← Daftar isi Penghidupan Gereja yang Normal · bab 8/9

MASALAH KEUANGAN

Ada satu fakta yang ajaib dalam kitab Kisah Para Rasul, yakni hampir semua masalah yang berkaitan dengan rasul utusan Allah yang keluar bekerja bagi Allah, tercatat dengan terinci, tapi masalah yang dianggap paling besar oleh manusia - masalah keuangan - malah tidak disinggung sepatah katapun. Kita sama sekali tidak nampak siapakah yang menanggung kewajiban pekerja atas keperluan pribadi maupun kebutuhan pekerjaannya, dan bagaimana cara pengaturan dan penentuannya. Kebungkaman dalam hal ini sungguh ajaib! Ini menunjukkan kepada kita, bahwa masalah yang dianggap paling penting oleh manusia, pada pandangan rasul masa itu sama sekali bukan masalah. Karena orang-orang yang keluar bekerja untuk Tuhan waktu itu semuanya adalah orang yang terdorong oleh kasih Tuhan. Mereka pergi bekerja bagi Tuhan sepenuhnya karena mengasihi Tuhan semata. Pada saat itu, pekerjaan Allah belum merosot menjadi semacam pekerjaan mencari nafkah. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Allah. Mereka mengenal kesetiaan Allah, mereka bersandar kepada kasih setia Allah. Sebab itu, mereka sama sekali tidak meributkan masalah ini. Orang yang benar-benar beriman memang tidak perlu membicarakan masalah ini.

Tetapi masalah ini memang sangat penting. Dalam kasih karunia, Allah adalah kekuatan paling besar; tetapi di dalam dunia, Mamonlah pengaruh/kekuatan yang paling besar. Manusia memerlukan sandang, pangan, papan, dan sebagainya. Tanpa uang, sehari pun sukar dilalui. Karena itu bila pekerja Allah tidak bisa menyelesaikan masalah keuangan, hal-hal lain nyaris tak terselesaikan. Bila masalah keuangan sudah beres, hal-hal yang lain nyaris sudah beres lebih dari separuh. Sikap mereka terhadap masalah suplai menjadi petunjuk sudahkah mereka menerima amanat di hadapan Allah. Berhubung pekerjaan bersifat rohani, maka cara suplainya juga harus rohani. Jika tidak, pekerjaan yang rohani akan menjadi urusan duniawi. Kalau perihal uang tidak diatasi dengan jelas, segala perkara lainnya pasti hanya bersifat idealistis. Sebab dalam pekerjaan, tidak ada satu hal yang lebih riil daripada masalah suplai. Apa saja mungkin idealistis, tetapi masalah keuangan ini tak mungkin idealistis. Maka masalah ini paling ampuh untuk menguji seorang pekerja.

PENTINGNYA HIDUP BERIMAN

Bagi pekerja yang dipanggil Allah, apa pun jenis ministri yang dimilikinya, ia harus mempunyai iman untuk menanggung kewajiban keuangan atas dirinya sendiri dan pekerjaannya. Dalam Alkitab tidak pernah ada perkara pekerja Allah menerima gaji dari orang. Anda tidak nampak Paulus membuat perjanjian atau kontrak dengan gereja di Efesus yang menetapkan selama setahun atau dua tahun mereka harus membayarnya sekian dinar per minggu atau per bulan. Pada masa itu, kejadian demikian sama sekali tidak terbayangkan dalam pikiran. Dalam Perjanjian Lama hanya ada Bileam yang pernah mengkomersialkan karunia nabinya, dan hanya ada Gehazi yang loba untuk memperoleh imbalan karena pekerjaan tuannya, tapi karena itu kemudian ia terkena penyakit kusta (II Raja-raja 5:27). Dalam Alkitab tak pernah ada seorang hamba Allah yang menuntut gaji kepada orang. Semua pekerja yang melayani Allah bisa bekerja (untuk memenuhi kebutuhan keuangan) - itu paling baik -, atau bisa memiliki sumber pendapatan lain, itu pun baik. Jika tidak, ia harus menengadah kepada Allah untuk menyuplai keperluannya. Seorang pekerja tidak boleh menengadah kepada seseorang atau suatu kelompok agar menggajinya secara rutin. Kedua belas rasul pertama dalam Alkitab semuanya menengadah kepada suplai Allah. Selama tiga tahun mengikuti Tuhan, mereka tidak menerima gaji tetap. Para rasul yang diutus Roh Kudus sesudah kenaikan Tuhan juga hidup oleh iman kepada Allah, mereka tidak pernah mengandalkan seseorang sebagai donatur. Maka, para rasul hari ini pun harus menengadah kepada Allah sama seperti para rasul semula itu.

Jika seseorang bisa beriman kepada Allah, barulah ia boleh keluar bekerja. Jika ia tidak beriman kepada Allah, ia tidak memenuhi syarat bekerja bagi Allah. Manusia selalu mengira, jika hidupnya sudah tenang, ia akan lebih mantap dalam mengerjakan pekerjaan Allah. Padahal, pekerjaan rohani justru memerlukan kondisi hidup yang tidak stabil, sebab pekerjaan rohani berbeda dengan pekerjaan duniawi. Melakukan urusan duniawi cukup asal Anda mempunyai kemampuan dan kemauan. Tetapi pekerjaan rohani memerlukan persekutuan dengan Allah, wahyu kehendak Allah dan pemeliharaanNya dari sorga. Bila hidup seseorang makin stabil, makin berkuranglah hatinya menengadah kepada Allah. Ia akan tidak butuh bersekutu secara hidup dengan Allah, melainkan mengandalkan karunia dan kegairahannya belaka. Tetapi Allah tidak mengijinkan hambaNya menerima gaji tetap supaya hidupnya stabil, melainkan menghendakinya selalu menengadah kepadaNya, selalu bersandar kepadaNya, selalu bersekutu denganNya, selalu menuntut untuk mengenal kehendakNya dan mendambakan pemeliharaanNya dari sorga. Dengan demikianlah baru ia dapat mengerjakan pekerjaan yang baik bagi Allah. Bila hidupnya semakin sulit dan bisa semakin menengadah dan bersekutu dengan Allah, niscayalah kualitas pekerjaannya akan semakin rohani. Kebuntuan jalan manusia adalah jalan keluar bagi Allah. Dalam pekerjaan rohani makin sedikit unsur manusia makin baik, makin banyak unsur Allah makin baik. Orang yang hidupnya mengandalkan gaji, unsur Allah dalam pekerjaannya pasti sangat sedikit. Itu dikarenakan bila seseorang memiliki pendapatan tetap, ia akan malas bersandar kepada Allah.

Manusia selalu berpikir, "Jika aku setiap bulan menerima pendapatan tetap, sehingga hidupku bisa lebih stabil, tentu aku bisa bekerja lebih tekun." Padahal ini bukan syarat utama bagi pekerjaan. Ini tidak saja tidak bisa membantu pekerjaan, malah sebaliknya akan merusak/merugikan pekerjaan. Pekerjaan tidak dapat dilakukan tanpa beriman. Entah berapa banyak perkara yang perlu kita atasi dengan iman. Tanpa iman yang hidup, pekerjaan kita mustahil sukses. Namun iman kita terhadap pekerjaan terlatih dan terbina melalui kekurangan dan suplai jasmani. Ini disebabkan tidak ada satu perkara yang lebih riil daripada suplai kebutuhan hidup kita. Mungkin dalam urusan lain kita gampang berkata, bahwa kita percaya kepada Allah, tetapi dalam urusan nafkah, kita tidak dapat, sebab ini adalah perkara yang amat riil. Jika dalam hal ini kita bisa beriman kepada Allah, maka dalam perkara lain pun kita bisa beriman kepada Allah. Ini benar-benar ujian besar bagi iman kita. Jika mulut kita dapat berkata bahwa Allah adalah Allah yang hidup selamanya, tapi dalam hati kita tidak bisa percaya, bahwa Dia mampu menyuplai kebutuhan jasmani kita, bukankah itu suatu kontradiksi?

Lagi pula, uang adalah kekuasaan. Barangsiapa memegang pundi uang, dialah yang berkuasa. Uang bisa mengendalikan orang. Bila kita menerima suplai keuangan dari seseorang, pekerjaan kita pun akan dikendalikan olehnya. Bila kita mendengar suara uang orang, tak lama lagi kita pun akan mendengar suara perkataannya. Di dunia ini tidak ada orang yang menerima uang orang tanpa menerima pengaturannya. Maka begitu iman kita bertumpu pada seseorang, sejak saat itu pula kita tidak mungkin melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak dipengaruhi orang. Kesulitan hari ini ialah, di samping ingin mendapatkan uang dari manusia, orang juga ingin melakukan pekerjaan Allah. Akibatnya, ia tidak disenangi manusia juga tidak diperkenan Allah. Hari ini, kita sangat sulit menemukan seseorang yang menerima gaji dari manusia, tapi tidak terpengaruh oleh manusia dan bisa bekerja dengan tekun bagi Allah. Bila kita menerima uang, kita pun akan menerima pengaturan dari pemberinya. Ini sudah pasti.

Allah tidak ingin pekerjaNya dikendalikan manusia, Allah ingin Dia sendiri yang mengendalikan pekerjaNya. Mereka yang berpengalaman di antara kita tahu, betapa Roh Kudus Allah menguasai kita melalui uang. Ketika kita hidup di dalam kehendak Allah, terpenuhinya kebutuhan kita tidak jadi masalah. Tetapi bila hubungan kita dengan Allah mengalami hambatan, suplai kita pun akan jadi masalah. Allah memakai masalah suplai sebagai petunjuk apakah kita berada di jalan kehendakNya atau bukan. Seringkali Allah juga dengan masalah suplai membimbing pekerjaan kita. Banyak perkara yang menurut angan-angan kita harus kita kerjakan, tetapi Allah menghalanginya dengan masalah keuangan. Di saat lain Allah dengan hal ini pula melarang kita agar kita tidak keluar dari relNya. Hidup di hadapan Allah dan dikendalikan olehNya sedemikian adalah hidup yang sangat mustika! Bila kita tidak menempuh hidup bersandar iman, kita akan kehilangan latihan yang mustika ini.

