← Daftar isi Filipi (2) · bab 18/20

KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (5)

Pembacaan Alkitab: Flp. 4:4-7; 1:18-21; 4:10-13

Kita telah berulang-ulang menekankan bahwa Kitab Filipi adalah kitab tentang pengalaman akan Kristus. Untuk mengalami Kristus kita perlu memperhidupkan Dia agar kita dapat memperbesar Dia (1:20-21). Kemudian kita perlu mengambil Dia sebagai teladan kita dan menuntut Dia sebagai tujuan kita. Dalam kehidupan kristiani kita, kita harus memiliki pikiran yang unik — pikiran untuk menuntut Kristus dan mendapatkan Dia. Setelah membahas aspek-aspek dari pengalaman atas Kristus ini, dalam pasal 4 Paulus mengetengahkan tentang kebaikan hati dan kekhawatiran, dan hal ini menakjubkan kita. Di aspek positif, kita perlu kebaikan hati; di aspek negatif, kita tidak boleh khawatir tentang apa pun.

Mengapa pada kesimpulan kitab yang dalam mengenai pengalaman atas Kristus ini Paulus menyinggung tentang kebaikan hati dan kekhawatiran? Kelihatannya tidak ada kaitan apa-apa antara hal-hal yang tercantum pada pasal 1, 2, dan 3 dengan perkataan Paulus tentang kebaikan hati dan kekhawatiran. Beberapa tahun yang lampau, saya merasa soal kekhawatiran tidak layak dibicarakan Paulus. Menurut konsepsi saya, ia harus terus membicarakan hal-hal yang tinggi, walau saya tidak jelas apakah hal-hal yang tinggi itu.

LINGKUNGAN YANG DIATUR

DAN DITETAPKAN ALLAH

Dalam Efesus 1:3 dan 2:6 Paulus membicarakan tentang surga. Dalam pengalaman Anda dari hari ke hari, Anda berada di surga atau dalam kekhawatiran? Kita lebih sering berada dalam kekhawatiran, bukan di surga. Setelah kejatuhan manusia, kehidupan manusia tersusun dari kekhawatiran dan kecemasan. Jika Anda membaca Kejadian 3 dengan teliti, Anda akan nampak bahwa kekhawatiran muncul dari lingkungan yang diatur dan ditetapkan Allah bagi kita. Sebagai contoh, ada kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul dari anak-anak kita. Sejak seorang anak dilahirkan, orang tuanya terus menaruh rasa khawatir terhadapnya. Mereka yang tidak mempunyai anak mungkin bermimpi pada suatu hari mereka akan mendapatkan anak. Tetapi mereka tidak tahu kecemasan dan kekhawatiran yang berkaitan dengan melahirkan anak dan membesarkannya. Semua hal yang mempengaruhi kehidupan anak-anak kita, bisa menimbulkan kekhawatiran kita. Kita khawatir terhadap kehidupan, makanan, dan pakaian mereka. Kebanyakan orang tua dapat bersaksi, begitu memikirkan anak-anak mereka, hari-hari mereka lebih banyak dipenuhi kekhawatiran daripada kegembiraan.

Kejadian 3 menunjukkan bahwa manusia yang telah jatuh juga khawatir tentang nafkah. Dalam Kejadian 3:17 Tuhan berkata kepada manusia, “Maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.” Dalam ayat 19 Tuhan berkata, “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu.” Karena manusia harus bersusah payah untuk mempertahankan eksistensinya, maka ia penuh dengan kekhawatiran. Setiap petani khawatir akan hasil panennya; ia khawatir akan cuaca dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit dan hama. Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang tidak membuat kita khawatir. Bahkan orang-orang yang sukses dalam profesinya juga khawatir akan usahanya. Kekhawatiran tidak dapat dihindari.

Dalam kehidupan pernikahan juga banyak sekali kekhawatiran. Orang-orang muda berharap lekas-lekas menikah. Kehidupan pernikahan memang baik, tetapi pernikahan mengandung lebih banyak kekhawatiran dan kecemasan daripada kegembiraan. Saya menganjurkan semua orang muda menikah pada waktu yang tepat, tetapi mereka jangan mengharapkan kehidupan pernikahan yang bebas dari kekhawatiran.

