← Daftar isi Filipi (2) · bab 16/20

KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (3)

Pembacaan Alkitab: Flp. 4:1-2, 4-7, 11-13; 3:15-16

Kata kebaikan hati dalam bahasa Yunani tersusun dari dua kata. Kata pertama ialah kata depan “epi” yang bila dibubuhi kata lain dapat mengandung arti luas atau penuh. Kata ini merupakan satu komponen kata Yunani “pengenalan” yang dipakai dalam 2Timotius 2:25. Kata Yunani yang kedua mengandung berbagai arti: layak, simpati dan pantas. Jadi, kata Yunani “kebaikan hati” di sini ini berarti yang layak secara luas atau yang sepenuhnya layak.

KEBAJIKAN YANG ALMUHIT

Berdasarkan analisis dari arti kata Yunani ini, berdasarkan pengalaman rohani kita, berdasarkan aktivitas Allah dalam ekonomi-Nya, dan berdasarkan kehidupan Tuhan di bumi, kita dapat memahami bahwa untuk memiliki kebaikan hati yang memadai kita memerlukan banyak kebajikan lainnya. Kebaikan hati merupakan satu kebajikan yang almuhit.

Dari sekian banyak kebajikan insani, Paulus membicarakan kebaikan hati dalam 4:5. Seperti yang akan kita lihat, kebajikan khusus ini berkaitan dengan hal-hal penting lainnya dalam Filipi 3 dan 4. Sebagai contoh, kebaikan hati berkaitan dengan kemampuan melakukan segala hal di dalam Kristus, dan berkaitan pula dengan belajar rahasia kepuasan dalam segala keadaan. Selain itu, untuk memiliki kebaikan hati kita juga harus memenuhi syarat menurut apa yang dikatakan dalam 3:15-16.

Kebaikan hati berarti sepenuhnya layak, simpati, dan pantas. Hal ini memerlukan suatu pengertian yang benar terhadap situasi yang dihadapi saat itu. Misalnya, dua orang pelajar sedang berselisih pendapat tentang soal matematika. Karena tidak berdaya memecahkan persoalan, mereka lalu membawa masalah itu kepada Anda. Namun, jika Anda tidak mengerti matematika, pasti Anda tidak dapat memberi mereka keputusan yang adil dan layak.

Sekalipun Anda mempunyai pengertian yang diperlukan, Anda mungkin kekurangan hikmat untuk menghadapi orang-orang yang bersangkutan itu.

PERLUNYA ADA KEBAIKAN HATI

DALAM KEHIDUPAN KELUARGA

Dalam kehidupan keluarga kita kebaikan hati sangat diperlukan. Kehidupan keluarga yang baik adalah hasil dari kebaikan hati. Jika seorang suami atau istri menyatakan kebaikan hati terhadap satu sama lain dan terhadap anakanak mereka, mereka akan memiliki sebuah kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga yang sangat indah. Akan tetapi, bila mereka tidak menyatakan kebaikan hati, mereka secara serius akan merusak kehidupan mereka bersama sebagai keluarga.

Dalam menanggulangi anak-anak, para orang tua tidak boleh terlalu keras atau terlalu longgar. Kekerasan atau kelonggaran yang berlebihan akan merusak anak-anak. Kalau demikian, bagaimana seharusnya orang tua mengasuh anak-anak mereka? Cara yang benar adalah cara yang penuh kebaikan hati.

Misalkan, seorang anak berbuat salah dan diketahui oleh ayahnya. Sang ayah tidak boleh tergesa-gesa menegur anaknya atau menghajarnya dalam kemarahan. Dalam Efesus 6 Paulus berpesan kepada kita agar tidak membangkitkan amarah anak-anak kita. Biasanya orang tua membangkitkan amarah anak-anak mereka melalui menanggulangi mereka dalam kemarahan. Kalau Anda memarahi anak Anda, pertama-tama Anda harus mohon Tuhan mengambil kemarahan Anda. Bila kemarahan Anda telah ditanggulangi oleh Tuhan, Anda perlu menggunakan pengertian Anda untuk memahami mengapa anak-anak Anda melakukan kesalahan tersebut. Anak-anak memang berbuat salah, namun demikian, Anda tetap harus memahami situasi mereka. Boleh jadi kesalahan mereka dikarenakan keteledoran Anda. Jika Anda tidak teledor, mungkin anak-anak Anda tidak sampai berbuat kesalahan itu. Karena keteledoran Anda itulah mereka berpeluang untuk melakukan kesalahan, maka janganlah Anda menyalahkan mereka sepenuhnya. Sebaliknya, Anda harus menyalahkan diri Anda lebih dulu, setelah itu baru mendisiplinkan anak-anak Anda. Semuanya ini tercakup dalam menyatakan kebaikan hati kita terhadap anak-anak kita.

