← Daftar isi Filipi (2) · bab 20/20

KEHIDUPAN YANG PENUH KEBAIKAN HATI NAMUN TANPA KEKHAWATIRAN (7)

Pembacaan Alkitab: Flp. 4:4-7; 1Tes. 5:16-18; 2Kor. 12:7-9

Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa kebaikan hati dan kekhawatiran mewakili dua jenis kehidupan, kebaikan hati datangnya dari Allah dan kekhawatiran datangnya dari Iblis; dan bahwa kebaikan hati dan kekhawatiran tidak dapat hidup berdampingan. Selain itu, kita nampak bahwa memperhidupkan Kristus sebagai kebaikan hati kita berarti memiliki satu kehidupan yang bebas dari kekhawatiran. Sekarang, dalam berita ini kita akan membahas beberapa masalah lagi yang berkaitan de-ngan kehidupan yang penuh kebaikan hati namun tanpa kekhawatiran.

BERSATU DENGAN TUHAN

Jika kita memperhidupkan Kristus, kita benar-benar bersatu dengan Tuhan. Dalam Filipi 4:4 Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi ku-katakan: Bersukacitalah!” Bersukacita dalam Tuhan berarti bersatu dengan Tuhan. Bila kita bersatu dengan Tuhan, kita tidak akan khawatir tentang apa pun juga, sebab kita tidak saja berada di bawah tangan kedaulatan Tuhan, kita pun di dalam Tuhan itu sendiri. Kalau kita menempuh kehidupan semacam ini, mana mungkin kita khawatir? Semakin kita berlatih bersatu dengan Tuhan, kita akan semakin memahami bahwa penentuan-Nya adalah penentuan kita. Jika Dia menghendaki kita tinggal lebih lama di dunia ini, Ia akan memelihara hidup kita. Tetapi, jika Ia menghendaki kita pergi kepada-Nya, Ia akan membawa diri kita kepada-Nya. Karena setiap hal tergantung pada kehendak-Nya dan karena kita bersatu dengan-Nya secara riil, tidak ada alasan bagi kita untuk khawatir.

Bila kita terpisah dengan Tuhan, kita akan khawatir tentang apa pun juga. Setiap hal dalam hidup manusia akan menimbulkan kekhawatiran. Tetapi bila kita bersatu dengan Tuhan, kita dipisahkan dari kehidupan alamiah manusia dan kekhawatirannya. Jika kita ingin semua orang mengetahui kebaikan hati kita dan tidak khawatir tentang apa pun juga, kita perlu berlatih untuk bersatu dengan Tuhan. Inilah alasan Paulus menyuruh kita bersukacita dalam Tuhan sebelum ia menasihati kita agar kebaikan hati kita diketahui semua orang. Ketika kesehatan saya bermasalah beberapa bulan yang lalu, saya merasa resah. Pada suatu hari Tuhan bertanya kepada saya apakah saya bersatu dengan-Nya. Ketika saya berkata bahwa saya bersatu dengan-Nya, Dia seolah-olah berkata kepada saya, “Kalau engkau bersatu dengan Aku, jangan khawatir tentang kesehatanmu.”

Kita menjadi khawatir kapan saja kita tidak bersatu dengan Tuhan secara riil. Ditinjau dari segi doktrin, kita memang selalu bersatu dengan Dia. Tetapi pada prakteknya kita sering sekali tidak bersatu dengan Dia. Kita mungkin menyampaikan khotbah kepada orang kudus, mengatakan kepada mereka bahwa kita adalah satu roh dengan Tuhan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita perlu diuji untuk melihat apakah kita memiliki pengalaman yang sesungguhnya. Jika kita sungguh-sungguh dan secara riil bersatu dengan Tuhan, kita tidak akan khawatir lagi.

