← Daftar isi Latar Belakang dan Pokok Kitab Filipi · bab 2/22

GEREJA DI FILIPI

Pembacaan Alkitab:

Flp. 1:1-11, 19, 27; 2:1-2; 4:2, 14-18

Dalam berita ini kita akan melihat ciri-ciri tertentu dari gereja di Filipi. Filipi adalah kota utama di Propinsi Makedonia di Kekaisaran Romawi kuno (Kis. 16:12). Di kota inilah gereja pertama di Eropa didirikan, melalui perja-lanan ministri Paulus yang pertama ke Eropa (Kis. 16:10-12).

I. DIDIRIKAN DENGAN URUTAN YANG BAIK

Dalam Filipi 1:1 Paulus mengatakan, “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus. Kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para pengawas jemaat dan diaken.” Ayat ini menunjukkan bahwa gereja di Filipi didirikan dengan urutan yang baik. Perhatikan di sini Paulus mengatakan tentang “semua orang kudus . . . dengan para pengawas jemaat dan diaken.” Ini merupakan satu-satunya tempat dalam Perjanjian Baru yang mencatat ungkapan sedemikian. Paulus mengutarakan tentang orang kudus dengan para pengawas (penilik) gereja dan diaken, hal ini sangatlah bermakna. Di setiap gereja lokal, kelompok yang unik ini terdiri atas orang kudus. Orang kudus merupakan unsur gereja lokal. Di antara orang kudus terdapat para pemimpin, yang dalam Perjanjian Baru dilukiskan sebagai para penatua atau penilik. Para penilik gereja adalah para penatua dalam suatu gereja lokal (Kis. 20:17, 28). “Penatua” menunjukkan personanya, “penilik gereja” menunjukkan fungsinya. Seorang penilik gereja adalah seorang penatua dalam fungsinya. Di sini disebutkan penilik gereja dan bukan penatua, menunjukkan bahwa para penatua menunaikan kewajibannya.

Pada abad kedua, Ignatius mengajarkan bahwa para penilik (uskup) lebih tinggi daripada para penatua. Dia menyatakan bahwa para penatua bersifat lokal dan para penilik (uskup) melaksanakan kekuasaan di suatu wilayah yang lebih luas daripada satu lokal. Namun, konsepsi Ignatius sama sekali bertentangan dengan Alkitab. Kitab Perjanjian Baru menunjukkan dengan jelas bahwa penatua adalah penilik dan penilik adalah penatua. Kedua sebutan ini ditujukan kepada orang yang sama. Ketika seorang penatua melaksanakan kewajibannya dalam gereja, ia berfungsi sebagai seorang penilik. Jadi, para penilik bukanlah sekelompok orang yang berbeda dengan para penatua.

Dalam 1:1 Paulus juga menyebut para diaken. Para diaken adalah orang-orang yang melayani dalam suatu gereja lokal dan berada di bawah pengarahan para penilik gereja (1Tim. 3:8). Istilah diaken berasal dari kata Yunani diakonos (Inggrisnya deacon) yang berarti orang yang melayani.

Filipi 1:1 yang memperlihatkan sebuah gereja lokal tersusun dari orang kudus dengan para penilik sebagai yang memimpin dan para diaken sebagai yang melayani, menunjukkan bahwa gereja di Filipi mempunyai susunan atau urutan yang baik. Paulus tidak berkata, “Kepada semua orang kudus dan para penilik gereja dan diaken,” melainkan “Kepada semua orang kudus . . . dengan para pengawas jemaat dan diaken.” Preposisi bahasa Yunani yang diterjemahkan “dengan” sebenarnya berarti bersama-sama dengan. Jika Paulus menggunakan kata penghubung “dan” sebagai pengganti preposisi “dengan”, maka hal itu menunjukkan dalam sebuah gereja lokal ada tiga kelompok manusia: para orang kudus, para penilik, dan para diaken. Tetapi dia memakai kata “dengan”, maka hal ini menunjukkan di dalam gereja tidak ada tiga kelompok manusia tersebut.

