← Daftar isi Filipi (2) · bab 3/20

FIRMAN HAYAT DENGAN KRISTUS YANG HIDUP ADALAH SATU

Pembacaan Alkitab:

1Yoh. 1:1-2; Yoh. 15:5, 7-8; Kol. 3:16; 1Yoh. 2:14b; Why. 1:2-9; 19:13

Dalam berita terdahulu telah kita tunjukkan bahwa firman hayat adalah perwujudan Allah yang hidup. Sekarang kita ingin membahas lebih lanjut, yakni firman hayat dengan Kristus yang hidup adalah satu. Firman adalah perwujudan Allah yang hidup juga adalah satu dengan Kristus yang hidup. Satu Yohanes 1:1-2 mengatakan, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Firman hidup adalah Anak Allah, Kristus. Karena itu, Firman hidup atau hayat adalah satu dengan Kristus yang hidup.

ALLAH TRITUNGGAL

Allah Tritunggal sangat rahasia, jauh di luar pengertian kita. Mengatakan Allah itu tritunggal berarti Dia itu tiga-satu. Dalam bahasa Inggris, kata triune berasal dari bahasa Latin tri, berarti tiga, dan une, berarti satu. Jadi, kata ini sebenarnya bukan berarti tiga di dalam satu, melainkan tiga-satu, yakni tritunggal.

Bahasa Surgawi

Bahasa erat sekali hubungannya dengan budaya dan mengekspresikan berbagai aspek kebudayaan. Namun, dalam kebudayaan manusia tidak ada yang tiga-satu atau tritunggal. Tetapi Allah yang rahasia dan yang tidak kelihatan ini adalah tritunggal; Dia adalah tiga-satu. Ungkapan tritunggal ini bukan berasal dari bahasa duniawi, melainkan dari bahasa ilahi dan surgawi.

Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dalam ayat ini salah satu anak kalimat mengatakan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan ada lagi yang mengatakan Firman itu adalah Allah. Mengatakan Firman itu bersama-sama dengan Allah, tampaknya menunjukkan Firman terpisah dengan Allah, namun mengatakan Firman itu adalah Allah berarti Firman dengan Allah adalah satu. Sebenarnya Firman dan Allah itu satu atau dua? Kita boleh mengatakan bahwa Mereka adalah dua-satu, sekalipun dalam bahasa kita tidak ada ungkapan demikian (sebab tidak ada fakta demikian dalam kebudayaan kita). Tetapi, kita perlu bahasa ilahi untuk mengungkapkan realitas ilahi ini.

Berbeda Tetapi Tidak Terpisah

Hari ini banyak orang Kristen golongan fundamental menyatakan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga persona yang terpisah. Namun, berdasarkan Alkitab, kita boleh mengatakan Bapa, Anak, dan Roh Kudus berbeda, tetapi Mereka sama sekali tidak terpisah. Tuhan Yesus berkata, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:10). Jika demikian bagaimana Bapa dapat terpisah dengan Anak? Ia juga berkata, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Kalau demikian, bagaimana pula Anak bisa menjadi persona yang terpisah dari Bapa? Selain itu, pemakaian kata depan (preposisi) para dalam Injil Yohanes berarti “dari dan dengan” sangatlah bermakna. Tuhan Yesus, Sang Anak bukan hanya dari Allah, tetapi juga bersama-sama dengan Allah. Ketika Ia datang dari Bapa, Ia tetap bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 6:46; 8:16, 29; 16:32). Demikian pula, Roh Kudus tidak saja diutus dari Bapa, tetapi juga dari dan dengan Bapa (Yoh. 15:26). Ini menunjukkan ketika Roh datang dari Bapa, Ia datang bersama-sama dengan Bapa. Karena itu, walau Bapa, Anak, dan Roh Kudus berbeda, Mereka tidak mungkin terpisah. Tiga dari ke-Allahan ini tidak mungkin terpisah. Meskipun Mereka tiga, tetapi sesungguhnya Mereka adalah satu. Pada faktanya Mereka memang adalah tritunggal.

Nama yang Tritunggal

Berdasarkan Alkitab, kita memiliki Allah yang unik yang disebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Matius 28:19 menunjukkan bahwa tiga dari ke-Allahan ini hanya mempunyai satu nama. Ayat ini membicarakan pembaptisan kaum beriman ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Di sini kita nampak adanya nama yang tiga-satu. Walau bahasa kita tidak cukup untuk mengungkapkannya, ini adalah fakta ilahi.

