← Daftar isi Menekankan Pengetahuan dan Hayat dalam Kita Memimpin · bab 3/10

MEMIMPIN DALAM HAYAT ROHANI— PENCIPTAAN ALLAH DAN ALLAH ADALAH HAYAT

Tanggal: 10 Maret 1961

MENGAJAR DALAM TINGKAT KEDALAMAN YANG BERBEDA

MENURUT USIA

Dalam memimpin orang muda kita harus mengikuti garis yang berhubungan dengan pengetahuan rohani dan garis yang berhubungan dengan hayat rohani. Kedua garis ini penting. Meskipun kita tidak bisa memperhatikan kedua garis dalam setiap sidang secara bersamaan, kita dapat menutupinya secara bergantian, dengan fokus pada pengetahuan rohani satu minggu dan pada hayat rohani minggu depan. Karena orang muda di berbagai tingkat pertumbuhan insani, pimpinan kita harus bervariasi juga. Kita dapat berbicara sesuatu yang sederhana untuk siswa SMP, sesuatu yang lebih dalam untuk siswa SMA, dan sesuatu yang lebih dalam kepada mahasiswa. Ketika kita menerapkan prinsip ini, kita harus fleksibel dan menghindari membuat aturan keras dan cepat. Kita harus menentukan tingkat kedalaman sesuai dengan situasi sebenarnya.

Dalam memimpin orang muda, kita harus menghindari cara menyampaikan berita, melainkan kita harus memberikan butir utama dan beberapa ayat. Ketika kita sampai pada sesuatu yang mereka tidak mengerti, kita harus berhenti dan mengulanginya lagi, dan kita harus meminta mereka menuliskan butir utama dan mempelajari apa yang telah mereka pelajari ketika mereka pulang. Sidang berikutnya, kita harus meminta mereka mengulangi butir untuk dibicarakan secara ujian. Meskipun mereka mungkin berpikir bahwa ini terlalu sulit, namun akan menguntungkan mereka. Dalam setiap sidang kita harus memakai bagian pertama untuk ujian dan bagian kedua untuk pelajaran baru. Ini akan memberi mereka kesan yang mendalam tentang kebenaran, dan isi kebenaran akan berakar di dalamnya. Setiap kali seseorang sedang diuji, semua orang akan menerima bantuan. Ini adalah cara terbaik untuk melatih pikiran orang muda dan membantunya.

MEMBANGKITKAN MINAT ORANG

DENGAN KATA PEMBUKAAN SIDANG

Ketika kita berbicara kepada orang muda mengenai perkara hayat, kita harus mengatakan sesuatu yang dapat membangkitkan minat mereka, tetapi tidak harus terlalu lama. Sebagai contoh, kita dapat mengatakan, "Hayat memberi makna bagi seluruh alam semesta, dan hayat membuat alam semesta menarik. Coba bayangkan jika semua organisme di alam semesta dihapus, alam semesta tidak akan memiliki makna dan akan kosong dari hal-hal yang menarik. Alam semesta ini menarik karena hayat, dan hayat menyebabkan orang memiliki rasa takjub dan makna. Jika tidak ada hayat tumbuhan atau hayat binatang, alam semesta akan menjadi sunyi sepi dan seluruhnya tanpa makna. Karena itu, hayat adalah fokus utama ciptaan Allah. Dalam alam semesta hayat adalah pemikiran dan konsepsi sentral. Di taman ada bunga, rumput, dan pohon-pohon, termasuk pohon buah-buahan, yang semuanya penuh keindahan hayat. Tanpa hayat, taman akan menjadi tempat yang membosankan dan sunyi sepi."

