebagai kebaikan hati kita. Kita boleh mengatakan bahwa fokus sentral kehidupan kristiani kita adalah Kristus. Saya tentu setuju dengan pernyataan yang demikian. Tetapi, ditinjau dari sudut pandang pengalaman kristiani kita yang riil, fokus kehidupan kristiani adalah kebaikan hati. Kebaikan hati merupakan satu kebajikan kristiani yang almuhit. Kebaikan hati mencakup kasih, sabar, murah hati, rendah hati, belas kasih, simpati, dan kepatuhan, yaitu kerelaan untuk tunduk. Jika kita mempunyai suatu pekerti almuhit yang demikian, kita akan memiliki keadilan dan kekudusan.
Kehidupan kristiani adalah suatu kehidupan yang penuh kebaikan hati namun tanpa kekhawatiran. Hanya ketika kita memiliki kebaikan hati barulah kita memiliki kehidupan yang tanpa kekhawatiran. Jika seluruh diri kita dipenuhi dengan kebaikan hati, tidak akan ada tempat untuk kekhawatiran.
COCOK DAN PANTAS
Istilah kebaikan hati dalam bahasa Yunani diterjemah-kan dengan cara yang berbeda-beda. Ada versi yang menerjemahkan istilah ini “keluwesan” (yieldingness). Dalam terjemahan bahasa Mandarin diterjemahkan “memberi dengan rendah hati”. Pengertian-pengertian tersebut benar, namun sangat dangkal. Penerjemah lain menunjukkan bahwa istilah Yunani ini berarti layak, masuk akal, pantas, dan cocok. Orang yang baik hati adalah orang yang selalu dapat menyesuaikan diri, dan seorang yang kelakuannya selalu pantas.
Memang ada beberapa orang saleh yang baik, tetapi mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan situasi. Mereka mungkin berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi ke mana saja mereka pergi, mereka tidak merasa senang. Alasan kaum saleh itu tidak dapat menyesuaikan diri ialah karena mereka tidak berbaik hati. Orang yang ber-baik hati selalu dapat menyesuaikan perbuatannya dalam keadaan atau lingkungan apa pun.
Kebaikan hati juga mencakup kedamaian, keramahan, dan kelemahlembutan. Jika Anda layak, simpati, dan dapat menyesuaikan diri, pasti Anda adalah orang yang lemah lembut, murah hati, hangat, dan penuh kedamaian. Anda pun akan menjadi yang luwes dan tidak berlebih-lebihan, penuh belas kasih terhadap orang lain. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita terdahulu, lawan kebaikan hati ialah bersikap benar dengan cara yang keras. Orang yang kekurangan kebaikan hati pasti akan menuntut sesuatu dengan keras kepada orang lain. Tetapi, kebaikan hati berarti kita merasa puas dengan apa yang lebih sedikit daripada hak kita. Alford mengatakan, dalam bahasa Yunani istilah “kebaikan hati” berarti tidak menuntut hak-hak yang sah secara keras. Sebagai contoh, sebuah barang mungkin milik kita, tetapi kita tidak mengklaimnya sesuai dengan hak legal kita dengan keras. Inilah kebaikan hati.
KEBAIKAN HATI KRISTUS
Kehidupan Tuhan Yesus adalah penjelasan terbaik dari kebaikan hati. Renungkanlah bagaimana Ia berbicara kepada kedua murid dalam perjalanan menuju Emaus. Lukas 24:15 mengatakan, ketika kedua murid tersebut “sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.” Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (ayat 17). Salah seorang murid itu menjawab dengan nada menegur, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari ini?” (ayat 18). Bagaikan tidak mengetahui apa-apa, Tuhan bertanya, “Apakah itu?” (ayat 19). Lalu mereka mulai memberitahukan tentang Yesus orang Nazaret, “Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya” (ayat 19-20). Alangkah sabarnya Tuhan mendengarkan kedua murid itu menuturkan perkara-perkara yang sebenarnya Ia ketahui jauh lebih banyak dan jelas daripada mereka! Setelah berjalan sejangka perjalanan, “mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalan-Nya” (ayat 28). “Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, ‘Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam. Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka” (ayat 29). Tuhan bahkan duduk makan dengan mereka. Ketika Tuhan mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. “Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia” (ayat 31). Dalam seluruh peristiwa ini kita nampak kebaikan hati Tuhan.
