← Daftar isi Penghidupan Gereja yang Normal · bab 7/9

ANTAR PEKERJA

Gereja-gereja yang tercantum dalam Alkitab bersifat lokal, maka selamanya tak pernah ada masalah persatuan gereja-gereja. Memang, kita bersatu dengan semua saudara di setiap lokal, sebab walaupun banyak, kita adalah satu Tubuh. Kesatuan kita berunitkan kaum imani. Unit gereja universal adalah kaum imani, bukan gereja lokal. Kita adalah anggota Tubuh Kristus, bukan satu demi satu gereja lokal sebagai anggota Tubuh Kristus. Unit ini adalah kaum imani, bukan gereja lokal. Gereja lokal sudah merupakan organisasi terbesar dari gereja di bumi, maka kita tidak dapat mempersatukannya lagi.

Tapi pada aspek pekerja, yang diperlihatkan kepada kita tidaklah demikian. Ada persatuan para rasul. Para rasul boleh bergabung atau tidak bergabung. Ada orang, karena dahulunya mempunyai kesan yang mendalam terhadap sistem manusia, akibatnya ia mempunyai suatu konsepsi keliru, yakni mengira kalaupun gereja-gereja tidak ada persatuan, maka pekerja-pekerja juga sama sekali tidak ada persatuan.

Karena tidak mengerti bahwa struktur gereja berbeda dengan sistem antar para rasul, banyak orang mengira kalau antar gereja tidak ada persatuan, melainkan sangat independen, maka antar para pekerja Allah pun tidak ada persatuan, dan juga sangat independen. Namun itu sama sekali berlawanan dengan ajaran Alkitab. Gereja-gereja memang tidak ada persatuan/gabungan, tetapi antar pekerja ada persatuan. Karena sebuah gereja lokal harus memelihara sifat lokalnya, ia (gereja lokal itu) tidak boleh bersatu atau bergabung dengan gereja lokal lain sehingga menjadi satu lembaga. Bila gereja-gereja saling bergabung, mereka akan melampaui ruang lingkup lokal, sifat lokalnya akan berubah dan batasan lokalnya pun akan segera terusak. Karena itu, Alkitab tidak mengijinkan adanya gabungan gereja. Namun dalam Alkitab ada persatuan para rasul, hanya saja ini tidak berarti seluruh rasul bergabung menjadi sebuah organisasi. Alkitab tidak membenarkan adanya gabungan seluruh rasul untuk mengelola seluruh pekerjaan. Jadi para pekerja tidak bergabung menjadi sebuah organisasi yang mempunyai pusat. Itu adalah cara Roma, bukan cara Alkitab. Persatuan yang ada dalam Alkitab ialah para rasul bersatu sekelompok demi sekelompok. Kita nampak dengan jelas, bahwa Paulus satu kelompok dengan Lukas, Silas, Apolos, Timotius dan Titus; sedang Petrus bersatu dengan Yohanes dan Yakobus sebagai kelompok lain. Yang dari Antiokhia merupakan satu kelompok, yang dari Yerusalem merupakan satu kelompok lain. Walaupun mereka masing-masing bukan membentuk sebuah misi, namun masing-masing mempunyai "kawan-kawan seperjalanan" (Kis. 20:34). Dengan menelusuri sejarah mereka dalam kitab Kisah Para Rasul, kita akan mengetahui, bahwa semula ada beberapa rasul bekerja di Yerusalem. Mereka inilah yang ke Samaria dan Kaisarea, berapa orang yang ikut pergi, kita tidak tahu. Kemudian ada satu permulaan lain terjadi di Antiokhia (pasal 13), oleh Paulus dan Barnabas, dan disertai Silas, Lukas, Apolos, Timotius . . . entah berapa jumlahnya, kita juga tidak tahu. Di luar kitab Kisah Para Rasul, kita pun nampak ada sekelompok pekerja yang bekerja karena iri hati dan perselisihan (Filipi 1). Jelas mereka tidak sekelompok dengan Paulus maupun Petrus. Kendatipun motivasi mereka tidak patut dicontoh, tapi ini membuktikan, bahwa pada masa itu pekerja-pekerja Allah adalah sekelompok demi sekelompok. Dengan kata lain, pekerjaan dan pekerja Allah dalam Alkitab memang mempunyai kelompok, tidak sama dengan gereja-gereja. Jika gereja-gereja berkelompok, ia akan menjadi denominasi.

Ada orang mengira, jika kita tidak memiliki organisasi denominasi, para pekerja tentu akan berantakan; masing-masing menempuh jalannya sendiri, menurut kesenangannya sendiri; masing-masing menjadi pausnya sendiri atau menjadi pasturnya sendiri. Gereja lokal memang independen, itu tidak ada masalah. Gereja lokal seharusnya tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Tetapi pekerjaan ada kelompoknya, walau itu bukan kelompok organisasi. Cara gereja berbeda dengan cara pekerjaan. Dalam pekerjaan ada kelompoknya, ada penumpangan tangan, pengaturan, pemutasian dan pengutusan. Antar gereja lokal tidak saling mencampuri urusan masing-masing; gereja di A tidak dapat mencampuri urusan gereja di B, gereja di B pun tak dapat mencampuri urusan gereja di A. Bila sebuah gereja lokal tertimpa malapetaka, gereja-gereja lain boleh menolongnya untuk menyatakan saling bersatu. Tapi administrasi masing-masing gereja tidak saling bersangkut paut, masing-masing mengelola dirinya sendiri. Lain halnya dengan pekerjaan. Pekerjaan mempunyai konsep, rencana, pengaturan, dan ruang lingkupnya tidak terbatas pada satu lokal, melainkan banyak lokal. Maka kalau gereja tidak ada gabungan beberapa gereja, tapi rasul ada gabungan beberapa orang, hanya saja tidak ada apa yang disebut "misi" atau "tim penginjilan" dan lain sebagainya, seperti yang dibuat orang hari ini.

FAKTA DALAM ALKITAB

Dari kasus-kasus yang terjadi dalam pekerjaan menurut catatan Alkitab, kita dapat membuktikan, bahwa pekerjaan ada kelompoknya, yaitu ada pengaturannya; bersamaan dengan itu pekerjaan juga melampaui batasan lokal.

". . . berkatalah Paulus kepada Barnabas: Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan, berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ" (Kis. 15:36-40)

"dan Paulus mau supaya dia (Timotius) menyertainya . . ." (Kis. 16:3-4).

"Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana" (Kis. 16:10).

"Orang-orang yang mengiringi Paulus menemaninya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya" (Kis. 17:15).

". . . karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia. Ia disertai oleh Sopater anak Pirus, dari Berea, dan Aristarkus dan Sekundus, keduanya dari Tesalonika, dan Gayus dari Derbe, dan Timotius dan dua orang dari Asia, yaitu Tikhikus dan Trofimus. Mereka itu berangkat lebih dahulu dan menantikan kami di Troas" (Kis. 20:3-5).

"Kami berangkat lebih dahulu ke kapal dan berlayar ke Asos, dengan maksud untuk menjemput Paulus di situ sesuai dengan pesannya, sebab ia sendiri mau berjalan kaki melalui darat. Ketika ia bertemu dengan kami di Asos, kami membawanya ke kapal, lalu melanjutkan pelayaran kami ke Metilene" (Kis. 20:13-14).

"Jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku. Tentang saudara Apolos: telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang" (I Kor. 16:10,12).

"Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya" (II Kor. 8:6).

"Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu. Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita" (I Kor. 8:16-18).

"Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu . . . Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus" (II Kor. 8:22-23).

"Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu. Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu" (Ef. 6:21-22).

"Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu" (Flp. 2:19).

"Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku" (Flp. 2:25).

"Semua hal ihwalku akan diberitahukan kepada kamu oleh Tikhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan" (Kol. 4:7).

"Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas" (Kol. 4:14).