Kehidupan manusia memang penuh dengan kekhawatiran. Tetapi, para malaikat tidak memiliki kekhawatiran sebab mereka tidak memiliki lingkungan untuk dikhawatirkan. Mereka tidak menikah dan dinikahkan, tidak perlu prihatin dalam mencari nafkah atau mengurus keluarga; bahkan mereka tidak perlu tidur. Sebagian orang membuat kekeliruan dengan mencoba menempuh hidup seolah-olah mereka adalah malaikat. Namun Allah telah menetapkan segala lingkungan kehidupan manusia, sekalipun lingkungan-lingkungan itu lebih banyak menimbulkan kekhawatiran daripada kesenangan. Agaknya, kesedihan selalu bertahan lebih lama daripada kegembiraan. Kesenangan mungkin hanya berlangsung dalam waktu yang pendek, tetapi waktu kesedihan, kecemasan, atau kekhawatiran jauh lebih panjang.

Apakah tujuan Allah dalam mengatur dan menetapkan lingkungan yang menimbulkan kekhawatiran kepada kita? Berdasarkan Roma 8, selain penebusan dan Roh yang berhuni di batin, kita pun memerlukan “segala sesuatu”. Ayat 28 mengatakan, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Sudah tentu “segala sesuatu” di sini juga meliputi penderitaan, kekhawatiran, dan ketakutan. Untuk menyempurnakan kita, perlu ada penderitaan. Dari pengalaman kita tahu bahwa pada hakikatnya setiap hal yang tercakup dalam “segala sesuatu” meliputi kekhawatiran.

TOTALITAS KEHIDUPAN MANUSIA

DAN TOTALITAS KEHIDUPAN KRISTIANI

Sebagai seorang yang sudah berusia, saya telah melalui banyak pengalaman dalam kehidupan manusia. Di bawah tangan kedaulatan Tuhan, saya telah mengalami banyak lingkungan yang berbeda-beda. Saya pernah mengakui kemiskinan, juga pernah mengalami apa itu tersuplainya kebutuhan saya. Saya dapat bersaksi bahwa dalam lingkungan kehidupan manusia, kekhawatiran selalu ada. Kekhawatiran merupakan sebuah kata yang dapat menggambarkan keseluruhan hidup manusia. Totalitas kehidupan manusia ialah kekhawatiran. Jika Anda bertanya kepada orang yang sudah tua tentang kekhawatiran, ia akan mengatakan bahwa ia telah mengenal kekhawatiran hampir setiap hari dalam hidupnya.

Paulus menyinggung kekhawatiran dalam 4:6 karena ia menyadari bahwa kekhawatiran adalah totalitas kehidupan manusia. Paulus juga memahami bahwa kebaikan hati adalah totalitas kehidupan kristiani yang tepat. Paulus tahu bahwa kehidupan manusia tersusun dari kekhawatiran dan kehidupan kristiani yang tepat tersusun dari kebaikan hati. Jadi, memperhidupkan Kristus berarti memiliki kebaikan hati tanpa kekhawatiran.

Kita tidak mungkin mengerti Filipi 4 dengan memadai dengan hanya mempelajari pasal ini secara harfiah. Kita perlu pengalaman terhadap Tuhan untuk mengerti maksud Paulus tersebut. Lima puluh tahun yang silam saya tidak memiliki pengertian yang tepat atas pasal ini. Tetapi melalui pelajaran dan pengalaman bertahun-tahun, baik dalam kehidupan manusia maupun kehidupan kristiani, Tuhan telah mencelikkan mata saya sehingga saya nampak bahwa kehidupan kristiani yang sejati adalah kehidupan kebaikan hati. Saya berangsur-angsur memahami bahwa sebagaimana kekhawatiran merupakan totalitas kehidupan manusia, demikian juga kebaikan hati adalah totalitas kehidupan kristiani. Itulah alasan Paulus menggunakan kata kebaikan hati dan kekhawatiran bersama-sama dalam menganjuri kaum saleh. Di segi positifnya, kita harus membuat orang lain tahu akan kebaikan hati kita. Semua orang yang berkontak dengan kita seharusnya mengetahui kebaikan hati kita. Di segi negatif, kita perlu memiliki suatu kehidupan yang tanpa kekhawatiran.

