← Daftar isi Filipi (2) · bab 19/20

KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (6)

Pembacaan Alkitab:

Flp. 4:4-7; 1Tes. 5:16-18; Ayb. 1:20-22; 2Kor. 4:16-17; 12:7-9

Dalam berita ini dan berita berikutnya kita akan mem-bahas banyak rincian dan butir-butir kecil mengenai kehidupan yang penuh kebaikan hati namun tanpa kekhawa-tiran. Khususnya kita akan membahas cara menggenapkan perkataan Paulus dalam 4:6, yakni “janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga.”

Kita telah berulang-ulang menunjukkan bahwa pokok Kitab Filipi ialah pengalaman akan Kristus. Dalam ketiga pasal pertama dari Surat Kiriman ini, standar penulisan Paulus sangat tinggi. Tetapi, dalam pasal 4, yaitu bagian kesimpulan kitab ini, seolah-olah Paulus turun ke tingkat yang lebih rendah untuk menekankan kebaikan hati dan kekhawatiran.

Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, Filipi 4 membingungkan saya. Saya sangat mengapresiasi perkataan-perkataan Paulus dalam ketiga pasal pertama Kitab Filipi. Dalam pasal 1 kita nampak bahwa kita harus memperbesar Kristus dengan memperhidupkan Kristus; dalam pasal 2, kita harus menerima Kristus sebagai teladan kristiani; dan dalam pasal 3, Kristus jauh melampaui semua perkara-perkara agama dan kebudayaan, dan kita harus menganggap segala sesuatu rugi demi menuntut Dia dan mendapatkan Dia. Kemudian, dalam pasal 4, Paulus tiba-tiba membicarakan masalah kebaikan hati dan kekhawatiran. Saya memahami bahwa kebaikan hati merupakan suatu kebajikan, tetapi dalam opini saya perkataan Paulus tentang kebaikan hati tidak dapat dibandingkan dengan apa yang telah ia tulis dalam ketiga pasal sebelumnya. Selain itu, saya juga tidak paham dengan fakta bahwa Paulus menekankan masalah kekhawatiran. Tetapi, dalam tahun-tahun terakhir ini terang atas masalah kebaikan hati lawan kekhawatiran menjadi semakin jelas. Sekarang saya mempunyai apresiasi yang dalam atas perkataan Paulus tentang “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang” (ayat 5) dan “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga” (ayat 6).

DUA KEHIDUPAN

Kekhawatiran merupakan gambaran totalitas kehidupan alamiah manusia. Dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam, kehidupan insani yang umum dipenuhi oleh kekhawatiran. Setiap manusia yang normal memiliki kekhawatiran. Bila pikiran Anda semakin serius, Anda akan semakin penuh dengan kekhawatiran. Kalau Anda seorang yang berpikir panjang dan berhati-hati, Anda akan memiliki sangat banyak kekhawatiran. Orang-orang yang peka lebih-lebih diganggu oleh kekhawatiran. Orang-orang yang otaknya tumpul atau tidak peka mungkin tidak banyak kekhawatiran, tetapi mereka yang peka sering banyak kekhawatiran.

Sebagaimana kekhawatiran merupakan totalitas kehidupan insani yang umum, maka kebaikan hati adalah totalitas kehidupan kristiani yang tepat. Karena itu, kekhawatiran dan kebaikan hati mewakili dua jenis kehidupan. Di antara umat manusia hanya ada dua jenis kehidupan: kehidupan manusia dan kehidupan kristiani. Kehidupan manusia adalah kehidupan kekhawatiran, sedangkan kehidupan kristiani adalah kehidupan kebaikan hati. Jika kita melihat perbedaan ini, kita akan paham bahwa penekanan Paulus atas kebaikan hati dan kekhawatiran dalam Filipi 4 adalah suatu hal yang sangat penting. Ia menekankan kebaikan hati dan kekhawatiran sebab keduanya mewakili dua jenis kehidupan yang berbeda. Setiap manusia diliputi kekhawatiran. Tetapi, jika kita adalah orang Kristen yang sesuai dengan standar ilahi, kita akan memiliki kehidupan yang penuh kebaikan hati namun tanpa kekhawatiran. Butir pertama yang ingin saya tekankan dalam berita ini ialah, kebaikan hati dan kekhawatiran mewakili dua macam kehidupan.

DUA SUMBER

Kedua, kebaikan hati berasal dari Allah, dan kekhawatiran berasal dari Iblis. Ini berarti kebaikan hati dan kekhawatiran mewakili dua sumber yang berbeda — Allah dan Iblis.