"Dan sampaikanlah kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kau terima dari Tuhan, kau jalankan sepenuhnya" (Kol. 4:17).

"Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena. Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu" (I Tes. 3:1-2).

"Berusahalah supaya segera datang kepadaku, karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu" (II Tim. 4:9-13).

"Erastus tinggal di Korintus dan Trofimus kutinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus. Berusahalah kemari sebelum musim dingin" (II Tim. 4:20-21).

"Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu" (Titus 1:5).

"Segera setelah kukirim Artemas atau Tikhikus kepadamu, berusahalah datang kepadaku di Nikopolis, karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim dingin. Tolonglah sebaik-baiknya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos, dalam perjalanan mereka, agar mereka jangan kekurangan suatu apa" (Titus 3:12-13).

PENGAJARAN DARI FAKTA

Setelah membaca ayat-ayat di atas, kita nampak tiga fakta: 1) pekerjaan mempunyai kelompok; 2) dalam pekerjaan ada pengaturan; dan 3) ruang lingkup pekerjaan tidak terbatas pada satu lokal.

Dengan mengamati catatan orang-orang dalam kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat kiriman rasul, kita tahu, bahwa para pekerja Allah mempunyai kelompoknya, mereka bekerja sama dengan menggabungkan diri; bukan Anda dan aku masing-masing melakukan pekerjaan sendiri-sendiri. Demikianlah pola yang dipraktikkan oleh sekelompok pekerja di Yerusalem. Kita sangat hafal beberapa pekerja di Yerusalem. Yang paling kita kenal di antaranya ialah Petrus, Yohanes dan Yakobus. Mereka tidak bekerja sendirian. Pada hari Pentakosta kita nampak "maka bangkitlah Petrus berdiri dengan keduabelas rasul itu" (Kis. 2:14). Yang bekerja di Gerbang Indah adalah Petrus dan Yohanes; mereka berdua pula yang pergi ke Samaria. Di rumah Kornelius, Petrus didampingi enam saudara. Di Yerusalem mereka mempunyai tim pekerja. Walaupun belum tentu setiap kali yang bekerja sama adalah beberapa orang itu, pekerjaan mereka bukan bersifat individual, melainkan korporat. Mereka pergi bekerja selalu membawa kawan sekerja. Mengenai Paulus dengan rekan sekerjanya di Antiokhia, sayang kita hanya memperhatikan pribadi Paulus, tanpa memperhatikan rekan-rekan sekerjanya.

Kita melihat, ketika di Troas, Lukas masuk ke dalam kelompok kerja mereka, dan memutuskan keharusan menerima seruan dari Makedonia. Kemudian ketika kembali dari Makedonia, Paulus disertai Sopater, Aristarkus, Sekundus, Gayus, Timotius, Tikhikus dan Trofimus. Kemudian bergabung pula Apolos, Priska, dan Akwila. Lalu bagaimana Paulus mengirim Timotius, mendesak Apolos, dan menganjurkan Titus ke Korintus, dan kemudian beroleh Epafroditus sebagai rekan sekerja. Saya sangat senang membaca kalimat pertama surat kiriman rasul, "Dari Paulus . . . dan dari Sostenes, saudara kita" - "Dari Paulus . . . dan dari Timotius, saudara kita" - "Paulus, Silas dan Timotius" . . . Alkitab tidak saja memperlihatkan kepada kita ada pekerja, bahkan ada rekan-rekan sekerja. Jangan kita salah paham, mengira karena tidak boleh ada organisasi manusia, atau misi yang didirikan manusia, lalu menganggap para pekerja tidak boleh ada persatuan. Gereja memang tidak boleh berupa gabungan beberapa kelompok, tetapi pekerja Allah boleh ada persatuan. Banyak yang salah mengerti, mengira kita tidak ada organisasi, maka para pekerja atau rasul Allah boleh bertindak bebas, yakni mengerjakan sendirian pekerjaan yang dianggap baik oleh masing-masing. Tidak, gereja memang tidak seharusnya bergabung menjadi organisasi gabungan, tetapi pekerja Allah harus memiliki rekan sekerja dan bergabung dengan rekan sekerjanya menjadi satu kelompok atau tim untuk bekerja sama, namun tidak membentuk sebuah kelompok penginjilan yang mempunyai pusat.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu walaupun mereka mempunyai satu kelompok atau tim, itu bukan semacam kelompok yang terorganisir, melainkan sebuah kelompok rohani. Besar sekali perbedaan antara kedua kelompok itu. Mereka adalah kelompok orang yang memiliki satu tekad dan sejalan. Karena sama-sama mengasihi satu Tuhan, sama-sama senang melayani Tuhan, sama-sama menerima panggilan dan utusanNya, maka mereka bergabung dan bekerja sama. Ada yang sudah hadir sejak semula, ada yang menggabungkan diri kemudian. Mereka benar-benar merupakan sebuah kelompok, sebuah tim kerja. Tetapi mereka tidak mempunyai organisasi, tanpa pembagian kedudukan maupun jabatan. Para anggotanya pun bukan dari undangan atau latihan, melainkan ditemukan ketika rasul dalam perjalanan penginjilan ke luar. Mereka dapat saling berjumpa atas pengaturan Allah dan saling menarik serta saling bekerja sama. Tanpa ada yang disebut ujian, persyaratan atau prosedur lainnya. Segalanya ada dalam penguasaan Allah, manusia hanya menyetujui belaka. Dalam kelompok atau tim ini, siapa pun tidak beroleh posisi atau jabatan tertentu. Tanpa "manajer tim" atau "ketua" atau "penilik", yang lain tidak perlu dikatakan lagi. Jabatan mereka berasal dari Tuhan. Tuhan mengaruniakan jabatan ini dan mereka memegang kedudukan ini. Kelompok ini tidak memberi mereka jabatan apa-apa. Hubungan mereka satu dengan yang lain adalah rohani, bukan posisional. Persatuan mereka juga rohani, bukan organisasi buatan manusia.

Alkitab juga memperlihatkan kepada kita, bahwa di antara para pekerja Allah ini, bukan karena siapa pun tidak menerima tunjangan dari siapa, maka siapa pun tidak dapat memutasikan siapa. Bukan karena aku langsung bersandar kepada Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memutasikan diriku; bukan karena aku langsung bersandar kepada Allah, maka tidak ada orang yang dapat mencampuri masa depanku. Sebaliknya, kita nampak Paulus "meninggalkan Titus di Kreta" untuk meneruskan pekerjaannya yang belum rampung, kemudian "mengutus (mengirim) Artemas atau Tikhikus" sebagai penggantinya, dan kemudian "menyuruhnya datang ke Nikopolis". Kita sangat hafal bagaimana Paulus berulang-ulang mengirim Timotius, Epafroditus, Tikhikus untuk pergi bekerja, dan bagaimana ia mendesak Titus dan Apolos pergi ke Korintus. Dalam pekerjaan Allah, tidak hanya ada kelompok, bahkan ada komando dari pekerja yang lebih rohani daripada kita. Jadi, rekan sekerja harus bisa menerima pengutusan atau ditinggalkan atas nasihat.

