← Daftar isi Filipi (2) · bab 17/20

KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (4)

Pembacaan Alkitab: Flp. 4:4-7, 10-13

Dalam berita terdahulu kita menekankan perlunya kebaikan hati dalam kehidupan pernikahan, kehidupan keluarga, dan hidup gereja kita. Demi pembangunan gereja, para penatua dan semua orang kudus harus melatih kebaikan hati. Demikian juga, demi kehidupan pernikahan yang bahagia dan kehidupan keluarga yang harmonis dan indah, kita harus memiliki kebaikan hati. Saya harap semua orang kudus yang memiliki anak-anak memiliki kesan yang mendalam atas perlunya melatih kebaikan hati dalam kehidupan sehari-hari di rumah masing-masing.

MAKNA KEBAIKAN HATI

Kata Yunani yang diterjemahkan “kebaikan hati” dalam 4:5 tersusun dari dua kata: “epi”, dan “eikos”. Epi merupakan kata depan yang berarti kepada atau sampai kepada, sedang eikos berarti patut, sesuai, pantas. Bila kata epi dirangkaikan dengan kata Yunani yang lain sebagai awalan, kata ini sering mengandung arti penuh atau luas. Sebagai contoh, kata “mengenal” (Yunani: epignosis) yang dipakai dalam 2Timotius 2:25. Dalam ayat tersebut Paulus membicarakan “mengenal kebenaran”; menurut bahasa aslinya mengandung arti “pengenalan yang penuh akan kebenaran”. Jadi epi dirangkai dengan mengenal (gnosis) menjadi satu kata yang berarti pengenalan yang penuh. Penggunaan kata depan ini sebagai penyusun kata Yunani yang diterjemahkan kebaikan hati dalam 4:5 menunjukkan bahwa makna kata ini ialah kelayakan yang penuh, atau kepatutan dan kepantasan yang sepenuh-penuhnya. Kita perlu suatu kelayakan dan simpati yang penuh dan luas. Selain itu, kita perlu bertindak dengan cara yang sesuai dan pantas sampai ke tingkat sepenuh-penuhnya. Seluruh makna ini tercakup dalam kata Yunani yang dipakai Paulus dalam 4:5 tersebut.

Kata Yunani yang diterjemahkan kebaikan hati dalam 4:5 sebenarnya bukan sebuah kata benda, melainkan kata sifat yang dipakai sebagai kata benda dengan dibubuhi sebuah kata sandang tertentu. Pemakaian kata sifat sebagai kata benda sedemikian ini adalah untuk menekankan arti kata yang bersangkutan itu. Sebagai contoh, dalam 1Timotius 6:17 Paulus berkata, “Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia (zaman) ini agar mereka jangan tinggi hati.” Perkataan “orang-orang kaya” di sini dalam bahasa aslinya adalah kata sifat yang dibendakan guna mempertegas arti. Dalam 4:5 Paulus sengaja memakai sebuah kata sifat sebagai kata benda untuk memberi penekanan khusus atas kata kebaikan hati.

SUPLAI YANG KAYA

Dalam berita terdahulu kita menunjukkan bahwa kebaikan hati memerlukan pengertian, hikmat, sabar, dan banyak lagi kebajikan lainnya. Jika kita ingin memiliki kebaikan hati, kita perlu menjadi orang yang berbalas kasih, murah hati, dan rohani. Lagi pula kebaikan hati memerlukan kemampuan tertentu dalam sejumlah bidang. Kita perlu kemampuan untuk memahami, sabar, membantu orang lain, dan menyediakan suplai yang dibutuhkan mereka. Dalam kebaikan hati-Nya terhadap kita, Allah sesungguhnya telah memberikan suplai yang kaya kepada kita.

Kebaikan hati Allah terhadap orang yang telah jatuh mempunyai satu tujuan. Tujuan-Nya dalam menyatakan kebaikan hati ialah menggenapkan ekonomi-Nya. Jika Allah tidak memberi manusia suplai yang cukup dan tidak menyatakan kebaikan hati kepada manusia, Allah tidak berdaya menggenapkan tujuan-Nya, yaitu merampungkan ekonomi-Nya.

