← Daftar isi Penghidupan Gereja yang Normal · bab 9/9

ORGANISASI GEREJA LOKAL - "PENDETA", "KEBAKTIAN", "GEDUNG" -

Dalam struktur organisasi gereja hari ini, benarkah dapat tidaknya sebuah gereja didirikan di suatu lokal, selain ditentukan oleh saudara-saudara, juga harus ada pendeta, kebaktian dan gedung kebaktian? Menurut tradisi hari ini, ketiga hal tersebut adalah tiga unsur besar gereja. Coba pikir, dapatkah sebuah gereja disebut gereja jika tidak memiliki "pendeta" atau tidak memiliki "kebaktian" atau tidak memiliki "gedung kebaktian"? Jangankan tidak memiliki tiga perkara itu, tidak memiliki satu di antaranya pun akan tidak mirip sebuah gereja. Maka ketika di sebuah lokal ingin didirikan gereja, yang diperhatikan kaum imani pertama kali adalah ketiga perkara itu. Jika ada ketiga hal itu, gereja baru dapat didirikan; jika tidak ada, gereja tak mungkin didirikan. Akan tetapi, apakah itu sesuai dengan Alkitab? Pada mulanya, apakah manusia harus memiliki ketiga hal itu baru bisa mendirikan gereja?

Hari ini, di mana saja, jika orang ingin mendirikan gereja, maka:

1) harus ada seorang "pendeta", atau "penginjil", atau seorang "pekerja", tak peduli Anda menamainya apa, pokoknya harus ada orang sejenis itu. Orang itu adalah orang yang khusus dipisahkan dari orang lain dan yang khusus ditugaskan untuk mengelola semua pekerjaan gereja. Boleh jadi orang itu pernah menerima latihan khusus, boleh jadi ia didatangkan dari tempat lain. Orang itulah yang khusus bertanggung jawab atas kewajiban rohani dan urusan sebuah gereja, dan ia pula yang mengatur perkara-perkara gereja serta mewakili saudara-saudara menangani urusan gereja. Kalau saudara-saudara lainnya bekerja menurut ministri mereka masing-masing, maka orang itu memborong pekerjaan gereja.

2) Harus ada kebaktian, yakni mengadakan persidangan atau kebaktian paling tidak sekali pada hari Minggu. Sidang-sidang lainnya, seperti sidang doa, sidang pemahaman Alkitab dan sebagainya dalam seminggu boleh ada, boleh tidak ada, karena hal itu tidak mempengaruhi eksistensi gereja. Tapi tiap hari Minggu harus ada suatu "kebaktian Minggu", yang tujuannya agar kaum imani pergi ke gedung kebaktian dengan taat, untuk mendengarkan khotbah sang pendeta. Pekerjaan seorang "pendeta" yang paling penting pun menasihati "anggota" untuk mengikuti "kebaktian Minggu". Hal itu juga dianggap sebagai kewajiban paling penting oleh orang Kristen. Jika seorang "anggota" bisa hadir tanpa absen dalam "kebaktian Minggu" setahun 52 kali, maka ia akan merasa sangat baik, oleh pendetanya pun ia dianggap sangat baik. Lagi pula gereja tidak terbilang sebagai gereja jika pada hari Minggu tidak ada kebaktian mendengarkan khotbah. Sidang semacam itu boleh Anda namakan kebaktian atau mendengar khotbah, namun sidang itu merupakan tumpuan nyawa gereja.

3) Harus ada sebuah gedung kebaktian, sebuah tempat yang khusus dipakai untuk bersidang, bukan untuk keperluan lain. Anda boleh menyebutnya gedung kebaktian atau balai sidang. Apa pun namanya, pokoknya harus ada sebuah tempat seperti itu untuk mewakili kelompok itu. Ketika orang datang ke situ, orang bisa mengatakan, bahwa mereka datang ke gereja. Jika ingin ada sebuah gereja, maka harus ada sebuah balai sidang. Tak peduli Anda menamakannya apa, yang jelas tempat itu harus ada.

Hari ini banyak lokal telah diinjili dan telah banyak orang beroleh selamat. Tapi karena tidak ada pekerja yang bisa memikul kewajiban berkhotbah, dan tidak punya balai sidang resmi, atau kurang satu dari tiga perkara itu, maka di tempat itu dianggap tidak dapat didirikan gereja. Jadi menurut kebiasaan hari ini, gereja tak mungkin didirikan tanpa pekerja (pendeta), kebaktian (pengkhotbahan) dan balai sidang (gedung kebaktian).

Pertanyaan kita ialah: bagaimanakah pandangan Alkitab terhadap ketiga perkara tersebut? Apakah konsepsi manusia yang demikian sesuai dengan Alkitab? Apakah harus ada ketiga hal itu, baru gereja dapat didirikan? Mari kita kaji ajaran Alkitab.

"PENDETA" YANG MENGELOLA GEREJA

Apakah dalam Alkitab ada seorang "pendeta" yang mengelola gereja? Apakah ada seorang pekerja yang memikul tanggung jawab seluruh gereja, yakni membina dan menggembalakan mereka? Tidak ada! Organisasi personalia gereja lokal ialah sebuah gereja diawasi oleh penatua, bukan dikelola oleh pekerja. Dalam gereja yang sesuai dengan teladan Alkitab, tidak pernah ada seorang pendeta atau yang sejenis itu seperti hari ini. Kita telah nampak, bukan seorang pendeta mengelola sebuah gereja seperti yang berlaku dewasa ini, melainkan beberapa penatua bersama-sama menanggung kewajiban sebuah gereja. Dalam gereja yang tercatat dalam Alkitab, hanya ada penatua yang memelihara gereja, tidak ada kedudukan lainnya.

Dalam Filipi 1:1 tercantum, ". . . kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik gereja dan diaken." Tidak ada ayat yang mengungkapkan organisasi gereja yang lebih baik dari ayat ini: semua orang kudus dalam Kristus, para penilik dan para diaken. Inilah sebuah gereja lokal. Gereja lokal dibentuk oleh semua orang kudus, ditambah para penilik, ditambah para diaken. Diaken adalah orang yang melayani orang lain, atau boleh disebut hamba. Mereka bertugas membantu saudara-saudara dalam urusan-urusan biasa. Kita tidak memperhatikan mereka sekarang. Dalam gereja masih ada penilik, siapakah penilik? Penilik adalah penatua. Hal ini cukup jelas terwahyu dalam Kisah Para Rasul 20:17,28 dan Titus 1:5,7. Penatua mengacu kepada orangnya sedang penilik mengacu kepada pekerjaannya. Allah menugaskan penatua menunaikan pekerjaan menilik gereja lokal, agar gereja dapat melangsungkan eksistensinya dan dapat maju bertumbuh. Mereka bukan orang-orang yang menangani urusan-urusan biasa, melainkan yang memimpin dan mengawasi. Selain diaken dan penilik, ada orang-orang kudus. Tidak ada lagi orang lain selain mereka. Maka menurut ajaran Alkitab, personalia dalam gereja hanya ada: orang-orang kudus, para penilik, dan para diaken. Mustahil memasukkan orang lain ke dalamnya, sebab di dalam gereja hanya ada ketiga jenis orang itu.

Kita perlu memperhatikan beberapa poin tentang penatua dan diaken agar kita memahami ketetapan dan cara Allah. Para penatua bukan segolongan manusia yang khusus diutus Allah untuk bekerja. Dalam pekerjaan Allah mereka tidak ada jabatan. Mereka bukan yang diutus Allah dari satu lokal ke lokal lain. Penatua sebenarnya adalah salah seorang saudara lokalyang beroleh selamat karena penginjilan rasul. Tetapi setelah beroleh selamat, mereka sangat berminat sehingga lebih maju daripada orang lain, dan karena mengasihi Tuhan mereka pun dengan spontan senang merawat orang-orang yang sama-sama dirahmati Tuhan. Ketika rasul tiba untuk kedua kalinya maka orang-orang itulah yang dilantik rasul sebagai penatua, yang bertugas menilik semua orang kudus dan memimpin para diaken melayani gereja.

Karena itu, mengenai penatua ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, penatua dipilih dari saudara-saudara biasa. Mereka asalnya bukan "pekerja", bukan orang yang khusus diutus Allah untuk bekerja, melainkan orang imani biasa yang mempunyai pekerjaan(mata pencaharian), keluarga dan mempunyai reputasi. Kedua, penatua adalah saudara setempat yang dipilih untuk menanggung kewajiban gereja. Mereka bukan orang yang dimutasikan dari tempat lain, melainkan yang dipilih dari saudara yang sudah ada di lokal itu (Kis. 14:23; Titus 1:5). Maka sebagaimana seluruh kaum saleh dalam gereja lokal adalah orang-orang lokal, demikian pulalah para penatua yang dipilih dari antaranya. Sebagaimana gereja tidak mempunyai "transmigran" di tempat lain untuk mendirikan gereja, begitu pula gereja tidak memutasikan saudara ke tempat lain untuk menjabat sebagai penatua. Bila kita ingat kedua sifat dari kepenatuaan ini, niscaya kita tidak akan melakukan kekeliruan dalam hal organisasi gereja lokal.

Karena penatua asalnya adalah seorang saudara biasa, bukan utusan Allah, maka di dalam sebuah gereja lokal sama sekali tidak ada kedudukan rasul. Dalam sebuah gereja lokal hanya ada orang-orang kudus, para penilik dan para diaken, tanpa rasul. Tugas kewajiban rasul adalah pergi mendirikan gereja lokal, dan mereka melampaui gereja. Paulus selamanya tak pernah menjadi rasul sebuah gereja lokal. Di setiap lokal, bila ada gereja tentu ada penatua, dan segera itu pula mereka sendiri bertanggung jawab melayani dan mengelola urusan gereja.