Dalam kewajiban pribadi setiap pekerja Allah, yang dipikirkan pertama kali adalah uang. Masalah pertama yang wajib diatasi oleh pekerja Allah ialah ia harus bertanya kepada diri sendiri, "Aku dipanggil untuk melayaniNya, dapatkah aku menengadah kepada Allah dan hanya bersandar kepadaNya dalam menempuh hidup? Kalau tidak bisa, aku tidak layak bekerja." Sebab jika kita tidak mampu mandiri dalam masalah keuangan, pekerjaan pun tidak bisa mandiri. Jika dalam hal keuangan kita tidak dapat bersandar kepada Allah, dalam pekerjaan pun kita tidak dapat bersandar kepada Allah. Uang bisa mengendalikan manusia. Kalau kita bisa beriman kepada Allah dalam menempuh hari-hari kita, maka kita sendiri, karena Allah, bisa menanggung kewajiban diri sendiri dan tidak akan dikendalikan oleh manusia. Setiap pekerja Allah, jika belum siap dalam iman, lebih baik jangan menempuh jalan ini. Saya menganjuri kalian jangan keluar bekerja, lebih baik sambil menyandang pekerjaan dunia sambil melayani Tuhan. Seorang pekerja harus bersandar kepada Allah.

Jika ada saudara-saudara yang menyuplai, itu baik, Anda harus bersyukur kepada Allah; kalau tidak, Anda tetap harus bersyukur kepada Allah. Setiap pekerja sama sekali tidak boleh menaruh harapan kepada seorang saudara. Harus selalu mempunyai sebuah hati yang "unggul", sama sekali tidak menghiraukan bagaimana perlakuan saudara terhadap Anda. Para pekerja harus sepenuhnya mandiri terhadap masalah uang, sedikit pun tidak terpengaruh oleh kondisi di luar. Tak jarang orang tidak mengetahui panggilan Allah, tanpa iman yang hidup, tak tahu bagaimana hidup bersandar kepada Allah. Akibatnya, melihat air sungai Kerit sudah kering, sang gagak tidak kunjung datang dan tidak ada bantuan si janda itu. Mata mereka selalu menatap pada lingkungan sekitar sehingga membuat pekerjaan terkena aib dan nama Tuhan tidak dapat dimuliakan. Semua pekerja harus selalu menengadah kepada Allah. Ada bantuan saudara, bersyukur kepada Allah, tidak ada bantuan saudara, juga tidak menengadah kepada mereka.

Karena kita sendiri bersandar kepada Allah, maka kita harus menanggung semua kewajiban, tidak boleh mendambakan bantuan orang. Jangan berharap kepada kasih manusia, tapi harus ada iman yang berharap kepada Allah. Harus bersyukur, baik saudara menaruh kasih atau tidak. Jangan begitu keluar bekerja, sudah menoleh ingin mendapat bantuan dari manusia. Kalau demikian, pekerjaannya bukan berasal dari iman, dan orang demikian tidak layak melakukan pekerjaan Tuhan. Saya sering berkata, "Bila mata Anda menengadah kepada saudara, itu memalukan Allah dan memalukan rekan sekerja." Anda sudah bukan lagi hidup bersandar kepada kesetiaan Allah, melainkan bersandar kepada kasih saudara. Tak sedikit orang yang ketika baru keluar memang bersandar iman, tetapi selang beberapa saat mereka menunggu kasih manusia, dan pada akhirnya hanya tinggal harapan untuk bisa hidup saja. Iman, harapan dan kasih yang demikian tidak seharusnya dimiliki seorang pekerja.

Setiap pekerja harus sangat mandiri terhadap masalah keuangan. Karena beriman kepada Allah, maka berani tidak bersandar kepada manusia; karena beriman kepada Allah, maka berani menolak manusia. Bila kita terus-menerus berharap kepada suplai manusia, begitu sumbernya kering, sumber kita pun ikut kering; bila kita bersandar kepada manusia, begitu manusia itu menghadapi masalah, kita pun ikut menghadapi masalah. Syukur kepada Allah, Dia adalah batu karang kita, dibangun di atas batu karang ini, kita selamanya tidak akan tergelincir. Walau manusia bisa berubah, situasi bisa berubah, tapi yang kita sandari bukan mereka, maka kita tidak goyah. Kita harus ingat, bahwa lembu dan kambing di seluruh bukit dan segala emas dan perak adalah milik Allah. Setiap orang yang hidup di dalam kehendakNya, tidak kuatir kehilangan suplai.

Banyak orang yang pernah memberi kepada kita, seolah boleh menjadi sandaran, namun banyak di antara mereka yang lenyap setelah sejangka waktu. Tetapi demi kasih karunia dan kesetiaan Allah, kita masih utuh hingga hari ini. Andaikata kita mengandalkan bantuan mereka, begitu mereka habis, kita pun habis. Di dalam dunia ini, uang ingin menggantikan Allah meraja atas manusia. Kalau kita ingin melayani Allah dengan setia, kita harus belajar menerima suplai kita dari tangan Allah. Jika tidak, mata kedagingan kita mudah sekali memandang tangan Mamon!

Dalam pekerjaan ada dua langkah: 1) memperoleh suplai Allah melalui berdoa dengan iman; 2) melakukan pekerjaan secara resmi. Yang pertama ialah iman atas masalah keuangan, yang kedua adalah pelaksanaan pekerjaan. Kesulitan hari ini ialah manusia tidak mempunyai iman yang sebagai langkah pertama, namun selalu ingin melakukan pekerjaan langkah kedua. Mereka damba mempunyai simpanan uang untuk segala kebutuhan, untuk dipakai dalam pekerjaan. Tapi itu hanya ada langkah kedua, tanpa langkah pertama, dan itu tidak ada nilai rohaninya. Apa pun harus diawali oleh iman, bila iman lenyap, pekerjaan rohani pun lenyap. Maka iman adalah langkah pertama, segalanya harus dimulai dari iman atas masalah keuangan. Tanpa iman atas hal suplai, tak peduli bagaimana berhasilnya pekerjaan itu, tetap akan gagal. Bila suplai itu terhenti, pekerjaan pun tak dapat dilanjutkan.

HIDUP DARI PEMBERITAAN INJIL

Paulus berkata, bahwa pekerja beroleh upah itu wajar, dan pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil (I Kor. 9:14). Itu benar. Tetapi apa maksud pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil? Apakah itu berarti ia menerima suplai tetap dari manusia, ataukah menerima gaji dari gereja? Tidak. Ketika Paulus mengucapkan kata-kata ini, sama sekali tidak terkandung maksud menerima gaji seperti hari ini. Maksud Paulus ialah pekerja Allah boleh karena menginjil menerima kiriman/pemberian dari orang (Flp. 4:18). Ini sifatnya tidak berkala, tidak tentu banyaknya, tanpa kewajiban dan tanpa paksaan. Hal tersebut tak lain dikarenakan hati kaum imani tergerak oleh kasih Allah sehingga rela mengirimkan kebutuhan hidup kepada pekerja Allah. Meskipun pekerja menerima kiriman itu dari tangan kaum imani, mereka tetap menengadah kepada Allah. Hati mereka bersandar kepada Allah, mata mereka memandang kepada Allah dan karena Allah mengabulkan doa mereka, maka Ia menggerakkan hati saudara untuk memberi kiriman kepada mereka agar mencukupi kekurangan mereka. Menerima kiriman uang secara demikianlah yang dimaksud hidup dari pemberitaan Injil. Ketika berada di Tesalonika, Paulus menerima kiriman dari gereja di Filipi (Flp. 4:16), dan ketika berada di Korintus, ia menerima bantuan dari Makedonia (II Kor. 11:9). Hal itu adalah semakna. Jadi, hidup dari pemberitaan Injil bukan mengacu kepada suplai tetap yang ditanggung oleh gereja.

Di sinilah letak persoalannya: dari manakah sebenarnya pekerja utusan Allah itu beroleh suplai hidup mereka? Ya, pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil, pekerja menerima upah itu wajar. Tapi untuk siapakah sebenarnya mereka memberitakan Injil? Dari siapakah sebenarnya mereka menerima upah? Jika mereka pekerja gereja, mereka boleh mengambil gaji dari gereja. Jika mereka pekerja Allah, mereka hanya boleh menerima suplai dari Allah, tidak boleh meminta gaji kepada gereja. Alkitab memberi kita ajaran yang cukup jelas, bahwa pekerjaan mutlak terpisah dengan gereja. Karena itu, secara lahiriah, pekerja harus menanggung sepenuhnya kewajiban keuangan pekerjaan. Tetapi pada realitasnya, Allah adalah Tuan segala pekerjaan, maka Ia pasti akan menanggung semua kewajiban keuangan mereka.

Semua persoalannya tergantung pada adakah panggilan Allah atau adakah pengutusan Allah. Jika ada panggilan dan pengutusan Allah, maka Allah harus menanggung semua kewajiban keuangan pekerjaan Anda, dan Anda boleh hidup dari pemberitaan Injil Anda. Allah pasti akan mengabulkan doa Anda, dan menggerakkan hati saudara untuk memberi kiriman, untuk mencukupi kebutuhan hidup Anda. Kalau bukan diutus Allah, melainkan tekad kemauan Anda sendiri, maka mungkin saja Anda tidak dapat hidup dari pemberitaan Injil, karena Allah tak mau bertanggung jawab atas segala kekurangan Anda. Ketika saudari M. E. Barber bermaksud datang ke Cina untuk melayani Tuhan, ia dapat merasakan betapa ia akan menjadi seorang yang sebatang kara di negeri asing dan sulit bersandar kepada Allah. Maka ia minta petunjuk kepada Wilkinson yang kaya pengalamannya di dalam Tuhan. Wilkinson berkata, "Merantau sebatang kara di negeri asing yang jauh itu bukan masalah. Masalahnya hanya satu, yakni: Anda sendiri yang mau pergi, atau Allah yang mengutus Anda pergi?" Saudari Barber menjawab, "Allah yang menghendaki aku pergi." Wilkinson berkata, "Jika demikian, Anda tidak perlu bertanya apa-apa lagi. Karena Allah yang menyuruh Anda pergi, Allah pasti bertanggung jawab terhadap Anda. Anda tak perlu bertanya kepadaNya bagaimana cara Dia bertanggung jawab terhadap Anda. Tapi jika Anda sendiri yang ingin pergi, akibatnya pasti keaiban dan kemiskinan." Sudahkah Anda nampak, apakah yang memungkinkan Anda hidup dari pemberitaan Injil?