Allah, Sumber Kebaikan Hati

Sumber kebaikan hati adalah Allah. Allah memberi kita kebaikan hati supaya kita dapat menggenapkan kehendak-Nya. Allah memiliki suatu kehendak terhadap kita secara pribadi, terhadap keluarga kita, dan terhadap kita di dalam gereja. Untuk melaksanakan kehendak Allah yang berkaitan dengan kita, dengan keluarga kita, dan dengan gereja, kita perlu memiliki kebaikan hati. Jika kita kekurangan kebajikan baik hati yang almuhit ini, mustahillah kita dapat menggenapkan kehendak Allah. Ini berarti kita tidak dapat untuk membiarkan Allah menggenapkan kehendak-Nya terhadap kita, keluarga kita, dan gereja.

Allah memiliki kehendak tiga ganda terhadap kita masing-masing. Ia memiliki kehendak bagi kita secara pribadi, kehendak bagi kita sehubungan dengan keluarga kita, dan kehendak bagi kita di dalam hidup gereja. Kita sangat perlu memahami bahwa Allah memiliki kehendak tiga ganda terhadap kita. Untuk penggenapan kehendak ilahi yang sedemikian, kita memerlukan kebaikan hati. Tanpa kebaikan hati kita tidak akan membiarkan Allah memenuhi kehendak-Nya bagi kita, bagi keluarga kita, dan bagi gereja.

Kita telah nampak bahwa kebaikan hati berarti memperlakukan orang lain dengan pantas, penuh simpati, dan pengertian. Jika kita mempunyai kebaikan hati, kita akan mempunyai hikmat dan kemampuan untuk menyuplai orang lain dengan apa yang mereka perlukan. Kita akan memahami sepenuhnya apa yang harus kita katakan dan kapan kita harus mengatakannya kepada mereka. Sebagai contoh, orang tua yang baik hati akan mengetahui bagaimana dan kapan berbicara kepada anak-anaknya. Jika kita tidak melatih berbaik hati dalam kehidupan keluarga kita, kita tidak akan dapat membina keluarga kita bagi penggenapan kehendak Allah. Kebaikan hati bukan hanya merupakan totalitas kehidupan kristiani yang tepat, tetapi juga merupakan sarana yang diberikan oleh Allah untuk penggenapan kehendak-Nya yang tiga ganda terhadap kita masing-masing. Betapa mustikanya, sumber kebaikan hati adalah Allah! Kebaikan hati yang kita laksanakan dan diketahui orang lain berasal dari Allah.

Iblis, Sumber Kekhawatiran

Sumber kekhawatiran adalah Iblis. Kekhawatiran berasal dari Iblis untuk menggagalkan terwujudnya kehendak Allah. Jangan mengira bahwa Allahlah yang memberikan kekhawatiran kepada kita. Dalam berita terdahulu saya pernah mengatakan bahwa kekhawatiran muncul dari lingkungan yang diatur dan ditetapkan Allah. Mengatakan bahwa kekhawatiran muncul dari pengaturan dan penetapan Allah sangat berbeda dengan mengatakan kekhawatiran adalah pemberian Allah. Karena kejatuhan, Allah mengatur kesengsaraan bagi kita. Sebagai contoh, Allah menentukan seorang perempuan harus mengalami penderitaan dalam melahirkan anak. Ia juga menentukan laki-laki harus menanggulangi semak duri dan rumput duri. Kejadian 3:17-19 mengatakan, “Maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, . . . dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu.” Walaupun Allah telah mengatur dan menetapkan penderitaan sedemikian, tetapi Ia tidak memberikan kekhawatiran. Setelah Allah membuat pengaturan dan penetapan-Nya itu, Iblis datang menimbulkan kekhawatiran melalui penderitaan yang diatur Allah itu. Kekhawatiran bukan berasal dari Allah, melainkan berasal dari seteru Allah, Iblis yang menggunakan penderitaan yang ditentukan Allah untuk menimbulkan kekhawatiran dalam kehidupan manusia. Karena itu, kekhawatiran berasal dari Iblis dan mewakili Iblis, sedangkan kesabaran berasal dari Allah dan mewakili Allah.