Dalam gereja lokal hanya ada kedudukan penatua, tidak ada kedudukan rasul. Dalam Alkitab tidak ada contoh rasul di suatu lokal mengelola sebuah gereja. Kedudukan rasul tidak dapat diletakkan dalam gereja lokal, sebab dalam organisasi gereja lokal tidak ada kedudukan bagi mereka. Walaupun gereja lokal didirikan oleh rasul, tetapi rasul berada di luar gereja lokal. Dalam organisasi gereja lokal hanya ada penilik dan diaken, tanpa rasul. Jika rasul tinggal di suatu lokal yang ada gereja, maka kehadiran mereka dalam sidang adalah dengan status saudara.

Karena penatua adalah saudara setempat, maka semua cara pemutasian orang dari lokal lain untuk mengelola sebuah gereja tidaklah sesuai dengan Alkitab. Tak peduli orang itu telah menerima latihan khusus untuk melakukan pekerjaan khusus, atau ia diutus manusia atau diutus Allah, jika ia diundang dari tempat lain ke tempat ini untuk mengelola gereja, hal itu tidak diperbolehkan. Kita harus ingat baik-baik, bahwa gereja ditanggung oleh penatua, dan penatua adalah saudara setempat. Jadi, memutasikan semua orang dari luar ke suatu gereja untuk bertanggung jawab, bukanlah cara Allah. Namun, saudara yang pindah ke lokal tersebut adalah masalah lain lagi.

Di sini kita nampak lagi perbedaan pekerjaan dengan gereja. Apa yang tidak boleh dilakukan di dalam gereja tidak hanya boleh dilakukan dalam pekerjaan, bahkan sering kali harus dilakukan. Misalkan dalam pekerjaan seorang saudara boleh menerima utusan untuk menanggung kewajiban pekerjaan di lokal lain, atau menerima utusan untuk menangani suatu pekerjaan, tapi gereja adalah milik lokal dan di bawah penilikan penatua. Penatua adalah saudara setempat.

Gereja lokal tidak dikelola oleh rasul yang tinggal di lokal itu. Bukan seorang utusan Tuhan memberitakan Injil di suatu lokal dan mendirikan gereja, lalu tinggal menetap untuk melakukan penggembalaan. Kalau demikian, di lokal itu hanya ada pekerjaan, tidak ada gereja. Misalkan kita hari ini menginjil di daerah perbatasan dan memenangkan 50 atau 100 jiwa. Jika kita meninggalkan seorang pekerja untuk menetap terus di situ untuk menggembalakan mereka, maka di tempat tersebut belum ada gereja, paling-paling hanya ada suatu pekerjaan. Sebab segalanya masih berada di tangan pekerja, belum di tangan saudara-saudara setempat. Yang ada di tangan pekerja adalah pekerjaan, sedangkan gereja harus ada di tangan saudara-saudara setempat. Dalam Alkitab, tidak ada contoh seorang pekerja ditetapkan di suatu lokal untuk menggembalakan atau menangani gereja, yaitu sebagai "pendeta". Menurut Alkitab, penatua adalah orang yang dipilih dari saudara-saudara yang agak maju, dan mereka ditugaskan untuk menilik gereja. Dalam Alkitab hanya ada pelantikan penatua setempat, tidak ada penggembalaan oleh pekerja dari luar.

Paulus pernah meninggalkan Titus di Kreta, tapi bukan menyuruhnya mengurus gereja secara langsung, melainkan menyuruhnya menetapkan penatua di tiap lokal, agar penatua-penatua itu menanggung kewajiban gereja. Tugas pekerja adalah mendirikan gereja dan melantik penatua. Mereka selamanya tidak memikul kewajiban gereja secara langsung. Andaikata seorang rasul memikul kewajiban gereja, ia akan merendahkan status kerasulannya, jika tidak menghilangkan sifat gereja. Sebab rasul telah menjadi "penatua"! Rasul dari luar tidak layak menjadi penatua sebuah gereja lokal. Sebab Alkitab hanya membenarkan saudara setempat dipilih menjadi penatua. Dalam Alkitab, setelah rasul mendirikan gereja, ia tidak bercokol di situ untuk menjadi penatua, melainkan melantik saudara setempat yang agak maju untuk menjadi penatua, dan ia sendiri meninggalkan tempat itu, lalu bekerja di tempat lain.

Sebab itu, ketika melakukan pekerjaan, kita harus menunjukkan kepada kaum imani di berbagai lokal, bahwa Allah tidak menyuruh kita tinggal di mana pun untuk menjadi "pendeta" mereka. Allah tidak menghendaki pekerja utusanNya menetap di suatu lokal untuk menanggung kewajiban gereja itu secara langsung. Maka mereka tidak seharusnya menaruh harapan seperti itu. Pekerja boleh kembali mengunjungi mereka, kadang-kadang boleh juga menjenguk mereka sambil membina mereka dua atau tiga kali. Namun untuk tinggal menetap sebagai gembala, itu tidak pada tempatnya. Karena hal itu selain tidak tercantum dalam Alkitab, juga tidak disetujui Alkitab.

Mereka harus bertanggung jawab sendiri; saudara-saudara setempat harus memikul kewajiban gereja setempatnya sendiri. Mereka harus puas dengan penatua yang dilantik rasul untuk lokal mereka. Mereka harus belajar patuh dan menghargai penatua setempat, tanpa mendambakan seorang pekerja dari luar untuk menangani urusan gereja secara langsung. Kedambaan yang demikian adalah karena ketidaktahuan dan ketidaktaatan atas firman Allah. Dalam Alkitab, tak pernah ada contoh sebuah gereja mendambakan pemerintahan rasul dan menolak kepengurusan penatua. Sudah tentu, untuk belajar menaati seorang saudara yang sudah kita kenal setiap hari itu memerlukan kasih karunia Allah!

Jika demikian, hubungan antara gereja dan pekerjaan menjadi sangat sederhana. Bila rasul keluar menginjil dan memperoleh sekelompok orang, maka dari orang-orang itulah dipilih beberapa yang agak rohani dan maju, serta menyuruh mereka bertanggung jawab mengelola urusan gereja lokal mereka sendiri. Dengan demikian, terbentuklah sebuah gereja lokal. Kemudian rasul sendiri, menurut pimpinan Roh Kudus, pergi ke tempat lain. Hanya dengan cara demikianlah gereja baru dapat maju dan bertumbuh (sebab mereka bertanggung jawab sendiri); Injil dapat disebar luaskan (sebab para rasul boleh beroperasi ke mana-mana); sifat lokal gereja akan terpelihara, dan sifat "timbal balik" saudara pun dapat diwujudkan. Alangkah baiknya hal ini!

Manusia sering mengira, bila tidak ada seorang "penunjang" dalam sebuah gereja, gereja itu mustahil berdiri. Maka bila seseorang datang ke suatu gereja, ia akan bertanya, "Siapakah penunjangnya?" Jika tidak ada seorang "penginjil" atau seorang "pekerja" atau seorang "pendeta" yang mengelolanya, maka seolah-olah gereja itu mustahil terbentuk. Namun, perkara demikian tidak kita jumpai dalam Alkitab!

Semua anak Allah yang tinggal di sebuah lokal adalah saudara, dan merekalah yang bertanggung jawab atas urusan gereja lokal itu. Walaupun sudah ada penatua, mereka tetap saling membantu dan bekerja sama. Penatua hanya mengawasi saudara-saudara yang bekerja. Dalam Alkitab, bukan pula seorang atau sekelompok penatua yang memikul kewajiban seluruh gereja. Semuanya adalah saudara. Walau ada penatua, mereka bukan pengganti atau wakil, mereka hanyalah penilik.

Karena itu, di dalam gereja sama sekali tidak ada masalah pasif. Jika hanya pekerja atau pendeta yang bergerak, itu bukan gereja, melainkan misi, instansi penginjilan atau lembaga pekerjaan. Dalam gereja, seluruh saudara bekerja dan para penatua melakukan pengawasan. Bukan saudara-saudara tidak bekerja, juga bukan para penatua mewakili mereka bekerja, melainkan saudara-saudara bekerja dan para penatua mengawasi mereka bekerja.

Jadi, organisasi gereja dalam Alkitab sangat sederhana. Pertama-tama rasul diutus Allah menginjil di suatu tempat. Setelah ada orang beroleh selamat, maka mereka sudah sebagai gereja di lokal tersebut. Pekerja lalu memberitahu mereka berbagai kewajiban orang Kristen, di antaranya ialah mereka berkewajiban menanggung urusan-urusan gereja setempat mereka. Mereka wajib saling membantu dan membina di antara sesama saudara. Tidak seharusnya mendambakan seorang rasul Allah datang menjadi "pendeta" mereka untuk menangani berbagai urusan mereka. Saudara-saudara yang maju di antara mereka akan dilantik Allah menjadi penatua, untuk mengawasi semua saudara. Mereka harus bersyukur kepada Allah, karena pemimpin yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Mereka sendiri harus bekerja dan harus merasa puas, dengan adanya penatua setempat sebagai pemimpin mereka.