Karena itu, kita harus jelas tentang perbedaan antara wewenang posisional dan wewenang rohani. Dalam suatu organisasi, semua wewenang yang ada adalah wewenang posisional, bukan yang rohani. Dalam sebuah organisasi, tak peduli orang itu sendiri memiliki wewenang rohani atau tidak, segala wewenang yang dimilikinya dalam organisasi tersebut hanya posisional. Apa itu wewenang posisional? Wewenang posisional ialah wewenang yang dimiliki seseorang karena ia memiliki posisi atau kedudukan. Bila ia tidak berada pada posisi itu, maka tak dapatlah ia melaksanakan wewenangnya. Jadi wewenang posisional itu berada di luar pemiliknya, tidak bersangkut paut dengan dirinya sendiri. Ia memiliki wewenang itu karena kedudukannya semata; dan semua wewenangnya berasal dari kedudukannya. Justru dengan wewenang semacam inilah semua organisasi mengendalikan perjalanan orang lain. Siapa sebagai ketua atau pimpinan, dialah yang mengomando pekerjaan orang lain. Pusat organisasi adalah posisi, dan posisi atau kedudukan merupakan hayat sebuah lembaga organisasi; orang menjalankan wewenangnya melalui kedudukannya itu. Namun kelompok kerja dalam Alkitab tidak memiliki organisasi. Ada wewenang di dalamnya, tapi bukan yang posisional, melainkan yang rohani. Sebab tanpa kedewasaan rohani, kepenuhan kekuatan dan keakraban persekutuan, tiadalah wewenang itu. Rasul Paulus dapat memberi komando kepada orang lain, bukan karena ia memiliki posisi lebih tinggi, melainkan karena ia memiliki kerohanian lebih dalam. Siapa yang lebih berbobot dalam kerohanian, ia memiliki wewenang. Bila seseorang gagal dalam kerohaniannya, ia akan kehilangan wewenangnya. Dalam sebuah organisasi, orang yang memiliki kerohanian, belum tentu memiliki wewenang itu, dan orang yang memiliki posisi, belum tentu memiliki wewenang itu. Namun, kelompok kerja dalam Alkitab bukan sebuah lembaga organisasi, karena itu, orang-orang yang senior dalam kerohaniannya bisa jadi "komandan", dan orang yang dipenuhi kekuatan roh bisa menjadi penilik. Setiap orang yang rohani wajib mendengar dan taat. Dalam suatu organisasi, Anda tidak boleh tidak taat, tapi dalam kelompok rohani, Anda boleh saja tidak taat, hanya kalau demikian, walau dalam hal ini Anda tak bersalah secara formal, Anda telah bersalah secara rohani.

Di samping masalah wewenang rohani, masih ada berbagai masalah ministri. Setiap hamba Tuhan memang ada di dalam ministri itu, tapi mereka di hadapan Tuhan memiliki ministri khususnya masing-masing. Ministri-ministri itu berbeda. Kalau di dalam organisasi, ada kedudukan yang ditetapkan manusia, maka dalam pekerjaan rohani ada ministri yang dikaruniakan oleh Tuhan. Karena ada perbedaan ministri, maka selain harus menaati Tuhan, harus pula saling menaati. Ketaatan mereka kepada saudara lain, bukan karena orang lain itu memiliki posisi lebih tinggi, melainkan karena ministri masing-masing saling berkaitan dan berbeda seorang dengan yang lain. Ini mutlak rohani bukan posisional.

Hari ini orang-orang telah nampak hal ini, maka mereka membentuk sebuah kelompok, memilih seorang pemimpin untuk memimpin pekerja lainnya. Namun hari ini kebanyakan pemimpin berasal dari kedudukan dalam organisasi bukan dari ministri rohani. Kepemimpinan Paulus jelas berasal dari ministrinya. Demikian pula Titus dan Timotius menerima pimpinan Paulus dari ministri mereka. Hari ini, kebanyakan pimpinan berasal dari kedudukan manusia, bukan karena kekayaan pengalaman rohani atau kelebihan atau lebih besarnya posisi ministri. Hari ini begitu seseorang memiliki posisi yang ditetapkan manusia, tak peduli bagaimana kerohaniannya, ia sudah boleh memimpin orang. Begitu mempunyai posisi, segera itu pula mempunyai wewenang. Ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Yang menjadi dasar Alkitab adalah kerohanian. Dalam Alkitab ada wewenang, tapi wewenang rohani bukan posisional. Alkitab menghendaki orang memiliki kekuasaan rohani, amanat rohani, pengalaman rohani dan tugas rohani. Ini sangat berbeda dengan orang-orang hari ini yang menjalankan wewenangnya karena kedudukannya semata.

Kita nampak betapa Timotius mengasihi Tuhan, intim dengan Tuhan dan setia melayani Tuhan; ia benar-benar sebuah bejana yang khusus dipilih Tuhan. Namun ia berulang-ulang menerima pengutusan Paulus. Ia tak pernah berkata, "Masakan aku sendiri tak bisa bekerja? Apakah aku sendiri tidak bisa memberitakan Injil? Apakah aku sendiri tidak bisa membangun gereja? Apakah aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa?" Syukur kepada Allah, Timotius bisa, tapi ia tetap pergi bekerja menurut perintah Paulus. Dalam pekerjaan rohani, memang ada seseorang menerima perintah dari yang lain. Ada posisi Paulus, ada pula posisi Timotius.

Hari ini kita wajib belajar menjalin hubungan yang wajar dengan rekan sekerja pada satu aspek dan menerima pimpinan Roh Kudus pada aspek lainnya. Kedua hal ini harus dipelihara dan seimbang. Dalam surat kiriman yang kedua kepada Timotius, cukup banyak tempat yang memperlihatkan kepada kita bagaimana cara kerja sama antar sekerja, dan bagaimana seorang sekerja yunior menaati sekerja senior. Seorang sekerja yunior di samping menuruti perintah Roh Kudus, juga harus menaati pesan Paulus yang senior. Paulus pernah mengutus Timotius keluar, pernah pula meninggalkannya di Efesus, dan Timotius menaatinya di dalam Tuhan. Ini merupakan teladan pekerja yunior. Betapa mustikanya kesatuan pekerjaan semacam ini. Di samping menerima pimpinan Roh Kudus, juga dapat bekerja dengan serasi bersama rekan sekerja lainnya. Dalam hal ini kita tak dapat melemparkan seluruh tanggung jawabnya ke atas diri Timotius, kita pun tak dapat melemparkan seluruh tanggung jawabnya ke atas diri Paulus. Sebab orang yang menasihati harus tahu bagaimana memberi nasihat. Bila orang yang memimpin, menasihati, menetapkan dan mengutus orang lain bertindak menurut alamiah dan kemauannya sendiri, orang lain pasti tidak akan mau menaatinya. Sudah tentu Timotius harus belajar bagaimana bekerja sama dengan Paulus, tapi Paulus pun harus belajar bekerja sama dengan Timotius. Kalau demikian Timotius akan terhindar dari hanya bisa menuruti Roh Kudus, tidak bisa menaati Paulus, dan Paulus pun akan terhindar dari berbicara mewakili Tuhan. Jika tidak, tentu akan timbul banyak kesulitan.

Para pekerja Allah wajib bersatu, tapi ada sejenis persatuan yang menakutkan, yakni sejenis organisasi manusia yang membuat hamba-hamba Allah tidak mungkin menerima pimpinan Roh Kudus, melainkan hanya menerima pengaturan manusia, dan menjadi hamba manusia; membuat mereka melakukan pekerjaan tertentu tanpa beroleh beban di hadapan Allah, tapi hanya karena pimpinan orang yang lebih tinggi atau lebih besar daripada mereka. Ada orang mengira, Roh Kudus di bumi perlu direktur, padahal Roh Kudus di bumi sudah sebagai direktur Kristus; Dia tidak membutuhkan direktur. Problem kita hari ini ialah adanya seseorang yang berposisi lebih tinggi untuk mengatur orang lain, seolah-olah melalui dia baru kita dapat mengerti kehendak Allah. Namun menurut Alkitab, manusia tidak dapat bergabung menjadi sebuah organisasi, dan manusia tidak dapat memberi komando melalui sebuah organisasi tanpa menghiraukan beban orang lain di hadapan Allah.

Di pihak lain, ada segolongan orang yang telah memahami kehendak Allah; telah beroleh panggilan, telah beroleh pimpinan Allah, telah beroleh suplai dari Allah, lalu mengira: "Aku boleh menempuh jalanku sendiri dan mengerjakan pekerjaanku sendiri."

