← Daftar isi Kehidupan Pemulihan Tuhan Hari ini ¾ Mengalami Salib · bab 2/6

MENGALAMI SALIB ¾ BAGI PEMULIHAN TUHAN HARI INI MENEMPUH KEHIDUPAN MANUSIA ALLAH (2)

C. Kita harus mematikan aspek-aspek baik hayat alamiah kita, termasuk kebudayaan, ciri-ciri suku bangsa, filsafat nasional, dan etika filsafat kita ¾ Flp. 3:3~7 :

I. Memustikakan dan melindungi bagian hayat alamiah kita, terhadap pengalaman atas Kristus menyebabkan kesulitan yang sangat berat.

II. Ciri-ciri suku bangsa kita adalah sebuah batu besar, menghalangi bebasnya kuat kuasa kebangkitan Kristus.

III. Semua perihal ini mungkin sangat baik, tetapi bukan di dalam kebangkitan, juga bukan di dalam ciptaan baru.

D. Kita harus secara subyektif mengalami salib, yaitu perlu ada visi Kristus ¾ Mat. 16:16~17; Kol. 3:11 :

I. Kristus yang kita lihat, haruslah menjadi unsur yang mengendalikan di dalam kita.

II. Tatkala kita melihat kedambaan unik Allah adalah Kristus dan gereja, maka segala sesuatu di luar Kristus akan tertanggalkan.

III. Mau melihat visi ini, kita harus ada hati yang merendah, pikiran yang terbuka, bahkan miskin di dalam roh.

Cuplikan Berita Ministri

Sangat mudah bagi kita untuk mengetahui bahwa hal-hal materi dapat menjadi pengganti Kristus dalam kehidupan kita atau dapat mengganggu kita dalam menikmati Kristus, tetapi tidaklah mudah mengetahui bahwa hal-hal yang bukan materi, seperti agama, filsafat dan budaya, juga dapat menjadi pengganti Kristus. Sepanjang tahun-tahun ini, saya telah menjumpai banyak orang rohani dari berbagai bangsa; mereka benar adalah penuntut-penuntut Tuhan. Namun, walau mereka telah mencapai kemajuan rohani pada tingkat tertentu, hampir tidak ada seorang pun yang tidak hidup dalam budaya nasional mereka. Sebagai contoh, di antara semua penuntut Kristus yang sejati di China, sedikit sekali yang tidak hidup dalam filsafat etika China. Filsafat ini telah tergarap ke dalam mereka. Karena alasan ini, maka bahkan orang Kristen yang terbaik pun tidak lepas dari pengaruhnya. Ini tidak berarti, ajaran-ajaran etika itu salah. Ajaran-ajaran itu telah melindungi orang-orang China berabad-abad lamanya. Masalah utamanya ialah, ajaran-ajaran etika itu bukan Kristus sendiri. Allah tidak menghendaki kita hidup menurut ajaran-ajaran etika tertentu. Etika bukan bagian dari ciptaan baru, bukanlah yang dari Kristus, bukan dari Roh, atau hayat kebangkitan. Segala sesuatu yang dari Kristus, pasti berada dalam kebangkitan, dalam ciptaan baru, dan milik Roh.

Mengenai hal ini, saya merasa prihatin terhadap banyak orang kudus dalam pemulihan Tuhan. Walaupun mereka telah berada di bawah ministri ini bertahun-tahun lamanya, tetapi masih tidak memiliki daya pemdeda yang wajar dalam membedakan etika filosofis dengan Kristus. Tidak hanya demikian, bahkan mereka yang memiliki daya pembeda pun mungkin tanpa disadari atau di bawah sadar masih lebih banyak hidup di dalam lingkungan etika daripada di dalam Kristus. Etika-etika kita boleh jadi sangat baik, tetapi kehidupan etika yang sedemikian bukan kehidupan dalam kebangkitan, itu tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus, Roh, atau ciptaan baru.

Saya dapat bersaksi bahwa oleh belas kasih Tuhan, saya bias membedakan Kristus dengan etika. Kristus sama sekali berbeda dengan etika China. Kristus tidak ada hubungannya dengan etika, dan etika juga tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus. Tetapi, meskipun saya memiliki daya pembeda ini, saya tidak yakin bahwa dalam kehidupan sehari-hari saya tidak berada dalam ruang lingkup etika dan sepenuhnya berada dalam Kristus. Mungkin saja, setidak-tidaknya dalam tingkat tertentu, saya masih berada di bawah pengaruh ajaran-ajaran etika. Hanya pada waktu saya benar-benar dibawa ke dalam kebangkitan dan keterangkatan, barulah saya yakin bahwa saya sepenuhnya berada di dalam Kristus. Pada saat ini, saya hanya dapat bersaksi bahwa saya memiliki daya pembeda, tetapi ini tidak berarti saya telah hidup di luar ruang lingkup etika, dan sepenuhnya di dalam Kristus. Tidak disangsikan, ajaran-ajaran etika memang sangat baik, tetapi ajaran-ajaran ini bukan Kristus. Langkah pertama untuk tidak hidup di dalam etika melainkan hidup di dalam Kristus sendiri ialah mengembangkan daya pembeda untuk membedakan etika dengan Kristus.

