KESELAMATAN YANG KONSTAN DALAM KEHIDUPAN KITA YANG RIIL
Pembacaan Alkitab: Flp. 1:19-21; 2:12-16
Menurut Kitab Filipi ada satu keselamatan yang konstan dalam kehidupan kita yang riil. Mengatakan keselamatan ini konstan berarti keselamatan ini dapat kita alami tiap hari, tiap jam, dan tiap saat.
KESELAMATAN SUBYEKTIF
UNTUK MEMPERBESAR KRISTUS
Dalam Filipi 1 dan 2 Paulus dua kali menggunakan kata “keselamatan”. Dalam 1:19 ia berkata, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku.” Dalam 2:12 ia berkata kepada kaum saleh di Filipi, “Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Keselamatan dalam 1:19 menunjukkan keselamatan yang Paulus alami selama ia berada dalam pen-jara di Roma. Sebagai orang Yahudi asli, ia tertawan dalam penjara di Roma yang jauh dari kampung halamannya. Dengan istilah hari ini, Paulus ditawan oleh imperialis Romawi. Seorang bangsa Yahudi berada di dalam penjara di Roma sungguh merupakan perkara yang memalukan, suatu aib. Mungkin sebagian besar waktunya ia diborgol bersama-sama dengan seorang penjaganya. Sebagai seorang Yahudi yang berpendidikan tinggi diborgol bersama-sama seorang penjaga penjara tentulah merupakan suatu penghinaan. Itu juga merupakan suatu aib bagi seorang rasul Tuhan Yesus bila ditawan di dalam penjara dengan cara demikian. Namun, Paulus bersaksi bahwa situasinya akhirnya berubah menjadi keselamatannya.
Dalam 1:19 Paulus tidak membicarakan keselamatan yang kekal, keselamatan dari neraka dan hukuman Allah. Itu adalah keselamatan yang obyektif. Apa yang Paulus perhatikan di sini adalah keselamatan yang subyektif, yang dapat dialami, bukan keselamatan yang sekali untuk selamanya, melainkan keselamatan yang dialami dari saat ke saat.
Ketika Paulus berkata bahwa ia berharap agar situasinya beralih menjadi keselamatannya, yang ia perhatikan bukanlah kebebasan dari pemenjaraannya. Ada beberapa pembaca Kitab Filipi mungkin mengira harapan Paulus ialah agar melalui doa kaum saleh, terutama mereka yang di Filipi, maka ia dapat dibebaskan dari penjara. Namun, berdasarkan susunan tata bahasa dalam 1:19-21, itu bukan makna keselamatan yang ada di sini. Keselamatan dalam ayat 19 berkaitan dengan perkataan Paulus dalam ayat 20, yakni tentang tidak beroleh malu dalam segala hal, dan tentang diperbesarnya Kristus dalam dirinya, baik oleh hidup maupun oleh matinya. Jadi, dalam ayat 20 kita beroleh definisi keselamatan yang tercantum dalam ayat 19. Karena itu, keselamatan di sini terdiri atas perihal tidak beroleh malu dalam segala hal, dan memperbesar Kristus dalam segala sesuatu.
Keselamatan di sini sesungguhnya bukan berarti dibebaskan dari penjara. Sebaliknya berarti: tidak peduli betapa sulitnya situasi Paulus dan betapa berat penghinaan yang ia derita, dalam segala perkara ia tidak beroleh malu, malahan Kristus diperbesar dalam dirinya. Bahkan waktu ia diborgol bersama-sama dengan penjaga penjara pun ia tidak terhalang untuk memperbesar Kristus. Inilah yang kita sebut keselamatan yang konstan.
Sebenarnya kata konstan tidak cukup untuk melukis-kan keselamatan yang tercantum dalam 1:19. Semua perkataan kita berkaitan dengan kebudayaan kita. Kalau suatu perkara tidak ada dalam kebudayaan kita, maka kita tidak mempunyai kata untuk menyebutnya. Keselamatan di sini adalah sesuatu yang teramat indah dan ajaib, sehingga tidak ada perkataan yang memadai untuk melukiskannya dengan sepenuhnya. Sekalipun Paulus berada di dalam penjara, ia tidak sampai dipermalukan. Ia tahu bahwa ia tidak akan beroleh malu, malahan akan memperbesar Kristus. Itulah keselamatan Paulus. Misalnya, Paulus tidak bersukacita di dalam Tuhan, tetapi meratapi situasinya dan menggerutu, “Aku adalah orang Yahudi terpanggil, aku juga rasul Tuhan Yesus Kristus yang terpanggil, yang diberi amanat, dan yang diutus oleh-Nya. Sekarang aku berada di dalam penjara dan diborgol bersama-sama seorang penjaga. Oh, alangkah malangnya!” Kalau Paulus meratap dan menggerutu sedemikian, ia pasti akan beroleh malu. Namun, Paulus tidak menangis dan menggerutu. Sebaliknya ia bersukacita dalam Tuhan. Siapa saja yang menjenguknya dalam penjara akan merasa kagum dan heran. Mungkin Paulus bersaksi kepada semua sipir bahwa ia sangat bersukacita di dalam Tuhan, ia bergembira di dalam Tuhan. Boleh jadi kenikmatan Paulus atas Kristus di dalam penjara adalah satu faktor bagi beroleh selamatnya Onesimus, seorang budak pelarian. Setiap orang yang mengamati Paulus di dalam penjara pasti melihatnya memuji-muji Tuhan dan bergembira.