Para orang tua harus berhikmat dalam berbicara kepada anak-anak mereka. Seorang anak mungkin perlu dikoreksi, tetapi orang tua harus mempertimbangkan saat yang tepat untuk berbicara kepadanya. Seorang ayah harus bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia seharusnya me-negur anaknya di hadapan anak-anak lain atau bahkan di hadapan ibunya. Adakalanya mendisiplinkan seorang anak di hadapan orang lain bukanlah suatu hal yang bijaksana. Betapa banyaknya hikmat yang harus kita miliki dalam mendidik anak-anak kita! Jika kita tidak memiliki kebaikan hati, kita tidak akan memiliki hikmat. Di aspek lainnya, jika kita tidak memiliki hikmat yang memadai, kita pun tidak dapat menyatakan kebaikan hati.

Jika kita ingin menampilkan kebaikan hati, kita juga perlu sabar. Kebanyakan orang tua merasa sulit untuk sabar ketika mereka mendisiplinkan anak-anak mereka. Misal-kan, seorang saudara ingin menegur salah seorang anaknya. Jauh lebih baik kalau ia menunggu beberapa jam sebelum mengatakan sesuatu kepadanya. Namun, justru luar biasa sulitnya untuk menunggu beberapa menit sekalipun apalagi beberapa jam. Kecenderungan alamiah kita ialah menang-gulangi anak-anak kita secara tergesa-gesa. Ketidaksabaran yang sedemikian ini hanya berakibat merusak.

Ketidaksabaran juga bisa merusak kehidupan pernikahan kita. Misalkan, seorang saudara merasa perlu membicarakan suatu hal tertentu yang kurang menyenangkan dengan istrinya. Jika ia benar-benar sabar, ia akan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya, yakni bilamana percakapan itu akan mendatangkan hasil yang membangun. Seprinsip dengan itu, seorang istri perlu sabar terhadap suaminya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya tentang hal tertentu kepada suaminya. Akan tetapi, sabar dan kebaikan hati sedemikian ini sangatlah sulit bagi kita.

Sebagai kebajikan yang almuhit, kebaikan hati tidak hanya menyiratkan pengertian, hikmat, dan sabar, tetapi juga belas kasih, murah hati, kasih, dan simpati. Daftar kebajikan-kebajikan ini hampir tidak ada habisnya. Seperti telah kita tunjukkan, kata Yunani yang diterjemahkan “kebaikan hati” menyiratkan simpati. Berbaik hati berarti memperhatikan atau mengingat keadaan orang lain. Jika kita mau berlatih memiliki kebaikan hati dalam kehidupan pernikahan dan keluarga kita, kita akan memiliki kehidup-an pernikahan yang menyenangkan dan kehidupan keluar-ga yang indah.

YANG DIPERLUKAN OLEH PARA PENATUA

Dalam 1Timotius 3:3 Paulus menunjukkan bahwa para penatua sebuah gereja lokal haruslah peramah (dalam arti baik hati). Jika para penatua tidak memiliki kebaikan hati yang memadai, gereja di tempat mereka tidak akan terbangun.