Hari ini banyak orang Kristen yang mungkin secara tidak sadar memiliki paham triteisme, dan percaya kepada tiga Allah. Ajaran tradisional tentang Trinitas mempunyai kecenderungan kepada triteisme tersebut. Tetapi kita tidak percaya kepada triteisme, melainkan percaya kepada wahyu tentang Allah Tritunggal yang sesuai dengan Alkitab.

Mengenai ke-Allahan, banyak bagian firman yang sangat sulit untuk dijelaskan. Sebagai contoh, Ibrani 1:2 mengatakan bahwa Allah telah berfirman kepada kita di dalam Anak. Tetapi menurut ayat 8, Anak disebut sebagai Allah. Selain itu, berbicara tentang Allah, ayat 9 kemudian memakai ungkapan “Allah-Mu”. Menurut tata bahasa, ini seharusnya berarti Allahnya Allah. Bagaimana kita dapat memahami ungkapan ini? Ini benar-benar rahasia. Ayat-ayat seperti ini menunjukkan bahwa kita perlu diselamatkan dari cara pengertian Alkitab yang alamiah, tradisional, dan agamis.

ROH ITU

Setelah mengalami berbagai tahap dalam suatu proses, maka Allah Tritunggal hari ini telah menjadi Roh itu, hal ini sangat penting untuk kita ketahui. Yohanes 7:39 mengatakan, “sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.) Walau Roh Allah selalu ada, namun ayat ini mengatakan Roh itu belum ada. Istilah “Roh itu” di sini ditujukan kepada Allah Tritunggal — Bapa, Anak, dan Roh Kudus — yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit. Roh ini almuhit karena Ia tidak saja mencakup sifat ilahi, juga sifat insani, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Ia mencakup segala apa adanya, segala milik, dan segala yang telah digenapi dan dicapai oleh Allah Tritunggal. Karena itu, Roh itu merupakan totalitas dari segala apa adanya, segala milik, dan segala yang telah dirampungkan dan dicapai Allah Tritunggal.

ROH ITU TERWUJUD DI DALAM FIRMAN

Kita akan merasa lebih sulit lagi untuk mendefinisikan Firman daripada mendefinisikan Roh itu. Dalam Perjanjian Baru, Anak Allah disebut Firman. Wahyu 19:13 mengatakan, “. . . dan nama-Nya ialah: Firman Allah.” Dahulu kita pernah menunjukkan bahwa Kristus sebagai Firman Allah berarti Dia adalah definisi, keterangan, dan ekspresi Allah. Namun pengertian demikian kurang memadai. Kita harus maju selangkah lagi, yaitu bahwa Perjanjian Baru juga menunjukkan Firman sebagai Roh itu. Tuhan Yesus telah mengatakan, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Selain itu, dalam Efesus 6:17, bahkan mengatakan bahwa Roh itu adalah firman. Jadi, Bapa, Anak, Roh Kudus, Roh itu, dan firman bersatu dengan sangat misterius.

Dalam berita terdahulu telah kita tunjukkan Roh itu adalah perampungan sempurna dari proses yang dialami Allah Tritunggal. Kita juga menunjukkan bahwa firman adalah perwujudan dari pembicaraan Allah. Tetapi mengapa firman itu adalah Roh itu dan Roh itu adalah firman? Saya akui bahwa masalah ini sangat sukar dimengerti dan sangat sulit dijelaskan.

Untuk membantu pengertian kita, kita boleh memakai ilustrasi menggores atau menyalakan korek api. Korek api terbuat dari fosfor, maka sebatang korek api adalah perwu-judan fosfor. Karena itu, korek api pada hakikatnya adalah satu dengan fosfor. Ini berarti korek api ialah fosfor dan fosfor ialah korek api. Jika ilustrasi ini kita terapkan pada Alkitab dan Roh itu, kita dapat mengibaratkan Alkitab sebagai korek api dan Roh sebagai fosfor. Tidak hanya demikian, karena korek api terbuat dari fosfor dan perwujudan fosfor, maka kita dapat memanfaatkan fosfor dengan mudah dan praktis. Hari ini Allah Tritunggal adalah Roh itu, dan Roh itu terwujud di dalam firman. Walau kita sukar memegang Roh itu, tetapi kita dapat membawa Alkitab dengan mudah. Bagaimana kita memiliki fosfor melalui korek api, demikian pula kita memiliki Roh itu melalui Alkitab.