BERSUKACITA DALAM TUHAN

Kita telah nampak bahwa kebaikan hati memerlukan kematangan dan kepuasan atau kecukupan. Sekarang kita perlu melihat bahwa kebaikan hati juga berkaitan dengan sukacita dalam Tuhan. Dalam 4:4 Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Setelah itu ia segera berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Jika kita tidak bersukacita dalam Tuhan, kita tidak mungkin bisa berbaik hati. Jika kita ingin kebaikan hati kita diketahui orang lain, kita harus bergembira dan bersukacita dalam Tuhan. Orang-orang yang tidak bersukacita atau yang bersedih hati, tidak dapat bisa berbaik hati. Sebaliknya, mereka mudah tersinggung, menggerutu, atau marah-marah. Kebaikan hati dalam 4:5 merupakan hasil dari bersukacita dalam Tuhan yang disebut dalam ayat 4. Dari pengalaman kita tahu, bahwa sukacita bergandengan dengan kebaikan hati.

TELADAN KEBAIKAN HATI

Dalam 4:11-13 kita nampak hubungan antara kecukup-an diri dengan kebaikan hati. Dalam ayat 11 Paulus bersaksi, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dalam ayat 12 ia meneruskan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan segala hal aku telah belajar rahasianya; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan” (Tl.). Karena Paulus telah belajar rahasia untuk mencukupkan diri, ia dapat berbaik hati terhadap semua gereja dan semua orang kudus. Ia berkata, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ayat 13). Menurut konteksnya, ini mencakup kemampuan untuk menyatakan kebaikan hati Kristus hingga diketahui orang kudus.

Renungkan situasi Paulus ketika ia menulis Kitab Filipi. Situasi dan kondisinya sama sekali tidak positif. Ia menjadi tawanan di Roma; ia ditentang para agamawan; bahkan orang-orang kudus, termasuk orang-orang Filipi yang dulunya setia menyuplai kebutuhannya, mengabaikannya untuk sejangka waktu. Dalam 4:10 Paulus berkata, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan bahwa akhirnya pi-kiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesem-patan bagimu.” Kata “bertumbuh kembali” menyiratkan Paulus telah melalui satu “musim dingin” dalam pengalamannya namun sekarang sudah tiba musim “semi”, sebab perhatian orang-orang Filipi terhadapnya bertumbuh kembali. Walaupun Paulus menyiratkan pengalaman “musim dingin”nya dan pengalamannya diabaikan untuk sementara waktu oleh orang kudus, ia menyatakan pengertian yang sangat besar terhadap mereka ketika ia menulis surat kepada mereka. Dalam menulis Surat Kiriman ini, ia memperlihatkan kebaikan hati. Jadi, Rasul Paulus, seorang yang penuh pengertian atas situasi dan atas orang kudus, benar-benar adalah satu teladan kebaikan hati yang sangat indah.

PERLU PENGERTIAN DAN HIKMAT

Sering kali kita tidak berbaik hati karena kesalahpahaman. Dalam hidup gereja kita sering tidak memahami saudara saudari. Dalam kehidupan keluarga, kita mungkin tidak memahami suami atau istri kita. Kekurangan pengertian seperti ini menyebabkan kekurangan kebaikan hati. Andaikata Paulus salah paham terhadap orang-orang Filipi, pasti ia tidak dapat menulis surat yang seindah ini kepada mereka. Sebaliknya, ia mungkin menunjukkan betapa ketika ia sangat membutuhkan bantuan mereka, namun bantuan itu tidak kunjung tiba. Sekarang sewaktu mereka mengingatnya dan mengirimkan pemberian kepadanya, hal itu sudah terlambat. Tetapi, Paulus memiliki pengertian penuh akan ekonomi Allah dan pergerakan-Nya, ia pun memahami kelicikan serangan Iblis; lebih-lebih ia memahami orang kudus di Filipi serta situasi mereka. Baginya setiap hal sangatlah jelas. Jadi, di pihaknya tidak ada kesalah-pahaman. Ia dapat menyatakan banyak kebaikan hati ketika menyurati kaum beriman di Filipi.

Ketika menyurati orang-orang Filipi, Paulus juga menggunakan hikmat. Dia tahu apa yang harus dikatakan dan berapa banyak yang harus dikatakan. Jika kita membaca Surat Kiriman ini dengan teliti, kita akan nampak bahwa penggunaan kata-kata Paulus sangat tepat. Tulisannya tidak terlalu panjang juga tidak terlalu singkat. Di sini kita nampak hikmat Paulus.

