← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 3/22

PENDERITAAN PAULUS BAGI INJIL DAN KENIKMATANNYA AKAN ANUGERAH

Pembacaan Alkitab: Flp. 1:7-8, 12-14, 16-17, 28-30

Dalam berita ini kita akan membahas penderitaan Paulus bagi Injil dan kenikmatannya akan anugerah. Memahami masalah menderita bagi Injil dan menikmati anugerah secara alamiah memang mudah. Tetapi dalam membahas perkara-perkara rohani, kita perlu melampaui pengertian alamiah atau tradisional. Menurut Kitab Filipi, menderita bagi Injil dan menikmati anugerah, keduanya merupakan hal yang dalam.

Menderita bagi Injil berarti Anda di bumi ini sematamata bagi kepentingan ekonomi Allah. Menderita bagi Injil berarti memperhatikan penggenapan ekonomi Allah. Injil mencakup ekonomi Allah, dan menderita bagi Injil mengharuskan kita berpartisipasi dalam ekonomi Allah. Jadi, menderita bagi Injil sebenarnya berarti mengambil bagian dalam melaksanakan ekonomi Allah.

Tulisan-tulisan Paulus menunjukkan bahwa dia menderita bagi Injil. Tetapi, Injil yang untuknya dia menderita itu bukan Injil yang rendah atau dangkal. Dia menderita bagi Injil berarti ia hidup di dunia untuk melaksanakan ekonomi Allah. Dia tidak sekadar berkhotbah agar orang-orang dapat percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat sehingga mereka dapat masuk ke surga. Pemberitaan atau khotbah Injil yang terbatas seperti itu tidak memerlukan penderitaan. Dalam pemberitaan Injil yang sesuai dengan ekonomi Allah, Paulus telah meninggalkan agama, hukum Taurat, kebudayaan, peraturan-peraturan, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, dan setiap macam aliran. Injil yang diberitakan Paulus menyingkirkan segala sesuatu yang di luar ekonomi Allah. Injil itu menyingkirkan agama, politik, dan kebudayaan. Dalam suatu pengertian, Injil Paulus bahkan menyingkirkan kita. Karena Paulus memberitakan Injil yang demikian, maka dia dianggap sebagai penyakit sampar (Kis. 24:5).

Sekalipun pemberitaan Injilnya telah menyingkirkan segala sesuatu yang bertentangan dengan ekonomi Allah, Paulus menyebut Injil sebagai Injil damai sejahtera (Ef. 2:17; 6:15). Dalam Efesus 2:17 Paulus menunjukkan bahwa Kristus, setelah penyaliban dan kebangkitan-Nya, datang kepada orang-orang kafir untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Damai sejahtera baru bisa ada setelah segala sesuatu yang bertentangan dengan Injil telah tersingkirkan. Demi terciptanya damai sejahtera antara kita dengan Allah dan satu sama lain, maka agama, politik, kebudayaan, peraturan-peraturan, dan hukum Taurat harus diakhiri. Karena Paulus memberitakan Injil yang mencakup penyingkiran sekian banyak perkara, maka pemberitaannya tidak menyenangkan orang. Dia tidak dapat menyenangkan orang Yahudi maupun orang kafir; Paulus hanya dapat menyenangkan Allah sendiri. Pemberitaannya adalah suatu sandungan bagi agama, politik, kebudayaan, dan segala macam aliran. Jika kita memberitakan Injil menurut cara Paulus, kita pun akan menderita. Tetapi jika kita memberitakan Injil melalui melapisinya dengan gula, kita akan disambut baik di mana-mana. Kalau demikian, kita tidak bisa menjadi orang-orang yang menderita bagi ekonomi Allah.

Jangan memahami hal penderitaan bagi Injil menurut konsepsi alamiah. Menderita bagi Injil, seperti yang telah kita tunjukkan, berarti berpihak kepada kepentingan ekonomi Allah. Selama kita tetap berada dalam pemulihan Tuhan, memperhatikan penggenapan ekonomi Allah, maka nasib kita ialah menderita bagi Injil.