MENGENAL ALKITAB SEBAGAI KITAB HAYAT

Setelah kita membahas perkara penciptaan, kita dapat berbicara tentang Alkitab. Alkitab adalah sebuah kitab tentang hayat. Ada miliaran buku di dunia, tetapi hanya Alkitab yang terpenting berfokus pada hayat. Jika kita menghapus hayat dari Alkitab, akan sama dengan menghapus hayat dari alam semesta. Tanpa hayat, alam semesta menjadi sunyi sepi, membosankan, dan tak berarti, demikian pula, tanpa hayat, Alkitab kosong. Alkitab berbicara tentang pohon hayat di permulaan (Kej. 2:9), dan berbicara tentang pohon hayat pada akhirnya (Why. 22:2). Selain itu, ada sebatang sungai air hayat yang mengalir baik pada permulaan maupun akhir Alkitab (Kej. 2:10; Why, 22:1). Hal ini menunjukkan bahwa fokus Alkitab adalah hayat. Hayat disebutkan berulang kali dalam Perjanjian Baru. Sebagai contoh, Injil Yohanes penuh dengan masalah hayat. Dalam Perjanjian Lama Mazmur juga menyebutkan hayat (36:10). Alkitab adalah sebuah kitab tentang hayat, dan semua pengetahuan itu untuk tujuan membagikan hayat.

MENGENAL PENCIPTAAN ALLAH

Penciptaan Allah Mengambil Hayat sebagai Sasarannya

Kita harus menyajikan perkara penciptaan menurut dua pasal pertama Kitab Kejadian. Ada berbagai hal-hal tek terhitung di alam semesta, tetapi bahkan jika ada catatan dari setiap butir dalam Alkitab, itu tidak akan mendalam menjelaskan pekerjaan penciptaan Allah. Maka, Allah hanya menggunakan dua pasal dalam Alkitab untuk mencatat butir-butir ciptaan-Nya, karena penekanan-Nya pada hayat. Kejadian 1:1-4 mengatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.” Sebab bumi belum berbentuk dan kosong dan gelap gulita menutupi samudera raya menunjukkan situasi kematian, yang berbeda dengan hayat. Ketika tidak ada hayat, gelap gulita menutupi samudera raya. Karena itu, Allah berkata, “Jadilah terang” (ayat 3). Ketika terang masuk, ada pemisahan dari kegelapan. Kemudian Allah berfirman: "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air" (ayat 6). Allah menciptakan cakrawala dan memisahkan air di bawah cakrawala dari air diatas cakrawala (ayat 7). Ketika air dipisahkan, cakrawala dihasilkan. Lalu Allah berfirman, "Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Dan jadilah demikian" (ayat 9). “Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (ayat 10). Langkah ini menyebabkan air berkumpul bersama, dan memisahkan air dari daratan. Ada pemisahan terang dari gelap, pemisahan apa yang di atas dari apa yang di bawah, dan pemisahan air dari daratan karena Allah ingin menciptakan lingkungan bagi hayat bertumbuh. Setelah langkah ini, bumi menghasilkan rumput dan segala macam tumbuhan (ayat 11-12), dan satu demi satu jenis hayat muncul (ayat 20-25). Ini menunjukkan bahwa hayat adalah sasaran penciptaan Tuhan.

Menciptakan Hayat dari Bentuk yang Terendah sampai Bentuk yang Tertinggi

Allah pertama kali menciptakan bentuk-bentuk hayat yang terendah dan kemudian bentuk yang tertinggi. Penciptaan-Nya dimulai dengan hayat tumbuhan, yang merupakan bentuk terendah dari hayat. Kemudian Dia menciptakan hayat binatang dan kemudian hayat manusia, yang merupakan bentuk tertinggi dari hayat. Hayat tumbuhan tidak memiliki kesadaran. Dari bentuk hayat yang diciptakan dengan tanpa kesadaran, Allah mulai dengan organisme yang memiliki bentuk kesadaran rendah, yaitu, binatang di dalam air. Kemudian Dia menciptakan binatang di udara dan binatang-binatang di darat (1:11, 21, 25). Pada prinsipnya, binatang di darat memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada yang di udara. Setelah penciptaan binatang di darat, Allah menciptakan manusia (ayat 26-27). Manusia memiliki bentuk kesadaran dan perasaan tertinggi di antara semua ciptaan Allah, baik di ruang lingkup air, udara, atau darat. Di antara semua organisme yang diciptakan, kecuali malaikat, kesadaran dan indera manusia yang tertinggi. Maka, Kejadian 2 menunjukkan bahwa Allah tidak puas bahwa manusia hanya hayat tercipta, Dia ingin manusia menerima hayat ilahi yang bukan ciptaan, hayat tertinggi di alam semesta, yang merupakan hayat Allah. Karena itu, setelah menciptakan manusia, Allah menempatkannya di hadapan pohon hayat supaya manusia menerima hayat ini (ayat 9). Dari sini kita dapat melihat bahwa hayat adalah isi dan tujuan dalam ciptaan Allah.