SIDANG GEREJA

Saya rasa, sebelum kita mengerti makna persidangan gereja, kita harus memahami dulu sifat gereja. Jika kita tidak memahami apa itu gereja, kita pun tidak akan memahami apa itu persidangan gereja. Kita tahu bahwa Kristus adalah Kepala gereja, dan gereja adalah Tubuh Kristus, sedang pribadi kita di dalam gereja adalah "walaupun banyak, adalah satu Tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain" (Roma 12:5). Selain Kristus, gereja tidak memiliki Kepala lain. Di dalam gereja, kita masing-masing adalah anggota, dan tidak ada anggota yang menjadi kepala. Kita sekalian saling menjadi anggota. Jadi, gereja bersifat "saling" atau "timbal balik". Semua hubungan yang ada di dalam gereja adalah hubungan antara anggota dengan anggota, bukan antara kepala dengan anggota. Ciri-ciri khas gereja ialah semua orang yang di dalam gereja adalah anggota, tidak ada seorang pun yang menjadi kepala. Karena itu, segala sesuatu dalam gereja bersifat saling, timbal balik. Hal itu sudah pasti.

Tetapi tidak demikian dengan pekerjaan. Menurut ketetapan Allah, pekerjaan mempunyai penyelenggaranya, di antaranya adalah para rasul. Di antara para rasul pun ada yang ministrinya kecil dan ada yang ministrinya besar. Karena itu, kita nampak dalam pekerjaan ada pengutusan, pemutasian, ada nasihat dan ada ketaatan. Pada saat pekerjaan dilakukan, para pekerja bertindak spontan dan orang yang digarapnya bersikap pasif. Sifat pekerjaan tidak timbal balik, melainkan aktif dan pasif. Pekerjalah yang aktif, sedang orang-orang yang digarap bersikap pasif. Semua pekerjaan mengandung sifat sepihak. Yang aktif adalah sepihak, bukan dua pihak. Itulah perbedaan antara sifat pekerjaan dengan gereja. Kalau pekerjaan bergerak sepihak, maka gereja bergerak bersama, yaitu semua bergerak.

Setelah mengerti hal ini, maka kita dapat memahami masalah persidangan yang tercantum dalam Alkitab. Sebab asalkan kita melihat sifatnya, kita sudah mengetahui ruang lingkup yang memilikinya.

Konsepsi orang hari ini tidak hanya harus ada seorang penopang yang mengelola gereja, bahkan harus ada sebuah persidangan, yakni apa yang disebut "kebaktian". Ini adalah sebuah sidang pengkhotbahan, yakni seorang berkhotbah di atas mimbar, sedang orang banyak duduk mendengarkannya. Kalau sudah ada itu barulah berarti sebuah gereja. Andaikata kebaktian semacam itu dihapus, maka lenyaplah segalanya. Jadi seolah-olah gereja berdiri di atas "kebaktian". Mereka mengira, masalah berkhotbah dan mendengarkan khotbah adalah perkara yang paling penting. Namun tidaklah demikian dalam Alkitab. Bagaimanakah yang kita nampak dalam Alkitab? Begitu saudara-saudara membentuk gereja, segeralah ada sidang "gereja". Sidang gereja yang saya katakan ini berbeda sama sekali dengan sidang pengkhotbahan. Kalau dalam sidang pengkhotbahan, satu orang berkhotbah di atas mimbar dan orang banyak duduk mendengarkannya; seorang yang memimpin di atas mimbar dan banyak orang yang mengikuti di bawah mimbar. Itu bukan sidang gereja, sebab itu bukan dilakukan secara saling atau timbal balik. Sidang semacam itu adalah sidang pekerjaan, bukan sidang gereja. Ingatlah, sidang gereja harus bersifat saling atau timbal balik; sidang pekerjaan baru bersifat searah, aktif sepihak.

Dalam Alkitab ada dua jenis sidang yang berbeda. Jika kedua jenis sidang ini tidak dibedakan, maka akan mengacaukan pekerjaan dan gereja, sehingga pekerjaan tidak mirip pekerjaan, gereja juga tidak mirip gereja. Dalam Alkitab ada sejenis sidang yang bersifat rasuli, ada sejenis sidang yang bersifat gerejani. Sidang yang bersifat rasuli ditangani oleh rasul, ia sendiri yang berkhotbah dan orang banyak mendengarkan khotbahnya. Sidang yang bersifat gerejani adalah "hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu; yang seorang mazmur, yang lain pengajaran atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh . . ." (I Kor. 14:26). Jadi sidang gereja bukan ditangani oleh satu orang, tetapi ditangani bersama. Kalau sidang rasuli adalah milik satu orang, maka sidang gereja adalah milik dua atau tiga, bahkan segenap kaum imani berhak mempersembahkan sesuatu. Dengan kata lain, sidang gereja itu timbal balik. Alkitab dengan jelas membedakan kedua jenis sidang tersebut.

Sidang rasuli boleh dibagi dua jenis, yaitu yang ditujukan kepada orang yang belum beriman dan yang ditujukan kepada kaum imani. Misalkan ketika Petrus dan kesebelas rasul berdiri dan dengan suara nyaring berkata kepada orang banyak pada hari Pentakosta di Yerusalem (Kis. 2:14), itu jelas ditujukan kepada orang-orang yang belum percaya, itu adalah sidang rasuli. Demikian pula khotbah Petrus kepada orang Israel di serambi Salomo (Kis. 3:12). Khotbah Paulus di Antiokhia Pisidia juga bukan dalam sidang gereja, melainkan dalam sidang rasuli (Kis. 13). Jika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita akan temukan banyak sekali "sidang rasuli" alias penginjilan semacam itu. Ketika Paulus berkhotbah di Troas, itu juga sidang rasuli, hanya saja ditujukan kepada kaum imani. Di situ Paulus bukan menginjil, melainkan berkhotbah kepada kaum imani, tetapi sidang itu pun bersifat rasuli, sebab sidang itu dilakukan oleh satu pihak (Paulus), bukan oleh segenap gereja (jemaat). Paulus berkhotbah di Troas karena ia singgah di tempat itu. Hal ini boleh dipraktikkan oleh gereja lokal, yakni ketika ada rasul melalui lokal Anda, Anda boleh mengambil kesempatan untuk mengundangnya berkhotbah. Ketika kemudian Paulus tiba di Roma, banyak orang datang ke rumahnya dan Paulus menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang kerajaan Allah dari pagi sampai sore. "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu, ia menerima semua orang yang datang kepadanya" (Kis. 28:23, 30-31). Itu pun sidang rasuli; rasul sendiri yang berbicara, orang banyak mendengarkannya. Jadi kita harus ingat, bahwa dalam kekristenan ada dua jenis sidang, jenis pertama ialah satu orang berkhotbah, yang lain mendengarkan. Sidang ini dapat juga disebut sidang pekerjaan.

Sidang jenis berikutnya tercatat dalam I Korintus 14:23. Ini adalah sidang gereja lokal. Sidang itu bukan ditangani satu orang, bukan satu orang yang berkhotbah dan yang lain mendengarkan, melainkan "tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh . . ." Dalam sidang ini tidak ditentukan siapa yang berbicara, mungkin saya, mungkin Anda, mungkin dia. Maka prinsip sidang ini adalah saling dan timbal balik. Hari ini mungkin saya yang berbicara, kali lain mungkin dia. Hari ini boleh jadi Anda tergerak oleh Roh Kudus untuk membina saudara saudari, dan kali lain boleh jadi saya. Ini adalah sidang "dua atau tiga orang" (I Kor. 14:27-29). Sidang semacam ini disebut sidang gereja, sebab sifat sidang tersebut adalah saling dan timbal balik.

Dalam Alkitab kita jumpai setidak-tidaknya empat macam sidang dalam sidang gereja ini:

1) Sidang doa. "Berserulah mereka bersama-sama kepada Allah . . . dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu . . ." (Kis. 4:24-31). Di sini kita melihat ada sidang doa. Pada pasal 12, kita sekali lagi nampak sidang doa bersifat gerejani. "Tetapi gereja dengan tekun mendoakannya (Petrus) kepada Allah" (ayat 4). Dalam sidang ini bukan satu orang yang memimpin, lalu orang-orang lain berdoa menurut apa yang diatur oleh seorang itu. Dalam Alkitab, sama sekali tidak ada hal yang demikian, melainkan semua orang berdoa menurut pimpinan Roh Kudus; Anda berdoa, saya pun berdoa.

2) Sidang membaca firman Allah. Kaum imani hari itu belum memiliki Kitab Perjanjian Baru seperti hari ini, mereka hanya memiliki Kitab Perjanjian Lama. Karena mereka bangsa Yahudi, maka "sejak jaman dulu hukum Musa telah diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat" (Kis. 15:21). Penyelidikan Alkitab yang dilakukan orang Berea juga merupakan aktivitas kelompok. Sedangkan pembacaan Kitab Perjanjian Baru kita nampak dilakukan oleh kaum imani di Antiokhia, "mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul . . . setelah (jemaat) membaca . . ." (15:30-31), dan di Kolose, "Dan bilamana surat ini telah dibacakan di antara kamu, usahakanlah, supaya dibacakan juga di gereja Laodikia dan supaya surat yang untuk Laodikia dibacakan juga kepadamu" (Kol. 4:16). Contoh-contoh itu dapat dijadikan dasar sidang pembacaan Alkitab gereja, walau kita tahu, bahwa pada masa itu tidak seberapa formal. Dalam sidang tersebut, setiap orang imani boleh saja berbicara atau mengutarakan wahyu dan pengajaran yang mereka peroleh dari firman Tuhan.