Untuk menjadi manusia yang tepat kita perlu menjadi orang Kristen, dan untuk menjadi orang Kristen yang normal kita perlu menempuh hidup gereja. Akan tetapi, jika kita ingin memiliki hidup gereja yang tepat dan sejati, kita perlu suatu kehidupan yang penuh dengan kebaikan hati namun tanpa kekhawatiran. Memiliki kehidupan yang sedemikian berarti memperhidupkan Kristus.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Dalam Galatia 2:19b-20 Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Bertahun-tahun yang lalu saya telah membaca buku yang membicarakan ayat ini. Namun, saya tidak dapat mengerti apakah artinya Kristus hidup di dalam saya. Penjelasan Galatia 2:20 ini tidak terdapat dalam Kitab Galatia, melainkan dalam Kitab Filipi. Dalam Kitab Filipi Paulus tidak hanya mengatakan Kristus hidup di dalam kita; ia maju selangkah mewahyukan bahwa hidup adalah Kristus. Memperhidupkan Kristus jauh melampaui sekadar memiliki Kristus hidup di dalam kita. Memperhidupkan Kristus berarti kita memiliki kehidupan yang penuh kebaikan hati tetapi tanpa kekhawatiran.

Kekhawatiran sekecil apa pun akan mengurangi kadar Kristus dalam pengalaman kita. Bahkan sekelumit kekhawatiran saja akan membuat kadar Kristus berkurang. Tingkat kehadiran Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita tergantung pada jumlah kebaikan hati dan kekhawatiran kita. Jika kita memiliki kebaikan hati, kita memiliki Kristus. Namun, jika kita memiliki kekhawatiran, kita akan kekurangan Kristus. Dalam kehidupan Anda dari hari ke hari, berapa banyak kebaikan hati dan kekhawatiran yang Anda miliki? Manakah yang lebih banyak, kebaikan hati atau kekhawatiran? Mungkin kebanyakan dari kita akan mengaku bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering khawatir daripada baik hati.

Saya ingin menekankan fakta bahwa memperhidupkan Kristus berarti memiliki kesabaran namun tanpa kekhawatiran. Kalau kita memiliki kesabaran kita tidak akan memiliki kekhawatiran, tetapi jika kita memiliki kekhawatiran, kita tidak akan memiliki kesabaran. Kesabaran dan kekhawatiran tidak dapat hidup berdampingan.

MEMPERBESAR KRISTUS

Filipi 4:4 mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Paulus memulai ayat 10 dengan berkata, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan.” Selain itu, dalam 1:18 Paulus berkata tentang kesengsaraannya: “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Dalam hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” Perkataan Paulus tentang sukacita menjadi luar biasa maknanya ketika kita merenungkan lingkungannya pada saat itu. Ia menjadi tawanan di Roma, dan beberapa penentangnya sedang melakukan setiap hal sebisanya untuk menghancurkan ministrinya. Namun demikian, Paulus mengatakan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (ayat 19 Tl.). Seperti telah kita tunjukkan sebelumnya, keselamatan di sini berarti memperbesar Kristus melalui memperhidupkan Dia. Jadi, Paulus berkata, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku maupun oleh matiku” (ayat 20). Paulus tidak ingin beroleh malu dalam perkara apa pun.