Walaupun Paulus menjadi seorang tawanan di Roma, ia tidak khawatir tentang apa pun juga, sebab ia bersatu dengan Tuhan dengan sungguh-sungguh, secara riil, dan sepenuhnya. Ia bahkan dapat berkata bahwa baginya mati lebih baik daripada hidup. Paulus bersatu dengan Tuhan sedemikian rupa, sehingga ia tahu Tuhan adalah nasibnya. Tidak saja nasib Paulus ada di dalam tangan Tuhan — nasibnya adalah Tuhan itu sendiri. Karena Paulus bersatu dengan Tuhan, maka ia tahu Iblis tidak berdaya berbuat apa-apa terhadapnya, sekalipun Iblis bisa mengirim seorang utusan, sebuah duri dalam dagingnya, untuk menyerang dia. Paulus tidak khawatir akan apa yang dapat diperbuat Iblis, sebab Tuhan adalah nasibnya.

RAHASIA KEPUASAN

Jika kita benar-benar bersatu dengan Tuhan dalam pengalaman kita, ketika hal-hal yang negatif menimpa diri kita, kita tidak perlu khawatir atau resah. Kalau kita tidak bersatu dengan Tuhan secara riil, maka setiap manusia, perkara, dan benda akan meresahkan kita. Kita mungkin akan terganggu oleh suami atau istri kita, atau oleh anak-anak kita. Bila kita tidak bersatu dengan Tuhan, tidak akan ada yang bisa memuaskan kita. Sebagai contoh, di luar Tuhan, tidak ada pekerjaan yang memuaskan. Rahasia kepuasan ialah bersatu dengan Kristus. Bila kita bersatu dengan Tuhan, kita dapat merasa puas dengan lingkungan sekitar kita, dan kita dapat berbaik hati terhadap setiap orang, perkara, dan benda. Bila kita bersatu dengan Kristus barulah kita dapat berbaik hati sepenuhnya dan merasa puas dalam segala situasi.

Jika kita ingin tidak khawatir tentang apa pun juga, kita harus mengakui bahwa semua kesusahan, penderitaan, musibah, bencana, dan malapetaka adalah pengaturan dan penetapan Allah. Kita pun harus bersatu dengan Tuhan dalam pengalaman kita. Ya, kita memang memahami perlunya mengalami penderitaan dan kesusahan. Namun, jika kita ingin bebas dari kekhawatiran, kita perlu sesuatu yang melebihi pemahaman ini, yakni kita juga harus bersatu dengan Tuhan. Jika tidak, maka lingkungan atau hal-hal yang menimpa diri kita akhirnya akan membuat kita khawatir, dan kita tidak akan puas terhadap apa pun atau siapa pun.

Semakin tua seseorang, ia akan semakin sukar merasa puas. Dari tahun ke tahun saya telah mengamati sejumlah orang berusia lanjut yang tidak memiliki Kristus. Semakin tua, mereka semakin tidak puas. Beberapa malah merasa tidak senang terhadap hampir setiap hal dan setiap orang. Jika kita tidak berlatih bersatu dengan Tuhan, situasi kita juga akan menjadi semakin buruk pada saat kita semakin tua. Dari perasaan tidak puas itulah kita mungkin menyalahkan lingkungan kita atau anggota keluarga kita. Untuk memuaskan seorang anak kecil atau remaja, itu mudah, tetapi untuk memuaskan orang yang berusia lanjut sangat sulit. Fakta ini harus mendorong kita untuk bersatu dengan Tuhan secara riil, agar kita bisa bebas dari kekhawatiran, dan memiliki suatu kehidupan yang baik hati.

DOA DAN PERMOHONAN

DENGAN UCAPAN SYUKUR

Dalam 4:6-7 Paulus berkata, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Paulus pasti menyusun ayat-ayat ini dengan pemikiran yang sangat matang. Dalam ayat 6 ia menyinggung doa, permohonan, dan ucapan syukur. Doa bersifat umum dan beresenskan penyembahan dan persekutuan; permohonan bersifat khusus dan ditujukan kepada keperluan tertentu. Menurut pengalaman orang Kristen, berdoa berarti bersekutu, bergaul dengan Tuhan, dan menyembah Dia. Setiap hari kita perlu mempunyai satu waktu untuk berkontak dengan Tuhan, bersekutu dengan-Nya, dan menyembah Dia. Selama waktu persekutuan kita, kita mungkin mengajukan permohonan tertentu. Jadi, kita tidak hanya berdoa secara umum, tetapi juga memohon kepada Tuhan secara khusus. Kita mengajukan permohonan kepada Dia yang dengan-Nya kita bersekutu. Karena itu, permohonan merupakan suatu permintaan khusus yang kita ajukan selama waktu doa kita.