MENGENAL ALLAH SEBAGAI HAYAT

Kita harus memberi tahu orang muda bahwa Allah adalah hayat. Dalam Alkitab ada banyak ayat yang membicarakan Allah adalah hayat. Mazmur 36:10 mengatakan bahwa Allah adalah sumber hayat. Injil Yohanes dimulai dengan mengatakan, "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah" (1:1), tetapi kemudian ia mengatakan, "Dalam Dia ada hidup (hayat)" (ayat 4 ). Pada 10:10 Tuhan berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah." Kolose pasal 3 mengatakan, "Kristus yang adalah hidup kita" (ayat 4). Satu Yohanes 5:11-12 berkata, "Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." Dalam Wahyu pasal 22, yang merupakan kitab terakhir Alkitab, pohon hayat dan sungai air hayat disebutkan lagi (ayat 1-2). Semua ayat ini menunjukkan bahwa Allah menekankan hayat, bahwa Allah sendiri adalah hayat, dan Allah ingin memberikan hayat yang kekal kepada kita.

Perkara Allah adalah hayat memerlukan perubahan dalam konsepsi alamiah kita, karena pikiran utama kebanyakan orang tentang Allah tidak berhubungan dengan hayat. Pikiran utama orang Kristen dan bukan Kristen mengenai Allah tidak berhubungan dengan Allah menjadi hayat. Banyak orang menganggap Allah sebagai Sang berdaulat, yang lain Allah sebagai Sang Pencipta, dan yang lain sebagai Sang mahakuasa, tetapi jarang mereka berpikir tentang Allah sebagai hayat. Bahkan para teolog tidak menempatkan banyak penekanan pada soal Allah adalah hayat. Kebanyakan memberi tahu orang-orang bahwa Allah adalah perkasa, kudus, penuh kasih, adil, dan sebagainya. Jarang dalam kekristenan ada berita yang menekankan bahwa Allah adalah hayat. Namun demikian, Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah hayat. Menurut catatan dalam Alkitab, setelah Allah menciptakan manusia, hal pertama yang Dia lakukan adalah menempatkan manusia di depan pohon hayat di Taman Eden (Kej. 2:8-9). Kesan pertama yang diberikan Allah kepada manusia sendiri tidak berhubungan dengan kekuasaan, kekudusan, kasih, atau keadilbenaran tetapi kepada hayat.

Dalam Kejadian 2, setelah Allah menciptakan manusia, Dia tidak berbicara kepada manusia mengenai kuasa-Nya atau kasih-Nya, melainkan Dia menempatkan manusia di depan pohon hayat di Taman Eden. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah hayat bagi manusia. Ketika saya melihat ini, saya mendapat perpalingan besar di batin. Sebelumnya, saya berpikir tentang Allah sebagai Allah yang agung, tetapi pada hari itu saya menjadi jelas bahwa Allah adalah hayat kita. Meskipun Dia agung, Dia menjadi pohon hayat dengan buah untuk kita makan. Dalam Perjanjian Baru banyak orang memandang Tuhan Yesus sebagai orang yang berkuasa besar karena Dia melakukan banyak mukjizat, seperti mengubah air menjadi anggur dan bahkan membangkitkan orang dari antara orang mati. Namun, Tuhan berkata, "Akulah roti hidup" (Yoh. 6:35), dan Dia menyamakan diri-Nya kepada roti anak-anak (Mat. 15:26). Ini menunjukkan bahwa Allah adalah hayat.

Allah Mengalir Menjadi Hayat Manusia

Allah bukan saja hayat, tetapi Dia juga rindu untuk menjadi hayat kita. Namun, agar menjadi hayat kita, Dia harus masuk menjadi hayat kita dan yang bisa diperoleh oleh kita. Alkitab menunjukkan bahwa masuknya Allah adalah perkara mengalir. Langkah pertama dalam pengaliran-Nya ada di dalam Tuhan Yesus. Langkah kedua pengaliran-Nya adalah sebagai Roh pemberi-hayat. Yang mengalir keluar dari Allah dalam Tuhan Yesus mungkin tidak jelas bagi kita. Namun, kita dapat melihat dengan jelas bahwa Roh adalah pengaliran Allah. Dalam Perjanjian Lama, ketika Musa memukul batu karang, air hidup mengalir keluar dari batu karang itu. Mengalirnya air hidup adalah lambang Roh itu (Kel. 17:6; 1 Kor. 10:4). Yohanes 7:38-39 juga mengatakan bahwa sungai air hidup akan mengalir keluar dari batin mereka yang percaya kepada Tuhan dan bahwa Roh itu adalah air yang hidup ini. Karena itu, Roh itu adalah pengaliran Allah, sarana ultima Allah mengalir ke dalam manusia.