Paulus perlu menggunakan hikmat ketika ia menyurati orang-orang Filipi; kita juga perlu hikmat dalam kehidupan pernikahan kita. Para suami perlu hikmat ketika berbicara dengan istri mereka, dan para istri pun perlu hikmat ketika menyampaikan suatu hal kepada suami mereka. Di sini saya ingin menekankan perlunya istri memiliki hikmat terhadap suaminya. Misalkan, seorang saudari ingin membicarakan suatu hal tertentu dengan suaminya. Sebelum berbicara, ia perlu menggunakan pengertian, pertimbangan, dan hikmat. Jika ia berbicara pada waktu yang tidak tepat, atau jika ia berbicara terlalu banyak tentang pokok persoalan yang ada, ia mungkin membuat suaminya jengkel tidak hanya terhadapnya, tetapi juga terhadap orang lain dalam hidup gereja, bahkan terhadap para penatua. Kadang-kadang seorang suami gusar terhadap para penatua hanya karena istrinya memberi informasi kepadanya tanpa menggunakan pengertian, pertimbangan, dan hikmat. Bahkan ketika menyampaikan informasi kepada suaminya, seorang istri perlu banyak kebaikan hati. Untuk itu ia perlu pengertian yang tepat terhadap suaminya dan situasi suaminya. Jika ia menyadari suaminya seorang yang cepat, yakni seorang yang bereaksi tergesa-gesa terhadap sesuatu, dan yang mudah marah atau tersentuh emosinya, ia perlu memikirkan bagaimana membantunya untuk bersabar dan tenang. Khususnya, ia perlu mempertimbangkan berapa banyak yang harus ia ucapkan kepada suaminya. Mungkin pada mulanya ia hanya mempersekutukan sebagian dari informasi tersebut. Sebelum mengatakan lebih banyak, ia harus mempertimbangkan suasananya dan mengamati apakah saat itu merupakan saat yang tepat bagi suaminya untuk mendengar lebih banyak. Ia boleh mempersekutukan sesuatu pada satu waktu, dan yang lain dipersekutukan pada waktu lain, dan sisanya dipersekutukan lagi lain kali. Jika saudari itu memiliki kebaikan hati, memiliki pengertian, pertimbangan, dan hikmat, maka hasil pembicaraannya dengan suaminya akan sangat berfaedah baik bagi kehidupan pernikahan mereka maupun bagi hidup gereja.

DOA DAN KEBAIKAN HATI

Sebagaimana ayat 5 adalah kelanjutan ayat 4, maka ayat 6 adalah kelanjutan ayat 5. Jika kita nampak kelanjutannya di sini, kita akan paham bahwa kebaikan hati memerlukan doa. Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Sepertinya tidak ada hubungan antara kata-kata “hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang” dengan “nyatakanlah keinginanmu . . .” Tetapi sebenarnya kedua kalimat ini berkaitan erat. Ketika kita mempraktekkan kebaikan hati, kita akan paham betapa kita perlu berdoa. Kita mungkin khawatir dan cemas tentang banyak hal mengenai keluarga kita atau gereja. Selain itu, kita mungkin menyadari bila kita membicarakan keprihatinan kita maka kita akan menimbulkan masalah. Kalau begitu, apakah yang harus kita perbuat? Setelah menyuruh kita jangan khawatir, Paulus mendorong kita untuk berdoa. Jika kita berdoa, Tuhan akan memberi kita pengertian, pertimbangan, dan hikmat yang kita perlukan. Jika seorang saudari berdoa dulu sebelum mempersekutukan sesuatu kepada suaminya, ia akan mengetahui apakah yang harus ia katakan kepada suaminya dan kapan saat yang tepat untuk mengatakannya. Selain itu, jika ia berdoa dengan setia dan tekun, ia akan memiliki suplai yang kaya untuk melayani suaminya. Kemudian kebaikan hatinya disertai suplainya yang kaya akan menggenapkan kehendak Allah dalam situasi itu.