Di Korintus, Paulus sendiri hidup sebagai pembuat tenda. Ia tidak cukup hidup dari penginjilannya (I Kor. 9). Dari sini kita nampak adanya dua jalur cara beroleh kebutuhan hidup bagi pekerja Allah: bekerja dengan tangan sendiri dan menengadah pada suplai Allah dengan pemberitaan Injil. Hidup dari pemberitaan Injil bukan berarti meminta saudara saudari dalam gereja untuk memikul kewajiban menyuplai kebutuhan hidup kita, melainkan menengadah dan percaya bahwa Allah bisa menyuplai. Jadi, bekerja dengan tangan sendiri adalah satu cara, dan percaya pada suplai Allah adalah cara lain. Selain itu tidak ada cara ketiga.

Paulus bekerja dengan tangannya sendiri, itu sangat baik. Tapi apa yang dikerjakannya itu agak istimewa, itu bukan pekerjaan yang rutin, melainkan cara yang dipakai hamba Allah untuk menyesuaikan diri dengan situasi, dan bukan yang harus dicontoh oleh orang lain. Paulus juga mengakui, orang lain tidak harus demikian. Ini diungkapkannya dengan jelas dalam I Korintus 9. Mari kita baca dari ayat 11 sampai 15, "Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil kebutuhan jasmani dari pada kamu? Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan mereka yang melayani mezbah, mendapat bagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu. Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan demikian. Sebab aku lebih suka mati daripada . . . ! Sungguh kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!" Ayat 18, "Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil." Dari sini kita nampak, ada satu hak Injil yang bisa dipergunakan oleh setiap pemberita Injil. Tetapi hak ini tidak dipergunakan oleh Paulus. Itu disebabkan Paulus adalah: 1) orang yang menerima amanat khusus Allah; 2) ia berada dalam situasi luar biasa. Bila ada orang seperti Paulus, itu boleh saja, tetapi itu jarang sekali. Itupun bukan cara yang lazim diterapkan dalam Alkitab. Bagi segolongan pekerja Allah, Allah tetap menghendaki mereka hidup bersandar dan beriman kepada Allah.

Ini tidak berarti Paulus tidak pernah menerima bantuan dari gereja. Mari baca II Korintus 11:7-10, "Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian. Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapa pun di daerah-daerah Akhaya." Ada gereja-gereja yang biasa mengirimkan uang kepada Paulus, dan ia menerimanya juga, hanya saja ia enggan menerima uang seperti yang di Korintus itu. Di beberapa tempat, Paulus seperti orang lain, menggunakan hak penginjilannya, menerima bantuan dari manusia, yang hatinya digerakkan oleh Allah. Tetapi di daerah Akhaya, ia tak mau menggunakan hak tersebut karena situasinya berbeda. "Upah" yang Allah berikan melalui menggerakkan gereja lain diterimanya, tapi ia tak mau menerima yang dari Korintus. Sebab sikap kaum imani Korintus tidak benar.

Dari sini kita nampak penetapan Allah. Paulus berkata, bahwa ada satu hak, yakni penabur benih rohani bisa menuai kebutuhan hidupnya dari orang. Tetapi Paulus tidak pernah menggunakan hak itu terhadap orang Korintus. Ini tidak berarti Paulus tidak pernah menanyakan tentang uang kepada mereka, melainkan ia tidak mau menerima uang mereka. Itu tak lain karena motivasi mereka terhadapnya tidak benar. Paulus mau menerima kiriman uang dari orang Filipi; Paulus mau menggunakan hak ini. Sering kali bila seseorang memberi, walaupun nilainya kecil, lebih baik tidak kita terima, sebab di baliknya ada maksud lain. Begitulah keadaan orang Korintus. Paulus tak mau menerima uang dari mereka. Jadi harus kita bedakan antara Korintus dengan Filipi sebagai perbandingan. Bila orang memberikan uangnya karena mengasihi Allah dan diperkenan Allah, uang itu boleh diterima. Itu berarti kita mewakili Allah menerima uang mereka, agar mereka boleh beroleh berkatNya. Jika tidak, lebih baik kita tidak menerimanya, agar kita tidak menyalahgunakan hak penginjilan kita.

PRINSIP MENERIMA

Kita harus ingat, tidak hanya bantuan gereja yang bersifat rutin tidak boleh diterima, yang tidak rutin pun belum tentu boleh diterima. Prinsip ini telah dinyatakan Paulus terhadap gereja di Korintus. Kalau orang mengirim untuk kita, karena ia menaruh belaskasihan terhadap kita, maka kita tidak boleh menerima kirimannya. Jika kirimannya bukan terlebih dulu demi Allah, melainkan menghendaki kita berterima kasih kepadanya, kita jangan menerimanya. Jika ada kiriman yang bertujuan agar ia bisa mengendalikan kita, kiriman semacam itu pun jangan kita terima. Semua pekerja Allah tidak hanya percaya Allah bisa memberikan kebutuhannya, ketika orang memberikan uang, kita pun harus membedakan apakah uang itu diterima Allah atau tidak, dan apakah Allah setuju kita terima atau tidak.

Pada Perjanjian Lama, orang Israel mempersembahkan lembu dan kambing kepada Allah melalui orang Lewi. Jadi, orang Lewi berdiri di atas kedudukan mewakili Allah, menerima persembahan. Persembahan itu ditujukan kepada Allah, bukan kepada orang Lewi. Hari ini kita juga berdiri di atas kedudukan orang Lewi. Yang menerima uang adalah Allah, bukan kita, maka Allahlah yang berterima kasih kepadanya, bukan kita. Kita selamanya tidak menerima budi manusia, kita pun selamanya tidak berhutang budi. Bila orang memberi kiriman kepada kita dengan maksud supaya kita berterima kasih kepada kebajikannya, maka kiriman itu tidak seharusnya kita terima. Kita tidak menerima sepeser pun dari manusia, yang menerima uang manusia adalah Allah. Jika orang itu ingin beroleh terima kasih, Allah sendirilah yang memberikan kepadanya. Jika orang itu ingin beroleh pahala, Allah sajalah yang memberikan kepadanya; dan jika orang itu ingin beroleh kemuliaan, hanya Allah pulalah yang memberikan kepadanya.

Jika orang memberi kita uang dengan maksud agar kita berhutang budi kepadanya, kita tidak bisa menerima uang itu. Pada aspek lain, ketika kita menerima uang orang, kita harus bertanya, apakah hal itu akan membuat Allah berhutang budi kepadanya. Jika kita dengan sembrono menerima pemberian orang, maka kita bisa jadi akan memaksa Allah harus menyatakan terima kasih kepada orang itu, sedang hal itu bukan perkara yang senang dilakukanNya. Kalau demikian, Allah akan merasa "serba salah". Tidak jarang ada orang yang tidak diperkenan Allah, memberi kita uang. Bila kita menerima uang mereka, mana mungkin Allah berkenan pada uang mereka? Ada kalanya mereka masih sebagai orang dosa, tapi sangat rela menyumbangkan uang, bagaimanakah Allah terhadap mereka kelak di hadapan takhta putihNya? Andaikata mereka berkata kepada Allah, "HambaMu Paulus pun pernah menggunakan uangku!" Apakah yang harus Allah perbuat? Menurut aturannya, Allah tetap harus berterima kasih kepada mereka! Sebab itu, ketika kita menerima uang orang, kita harus bertanya, apakah uang itu diterima juga oleh Allah. Itu suatu persembahan atau suatu kewajiban?

Maaf, saya akan menyinggung sebuah kisah pribadi saya. Pada tahun 1929, seorang kerabat saya mengirimkan uang 200 Yuan kepada saya. Saat itu saya sedang sakit dan sangat kekurangan uang. Tetapi Allah menunjukkan kepada saya, bahwa kerabat saya itu walaupun seorang beragama Kristen, namun belum tentu sudah beroleh selamat. Allah memberi saya perasaan untuk menulis surat kepadanya menanyakan apakah memberi uang kepada saya sebagai orang Kristen terhadap pekerja, atau sebagai kerabat terhadap kemenakan? Jika ia mengirim 200 Yuan itu kepada saya sebagai kemenakannya, saya boleh menerimanya. Sebab atas relasi daging, saya boleh menerima uangnya. Tapi jika pengirimannya kerena saya sebagai pekerja, saya tidak boleh menerima. Sebab saya tidak dapat menyuruh Allah berterima kasih kepada orang yang belum diperkenan olehNya. Dari segi relasi rohani, saya tidak dapat menggunakan uangnya. Karena itu, saya tak dapat tidak menulis surat, bertanya kepadanya, dengan status apakah ia mengirimkan uang itu? Kemudian ternyata pengiriman itu dilakukan sebagai kerabat kepada kemenakan, maka akhirnya saya terima.

Ada juga orang yang mempersembahkan dengan motivasi baik, tetapi setelah dipersembahkan, sang pemberi ingin berkuasa untuk mengendalikan pekerjaan. Menentukan penggunaan uang itu boleh saja, tetapi tidak boleh karena uang itu, lalu ingin mengendalikan pekerjaan. Para pekerja Allah tidak boleh karena uang lalu membuat pekerjaan tak dapat dikerjakan menurut pimpinan Roh Kudus, melainkan menurut kemauan orang yang memberinya. Yang sesuai dengan prinsip Alkitab ialah: orang yang memberi persembahan boleh menunjukkan penggunaan uang yang dipersembahkannya itu, tetapi setelah dipersembahkan, tangannya harus diangkat, jangan ada usaha campur tangan selanjutnya. Jika mereka percaya kepada pekerja Allah, boleh diserahkan kepada mereka, jika tidak, maka tidak perlu diserahkan kepada mereka. Maka setiap pekerja Allah harus ingat, jika pemberi uang itu bukan setelah uang lepas dari tangannya, lalu berhenti sampai di situ dan tidak disinggung lagi, maka kita tidak boleh menerima uangnya.