Allah menjadi daging dalam inkarnasi Tuhan Yesus, dan kemudian Dia menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan (1:14; 1 Kor. 15:45b). "Menjadi" Nya dalam dua langkah adalah untuk tujuan pengaliran agar dapat diterima ke dalam kita. Ini terlihat pada akhir Alkitab. Wahyu 22:1-2 mengatakan, "Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali. " Air kehidupan yang mengalir dari takhta dan pohon hayat adalah Allah, karena pohon hayat adalah Tuhan Yesus dan air hayat adalah Roh itu. Gambaran pada akhir Kitab Wahyu menunjukkan bahwa Allah mengalir keluar menjadi hayat kita. Dia adalah pohon hayat yang penuh buah untuk kita makan, Dia juga air hayat yang tercurah untuk kita minum. Karena Dia mengalir keluar, kita dapat mengambil-Nya ke dalam kita untuk menjadi hayat kita.

Jika Tuhan Yesus tidak menjadi Roh pemberi-hayat, tidak mungkin Dia kita terima. Setelah menjadi daging dan kemudian menjadi Roh pemberi-hayat, Allah tersedia untuk kita terima.

Allah Menciptakan Roh bagi Manusia

Agar Allah menjadi hayat kita, Dia tidak bisa berada di luar kita, melainkan Dia harus masuk ke dalam manusia. Agar kita menerima apa pun ke dalam kita, perlu ada organ penerima. Misalnya, agar menerima makanan ke dalam tubuh jasmani kita, kita perlu perut; untuk mendengarkan suara, kita harus memiliki telinga; dan melihat warna, kita harus memiliki mata. Jika kita ingin menerima sesuatu, kita harus memiliki organ yang tepat untuk menerimanya. Akibatnya, manusia memerlukan organ penerima untuk menerima Allah. Karena itu, Allah menciptakan manusia dengan roh insan. Dari semua makhluk hidup, hanya manusia yang memiliki roh, meskipun malaikat, yang juga diciptakan, adalah roh (Ibr. 1:14). Ketika Tuhan Yesus berbicara sebagai roti hayat untuk di makan dan air kehidupan untuk di minum, Dia tidak berbicara tentang makanan yang diterima oleh perut kita, makanan yang binasa (Yoh. 6:27), tetapi diri-Nya sebagai makanan rohani yang akan diterima di dalam roh manusia (ayat 63). Dalam roh kita dapat menerima Tuhan sebagai roti rohani kita dan air rohani kita.

Allah menciptakan manusia dengan roh supaya Dia bisa diterima oleh manusia. Kejadian 2:7 mengatakan, "TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." Allah memakai debu tanah untuk membentuk tubuh manusia dan kemudian mengembuskan nafas hayat ke lubang hidung manusia. Napas ini tidak sama dengan Roh Allah. Namun, ketika napas ini masuk ke dalam manusia, nafas itu menjadi roh manusia. Dalam ayat 7 kata nafas adalah kata yang sama dalam bahasa aslinya sebagai roh dalam Amsal 20:27. Sebagai hasil dari embusan Allah, manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Manusia memiliki tiga bagian: tubuh jasmani yang terbuat dari debu tanah, roh yang dibentuk oleh napas yang diembuskan ke dalam dirinya, dan jiwa yang dihasilkan ketika napas Allah diembuskan ke dalam dirinya. Jiwa lebih dalam dari tubuh, tetapi tidak sedalam roh insan.

Satu Tesalonika 5:23 menegaskan bahwa manusia memiliki tiga bagian, mengatakan, “Semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa manusia memiliki tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Ibrani 4:12 membuktikan bahwa roh berbeda dari jiwa, karena mengatakan firman Allah yang hidup yang menusuk "amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh."