Konsepsi kekristenan terorganisir dewasa ini ialah di dalam gereja harus ada orang-orang yang berbeda-beda kelas atau golongannya. Tetapi, adanya kaum beriman yang berbeda golongan dalam gereja lokal, itu bertentangan dengan Alkitab. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa dalam sebuah gereja lokal hanya ada satu kelompok, kelompok ini tersusun dari semua orang kudus.

Di bawah pimpinan Roh Kudus, Paulus menulis secara barhati-hati, yaitu memakai preposisi “dengan”, tidak memakai kata penghubung “dan”. Paulus memakai preposisi, tidak memakai kata penghubung, hal ini sangat bermakna. Ini menunjukkan bahwa di setiap lokal hanya boleh ada sebuah gereja yang mencakup semua orang kudus di tempat itu. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak menghiraukan segala perpecahan, kita telah dipulihkan kepada tumpuan semula gereja, yakni satu gereja di satu tempat, mencakup semua orang kudus sebagai satu-satunya kelompok manusia.

II. PERSEKUTUAN UNTUK MEMAJUKAN INJIL

Gereja di Filipi juga mempunyai persekutuan dengan Paulus dalam memajukan Injil. Dalam 1:5 Paulus menga-takan tentang “persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.” Persekutuan di sini berarti partisipasi, komunikasi. Istilah Yunani yang sama ini diterjemahkan “menyumbangkan” (LAI) dalam Roma 15:26, dan “memberi bantuan” dalam Ibrani 13:16. Orang-orang kudus di Filipi memiliki persekutuan dalam berita Injil, berpartisipasi dalam pemajuan berita Injil melalui ministri rasul Paulus. Partisipasi ini mencakup sumbangan keuangan mereka untuk rasul (4:10, 15-16), yang menghasilkan kemajuan dalam berita Injil. Persekutuan semacam ini, yang menjaga mereka dari sikap yang individualistis dan berbeda pendapat, menyiratkan bahwa mereka bersatu dengan Rasul Paulus dan dengan satu sama lain. Hal ini memberi dasar untuk pengalaman dan kenikmatan mereka akan Kristus, yang merupakan pokok dalam kitab ini. Hidup yang mengalami dan menikmati Kristus adalah hidup dalam kemajuan berita Injil, hidup yang memberitakan Injil, bukan bersifat individualistis, melainkan bersifat korporat. Karena itu, ada persekutuan untuk kemajuan berita Injil. Semakin banyak persekutuan kita dalam kemajuan berita Injil, semakin banyak pula Kristus yang kita alami dan nikmati. Hal ini membunuh ego, ambisi, kesukaan, dan pilihan kita.

Ketika kaum beriman Filipi berpartisipasi dalam memajukan Injil, dalam memajukan pergerakan Allah di bumi sesuai dengan ekonomi-Nya, mereka beroleh bagian dalam anugerah bersama Paulus. Orang-orang yang mengambil bagian dalam anugerah adalah mereka yang berpartisipasi dan menikmati Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai anugerah. Rasul adalah orang yang demikian dalam membela dan meneguhkan Injil, dan orang-orang kudus di Filipi menjadi para pengambil bagian bersama dengan dia dalam anugerah ini. Anugerah berarti Allah Tritunggal melalui berbagai proses menjadi kenikmatan kita. Dengan mempersekutukan diri ke dalam Injil bersama Paulus, maka orang-orang Filipi telah menikmati anugerah tersebut. Menurut ungkapan bahasa Yunani, mereka mengambil bagian bersama dalam anugerah Paulus, menikmati anugerah yang Paulus nikmati.

Gereja di Filipi juga berdoa bagi Paulus (1:19), membuat sukacitanya sempurna dan menyebabkan dia bersukacita (2:1-2), dan menyuplaikan keperluan materinya. Tidak diragukan, gereja ini sangat baik.