Injil yang kita beritakan dalam pemulihan Tuhan bertentangan dengan agama hari ini. Dalam Pelajaran-Hayat Kitab Wahyu telah kita tunjukkan, menurut Wahyu 2-3, agama-agama tertentu adalah milik setan. Bagaimana perkataan-perkataan ini dapat menyenangkan orang-orang dalam agama tersebut? Tetapi mengucapkan kata-kata semacam ini justru cocok dengan istilah-istilah yang dipakai Tuhan Yesus dalam Kitab Wahyu. Dia memakai ungkapan “jemaah Iblis” (Why. 2:9). Bukankah ungkapan sedemikian ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Tuhan, agama tersebut telah menjadi satu sistem Iblis? Selain itu, mengenai Tiatira, yang melambangkan agama tertentu, Tuhan mengatakan tentang “seluk-beluk Iblis” (Why. 2:24). Ungkapan itu ditujukan kepada misteri yang dalam tentang Iblis. Perkara-perkara itu pasti milik setan. Mengenai Laodikia, kita nampak Kristus berdiri di luar pintu gereja (Why. 3:20). Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa gereja itu tanpa Kristus, sebab Kristus berada di luar pintu. Perasaan serupa pernah diungkapkan oleh A.W. Tozer dalam sebuah artikel yang berjudul “Menyusutnya Wewenang Kristus dalam Gereja-gereja”. Bahkan karangan Tozer juga menunjukkan bahwa agama tertentu itu tanpa Kristus. Jika kita memberitakan Injil dengan cara yang demikian, kita harus siap untuk ditentang. Dalam memberitakan Injil, sasaran kita bukan menyenangkan manusia, juga bukan untuk melukai orang, melainkan menyampaikan kebenaran Allah. Tetapi, kebenaran Allah akan menyingkirkan banyak perkara. Sebab itu, orang-orang yang memberitakan Injil demi melaksanakan ekonomi Allah di bumi akan menderita karena Injil itu.

Seiring dengan penderitaan bagi Injil, selalu ada kenikmatan akan anugerah. Jika Anda menderita bagi ekonomi Allah, Anda akan beroleh kenikmatan tersebut. Saya dapat bersaksi bahwa dalam semua penentangan yang kita hadapi itu, saya benar-benar menikmati anugerah Tuhan. Menderita bagi ekonomi Allah mendatangkan suplai anugerah. Kenikmatan akan anugerah ini berkaitan dengan penderitaan karena Injil.

Menikmati anugerah berarti memiliki pengalaman sejati akan Kristus, karena anugerah yang kita nikmati tidak lain adalah Kristus sendiri. Saya tidak percaya orang-orang yang memberitakan Injil dengan cara menyenangkan manusia dapat memahami tentang kenikmatan akan anugerah. Tentu saja, para penganut agama Yahudi yang memberitakan Injilnya karena bersaing dengan Paulus tidak mungkin memiliki kenikmatan akan Kristus sebagai anugerah. Pemberitaan mereka tidak mungkin mendatangkan Kristus sebagai anugerah bagi kenikmatan mereka. Di tempat lain pernah kita tunjukkan bahwa anugerah tidak lain ialah Allah Tritunggal yang melalui proses untuk kenikmatan kita. Mungkin ada yang meragukan pengertian tentang anugerah yang demikian, apakah benar menga-takan bahwa anugerah itu Allah Tritunggal yang melalui proses bagi kenikmatan kita. Perhatikan perkataan Paulus dalam 2 Korintus 13:13, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Di sini kita nampak Allah Tritunggal bagi kenikmatan kita. Karena itulah, anugerah adalah peng-alaman akan Kristus yang berhuni di batin, yaitu Allah yang telah melalui proses menjadi kenikmatan kita. Semakin kita menderita bagi ekonomi Allah di bumi, kita akan semakin menikmati Kristus yang sedemikian.