Ketika Paulus berada di dalam penjara di Filipi, ia dan Silas menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan (Kis. 16:23-26). Kaum beriman di Filipi pasti mengetahui pengalaman Paulus dalam penjara. Mereka tahu bahwa puji-pujian Paulus dan Silas telah menyebabkan gempa. Tidak usah diragukan, ketika Paulus berada di dalam penjara di Roma, ia juga melatih dirinya untuk menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Orang lain sama sekali tidak melihat Paulus menggerutu atau menangis, melainkan melihatnya bersukacita di dalam Tuhan, bernyanyi, memuji Tuhan, dan bersaksi bagi-Nya. Inilah yang disebut keselamatan yang konstan.
MENIKMATI KESELAMATAN YANG KONSTAN UNTUK MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Banyak di antara kita yang telah menjadi orang Kristen bertahun-tahun lamanya, tetapi kita tidak pernah mendengar tentang keselamatan yang konstan. Sudah tentu kita telah mengetahui keselamatan yang kekal; keselamatan semacam ini adalah keselamatan yang obyektif. Saya harap kalian jelas, saya benar-benar tidak meremehkan keselamatan yang kekal. Saya memustikakannya dan sangat mengapresiasinya. Dalam keselamatan-Nya yang kekal ini Allah telah menolong kita dari neraka dan hukuman keadilan-Nya. Tetapi dari hari ke hari kita perlu maju ke depan untuk mengalami satu keselamatan yang konstan dalam kehidupan kita yang riil. Ketika Paulus di dalam penjara, ia tidak hanya menikmati keselamatan yang kekal yang mendatangkan harapan baginya, dari jam ke jam ia juga menikmati keselamatan yang konstan. Menikmati keselamatan ini adalah memperhidupkan Kristus. Memperhidupkan Kristus pada hakikatnya adalah menikmati keselamat-an yang konstan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Tiap aspek dalam keselamatan Allah, selalu mengeluarkan kita dari hal-hal negatif, dan memasukkan kita ke dalam hal-hal yang positif. Di aspek negatifnya Paulus telah diselamatkan dari aib, dan di aspek positifnya Kristus telah diperbesar dalam dirinya. Alangkah ajaibnya keselamatan ini!
DISELAMATKAN DARI HAL-HAL UMUM
Dalam Filipi 2:12 Paulus berkata kepada kaum saleh di Filipi, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Keselamatan konstan dalam 1:19 adalah untuk orang khusus dalam situasi khusus, sedangkan keselamatan konstan dalam 2:12 adalah untuk semua orang beriman dalam situasi umum atau biasa. Kita telah nampak bahwa keselamatan dalam 1:19 telah menyelamatkan Paulus dalam situasi khusus dari pemenjaraannya sedemikian rupa sehingga ia tidak beroleh malu, melainkan dapat memperbesar Kristus. Sekarang kita perlu melihat, menurut konteks 2:12, keselamatan yang konstan ini pun adalah untuk semua orang beriman agar mereka diselamatkan dari halhal umum dalam kehidupan sehari-hari.
Dari ayat 14 dan 15 kita tahu bahwa hal-hal umum tersebut meliputi sungut-sungut, perbantahan, aib, cela, noda, jahat (bengkok), sesat, dan gelap. Semuanya itu merupakan ciri-ciri umum dari kondisi manusia yang jatuh yang kita jumpai di mana-mana. Tidak peduli di mana saja kita berada, di situ pasti ada sungut-sungut, perbantahan, aib, cela, noda, bengkok, sesat, dan gelap. Semua itu tidak saja terdapat dalam masyarakat pada umumnya, tetapi juga dalam kehidupan keluarga kaum beriman. Para istri terbiasa bersungut-sungut, dan para suami terbiasa berbantah-bantahan. Seorang istri mungkin menggerutu karena sesuatu, dan suaminya mungkin membela dirinya sendiri. Karenanya, baik istri maupun suami, kedua-duanya beraib dan bercela. Sering kali, pasangan suami istri saling memperlakukan pihak lain dengan bengkok dan sesat. Siapakah yang dapat mengatakan dirinya tidak pernah bengkok dalam berhubungan dengan orang lain? Anak-anak bahkan mungkin memperlakukan orang tua mereka dengan bengkok. Walaupun kita telah menerima keselamatan Allah yang kekal, tetapi kita sedikit banyak masih tetap bengkok, dalam hal-hal tertentu belum sepenuhnya jujur dan lurus. Karenanya kita perlu satu keselamatan yang konstan dalam hal-hal negatif yang tercantum dalam ayat 14 dan 15.