3) Sidang pemecahan roti. "Apabila kamu berkumpul, . . . berkumpul untuk makan jamuan Tuhan" (I Kor. 11:20). Dalam sidang ini semuanya datang memperingati Tuhan. Bukan seorang yang berbuat sesuatu, melainkan "kita sama-sama menerima darah Kristus dansama-sama mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (I Kor. 10:16-17). Dalam sidang ini, Anda boleh memuji Allah dengan doa, saya pun boleh memuji Allah dengan mazmur.

4) Sidang penerapan karunia-karunia rohani, yakni sidang yang tercantum dalam I Korintus 14. Sidang ini dengan jelas menyatakan sidang gerejani. Karena itu berulang-ulang dikatakan "dalam gereja" (ayat 28, 34-35). Sifat sidang ini adalah, "kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang". Praktik ini sangat besar bedanya dengan sidang seorang berkhotbah dan yang lain mendengarkan. Dalam sidang ini, semua karunia rohani yang berguna untuk membina gereja boleh diterapkan oleh siapa saja dengan bebas, menurut pimpinan Roh Kudus.

Namun, ada satu macam sidang yang tidak ada dalam gereja lokal, yang seharusnya memang tidak layak ada dalam gereja lokal, yaitu sidang pengkhotbahan seperti hari ini. Dalam sidang ini, seorang bicara, yang lain mendengarkan. Jenis sidang ini sebenarnya tidak terdapat di dalam lingkungan gereja lokal. Kita ingat akan fakta yang tercatat dalam Alkitab, yakni gereja lokal selamanya tak pernah mengadakan sidang yang bersifat aktif sepihak. Semua sidang gereja dalam Alkitab hanya bersifat "saling" atau "seorang dengan yang lain". Kecuali itu tidak ada corak sidang yang lain. Maka apa yang disebut "kebaktian" atau "sidang pengkhotbahan" atau yang Anda beri nama lain hari ini, yang dipimpin satu orang dan diikuti orang lain, itu adalah sidang rasuli, bukan sidang gereja. Sidang semacam ini tidak seharusnya dan tidak mungkin diadakan oleh gereja lokal. Bila sidang semacam ini diterapkan ke dalam gereja, akan timbul banyak kesulitan dan kerugian dalam gereja.

Tetapi, hari ini sidang ala "kebaktian" ini telah menjadi sidang umum dalam gereja, bahkan telah menjadi sidang utama di dalam gereja. Hampir seluruh gereja dibangun di atas dasar sidang ini; gereja seolah akan runtuh tanpa sidang ini. Siapakah anggota gereja yang baik? Mereka yang dalam setahun, 52 minggu, tanpa absen mengikuti kebaktian dan mendengarkan khotbah sang pendeta. Tetapi, menurut Alkitab itu pasif dan mati. Walau mereka sudah 52 kali setahun mendengarkan khotbah dalam kebaktian, mereka masih belum pernah datang ke "gereja"! Belum pernah mengikuti persidangan gerejani! Mereka hanya mengikuti persidangan pekerjaan, persidangan rasuli. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengadakan persidangan semacam itu, tetapi persidangan semacam itu adalah yang ditanggung oleh pekerja. Bila pekerja hadir barulah boleh mengadakan persidangan semacam itu; jika tidak ada pekerja, tidak seharusnya ada persidangan itu. Jadi, secara rutin gereja lokal sendiri tidak mengadakan persidangan itu. Maka hari ini gereja-gereja lokal yang masih mengadakan sidang semacam itu harus menghentikannya secepat mungkin. Alkitab tidak menghendaki kita mempertahankan sidang semacam itu. Sebab bila sidang semacam itu dipertahankan lama-lama, akibatnya akan membuat banyak saudara menjadi orang malas dan tidak bertumbuh. Karena setiap orang hanya bertujuan mendengarkan khotbah orang lain, hanya ingin menerima bantuan orang lain. Setiap orang hanya menjadi orang pasif. Itu tidak sesuai dengan prinsip Perjanjian Baru. Prinsip Perjanjian Baru ialah saling membantu, saling membina. Bila saudara terus-menerus menjadi orang pasif, hanya mendengarkan khotbah orang lain, itu akan kehilangan sifat gereja! Berabad-abad lamanya gereja menjadi demikian lemah justru karena para hamba Allah menerapkan persidangan pekerjaan ke dalam gereja, sehingga anak-anak Allah salah paham, mengira asalkan rajin mengikuti "kebaktian" dan mendengarkan khotbah, itu sudah menjadi orang Kristen yang benar. Hasilnya, banyak anak Allah tidak menunaikan kewajiban mereka di dalam persidangan, sama sekali pasif, tidak berselera terhadap perkara rohani dan tidak memiliki kekuatan yang dinamis.

Lagi pula, demi mempertahankan sidang pengkhotbahan hari Minggu ini, gereja harus mempertahankan seorang yang pandai berkhotbah. Dengan demikian, tidak hanya perlu ada seorang pekerja untuk mengelola gereja, juga harus ada seorang pekerja untuk mempertahankan sidang pengkhotbahan. Karena kebutuhan inilah, maka pekerja/rasul Allah harus tinggal sebagai pendeta. Jika tidak, dalam gereja lokal, siapa yang mau menanggung kewajiban tersebut - berkhotbah setiap hari Minggu. Bila sebuah gereja lokal tiap hari Minggu perlu mengadakan sidang pengkhotbahan, sedangkan di gereja lokal itu tidak ada yang bisa menanggung kewajiban itu, maka sebagai akibat alamiahnya ialah rasul Allah harus menetap di situ sebagai pendeta untuk mempertahankan sidang hari Minggu!

Cobalah kita baca ulang catatan penginjilan ke luar yang pertama oleh Paulus. Di situ kita akan nampak, setelah di suatu lokal ada orang diselamatkan dan gereja berdiri, rasul tak pernah mengajarkan mereka tentang keharusan mengadakan "kebaktian" tiap hari Minggu - sidang pengkhotbahan - oleh seseorang. Kita sama sekali tidak nampak perkara itu. Memang rasul memerintahkan mereka harus bersidang, tapi itu bukan sidang pekerjaan, melainkan sidang gereja. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita . . . tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat" (Ibr. 10:25).

Maka akibat dari kekacauan sifat persidangan itu sangatlah serius. Di satu pihak, hal itu membuat saudara saudari lembam, tidak hidup/dinamis; di pihak lain, karena pekerjaan harus menyebarkan begitu banyak pekerja di berbagai gereja lokal untuk menanggung tugas berkhotbah, maka (karena pekerja menetap di satu lokal) Injil Allah tidak dapat disebarluaskan. Karena itu pula banyak orang tidak sempat beroleh selamat. Ini tak lain karena orang mengira gereja harus mengadakan sidang pengkhotbahan - "kebaktian". Siapakah yang pandai berkhotbah seperti pekerja Allah? Akibatnya, pekerja-pekerja pada menetap untuk mempertahankan sidang pengkhotbahan itu. Dampaknya jelas, Injil tak dapat disebarluaskan, orang dosa tak dapat beroleh selamat. Sudahkah gereja lokal beroleh faedahnya? Mereka akan selamanya menjadi pendengar dalam pekerjaan, bukan menjadi saudara dalam gereja!

Banyak orang begitu tiba di suatu lokal, memberitakan Injil dan memperoleh sekelompok saudara, lalu mendirikan sebuah gereja. Karena mereka tidak nampak perbedaan persidangan pekerjaan dan persidangan gerejani, maka hal-hal yang bersifat pekerjaan menggantikan hal-hal yang bersifat gerejani. Mereka menyewa tempat, mengundang kaum imani selalu datang ke tempat itu untuk mendengarkan khotbah atau mengadakan pemahaman Alkitab. Kaum imani terus-menerus disuruh menghadiri sidang pekerjaan mereka. Mereka tidak sadar, bahwa mereka seharusnya memiliki sidang sendiri. Dalam sidang itu mereka senantiasa menjadi pendengar yang pasif, mungkin juga beroleh bantuan dan pembinaan, tapi pasif, dan akibatnya ialah tidak dapat menyatakan sifat gereja, yakni saling membantu dan membina satu dengan yang lain. Ajaran Alkitab tidaklah demikian. Jika kita bekerja menurut prinsip Alkitab, terhadap orang yang beroleh selamat, kita wajib berkata, "Kami di sini adalah sidang pengkhotbahan, sidang pekerjaan, bukan sidang gereja. Kalian sekarang sudah menjadi gereja, maka kalian harus memiliki sidang kalian sendiri. Kalian boleh bersidang di rumah salah seorang saudara atau menyewa sebuah rumah. Kalian sendiri harus mengadakan sidang doa, sidang pemecahan roti atau sidang penggunaan karunia dan lain-lain. Dalam sidang-sidang itu, kalian harus belajar saling membantu, saling membina. Setiap orang boleh mempersekutukan apa yang diterima dari Allah. Bukan satu orang memonopoli suatu sidang, melainkan setiap saudara boleh belajar membantu saudara lain menurut pimpinan Roh Kudus dan bersandar pada kekuatan Roh Kudus." Kita harus memberitahu mereka, begitu mereka diselamatkan, mereka harus mengadakan sidang mereka sendiri, termasuk sidang doa, sidang pemahaman Alkitab, sidang pemecahan roti, sidang penggunaan karunia dan lain-lain. Itulah sidang-sidang gereja.