Jika saya tidak mengatakan firman Tuhan dalam Wahyu 2 dan 3 mengenai agama-agama itu, saya pasti memperoleh banyak kawan melalui pemberitaan Injil. Tetapi, saya akan kehilangan kenikmatan akan Kristus, Sa-habat saya yang unik ini. Kalau saya condong menyenangkan manusia, saya akan tidak menyenangkan Dia. Saya tidak dapat menukar kepentingan Kristus dengan kepentingan manusia. Seperti Paulus dalam Filipi 3, saya rela menganggap segala sesuatu rugi karena Kristus. Saya pun mau menderita rugi atas segala sesuatu demi kenikmatan akan anugerah. Saya tidak pernah ditugaskan oleh Tuhan untuk menyenangkan manusia. Menyinggung tentang ekonomi Allah, tidak ada tempat untuk berkompromi. Segala sesuatu yang bertentangan dengan ekonomi Allah harus disingkirkan oleh kebenaran Allah. Seperti halnya Paulus, dalam masalah ini kita tidak mempunyai pilihan.

Menurut Kitab Filipi, Paulus tidak saja menderita karena ia memberitakan Injil, tetapi terutama karena ia membela dan meneguhkan Injil. Kita telah nampak bahwa Injil berkaitan dengan ekonomi Allah, dengan pergerakan-Nya di bumi demi penggenapan kehendak-Nya yang kekal. Ketika Paulus menulis Kitab Filipi, ada sementara pengkhotbah menyesatkan Injil ekonomi Allah ini dan memutarbalikkannya. Paulus bangkit mengumumkan bahwa dalam Injil Allah tidak ada tempat bagi agama Yahudi atau bagi filsafat Yunani. Dia telah ditetapkan untuk membela Injil (1:16). Lagi pula, Paulus meneguhkan Injil dengan memberitakan dua rahasia: Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus. Walau orang lain memberitakan Kristus, mereka bukan untuk pelaksanaan kedua rahasia tersebut. Sama halnya dengan orang-orang Kristen hari ini. Memang banyak sekali pekerjaan misi dan pemberitaan Injil, tetapi tidak banyak pengkhotbah yang de-ngan memadai memperhatikan Kristus sebagai rahasia Allah, lebih-lebih memperhatikan gereja sebagai rahasia Kristus. Kebanyakan orang lebih suka menghindari percakapan tentang gereja. Sebab itu, tidak banyak peneguhan Injil pada hari ini. Beban yang Tuhan berikan kepada kita bukan hanya untuk membela Injil, tetapi juga meneguhkan Injil. Ini berarti kita mau melaksanakan kedua rahasia tersebut. Karena inilah kita ditentang orang.

Jika Anda hanya memberitakan Injil secara dangkal, tanpa membela atau meneguhkannya, Anda akan disambut dengan hangat. Dalam tahun-tahun pertama ministri saya, saya diberi tahu seorang pendeta tua bahwa jika saya berkhotbah menurut cara mereka, semua orang Kristen di kota itu akan menyambut saya dan akan menyenangi saya. Akan tetapi, jika saya mempertahankan cara yang saya lakukan, saya akan menyinggung banyak orang. Dia menasihati saya dengan maksud hati yang baik. Tetapi saya harus berkata kepadanya bahwa saya tidak punya pilihan dalam masalah ini. Sejak hari itu hingga kini, saya telah mengambil bagian dalam penderitaan bagi Injil. Tetapi bersamaan dengan penderitaan, saya juga memperoleh kenikmatan yang kaya atas Kristus. Dia benar-benar adalah anugerah bagi saya, menjadi kenikmatan saya.

Banyak di antara kita dapat bersaksi, sebelum kita datang ke dalam hidup gereja, sedikit sekali yang kita ketahui tentang kenikmatan akan Kristus. Apakah Anda mempunyai kenikmatan yang kaya akan Kristus ketika Anda masih berada di dalam berbagai denominasi? Di luar hidup gereja, tidak ada tempat di mana kita dapat memiliki kenikmatan yang wajar akan Kristus. Jika Anda tidak percaya perkataan saya, saya anjurkan Anda untuk bepergian dan mencari satu tempat di mana Anda dapat menikmati Kristus lebih banyak daripada yang kita peroleh dalam hidup gereja. Pada tahun 1948 saya menganjuri seorang saudara yang penuh dengan keluhan tentang gereja untuk mencari satu tempat yang lebih baik, dan kemudian, setelah berbuat demikian, memberi tahu saya agar saya juga boleh pergi ke sana dengannya. Akan tetapi, ia tidak pernah melaporkan bahwa ia telah menemukan satu tempat di mana ada kenikmatan akan Kristus yang lebih banyak daripada di dalam gereja. Ya, dalam kehidupan gereja kita mengalami penderitaan bagi Injil, tetapi kita pun menikmati anugerah, Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi kenikmatan kita. Apa yang kita nikmati jauh lebih baik daripada perkara apa pun yang telah disingkirkan oleh pemberitaan kebenaran Allah itu.