III. ADA PERBEDAAN PENDAPAT

DI ANTARA MEREKA SENDIRI

Walau gereja di Filipi terbangun dengan urutan yang baik dan mempunyai persekutuan dengan Paulus dalam memajukan Injil, tetapi di antara mereka masih ada perbedaan pendapat. Dengan ini kita tahu bahwa perbedaan pendapat sangatlah sulit dihindari, dapat timbul di mana saja dan kapan saja. Sumber perbedaan pendapat ialah opini kita. Semua opini berasal dari pikiran, yaitu bagian utama jiwa. Dalam Kitab Filipi, Paulus sering menyinggung jiwa, pikiran dan angan-angan. Dalam 1:27 ia menggunakan ungkapan “sejiwa”, dan dalam 2:2 ada ungkapan “satu jiwa”. Dalam 2:20 ia menggunakan istilah “sepikir”.

Kita yang ada dalam hidup gereja hari ini harus bersatu di dalam jiwa. Orang-orang Kristen sering mengatakan tentang bersatu di dalam Tuhan atau barsatu di dalam Roh, tetapi pernahkah Anda mendengar kaum beriman mengatakan bersatu di dalam jiwa? Kecuali kita mencapai kesatuan dalam jiwa, tidak ada kesatuan yang riil. Kesatuan kita akan ibarat berjabat tangan di atas dinding. Orang-orang Kristen membicarakan soal kesatuan, namun mereka tetap berpegang pada opini-opini mereka yang berbeda. Konsepsi Paulus tentang kesatuan sangat berbeda. Dalam Kitab Filipi ia menjelaskan bahwa kita harus bersatu di dalam jiwa.

Agar menjadi satu dalam jiwa, perlulah kita diubah dan diperbarui dalam pikiran kita. Roma 12:2 mengatakan tentang diubah oleh pembaruan budi (pikiran). Pikiran Anda mungkin sekali sangat usang, hal ini bahkan mungkin terdapat di kalangan kaum muda. Tetapi jika pikiran Anda telah diperbarui, pikiran Anda akan menjadi baru dan segar, sekalipun Anda mungkin sudah tua. Saya dapat bersaksi bahwa Kristus sama sekali tidak pernah membengkokkan pikiran saya, tetapi Dia benar-benar telah memperbaruinya.

Satu alasan dari keusangan dalam pikiran kita ialah kita mengingat-ingat ketidaknyamanan yang sudah lam-pau. Beberapa tahun yang lalu mungkin ada satu hal yang terjadi pada diri Anda, tetapi Anda tetap enggan melupakannya. Ini berarti dalam hal khusus itu Anda tidak memberikan pengampunan, sebab pengampunan yang sejati berarti melupakan masalah tersebut. Karena beberapa orang kudus mengingat-ingat berbagai kesalahan yang lampau, maka pikiran mereka menjadi usang. Jika pikiran kita usang, hal itu akan menjadi problem dan menjerumuskan kita ke dalam perbedaan pendapat. Sebab itu, kita semua wajib memperbarui pikiran.

Satu-satunya cacat dalam gereja di Filipi ialah perbedaan pendapat yang diakibatkan oleh opini yang berbeda-beda. Dalam 4:2 Paulus mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” Kedua saudari yang memimpin ini adalah rekan sekerja Paulus, tetapi mereka tidak sehati sepikir. Perbedaan pikiran mereka mungkin bukan mengenai masalah sekuler, melainkan mengenai pergerakan Allah di bumi. Mereka mempunyai opini yang berlainan dalam jiwa mengenai pergerakan Allah. Karena mereka tetap bersatu di dalam roh, kedua saudari tersebut tidak terpecah belah. Tetapi dalam prakteknya di antara mereka terdapat perbedaan pendapat karena perbedaan konsepsi mereka. Perbedaan pendapat itu adalah satu kekurangan dalam gereja di Filipi yang sangat baik itu. Sebagai akibat perbedaan pendapat di antara mereka itu, maka orang-orang kudus di Filipi menjadi tidak sehati sejiwa dalam memberitakan Injil (1:27).