Roh Manusia Adalah untuk Disi Allah

Allah menciptakan roh bagi manusia supaya manusia dapat menerima Dia, karena Dia adalah Roh. Yohanes 4:24 mengatakan, "Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Roh manusia adalah untuk manusia mengontak Allah. Jika kita mempertimbangkan hal ini lebih dalam, kita dapat menambahkan dua ayat lagi. Roma 8:16 mengatakan, "Roh itu saksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah." Fakta bahwa Roh dapat bersaksi bersama roh kita membuktikan bahwa tujuan dari roh kita adalah untuk menerima Allah sebagai Roh dan supaya Allah bisa masuk ke jiwa kita karena Dia adalah Roh. Dengan demikian, Roh Kudus dapat bersaksi di dalam roh kita. Satu Korintus 6:17 mengatakan, "Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia." Kita dapat mengikatkan diri pada Tuhan menjadi satu roh karena kita telah menerima Dia sebagai Roh itu di dalam roh kita, maka, Roh itu dan roh kita adalah satu roh. Kedua ayat ini cukup dalam, dan kita harus mempertimbangkan apakah kita harus menyajikannya untuk siswa SMA atau hanya untuk mahasiswa.

Mengenal Roh Manusia

Selain butir-butir penting di atas, kita harus membantu orang-orang kudus muda untuk mengenal roh insannya. Hati nurani kita adalah bagian dari jiwa manusia, dan fungsi hati nurani kita membuktikan bahwa kita memiliki roh. Terlepas dari fakta bahwa keputusan masuk akal sesuai dengan kecerdasan dan penalaran kita, kita mungkin masih memiliki rasa tidak enak di kedalaman kita. Hal ini karena kemampuan penalaran kita, yang berhubungan dengan jiwa kita, tidak sedalam fungsi hati nurani di dalam roh kita. Meskipun kita dapat membuat keputusan sesuai dengan akal kita, sering ada rasa di kedalaman diri kita yang menyebabkan kita memiliki rasa gelisah yang terkait dengan keputusan yang didasarkan hanya pada akal kita. Rasa ini adalah respons dari hati nurani kita. Contoh yang paling jelas adalah mencuri sesuatu dari orang lain. Meskipun mencuri mungkin membawa beberapa rasa nikmat bagi jiwa kita, ada tuduhan, kecaman, dan bahkan ketakutan di kedalaman diri kita. Sensasi ini berasal dari pengoperasian hati nurani kita di dalam roh kita. Selain jiwa kita, ada bagian yang lebih dalam dari diri kita yang adalah roh kita, dan bagian yang lebih dalam ini dimanifestasikan kepada kita melalui operasi hati nurani kita di dalam roh kita. Sering kali kecerdasan dan emosi dalam perjanjian untuk melakukan hal tertentu, tetapi hati nurani kita memprotes dan mengutuk kecenderungan kecerdasan dan emosi kita. Hal ini membuktikan bahwa roh dan jiwa kita berbeda dan bahwa roh kita lebih dalam dari jiwa kita.

Mengenal Manusia sebagai Bejana Allah

Kita juga dapat berbicara kepada siswa SMA atau mahasiswa tentang manusia menjadi bejana yang diciptakan Allah. Roma 9:21-23 mengatakan, "Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan — justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan." Ini menunjukkan bahwa manusia yang diciptakan Allah adalah bejana. Tujuan bejana adalah diisi sesuatu. Allah menciptakan manusia sebagai bejana untuk diisi diri-Nya sendiri.

Banyak orang berpikir bahwa Allah menciptakan manusia sebagai alat yang akan digunakan oleh-Nya. Ini tidak akurat. Allah menciptakan manusia sebagai bejana, dan Dia ingin menempatkan diri-Nya ke dalam bejana ini sehingga Dia dapat diekspresikan. Allah tidak ingin kita menjadi alat. Dua Korintus 4:7 mengatakan, "Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" Ketika kita beroleh selamat, Allah masuk ke dalam kita, maka kita memiliki harta di dalam kita, bejana tanah liat. Fungsi utama kita di alam semesta ini, atau kita dapat mengatakan fungsi kita satu-satunya, adalah menjadi bejana Allah. Sama seperti bola lampu adalah wadah yang dirancang untuk mengandung dan mengekspresikan listrik, kita adalah bejana yang dirancang untuk menampung dan mengekspresikan Allah.