MELATIH ROH KITA

UNTUK “MENGGORES” FIRMAN

Namun, sekalipun firman adalah perwujudan Roh itu, banyak orang Kristen yang tidak berkontak dengan firman melalui Roh itu. Walau mereka sangat menyukai Alkitab, ketika mereka “menggores” firman, korek api ini tidak menyala. Jika kita ingin menyalakan sebuah korek api, tidak cukup hanya mengasihi korek api itu. Kita perlu menggores korek api itu dengan tepat. Seprinsip dengan itu, bila kita ingin berkontak dengan Roh yang terwujud dalam firman, kita perlu “menggores” “korek api” firman itu melalui melatih roh kita.

Misalnya, ada orang mencoba menyalakan korek api dengan menganalisisnya atau menggunakan emosinya untuk menyatakan kasihnya terhadap korek api itu. Itu tidak berguna, bahkan bodoh sekali. Untuk menyalakan korek api kita tidak perlu menganalisis atau mencintainya, cukup menggoresnya dengan tepat maka ia akan segera terbakar dan menyala. Demikian pula, bila kita ingin berkontak dengan Roh itu melalui firman, janganlah kita hanya menganalisis “korek api” firman atau menyatakan kasih kita terhadapnya. Saya ulangi, kita perlu “menggores” firman dengan tepat, yakni di dalam roh kita. Namun, banyak seminari atau sekolah Alkitab hanya mengajarkan kaum beriman menganalisis “korek api” atau mencintainya. Mereka tidak menekankan cara untuk “menggores”nya.

Kalau kita ingin “menggores” “korek api” firman, kita harus melatih roh kita. Janganlah menggunakan pikiran atau emosi Anda untuk menggores firman. Firman hanya akan menyala dalam pengalaman kita jika kita menggoresnya di dalam roh kita. Inilah alasan perlunya kita melatih roh kita untuk berdoa ketika kita membaca firman Allah, yakni mendoabacakan firman.

KESAKSIAN TENTANG DOA-BACA FIRMAN

Dari abad ke abad banyak sekali orang beriman yang telah mempraktekkan berdoa dengan firman Allah. Walaupun mereka tidak memakai istilah doa-baca, namun mereka sesungguhnya telah memiliki fakta itu dalam pengalaman mereka. Salah seorang di antaranya yang mempraktekkan berdoa dengan perkataan Alkitab ialah George Whitefield, ia seangkatan dengan John Wesley. Yang dipraktekkan George Whitefield ialah berdoa dengan Perjanjian Baru bahasa Yunani sambil berlutut di hadapan Allah. Ini merupakan rahasia kekuatan dan kerohaniannya. George Whitefield mendoabacakan firman hayat. Berdoa dengan firman berarti “menggores” firman itu dengan roh.

Saya telah membaca dan mempelajari Alkitab lebih dari lima puluh tahun lamanya. Semasih muda, saya sudah mengasihi firman Allah dan berambisi sekali untuk memahaminya seluruhnya. Tetapi, saya hanya tahu membaca Alkitab dengan mata dan pikiran saya. Kemudian ada orang menganjuri saya jangan hanya membacanya, tetapi juga merenungkannya, maka saya mulai menggunakan waktu untuk merenungkan firman, dan menekuninya. Cara ini agak membantu saya. Saya juga mendapat bantuan melalui membaca otobiografi George Mueller. Menurut Mueller kita tidak boleh hanya membaca dan merenungkan Alkitab, tetapi juga harus berdoa dengannya. Dalam otobiografinya Mueller tidak mengatakan bahwa kita harus mendoabacakan firman, melainkan ia benar-benar mengatakan bahwa setelah kita membaca sebagian dari firman, kita harus berdoa. Sebagai contoh, jika kita membaca sebuah ayat tentang kasih, kita harus berdoa mengenai kasih. Demikian pula, kita harus berdoa mengenai pertobatan ketika kita membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan pertobatan dalam firman itu. Praktek segera berdoa setelah membaca satu ayat ini mirip sekali dengan doa-baca. Otobiografi George Mueller ini sangat membantu saya sehingga saya mulai membaca Alkitab dan berdoa seperti dia. Sering kali saya malah berdoa dengan firman Allah murni, yakni mengambil ayat tertentu sebagai doa saya kepada Tuhan. Pada hakikatnya waktu itu saya sudah mempraktekkan doa-baca.