Prinsip Alkitab ialah pekerja yang bekerja, bukan uang yang bekerja. Para pekerja yang dipilih dan diutus Allah sendiri boleh bekerja menurut pimpinan Allah. Cara kerja mereka harus ditanggung mereka sendiri. Namun tidak ada cara pekerjaan ditentukan oleh orang yang memberi uang persembahan itu. Dalam perkara dunia, orang yang mengeluarkan uang itulah yang paling berkuasa. Namun dalam perkara rohani, yang paling berkuasa adalah pekerja itu sendiri. Dalam Alkitab selamanya hanya ada masalah pekerja memakai uang, tidak pernah ada masalah uang memakai pekerja. Orang yang dipanggil dan diutus bekerja itu yang bertanggung jawab atas cara pekerjaan, bukan orang yang mempunyai uang dan yang mau mempersembahkan uangnya itu. Maka jika ada saudara atau saudari ingin bekerja bagi Tuhan, kalau Anda merasa Allah memimpin Anda untuk membantu mereka, Anda boleh membantu mereka. Kalau Anda tidak ada pimpinan Allah dan tidak merasa harus membantu mereka, Anda pun tak usah membantu mereka. Jika Anda bisa percaya kepadanya, Anda boleh menyerahkan uang kepadanya. Jika Anda tidak bisa percaya kepadanya, tidak usah menyerahkan uang kepadanya. Jadi Anda harus mencari orang yang dapat Anda percayai, dan menyerahkan uang kepadanya untuk bekerja. Tetapi bila uang itu sudah terlepas dari tangan Anda, kuasa apa pun harus terlepas dari tangan Anda. Pekerja itu sendiri tidak berterima kasih kepada Anda. Begitu uang itu lepas dari tangan Anda, saat itu pula semuanya lepas dari Anda.

Akhir-akhir ini muncul sejenis usaha, dan diusahakan dengan sangat baik. Tetapi belakangan ini sudah berhenti. Sebabnya tidak lain, karena bukan pekerja yang menanggung kewajiban keuangannya, melainkan kaum imani kaya yang menunjang dananya. Maka ketika terjadi perbedaan pandangan antara pekerja dan donaturnya dan ketika sumber dananya terhenti, semua pekerjaan itu pun turut macet. Itu sebenarnya bukan persembahan, itu pun bukan pekerjaan. Pada satu pihak, pekerja harus dengan iman menanggung kewajiban keuangan; pada pihak lain, jika kaum imani menerima pimpinan Allah, ketika memberikan bantuan material haruslah percaya kepada pekerja, agar mereka boleh menuruti pimpinan Allah, melakukan pekerjaan yang ditanggung mereka itu.

Maka pekerjaan yang kita kerjakan hari ini harus kita lakukan, baik ada uang maupun tidak ada uang. Sekalipun uang kita mungkin hanya tinggal satu dolar, kita tidak seharusnya menengadah atau memohon belaskasihan kepada siapa pun. Ada uang atau tidak ada uang, seorang pekerja tidak seharusnya bertanggung jawab kepada manusia. Bila seorang pekerja menunjukkan sikap hina ketika menerima uang dari saudara yang kaya, ia benar-benar patut dibenci. Sebab sikap itu sangat memalukan Allah dan rekan sekerja. Hari ini kita berdiri di atas kedudukan sebagai wakil Allah untuk menerima uang. Dalam masalah keuangan, kita hanya berhubungan langsung dengan Allah. Jika tidak demikian, kita tidak layak bekerja. Paulus memiliki kemegahan dalam masalah keuangan. Dengan kata lain, ia bisa bermegah atas hal keuangan. Kita pun wajib memiliki kemegahan kita sendiri. Hal ini tak dapat dijamah oleh orang lain. Jadi, pekerjaan pekerja tidak boleh dikendalikan oleh orang yang mempersembahkan uang. Tetapi jika orang merasa, bahwa pekerjaan si pekerja itu tidak benar, apakah yang harus ia lakukan? Bila orang yang mempersembahkan uang merasa pekerja itu tidak benar, ia boleh melakukan satu perkara, yakni sejak saat itu ia tidak memberi persembahan lagi untuk pekerjaan tersebut.

SIKAP TERHADAP ORANG KAFIR

Satu sikap yang selamanya harus dipegang oleh seorang pekerja yang keluar bekerja bagi Tuhan ialah, tidak menerima (mengambil) uang dari orang kafir. Prinsipnya ialah: "Tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah" (III Yohanes 7). Pekerjaan Allah selamanya tidak perlu ditunjang oleh orang kafir. Orangnya harus diperkenan dulu, baru persembahannya diperkenan Allah. Yang diperkenan Allah baru kita terima; yang ditolak Allah, tidak boleh kita terima. Tetapi ini tak berarti tidak boleh menerima traktir sekali makan saja dari orang kafir. Andaikata kita seperti Paulus berada di satu pulau dan dijamu dengan ramah tamah selama tiga hari oleh Publius, maka kita pun boleh menerima. Bila terjadi peristiwa demikian, di bawah pengaturan Allah, kita pun senang menerimanya. Tetapi itu mengacu pada pengaturan Allah dan merupakan kasus insidentil, bukan prinsip Allah yang terus-menerus. Prinsip kita terhadap orang kafir haruslah: tidak menerima sesuatu pun dari mereka. Bila kita menerima uang dari orang kafir, kita akan membuat pekerjaan Allah merosot.

GEREJA MENYUPLAI PEKERJA

Wajibkah gereja menyuplai pekerja? Dalam Alkitab ada ajaran yang jelas tentang masalah ini. Menurut Alkitab, penggunaan uang gereja adalah untuk tiga aspek:

1) untuk kaum saleh miskin. Alkitab sangat memperhatikan kaum saleh miskin. Maka sebagian besar dari persembahan gereja lokal adalah untuk menyuplai kaum saleh miskin;

2) untuk penatua gereja lokal. Demi keperluan saudara-saudara, adakalanya mereka meninggalkan usaha mereka, adakalanya mereka harus mengorbankan lebih banyak waktu demi melayani gereja, karena itu mereka menderita kerugian dalam hal keuangan. Maka saudara setempat wajib menutupi kerugian keuangan yang diderita mereka (I Tim. 5:17);

3) untuk pekerja dan pekerjaan. Ini adalah dipersembahkan kepada Allah, bukan gaji/honorarium untuk pekerja.

Paulus berkata kepada orang Korintus, "Gereja-gereja lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia" (II Kor. 11:8-9). Di sini kita nampak, bahwa saudara-saudara itu karena kasih Tuhan, telah mencukupkan kekurangan pekerja dan pekerjaan.

Paulus juga berkata kepada orang Filipi, "Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu gereja pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (Flp. 4:15-18). Di sini kita melihat betapa gereja di Filipi memperhatikan keperluan pekerja dan pekerjaan Allah.

Sebenarnya, bila gereja itu rohani, bila saudara saudari mengasihi Tuhan, pasti mereka menaruh banyak perhatian atas kekurangan dan keperluan pekerja dan pekerjaan. Jika tidak, mereka akan menganggap pekerjaan "tidak berhubungan" dengan gereja. Jika mereka tidak ada kewajiban resmi, maka mereka pun tidak ada beban rohani. Kita harus ingat satu hal, yaitu dalam surat-surat kiriman rasul memang disinggung tentang nasihat membantu orang miskin dalam Tuhan dan penatua setempat, tetapi tidak pernah ada nasihat tentang membantu pekerja. Ini disebabkan surat-surat kiriman adalah pekerjaan pekerja, maka nasihat itu tidak pantas disinggung. Rasul harus menengadah hanya kepada Allah, percaya bahwa Allah bisa menggerakkan hati orang untuk memperhatikan keperluan pekerjaan dan kekurangan pekerja. Karena itu, hari ini kita pun harus sama, yaitu tidak berbicara apa-apa untuk diri sendiri. Kita percaya, bahwa Allah mengetahui segalanya, dan Dia tidak akan mengabaikan kebutuhan kita.

Dalam perkataan Paulus terhadap orang Filipi, kita nampak betapa lapang sikapnya, sedikitpun tidak merengek dan sedikitpun tidak mengeluh miskin. Kita memang boleh mengaku "emas perak kami tak punya", tetapi perkataan ini hanya boleh dikatakan kepada orang yang tidak percaya dan kekurangan, tidak boleh dikatakan kepada saudara saudari di dalam gereja. Paulus berani berkata kepada satu-satunya gereja yang membantunya, "Aku berkelimpahan . . ." Ia sama sekali tidak kuatir karena perkataan ini, kali lain mereka tidak mengirimkan bantuan kepadanya lagi! Pekerja tidak boleh sampai dikasihani orang, pekerja pun tidak boleh mengisyaratkan kebutuhannya kepada orang. Demi percaya kepada Allah, pekerja harus berani berkata, "Saya tidak kekurangan apa pun." Betapa indahnya kesaksian saudari Barber, ketika ia memakai habis satu dolar yang terakhir, ia masih bisa menulis syair demikian: "pialanya penuh melimpah, selalu berlebihan." Allah tidak mempunyai hamba yang mengeluh miskin!

Karena pekerja bekerja sebagai wakil Allah dan mempersaksikan kesetiaanNya, maka dalam masalah keuangan, mereka harus sangat mandiri, dan dalam perilaku, sikap, serta tutur kata menyatakan, bahwa Allah benar-benar Tuhan penyuplai mereka. Bila kita lemah sedikit saja, Allah tidak bisa beroleh kemuliaan dalam hal ini. Para pekerja wajib menunjukkan kepada gereja, bahwa Allah kita sungguh kaya. Pekerja tidak boleh menampakkan kemiskinannya kepada gereja dan mengharap belaskasihan dari gereja. Sungguhpun kita miskin, di hadapan gereja lokal kita seharusnya menyatakan kekayaan kita, tidak boleh menyatakan kemiskinan kita. Walau kita tidak boleh pura-pura, tapi kita wajib menyembunyikan kemiskinan kita. Jangan memakai penampilan miskin untuk membantu Allah menggerakkan hati orang. Kita percaya bahwa Allah akan menyuplai kebutuhan kita menurut kekayaanNya di dalam Kristus, bukan menurut kemiskinan kita di hadapan manusia. Kita berani menciptakan suatu keadaan sekitar yang sukar bagi Allah, sebab kita tahu bahwa mujizat Allah tidak perlu bantuan kita. Kita selamanya tidak menerima belaskasihan dari manusia yang manapun. Bila ada orang mengirimkan uang, itu adalah dipersembahkan kepada Allah. Kita berdiri di atas kedudukan wakil Allah untuk menerima uang. Jika kita menerima uang kasihan dari orang, itu berarti memalukan Allah dan rekan sekerja. Jika kita sengaja bersikap kasihan sehingga orang mengasihani kita, itu benar-benar berdosa. Lebih baik membiarkan orang salah sangka, mengira kita kaya dan kita menengadah kepada Allah secara diam-diam, daripada orang lain mengetahui kemiskinan kita dan mengasihani kita.