Selain Tuhan Yesus, tidak ada umat manusia yang pernah menempuh kebaikan hati yang sedemikian ini. Kalau Anda membaca riwayat hidup orang-orang yang terkenal, Anda akan nampak tidak ada seorang pun di antara mereka yang benar-benar sebagai orang yang baik hati. Akan tetapi, jika Anda membaca keempat kitab Injil, Anda akan nampak kehidupan insani Tuhan Yesus penuh dengan kebaikan hati. Tuhan Yesus menyatakan kebaikan hati-Nya terhadap murid-murid-Nya. Dapatkah Anda menemu-kan satu kasus di mana Tuhan Yesus memecat seorang di antara mereka? Tuhan Yesus bahkan menyatakan kebaik-an hati-Nya terhadap Yudas!
KRISTUS SEBAGAI KEBAIKAN HATI KITA
Kita perlu kebaikan hati kehidupan gereja, terutama dalam hal melayani bersama-sama. Misalnya, seorang saudari melayani dengan tidak memadai. Saudari yang melayani bersamanya setidaknya menghadapi empat pilihan: pergi meninggalkannya, melayani bersamanya dengan caranya yang tidak memadai, mengoreksinya, atau berusaha memperbaikinya. Dari keempat pilihan tersebut tidak ada satu pun yang mencakup kebaikan hati. Jika saudari itu memperlihatkan kebaikan hati, pasti ia tidak pergi meninggalkan saudari itu. Setidaknya untuk sementara waktu ia tetap melayani bersama saudari itu. Kemudian, dengan hikmat ia akan meneliti situasi saudari itu dan menen-tukan apakah ia dapat mengatakan suatu perkataan untuk mengoreksi atau memperbaikinya dalam kasih. Andaikata saudari itu ternyata tidak bisa menerima perkataan yang demikian, maka saudari ini harus menunggu dahulu sebelum mengatakan sesuatu kepadanya. Akhirnya, ia mungkin memiliki kesempatan untuk berbicara kepadanya, namun tidak menurut keinginan sendiri, melainkan menurut pimpinan Roh itu. Demikianlah ia memperlihatkan kebaikan hati. Jika kita semua menyatakan kebaikan hati, gereja akan terbangun dengan indahnya.
Kebajikan kebaikan hati ini bersifat almuhit, mencakup kasih, murah hati, belas kasih, kelayakan, kemampuan menyesuaikan diri, dan kebajikan-kebajikan lainnya. Mu-dah-mudahan sekarang kita dapat mengerti mengapa Paulus membicarakan kebaikan hati pada akhir sebuah kitab yang dalam tentang pengalaman atas Kristus ini. Ketika Paulus menasihati kita agar kebaikan hati kita diketahui oleh semua orang, ia mengatakan sesuatu yang sangat bermak-na. Tidak ada seorang manusia yang mampu dengan hayat alamiah memenuhi tuntutan yang sedemikian. Banyak tokoh agama boleh jadi sangat baik, tetapi mereka tetap adalah orang-orang yang berdosa dan telah jatuh. Hanya Tuhan Yesus yang menempuh kehidupan yang penuh kebaikan hati, dan hanya Kristus yang dapat menjadi kebaikan hati kita yang sempurna hari ini. Kata yang terbaik untuk meringkas keseluruhan kebajikan insani Kristus ialah kebaikan hati. Orang mengetahui kebaikan hati kita berarti kita menempuh kehidupan yang mengekspresikan Kristus; kehidupan ini mengekspresikan Kristus yang kita perhidupkan. Kehidupan yang demikian adalah Kristus sendiri sebagai totalitas seluruh kebajikan insani. Inilah Kristus sebagai kebaikan hati kita.