Dari Efesus 4 dan Kolose 3 kita mengetahui bahwa gereja adalah manusia baru yang dibangun oleh kaum beriman dari bangsa dan kebudayaan yang berbeda-beda. Untuk membangun sebuah gereja yang terdiri atas kaum saleh yang latar belakangnya berbeda-beda ini sungguh diperlukan banyak kebaikan hati. Para penatua memerlukan suatu pengertian yang tepat terhadap semua orang kudus serta karakter-karakter khas yang mereka miliki; juga perlu memiliki hikmat dalam mengasuh mereka. Jika para penatua kekurangan pengertian dan hikmat, mereka tidak akan dapat menyatakan kebaikan hati dan mungkin mendatangkan kerusakan yang besar. Demi pembangunan di antara kaum saleh dalam sebuah gereja lokal, kebaikan hati adalah kebajikan yang paling dibutuhkan oleh setiap penatua.

YANG DIPERLUKAN OLEH SEMUA ORANG KUDUS

Dalam gereja kebaikan hati tidak hanya diperlukan oleh para penatua, tetapi juga diperlukan oleh semua orang kudus. Kita terutama harus menampilkan kebaikan hati ketika kita berkumpul dalam berbagai kelompok untuk pelayanan gereja. Ketika melayani bersama dalam gereja, kita perlu menampilkan kebaikan hati seorang terhadap yang lain. Di satu pihak, kita tidak saharusnya menolak siapa pun; di pihak lain, kita tidak boleh terlampau toleransi terhadap seseorang yang melayani dengan cara yang sembarangan. Betapa kita perlu kebaikan hati!

KEBAIKAN HATI ALLAH

Alkitab mewahyukan bahwa dalam ekonomi-Nya Allah telah menyatakan kebaikan hati yang besar. Segera setelah manusia jatuh Allah mulai memperlihatkan kebaikan hati dalam menanggulangi manusia. Jika Anda membaca Kejadian 3 dari titik pandang kebaikan hati, Anda akan nampak alangkah baik hatinya Allah terhadap manusia yang telah jatuh. Allah memperlihatkan pengertian-Nya, memahami sepenuhnya situasi dan keperluan manusia. Ia juga menggunakan hikmat-Nya dalam menanggulangi manusia yang telah jatuh itu.

Untuk menggenapkan kehendak kekal-Nya dan melaksanakan ekonomi-Nya, Allah senantiasa menyatakan kebaikan hati. Kebaikan hati-Nya mencakup pengertian, hikmat, belas kasih, murah hati, kasih, dan anugerah. Bahkan suplai hayat yang kaya pun tercakup dalam kebaikan hati Allah. Allah tidak pernah memerintahkan kita melakukan sesuatu tanpa memikirkan keperluan kita dan tanpa mengaruniakan suplai-Nya kepada kita. Kalau orang tua menyuruh anak-anaknya melakukan suatu pekerjaan tanpa menyuplai mereka dengan apa yang mereka perlukan, itu berarti orang tua itu tidak memiliki kebaikan hati. Kebaikan hati selalu mengandung suplai yang memadai untuk memenuhi keperluan.

Ketika kita membaca Alkitab, kita nampak bahwa Allah memperlakukan bermacam-macam orang dengan bermacam-macam cara. Sebagai contoh, Ia memperlakukan Adam dengan satu cara, memperlakukan Habel dengan cara lain, dan memperlakukan Kain dengan cara lain pula. Beberapa pelajar Alkitab mengatakan bahwa dalam Alkitab terdapat berbagai zaman, yakni berbagai cara Allah untuk menanggulangi manusia. Semua zaman itu sebenarnya berkaitan dengan kebaikan hati. Allah memperlakukan manusia dengan cara tertentu dalam satu zaman dengan maksud menyatakan kebaikan hati-Nya. Karena Allah itu baik hati, Ia tahu bagaimana memperlakukan setiap manusia. Ia mungkin mendatangi Anda dengan cara tertentu karena Ia mengetahui Anda adalah orang jenis tertentu. Namun, Ia mungkin mendekati orang lain dengan cara yang sangat berlainan.