PENTINGNYA ROH

Meskipun saya telah melaksanakan berdoa sambil membaca firman, tetapi saya belum lagi mengetahui bagaimana melatih roh. Dalam masalah ini saya menerima bantuan dari Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee menekankan pentingnya kita melatih roh. Ia mengatakan, ketika kita berbicara kepada seseorang, terutama ketika kita menyampaikan berita, kita harus mendorong keluar roh kita dengan memakainya. Ia menunjukkan, jika kita berbicara kepada orang dengan bagian-bagian lain dari diri kita, kita akan menjamah bagian yang sama dari orang tersebut. Sebagai contoh, jika kita memakai pikiran kita, kita akan menjamah pikiran orang lain. Jika kita berbicara dari emosi, kita akan menjamah emosi orang lain. Saudara Watchman Nee berkata, jika kita ingin menjamah roh orang, kata Saudara Nee, kita harus menggunakan roh kita.

Roh yang Tertidur

Karena manusia telah jatuh, maka rohnya tertidur, namun pikiran dan emosi jiwanya sangatlah aktif. Pikiran laki-laki sangat aktif, sedangkan pada perempuan, emosinyalah yang aktif. Dalam manusia yang telah jatuh bagian yang paling malas dan tidak aktif ialah roh. Sekalipun kita telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali, roh kita mungkin masih malas dan tertidur. Bila ada beberapa saudari berdoa, mungkin mereka berdoa dengan emosi, bukan dengan roh. Ketika mereka berdoa kepada Tuhan untuk problem mereka, mungkin mereka menangis. Kalau mereka memakai roh mereka, tidak menggunakan emosi, mereka akan berdoa dengan cara yang sangat ber-beda. Mereka mungkin tidak menangis melainkan berkata, “Tuhan Yesus, aku bersyukur dan memuji Engkau atas segala kesusahanku. Aku bersyukur kepada-Mu, Tuhan, atas keadaan sekitarku ini.”

Sekalipun kita mungkin sangat perkasa dalam pikiran, emosi, atau tekad kita, roh kita mungkin sangat lemah, malas, dan tertidur. Pikiran, emosi, dan tekad kita mungkin cepat bereaksi terhadap sesuatu, tetapi roh kita sangat lamban dalam menanggapi sesuatu. Sampai-sampai ketika kita membaca Alkitab, roh kita mungkin dalam keadaan tidur, tetapi bagian kita yang lain, terutama pikiran, luar biasa aktifnya. Ketika kita membaca Alkitab, mungkin kita sangat sedikit memakai roh.

Mengalami Api dalam Firman

Kalau kita tidak memakai roh kita dalam membaca firman, kita tidak akan dapat “menggores” “korek api” dalam roh kita. Akibatnya, “fosfor”, yakni Roh yang terwujud di dalam firman tidak bisa terbakar dan menyala. Jika kita ingin mengalami fosfor yang terwujud di dalam korek api, Roh yang terwujud di dalam firman, kita perlu memakai roh kita untuk mendoabacakan firman itu. Dengan demikian, kita akan menggores korek api pada tempat yang benar dan mengalami api dalam firman. Kita dapat bersaksi bahwa kita akan mengalami pembakaran di dalam roh kita melalui menerima firman dengan tepat, yaitu dengan memakai roh kita.

MENGALAMI ATRIBUT-ATRIBUT ILAHI

Dalam Alkitab terang dan hayat adalah satu, hayat dan kasih adalah satu, kasih berkaitan dengan kekudusan, dan kekudusan berkaitan dengan kebenaran. Bila semua itu digabungkan, itulah kekuatan kita. Atribut-atribut ilahi ini

— terang, hayat, kasih, kekudusan, kebenaran, dan kekuatan

— sebenarnya adalah Allah Tritunggal itu sendiri yang datang kepada kita sebagai Roh melalui firman. Ketika kita berkontak dengan Allah Tritunggal sebagai Roh melalui firman, kita akan mengalami-Nya sebagai terang, hayat, kasih, kekudusan, kebenaran, dan kekuatan. Inilah Kristus dalam pengalaman kita. Kalau kita mengalami Kristus de-ngan cara yang subyektif ini, kita pasti akan dengan spon-tan memperhidupkan dia.

Firman hayat tidak hanya satu dengan Kristus, tetapi juga dengan atribut-atribut ilahi ini. Dari pengalaman kita dapat bersaksi setiap kali kita menggores firman dengan roh kita, kita akan beroleh terang. Firman hayat akan menjadi terang dalam pengalaman kita. Tidak hanya demikian, firman akan menjadi hayat yang mencakup kasih, kekudusan, kebenaran, kekuatan, tenaga, dan kekuasaan. Inilah kesatuan firman hayat dengan Kristus yang hidup juga dengan berbagai macam atribut dari Allah Tritunggal.