Sangat bermakna sekali bahwa dalam 4:6 Paulus tidak mengatakan doa, permohonan, dan ucapan syukur, tetapi doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa dan permohonan kita seharusnya disertai dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Belakangan ini saya sekali lagi belajar pelajaran bersyukur kepada Tuhan. Ketika saya meminta Tuhan memulihkan kesehatan saya, saya ditegur oleh Tuhan karena tidak bersyukur kepada-Nya atas kesehatan yang masih saya miliki saat ini. Bila kita sedang sakit, kita harus berkata, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, sebab aku masih mempunyai kesehatan. Tuhan, aku memang sakit, tetapi aku tidak sakit sedemikian rupa sehingga tidak dapat melayankan Kristus kepada kaum saleh. Namun, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku tidak sehat sepenuhnya. Karena itu, aku mohon Engkau meningkatkan kesehatanku dan memulihkan kesehatanku sepenuhnya.” Kita semua perlu belajar memohon sedemikian kepada Tuhan.

Misalnya, seorang saudara berdoa supaya Tuhan mengubah istrinya. Jika ia berdoa seperti itu, Tuhan akan bertanya kepadanya mengapa ia tidak mengucap syukur bagi istrinya. Saudara itu seharusnya berdoa demikian “Tuhan, aku bersyukur karena Engkau memberiku seorang istri yang baik.” Setelah mengucap syukur kepada Tuhan, kemudian ia boleh meneruskan untuk mohon Tuhan mengubah istrinya.

Seorang saudara lain mungkin kehilangan pekerjaan dan berdoa kepada Tuhan mengenai pekerjaan. Dia tidak seharusnya berdoa, “Tuhan, aku telah kehilangan pekerjaan. Belaskasihanilah aku,” ia harus lebih dulu bersyukur kepada Tuhan. Mungkin ia berkata, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena aku tidak kehilangan pekerjaan sebelum saat ini. Tuhan, aku juga bersyukur kepada-Mu, sebab aku masih ada bekal untuk menyuplai keluargaku. Oh Tuhan, aku mempunyai banyak hal untuk disyukuri.” Kemudian, seiring dengan ucapan syukurnya, ia boleh mohon Tuhan mengaruniakan pekerjaan lain kepadanya. Tetapi, bahkan ketika ia berdoa tentang pekerjaan yang baru, ia harus tetap bersyukur dan berkata, “Tuhan, aku percaya bahwa Engkau akan memberiku pekerjaan yang baru. Tuhan, Engkau tahu kebutuhanku. Aku bahkan bersyukur lebih dulu kepada-Mu atas pekerjaan yang akan Kauberikan.”

Marilah kita semua belajar berdoa dan memohon dengan mengucap syukur. Jika kita penuh syukur kepada Tuhan, hal ini akan melindungi kita dari kekhawatiran. Tetapi jika kita berdoa kepada Tuhan dengan rasa cemas, kekhawatiran kita akan bertambah-tambah. Berdoa untuk situasi kita mungkin akan membuat kekhawatiran kita menjadi-jadi. Namun bila kita berdoa dan memohon dengan mengucap syukur, kekhawatiran kita akan lenyap.

Saya harus bersaksi bahwa saya telah belajar berdoa dan memohon dengan mengucap syukur bukan dari doktrin, melainkan dari pengalaman saya atas Tuhan. Ketika saya sakit baru-baru ini, Tuhan menegur saya karena saya tidak bersyukur kepadanya. Ia mengingatkan saya bahwa saya masih cukup sehat untuk berfungsi melalui menyampaikan firman. Ia menegur saya karena saya mengizinkan penyakit yang sedikit itu mengganggu saya dan karena saya menggerutu tentang situasi saya, bukannya melatih kebaikan hati. Dengan menegur saya karena kurang bersyukur kepada-Nya, Tuhan membantu saya untuk puas di dalam Dia dan tidak khawatir. Saya bersyukur kepada Tuhan atas latihan yang Ia berikan lewat saat-saat sakit saya dan melalui teguran-Nya itu.