Alkitab mewahyukan bahwa Allah melaksanakan ekonomi-Nya dengan kebaikan hati. Jika Allah memperlakukan manusia yang telah jatuh dengan cara seperti kita memperlakukan orang lain, Ia tidak bisa menggenapkan tujuan-Nya. Tetapi Ia telah memperlihatkan kebaikan hati-Nya kepada semua orang. Jadi, Allah sendiri memberi suatu contoh, satu teladan kebaikan hati untuk memperlihatkan kebaikan hati-Nya kepada manusia pada segala zaman. Allah memperlihatkan kebaikan hati-Nya melalui memperlakukan kita dengan cara yang layak, pantas, dan simpati. Allah tidak pernah mendisiplin siapa pun tanpa pertimbangan yang matang. Ia sering menunggu cukup lama sebelum menghajar seseorang. Allah jelas berbaik hati dan penuh pengertian, hikmat, kesabaran, pertimbangan, simpati, rahmat, belas kasih, murah hati, kasih, dan suplai hayat. Bayangkan, betapa baik hatinya Ia dalam memperlakukan bangsa Israel. Jika Anda membaca perjalanan bangsa Israel di padang gurun, Anda akan nampak Allah benar-benar penuh kebaikan hati terhadap mereka. Allah juga penuh kebaikan hati terhadap kita, Ia memperlakukan kita bagai-kan seorang bapa yang penuh hikmat dan penuh kasih, penuh kebaikan hati.

SEJILID KITAB KEBAIKAN HATI

Seluruh Alkitab mewahyukan kebaikan hati Allah. Kita bahkan boleh mengatakan bahwa Alkitab merupakan sejilid kitab kebaikan hati, dan seperti yang diwahyukan Alkitab, Allah itu sendiri adalah kebaikan hati. Karena itu, jika Anda meminta saya mendefinisikan kebaikan hati, pertama-tama saya akan mengatakan bahwa kebaikan hati ialah Allah itu sendiri.

KEBAIKAN HATI KRISTUS

Seperti telah kita tunjukkan dalam berita-berita terdahulu, Kristus sendiri adalah kebaikan hati kita. Keempat kitab Injil mewahyukan bahwa Tuhan Yesus menempuh suatu hidup yang baik hati. Ia baik hati terhadap Yudas, demikian pula terhadap Petrus. Ketika Ia berusia dua belas tahun Ia sudah menyatakan kebaikan hati terhadap orang tua-Nya, Maria dan Yusuf. Dari kasus demi kasus kita nampak Tuhan memperlihatkan pengertian, hikmat, kesabaran, belas kasih, murah hati, dan kasih. Ia murah hati terhadap Yudas, dan penuh anugerah terhadap Petrus.

Dalam Matius 17:24-25 tercantum sebuah contoh yang sangat indah tentang kebaikan hati Kristus terhadap Petrus. Ketika pemungut pajak Bait Allah datang kepada Petrus dan bertanya, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” (ay. 24). Petrus segera menjawab, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Tuhan Yesus tidak menegurnya. Sebaliknya, Ia berkata kepadanya dengan cara yang penuh kebaikan hati. Pada akhirnya, Tuhan Yesus malah memberi Petrus suatu cara beroleh suplai untuk membayar pajak itu. Dengan menyatakan kebaikan hati terhadap Petrus, Tuhan Yesus juga mengajarnya untuk menyatakan kebaikan hati. Sudah pasti, ketika menunggu ikan yang di mulutnya terdapat mata uang dirham itu, ia mempunyai kesempatan yang baik untuk menjadi orang yang baik hati.

Dalam Yohanes 11 kita nampak kebaikan hati Tuhan terhadap Marta dan Maria, kedua kakak Lazarus. Ketika Ia mendengar Lazarus sakit, Ia tidak bertindak dengan tergesa-gesa. Sebaliknya, Tuhan sengaja berlambat-lambat. Melalui kelambatan-Nya itu tersingkaplah keadaan orang lain. Dalam menangani situasi demikian Tuhan menggunakan banyak pengertian, hikmat, pertimbangan, belas kasih, dan murah hati. Akhirnya suatu suplai hayat yang besar dinyatakan dalam kebangkitan Lazarus.