Paulus mengatakan bahwa kita perlu mengerjakan keselamatan kita sendiri. Dengan mengerjakan keselamatan ini kita akan diselamatkan dari sungut-sungut, perbantahan, aib, noda, cela, bengkok, sesat, dan gelap. Diselamatkan dari hal-hal yang sedemikian ini sungguh tidak mudah. Paulus sengaja menggunakan kata-kata ini untuk menunjukkan kondisi kejatuhan yang umum terdapat pada diri kita semua.
MENYATAKAN FIRMAN HAYAT
Namun, sebagaimana keselamatan dalam 1:19 mempunyai aspek negatif dan positif, maka keselamatan dalam 2:12 juga mempunyai dua aspek. Aspek negatifnya terdapat dalam ayat 14 dan 15; dan aspek positifnya terdapat dalam ayat 16, di mana Paulus berkata tentang “menyatakan firman hayat”. Istilah “menyatakan” dalam bahasa aslinya berarti menerapkan, menyajikan, atau mempersembahkan. Jadi menyatakan firman hayat berarti menyajikan atau mempersembahkannya kepada orang lain, dan menerapkannya kepada orang dalam situasi mereka. Kita harus menyatakan firman hayat ini di mana pun kita berada; kita harus menyajikan firman hayat ini kepada orang lain. Apa yang kita sajikan kepada orang-orang di sekitar kita tidak seharusnya perkataan-perkataan sungut-sungut atau perbantahan, atau perkataan-perkataan yang bersangkutan dengan kebengkokan dan kesesatan. Kita tidak boleh mempersembahkan perkataan lainnya kecuali firman hayat.
Menyatakan firman hayat adalah hal yang sama memperhidupkan Kristus. Kapan kita memperhidupkan Kristus, ketika itu pula kita menyatakan firman hayat. Sekali lagi kita nampak bahwa Kitab Filipi adalah sejilid kitab mengenai pengalaman akan Kristus dan sebuah kitab mengenai memperhidupkan Kristus. Semua yang ditulis Paulus dalam Surat Kiriman ini berkaitan dengan pengalaman akan Kristus dan memperhidupkan Kristus.
Saya harap kita sekalian terkesan sedalam-dalamnya atas perlunya kita menikmati keselamatan yang konstan ini dalam kehidupan riil kita sehari-hari. Kita perlu satu keselamatan yang dapat kita sebut keselamatan kita sendiri. Keselamatan ini bukan menyelamatkan kita dari neraka, bahkan bukan dari dosa, melainkan dari sungut-sungut, perbantahan, aib, cela, noda, bengkok, sesat, dan gelap. Bila kita mengalami keselamatan ini, kita akan spontan menyatakan, menyajikan, dan menerapkan firman hayat kepada orang-orang di sekitar kita. Inilah artinya memperhidupkan Kristus.
SITUASI YANG KHUSUS
DAN SITUASI YANG UMUM
Dalam Filipi 1 dan 2 kita nampak keselamatan yang konstan. Di satu aspek, keselamatan ini ditujukan kepada persona khusus dalam situasi khusus, dan di aspek lain ditujukan kepada semua orang beriman dalam situasi umum dalam kehidupan sehari-hari. Di bawah kedaulatan Allah, mungkin kita berada dalam situasi khusus. Paulus menjadi orang yang demikian ketika ia berada di dalam penjara di Roma. Pemenjaraan menyebabkan dia berada dalam situasi yang luar biasa sulitnya. Tetapi sebagai orang yang berada dalam situasi semacam itu ia malah mendapat satu kesempatan yang baik untuk mengalami dan menikmati keselamatan yang konstan. Kita pun ada kemungkinan berada dalam situasi yang luar biasa itu. Sebagai contoh, mungkin seorang saudara mendadak kehilangan pekerjaan, maka ia perlu keselamatan dalam 1:19.