Alkitab di satu pihak tidak memperbolehkan kita memiliki semacam organisasi manusia untuk mengatur pekerja-pekerja Allah, di pihak lain memperlihatkan kepada kita, bahwa demi ministri rohani, harus ada kesehatian antar pekerja untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan menaati wewenang Roh Kudus. Tanpa organisasi itu adalah fakta, tetapi tidak berarti dalam pekerjaan tanpa persatuan antar rasul. Dalam pekerjaan rohani, individualisme dalam bekerja, praktik pengutusan/misi dalam organisasi denominasi bukanlah kehendak Allah. Perlu secara pribadi memahami kehendak Allah, juga perlu beberapa orang bersama-sama memahami kehendak Allah. Contoh ini tertampak pada panggilan Paulus dan Barnabas. Yang ada di hadapan Allah bukan dua orang nabi dan pengajar, melainkan lima nabi dan pengajar. Kisah Para Rasul 13 telah meninggalkan teladan baik ini yakni pekerjaan mempunyai kelompoknya. Tapi bukan persatuan yang berkedudukan besar dan kecil, melainkan persatuan yang berministri besar dan kecil. Sebagai orang-orang yang bekerja sama, kita mempunyai hubungan timbal balik. Pimpinan yang kita peroleh dari Tuhan, harus saling dikuatkan oleh pimpinan yang diterima saudara lainnya. Kita harus mempunyai semacam koordinasi timbal balik seperti beberapa nabi dan pengajar di Antiokhia, supaya yang terlampau cepat berhenti sejenak, yang terlampau lamban didorong agak maju. Walau tanpa hubungan organisatoris, tetapi ada hubungan hayati dan rohani.

Selain itu kita nampak, bahwa ruang lingkup pekerjaan mereka sangatlah luas. Ada yang diutus ke Efesus, ada yang disuruh datang kepada Paulus; ada yang ditinggalkan di Korintus, ada yang ditinggalkan di Miletus, ada yang ditempatkan di Kreta, ada yang kembali dari Tesalonika, ada yang pergi ke Galatia, dan lain sebagainya. Inilah pekerjaan. Aktivitas ini bukan urusan gereja, sebab gereja hanya menangani urusan dalam ruang lingkup satu lokal. Efesus hanya menangani urusan Efesus, Kolose hanya menangani urusan Kolose, Roma hanya menangani urusan Roma. Urusan-urusan dalam lingkungan lokal itulah yang harus dikerjakan gereja. Efesus tak perlu meninggalkan orang di Kolose, Kolose tak perlu mengirim orang ke Roma. Tetapi pekerjaan melampaui lokal. Efesus, Kolose dan Roma semuanya berada dalam hati para pekerja. Para pekerja Allah menganggap lokal-lokal yang Tuhan bagikan kepada mereka sebagai "ladang pelayanan" mereka. Maka para pekerja perlu bersama-sama berunding atas pekerjaan mereka di lokal-lokal itu; perlu pemutasian dan pengaturan. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh gereja lokal. Gereja lokal hanya dapat mengelola urusan dalam lingkungan lokalnya sendiri. Tapi dalam pekerjaan, barangsiapa diutus Tuhan, harus saling bertanggung jawab atas pekerjaan di berbagai lokal.

ANTAR PEKERJA TIDAK ADA PENGENDALIAN GABUNGAN

Para pekerja dalam Alkitab memang mempunyai kelompok atau tim, tapi tidak ada persatuan seluruh rasul menjadi sebuah lembaga yang dikendalikan secara gabungan dan tunduk di bawah sebuah wewenang pusat. Walau Paulus mempunyai "teman sekerja", Petrus mempunyai "rekan sekerja", tapi mereka hanya beberapa di antara semua rasul. Jadi bukan sebuah lembaga yang terbentuk dari seluruh rasul yang menggabung seluruh rasul. Ini tidak terdapat dalam Alkitab. Berdasarkan ajaran Alkitab, sejenis pekerjaan khusus berkaitan dengan beberapa pekerja, karena itu, mereka lalu bergabung menjadi satu kelompok/tim; mungkin beranggotakan puluhan orang, atau mungkin pula ratusan orang. Karena mereka sama-sama menerima amanat tertentu, maka mereka boleh bergabung. Alkitab selamanya tidak pernah mencantumkan kekuasaan pusat untuk menguasai seluruh rasul. Ada kelompok, tapi ia tak pernah membesar hingga merangkum dan menyatukan seluruh rasul.

Dalam surat Filipi pasal 1, tercantum ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakannya dengan maksud baik. Mereka memberitakan Kristus karena kasih, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud bergolong-golongan. Karena daging belum ditanggulangi, dengan sendirinya timbul kedengkian. Surat Filipi memperlihatkan adanya fakta demikian, membuktikan bahwa pekerjaan pada masa itu tidak digabung. Andaikata cara gabungan diterapkan, tentu tak mungkin ada segolongan orang seperti itu. Kalau ada, pasti akan ditindak sejak dini. Tetapi sikap Paulus ialah, "Sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." Kalimat-kalimat ini menunjukkan fakta pada jaman "rasul", bahwa pekerja Allah adalah sekelompok-sekelompok. Kendatipun ada kelompok pekerja yang bermaksud baik, dan ada pula yang bermaksud palsu, dengki dan bergolong-golongan, tetapi Paulus dan para rasul besar lainnya tidak menindak atau melarang mereka, sebab pada masa itu tidak ada masalah pengendalian gabungan para pekerja.

Ada beberapa fakta yang perlu diperhatikan:

1) gereja lokal tidak seyogyanya bergabung dengan gereja lainnya menjadi sebuah lembaga besar, sebab gereja lokal sudah merupakan sebuah lembaga kaum imani yang terbesar;

2) para pekerja atau para rasul boleh bergabung. Baik para rasul yang tinggal di Antiokhia maupun yang tinggal di Antiokhia Pisidia, mereka boleh bergabung;

3) Alkitab tidak mempersatukan seluruh pekerja menjadi sebuah lembaga besar. Hal ini tidak saja sangat gamblang dalam Filipi 1, dalam surat Korintus pun demikian.

Surat II Korintus 11:12-13 mengatakan, "Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus." Ayat 22-23 mengatakan, "Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel! Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus? - Aku berkata seperti orang gila - aku lebih lagi . . ." Di sini kita nampak, di Korintus ada segolongan rasul palsu yang menyesatkan kaum imani Korintus, mengatakan bahwa Paulus bukan rasul. Mereka mengira diri mereka lebih baik dari Paulus. Kita lihat, secara administratif Paulus tidak berdaya menanggulangi mereka, sebab para pekerja Allah tidak memiliki suatu organisasi persatuan secara administratif. Jika ada, barangsiapa tidak memiliki "Kartu Ijin Kerja", ia tak dapat menginjil. Jika setiap pekerja harus ada "ijin" tersebut baru layak keluar, tentulah tidak ada kesulitan ini. Namun bergabungnya para rasul adalah hal yang rohani, karena itu, ada segolongan orang lain yang menjadi rasul-rasul palsu. Allah tidak menghendaki seluruh rasul bergabung menjadi satu lembaga, sebab kerugian yang diakibatkan oleh penggabungan semacam ini akan jauh lebih besar daripada adanya rasul-rasul palsu tadi. Karena itu, Allah hanya mengijinkan beberapa pekerja utusanNya bergabung menjadi sebuah lembaga, karena sama-sama menerima amanat yang sama.

Galatia 4:17 mengatakan, "Mereka dengan giat berusaha untuk menarik kamu, tetapi tidak dengan tulus hati, karena mereka mau mengucilkan kamu, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka". Juga 6:17 mengatakan, "Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus." Sudahkah Anda nampak keserasian kedua ayat itu? Ada orang yang pergi ke Galatia lalu dengan segala usaha menarik orang-orang Galatia untuk beroleh keuntungan besar dari orang-orang Galatia. Bagaimanakah sikap Paulus terhadap mereka? Paulus berkata, "Aku benar-benar bekerja untuk Tuhan. Janganlah kalian melakukan tipu daya itu atas diriku." Paulus tidak mempunyai kekuasaan politik untuk menanggulangi mereka.