Dengan demikian, sejak awal kaum imani sudah tahu, bahwa mereka tidak seharusnya mengharapkan setiap hari Minggu mendengarkan khotbah yang indah. Persidangan pekerjaan bersifat sementara. (Kecuali bila seorang pekerja bermukim secara permanen di suatu lokal untuk mempertahankan suatu kesaksian). Mereka (saudara-saudara) adalah saudara setempat, maka sidang yang bersifat saling dan timbal balik itulah baru terhitung sidang gereja. Walaupun mereka hijau, tidak mengerti kebenaran dengan jelas dan tidak bisa mengajarkan Alkitab, tetapi mereka harus merasa puas dengan bantuan yang sudah ada di dalam sidang-sidang mereka sendiri. Tidak seharusnya berkhayal ingin mendengar banyak khotbah yang indah. Mereka seyogianya berharap Roh Kudus menyatakan karuniaNya atas diri mereka, agar mereka bisa nampak terang, mengenal kebenaran dan beroleh peta lidah untuk dapat mengutarakannya.

Kaum imani hari ini sungguh sudah terlalu banyak mendengarkan khotbah! Telinga mereka sudah terdidik dan tahu membedakan khotbah yang baik. Namun apakah manfaat semua itu bagi kerohanian mereka? Mereka adalah orang yang statis dan pasif. Mereka selamanya tidak pernah belajar membantu orang lain, demi menunaikan kewajiban mereka. Kita harus tahu, bahwa persidangan saudara-saudara lokal memang hijau, tetapi persidangan pekerjaan tidak dapat mewakili tingkat kerohanian gereja lokal. Hanya sidang gereja yang dapat menyatakan kondisi gereja lokal yang sebenarnya. Pada saat rasul berkhotbah dan para pendengar menganggukkan kepala, seolah-olah kerohanian gereja itu sangat unggul. Tetapi pada saat mereka bersidang sendiri, barulah tertampak keadaan rohani mereka sebenarnya. Bagaimanapun saudara-saudara lokal harus menerima ajaran, jangan memberatkan sidang pekerjaan dan meringankan sidang gereja, sehingga selalu berharap menjadi orang yang menerima bantuan secara sepihak, dan melupakan saling membantu dan saling menasihati.

Sidang pekerjaan hanya merupakan satu sarana kerja. Bila pekerja pergi, pekerjaan pun berhenti. Tetapi sidang gereja harus diadakan terus. Hari ini orang tidak nampak perbedaan antara sidang pekerjaan dan sidang gereja. Karena itu, bila pekerja pergi, gereja malah tidak bisa bersidang, sebab tidak ada orang yang bisa berkhotbah dengan baik, tidak ada yang bisa menanggung kewajiban itu. Keduanya itu harus dipisahkan, jika tidak, itu akan membuat anak-anak Allah tidak bisa membantu orang lain. Di sinilah letak kegagalan hari ini, anak-anak Allah tidak bisa membantu orang lain; gereja dikira numpang hidup di dalam pekerjaan, asalkan ada berkhotbah, ada yang mendengarkan, sudah merasa cukup.

Dalam ajaran Alkitab, di dalam gereja tidak ada kedudukan "pekerja". Semuanya adalah saudara. Dalam sidang gereja, bukan hanya satu orang yang berdoa, memilih nyanyian, memecahkan roti dan sebagainya. Semua saudara adalah imam-imam. Pekerja bukanlah imam mereka; bukan pekerja dapat melakukan sesuatu, dan mereka tidak bisa melakukan sesuatu. Maka bukan pekerja yang mewakili mereka berdoa, mewakili mereka menangani urusan-urusan rohani, melainkan mereka sendiri datang ke hadapan Allah.

Bagaimanakah saudara-saudara lokal dapat saling membina? Berdasarkan Alkitab, setelah orang beroleh selamat, segera itu pula ia boleh menerima pencurahan Roh Kudus, dan begitu ia beroleh pencurahan Roh Kudus, Allah sudah mengaruniakan karunia kepadanya. Hanya saja, karunia orang tidak sama. Ada yang dapat diterapkan di dalam persidangan, ada yang tidak dapat diterapkan di dalam persidangan. Misalkan karunia-karunia nabi, pengajaran, pengetahuan, hikmat, bahasa lidah dan penerjemahannya, itu semua bisa diterapkan di dalam persidangan. Allah justru membina gereja lokal melalui orang-orang yang berkarunia itu. Sidang-sidang gereja bisa membuat saudara-saudara membagi-bagikan berkat yang mereka peroleh dari karunia mereka kepada orang lain, untuk membina gereja lokal. Cara Allah yang normal, yang ditetapkan untuk membina gereja lokal, adalah melalui sidang gereja, bukan melalui sidang pekerjaan. Jika terus menerus hanya seorang yang berkhotbah, semua orang mendengarkan, akibatnya selain pekerja-pekerja, siapa pun tidak mau mencampuri urusan rohani, siapa pun tidak mau membantu orang lain. Jika demikian, walau ada sidang, namun hanya milik pekerjaan sepihak, bukan milik gereja secara keseluruhan. Dapatkah gereja bertumbuh?

Mengapa gereja bisa merosot separah hari ini? Ini dikarenakan gereja dibangun di atas persidangan pekerjaan, tanpa persidangan gerejani seperti dalam I Korintus 14. Mengapa hari ini ada persidangan pekerjaan tanpa persidangan gerejani? Sebab jika ingin ada persidangan seperti yang tercantum dalam I Korintus 14, harus ada pencurahan Roh Kudus. Tanpa pencurahan Roh Kudus, sekalipun ada sidang, itu hanya sama dengan formalitas. Sebab itu, kita tidak dapat tidak memimpin orang mengalami pencurahan Roh Kudus dulu. Jika tidak, walau Anda menyuruh mereka memulai mengadakan sidang gereja, itu tidak akan efektif, tidak ada kekuatan.

Nabi dan pengajar adalah orang yang mendayagunakan karunia mereka di dalam gereja lokal. Karunia-karunia yang demikianlah yang dikaruniakan Allah kepada kaum imani, agar mereka dapat membangun gereja. Karena itu, di sini kita nampak segala pengaturan Allah. Pada aspek jabatan, kita nampak yang bertanggung jawab dalam pekerjaan adalah para rasul; sedang di dalam gereja lokal, yang bertanggung jawab adalah para penatua. Dalam lingkungan ministri itu ada rasul, nabi dan pengajar (penginjil), di antaranya rasul adalah untuk pekerjaan di berbagai tempat; sedangkan nabi dan pengajar untuk lokal. Maka kita nampak ada dua jalur dalam gereja lokal: pada aspek pengelolaan (aspek jabatan), ada para penatua dan para diaken; pada aspek pembinaan (aspek karunia), ada para nabi dan pengajar. Pengelolaan untuk gereja; karunia untuk persidangan. Penatua untuk gereja; nabi dan pengajar untuk persidangan. Jika penatua juga berkarunia, ia tidak hanya memiliki jabatan guna mengelola gereja, ia pun memiliki kewajiban berkhotbah dan mengajar, namun ia mengelola dengan posisi penatua, dan ia membina dengan kualifikasinya sebagai nabi atau pengajar. Para rasul tidak bertanggung jawab atas pengelolaan gereja lokal secara langsung, hal itu menjadi kewajiban penatua sepenuhnya. Namun jika rasul juga sebagai nabi dan pengajar, ia boleh berdasarkan kualifikasinya sebagai saudara, memanfaatkan karunianya dalam persidangan gereja lokal demi membantu orang lain. Maka walaupun tidak ada kedudukan rasul dalam I Korintus 14, rasul dapat juga memasukinya dengan kualifikasinya sebagai nabi atau pengajar.

Jika seluruh kaum imani mengetahui kekuasaan Roh Kudus, maka di luar rasul Allah pasti akan membangkitkan banyak karunia guna menyempurnakan seluruh kaum saleh, membangun Tubuh Kristus dan merampungkan pekerjaan ministri itu. Dengan membaca surat I Korintus kita mengetahui, betapa Allah memberikan karunia-karunia itu ke dalam gereja lokal, sehingga mereka bisa saling membina, bisa mengadakan sidang gereja, dan tidak perlu mengandalkan rasul yang menetap di tempat mereka. Kegagalan gereja hari ini ialah akibat manusia lebih memperhatikan pekerja daripada Roh Kudus. Karunia yang dimiliki pekerja menggantikan karunia yang bisa diberikan Roh Kudus, sehingga sebuah gereja lokal hanya bisa mengadakan sidang pekerjaan, tidak bisa mengadakan sidang gereja.

Apakah sidang pekerjaan dan apakah pula sidang gereja? Setiap sidang meja bundar itulah sidang gereja, sedang setiap sidang mimbar itulah sidang pekerjaan. Dalam Alkitab, Allah selalu ingin mempertahankan kedua sidang yang berlainan jenis ini. Hanya ada persidangan rasuli saja tidak cukup, harus pula ada persidangan gerejani. Bila ada pekerja melalui lokal kita, kita boleh mengadakan sidang pekerja. Tetapi sidang seperti itu bersifat insidentil, bukan rutin. Sidang gereja bersifat rutin. Sidang gereja berbentuk meja bundar, sebab dalam sidang ini Anda memberi saya, saya memberi Anda, semua saling atau timbal balik. Hari ini, jika kita ingin meluaskan Injil Allah dan ingin mempertumbuhkan gerejaNya, maka yang pertama harus ditiadakan dalam gereja lokal adalah sidang mimbar seperti hari ini. Dengan demikian barulah pekerja Allah dapat maju ke depan dengan bebas, menuju tempat yang belum diinjili, tidak bekerja dengan menetap di suatu lokal. Pada waktu yang sama, gereja lokal juga dapat membiarkan pekerja Allah maju ke depan dengan bebas, dan mereka sendiri baru dapat menuntut di hadapan Allah, baru dapat tidak seumur hidup menjadi pendengar khotbah yang pasif, dan baru dapat secara dinamis memperhatikan perkara rohani. Bila mimbar tidak ditiadakan, tidak mungkin ada sidang gereja, dan gereja lokal tidak akan bertumbuh! Sidang mimbar hanya bisa ada bila rasul hadir, dan bila rasul pergi, tiadalah sidang itu. (Jika sewaktu-waktu ada nabi, pengajar atau penginjil datang dan ingin mengumpulkan saudara-saudara, itu boleh dilakukan, tetapi itu merupakan sidang istimewa, bukan sidang rutin milik gereja lokal).