Bagaimana Allah Memakai Iblis

Alkitab mewahyukan bahwa Allah memakai Iblis. Kita nampak hal ini khususnya dalam Kitab Ayub. Kali pertama saya membaca Kitab Ayub, saya dibingungkan oleh fakta bahwa Iblis dapat naik ke surga untuk menghadap Allah. Ayub 1:6 mengatakan, “Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.” Ayat-ayat berikutnya mencatat percakapan antara Allah dengan Iblis. Saya heran bagaimana percakapan itu bisa terjadi. Mengapa Allah membiarkan si jahat itu berbicara dengan-Nya? Mengapa Dia tidak memusnahkan Iblis, atau setidak-tidaknya mengusirnya? Allah memakai Iblis untuk menanggulangi Ayub. Ayub adalah seorang yang lurus dan sempurna di dalam dirinya sendiri, namun ia tidak benar-benar mengenal Allah. Jadi Ayub perlu diremukkan, ditanggulangi dengan tuntas oleh Allah. Allah memakai Iblis untuk merampungkan pekerjaan ini, Ia mengizinkan Iblis, dalam batas-batas tertentu, untuk melakukan hal-hal tertentu di atas diri Ayub.

Dari 2Korintus 12 kita nampak Allah juga mengizinkan seorang utusan Iblis untuk menyakiti Paulus. Paulus paham bahwa duri dalam tubuh dagingnya itu berasal dari Iblis. Ia berkata, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menghantam aku, supaya aku jangan meninggikan diri” (ayat 7). Kasus Paulus pada prinsipnya sama dengan Ayub. Sebagaimana Iblis diizinkan Allah untuk menghantam Paulus, ia pun diizinkan untuk menyiksa Ayub.

Berdasarkan Ayub 1, segera setelah Iblis menerima izin untuk menyiksa Ayub, ia mengirimkan malapetaka. Pertama, dilaporkan bahwa orang-orang Syeba datang menyerang dan merampas lembu sapi, dan keledai-keledai betina Ayub, serta memukul hamba-hambanya (Ayb. 1:14-15). Tidak lama kemudian ada laporan tentang malapetaka lain, yaitu api telah menyambar dari langit dan membakar habis kambing domba dan penjaga-penjaganya. Kemudian datang lagi laporan bahwa orang-orang Kasdim menyerbu unta-unta dan merampasnya serta membunuh penjaga-penjaganya. Setelah itu, datang lagi berita tentang malapetaka yang keempat, yaitu “angin ribut dari seberang padang gurun” merubuhkan rumah tempat anak-anak Ayub yang sedang makan dan minum, dan mereka semua mati. Di sini kita nampak bahwa Iblis bisa menggunakan manusia, api, dan angin untuk mendatangkan kerusakan yang besar. Kali pertama saya membaca Ayub 1, saya tidak mengerti mengapa Allah mengizinkan Iblis melakukan hal-hal semacam itu. Pertama-tama Iblis mengirimkan malapetaka, kemudian ia datang membuat orang khawatir.

Allah mempunyai satu tujuan dalam mengizinkan Iblis menginiaya Ayub. Tujuan Allah ialah meremukkan Ayub, seorang yang sempurna dan selalu membenarkan diri sendiri. Allah memakai Iblis untuk melakukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia. Karena teman-teman Ayub tidak berdaya menanggulanginya, maka Allah menggunakan Iblis untuk tugas ini. Iblis sering merampungkan tugas-tugas yang sulit bagi Allah. Kadangkala jika Allah tidak dapat menyelesaikan melalui orang lain, Ia mengizinkan Iblis untuk menanggulangi Anda. Mengenai Ayub, kehendak Allah ialah meremukkan Ayub, dan mengenai Paulus, kehendak Allah dalam mengizinkan Iblis mengirimkan utusan untuk menganiaya tubuhnya ialah supaya dia tidak meninggikan diri karena visi dan wahyu yang dia terima. Sudah tentu Iblis selalu bertujuan untuk menyerang umat Allah. Tujuannya bersifat negatif. Tetapi, dalam mengizinkan Iblis menyerang kita, Allah mempunyai tujuan lain yang sangat positif. Semua penderitaan yang kita alami adalah pengaturan dan penetapan Allah demi tujuan yang positif.

Paulus menyinggung tujuan ini dalam 2Korintus 4:16-17: “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” Meskipun penderitaan adalah pengaturan dan penetapan Allah, tetapi semua itu tidak langsung datang dari Allah. Sebaliknya, setiap kepa-hitan, musibah, malapetaka, atau bencana datang dari Iblis, hanya saja hal-hal ini datang dengan seizin Allah dan bagi kehendak-Nya untuk menyempurnakan kita. Karena itu, Paulus dapat menyatakan bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kita. Allah mempunyai satu tujuan untuk diwujudkan atas diri kita, dan tujuan dan atas kehendak ini adakalanya memerlukan “bantuan” Iblis.