Di sini kita wajib nampak dua perkara: 1) bahwa hamba Allah terhadap masalah keuangan harus sangat mandiri, bagaimanapun jangan sampai ada orang menilainya hidup oleh bantuan orang. Ia harus memuliakan Allah dalam hal keuangan. 2) Gereja lokal wajib sedapat mungkin membantu pekerja dan pekerjaan Allah, wajib sedapat mungkin mengirimkan uang untuk pekerjaan. Jangan mengirimkan uang kepada saudara pekerja yang tinggal di lokal Anda saja, melainkan harus seperti orang Filipi, yang satu dua kali mengirimkan bantuan kepada Paulus, dan seperti orang Makedonia, yang melengkapi kebutuhan Paulus. Tidak seperti gereja hari ini, satu lokal hanya menyuplai satu "pendeta". Anda harus nampak keperluan pekerja dan pekerjaan di berbagai lokal. Allah menghendaki Anda mengirimkan uang ke mana, kirimlah ke sana. Apalagi mengirim uang dengan pos wesel atau bank begitu mudahnya di saat ini. Jika anak-anak Allah hanya memperhatikan satu lokal saja, itu benar-benar tidak mempunyai pandangan rohani yang jauh.

Kedua masalah tersebut harus kita lihat dengan pandangan yang seimbang. Di aspek pekerja, jangan mengharap orang menyuplainya apa-apa. Begitu ia menengadah kepada suplai manusia, ia akan segera kehilangan kedudukannya sebagai pekerja. Tapi di aspek lain, gereja menyuplai pekerja adalah seharusnya. Pada satu aspek, pekerja sendiri harus menanggung kewajiban pekerjaannya, sama sekali tidak boleh menengadah kepada saudara atau gereja. Tetapi pada aspek lain, sebuah gereja lokal wajib membantu pekerjaan di berbagai lokal dengan sekuat tenaga. Hasil pekerjaan adalah untuk gereja lokal, dan tujuannya adalah membangun gereja. Allah tidak memakai pekerja yang tak beriman, Ia pun tidak memakai gereja lokal dan saudara saudari yang tidak mempunyai kasih. Saya sangat menyukai kisah Ester. Haman ingin membunuh orang Yahudi. Mordekhai menyuruh orang membawakan surat kepada Ester yang mengatakan, "Sebab sekalipun (bila) engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa" (Ester 4:14). Artinya, "Allah berkenan kepadamu, Ia mau melepaskan orang Yahudi melalui tanganmu. Jika kamu tidak berbuat apa-apa, Allah akan berbuat melalui tangan orang lain. Bagaimanapun Allah ingin menolong orang Yahudi." Saya menyukai perkataan Mordekhai ini. Bagaimanapun Allah pasti akan menyuplai keperluan pekerjaanNya. Hanya saja siapa atau gereja mana yang beroleh kemuliaan tersebut. Bila orang ini tidak datang membantu, Allah akan membangkitkan orang lain, tapi orang pertama akan kehilangan kemuliaan dalam hal membantu pekerjaan Allah.

Kalau sebuah gereja lokal baik (normal) kerohaniannya, pasti mereka tahu bagaimana menyuplai pekerja. Gereja di Korintus takut kalau-kalau Paulus memakai uang mereka, karena itu Paulus tidak mau memakai uang mereka. Orang Korintus hidup dalam kedagingan, mereka kuatir uang mereka dipakai Paulus, karena itu Paulus tidak rela menerima uang mereka. Kaum imani Filipi agak rohani, mereka satu dua kali mengutus orang menyuplai keperluan Paulus. Saat mata pekerja memandang kepada gereja, saat itulah ia merosot. Saat gereja tidak bersedia menyuplai pekerja, saat itu pula gereja merosot. Karena itu, setiap pekerja Allah harus mengambil sikap seperti Paulus, dan setiap gereja harus mengambil sikap seperti gereja di Filipi.

Jika gereja lokal rohani, mereka akan setia terhadap pekerja yang datang dan bertamu di tengah-tengah mereka, dan membantu mereka "dalam perjalanan mereka" (III Yohanes 5-6). Namun sekalipun gereja lokal tidak menyuplai, secara prosedur gereja tidak bersalah, gereja hanya bersalah secara rohani. Sebab dalam kewajiban rohani, gereja lokal memang seharusnya membantu pekerjaan.

Seorang pekerja harus mempunyai batasan yang jelas dengan gereja lokal; semua kewajiban keuangan harus pula ada batasan yang jelas dengan gereja lokal. Andaikata pekerja bermukim di suatu lokal dalam jangka pendek, yakni diundang gereja lokal untuk bekerja dalam jangka pendek, ia boleh menerima sepenuhnya apa yang disediakan. Jika untuk jangka waktu panjang, pekerja harus menanggung kewajibannya sendiri, tidak boleh menerima perlakuan baik orang. Bila kita menerima perlakuan baik orang dalam jangka panjang, pasti kita akan kehilangan iman untuk menengadah kepada Allah. Sekalipun orang dengan senang hati melakukan hal itu, kita harus menolaknya. Kita tidak boleh mengesampingkan iman dan hidup bersandarkan kasih saudara; kita hanya boleh hidup demi iman. Kendatipun saudara kita ada kasih, mereka tidak seharusnya menanggung kewajiban pekerja. Saudara hanya boleh seperti orang Filipi, yaitu mengirimkan bantuannya kepada pekerja. Maka prinsip pengiriman yang dilakukan orang Filipi itu sangat penting, Allah hanya mengijinkan pengiriman, Allah tidak mengijinkan tanggung jawab.

Misalkan seorang pekerja tiba di suatu tempat. Gereja lokal boleh menampungnya untuk jangka pendek, tetapi tidak boleh terlalu lama. Jika gereja lokal menanggung kewajiban pekerja, itu akan membuat pekerja hidup tanpa iman, melainkan mengandalkan kasih manusia. Karena itu, gereja lokal lebih baik menuruti teladan pengiriman orang Filipi, tanpa menanggung kewajiban lainnya. Lebih baik memberikan uang makan kepada mereka dan mereka sendiriyang membayar, bukan gereja yang membayarkan bagi mereka. Dengan demikian, gereja akan membuat pekerja Allah senantiasa hidup dengan menengadah kepada Allah.

Setiap orang yang terpanggil untuk mengerjakan pekerjaan Allah harus dengan tekun menengadah kepada Tuhan untuk menyuplai segala keperluannya. Gereja tidak bertanggung jawab atas kebutuhan pekerja, pun tidak bertanggung jawab atas perolehan kebaikan apa pun dari pekerja, itu semua ditanggung oleh pekerja sendiri. Gereja lokal boleh menyatakan kasih, tapi tidak bertanggung jawab apa-apa. Jika gereja lokal harus bertanggung jawab secara resmi atas keperluan pekerja, itu salah besar. Gereja lokal memberi bantuan berdasarkan kasih, tetapi tidak ada kewajiban yang harus ditanggung. Gereja lokal mutlak tidak bertanggung jawab atas segala sesuatu pekerja. Gereja lokal tidak saja tidak menanggung kewajiban gaji pekerja, bahkan ongkos sewa rumah dan transportasi pun tidak. Segala yang berkaitan dengan pekerja harus ditanggung oleh pekerja itu sendiri.

Paulus berkata kepada kaum imani Korintus, "Kami tidak pernah berbuat salah (berhutang) terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan" (II Kor. 7:2), dan dikatakannya lagi, "Sebab dalam hal manakah kamu dikebelakangkan dibandingkan dengan gereja-gereja lain, selain dari pada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban kepada kamu . . ." (II Kor. 12:13). Ia pun berkata kepada kaum imani Tesalonika, "Karena kami tidak pernah bermulut manis - hal itu kamu ketahui - dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi - Allah adalah saksi" (I Tes. 2:5); dan "Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang dan malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu" (I Tes. 2:9). Katanya lagi, "Dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu" (II Tes. 3:8). Itulah sikap rasul. Bagaimanapun kita harus ingat: jangan sampai menjadi beban bagi gereja manapun, dan jangan menjadi beban bagi saudara manapun. Jangan membonceng keuntungan orang dan jangan timbul maksud loba. Ini adalah sikap yang seharusnya dimiliki seorang pekerja Allah. Kita bukan hanya tidak menjadi orang upahan dan tidak mengambil gaji tetap dari gereja, bahkan tidak membonceng keuntungan apa pun. Lebih baik gereja yang membonceng keuntungan pekerja, tetapi pekerja sama sekali tidak boleh membonceng keuntungan gereja.

Sungguh memalukan jika orang berpredikat pekerja Allah yang hidup bersandar kepada Allah, namun selamanya tidak pernah nampak kedudukannya sendiri dan kemuliaan Allah, malahan mengira bahwa dirinya adalah orang miskin, "yang hidup bersandar Allah", sehingga patut dikasihani orang dan membonceng keuntungan orang. Padahal, tidak ada seorang pun yang seharusnya lebih lapang daripada pekerja Allah. Mereka bisa menolak keuntungan kecil dari orang dan tidak membonceng kebaikan orang karena mereka bersandar kepada Allah; lebih-lebih terhadap gereja. Dalam keadaan bagaimanapun jangan sekali-kali kita numpang menikmati listrik, air, akomodasi/konsumsi, rumah, surat kabar dan lain-lain milik gereja. Kemurahan hati gereja menerima kita untuk sementara waktu boleh kita nikmati, tetapi dalam motivasi dan sikap kita haruslah diperhatikan dengan ketat agar jangan ada perilaku membonceng atau numpang menikmati kebaikan gereja. Pikiran yang mengira pekerja boleh numpang menikmati kebaikan gereja adalah pikiran yang memalukan Allah. Bagaimana saudara biasa tidak berhak numpang menikmati kebaikan gereja, demikian juga seorang pekerja. Tidak ada satu perkara yang lebih dapat mengungkap pribadi pekerja daripada sikapnya terhadap kebaikan-kebaikan yang kecil itu. Orang yang tidak memperhatikan hal itu, lebih baik mencari pekerjaan lain.