Jika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita akan mengetahui keadaan semula itu. Tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:42, "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." Banyak orang beroleh selamat karena mendengar pemberitaan rasul Petrus. Setelah mereka beroleh selamat, mereka lalu saling bersekutu, memecahkan roti dan berdoa. Rasul tidak mendirikan satu persidangan sentral bagi mereka, melainkan mereka sendiri yang saling bersekutu, memecahkan roti dan berdoa.

Kisah Para Rasul 2:46 mengatakan, "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul (bersidang) tiap-tiap hari dalam bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati." Demikianlah keadaan pada waktu itu. Kaum imani waktu itu bersidang di bait Allah dan bersidang di rumah-rumah; hari ini di rumah ini, besok di rumah itu, bergiliran. Bukan setiap hari mendengar pemberitaan rasul. Sidang gereja sama sekali terpisah dengan sidang rasuli. Hari ini, jika rekan sekerja kita ingin membangun gereja lokal, haruslah memisahkan gereja dari pekerjaan. Bila gereja dipisahkan dari pekerjaan, kemungkinan terbentuknya sidang gereja barulah ada. Ada banyak karunia akan diberikan Allah kepada gereja lokal. Hari ini karena gereja numpang hidup dalam pekerjaan, maka banyak karunia yang bisa diperoleh gereja lokal dan banyak orang yang bisa dipakai Allah telah terpendam.

TEMPAT (BALAI) SIDANG GEREJA

Masih ada satu hal lagi yang dianggap amat penting oleh orang-orang dalam gereja hari ini, yaitu sebuah tempat sidang, atau apa yang disebut "gedung kebaktian" (padahal ini tidak seberapa nilainya). Kebanyakan orang mengira, sebuah gereja lokal harus memiliki pekerja alias pendeta, ditambah kebaktian pengkhotbahan, ditambah sebuah gedung kebaktian atau yang biasa disebut orang "gereja", baru layak disebut gereja. Orang berkonsepsi, jika tidak ada tempat sidang, seolah-olah gereja pun tidak ada. Maka orang bisa menggantung merek yang bertuliskan kata-kata "gereja anu" di atas dinding sebuah rumah, padahal itu sama sekali tidak tepat, tidak sesuai dengan Alkitab. Rumah hanya merupakan tempat sidang gereja anu, bukan gereja anu itu sendiri. Memang balai sidang kita mempunyai alamat, tapi gereja kita tanpa alamat. Ketika saya hendak meninggalkan Shanghai, seorang saudara bertanya kepada saya, bagaimana kita menulis alamat gereja kita? Saya berkata, bahwa gereja hanya mempunyai alamat untuk surat menyurat, gereja tidak memiliki alamat. Misalkan jalan anu, nomor anu, itu hanya merupakan alamat untuk surat menyurat, tidak dapat dikatakan alamat gereja. Gereja di bumi hanya mempunyai alamat untuk surat menyurat, tanpa alamat. Gereja dalam Alkitab sepenuhnya mengacu kepada kaum imani, bukan mengacu kepada balai sidangnya.

Bagaimana Alkitab menampilkan istilah gereja untuk pertama kali setelah hari Pentakosta? Ketika Ananias dan istrinya Safira mati karena mendustai Roh Kudus, Alkitab mengatakan, "Maka sangat ketakutanlah seluruh gereja dan semua orang yang mendengar hal itu" (Kis. 5:11). Dengan jelas di sini kita melihat, apa itu gereja. Gereja itu hidup, sebuah kelompok, yakni orang-orang yang percaya. Dalam Matius 18:17 Tuhan berkata, "Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada gereja. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan gereja, pandanglah ia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah (kafir) atau seorang pemungut cukai." Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan kepada kita, apa itu gereja? Gereja adalah sebuah kelompok yang hidup, yakni manusia-manusia yang percaya itu. Gereja bukanlah sebuah balai sidang atau gedung kebaktian. Di mana saja ada sebuah kelompok kaum imani, di situ ada gereja. Gereja adalah sekelompok manusia hidup, bukan sebuah balai sidang. Di mana ada kaum imani, di situ ada gereja. Ada atau tidak ada balai sidang, itu tidak menjadi masalah.

Lagi pula, dalam Alkitab tidak ada petunjuk, bahwa kaum imani harus memiliki balai sidang. Orang Yahudi mempunyai sinagoge (rumah ibadah) untuk mendengarkan hukum Taurat mereka. Pada waktu itu sinagoge-sinagoge itu terdapat di mana-mana, dan di tempat yang ada warga Yahudinya pasti ada sinagoge. Andaikata sinagoge juga dibutuhkan dalam kekristenan, maka pasti rasul pun mendirikannya di mana-mana. Para rasul sendiri adalah bangsa Yahudi. Menurut kebiasaan mereka, mereka perlu mendirikan sinagoge. Tetapi mereka selamanya tak pernah membangun sinagoge macam apa pun bagi umat Kristen. Dalam Alkitab, Anda tidak akan menemukan rasul menguduskan sebidang tanah untuk keperluan balai sidang. Kalau orang-orang Yahudi tidak memiliki tradisi/peraturan mendirikan sinagoge, bisa jadi para rasul tidak memikirkan masalah mendirikan sinagoge. Namun mereka berada di bawah pengaruh tradisi/peraturan itu, tapi mengapa mereka mengabaikan hal itu dan tidak mendirikan sebuah balai sidang untuk orang Kristen? Hal ini patut kita perhatikan secara khusus!

Pada aspek lain, mereka tidak saja tidak mendirikan balai sidang di mana-mana bagi orang Kristen, mereka juga seolah-olah sengaja tidak menghiraukan masalah tersebut. Yang menganggap harus ada satu tempat yang dikuduskan untuk menyembah Allah adalah agama Yahudi. Kekristenan tidak memiliki tempat suci. Bait suci dalam Perjanjian Baru bukan berbentuk rumah, melainkan orang-orang yang hidup itu; mereka adalah rumah/bait Allah yang rohani. Karena bait suci Perjanjian Baru bersifat rohani, maka balai sidang gereja hari ini tidak menjadi masalah penting. Balai sidang itu asal cocok dipergunakan sudah boleh. Sekarang mari kita tinjau apa kata Alkitab tentang balai sidang.

Ketika Tuhan Yesus masih berada di dunia, tempat sidangNya sering diadakan di atas bukit. Tiga kali khotbahNya yang terpenting justru diadakan di atas bukit. Suatu kali Ia membicarakan realitas kerajaan sorga di atas bukit (yang sering disebut bukit "delapan bahagia"); satu kali tentang nubuatan, di atas bukit Zaitun; satu kali lagi Ia membicarakan penampilan luaran kerajaan sorga, di tepi laut, permulaannya di atas perahu, kemudian masuk ke dalam rumah. Pada malam terakhir, Tuhan berkumpul di rumah orang, yaitu di atas loteng yang luas. Di sini pula untuk pertama kali gereja mengadakan jamuan malam. Setelah kebangkitanNya, di dalam rumah pula Ia menyatakan diri dua kali kepada murid-murid (Yoh. 20:19, 26). Itulah tempat sidang mereka.

Sepuluh hari sebelum hari Pentakosta, para murid berkumpul (bersidang) di ruang atas sebuah rumah, tempat mereka tinggal. Baik menyelenggarakan jamuan malam maupun menerima pencurahan Roh Kudus semua dilakukan di atas loteng. Kemudian terjadi tiga ribu jiwa beroleh selamat. Adakalanya mereka berpencar-pencar di rumah orang, adakalanya bersidang bersama di bait suci orang Yahudi. "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati" (Kis. 2:46). Di sini kita temukan satu cara: karena jumlah mereka banyak, maka biasanya, mereka bersidang di rumah masing-masing secara bergilir, dan bila ingin berkumpul bersama, mereka lalu berkumpul di lapangan luas yang terdekat atau di bait Allah, bait suci orang Yahudi. Hari ini, jika kita di suatu lokal yang tidak banyak kaum imaninya, kita boleh bersidang di satu tempat; jika orangnya agak banyak, kita pun boleh bersidang di beberapa "rumah"secara terpisah. Ini tidak berarti, gereja tidak boleh berhimpun bersama di satu tempat. Jika hal itu dirasa perlu, boleh saja berhimpun bersama di satu tempat. Jika orangnya banyak dan perlu bersidang secara khusus, itu boleh menyewa "bait" atau tempat umum lainnya. Akan tetapi pada waktu-waktu biasa, boleh bersidang terpisah di banyak rumah.