Mengapa dalam Alkitab tidak ada organisasi dan pengendalian yang umum? Tidak lain karena Allah tidak mau menggunakan kekuatan organisasi manusia untuk menggantikan kekuatan Roh Kudus. Pada saat manusia tanpa pengendalian gabungan, jika manusia taat kepada pimpinan Roh Kudus, maka segalanya akan terlaksana dengan baik. Tapi bila manusia tidak menuruti Roh Kudus, melainkan bekerja dengan kedagingan, pekerjaannya akan gagal. Organisasi yang ketat sering kali menggantikan kekuatan Roh Kudus. Walau kekuatan hayati di dalamnya sudah tiada, pekerjaan tetap tidak runtuh, karena disangga oleh organisasi di luar. Selama organisasi itu tetap ada, pekerjaan itu tetap berlangsung. Namun Allah tidak menghendaki manusia berbuat demikian. Bila kekuatan rohani lenyap, Allah pun menghendaki pekerjaan itu runtuh, dan ikut lenyap. Begitu kemuliaan Allah meninggalkan bait suci, saat itu pula Allah lebih suka melihat tiada sebuah batu berada di atas batu lainnya. Tak jarang, di dalamnya sudah kering kerontang, tapi karena kerangka organisasinya yang di luar masih ada, maka orang tidak merasakan kondisi sebenarnya yang di dalam. Tetapi Allah menghendaki manusia sama luar dan dalam, Ia ingin manusia nampak apa yang Ia nampak. Allah lebih suka pekerjaan kita runtuh daripada ada dukungan yang semu, agar kita sesudah runtuh mau dengan rendah hati kembali mencari wajahNya. Organisasi persatuan yang dikendalikan oleh induk atau pusat, banyak sekali kerugiannya. Ia dapat memberi kesempatan kepada orang-orang yang bukan hamba Allah untuk menyelinap, mudah pula menciptakan kedudukan Paus hari ini, membuat pekerjaan Allah di bumi menjadi sebuah kekuatan raksasa, bersamaan dengan itu membuat hamba-hamba Allah tidak lagi dipimpin oleh Roh Kudus. Maka adalah fakta, bahwa pekerja mempunyai kelompok, tetapi pekerja tidak dapat membentuk sebuah persatuan yang berpusat.

KERJASAMA ANTAR PEKERJA

Sekarang ada satu pertanyaan, bagaimana seharusnya kerja sama antar para pekerja dengan kelompok pekerja itu? Ada sekelompok pekerja memiliki pekerjaan khusus dari Allah, dan ada sekelompok pekerja lain memiliki amanat khusus dari Allah. Bagaimanakah kedua kelompok pekerja itu bekerja sama? Petrus memiliki rekan-rekan sekerjanya, Paulus juga memiliki rekan-rekan sekerjanya. Allah tidak menggabungkan mereka untuk bekerja bersama. Kalau demikian, ketika mereka saling bertemu bagaimanakah seharusnya mereka bekerja sama? Penggabungan itu tidak benar, sebab kelompok atau tim mereka berdiri sendiri-sendiri. Lalu bagaimana seharusnya para pekerja dan kelompok-kelompok itu saling bekerja sama?

Baiklah sekarang kita bahas beberapa butir pokok pekerjaan para pekerja:

1. Setiap pekerja (termasuk kelompok), ministri apa pun yang mereka terima dari Allah, pekerjaan khusus apa pun yang akan mereka lakukan, begitu mereka tiba di suatu lokal yang belum ada gereja, maka perkara pertama yang harus mereka lakukan ialah mendirikan gereja di lokal itu.

2. Bila mereka tiba di sebuah lokal yang sudah ada gereja, mereka hanya dapat menyuplaikan pengajarannya, agar gereja itu beroleh manfaatnya. Ia tidak boleh membuat gereja itu menjadi gerejanya atau gereja kelompoknya.

Andaikata seorang atau beberapa orang pekerja tiba di suatu lokal yang belum ada gereja, lalu mendirikan "gereja" yang mendukung pengajarannya, maka Anda tidak dapat bekerja sama dengan mereka, sebab ia atau mereka di situ mendirikan sekte. Demikian pula jika mereka tidak hanya menyuplaikan pengajarannya, melainkan ingin mengubah orang lain menjadi cabang "gereja" kelompoknya, Anda pun tidak mungkin bekerja sama dengan mereka. Pantangan terbesar bagi pekerja ialah tidak mendirikan gereja lokal, atau tidak membina gereja lokal, dan bermaksud mengubah kelompok lokal menjadi kelompok mereka sendiri. Kedua praktik tersebut tidak diijinkan oleh Alkitab.

Ketika Paulus dari Antiokhia tiba di Korintus, melalui penginjilannya ada sekelompok orang beroleh selamat, dan kemudian muncullah sebuah kelompok kaum imani di sana. Kelompok apakah yang Paulus dirikan di Korintus? Gereja di Korintus. Ia bukan mendirikan cabang gereja Antiokhia di Korintus. Tak lama kemudian, mungkin Petrus juga tiba di Korintus menginjil dan beroleh sekelompok orang. Dapatkah Petrus berkata, "Paulus, Anda datang dari Antiokhia, aku datang dari Yerusalem, sebab itu aku harus mendirikan sebuah kelompok lain"? Atau, "Aku akan mendirikan sebuah cabang gereja Yerusalem"? Tidak bisa! Petrus hanya dapat berkata, "Kalau Paulus mendirikan gereja di Korintus, maka jiwa-jiwa yang kuperoleh harus diletakkan ke dalam gereja ini." Bukan Petrus saja yang berbuat demikian, Apolos yang datang kemudian pun berbuat demikian. Mereka semua berbuat serupa, yakni menyerahkan jiwa-jiwa yang diselamatkan itu kepada gereja lokal. Dengan demikian, di Korintus hanya ada satu gereja Allah, tidak ada sekte atau perpecahan macam apa pun. Andaikan Paulus telah memberitakan Injil dan menyelamatkan orang di Korintus lalu berkata, "Aku berasal dari Antiokhia, maka aku harus mendirikan sebuah cabang gereja Antiokhia, atau mendirikan sebuah cabang gereja Paulus." Andaikan juga Petrus tiba dan berkata, "Paulus telah mendirikan cabang gereja Antiokhia, apa hubunganku dengan gereja Antiokhia? Aku tidak sudi menyerahkan orang ke dalam cabang gerejamu, aku di sini akan mendirikan pula cabang gereja Yerusalem". Demikian pula Apolos datang mendirikan cabang gereja Apolos. Anda mendirikan sebuah cabang gereja Anda, aku mendirikan cabang gerejaku, dan dia juga mendirikan sebuah cabang gereja dia, maka terbentuklah berbagai sekte. Kalau demikian, kedatangan mereka bukan mendirikan gereja lokal, melainkan cabang gereja asal mereka. Mereka bukan mendirikan gereja, melainkan memperluas kelompok asal mereka. Jika demikian jelaslah tidak mungkin bekerja sama.