MENERIMA FIRMAN TUHAN

SEBAGAI POHON HAYAT

Kita tidak boleh menganggap Alkitab hanya sekadar kitab teologi yang mewahyukan apa dan siapa Allah, dan apa yang Allah kehendaki kita lakukan untuk berkontak dengan Dia. Alkitab bukan hanya wahyu yang obyektif tentang Allah dan tuntutan-Nya. Alkitab seharusnya juga menjadi pohon hayat untuk kita makan. Bagi kita Alkitab mungkin adalah sejilid kitab pengetahuan atau kitab hayat, pohon pengetahuan atau pohon hayat. Pohon pengetahuan mendatangkan kematian, tetapi pohon hayat mendatangkan suplai hayat ilahi. Saya akui dahulu saya menuntut banyak sekali pengetahuan melalui membaca Alkitab sebagai pohon pengetahuan. Akibatnya saya dimatikan, saya terbunuh oleh Alkitab yang dicetak dengan huruf hitam di atas kertas putih. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Paulus, “Hukum yang tertulis mematikan” (2Kor. 3:6). Alkitab yang harfiah dapat membunuh. Ini adalah akibat kita menerima Alkitab sebagai pohon pengetahuan. Tetapi jika kita memakai roh kita untuk memakan firman, Alkitab akan menjadi kitab hayat dalam pengalaman kita. Dengan demikian kita akan tersuplai dengan hayat melalui setiap ayatnya. Banyak orang Kristen yang telah terbunuh oleh Alkitab yang harfiah. Yang mereka perlukan bukan doktrin yang bertumpuk-tumpuk, melainkan hayat dari Roh itu. Mereka perlu menerima Alkitab sebagai pohon hayat.

TUHAN DAN FIRMANNYA

TINGGAL DI DALAM KITA

Saya dapat bersaksi bahwa saya sangat lincah dan ber-energi karena saya menerima suplai hayat dari firman sebagai pohon hayat. Firman adalah perwujudan Tuhan sendiri yang saya kasihi. Karena saya mengasihi Dia, saya mengontak Dia melalui firman, yang adalah satu dengan Tuhan. Dalam Yohanes 15 ada dua ayat yang menunjukkan hal ini. Dalam ayat 4 Tuhan Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Tetapi dalam ayat 7 Ia berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Perhatikan, dalam ayat 4 Tuhanlah yang tinggal di dalam kita, sedangkan dalam ayat 7 yang tinggal di dalam kita adalah firman-Nya. Ini menunjukkan tinggalnya firman Tuhan di dalam kita sama dengan Tuhan sendiri yang tinggal di dalam kita. Jika kita tidak memiliki firman-Nya tinggal di dalam kita, sulitlah kita mengalami tinggalnya Dia sendiri di dalam kita. Tuhan itu abstrak, tetapi firman-Nya konkret.

Kita tidak saja perlu mengontak firman dengan pikiran kita, tetapi juga dengan roh kita yang dilahirkan kembali. Bila kita memakai roh kita untuk mengontak firman, maka firman akan menjadi satu dengan Tuhan sendiri dalam pengalaman kita. Dengan demikian firman akan menjadi hidup, memberi energi, dan penuh dengan atribut ilahi seperti terang, hayat, kasih, kekudusan, kebenaran, dan kekuatan. Melalui menerima firman sedemikian inilah baru kita dapat memperhidupkan Kristus.

KEHIDUPAN ORANG KRISTEN YANG WAJAR

Saya tidak menaruh syak bahwa kehidupan Paulus sesungguhnya adalah kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Ia dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Ia pun menyuruh kita untuk membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan kayanya di dalam kita (Kol. 3:16). Seperti telah kita tunjukkan, kata “tinggal” dalam Kolose 3:16 berarti “berumah” atau “bersemayam”. Membiarkan perkataan Kristus berumah di dalam kita berarti membiarkan firman itu menjenuhi seluruh diri kita. Akhirnya, ketika dalam pengalaman kita firman, Kristus, dan Allah Tritunggal berbaur menjadi satu, maka kita akan memperhidupkan Kristus. Kita akan memiliki satu kehidupan yang penuh dengan atribut-atribut ilahi, seperti terang, hayat, kasih, kekudusan, kebenaran, dan kekuatan. Inilah kehidupan orang Kristen yang wajar.