Pengaruh etika terhadap orang-orang China sama dengan pengaruh berbagai budaya terhadap orang-orang Kristen di berbagai negara. Beberapa tahun yang lampau saya diundang ke suatu tempat di Inggris sebagai tamu kehormatan. Orang-orang Kristen di tempat itu terkenal dengan kerohaniannya. Ketika saya berada di sana, saya memperhatikan bahwa kehidupan kaum saleh di tempat itu sangat menuruti diplomasi orang Inggris, teristimewa para penatuanya. Mereka taat kepada penatua kepada. Ketika mereka kumpul bersamanya, mereka baik-baik dan sopan. Tetapi mereka juga sering membicarakannya secara negatif. Walaupun tempat itu merupakan sumber berbagai buku-buku rohani, tetapi kaum beriman di sana sebenarnya tidak seberapa menyatakan kerohanian yang sejati. Sebaliknya, mereka hidup menurut pola diplomasi mereka. Mereka benar-benar mengasihi Tuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka mempraktekkan diploasi, bukan hidup di dalam Kristus. Seperti halnya etika filosofis China telah tergarap ke dalam darah orang-orang China, demikian pula diplomasi Inggris telah tergarap ke dalam diri kaum beiman Inggris.

Saya menggunakan ilustrasi-ilustrasi ini untuk menunjukkan satu fakta, yaitu tidak peduli betapa sungguh-sungguh kaum beriman menuntut Tuhan, mereka tetap berada di bawah pengaruh ciri-ciri suku bangsa mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lebih banyak dipengaruhi oleh budaya mereka daripada oleh Kristus. Ketika Paulus berkata bahwa ia menganggap segalanya rugi, maksudnya tidak semata-mata ditujukan kepada hal-hal materi, tetapi juga kepada hal-hal seperti agama, filsafat, dan budaya. Kita mungkin rela menganggap hal-hal materi rugi karena Kristus, tetapi tidak demikian dengan budaya atau ciri-ciri suku bangsa kita. Tetapi agama, budaya, dan ciri-ciri suku bangsa adalah hal-hal yang dianggap Paulus sebagai sampah demi memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia. Hal-hal itu mungkin sangat baik, tetapi semua itu tidak berada dalam kebangkitan dan ciptaan baru. Tambahan pula, semua itu bukan milik Kristus dan Roh itu.

Kebanyakan orang Kristen hanya mematikan aspek-aspek negatif dari hayat alamiah mereka. Mereka memustikakan aspek-aspek baiknya dan berusaha melindunginya. Setiap bangsa memustikakan ciri-ciri dan filsafat nasional mereka masing-masing. Orang China mungkin membanggakan diri mereka atas etika-etika filasafat mereka, sedangkan orang Amerika mungkin membanggakan keterusterangan dan keterbukaan mereka. Hampir tidak ada orang Kristen yang mau membuang ciri-ciri suku bangsa mereka guna memperhidupkan hayat ilahi. Walau kita mungkin mau mematikan banyak hal yang lain, tetapi kita mempertahankan ciri-ciri suku bangsa kita sebagai mustika yang tidak ternilai. Jika kita tidak memustikakan ciri-ciri secara sadar, mungkin kita memustikakannya di bawah sadar. Akibatnya, unsur dasar dari hayat alamiah kita tidak dimatikan. Unsur ini kemudian menjadi batu besar yang menghambat terbebaskannya kuasa kebangkitan Kristus dari batin kita.

Memustikakan sebagian dari hayat alamiah kita akan menciptakan satu problem yang serius dalam hal mengalami Kristus. Kita tidak mau membiarkan bagian tertentu dari diri kita diletakkan ke dalam maut dan menjadi serupa dengan kematian Kristus. Karena itu, bagian dari hayat alamiah ini bercokol terus sebagai satu gangguan terhadap pembebasan hayat ilahi. Itulah alasannya, setelah kita menuntut Tuhan dan mengalami Dia bertahun-tahun lamanya, kita mencapai suatu tahap di mana kita merasa diri kita berhenti dan tidak dapat maju lagi. Pada tahap awal hidup kristiani kita, mungkin kita telah bertumbuh agak pesat, tetapi karena masih ada “batu karang” ciri-ciri suku bangsa kita dalam batin kita, maka sekarang pertumbuhan hayat kita menjadi terhenti. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa situasi kita memang demikian.

Ada orang-orang kudus yang cukup lama dihentikan oleh “batu-batu karang” ini. Tahun demi tahun telah berlalu, tetapi mereka tetap tidak berubah. Mereka tidak mengalami kemajuan rohani sedikit pun. Alas an kekurangan ini ialah mereka tidak mematikan ciri-ciri suku bangsa mereka dan tidak menganggapnya sampah. Orang-orang kudus ini mungkin mau menganggap hal-hal lainnya sebagai sampah, tetapi tidak menganggap ciri-ciri suku bangsa mereka demikian. Ada orang-orang yang menyatakan bahwa mereka menganggap segalanya sampah, tetapi setidak-tidaknya hal yang satu ini tidak, dan masih tersembunyi di batin mereka. Semoga Tuhan menerangi kita, agar kita nampak kekurangan kita dan alasan kekurangan tersebut.

Penyebab kekurangan kemajuan kita ialah kita tidak menjadi serupa dengan kematian Kristus secara penuh. Beberapa tahun yang lalu mungkin Anda lebih banyak menjadi serupa dengan kematian Kristus daripada hari ini. Karena Anda tidak ada kemajuan dalam menjadi serupa dengan kematian Kristus, maka pertumbuhan hayat Anda telah berhenti, dan pengalaman Anda atas kuasa kebangkitan Kristus menjadi sangat terbatas. Hal inilah yang menghambat Anda untuk mengalami Kristus dengan lebih jauh dan lebih tinggi. Karena itu, Anda tidak dapat mengatakan pengalaman-pengalaman yang mutakhir, malah beruaha hidup dengan pengalaman-pengalaman Anda yang lampau, dan mengisahkannya berulang-ulang. (Pelajaran Hayat Surat Filipi)