I. PENDERITAAN PAULUS BAGI INJIL

A. Dipenjarakan

Ketika Paulus menulis Kitab Filipi, dia sedang menderita bagi Injil. Dalam 1:7, 13, 14, dan 17, ia menyinggung pemenjaraannya. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa Kitab Filipi ditulis dari dalam penjara. Walau Paulus adalah seorang tawanan, penjaranya menjadi sebuah rumah anggur, sebuah rumah pesta, sebab di situ Paulus menikmati Tuhan. Ayat 7, yang di dalamnya Paulus membicarakan tentang mengambil bagian atas anugerah menunjukkan hal ini. Paulus memang dalam penjara, tetapi dia juga sedang menikmati anugerah. Ayat ini menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa penjara bagi Paulus merupakan sebuah tempat pesta dan bukan tempat penderitaan semata-mata.

B. Karena Membela dan Meneguhkan Injil

Paulus dipenjarakan terutama karena membela dan meneguhkan Injil (1:7).

1. Membela Injil di Pihak Negatifnya dari Berbagai Bidah yang Menyesatkan dan Memutarbalikkan

Pembelaan Injil di pihak negatifnya berkaitan dengan berbagai bidah yang menyesatkan dan memutarbalikkan, seperti agama Yahudi yang ditanggulangi dalam Kitab Galatia dan aliran Gnostik yang ditanggulangi dalam Kitab Kolose. Agama Yahudi menyimpangkan Injil, sedang Gnostik dan filsafat Yunani memutarbalikkannya. Paulus membela Injil dari segala penyimpangan dan pemutarbalikan bidah. Lihatlah pengalamannya dengan Petrus di Antiokhia. Walau Petrus telah menerima visi tentang orang-orang kafir dalam Kisah Para Rasul 10, ia menarik diri dari makan bersama kaum beriman kafir di Antiokhia. Dalam masalah ini Petrus tidak berpihak kepada kebenaran Injil. Sebaliknya, ia menyimpangkan kebenaran Injil. Sebab itu, Paulus menentang Petrus secara terang-terangan dan menegurnya.

Dalam membela Injil melawan penyimpangan dan pemutarbalikan, Paulus sangat unik. Menurut catatan Perjanjian Baru, ia adalah seorang yang paling kuat bertahan melawan segala yang menyimpangkan dan memutarbalikkan Injil. Inilah sebabnya ia mengalami banyak penderitaan. Namun, anugerah yang ia nikmati melampaui penderitaan-penderitaan itu.

2. Meneguhkan Injil di Pihak Positifnya Berkaitan dengan Semua Wahyu Rahasia Allah Mengenai Kristus dan Gereja

Di pihak positifnya, peneguhan Injil berkaitan dengan wahyu rahasia Allah mengenai Kristus dan gereja, seperti yang terungkap dalam Surat-surat Kiriman Paulus. Dalam tulisan-tulisan Paulus, kedua rahasia besar — Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus — telah terungkapkan. Tidak ada rasul lain yang mengungkapkan rahasia-rahasia ini dengan memadai seperti yang diungkapkan Paulus. Sudah pasti, ajaran dan pemberitaan Paulus merupakan suatu peneguhan bagi Injil dan ekonomi Allah.

Berbeda dengan Paulus, yang mutlak bagi pembelaan dan peneguhan Injil, banyak pemberita Injil hari ini plin-plan dalam hal ini. Mereka seolah-olah tidak bertulang punggung. Pengkhotbah-pengkhotbah itu tidak membicarakan butir utama dari ekonomi Allah, malah hanya menyampaikan berita-berita yang berlapis gula untuk menye-nangkan orang lain. Tetapi kita dalam pemulihan Tuhan harus membela Injil dan meneguhkannya. Di satu pihak, kita harus membelanya melawan ajaran-ajaran yang menyimpangkan dan memutarbalikkannya; di pihak lainnya, kita harus meneguhkannya melalui menunjukkan sasaran Injil Allah.