KEBAIKAN HATI PAULUS

Kehidupan Paulus pun adalah suatu kesaksian kebaik-an hati. Ia menulis Kitab Filipi dari dalam penjara di Roma. Paulus menderita sengsara, dan menurut pasal 4, ia kekurangan suplai. Di antara semua gereja, gereja di Filipilah yang paling memperhatikan keperluan Paulus. Tetapi karena beberapa alasan, di bawah pengaturan wewenang Tuhan, ada sejangka waktu orang-orang Filipi sepertinya melupakan Paulus dan keperluannya. Inilah sebabnya dalam 4:10 ia berkata, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku.” Kata-kata ini menyiratkan bahwa Paulus telah melewati suatu “musim dingin” penderitaan, dan kini “musim semi” telah datang dengan bertumbuh kembalinya perhatian orang-orang Filipi terhadapnya. Tetapi, sekalipun Paulus menderita dalam penjara, dianiaya, diserang, diabaikan, dan kekurangan suplai, ia tetap menyatakan kebaikan hati dan dapat mendeklarasikan: “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal aku telah belajar rahasianya; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (4:11-13 Tl.). Sebelum ia menyuruh orang kudus agar kebaikan hati mereka diketahui semua orang, ia sendiri telah berlatih menyatakan kebaikan hati. Tidak diragukan, kebaikan hati Paulus telah diketahui semua orang di sekitarnya. Ia penuh dengan pengertian, hikmat, pertimbangan, simpati, belas kasih, dan murah hati. Ia juga penuh dengan suplai hayat.

Jika kita membaca Kitab Filipi dengan saksama, kita akan nampak bahwa Filipi 3:17-21 merupakan bagian yang terpisah. Ini berarti, ditinjau dari segi rohani, 4:1 adalah kelanjutan 3:16. Setelah menasihati orang kudus untuk hidup dan bertindak dengan kaidah yang sama itu, Paulus menyuruh mereka “berdiri . . . dengan teguh dalam Tuhan” (4:1). Selanjutnya, ia menyuruh mereka bersukacita senantiasa dalam Tuhan (ayat 4), dan agar kebaikan hati mereka diketahui semua orang (ayat 5). Kemudian, dalam pasal 4 ia bersaksi bahwa ia dapat melakukan segala hal di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya. Jadi, Paulus dapat membuat orang-orang kudus mengetahui kebaikan hatinya, karena ia berada di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya. Tidak hanya demikian, ia telah puas, karena ia telah belajar rahasia baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

PERLUNYA PERTUMBUHAN

Agar kebaikan hati kita diketahui semua orang bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini memerlukan pertumbuhan, baik dalam hayat insani maupun hayat rohani kita. Semakin bertumbuh dan matang seseorang, ia akan semakin memiliki kebaikan hati. Karena itu, kebaikan hati memerlukan pertumbuhan hayat, memerlukan kematangan.

Dalam 3:15 Paulus berkata, “Karena itu, marilah kita yang dewasa penuh berpikir demikian” (Tl.). Kita telah menunjukkan bahwa berpikir demikian berarti berpikir untuk memperhidupkan Kristus dan menuntut Dia. Namun, Kristus yang kita perhidupkan dan tuntut ini harus terekspresi sebagai kebaikan hati. Kalau kita menggabungkan ayat-ayat dari pasal 3 dan 4 ini, kita nampak bahwa kebaikan hati memerlukan kematangan. Tanpa pertumbuhan dan kematangan atau kedewasaan, kita sangat sulit membuat kebaikan hati kita diketahui orang lain.

Jangan berharap melihat seorang yang baru percaya dalam Kristus dapat menyatakan kebaikan hati. Janganlah kita menuntut kebaikan hati atas orang yang baru percaya, tetapi kitalah yang terlebih dulu harus menjadi orang yang baik hati itu. Sebagai contoh, dalam sebuah keluarga para orang tua harus terlebih dulu memperlihatkan kebaikan hati mereka sehingga memberi teladan kebaikan hati untuk dicontoh anak-anak mereka. Jika seorang saudara tidak berbaik hati terhadap istri dan anak-anaknya, jangan harap anak-anaknya mengerti apa itu kebaikan hati. Ia tidak seharusnya memerintahkan orang lain untuk menjadi orang yang baik hati, tetapi ia sendirilah yang harus mendirikan suatu teladan untuk dicontoh oleh anak-anaknya. Seperti telah kita tunjukkan, untuk memiliki kebaikan hati yang sedemikian diperlukan kematangan.