Beberapa bulan yang silam saya menghadapi masalah kesehatan. Saya tahu masalah ini ditimbulkan oleh si Jahat, Iblis. Tetapi saya juga menyadari bahwa masalah ini adalah seizin Allah demi suatu tujuan. Tuhan ingin menjamah sesuatu dalam batin saya, dan Ia menjamah saya melalui masalah ini.

Jika kita melihat kasus Ayub dan Paulus, kita akan nampak betapa Allah mengizinkan Iblis untuk menimbulkan kesukaran. Begitu kesukaran tiba, Iblis lalu membuat orang khawatir. Kekhawatiran yang ditimbulkan oleh Iblis adalah untuk menghambat tujuan Allah. Saya ulangi, kebaikan hati datang dari Allah untuk menggenapkan kehendak-Nya, tetapi kekhawatiran datang dari Iblis untuk menggagalkan kehendak Allah. Jika kita nampak hal ini, kita akan menyadari bahwa pembicaraan Paulus mengenai masalah kebaikan hati dan kekhawatiran dalam 4:5-6 bukanlah suatu perkara yang tanpa makna.

KEBAIKAN HATI DAN KEKHAWATIRAN

TIDAK DAPAT HIDUP BERDAMPINGAN

Jika kita memiliki kebaikan hati, kita tidak akan memiliki kekhawatiran. Tetapi, jika kita memiliki kekhawatiran, kita tidak akan memiliki kebaikan hati. Sebagaimana Allah dengan Iblis tidak dapat berdiri bersama-sama, maka kebaikan hati dan kekhawatiran juga tidak dapat hidup berdampingan. Begitu kebaikan hati datang, kekhawatiran harus pergi. Tetapi jika kekhawatiran beserta dengan kita, kita akan sama sekali kekurangan kebaikan hati. Tidak ada seorang pun yang baik hati yang dapat merasa khawatir. Tetapi jika Anda bukan seorang yang baik hati, Anda akan selalu khawatir dan penuh dengan kecemasan.

Dari pengalaman (bukan dari doktrin) kita telah mengerti bahwa bila kita berbaik hati sepenuhnya, semua kekhawatiran akan lenyap. Jika demi belas kasihan dan anugerah Allah kita berbaik hati terhadap setiap orang, benda, dan masalah, kita akan tidak khawatir dalam hal apa pun. Demi belas kasihan dan anugerah Allah, kita perlu berbaik hati terhadap semua orang, benda, dan masalah. Kalau kita berbaik hati sedemikian, kita tidak akan dipersulit oleh kekhawatiran.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

SEBAGAI KEBAIKAN HATI KITA

Kita telah nampak bahwa kebaikan hati sebenarnya adalah Kristus sendiri yang kita perhidupkan. Kristus dalam Filipi 1, 2, dan 3 adalah kebaikan hati yang Paulus katakan dalam 4:5. Karena itu, memperlihatkan kebaikan hati kita diketahui semua orang berarti Kristus kita diketahui semua orang. Kebaikan hati sebenarnya adalah memperbesar Kristus. Dalam 1:20 Paulus berkata bahwa Kristus akan diperbesar di dalam dirinya, tetapi dalam 4:5 ia menyuruh agar kebaikan hati kita diketahui semua orang. Bila kita menggabungkan ayat-ayat ini, kita akan nampak bahwa perkataan Kristus diperbesar berarti membuat kebaikan hati kita diketahui semua orang. Karena itu, dalam pengalaman kita, kebaikan hati adalah Kristus sendiri.

Jika kita memperhidupkan Kristus sebagai kebaikan hati kita, mustahillah kita khawatir. Kekhawatiran adalah suatu hal yang mustahil terjadi bagi orang-orang yang memiliki Kristus sebagai kebaikan hati mereka. Tahukah Anda mengapa kita bisa khawatir atau cemas? Sebab kita tidak memperhidupkan Kristus. Perkataan “memperhidupkan Kristus” mungkin menjadi suatu istilah yang doktrinal belaka, suatu ungkapan belaka, bukan kehidupan kita yang riil dan praktis. Tetapi, bila kita dari hari ke hari memperhidupkan Kristus, kekhawatiran tidak akan mempunyai kedudukan di dalam kita.

Saya ulangi, berbaik hati berarti memperhidupkan Kristus. Dalam kehidupan yang sedemikian, kehidupan yang berbaik hati terhadap setiap perkara oleh anugerah Allah, tidak ada peluang bagi kekhawatiran. Bila kita memperbesar Kristus melalui memperhidupkan Dia, kekhawatiran tidak mempunyai jalan untuk menjamah kita. Kemudian, karena kita memperhidupkan Kristus sebagai kebaikan hati kita, kita tidak akan khawatir tentang apa pun juga.