C. Bagi Kemajuan Injil

Dalam 1:12 Paulus mengatakan, “Aku menghendaki, Saudara-saudara, supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil.” Istilah “kemajuan” dalam bahasa aslinya ditujukan kepada kemajuan yang dibuat oleh para perintis yang telah membuka jalan di depan agar pasukannya dapat terus maju. Penderitaan Paulus menghasilkan kemajuan Injil yang demikian. Paulus adalah seorang perintis yang membuka jalan agar gereja sebagai pasukan Allah dapat maju ke depan. Dia mengetahui bahwa penderitaannya menyediakan jalan, bahkan jalan raya bagi kemajuan Injil. Di luar penderitaan-penderitaan yang sedemikian, tidak mungkin ada kemajuan tersebut. Bahkan kita hari ini pun berjalan di atas jalan yang dibuka Paulus dalam penderitaannya bagi Injil.

Dari abad ke abad, banyak puing atau reruntuhan yang telah dilemparkan ke jalan raya untuk merintangi jalan yang dibuka Paulus. Hari ini kita tidak perlu membuka jalan raya lain, tetapi kita perlu membersihkan jalan yang telah dibuka oleh Paulus ini. Bahkan hal ini pun menyebabkan permusuhan. Para agamawan fanatik tertentu hari ini tidak menghendaki kita membersihkan puing-puing dan rintangan-rintangan itu. Tetapi kita telah diamanatkan oleh Tuhan untuk membersihkan jalan ini agar gereja dapat maju. Kita harap jika kaum remaja setia kepada Tuhan, mereka akan mampu maju ke depan di jalan raya yang bersih. Kita telah bertahun-tahun membantu mereka membersihkan jalan, dan kita yakin generasi muda dalam pemulihan Tuhan akan maju ke depan. Kita berharap agar cepat atau lambat, umat Tuhan akan berjalan di jalan yang telah dibersihkan bagi mereka ini. Walaupun pada saat ini banyak yang enggan menempuh jalan ini, ada orang yang memakai bahan-bahan kita dan mulai membicarakan tentang roh manusia dan gereja-gereja lokal.

D. Mendorong Saudara-saudara Membicarakan Firman Allah Tanpa Rasa Takut

Dalam 1:14 Paulus meneruskan, “Lagi pula, keba-nyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk semakin berani berkata-kata tentang firman Allah tanpa takut.” Pemenjaraan Paulus sama sekali tidak menjadi keputusasaan, melainkan menjadi suatu dorongan yang mendorong saudara-saudara untuk semakin berani membicarakan firman Allah tanpa takut. Saya berharap penentangan hari ini tidak membuat kita kecil hati atau putus asa, melainkan mendorong kita untuk lebih berani memberitakan firman Allah. Semoga semua orang kudus tergerak untuk memberitakan firman Allah.

E. Meneguhkan Saudara-saudara untuk Menderita bagi Kristus

Penderitaan Paulus untuk Injil juga meneguhkan sau-dara-saudara untuk menderita bagi Kristus (1:28-30). Dalam 1:28 dia menasihati kita agar tidak digentarkan sedikit pun oleh lawan-lawan. Dia mengatakan bahwa hal ini bagi mereka adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kita tanda keselamatan. Di sini kata kebinasaan ditujukan kepada kebinasaan seluruh apa adanya penentang dan segala perbuatan mereka, sedangkan keselamatan ditujukan kepada keselamatan seluruh apa adanya kita dan segala perbuatan kita. Teladan Paulus yang kuat dari penderitaannya bagi Kristus telah meneguhkan saudara-saudara dan membuat mereka rela menderita bagi Kristus dalam melaksanakan ekonomi Allah di bumi.

Dalam 1:29 Paulus berkata, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia.” Istilah “percaya kepada” dalam bahasa aslinya adalah “percaya ke dalam”, berarti kaum beriman memiliki kesatuan organik dengan Kristus melalui percaya ke dalam Dia. Percaya ke dalam Kristus adalah membuat diri kita bergabung dengan-Nya agar keduanya menjadi satu secara organik. Menderita demi kepentingan Kristus setelah menerima Dia dan menjadi satu dengan-Nya melalui percaya, adalah berpartisipasi dan bersekutu dalam penderitaan-Nya (3:10), agar kita dapat mengalami dan menikmati Dia dalam penderitaan-Nya. Inilah yang disebut memperhidupkan Dia dan memperbesar Dia dalam situasi yang menolak dan menentang-Nya.