Dalam 2:2 dan 4:2 kita nampak orang-orang kudus di Filipi tidak sehati sepikir, tidak satu kasih, tidak satu jiwa, dan tidak satu tujuan. Situasi orang-orang tertentu dalam pemulihan hari ini juga demikian. Orang-orang ini telah didapatkan oleh Tuhan untuk pemulihan-Nya. Mereka mengetahui tumpuan gereja dan menghormati tumpuan keesaan ini. Akan tetapi mereka tidak sehati sepikir seperti orang-orang kudus lainnya; mereka tidak memiliki satu kasih, dan satu jiwa. Mereka dapat mengatakan dengan sesungguhnya bahwa mereka bersatu dengan semua orang kudus dalam roh, tetapi mereka tidak dapat mengatakan bahwa mereka bersatu di dalam jiwa, yaitu memikirkan hal yang sama, bahkan memikirkan satu hal.

Apa artinya sehati sepikir dan memikirkan satu hal? Kedua ungkapan ini tercantum dalam 2:2. Dalam 4:2 Paulus menasihati Euodia dan Sintikhe untuk sehati sepikir. Hal yang sama adalah Kristus itu sendiri, dan satu hal itu ialah mencari Kristus untuk memperoleh Dia, menangkap-Nya, dan memiliki-Nya. Kita tidak boleh menganggap sesuatu yang bukan Kristus sebagai “hal yang sama” yang dikatakan Paulus di sini. Banyak kelompok orang Kristen mempunyai sesuatu yang mereka anggap sebagai “hal yang sama”. Tetapi menurut Paulus, “hal yang sama” ini ialah Kristus, dan “satu hal” itu berarti mencari Kristus untuk memiliki-Nya. Konteks Kitab Filipi menerangkan hal ini dengan jelas sekali.

Memikirkan hal yang sama — Kristus, dan satu hal — mencari Kristus untuk memperoleh Dia, membuat pikiran kita ditanggulangi dan diperbarui. Diperbarui dalam pikiran kita berarti mengalami suatu perubahan metabolis yang di dalamnya semua unsur usang dikeluarkan dan unsur baru disuplaikan. Ada sesuatu dari Kristus yang diinfuskan ke dalam diri kita untuk mengeluarkan unsur usang dan menggantikannya. Proses inilah yang membuatnya pikiran kita diperbarui. Pada diri kaum muda juga terdapat banyak hal yang usang yang perlu dikeluarkan dan diganti dengan unsur Kristus.

Kita perlu membiarkan Kristus menjadi unsur-unsur yang positif di dalam kita yang membuat pikiran kita diperbarui. Sementara banyak orang memakai kepintaran alamiah mereka secara negatif, misalkan menggunakannya untuk memperhatikan kesalahan-kesalahan atau hal-hal negatif lainnya, maka kita harus terdorong untuk menaruh pikiran kita ke atas Kristus, dan membiarkan pikiran kita diduduki oleh Kristus. Jika pikiran kita tidak diperbarui, akan ada perbedaan pendapat di tengah-tengah kita seperti halnya di antara beberapa orang kudus Filipi. Karena mereka berpegang pada pikiran alamiah serta keusangannya, maka cacat ini timbul di antara mereka.

IV. PERLU LEBIH BANYAK

PENGETAHUAN DAN PENGERTIAN

A. Dalam Kasih yang Melimpah

Keunggulan tulisan Paulus terlihat dalam cara dia tidak secara langsung menunjukkan kekurangan orang kudus Filipi. Dia tidak berkata, “Orang-orang Filipi yang terkasih, aku ingin kalian mengetahui bahwa kalian kekurangan kasih.” Tidak, dalam 1:9 dia berkata, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa kasih mereka tidak cukup, tidak memadai. Paulus mengakui bahwa kaum beriman Filipi memiliki sejumlah kasih, tetapi kasih itu masih perlu diperlimpah lebih banyak lagi.

Sangat bermakna sekali Paulus berdoa agar kasih me-reka makin melimpah “dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.” Kaum beriman Filipi memiliki banyak kasih, tetapi kasih mereka perlu makin berlimpah, meluap, tidak secara bodoh, tetapi dalam pengetahuan yang penuh, bukan dalam ketidaktahuan, melainkan dalam segala macam pengertian, agar mereka dapat membuktikan melalui pengujian hal-hal yang berbeda dan yang lebih unggul. Hal ini mencakup membedakan berbagai macam pemberitaan Injil dalam 1:15-18 dan atas berbagai macam orang dalam 3:2-3.