Sesudah hari Pentakosta, ketika para rasul dibebaskan, mereka pergi ke tempat "teman-teman" (anggota gereja) mereka (Kis. 4:23). Apa yang mereka lakukan bersama anggota gereja itu? Mereka berdoa, dan "ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Tuhan dengan berani" (Kis. 4:31). Tempat mereka bersidang justru adalah rumah anggota gereja, bukan gedung kebaktian, atau balai penginjilan. Mereka bersidang justru di rumah-rumah anggota gereja. Bukan sebuah bangunan resmi, baru layak menjadi tempat bersidang, melainkan rumah-rumah anggota gereja sudah layak menjadi tempat bersidang.

Di jaman para rasul, bila orangnya banyak, adakalanya mereka berkumpul di Serambi Salomo (Kis. 5:12), itulah tempat mereka mengadakan sidang seluruh gereja. Di dekat bait suci pada masa itu terdapat sebidang pelataran atau lapangan luas. Ketika jumlah anggota gereja sangat banyak, mereka sering bersidang di tempat tersebut. Pada waktu itu tidak ada gedung kebaktian yang atapnya lancip dan megah. Bila orangnya banyak, mereka lalu mencari sebuah tempat luas yang disebut Serambi Salomo sebagai tempat sidang mereka. Tiap hari mereka "melanjutkan pengajaran mereka di bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias" (Kis. 5:42). Persidangan mereka yang biasa diadakan di rumah-rumah anggota gereja, bila orangnya banyak, mereka menyewa atau meminjam tempat umum.

Ketika Petrus ditahan dalam penjara, gereja dengan tekun mendoakannya kepada Allah (Kis. 12:5). Di sini Anda nampak, seluruh gereja di Yerusalem mendoakannya kepada Allah. Kita tahu, jumlah anggota gereja di Yerusalem tidak sedikit, sekali dibaptis tiga ribu orang, sekali lagi lima ribu orang, seluruhnya mungkin sepuluh ribu orang. Mereka tidak berkumpul di satu tempat, melainkan terpisah di rumah-rumah, namun Alkitab menyebut mereka gereja. Di manakah buktinya mereka bersidang terpisah di rumah-rumah? Alkitab mengatakan, setelah Petrus keluar dari penjara, ia berpikir sebentar, lalu pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa (Kis. 12:12). Jadi, bukan seluruh gereja berhimpun di satu tempat. Mereka tidak punya sebuah balai sidang yang material. Jika perlu membangun balai sidang, tentunya para rasul sudah sejak dini membangun sebuah balai sidang untuk mereka, sebab ketika itu jumlah mereka sangat banyak. Namun mereka tidak ada kebutuhan itu, sebab ada sebagian orang berdoa di rumah ini, dan ada sebagian lagi di rumah itu. Ketika itu, Petrus harus berpikir sebentar, mau ke rumah mana, dan akhirnya ia memutuskan ke rumah Maria, ibu Markus. Itu adalah salah satu tempat sidang gereja pada waktu itu. Maka bila anggota gereja di satu lokal tidak banyak dan tempatnya cukup besar, mereka bersidang di situ; jika jumlahnya sangat banyak, sedangkan tempatnya kurang memadai, mereka harus bersidang secara terpisah di rumah-rumah, kadang-kadang menyewa tempat umum untuk bersidang bersama seluruh gereja. Demikianlah cara bersidang secara terpisah atau bergabung yang kita nampak dalam Alkitab.

Sampai Kisah Para Rasul 13 hingga 14, ada satu permulaan lain dari Antiokhia. (Yang terdahulu adalah garis Yerusalem). Bagaimanakah praktik para rasul? Bersidang di manakah Paulus ketika ia dari luar kota kembali ke Antiokhia? "Setibanya di situ, mereka (Paulus dan kawan-kawannya) memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain karena iman." (Kis. 14:27). Yang dipentingkan di sini adalah jemaat, bukan balai sidang. Jadi balai sidang itu mungkin pinjaman, mungkin pula rumah salah seorang saudara, itu bukan masalah yang penting.

Waktu Paulus tiba di Troas, "Pada hari pertama pada minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara . . . Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan ribut, sebab ia masih hidup ... Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur" (Kis. 20:7-12). Di sini kita lihat, tempat mereka bersidang adalah di ruang atas tingkat ketiga! Lagi pula ada orang (pemuda tadi) duduk di jendela. Sidang mereka di Troas nampaknya sangat informal! Tidak seperti hari ini, setiap gedung kebaktian gereja begitu indah dan megah, sehingga sangat menarik perhatian orang dan seolah memasang iklan bagi orang-orang kaya. Namun ketika kaum imani di Troas bersidang, tempat mereka adalah di ruang atas tingkat ketiga, dan ada yang duduk di jendela! Ini lebih tidak mirip balai sidang. Balai sidang dalam Alkitab sangat sederhana. Peserta-pesertanya ada yang duduk di jendela seperti Eutikhus, duduk di lantai seperti Maria pun boleh. Persidangan kekristenan hari ini sungguh terlalu formal! Kita harus memulihkan sistem di ruang atas (loteng). Ruang bawah adalah tempat jual beli, tempat orang berlalu lalang, sedang ruang atas agak lebih mirip kekeluargaan. Jamuan malam terakhir diadakan di ruang atas, turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta juga di ruang atas; sidang di sini juga di ruang atas. Pada prinsipnya, Allah menghendaki tempat sidang kita "di ruang atas", yang tidak begitu formal, yang di dalamnya kita bisa saling menikmati suasana kekeluargaan lebih banyak.

Allah berkenan anak-anakNya bersidang bersama dan di dalamnya mengandung suasana kekeluargaan. Karena itu dalam Alkitab tidak ada catatan tentang tempat atau balai sidang resmi. Bagaimanakah bentuk balai sidang dalam Alkitab? Bentuknya ialah, gereja tidak mempunyai balai sidang resmi, gereja sering bersidang di rumah-rumah anggotanya. Alkitab mencatat beberapa kali, bahwa gereja bersidang di rumah orang. Misalnya "Salam juga kepada jemaat (gereja) di rumah mereka - Priska dan Akwila." (Roma 16:5; I Kor. 16:19). "Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat (gereja) yang ada di rumahnya" (Kol. 4:15). ". . . kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami . . dan kepada jemaat (gereja) di rumahmu” (Flm.2). Perjanjian Baru setidak-tidaknya ada tiga "gereja di rumah". Apa artinya gereja di rumah? Itu berarti jumlah orang di gereja itu tidak banyak dan rumah seorang saudara cukup luas, maka mereka bersidang di rumahnya; maka gereja semacam itu disebut gereja di rumah si anu. Pada masa rasul, tempat sidang gereja tidak harus sebuah balai sidang atau gedung resmi yang besar. Lain halnya dengan tempat penginjilan yang diperlukan pekerjaan.

Maka segala perkara harus dimulai dari awal. Bila Anda tiba di suatu tempat dan menginjil dan ada orang beroleh selamat, Anda harus menjelaskan kepada mereka, tidak saja masalah mendengarkan khotbah, beroleh selamat, dan kemenangan itu sangat penting, bersidang pun penting. Bukan pekerja yang menyelenggarakan sidang bagi mereka, melainkan mereka sendiri harus bangkit mengadakan sidang. Misalkan sidang pemahaman Alkitab, sidang doa, sidang pemecahan roti dan sidang penggunaan karunia; . . . semua itu harus mereka tanggung sendiri. Sebagai gereja lokal, mereka harus menentukan tempat sidang mereka sendiri. Paling baik di rumah-rumah saudara. Tempat sidang itu di sebuah rumah atau di beberapa rumah, harus mereka sendiri yang mencari dan menetapkannya.

Kekeliruan hari ini ialah, tempat atau balai sidang gereja adalah tempat yang disewa atau dibeli oleh pekerja. Ketika ada orang beroleh selamat, pekerja bukan menyuruh mereka sendiri yang mencari tempat untuk bersidang, melainkan mengundang mereka mengikuti sidang di balai sidang yang telah disewa atau dibeli oleh pekerja itu. Akibatnya gereja lokal tidak memiliki sidang mereka sendiri, yang ada hanya sidang pekerja. Di samping itu, hal itu pun akan membuat saudara-saudara menyalahpahami sifat kekristenan yang sesungguhnya, dan membuat mereka dari awal tidak belajar menanggung kewajiban gereja dan kewajiban rohani. Padahal pada gereja lokal, keperluan balai sidang sangat sedikit. Pada umumnya rumah-rumah saudara sudah boleh digunakan untuk bersidang. Balai sidang diperlukan untuk pekerjaan, sebab pekerjaan perlu sebuah tempat untuk bekerja. Karena itu, dari permulaannya kita sudah harus menjelaskan kepada saudara-saudara yang baru percaya, bahwa tempat yang kita sewa atau beli adalah untuk pekerjaan, dan hal itu tidak boleh dicampur aduk dengan gereja yang mereka dirikan sekarang. Lain halnya dengan pekerjaan. Sering kali pekerjaan memang harus memiliki sebuah tempat yang resmi. Namun kalian lebih baik bersidang di rumah. Karena itu mereka harus dari antara orang percaya, mencari rumah siapa yang lebih memadai untuk bersidang. Bila orangnya banyak dan lingkungannya luas, boleh saja ditambah dengan dua atau tiga rumah lagi. Kalian sendiri harus bertanggung jawab dalam mencari dan menetapkan tempat-tempat sidang itu. Diwaktu-waktu biasa kalian boleh bersidang secara terpisah di rumah. Bila perlu, sebulan sekali mengadakan sidang gabungan kaum imani sekota; untuk memudahkan persekutuan atau pembinaan, bolehlah meminjam atau menyewa tempat umum. Bila kekuatan keuangan mengijinkan, boleh juga menyediakan tempat yang permanen. Bila ingin mengadakan sidang istimewa, atau mengadakan suatu sidang untuk seluruh kaum imani dengan waktu yang agak panjang, tidak ada salahnya menyewa atau meminjam tempat tertentu. Namun sidang gereja yang rutin lazimnya diadakan di rumah-rumah.