Maka prinsip terpenting bagi pekerjaan para pekerja atau tim kerja ialah: pekerjaan kita haruslah membangun gereja lokal di tempat kita berada, bukan mendirikan gereja dari kota asal kita; bukan memperluas gereja dari kota asal kita ke tempat atau lokal kita berada sekarang, melainkan ke mana kita pergi, kita mendirikan gereja lokal di lokal itu. Baik Yerusalem maupun Antiokhia tidak mempunyai cabang. Setiap gereja bersifat lokal. Kita tak dapat memperluas sebuah gereja lokal ke lokal lain, kita hanya bisa mendirikan gereja lokal di lokal itu. Gereja yang didirikan rasul di Efesus adalah gereja di Efesus; ketika tiba di Filipi, yang didirikan adalah gereja di Filipi. Gereja yang didirikannya di puluhan lokal adalah gereja-gereja di lokal-lokal itu pula. Tak pernah kita melihat mereka mendirikan kelompok lain. Memperluas gereja Allah itu boleh, tapi tidak boleh memperluas gereja Allah dari kota asal kita. Kita berada di lokal mana, maka gereja yang kita dirikan pun adalah gereja lokal itu.

Tujuan pengabaran Injil sebenarnya melulu untuk menyelamatkan orang dosa, tetapi itu akan mengakibatkan di tempat yang kita kunjungi itu muncul gereja. Tujuannya adalah menyelamatkan orang dunia, tapi akibatnya ialah mendirikan gereja. Di sini ada satu bahaya, yaitu orang senang membuat atau menyusun orang-orang yang diselamatkan menjadi cabang kelompoknya, bukan membentuknya menjadi gereja lokal. Akibatnya, karena berbedanya kelompok yang dimiliki masing-masing pekerja, maka berdirilah banyak cabang gereja kelompok yang berbeda-beda, dan timbullah banyak pertikaian. Saya yakin, tujuan pekerjaan para pekerja Allah selamanya tidak akan berbentrokan. Siapakah yang menginjil tanpa bermaksud menyelamatkan jiwa? Siapakah yang tidak ingin Tuhan menyelamatkan orang lebih banyak? Namun hasil pekerjaan, sedikit yang sama. Syukur kepada Allah, ada pekerja yang bekerja untuk mendirikan gereja lokal. Tapi sayang, lebih banyak orang, jika bukan memperluas denominasinya sendiri, tentu memperluas misinya sendiri. Inilah titik yang saya dan rekan sekerja saya perselisihkan dengan segolongan teman.

Dari lubuk hati kita bersyukur kepada Allah, karena selama seabad yang lampau, Ia telah mengutus banyak hambaNya yang setia datang ke Cina memberitakan Injil, sehingga banyak orang Cina yang berada dalam kegelapan berkesempatan mendengar dan percaya. Pengorbanan, penderitaan, ketaatan dan kegairahan mereka benar-benar menjadi teladan kita. Sering kali bila kita menengadahkan mata kita memandang wajah-wajah "menderita" dari para penginjil Cina dan Barat yang keluar dari pedalaman, sungguh tak dapat tidak kita terharu dan tak dapat tidak kita berdoa, "Tuhan, semoga aku pun bisa sama seperti mereka!" Semoga Tuhan memberkati dan membalas mereka!

Mengenai pekerjaan penginjilan saudara-saudara kita itu, kita benar-benar sedikit pun tidak bisa mengeritik mereka, kita hanya mendambakan. Sebenarnya kita seperti janin yang belum cukup umur; sebenarnya tak layak berpartisipasi dalam pekerjaan Allah. Tetapi karena kita beroleh rahmatNya dan menerima panggilan kasih karuniaNya untuk melakukan pekerjaanNya, maka kita tak dapat tidak menuntut kesetiaan. Karena itu, kita tak dapat tidak merasa, bahwa pekerjaan penginjilan dari saudara-saudara senior dalam Tuhan itu memang patut diapresiasikan; namun kita meragukan cara mereka menata hasil Injil, yakni orang-orang yang diselamatkan. Sebab dalam pekerjaan mereka seabad yang lampau, saudara-saudara senior dalam Tuhan itu bukan mendirikan gereja di lokal tempat mereka berada, melainkan mendirikan cabang gereja misi mereka! Menurut hemat kita, ini sungguh tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Dalam Alkitab hanya ada pendirian gereja lokal tempat kita berada, tidak mendirikan denominasi mana pun yang lain. Mohon Allah memaafkan saya, jika perkataan saya salah!

HASIL PEKERJAAN ADALAH GEREJA LOKAL?

ATAU GEREJA DARI GEREJA ANU?

Ijinkan saya menyinggung sebuah kisah pribadi. Tahun lalu di Shanghai saya berjumpa dengan seorang pekerja gereja anu. Ia bertanya kepada saya, apakah saya bisa bekerja sama dengan gereja anu? Saat itu, karena tidak tahu harus bagaimana menjawab, maka saya tidak segera menyawabnya. Tahun ini saya bertemu lagi dengannya di Kunming, Yunnan. Lagi-lagi ia menanyakan hal itu. Karena saya sudah beroleh terang yang lebih jelas, maka saya jawab demikian: "Misi anu yang kalian dirikan itu saya tidak berani menentang. Saya tahu misi itu kalian dirikan karena kalian menerima pimpinan Allah untuk memudahkan sekelompok saudara di negara Barat yang mengasihi Tuhan datang menginjil dan bekerja di Cina. Untuk ini saya sedikit pun tidak berani mengeritik. Saya sedikit pun tidak berani menyalahkan kelompok misi kalian, sebab pekerjaan dalam Alkitab memang ada kelompoknya. Jika kalian merasa kalian harus mempunyai nama organisasi untuk misi itu, kalian sendiri harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Siapakah saya sehingga berani mengeritik hamba Tuhan? Tetapi saya sendiri tidak berani berbuat demikian, sebab Allah tidak memimpin saya demikian. Maka mengenai misi anu, bagi saya tidak ada masalah, malahan saya mengaku saya beroleh banyak bantuan rohani setiap kali membaca riwayat hidup pendiri misi kalian. Hati saya sejak dulu sudah bersatu dengan kalian. Tetapi saya sangat keberatan dengan gereja misi anu kalian."

"Terhadap kalian - sekelompok penginjil - kami sama sekali tidak ada masalah. Namun bagaimana cara kalian memperlakukan hasil pekerjaan penginjilan kalian? Inilah yang menjadi masalah. Terhadap misi anu kalian kami tidak berani berkomentar apa-apa, tapi kami ingin bertanya, bagaimana dengan hasil misi anu? Jika misi anu hanya sebuah misi, kami tidak berani mengeritik apa-apa, tetapi jika misi anu menjadi gereja, masalahnya menjadi lain lagi. Kalian sendiri adalah misi anu, bagaimana dengan orang-orang yang kalian selamatkan? Apakah kalian membuat mereka menjadi gereja misi anu, atau membuat mereka menjadi gereja lokal di tempat mereka berada? Misi anu adalah sekelompok "penginjil" yang datang ke Cina untuk menginjil. Setelah memperoleh hasil di berbagai tempat, kalian tidak mempunyai wewenang Alkitab untuk membentuk hasil-hasil itu menjadi gereja anu. Kalian sendiri boleh menjadi misi anu, tapi kalian tidak boleh membentuk mereka menjadi gereja anu. Alkitab tidak melarang kalian mendirikan misi anu, tetapi Alkitab melarang kalian mendirikan gereja anu!"

Selanjutnya saya tunjukkan teladan rasul kepada mereka. Ke mana pun rasul bekerja, hasilnya dijadikan gereja di lokal mereka berada. Mereka selamanya tak pernah membuat buah atau hasil kerja di berbagai tempat menjadi cabang kelompok mereka sendiri. Jika tidak, gereja masa itu pasti sudah terpecah belah tak karuan. Dapat kita bayangkan, andaikata mereka tiba di suatu lokal bukan mendirikan sebuah gereja di lokal itu, tetapi memperluas gereja dari tempat asal mereka, apakah yang terjadi di lokal tersebut?