MENERIMA KEHENDAK ALLAH

Mengalami Anugerah-Nya yang Cukup

Kita telah nampak bahwa untuk mengatasi kekhawatiran kita perlu berdoa dan bersekutu serta menyembah Dia. Kemudian, kita perlu menyatakan permohonan kita dengan mengucap syukur. Ketika berbuat demikian, kita mungkin mengira Tuhan akan selalu mengabulkan apa yang kita minta. Tetapi, adakalanya Tuhan akan berkata tidak. Lihatlah pengalaman Paulus atas duri dalam dagingnya. Dalam 2Korintus 12:8 ia berkata, “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku.” Tetapi Tuhan menolak permohonan Paulus dan berkata kepadanya, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ayat 9). Karena itu, Paulus dapat menyatakan, “Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” Butir yang terpenting di sini ialah Paulus menerima kehendak Allah. Ia menyadari bahwa kehendak Allah ialah membiarkan duri itu tinggal dalam dirinya, agar ia dapat mengalami anugerah-Nya yang cukup. Karena Paulus menerima kehendak Tuhan, maka ia tidak khawatir tentang apa pun.

Memang benar, kita perlu berdoa dan memohon kepada Tuhan dengan mengucap syukur. Tetapi bila Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita, kekhawatiran kita mungkin bertambah, bukan berkurang. Pada saat demikian, kita menyadari bahwa Tuhan tidak akan mengubah situasi kita, sebaliknya, Ia membiarkan “duri” itu tinggal. Ia tahu kita memerlukan duri itu. Ia pun memerlukannya supaya Ia dapat menyatakan anugerah-Nya yang cukup dan sebagai tambahan melatih kita untuk bersandar kepada-Nya. Jika kita tidak menerima kehendak Tuhan dan bersikeras untuk mengajukan permohonan menurut kehendak kita sendiri, kita tidak akan dapat terlepas dari kekhawatiran.

Misalnya, Anda berdoa kepada Tuhan ketika Anda menderita suatu penyakit. Mungkin Tuhan mengabulkan doa Anda dan menyembuhkan Anda. Ia melakukan hal ini khususnya terhadap orang-orang yang agak muda dalam pengalaman atas diri-Nya. Tetapi setelah itu Anda mungkin jatuh sakit lagi, dan Anda memohon Tuhan menyembuhkan Anda lagi. Ia mungkin tidak segera menyembuhkan Anda, tetapi Ia menyembuhkan Anda secara bertahap, atau sama sekali tidak menyembuhkan Anda. Akhirnya, Anda akan jelas bahwa Tuhan menghendaki penyakit itu tetap tinggal pada diri Anda. Jika Anda menerima kehendak-Nya dalam hal ini, Anda akan beroleh damai sejahtera. Anda tidak akan memiliki kekhawatiran.

Ketika Saudara Watchman Nee masih muda, ia mengidap sakit jantung. Sering kali ketika ia melayankan firman, jantungnya demikian sakitnya sehingga ia harus bersandar pada meja untuk menahan tubuhnya. Walaupun ia mengidap sakit tersebut sebelum ia berusia tiga puluh tahun, ia masih hidup dengan penyakit itu hampir empat puluh tahun. Walaupun ia tahu ia dapat meninggal dunia sewaktu-waktu, karena penyakit itu, tetapi ia menerima kehendak Tuhan dan tidak khawatir. Ia menyadari bahwa penyakitnya adalah duri yang diberikan kepadanya untuk menggenapkan kehendak Allah.