Situasi kita kebanyakan bersifat umum dan biasa. Seperti telah kita tunjukkan, situasi setiap hari dari manusia yang telah jatuh mencakup sungut-sungut, perbantahan, dan banyak lagi hal negatif lainnya. Kita perlu satu keselamatan konstan dalam kehidupan pernikahan kita, yaitu agar tertolong dari sungut-sungut dan perbantahan. Kita juga perlu satu keselamatan konstan yang menolong kita dari kebengkokan dan kesesatan. Misalkan, seorang saudara mungkin tidak jujur atau tulus terhadap istrinya, maka ia perlu satu keselamatan yang konstan. Jika ia tidak mengalami keselamatan ini, ia tidak mungkin bisa menyatakan firman hayat.
Dari hari ke hari kita perlu keselamatan konstan untuk menyelamatkan kita dari segala hal yang bukan Kristus. Keselamatan ini membawa kita ke dalam satu kondisi di mana kita akan memperhidupkan Kristus dengan spontan. Dengan demikian kita akan menyajikan firman hayat kepada orang lain dalam kehidupan kita. Firman hayat yang kita nyatakan ini juga adalah Kristus itu sendiri. Karena itu, menyatakan firman hayat berarti memperhidupkan Kristus.
Kita sangat memerlukan keselamatan konstan Tuhan dalam kehidupan pernikahan kita! Misalkan, seorang saudara sedang bekerja di halaman rumahnya dan istrinya memanggilnya untuk makan siang. Tetapi karena ia terlalu asyik bekerja, ia tidak menanggapi istrinya. Setelah memanggil berkali-kali, maka istrinya mulai menggerutu dan bersungut-sungut. Sang suami mungkin menjawab dengan perbantahan untuk membela dirinya sendiri. Dalam keadaan demikian hubungan antar mereka telah bengkok dan sesat. Mereka berdua perlu keselamatan yang konstan.
Saya bersyukur kepada Tuhan karena dalam pemulihan-Nya Ia telah mendapatkan sejumlah orang kudus yang mengasihi dan menuntut Dia. Walaupun kita menuntut Tuhan, kita harus mengakui bahwa setidak-tidaknya pada aspek tertentu kita masih memperlakukan orang lain dengan bengkok, lebih-lebih terhadap orang-orang dalam keluarga kita. Para orang tua mungkin masih tidak tulus terhadap anak-anak mereka, atau sebaliknya. Hal ini menunjukkan kita memerlukan suatu keselamatan sehari-hari yang menyelamatkan kita dari kondisi yang merosot tersebut.
Paulus mengetahui situasi manusia yang jatuh. Dalam Filipi 1 ia menampilkan perkara pribadinya sebagai ilustrasi dari keselamatan Allah yang konstan. Lalu dalam pasal berikutnya ia memperlihatkan bahwa keselamatan ini adalah untuk semua orang beriman dalam situasi umum dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun keselamatan dalam 1:19 mungkin tidak sering Anda terapkan dalam keadaan sekitar Anda, tetapi Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda perlu keselamatan dalam 2:12. Anda boleh jadi bukan seorang yang khusus yang mengalami perkara khusus, tetapi Anda pasti adalah seorang yang biasa dan hidup dalam situasi umum. Dalam kehidupan kita yang biasa inilah kita semua sering dirongrong oleh sungut-sungut, perbantahan, kebengkokan, bahkan kesesatan; karena itu, kita perlu satu keselamatan konstan dari hari ke hari.
ARTI MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Kita memerlukan keselamatan ini bukan hanya untuk mengeluarkan kita dari hal-hal yang negatif, tetapi juga untuk memasukkan kita ke dalam kondisi yang mulia, yaitu menyajikan firman hayat kepada orang-orang di sekitar kita. Keselamatan dalam 1:19 memasukkan kita ke dalam satu keadaan di mana Kristus diperbesar di dalam diri kita, dan keselamatan dalam 2:12 memasukkan kita ke dalam satu kondisi di mana kita menyatakan Kristus yang hidup sebagai firman hayat kepada orang lain. Memiliki keselamatan yang kita perlukan tiap hari dan tiap jam, berarti memperhidupkan Kristus secara riil.
Tahukah Anda apa artinya memperhidupkan Kristus? Memperhidupkan Kristus berarti tidak peduli bagaimana keadaan kita, Kristus tetap diperbesar dalam kita dan kita tidak mendapat malu dalam segala hal. Jadi, keselamatan dalam 1:19 sama dengan memperhidupkan Kristus. Menikmati dan mengalami keselamatan ini berarti memperhidupkan Kristus. Selain itu, memperhidupkan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari juga berarti diselamatkan dari sungut-sungut, perbantahan, kebengkokan, dan kesesatan; dan menyajikan Tuhan kita yang hidup sebagai firman hayat kepada orang-orang yang kita jumpai setiap hari. Alangkah hebatnya keselamatan ini! Kita semua perlu keselamatan setiap hari yang konstan ini, yakni suatu keselamatan yang tidak lain adalah Kristus itu sendiri.