Andaikata seorang rekan sekerja Paulus mengunjunginya dalam penjara dan menemukan dia begitu khawatir, sedih, dan penuh ketakutan, pasti orang yang mengunjunginya itu akan berkata, “Betapa memalukan melihat seorang rasul yang melayankan Kristus kepada kita begitu sedih dan khawatir!” Jika situasi Paulus demikian, pasti ia akan beroleh malu. Tetapi Paulus memperbesar Kristus. Tidak peduli bagaimana sulitnya lingkungannya, ia sama sekali tidak khawatir atau gelisah. Karena Paulus tidak khawatir atau gelisah dalam apa pun, maka ia tidak beroleh malu dalam apa pun. Sebaliknya, Kristus diperbesar dalam tubuhnya.

Paulus dapat memperbesar Kristus karena ia memiliki kebaikan hati. Bahkan selama ia berada dalam penjara, Paulus memiliki banyak kebaikan hati. Dia memperhatikan gereja-gereja, ia memiliki pengertian yang tepat terhadap kaum saleh, dan ia memiliki kemampuan untuk menyuplai kaum saleh serta orang-orang yang di sekitarnya dengan kasih, belas kasih, murah hati, dan simpati. Karena ia penuh kebaikan hati, maka tidak ada sedikit pun kekhawatiran pada dirinya. Paulus bahkan dapat berkata bahwa ia mengharapkan Kristus diperbesar dalam tubuhnya baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus tidak takut mati. Pikiran akan kematian tidak membuatnya khawatir.

KECUKUPAN DAN KEBAIKAN HATI

Kita telah nampak bahwa kekhawatiran berlawanan dengan kebaikan hati. Kekhawatiran ibarat seekor ulat yang menggerogoti kekuatan kebaikan hati kita. Jika kita tidak memiliki kebaikan hati, kita akan mudah sekali gusar atau marah. Kemarahan sering berasal dari kekhawatiran. Jika saya khawatir akan masa depan saya, lingkungan saya, atau keluarga saya, saya tidak akan senang terhadap orang lain. Kekhawatiran ini akan membuat saya jengkel terhadap setiap orang. Bila kita gembira dan merasa cukup, baru kita memiliki kebaikan hati.

Dalam berita terdahulu kita menunjukkan bahwa sukacita dan kecukupan merupakan dua unsur yang menghasilkan kebaikan hati. Hanya orang yang gembira dan merasa cukup baru dapat baik hati. Sebaliknya, orang yang resah dan tidak merasa cukup, mudah jengkel dan tersinggung. Karena Paulus penuh dengan kegembiraan dan kecukupan, maka ia tidak ada kekhawatiran, melainkan kaya dengan kebaikan hati.

Kita tahu dari perkataan Paulus dalam 4:10-12, setidak-tidaknya ada sejangka waktu ia kekurangan suplai. Namun ia dapat bersaksi, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Ia dapat berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal aku telah belajar rahasianya; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan, maupun dalam keadaan berkekurangan” (Tl.). Karena Paulus telah mempelajari rahasianya, maka ia dapat mencukupkan diri, dan sebagai akibatnya, ia memiliki kebaikan hati yang berlimpah.

Banyak orang pernah mengatakan bahwa Kitab Filipi adalah kitab yang membicarakan sukacita. Paulus berulang-ulang menasihati kita untuk bersukacita dalam Tuhan. Keadaan lingkungan Paulus mungkin bisa membuat siapa pun sukar untuk bersukacita. Kita biasanya tidak meng-anggap penjara sebagai tempat untuk bersukacita. Namun, karena Paulus tidak memiliki kekhawatiran atau kece-masan mengenai keadaan atau masa depannya, maka ia dapat bersukacita dalam Tuhan dan bisa memiliki kebaikan hati.