Bersandar kepada Tuhan

Menerima kehendak Tuhan dalam hal-hal tertentu tidak hanya memungkinkan kita mengalami anugerah-Nya yang cukup, tetapi juga mengajar kita untuk memiliki suatu kehidupan yang bersandar kepada-Nya. Jika duri itu diambil dari tubuh Paulus, boleh jadi ia tidak bersandar kepada Tuhan seperti kalau duri itu diizinkan untuk tetap ada. Karena duri itu tetap ada, hari demi hari Paulus harus menempuh suatu kehidupan yang bersandar kepada Tuhan.

Kita semua lebih suka kesukaran dan penderitaan itu diambil dari diri kita. Tetapi adakalanya Tuhan akan berkata, “Tidak, Aku tidak dapat mengabulkan permohonanmu. Hal itu lebih baik tinggal pada dirimu, agar kamu dapat belajar bersandar kepada-Ku dan tidak khawatir.” Jika kita menerima kehendak Tuhan dan bersandar kepada-Nya, kita akan bebas dari kekhawatiran. Namun, jika kita tidak menerima kehendak-Nya atau jika kita tidak hidup dengan bersandar kepada-Nya, kita akan khawatir.

Menurut hayat alamiah saya, saya adalah orang yang ingin sempurna dalam setiap hal. Jika saya terkena sakit apa pun, saya ingin menyembuhkannya setuntas-tuntasnya. Bahkan kalau pakaian saya sedikit kurang beres, saya akan membereskannya sampai sempurna. Saya ingin setiap hal yang saya tangani semuanya benar dan rapi. Tetapi saya tidak berdaya untuk mengendalikan penyakit agar tidak menyerang saya. Tuhan mungkin akan mengatur suatu penyakit untuk saya, sebab Ia tahu bahwa saya memerlukannya supaya saya belajar bersandar kepada-Nya dan tidak khawatir. Karena itu saya perlu berdoa, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena penyakit ini merupakan bantuan bagiku. Tuhan, aku juga bersyukur kepada-Mu, sebab hal ini pun akan menggenapkan tujuan-Mu.” Semakin kita bersyukur kepada Tuhan sedemikian, kita akan semakin memiliki kebaikan hati, dan semakin bebas dari kekhawatiran.

SATU PENGERTIAN YANG TEPAT

Dapat tidaknya kita berbaik hati dalam situasi yang sulit tergantung pada jenis pemahaman dan praktek yang kita miliki. Jika kita paham bahwa situasi tertentu berasal dari Tuhan, dan hal itu perlu untuk menyempurnakan kita, kita akan bersyukur kepada-Nya karena itu, kita tidak akan merasa khawatir atau takut. Kita akan bisa berkata, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena hal ini. Aku tidak gentar terhadap hal ini, karena aku tahu aku bersatu dengan Engkau, dan setiap hal yang menimpa diriku adalah pengaturan-Mu. Tuhan, aku juga tahu bahwa Engkau mengizinkan hal ini tetap tinggal, agar dapat membantu-Mu untuk menggenapkan tujuan-Mu dan menyempurnakan aku.” Jika kita paham bahwa setiap hal adalah pengaturan dan penetapan Tuhan, dan jika kita menerima kehendak-Nya dan bersyukur karenanya, kita akan bisa berkata bersama Paulus, “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. Sebab penderitaan yang ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (2Kor. 4:16-17). Dengan demikian kita tidak akan khawatir tentang apa pun.

Orang-orang Kristen sering berkata bahwa jalan untuk bebas dari kekhawatiran ialah percaya saja kepada Tuhan. Menurut pengertian ini, fakta bahwa seseorang itu khawatir menunjukkan bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi, dalam 4:6 Paulus tidak berkata bahwa oleh percaya kita bisa tidak khawatir tentang apa pun. Dalam konteks ini ia tidak mengatakan sepatah pun tentang percaya.

ENAM BUTIR YANG HARUS

DIMENGERTI DAN DIPRAKTEKKAN

Jika kita ingin dibebaskan dari kekhawatiran, kita perlu mengerti dan mempraktekkan keenam butir yang telah kita bahas dalam berita terdahulu dan berita ini. Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa sebagaimana kekhawatiran merupakan keseluruhan kehidupan manusia, maka kebaikan hati adalah totalitas kehidupan kristiani. Kedua, kita perlu nampak bahwa sumber kebaikan hati adalah Allah dan sumber kekhawatiran adalah Iblis.