Saya katakan kepadanya lagi, "Pekerjaan di Ta-li adalah pekerjaan kalian. Kami bersyukur kepada Allah! Tetapi apakah orang-orang yang misi kalian selamatkan di Ta-li? Jika mereka adalah gereja di Ta-li, bila saya tiba di Ta-li, saya pasti akan membaurkan diri ke dalamnya. Saya tak peduli bagaimana kondisi kerohaniannya dan bagaimana strukturnya. Saya pasti terjun ke antara mereka. Jika tidak, saya adalah sekte. Tapi jika kalian membentuk mereka menjadi gereja anu, berarti kalian bukan mendirikan gereja di Ta-li, melainkan mendirikan gereja anu di Ta-li. Maaf, saya tidak dapat masuk ke dalam "gereja" semacam itu. Saya hanya dapat bekerja lagi di Ta-li dengan harapan agar di situ muncul gereja di Ta-li -- bukan gereja kami di Ta-li."

"Semua kelompok penginjilan dalam Alkitab adalah mendirikan gereja lokal, tidak pernah ada yang mendirikan cabang kelompok mereka. Jika kita semua pergi hanya mendirikan gereja lokal, barulah kita memiliki kemungkinan untuk bekerja sama sepenuhnya. Mendirikan misi anu itu boleh saja, tetapi mendirikan gereja anu tidak sesuai dengan Alkitab. Coba Anda pikirkan: andaikata gereja anu Anda tiba di Ta-li, lantas mendirikan gereja anu; gereja Pentakosta tiba di Ta-li, lalu mendirikan gereja Pentakosta; gereja Anglikan tiba di Ta-li, lalu mendirikan gereja Anglikan, masing-masing mendirikan cabang gereja atau kelompoknya sendiri. Ini seperti Paulus mendirikan cabang gerejanya, Petrus pun mendirikan cabang gerejanya, maka tak mungkinlah kita bekerja sama. Karena kami mengetahui dengan jelas, bahwa Allah menghendaki kita menuruti teladan yang ditinggalkanNya dalam Alkitab untuk mendirikan gereja lokal di setiap lokal."

Jika kita tiba di suatu tempat untuk mendirikan gereja, haruslah bersifat lokal tanpa mengenakan warna apa pun. Anda datang ke Ta-li, Anda harus mendirikan gereja di Ta-li; saya tiba di Ta-li, saya pun mendirikan gereja di Ta-li. Semua yang datang ke Ta-li, tak peduli mereka berlatar belakang misi apa, tapi tujuannya adalah mendirikan gereja di Ta-li. Kalau demikian, tidak mungkin kita melahirkan sekte. Saya tidak berani mengatakan misi anu keliru, sebab mereka adalah hamba Allah. Tapi jika mereka datang ke mana-mana dan mendirikan cabang gereja misi anu, itu berarti mereka tidak hanya memberitakan Injil, juga memperluas kelompok mereka. Kita dapat bekerja sama dengan semua pemberita Injil, namun tidak dapat bekerja sama dengan orang yang ingin memperluas kelompoknya sendiri. Karena itu, apakah seseorang tiba di berbagai lokal mendirikan gereja-gereja lokal, sangat menentukan dapat tidaknya kita saling bekerja sama. Bila mereka di samping menginjil juga mendirikan kelompok mereka sendiri, tak mungkin kita bekerja sama dengan mereka. Kita tidak mau menurut tujuan manusia memperluas kelompok manusia. Tak peduli mereka dari misi mana, asalkan mereka tiba di satu lokal bukan mendirikan "gereja" mereka sendiri, melainkan mendirikan gereja lokal, maka kita berkemungkinan bekerja sama.

Semoga Allah merahmati kita agar kita nampak dengan tuntas, bahwa gereja itu bersifat lokal. Mohon Allah menyelamatkan kita dari kekeliruan berpecah belah, agar gereja Allah terbangun di mana-mana.

BAB8

PEKERJAAN DAN GEREJA

RASUL DAN GEREJA

Kita harus ingat hubungan antara rasul dengan gereja. Ministri rasul adalah untuk memberitakan Injil dan mendirikan gereja. Walau Alkitab juga mengatakan, bahwa dalam gereja (universal) yang ditetapkan Allah pertama-tama adalah rasul, namun ministri rasul (bukan pribadi) sebenarnya mutlak berbeda dengan gereja (lokal). Terlebih dulu ada kedua belas rasul kemudian baru ada pendirian gereja di Yerusalem; terlebih dulu ada Paulus dan Barnabas, kemudian baru ada pendirian gereja-gereja di berbagai lokal. Jadi pekerjaan rasul sepenuhnya mendahului gereja; ada rasul dulu, kemudian baru ada gereja. Karena itu, pekerjaan rasul jelas bukan merupakan tambahan dalam gereja lokal.

Kita pernah membahas firman yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 13, "Berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas (pekerjaan) yang telah Kutentukan bagi mereka." Di sini ada sesuatu yang disebut "pekerjaan" yang ditentukan oleh Roh Kudus bagi rasul. Kita sebenarnya tidak tahu semua pekerjaan yang dilakukan Paulus selanjutnya disebut apa. Menurut istilah orang sekarang, itu adalah "misi". Tapi istilah tersebut tidak terdapat dalam Alkitab. Itu pun bukan gereja, sebab setiap gereja justru hasil dari segalanya itu. Firman Allah menyebut semua itu "pekerjaan". Maka segala yang dilakukan Paulus dan kawan-kawannya selanjutnya oleh Alkitab disebut pekerjaan. Pekerjaan ini khusus menjadi tanggung jawab rasul. Maka, dalam Alkitab semua aktivitas rasul disebut "pekerjaan". Istilah pekerjaan ini dipakai Roh Kudus untuk menyebut segala sesuatu yang dilakukan, ditanggung dan dirampungkan oleh rasul. Karena rasul yang demikian khusus menanggung kewajiban pekerjaan ini, maka kita dapat secara khusus menyebut rasul sebagai pekerja Allah, sebab mereka memang pekerja Allah yang khusus.

Karena rasul menanggung kewajiban pekerjaan untuk mendirikan gereja, maka gereja hanyalah hasil pekerjaan rasul, dan karenanya gereja tidak dapat merangkum pekerjaan. Jika kita ingin memahami kehendak Allah tentang pekerjaanNya, kita perlu tahu perbedaan antara pekerjaan dengan gereja. Dalam Alkitab, kedua garis ini berbeda sama sekali. Segalanya akan menjadi tak beres dan keliru bila keduanya dicampur aduk. Kita sangat mudah mengerti makna dan isi istilah "gereja", sebab ia banyak dipakai dalam Alkitab. Namun kita kurang cukup menaruh perhatian terhadap "pekerjaan", sebab istilah ini dalam Alkitab tidak disinggung secara nyata. Namun di sini Roh Kudus telah mewahyukan kepada kita secara menyeluruh, yaitu bahwa segala yang dilakukan Paulus dan kawan-kawannya kelak adalah pekerjaan mereka, dan itulah yang disebut "pekerjaan".

Kita telah membahas, bahwa gereja bersifat lokal, dan sama sekali tidak dicampuri dan mencampuri sesuatu di luar lokal. Urusan interennya ditanggung dan diawasi oleh kaum imani setempat yang agak rohani, yang dilantik menjadi penatua. Jabatan rasul tidak ada dalam sebuah gereja lokal. Pekerjaan penginjilan di berbagai lokal dikerjakan oleh rasul yang menjadi utusan khususNya. Sebelum ada gereja lokal, sudah ada rasul, dan merekalah yang datang menginjil dan mendirikan gereja. Di tempat yang sudah ada gereja lokal, walau rasul boleh datang melakukan pekerjaan peneguhan, tapi di dalam struktur organisasi gereja lokal, mereka tidak ada kedudukan. Maka pekerjaan rasul dan gereja lokal merupakan dua kelompok yang mutlak berlainan.