Jika semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan menyatakan kebaikan hati dalam kehidupan pernikahan mereka dan dalam membesarkan anak-anak mereka, kita akan memiliki kehidupan keluarga yang paling baik. Kemudian kita baru bisa bernyanyi tentang hidup gereja yang indah dan mulia. Kita bisa mempersaksikan bukan hanya suatu kehidupan gereja yang indah dan ajaib, tetapi juga kehidupan pernikahan yang indah dan ajaib.

KEHIDUPAN PERNIKAHAN, KEHIDUPAN

KELUARGA, DAN HIDUP GEREJA

Pertama-tama, kita perlu membina kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga yang tepat, kemudian baru kita dapat membina hidup gereja (church life). Jika seorang saudara tidak tahu bagaimana membina kehidupan pernikahan yang menyenangkan di rumah dan kehidupan keluarga yang indah bersama anak-anaknya, ia akan sulit mengambil bagian dalam pembangunan gereja. Bila ia berkumpul bersama orang lain untuk pelayanan gereja, boleh jadi ia sangat sopan. Tetapi, terhadap istri atau anak-anaknya, ia mungkin tidak demikian. Kita boleh jadi sangat sopan terhadap saudara dan saudari dalam gereja, namun sangat tidak sopan terhadap suami atau istri atau anak-anak kita.

Kehidupan keluarga kita adalah tempat yang paling dapat menyingkapkan keadaan kita. Jangan mengira karena seorang saudara begitu baik, ramah, dan sopan terhadap kaum saleh di dalam gereja, ia pasti demikian pula di rumahnya sendiri. Jika Anda ingin mengenalnya, Anda perlu melihat bagaimana ia hidup bersama istri dan anak-anak-nya. Oh, betapa kita perlu kebaikan hati dalam kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga kita, agar kita dapat membina hidup gereja yang tepat!

Semakin kita menyadari keperluan akan kebaikan hati, kita akan semakin nampak betapa sulitnya kita menjadi seorang manusia yang tepat. Menjadi seorang istri atau suami, atau menjadi orang tua, atau menjadi satu anggota gereja sungguh bukan hal yang mudah. Kebanyakan orang Kristen hari ini tidak tahu apa-apa tentang hidup gereja yang sejati. Mereka paling banyak hanya berhimpun bersama seminggu sekali untuk berkebaktian selama satu jam di hari Tuhan (hari Minggu); mereka tidak memiliki praktek hidup gereja (church life). Selain itu, dalam masyarakat, kehidupan pernikahan telah rusak parah. Bahkan banyak orang hidup bersama-sama, tetapi tidak mau menikah, sebab mereka tidak mau menerima pembatasan pernikahan. Ini berarti sama sekali menolak praktek kebaikan hati.

Kita harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kehidupan pernikahan, kehidupan keluarga, dan hidup gereja kita. Ikatan yang mengikat kita bersama ini adalah hal yang permanen. Dalam kehidupan keluarga dan kehidupan gereja yang sejati tidak seorang pun digaji atau dipecat. Dapatkah kita menggaji seseorang untuk menjadi anak kita, atau dapatkah kita memecat salah seorang dari anak-anak kita? Tentu tidak dapat. Demikian pula, tidak ada anggota-anggota gereja yang dapat digaji atau dipecat. Sama halnya, jika seorang hamba Tuhan dapat memecat salah seorang rekan sekerjanya, ini berarti mereka bukan benar-benar bekerja sama di dalam Tuhan. Dalam pekerjaan Tuhan tidak ada hal menerima gaji atau dipecat. Karena itu, dalam kehidupan keluarga, dalam hidup gereja, dan dalam bekerja sama bagi kepentingan Tuhan, kita perlu kebaikan hati. Kebaikan hati diperlukan sebab kita telah diikat bersama untuk secara permanen.

Sekali lagi saya ingin mengingatkan kalian bahwa kebaikan hati adalah suatu pekerti yang almuhit. Pekerti ini mencakup pengertian, hikmat, sabar, pertimbangan, dan kemampuan untuk membantu dan memberi suplai yang memadai. Jika kita semua melatih kebaikan hati, niscayalah kita akan memiliki kehidupan pernikahan yang menyenangkan, kehidupan keluarga yang harmonis dan bahagia, serta hidup gereja yang ajaib dan indah.