Uang memang sangat mudah mempengaruhi orang! Karena itu pelayan Allah harus benar-benar beriman kepada Allah. Perjalanan pekerja dalam pekerjaannya sangat penting. Maka dalam hal menerima kiriman hendaknya jangan mempengaruhi perjalanan kita. Bila kita mempunyai iman yang sejati dan benar-benar menaati kehendak Allah, kita tidak akan membuat perjalanan pekerjaan kita dipengaruhi oleh keuangan gereja. Bila perjalanan pekerjaan kita terpengaruh oleh suplai keuangan, itu sudah sama dengan mencari nafkah, itu sangat memalukan! Dalam perjalanan pekerjaan kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah saya sepenuhnya demi kehendak Allah atau saya juga dipengaruhi oleh keuangan gereja? Jangan sekali-kali karena di lokal anu kita bisa menerima banyak persembahan lalu kita lebih sering ke sana, sedangkan di lokal lainnya persembahan tidak begitu banyak, maka kita jarang pergi ke sana. Ingatlah, kita melayani Allah, bukan mencari nafkah!

PEKERJA DAN PEKERJAAN

Bukan hanya dalam kebutuhan pribadinya, pekerja harus bersandar kepada Allah, kebutuhan pekerjaan juga harus sepenuhnya bersandar kepada Allah. Jika Anda terpanggil oleh Allah, Andalah yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu, dan keperluan keuangannya pun harus Anda tanggung sendiri. Seorang pekerja harus bertanggung jawab atas keuangan pribadinya, dan harus bertanggung jawab pula atas keuangan pekerjaannya. Bagaimana kewajiban pribadi pekerja harus ditanggung oleh pekerja, kewajiban keuangan pekerjaanpun harus ditanggung oleh pekerja, bukan ditanggung oleh orang lain.

Kalau seorang saudara bekerja di suatu tempat, ia wajib bertanggung jawab atas segalanya. Bukan hanya permulaan pekerjaan itu harus ditanggungnya, kelanjutan pekerjaan itu pun harus ditanggungnya. Pekerja yang tidak mampu menanggung kewajibannya sendiri tidak layak menjadi pekerja. Demikian pula bila pekerja tak mampu menanggung kewajiban pekerjaannya. Pekerja harus bertanggung jawab atas keuangan pekerjaan, seperti ia menanggung kewajiban keuangan pribadinya. Paulus senantiasa menanggung kewajiban pekerjaannya sendiri, tidak pernah membebani gereja.

Setiap pekerja wajib menanggung kewajiban keuangan pribadinya masing-masing, juga menanggung keuangan pekerjaannya masing-masing. Misalkan seorang saudara dipanggil Allah pergi memberitakan Injil di daerah perbatasan yang terpencil. Seluruh kebutuhan untuk merintis pekerjaan di situ, seperti biaya sewa rumah, kursi, perabotan dan lain sebagainya, setidaknya harus memakai sejumlah uang. Siapakah yang bertanggung jawab membayarnya? Bukan mengharap suplai dari suatu gereja, bukan pula menantikan bantuan dari saudara atau saudari anu, melainkan ditanggung oleh pekerja itu sendiri dengan beriman dan menengadah kepada Allah. Bila Allah mengutus orang bekerja, maka orang itu tidak hanya harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, ia pun harus bertanggung jawab atas pekerjaannya. Jika Anda merasa Allah menghendaki Anda merintis pekerjaan di suatu tempat, Anda harus berdoa untuk beroleh suplai demi bertanggung jawab sepenuhnya atas pekerjaan tersebut. Saya ingat, ketika di Goangchou, saya pernah berkata demikian. Ada seorang saudara berkata, "Sebenarnya aku ingin keluar bekerja. Sekarang maksudku itu buyar karena perkataan Anda." "Lebih baik begitu," jawab saya. Memang, seorang pekerja wajib menanggung kewajiban keuangan seluruh pekerjaan. Kita tidak mempunyai instansi untuk menyuplai keuangan pekerjaan. Semua rekan sekerja kita masing-masing bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan pekerjaan mereka. Kalau Anda merasa jelas Allah menghendaki Anda mengerjakan sesuatu, kerjakanlah. Tapi Anda tidak boleh menengadah kepada gereja atau saudara, atau suatu instansi. Anda harus menengadah kepada Allah, agar Ia membuat Anda mampu menanggung sepenuhnya kewajiban keuangan pekerjaan Anda itu.

Pekerjaan adalah milik pekerja. Bukan hanya dalam hal menginjil, dalam perkara lain pun demikian. Bila kaum imani merasa, bahwa pekerjaan ini berasal dari Allah, mereka boleh membantu pekerjaan tersebut. Jika tidak, mereka pun tidak usah membantu. Pekerjaan yang berasal dari iman yang manapun sama sekali tidak bersangkut paut dengan gereja lokal secara organisatoris. Panti asuhan yang didirikan George Muller di Bristol adalah sebuah contoh yang baik. Muller adalah salah seorang anggota gereja di lokal itu, tetapi panti asuhan itu didirikan oleh dia bersama rekan sekerjanya, dan merekalah yang bertanggung jawab. Tetapi mereka tidak menengadah kepada gereja lokal untuk menyuplai panti asuhan mereka, melainkan menengadah sepenuhnya kepada Allah, sebab mereka merasa bahwa itu adalah pekerjaan yang ditugaskan Allah kepada mereka. Jika saudara saudari setempat mau membantu, itu boleh saja, tetapi kewajiban panti asuhan tersebut bukan ditanggung oleh mereka. Usaha itu sukses atau gagal adalah tanggung jawab Muller dan kawannya. Mereka tidak bersandar kepada suplai dari gereja di Bristol, melainkan bersandar kepada suplai dari Allah. Usaha apa pun prinsipnya sama, yaitu menjadi tanggung jawab seorang atau beberapa orang di hadapan Allah.

Ada seorang saudara bertanya, baikkah kita memiliki sebuah mobil penginjilan? Saya akui hal itu sudah lama terkandung dalam hati saya. Tapi Allah belum membangkitkan orang yang melakukan hal itu. Memohon Allah memberi uang untuk membeli sebuah mobil itu sangat mudah, tapi kita tidak dapat membeli sebuah mobil lalu mengundang orang untuk pergi bekerja, sedangkan kewajiban keuangannya kita yang pikul. Jika demikian, pekerja menjadi tidak bertanggung jawab atas keuangan pekerjaan. Bila mereka kekurangan biaya bahan bakar, onderdil dan lain sebagainya, lalu akan datang meminta kepada kita. Kalau begitu mereka hanya bekerja, tanpa bertanggung jawab atas kebutuhan keuangan pekerjaan. Ini tidak sesuai dengan Alkitab. Maka jika nampak keperluan itu, kita sendirilah yang harus bangkit memikulnya, atau berdoa mohon Allah menggerakkan orang melakukannya, yaitu menyuplai keperluan mereka. Harus ada pekerja yang sanggup bertanggung jawab atas keperluan keuangan barulah pekerjaan itu menjadi nyata. Andaikata ada dua atau tiga orang nampak, bahwa itu adalah pekerjaan yang Allah tugaskan kepada mereka, mereka sendiri harus bertanggung jawab sepenuhnya, baik ada yang membantu atau tidak ada yang membantu. Kita paling banyak hanya bisa membantu menurut kehendak Allah dari samping, kewajibannya harus mereka sendiri yang memikulnya. Kita tidak dapat membeli sebuah mobil lalu menyuruh orang menjadi pekerja yang tidak menanggung kewajiban keuangan. Selamanya tidak pernah ada pribadi atau gereja lokal yang memikul kewajiban pekerjaan. Pekerjaan harus ditanggung oleh pekerja. Jangan sekali-kali melemparkan kewajiban ini ke atas bahu orang lain atau gereja. Jika Anda tidak sanggup bertanggung jawab, lebih baik jangan melakukannya.

Kita juga harus membedakan uang itu untuk pribadi atau untuk kita bekerja. Semua uang yang ditujukan kepada pribadi boleh kita gunakan, tapi jika uang itu untuk pekerjaan, kita tidak boleh memakainya untuk pribadi, melainkan hanya boleh dipakai untuk pekerjaan. Kita harus belajar adil, yaitu membedakan penggunaan uang untuk pribadi dengan uang untuk pekerjaan. Tak seorang pekerja pun boleh memakai uang pekerjaan untuk kepentingan pribadi. Saya selamanya tidak lupa akan sebuah artikel yang berjudul "Bapaku adalah kondektur". Tulisan tersebut mengisahkan pengalaman Hudson Taylor ketika ia ingin pergi bekerja ke Sint Louis. Sejumlah uang telah diterimanya dari banyak orang. Ia harus mengejar waktu untuk bersidang di suatu tempat, tetapi kereta api yang memungkinkan dia tiba tepat pada waktunya ke sana telah berangkat. Ia harus menunggu di stasiun untuk naik kereta berikutnya. Tiba-tiba datang tuan Brook dan memberinya sejumlah uang. Hudson berkata, "Lihat, Allah sekarang baru mengirim ongkos perjalanan saya!" Dengan sangat heran tuan Brook bertanya, bukankah ia sudah menerima banyak uang? Hudson menjawab, "Ya, tetapi saya tak pernah menggunakan uang yang tidak dijelaskan untuk pribadi saya." Maka uang yang diberikan tuan Brook kepadanya itu barulah ongkos perjalanan yang Allah sediakan baginya. Sebab itu, ia memakai uang itu untuk keperluan pribadinya. Kemudian Allah mengatur agar ia bisa naik kereta berikutnya dan tiba di tempat tepat pada waktunya. Kisah yang saya peroleh ketika saya baru mulai belajar bekerja untuk Tuhan ini, entah sudah membantu saya berapa banyak. Syukur bagi Allah!