Sidang gereja di rumah-rumah saudara adalah metode yang tepat dari gereja. Gedung kebaktian yang besar dan megah seperti terlihat hari ini, sebenarnya merupakan kemuliaan duniawi dan kebanggaan daging. Kita harus memiliki sidang di rumah-rumah, karena sidang di rumah-rumah banyak faedahnya. Di sini suasananya jauh lebih bebas. Kita dapat berbincang-bincang tentang masalah rohani bersama-sama tanpa ada suatu tekanan atau batasan. Jika orang yang sama dibawa ke balai sidang, ia akan duduk dengan disiplin, seperti orang yang tidak punya perasaan. Akibatnya, ia akan menjadi orang pasif, membiarkan orang lain saja yang berkhotbah. Ini bukan sidang gereja. Sidang gereja selalu penuh dengan suasana kekeluargaan. Semua yang hadir, selain terkendali oleh Roh Kudus, tidak terikat oleh apa pun. Karena itu, bila ada saudara ingin mengajukan pertanyaan dalam sidang pun tidak dilarang (I Kor. 15:35).

Lagi pula, sidang rumahan seperti ini akan membuat saudara-saudara merasa, bahwa perkara-perkara gereja adalah milik mereka, juga dekat dengan mereka. Tidak sedikit orang imani yang merasa urusan gereja itu agung dan besar dan dengan mereka terpaut entah berapa jauhnya. Hal itu disebabkan adanya sebuah balai sidang yang megah, yang segala urusannya ditanggung hanya oleh para pekerja. Tapi jika tempat sidang ada di rumah, di dalam keluarga, tidak akan ada perasaan yang demikian. Kaum imani akan merasa gereja itu sangat dekat dan menyadari kewajiban rohani mereka.

Sidang rumahan juga akan membuat para tetangga kita mengetahui, bahwa keluarga kita adalah orang Kristen. Hal ini besar sekali manfaatnya bagi kesaksian dan pemberitakan Injil. Berapa banyak orang enggan pergi ke "gereja" (gedung kebaktian atau balai sidang), namun mau datang ke rumah.

Sidang rumahan pun dapat menghindari kerugian material. Orang Kristen pada abad ketiga bisa tahan penganiayaan Roma justru karena gereja pada masa itu bersidang di ruang bawah tanah dan digua-gua di pegunungan. Tempat-tempat sidang seperti itu tidak mungkin ditemukan oleh lawan, kecuali ada orang yang menunjukkan. "Gedung kebaktian" model bangunan besar dan megah seperti hari ini terlalu mudah ditemukan! Apakah sebenarnya kekristenan? Tempat sidang rutin orang Kristen jaman dulu tidak sebesar itu, dan tidak demikian menarik perhatian orang, pun tidak begitu boros. Gedung kebaktian hari ini adalah buatan manusia, bukan kehendak Allah yang semula. (Balai sidang pekerjaan lain masalahnya.)

Ingatlah, kita tidak mengatakan gereja tidak boleh memiliki sebuah tempat sidang. Yang saya tekankan ialah, bagaimanapun kita harus menjadikan sidang keluarga sebagai sidang standar gereja. Sebuah tempat sidang umum bukanlah tempat persidangan yang rutin. Satu Korintus 14:23 belum tentu merupakan satu tempat umum. Andaikata ada sebuah tempat umum, itu pun tidak dapat dijadikan alasan untuk meniadakan sidang rumahan.

Tercatat dalam I Korintus 14:23, "Kalau seluruh gereja berkumpul bersama-sama . . ." Jelas, gereja ada saatnya berkumpul bersama-sama. Pada hari Pentakosta, murid-murid berkumpul bersama-sama (Kis. 2:1), kemudian ada kalanya mereka pun berkumpul di Serambi Salomo (Kis. 5:12). Sering kali gereja boleh mencari satu tempat untuk bersidang bersama-sama. Namun juga tidak boleh kehilangan cita rasa kekeluargaan. Kita harus sering bersidang. Dalam Alkitab, tidak pernah ada sebuah balai sidang resmi seperti hari ini.

Karena itu, keputusan kita sangat sederhana, yakni bila di suatu lokal ada orang beroleh selamat, segeralah mengadakan sidang rumahan. Bila orangnya sedikit, diadakan di satu rumah, jika orangnya banyak, dibagi di beberapa rumah. Ketika seluruh gereja ingin berkumpul bersama-sama, sebulan atau setengah bulan sekali, bolehlah menyewa sebuah tempat yang agak luas. Ini adalah sidang gereja. Pola sidang pekerjaan lain lagi, itu ditanggung oleh para pekerja, bukan oleh gereja. Jadi balai sidang ada dua macam, yang satu untuk sidang gereja lokal dan balai sidangnya mengutamakan keluarga/rumah; satu lagi untuk pekerjaan para pekerja, ini bukan untuk sidang gereja, melainkan untuk pekerjaan pekerja. Itulah prinsip Paulus menyewa rumah di Roma.

Kita telah nampak bahwa gereja di Roma sudah didirikan sejak dulu, dan sejak dulu sudah ada saudara bersidang di situ. Tetapi ketika Paulus tiba di Roma, ia tidak menggunakan tempat gereja lokal untuk pekerjaannya, melainkan menyewa sebuah rumah lain untuk bekerja. Ini adalah teladan baik yang ditinggalkan Paulus untuk kita ikuti. Jika seorang pekerja tiba di suatu lokal untuk tinggal di situ dalam jangka waktu yang pendek, ia boleh menerima akomodasi gereja lokal. Misalkan Paulus tinggal di Troas hanya delapan hari, tak perlulah ia menyewa rumah untuk bersidang. Setelah Paulus pergi, walau sidang pekerjaan berakhir, saudara-saudara di Troas tetap memiliki sidang mereka sendiri. Karena Paulus di Roma akan menetap cukup lama, ia harus menyewa rumah sendiri untuk menerima banyak orang yang datang mengunjunginya, guna mengajarkan kebenaran tentang kerajaan Allah. Bila seorang pekerja berencana bekerja agak lama di suatu lokal, ia harus menyewa sebuah rumah atau membangun sebuah rumah untuk keperluan pekerjaannya. Metode ini boleh diterapkan oleh pekerjaan, tetapi sebaliknya, gereja tidak perlu/harus memiliki balai sidang resmi. Misalkan untuk panti asuhan George Muller, mereka malah perlu mendirikan beberapa rumah, sebab itu bersifat pekerjaan. Tetapi, dalam Alkitab, bagaimanapun gereja mempunyai lebih banyak sidang-sidang yang bersifat kekeluargaan.

Tiga masalah ini sekarang sudah dapat kita bereskan.

(1) Menurut Alkitab dalam gereja hanya ada saudara yang maju, yang bangkit menjadi penilik, tidak ada pekerja dari luar yang menetap di situ untuk mengelola gereja itu. Begitu ada gereja, pekerja sudah boleh dari antara saudara-saudara setempat memilih penatua untuk bertanggung jawab. Pekerja sendiri boleh pergi ke tempat lain menurut pimpinan Tuhan. Saudara-saudara lokal harus nampak perihal penatua mengelola gereja adalah metode yang tepat dalam Alkitab. Mereka tidak boleh mengharap ada orang dari luar lokal itu yang diundang ke tempat mereka untuk khusus menanggung kewajiban gereja.

(2) Sidang-sidang gereja bukan menjadi tanggung jawab pekerja, melainkan saudara-saudara lokal itu sendiri melayani sesama saudara menurut karunia dari Allah kepada masing-masing, dan bersifat saling dan timbal balik; bukan aktif sepihak. Bila ada saudara pekerja singgah ke tempat itu, boleh mengadakan sidang istimewa selama beberapa hari atau, sepuluh hari, atau dua pekan. Pada waktu-waktu biasa ketika saudara-saudara bersidang, harus saling membina, menasihati satu sama lain dengan mazmur, penyataan, pengajaran, bahasa roh dan lain sebagainya. Tetapi untuk mengadakan sidang semacam ini, setiap pekerja harus sekuatnya memimpin orang mengalami pencurahan Roh Kudus. Jika tidak, maka sidang I Korintus 14 itu tidak mungkin terlaksana.

(3) Tempat sidang tidak harus resmi, melainkan bersifat kekeluargaan. Jika orangnya sedikit, bersidang di satu rumah; jika orangnya banyak, dibagi dalam beberapa rumah. Bila ingin mengadakan sidang bersama (bergabung), boleh mencari tempat umum lainnya.

Dengan pola kerja demikian, maka persoalan berdiri sendiri, memelihara sendiri dan memberitakan sendiri tidak akan timbul dalam gereja. Lagi pula, gereja dapat menghemat banyak pengeluaran, pengeluaran lokal tidak seberapa dan dapat memanfaatkan semua persembahan untuk membantu kebutuhan kaum imani yang miskin, seperti di Korintus; atau membantu keperluan pekerjaan dan pekerja, seperti di Filipi. Hasilnya, setiap aspek akan berkembang dengan leluasa tanpa mengalami hambatan.