HIDUP DAN BERTINDAK

DENGAN KAIDAH KEBAIKAN HATI

Dalam 3:16 Paulus berkata, “Tetapi, tingkat mana yang telah kita capai, baiklah kita berjalan menurut aturan yang sama” (Tl.). Aturan atau kaidah yang disebut di sini adalah kaidah menuntut Kristus. Tetapi, karena dalam kehidupan sehari-hari kita yang riil Kristus terekspresi sebagai kebaikan hati, maka kita boleh mengatakan bahwa menurut kaidah ini berarti menurut kaidah kebaikan hati.

RAHASIA KECUKUPAN

Setelah mengatakan kebaikan hati dalam 4:5, Paulus berkata, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (ayat 11). Paulus telah belajar rahasia kecukupan. Dengan ini kita nampak, jika kita ingin berbaik hati, kita harus merasa puas diri dan cukup diri. Jika kita tidak puas, kita tidak dapat berbaik hati.

Dari pengalaman saya dapat bersaksi, kapan saja saya tidak puas, saya juga tidak dapat berbaik hati. Tetapi kapan saja saya puas dan merasa cukup diri, saya mudah berbaik hati.

Ketika sedang gembira, seseorang tidak mudah marah. Tetapi jika ia sedang tidak gembira, lelah, lapar, dan haus, ia mudah sekali marah. Sebaliknya, seorang yang puas adalah seorang yang gembira dan sukacita. Bila kita penuh dengan sukacita, kita tidak mudah marah. Para orang tua mengetahui, jika anaknya berbuat salah ketika mereka sedang puas dan gembira, mereka akan memperlakukan anak itu dengan satu cara, yakni cara yang penuh kebaikan hati. Tetapi, jika ia berbuat seperti itu ketika mereka sedang tidak puas dan tidak gembira, mereka akan memperlakukannya dengan cara yang berbeda, cara yang kurang baik hati. Perbedaannya terletak pada keadaan: dalam peristiwa pertama mereka dipenuhi Kristus, sedang gembira dan puas; sedangkan dalam peristiwa lain, mereka sedang kekurangan Kristus, sedang kekurangan kepuasan di dalam Dia.

Paulus dapat memperlihatkan kebaikan hatinya kepada semua orang kudus karena ia telah puas. Ia tidak kekurangan apa-apa; ia telah puas sepenuhnya. Tidak peduli bagaimana orang lain memperlakukan dirinya, tidak peduli apakah kaum saleh di Filipi memperhatikan keperluannya atau tidak, Paulus tetap puas. Kehidupannya penuh dengan kepuasan.

Sekarang kita dapat nampak bahwa kebaikan hati memerlukan kematangan hayat dan kepuasan serta kecukupan dalam Kristus. Jarang sekali di antara kita yang ma-tang sepenuhnya, tetapi kita dapat bersyukur kepada Tuhan karena setidak-tidaknya kita matang sampai tingkat tertentu. Menurut tingkat kematangan kita, kita menikmati kepuasan hayat Tuhan. Setelah kita memiliki kepuasan dan kecukupan, barulah kita dapat menyatakan kebaikan hati kita.

Semakin para penatua dalam gereja menjadi matang dan puas, semakin mudahlah mereka menyatakan kebaik-an hati dalam rumah Allah. Demikian pula, semakin seorang ayah matang dan puas, ia akan lebih mudah memperlihatkan kebaikan hati terhadap anggota-anggota keluarganya. Sudah pasti, sebagai sang yang ada sejak dahulu kala, Allah kita adalah yang paling matang, puas dan berkecukupan. Karena itu, Ia dapat memperlihatkan kebaikan hati-Nya dengan penuh. Tuhan Yesus juga memiliki pertumbuhan hayat, kepuasan hayat dan kecukupan hayat. Karena itu, di mana pun Ia berada, senantiasa penuh dengan kebaikan hati dan dapat menyatakan kebaikan hati-Nya kepada semua orang.

Ketika kita menempuh hidup yang demikian penuh kebaikan hati ini, kita tidak akan memiliki kekhawatiran apa pun. Dalam berita-berita mendatang kita akan melihat, ketika kehidupan kita penuh kebaikan hati, kita akan bebas dari kekhawatiran.