PENGATURAN DAN PENETAPAN ALLAH

Jika kita ingin memiliki suatu kehidupan yang bebas dari kekhawatiran, perlulah kita menyadari bahwa segala keadaan lingkungan kita, baik atau buruk, telah diatur dan ditetapkan oleh Allah. Kita perlu memiliki pemahaman ini dengan keyakinan penuh. Misalkan, seorang saudara adalah seorang saudagar. Mungkin perdagangannya maju sehingga ia memperoleh banyak uang. Kemudian usahanya mungkin jatuh dan ia mungkin menderita kerugian lebih banyak daripada yang dia dapatkan. Baik memperoleh keuntungan atau rugi semuanya adalah pengaturan dan penetapan Allah baginya. Jika saudara ini berkeyakinan penuh bahwa keadaan lingkungannya berasal dari pengaturan dan penetapan Allah, ia akan dapat menyembah Allah atas pengaturan dan penetapan-Nya. Boleh jadi kerugiannya lebih berfaedah baginya daripada keuntungannya, sebab melalui kerugian itu ia akan disempurnakan dan dibangunkan.

Demikian pula, baik sakit maupun sehat berasal dari pengaturan dan penetapan Allah. Kita semua harus mendambakan kesehatan. Tetapi adakalanya kesehatan tidak dapat menyempurnakan kita seperti pada saat kita sakit. Selain itu, ketika kita tidak sehat, mungkin kita lebih cenderung untuk berdoa daripada ketika kita segar bugar.

Syarat pertama untuk tidak khawatir ialah berkeyakinan penuh bahwa segala penderitaan yang kita alami adalah pengaturan dan penetapan Allah. Untuk apa kita khawatir terhadap hal-hal itu? Allah telah mengatur dan menetapkan semuanya itu bagi kita. Dia tahu kita memerlukan apa.

Ketika saya masih sangat muda, saya membaca sebuah cerita tentang percakapan antara dua ekor burung gereja yang membicarakan soal kesedihan dan kekhawatiran yang biasa terjadi di antara manusia. Salah satu burung gereja itu bertanya kepada temannya mengapa manusia begitu sering khawatir. Temannya itu menjawab, “Aku kira mereka tidak mempunyai seorang Bapa yang memperhatikan mereka seperti yang kita miliki. Kita tidak perlu khawatir tentang apa pun sebab Bapa kita memperhatikan kita.” Ya, Bapa kita memang memperhatikan kita. Tetapi kadangkala Ia mengirimkan kesukaran dan penderitaan kepada kita supaya kita memenuhi takdir kita untuk memperbesar Kristus. Kita dapat bebas dari kekhawatiran bukan karena Allah menjanjikan suatu kehidupan yang tanpa penderitaan, melainkan karena kita tahu bahwa semua keadaan lingkungan kita adalah diatur dan ditetapkan oleh Allah. Paulus tidak memperhatikan hidup atau mati, ia hanya memperhatikan diperbesarnya Kristus di dalam dirinya. Ia memahami bahwa setiap keadaan berfaedah baginya. Inilah cara untuk tidak khawatir.

Mengapa ada beberapa orang kudus khawatir kehilangan uang? Tidak lain karena mereka damba memiliki lebih banyak uang. Mengapa yang lain khawatir akan kesehatan mereka? Sebab mereka takut mati. Kalau kita sakit, kita perlu mengumumkan, “Iblis, apakah yang dapat kau lakukan atas diriku? Aku tidak takut mati, kematian tidak membuatku khawatir. Sebaliknya, kesempatan untuk mati malah memberikan peluang bagiku untuk memperbesar Kristus.” Jangan takut akan kemiskinan, penyakit, atau kematian. Sebaliknya, sambutlah semuanya itu jika Allah yang mengirimkannya kepada kita. Dengan demikian kita tidak akan khawatir, sebab kita tahu bahwa setiap lingkungan merupakan suatu pengaturan dan penetapan dari Bapa kita. Tetapi ini tidak berarti kita harus mencari-cari penderitaan untuk kita tanggung. Jangan melakukan halhal yang dapat menyebabkan kita menderita sengsara. Orang-orang yang berdagang harus mencari keuntungan dan orang-orang yang menjadi pegawai harus berusaha untuk mendapat kenaikan pangkat. Tetapi jika kita kehilangan uang atau bahkan kehilangan pekerjaan, kita tidak perlu khawatir. Kerugian semacam ini berasal dari pengaturan dan penetapan Allah, dan kita tidak perlu khawatir akan hal itu.