Paulus tidak berdoa agar kasih orang-orang Filipi semakin melimpah dalam kegairahan, atau dalam maksud, atau dalam hati yang baik. Seperti kita semua ketahui, kasih berkaitan dengan emosi. Tetapi Paulus berdoa agar kasih mereka semakin melimpah dalam pengetahuan yang penuh dan dalam segala macam pengertian; kedua hal ini berkaitan dengan pikiran. Menurut pengalaman manusia pada umumnya, kasih itu buta. Ketika seseorang menjaga dirinya untuk memiliki pikiran yang jernih, menjadi ia tenang, cerah, dan banyak pengetahuan, kasih akan lenyap. Mengasihi seolah-olah tidak mungkin hidup bersama dengan memiliki pikiran yang jernih. Seorang saudara mengasihi istrinya secara bodoh, atau pengertiannya cerah dan pikirannya jernih, namun dingin dalam hal mengasihi istrinya.

Paulus berdoa supaya kasih kita semakin melimpah dalam pengetahuan yang penuh dan segala macam pengertian. Kata “pengertian” di sini dalam bahasa Yunaninya berarti perasaan yang peka dan kebijaksanaan moral. Pengertian di sini menyatakan kemampuan untuk merasakan atau memahami sesuatu. Paulus tidak menginginkan orang-orang Filipi mengasihi secara bodoh, sebaliknya, dia menganjuri mereka untuk mengasihi dengan pikiran yang penuh pengetahuan dan pengertian, persepsi yang tajam, dan kebijaksanaan moral.

Pengetahuan dan pengertian yang dibicarakan Paulus dalam 1:9 sebenarnya adalah Kristus itu sendiri. Bila kita mengalami Kristus, Dia akan menjadi pengetahuan dan pengertian kita. Sebab musabab kurangnya pengetahuan dan pengertian untuk membedakan macam-macam pemberitaan ialah karena kita kurang mengalami Kristus.

B. Pengertian untuk Membedakan Berbagai Pemberitaan Kristus

dan Orang-orang yang Berbeda

Menurut konteks 1:9, maksud Paulus ialah bahwa orang-orang Filipi perlu pengetahuan dan pengertian untuk membedakan pemberitaan Paulus dengan pemberitaan para penganut agama Yahudi. Hari ini kita juga perlu pengertian untuk membedakan di antara sekian banyak pemberitaan yang berbeda-beda. Di antara orang-orang Kristen hari ini terdapat banyak cara memberitakan Kristus yang berbeda-beda. Memang ada unsur-unsur tertentu yang baik dalam semua cara tersebut. Jika sama sekali tidak ada unsur-unsur yang baik dalam satu cara pemberitaan, pasti tidak ada orang yang ingin memperhatikannya. Tetapi walaupun cara-cara pemberitaan Kristus yang berbeda-beda itu memiliki ciri-ciri tertentu yang bersifat positif, kita harus bertanya lagi apakah pemberitaan itu untuk ekonomi Allah dan untuk pergerakan-Nya di bumi hari ini. Paulus memahami sedalam-dalamnya bahwa ada beberapa orang Filipi telah diselewengkan oleh pemberitaan para penganut agama Yahudi. Dalam ayat-ayat ini Paulus seolah-olah berkata, “Orang-orang Filipi, ada orang-orang tertentu di antara kalian yang telah diselewengkan dari ekonomi Allah oleh pemberitaan para penganut agama Yahudi. Aku setuju bahwa kalian perlu mengasihi orang-orang itu. Tetapi, kasih kalian harus semakin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. Janganlah mengasihi orang secara bodoh, tetapi kasihilah dengan wajar, dengan pengetahuan dan persepsi yang tajam.”

Pengertian di sini adalah kekuatan memahami, kemampuan memahami segala perkara secara tajam. Beberapa pengkhotbah kenamaan mungkin berpengetahuan banyak dan fasih bicara. Tetapi jika kita mempunyai pengertian ini, kita akan paham bahwa sasaran pemberitaan mereka adalah memajukan pekerjaan mereka sendiri, bukan mengembangkan ekonomi Allah. Agar memiliki pengertian untuk membedakan pemberitaan orang-orang dengan cara yang demikian, perlulah kita lebih banyak mengalami Kristus. Hanya pengalaman akan Kristuslah yang dapat membuat kasih semakin melimpah di dalam kita dalam pengetahuan yang benar dan segala macam pengertian. De-ngan disuplai oleh kasih yang sedemikian ini, kita akan mengasihi orang lain, namun bukan secara bodoh.