Dalam 1:30 Paulus menyimpulkan, “Dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.” Paulus adalah teladan yang didirikan oleh anugerah Allah untuk ekonomi Perjanjian Baru-Nya (1Tim. 1:14-16). Kaum beriman Perjanjian Baru seharusnya mengalami dan menikmati Kristus dengan memperhidupkan dan memperbesar Dia seperti yang dilakukan Paulus dalam penderitaannya untuk Kristus, agar mereka dapat mengambil bagian dalam anugerah bersama Paulus.

II. KENIKMATAN PAULUS ATAS ANUGERAH

A. Turut Mendapat Bagian dalam Anugerah

Dalam 1:7 Paulus memberitahu orang-orang Filipi bahwa mereka “turut mendapat bagian dalam anugerah”. Yang turut mendapat bagian dalam anugerah adalah orang yang mengambil bagian dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan menikmati-Nya sebagai anugerah. Rasul adalah orang yang demikian dalam pembelaan dan peneguhan Injil, dan orang-orang kudus di Filipi adalah sesama pengambil bagian bersama dia dalam anugerah ini. Oleh anugerah Paulus menerima segala penderitaan bagi Injil. Dengan berpartisipasi dalam kenikmatan akan anugerah ini bersama Paulus demi memajukan Injil, berarti kaum beriman Filipi bersatu dengan Paulus dalam penderitaan maupun dalam kenikmatan akan anugerah tersebut.

B. Mengalami Bagian-bagian Dalam dari Kristus

Dalam 1:8 Paulus meneruskan, “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus me-rindukan kamu sekalian.” Istilah “kasih mesra” dalam ayat ini dalam bahasa aslinya adalah hati, organ bagian dalam; ayat ini menunjukkan bahwa Paulus mengalami bagian-bagian dalam dari Kristus. Ini menandakan kasih sayang dari dalam, belas kasihan yang lembut, dan simpati. Dalam kerinduannya akan orang-orang kudus Paulus bersatu dengan Kristus bahkan dalam bagian-bagian dalam Kristus yang lembut.

Ayat 7 dan 8 semestinya menjadi satu dan tidak boleh dipisahkan. Perhatikan, ayat 8 dimulai dengan kata penghubung “sebab”. Ini menunjukkan bahwa anugerah berkaitan dengan bagian-bagian dalam dari Kristus. Paulus mengambil bagian dalam anugerah, sebab dia merindukan semua orang kudus di dalam bagian-bagian dalam dari Kristus. Menikmati Kristus berarti menjadi satu di dalam bagian-bagian dalam dari Kristus itu. Ini tidak saja ditujukan kepada kenikmatan, tetapi juga memperhidupkan Kristus. Memperhidupkan Kristus berarti tinggal di dalam bagian-bagian dalam-Nya dan menikmati Dia sebagai anugerah di sana.

Di tempat lain dalam pasal ini Paulus mengatakan tentang memperbesar Kristus dan memperhidupkan Kristus. Dalam pengalaman, memperbesar Kristus dan memperhidupkan Kristus menuntut kita untuk tinggal tetap di dalam bagian-bagian dalam Kristus tersebut. Dengan perkataan yang sederhana, yaitu tinggal di dalam Dia. Jika kita ingin menjadi orang-orang yang di dalam Kristus, wajiblah kita berada di dalam bagian-bagian dalam-Nya itu. Kita perlu berada di dalam hati-Nya yang lembut dan perasaan-Nya yang halus. Jika kita tinggal di sini, kita akan menikmati Kristus sebagai anugerah dan mengalami Dia dengan cara yang sangat riil. Ketika kita mengalami Kristus dan menikmati Dia sebagai anugerah kita, kita akan ditunjang dalam menderita bagi Injil dengan menaruh perhatian kepada penggenapan ekonomi Allah di bumi.