Saya tahu dalam hari-hari ini orang lebih memperhatikan pekerjaan Allah daripada pekerja Allah. Tetapi sebenarnya kita melayani siapa? Kalau kita sungguh-sungguh bersandar kepada Allah, kita akan nampak, bahwa orang yang percaya dan bersandar kepadaNya tidak akan menjumpai keaiban. Allah kita itu hidup. Ketika membaca riwayat George Muller, kita nampak ia tidak pernah menyatakan kebutuhannya kepada siapa pun, tapi Allah tidak hanya menyuplai keperluan pekerjaannya, juga menyuplai keperluan pribadinya dengan berlimpah-limpah. Ia pun seorang pekerja yang membedakan dengan jelas uang pribadi dan uang pekerjaan. Bila pekerjaan ada kekurangan, pekerja harus bertanggung jawab sepenuhnya; bila pekerjaan ada kelebihan, pekerja tidak boleh mengambilnya untuk keperluan pribadi. Bagaimanapun pekerja tidak boleh ikut menikmati keuntungan pekerjaan. Allah kita adalah Allah yang hidup, bila Ia bisa menyuplai kebutuhan pekerjaan, Ia pun bisa menyuplai kebutuhan pribadi kita. Kita ibarat burung kecil di udara, ibarat bunga bakung di padang! Kita harus beriman kepadaNya. Jangan mencampur aduk uang pekerjaan dengan uang lainnya.

HUBUNGAN ANTAR SEKERJA

Di antara rekan sekerja, setiap pekerja harus ingat, bahwa kita saling berbeda latar belakang, penghidupan, ukuran iman dan karunia yang diterima dari Tuhan, maka tidak ada yang didambakan dan tidak ada yang diirikan. Jika ada saudara beroleh lebih banyak, itu iman pribadinya, dan karunia yang diterimanya sendiri dari Allah. Jika ada saudara beroleh sedikit, itu pun imannya sendiri dan karunianya sendiri dari pemberian Allah. Hubungan kita seorang dengan yang lain bersifat rohani, bukan bersifat resmi. Karenanya tidak ada yang harus didambakan atau diirikan.

Di antara rekan sekerja ada satu hal yang perlu diperhatikan: jika seorang pekerja hanya bisa menerima dari orang lain, tapi tak bisa memberikan kepada orang lain, ini adalah satu perkara yang paling hina dan memalukan. Dalam Perjanjian Lama ada sebuah contoh, yaitu walaupun orang Lewi mewakili Allah menerima persembahan dari orang, tapi mereka pun harus mengambil sepuluh persen dari persembahan itu lalu dipersembahkan kepada Allah. Di antara rekan sekerja, syukur kepada Allah, walau pengalaman kita sudah demikian, tetapi pada prinsipnya kita harus lebih memperhatikan. Kita harus sering belajar memberi. Kita harus ingat perkataan Paulus, "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku" (Kis. 20:34). Kita tidak seharusnya kuatir adakah yang akan kita pakai; kita harus senantiasa bertanya, "Apakah kita ada sesuatu untuk diberikan kepada orang." Jika kita hanya ingat keperluan pribadi kita dan keperluan pekerjaan kita sebagai keperluan satu-satunya, tapi kita tidak ingat akan keperluan rekan sekerja, kita sudah sangat merosot. Kita wajib ingat, bahwa kawan-kawan seperjalanan kita juga ada keperluan. Allah selamanya tidak memberkati orang yang hanya bisa menerima tanpa memberi. Orang yang demikian adalah pekerja yang paling memalukan. Kita wajib mempunyai satu sikap, yaitu "aku dan kawan-kawan seperjalananku". Uang Allah tidak hanya untuk diriku juga untuk kawan-kawan seperjalananku. Ada seorang saudara berkata kepada saya, "Buat apa Anda menghiraukan urusan begitu banyak? Bukankah Allah bisa memberi mereka juga? Anda bukan misi, buat apa memikirkan urusan orang lain?" Namun ia sudah melupakan kawan-kawan seperjalanannya. Baik tidaknya seorang pekerja atau sekerja teruji dari apakah ia ingat akan rekan sekerjanya dalam hal suplai. Semua pekerja harus berpikir untuk memberi uang kepada rekan sekerjanya. Jika ada orang berbuat demikian, Anda tidak seharusnya menyalahkan dia, tetapi Anda malah harus menyalahkan diri sendiri.

Prinsip Allah dalam hal keuangan ialah: "Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan." Orang yang ingin mengumpulkan banyak harus menjadi orang yang tidak kelebihan. Bila orang yang mengumpulkan banyak mau menjadi orang yang tidak kelebihan, maka dapatlah orang yang mengumpulkan sedikit menjadi orang yang tidak kekurangan. Sebaliknya, jika tidak, orang yang mengumpulkan banyak akan kelebihan, orang yang mengumpulkan sedikit sudah pasti kekurangan. Kita harus ada hati untuk membantu orang yang mengumpulkan sedikit agar mereka tidak kekurangan. Jika demikian, Allah bisa membuat kita mengumpulkan banyak. Jika tidak, Allah akan membiarkan kita menjadi orang yang mengumpulkan sedikit dan menjadi orang yang tidak kekurangan. Alangkah bahagia orang yang berhak membantu saudara-saudara lain! Orang yang hanya bisa menggemukkan dirinya sendiri dan tidak bisa membantu orang lain pasti tidak bisa mengumpulkan banyak. Dalam hal ini kita tidak hanya menumpang keuntungan orang, bahkan harus dengan sekuat tenaga membuat orang lain menerima faedah. Uang selamanya makin dipakai makin banyak, dan uang yang disimpan adalah uang yang akan berkarat, dan yang siap dicuri oleh pencuri.

Di antara pekerjaan dengan pekerjaan juga harus saling memperhatikan dan saling membantu. Jangan kuatir pekerjaan orang lain lebih diberkati Allah dan beroleh suplai lebih banyak. Di antara saudara, kita harus belajar menyuruh orang memperhatikan pekerjaan orang lain dan keperluan pekerjaan orang lain. Harus belajar mempromosikan pekerjaan orang lain. Kita harus dapat membeberkan urusan orang lain di hadapan saudara. Jangan takut, jangan iri hati. Semua yang akan Allah berikan kepada Anda tidak ada satu pun yang bisa jatuh ke tangan orang lain. Anda harus percaya kepada Allah, harus mengasihi pekerja lain. Bila Anda melupakan diri sendiri untuk membantu orang lain, Anda akan nampak Allah akan bertanggung jawab, agar Anda beroleh apa yang Anda perlukan. Saya benar-benar percaya, bahwa keperluan Paulus dan rekan sekerjanya sangat banyak. Namun ia hanya membeberkan keperluan kaum saleh dan keperluan penatua di hadapan gereja-gereja. Kenyataannya Allah pun mencukupi semua kebutuhannya!

Ketika misi pedalaman Sudan yang bekerja di Abesinia baru didirikan, pengurus misi itu mengunjungi direktur Misi Pedalaman Cina di Toronto, menanyakan bagaimana caranya membuat kaum imani di kota itu memperhatikan pekerjaan di Sudan. Saudara itu lalu memberinya banyak nama orang dan mengatakan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat memperhatikan penginjilan luar negeri, yang sering membantu kaum imani pedalaman Cina. Ia pun memperkenalkannya kepada mereka. Pengurus misi itu lalu bertanya, "Apakah Anda tidak kuatir kalau-kalau uang kalian kelak dialihkan kepada misi pedalaman Sudan?" Saudara itu menjawab, "Setiap dolar yang Allah berikan kepada kami pasti jatuh ke tangan kami, tidak mungkin jatuh ke tangan Anda. Anda selamanya tidak mungkin menerima uang yang Allah berikan kepada kami. Bila anak-anak Allah memberi lebih banyak uang kepada kalian, mereka pun akan memberi lebih banyak uang kepada kami." Betapa besar iman dan kasihnya! Penerimaan uang mereka di kemudian hari membuktikan apa yang dikatakannya itu benar.

MENGAPA TIDAK MENDIRIKAN MISI IMAN

"Jika kalian merasa, bahwa pekerja Allah wajib hidup bersandar kepada Allah, dan kalian percaya, bahwa pekerjaan mempunyai kelompoknya, sedang pekerja kalian jumlahnya cukup banyak, mengapa kalian tidak membentuk misi iman?" Inilah yang ditanyakan oleh banyak orang kepada kita. Benar, mengapa kita tidak bersatu mendirikan misi iman? Apakah misi iman? Suatu kelompok penginjilan yang tidak memberi gaji tetap kepada anggota-anggotanya, melainkan membagi rata semua uang yang terkumpul kepada setiap pekerja. Pendapatan mereka bukan berasal dari meminta sokongan dari orang, melainkan diperoleh dari berdoa. Setelah mereka beroleh penerimaan, lalu dibagi-bagi menurut perorangan tiap bulan atau tiap minggu. Itulah yang disebut misi iman. Bila menerima banyak, banyak pula yang dibagikan; bila sedikit, sedikit pula yang dibagikan. Misi anu, misalnya, adalah kelompok hidup beriman yang demikian. Ada orang bertanya kepada saya, kalau tidak mau mendirikan misi biasa, mengapa tidak mendirikan misi iman? Jika sebuah instansi penginjilan yang menerima honorarium salah, tentu misi iman tidak salah.

Tetapi, kita harus ingat dua hal: pertama, Alkitab menunjukkan, antara sekerja hanya ada kesatuan rohani, tidak ada instansi resmi. Jika ada sebuah instansi kerja sama yang resmi, maka tidak hanya ada kelompok rohani, juga ada kelompok resmi. Jika demikian, maka hubungan rohani antar sekerja di hadapan Allah akan menjadi hubungan resmi, dan sebuah kelompok rohani akan menjadi sebuah instansi resmi. Kedua, walau misi iman dikatakan semuanya bersandar kepada Allah, tetapi bersandar kepada Allah secara kolektif tidak lebih baik daripada bersandar kepada Allah secara pribadi. Dalam Alkitab hanya ada iman pribadi, tidak ada iman kolektif.