Hal ketiga ialah paham bahwa kebaikan hati dan kekhawatiran tidak dapat hidup berdampingan. Alasannya ialah karena kebaikan hati sebenarnya adalah satu persona, yakni Kristus itu sendiri. Bila Kristus diperhidupkan dari diri kita, barulah kita memiliki kebaikan hati. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Paulus berulang-ulang membicarakan tentang Kristus dalam Filipi 1, 2, dan 3. Ia menekankan memperbesar Kristus, menerima Kristus sebagai teladan, dan menuntut Kristus sebagai sasaran. Tetapi, dalam Filipi 4 ia menggunakan istilah kebaikan hati dan menyuruh kita agar kebaikan hati kita diketahui semua orang. Sebenarnya, kebaikan hati ini adalah Kristus yang diwahyukan dalam pasal-pasal sebelumnya. Karena itu, kebaikan hati kita diketahui semua orang berarti memperhidupkan Kristus. Kita telah nampak bahwa Allah mungkin mengatur dan menetapkan penderitaan tertentu untuk kita. Tetapi walaupun penderitaan itu pengaturan dan penetapan Allah, datangnya bukan dari Allah, melainkan dari Iblis. Pengalaman Ayub maupun Paulus membuktikan hal ini. Musibah yang Allah atur dan tetapkan untuk kita sebenarnya datang dari Iblis. Iblislah utusan yang mendatangkan semuanya itu kepada kita. Allah mengatur dan menetapkan suatu duri untuk Paulus dan Ia mengizinkan Iblis untuk membawa duri itu kepada Paulus. Setelah mengirimkan kesulitan atau kesusahan tertentu kepada kita, Iblis segera datang untuk menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran bukan pemberian Allah dan bukan datang dari Allah. Sebaliknya, kekhawatiran selalu ditimbulkan oleh Iblis untuk menggagalkan kehendak Allah. Jika kita benar-benar mengerti hal ini, kita akan nampak perlunya Kristus sebagai kebaikan hati kita. Jika kita memiliki kebaikan hati ini, kita tidak akan khawatir. Tetapi jika kita merasa khawatir, kita tidak akan memiliki kebaikan hati.

Hal keempat yang perlu kita pahami dan praktekkan ialah menempuh satu kehidupan yang penuh kebaikan hati namun tanpa kekhawatiran, kita perlu bersatu dengan Tuhan secara riil. Ditinjau dari segi pengalaman, bersatu dengan Tuhan berarti berada di dalam Dia.

Kelima, kita perlu berdoa. Ini berarti kita perlu memiliki suatu waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan menyembah Dia. Doa tidak semata-mata berarti memohon sesuatu kepada Tuhan. Doa merangkum bercakap-cakap dengan Tuhan, berkomunikasi dengan Dia dalam persekutuan, dan menyembah Dia. Ketika kita menggunakan waktu untuk berkontak dengan Tuhan sedemikian, kita perlu menyatakan permohonan kita dengan ucapan syukur.

Keenam, setelah berdoa, bersekutu dengan Tuhan, menyembah Dia, dan menyatakan permohonan kita kepada-Nya, kita akan mengetahui apakah kehendak Tuhan. Sebagai contoh, jika kita sakit, kita akan tahu apakah Tuhan ingin menyembuhkan kita atau membiarkan penyakit itu tetap tinggal. Begitu kita mengetahui kehendak Allah, kita harus menerimanya, mengalami anugerah-Nya yang cukup, bersandar kepada-Nya, dan bersyukur kepada-Nya. Maka kita akan memiliki satu kehidupan yang penuh kebaikan hati namun tanpa kekhawatiran.

?

PELAJARAN HAYAT

SURAT GALATIA

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11

12 13 14 15 16 17 18 19

20 21 22 23 24