Tidak diragukan, ada beberapa orang kudus di Filipi yang mengapresiasi pemberitaan para penganut agama Yahudi. Karena itu, Paulus berdoa agar kasih mereka terhadap orang-orang sedemikian itu harus berlimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. Dia menganjuri orang-orang Filipi untuk mengasihi, tetapi mengasihi dalam pengetahuan yang penuh dan dalam pengertian, bukan dalam kebebalan dan kebutaan.

C. Menguji dengan Kemurnian dan Tanpa Cacat

Paulus juga berdoa supaya orang-orang Filipi dapat “membuktikan apa yang berbeda dan yang lebih unggul” (ayat 10, Tl.); LAI: “memilih apa yang baik”; dan agar me-reka “suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.” Kata “suci” di sini dalam bahasa aslinya berarti dihakimi oleh sinar matahari, yaitu telah diuji dan ternyata asli; karena itu, murni, dan tulus. “Tak bercacat” berarti tidak menyakiti hati, tidak menyandung orang lain. Dalam membedakan sesuatu kita perlu murni. Khususnya, motivasi dalam hati kita harus murni. Jika tidak, kita akan melukai atau menyandung orang lain. Membedakan sesuatu secara murni tanpa cacat tidaklah mudah. Hal ini sangat tergantung pada motivasi kita.

D. Melalui Mengalami Kristus

Menghasilkan Buah Kebenaran

Dalam ayat 9-10 Paulus berdoa untuk orang-orang Filipi atas tiga hal: agar kasih mereka semakin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian; agar mereka dapat membuktikan dengan menguji apa yang berbeda dan yang lebih unggul; dan agar mereka menjadi suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus. Rahasia ketiga hal ini tercantum dalam ayat 11, di mana Paulus mengatakan, “Penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Menurut tata bahasa, ayat 11 merupakan satu penjelasan yang berkaitan dengan ketiga hal yang didoakan Paulus. Setelah dipenuhi dengan buah kebenaran, maka orang-orang Filipi dapat melimpah di dalam kasih, dapat membuktikan dengan menguji semua hal, dan dapat menjadi suci dan tak bercacat. Ini menunjukkan bahwa dipe-nuhi dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus merupakan syarat yang sangat penting bagi ketiga hal tersebut. Untuk membuat kasih kita semakin melimpah, untuk membuktikan dengan menguji apa yang berbeda, dan untuk menjadi suci dan tak bercacat, pertama-tama kita harus dipenuhi dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Ayat 11 sebetulnya ditujukan kepada pengalaman akan Kristus. Sekali lagi kita nampak bahwa kuncinya adalah mengalami Kristus. Kita tahu bahwa ayat 11 mengacu kepada pengalaman akan Kristus disebabkan adanya frase “dikerjakan oleh Yesus Kristus”. Buah kebenaran itu dikerjakan oleh Yesus Kristus; kita peroleh melalui pengalaman kita atas Kristus. Dari Kristus yang kita nikmati dan alami itulah kita menghasilkan buah kebenaran. Semakin kita mengalami Kristus, pengalaman ini akan semakin menghasilkan buah kebenaran. Buah kebenaran merupakan produk hidup dari suatu kehidupan yang wajar dengan satu kedudukan yang benar di hadapan Allah maupun manusia. Hal ini tidak dapat dihasilkan oleh manusia alamiah kaum beriman untuk kebanggaan mereka, melainkan oleh Yesus Kristus untuk kemuliaan dan kepujian bagi Allah. Karena itu, kasih kita harus semakin melimpah dengan cara yang sesuai dengan ekonomi Allah. Jika kita mengalami Kristus, kasih kita pasti akan semakin melimpah, kita akan membuktikan dengan menguji, dan kita akan menjadi murni tanpa cacat.