Ketika diadakan sidang sekerja tahun lalu, ada seorang saudari bertanya kepada saya, "Ada sebuah misi penginjilan baru didirikan berdasarkan iman dan pekerjaan mereka lumayan baik, bolehkah kita juga mengadakan misi penginjilan seperti mereka?" Saya berkata, "Mereka berbuat begitu, saya bersyukur kepada Allah. Tetapi kita tidak mau memiliki sebuah iman yang kolektif, kita hanya mau iman pribadi. Sebab dalam Alkitab kita hanya nampak iman pribadi, tidak ada iman kolektif. Lagi pula, misi iman itu sedikit banyak pasti memperoleh pendapatan, dan orang-orangnya sedikit banyak pasti menerima sebagian. Nah, ini akan mudah disusupi orang-orang yang tak beriman, sebab baik beriman maupun tidak beriman, asal masuk kelompok itu, pasti boleh mendapatkan satu bagian. Maka walau misi semacam ini hidupnya berdasarkan iman, tetapi karena secara "semi-tetap" ia memberi suplai kepada anggotanya, dengan sendirinya akan ada suatu benda yang ditaruh di situ untuk membuat orang menengadah kepadanya. Karena di jalan ini sedikit banyak pasti ada pembagian, maka dikuatirkan akan menyusup orang yang tidak benar-benar beriman, untuk bersandar kepada pembagian itu. Pertama kali orang memasuki kelompok ini, boleh jadi ia beriman. Tetapi karena ada kelompok suplai ini, tak lama kemudian ia tidak perlu hidup bersandar kepada Allah lagi. Orang yang mengenal kedagingan tahu, bahwa mata kita paling pandai menengadah kepada sesuatu yang di luar Allah, dan paling mudah kehilangan iman terhadap Allah. Laksaan manusia dan laksaan instansi tidak dapat diandalkan dan tidak berguna; daging kita memang sejak lahir sudah bisa menengadah kepada mereka. Alangkah sukarnya kita menengadah kepada Allah! Hati manusia sangat jahat. Dengan sendirinya, kita akan lemah sedemikian rupa sehingga bukan menantikan burung gagak di udara, melainkan menantikan pos wesel. Kita benar-benar tidak dapat diandalkan! Bukankah demikian, saudara-saudara? Jika saya salah berkata, mohon Allah dan kalian memaafkan saya."

"Karena mata kita sering melupakan sumber air, tapi memperhatikan pompa air; melupakan hati yang penuh kasih setia, tapi memperhatikan tangan yang menyampaikan pemberian; maka langit akan kering. Setelah itu baru ada air sungai dan burung gagak. Air sungai Kerit juga akan mengering dan burung gagak Allah juga akan tidak kunjung datang. Setelah itu, barulah kita menengadah kepada Allah untuk beroleh kiriman dari janda itu. Allah perlu sering mengganti tangan pemberi, agar jangan karena mengenal tangan itu, kita lupa bahwa Allahlah sumber segala-galanya, dan kita lalu mengharap manusia menjadi sumber kita. Karena itu, iman yang kolektif tidak membantu orang."

"Dalam Alkitab hanya ada iman pribadi, tidak ada iman kolektif. Allah menangani seseorang, bukan menangani satu kelompok. Orang bisa saja tanpa iman pribadi tetapi tetap memiliki suatu iman kolektif yang semu. Maka misi iman tidak mungkin membina iman pribadi. Inilah yang kami anggap sebagai yang diwahyukan Allah kepada kita. Jika ini keliru, mohon kalian memaafkan kami."

"Di sini kita ingin menyatakan dengan serius, yaitu karena Allah tidak memimpin kita berbuat demikian, maka kita tidak mempunyai organisasi misi. Tapi ini tidak berarti kita menentang organisasi misi. Kita menganggap, bahwa di dalam Alkitab tidak ada organisasi misi. Namun tidak ada pula larangan yang harfiah. Jika saudara kita merasa itu adalah pimpinan Allah, semoga Allah memberkati mereka. Kita tidak menerima pimpinan serupa, maka kita tidak berbuat seperti mereka. Jika kita ceroboh melakukannya juga, itu salah besar. Semoga kalian memaafkan kami dalam hal itu." Tetapi satu hal yang pasti, yakni Allah menghendaki semua kelompok panginjilan, baik yang berorganisasi misi maupun tanpa organisasi misi, tidak seharusnya memperluas kelompok sendiri, melainkan membangun gereja lokal. Kiranya umat Allah bisa sehati dengan kita dalam hal ini, agar kita semua melayani gereja menurut ministri yang diamanatkan Tuhan kepada masing-masing.

Ada orang bertanya, "Mengapa kalian tidak kumpulkan saja semua uang, kemudian baru dibagi-bagikan kepada sekerja di berbagai tempat? Dengan demikian bukankah tidak sampai ada yang menerima terlalu banyak, dan ada yang menerima terlalu sedikit? Dan yang bekerja di desa tidak kekurangan, sedang yang bekerja di kota tidak kelebihan?" Tetapi saya balik bertanya, "Siapakah kepala gereja? Siapakah Tuan dari hamba-hamba ini?" Jika kita bisa percaya, bahwa Allah mengatur gagak dan janda itu, maka tidaklah ada perbedaan antara desa dan kota. Menurut sejarah masa lalu, ada pekerja yang kebutuhannya banyak, maka suplai Allah pun banyak kepadanya; ada yang kebutuhannya sedikit, maka suplai Allah pun sedikit. Kalau kita menguasainya dengan kedagingan, memang kita bisa menguasai banyak sedikitnya penerimaan, namun kita tidak mungkin menguasai berapakah kebutuhan itu. Uang bisa dikuasai, tetapi kebutuhan tidak bisa dikuasai. Kita tak mungkin menguasai sampai berapakah kebutuhan itu, lalu untuk apa menguasai uang sebanyak itu? Maka penguasaan semacam itu tidak ada faedahnya.

Percayakah kita akan pengaturan Allah? Kalau bukan kehendakNya tidak ada seekor burung pipit pun yang bisa jatuh dari langit ke bumi. Masakan ada satu perkara yang menimpa diri kita tidak melalui tanganNya? Setiap suplai kita adalah melalui tangan Allah, dan melalui pertimbanganNya. Percaya sajalah kepada pengaturan Allah! Begitu tangan manusia menguasai, Roh Kudus akan segera kehilangan hakNya. Kita wajib beriman kepada Allah, Dia bisa mengatur suplaiNya sesuai dengan keperluan kita.

Kebutuhan saudara yang di desa belum tentu sedikit, adakalanya malah lebih banyak daripada saudara yang di kota. Lagi pula, suplai saudara yang di desa pun belum tentu lebih sedikit daripada saudara yang di kota, ada kalanya malahan lebih melimpah. Semuanya berada dalam pengaturan Allah. Kalau kita tidak beriman, tak usah dikata. Kalau kita beriman kepada Allah, kita wajib percaya, bahwa Allah akan menyatakan hak dan kuasaNya dalam segala perkara.

Semoga Allah merahmati kita, agar kita berdiri di hadapanNya, tidak mempertahankan sesuatu dengan cara manusia. Kita hanya menengadah kepada kuasa Roh Kudus, hanya menengadah kepada wewenang Tuhan, dan hanya menengadah kepada pengaturan Allah. Kita harus menolak segala cara yang berasal dari manusia. Kalau Allah tidak menolak kita, Dia akan mengatur segala suplai yang kita perlukan di atas jalan ini. Kalau Allah menolak kita, tentu kita akan bersandar kepada manusia.

PEKERJAAN IMAN

Kita tahu, banyak pekerjaan iman yang merupakan pekerjaan yang sangat mustika. Tujuan Allah tidak hanya menghendaki manusia dengan iman keluar bekerja bagiNya, Ia pun senang banyak orang melakukan banyak pekerjaan karena beriman kepadaNya. Saya pribadi yakin, jika Allah mendapatkan kita lebih banyak, maka pekerjaan-pekerjaan semacam ini akan lebih banyak dibangkitkan.

Di jaman ini, Allah mempunyai banyak pekerjaan yang hendak dikerjakanNya. Jika ada orang bangkit dan mengerjakan menurut kehendakNya, alangkah indahnya hal itu. Misalkan pekerjaan literatur. Walau itu sudah ada saudara-saudara yang melaksanakannya, tapi tidak berarti sudah cukup. Masih banyak yang perlu diusahakan, seperti tempat pembinaan kaum remaja, atau semacam tempat menuntut pertumbuhan rohani, atau tempat untuk retret, atau usaha sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan seterusnya, semua itu sangat diperlukan. Usaha-usaha semacam itu tidak harus melanglang buana seperti rasul, namun Allah juga menghendaki orang melakukan pekerjaan semacam itu.

Saya sungguh damba ada lebih banyak saudara nampak ministri khusus yang Allah karuniakan kepada mereka untuk membangkitkan pekerjaan iman itu. Tidak hanya menjadi rasul, tetapi juga melakukan banyak pekerjaan yang khusus itu. Dengan demikian gereja Allah akan terbangun. Bukan hanya rasul membantu gereja, pekerjaan-pekerjaan itu pun membantu gereja. Tak peduli itu panti asuhan, usaha sosial, usaha pendidikan atau yang lainnya, asalkan penyelenggaranya benar-benar menengadah kepada Allah, dan benar-benar dengan sekuat tenaga memberitakan Injil di dalamnya, pasti akan membuat gereja beroleh banyak faedah. Saya harap saudara-saudara banyak berdoa, banyak beriman dan dapat mendengar panggilan Allah untuk melakukan usaha-usaha yang demikian. Penginjilan di negeri Cina boleh dikata sudah ada, tetapi pekerjaan-pekerjaan semacam ini benar-benar masih kurang. Saya harap Allah membangkitkan banyak orang untuk melakukannya, agar Allah beroleh kemuliaan.

Ada satu perkara yang tak dapat tidak membuat saya prihatin, yakni walau tidak sedikit rekan sekerja kita hari ini, kita semua menengadah kepada Allah dan secara langsung melakukan penginjilan, tetapi pekerjaan yang diprakarsai rekan sekerja kita tidak banyak. Maka di hadapan Allah dan demi beriman kepadaNya, hendaklah kita lebih agresif, lebih kreatif dan lebih produktif. Jika kita adalah orang yang percaya kepada Allah, kita tidak seharusnya tidak mampu. Kita harus mempunyai iman yang agresif untuk melaksanakan apa yang hendak dilakukan Allah. Beberapa pekerjaan sudah ada, tapi masih banyak yang belum ada, dan masih bisa dilakukan. Dewasa ini, walau kita mempunyai Perpustakaan Injil yang bisa menyuplai jutaan lembar traktat tiap tahun, dan sebuah tempat pemahaman Alkitab untuk membina saudara remaja, juga ada beberapa pos penginjilan di tiap lokal, akan tetapi entah masih berapa banyak pekerjaan iman yang harus dan bisa kita lakukan. Kita tidak seharusnya hanya memberitakan Injil di satu tempat. Itu memang harus ada orang yang melakukan, namun masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Semoga kita banyak menghampiri Allah, banyak memahami kehendak Allah, banyak memiliki iman untuk membuka lapangan kerja, melakukan banyak pekerjaan, agar Allah beroleh kemuliaan yang lebih besar!