Rasul adalah untuk pekerjaan yang diamanatkan Allah kepada mereka. Walau mereka sendiri adalah saudara lokal, tapi dalam pekerjaan Allah, mereka merupakan orang di luar gereja lokal. Gereja lokal adalah untuk menanggung kewajiban anak-anak Allah yang diserahkan Allah di lokal itu, karenanya harus saling berhimpun/bersidang, dan saling membantu. Mereka adalah kelompok di luar pekerjaan. Dalam Alkitab, pekerjaan adalah "milik" para rasul, yakni yang ditanggung oleh orang-orang yang dipanggil Allah untuk bekerja, sedang gereja adalah milik kaum imani, dan ditanggung oleh seluruh orang yang diselamatkan di lokal itu. Bagaimana kaum imani lokal tak dapat mencampuri urusan pekerjaan, demikian pula rasul tidak dapat mencampuri secara langsung urusan lokal. Karena itu, kita harus bertanya, "Allah memanggil aku untuk menjadi penatua atau untuk menjadi rasul?" Jika untuk menjadi penatua, kita hanya menangani urusan lokal; jika rasul, kita melampaui lokal. Ruang lingkup gereja hanya sebatas lokal, tapi ruang lingkup pekerjaan tidak terbatas satu lokal. Yang terbatas satu lokal itu adalah gereja, yang tak terbatas satu lokal itulah pekerjaan.

Gereja lokal tidak menanggung kewajiban resmi apa pun terhadap pekerjaan, meski mereka mempunyai kewajiban rohani. Jika gereja lokal rela membantu pekerjaan, maka alasannya bukan bersifat resmi, melainkan bersifat sukarela. Tapi tidak berarti, karena tidak ada kewajiban resmi maka tidak ada pula kewajiban rohani. Pada aspek rohani tetap ada kewajibannya. Mereka harus menyadari, bahwa pekerjaan Allah adalah pekerjaan mereka, sebab itu, mereka wajib membantu dengan sukarela. Mereka harus menganggap walau secara resminya kewajiban itu ditanggung rasul, tetapi secara rohaninya kewajiban itu ditanggung oleh seluruh saudara di tiap lokal. Maka kita wajib membedakan kewajiban resmi dan kewajiban rohani. Yang dimaksud kewajiban resmi ialah, jika tidak dilakukan berarti menyalahi prosedur, dan yang dimaksud kewajiban rohani ialah yang secara prosedurnya tidak usah dilakukan, namun tetap dilakukan karena alasan rohani. Menurut kewajiban resmi, rasullah yang menanggung kewajiban pekerjaan sepenuhnya; ia tidak dapat meminta bantuan bila kekurangan sesuatu. Tetapi menurut kewajiban rohani, setiap saudara harus menyadari, bahwa pekerjaan Allah adalah milik kita semua. Maka, apa saja yang dapat membantu pekerjaanNya, kita rela mempersembahkannya. Jadi kewajiban resmi untuk perluasan kerajaan Allah ditanggung di atas pundak rasul, bukan gereja lokal, tapi gereja lokal mempunyai kewajiban rohani tersebut. Demikian pula, rasul tidak berhak mencampuri langsung urusan lokal. Rasul hanya dapat mengingatkan, mengusulkan, atau menganjurkan. Karena kewajiban resmi gereja lokal berada di atas bahu penatua, yang dimiliki rasul hanya sekadar kewajiban rohani. Jika kondisi gereja normal, mereka tentu akan menerima nasihat rasul. Jika kondisi rohani mereka tidak normal, mungkin mereka tidak mau menerima nasihat rasul. Kalaupun mereka tidak mau menerima, itu memang kesalahan besar secara rohani, tapi secara resminya mereka berhak menentukan sendiri. Gereja terhadap pekerjaan tidak mempunyai hubungan resmi, hanya mempunyai hubungan rohani. Berulang-ulang saya tegaskan, bahwa gereja bersifat lokal, mutlak lokal, tapi pekerjaan mutlak melampaui lokal. Jika kita tidak menjernihkan kedua hal ini, banyak kesulitan akan timbul.

PEKERJAAN -- MILIK PRIBADI BUKAN MILIK LOKAL

Hubungan pekerjaan dan gereja adalah ibarat berbisnis. Jika ada seorang saudara atau beberapa saudara berbisnis, itu boleh saja. Tetapi jika gereja berbisnis, itu salah besar. Ada saudara yang membuka sebuah hotel atau restoran, itu benar, tapi kalau gereja yang membuka usaha-usaha tersebut, itu salah besar. Apa yang dapat dilakukan seseorang atau beberapa saudara belum tentu dapat dilakukan oleh gereja. Ruang lingkup gereja sama sekali berbeda dengan ruang lingkup pekerjaan saudara secara pribadi. Ruang lingkup gereja hanya bersidang, saling memperhatikan dan saling membina; inilah pekerjaan gereja. Kecuali berdoa, menyelidiki Alkitab, memecahkan roti, menginjil, menggunakan karunia dan sebagainya, maka pekerjaan-pekerjaan lainnya adalah milik pribadi.

Berdasarkan Alkitab, segala pekerjaan adalah milik pribadi saudara, bukan milik gereja. Jadi segala pekerjaan dilakukan oleh satu orang atau beberapa orang; ditanggung oleh satu orang atau beberapa orang. Tidak hanya pada masalah bisnis demikian, pada semua pekerjaan lain juga demikian. Sebab itu, pekerjaan rohani juga adalah milik pribadi, bukan menjadi milik gereja. Kewajiban yang ditanggung gereja adalah hubungan antara saudara dengan saudara. Kewajiban yang ditanggung gereja adalah urusan berbagai jenis sidang, seperti penginjilan, sidang doa, sidang pemecahan roti, sidang pemahaman Alkitab, sidang penggunaan karunia dan sebagainya. Kecuali perkara-perkara tersebut, Alkitab tidak meninggalkan teladan, bahwa gereja masih menyelenggarakan usaha-usaha lain, misalkan rumah sakit, sekolah dan sebagainya; atau usaha lain yang bersifat lebih rohani, misalkan usaha penginjilan luar negeri dan sebagainya. Alkitab tidak pernah memberikan contoh tentang adanya pekerjaan gereja semacam itu. Kalau ada seorang atau beberapa orang ingin mendirikan rumah sakit atau sekolah, itu boleh. Kalau ada seorang atau beberapa orang saudara bertanggung jawab melakukan pekerjaan penginjilan ke luar negeri, itu boleh juga. Tapi kalau gereja melakukan pekerjaan tersebut, itu tidak ada dasar Alkitabnya. Kalau seorang atau beberapa orang melakukan pekerjaan itu, bukan saja tidak dilarang oleh Alkitab, bahkan itu bisa jadi merupakan pimpinan Allah. Gereja hanya menangani urusan-urusan gereja lokal, tidak bisa menangani pekerjaan lain. Alkitab tak pernah mengijinkan gereja menyelenggarakan pekerjaan organisasi apa pun.

Pekerjaan penginjilan ke luar itu milik satu orang, atau beberapa orang. Dalam Kisah Para Rasul 13, yang mengutus rasul pergi bekerja bukan gereja di Antiokhia, melainkan beberapa nabi dan pengajar di gereja di Antiokhia. Pada Januari tahun 1937, ketika diadakan sidang rekan sekerja, ada saudara bertanya kepada saya, "Mengapa yang mengutus rasul pergi bukan gereja di Antiokhia, tetapi beberapa nabi dan pengajar?" Waktu itu kita belum bisa menjawab dengan jelas. Tapi sekarang kita telah mempunyai terang yang jelas atas masalah tersebut. Karena ruang lingkup gereja hanya terbatas pada satu lokal; setiap perkara yang bersangkutan dengan lokal barulah urusan gereja. Tapi pekerjaan adalah urusan pekerja Allah dan melampaui lokal, maka yang mengutus rasul pergi bekerja adalah beberapa nabi dan pengajar di lokal itu, yang menjadi milik ministri itu, bukan gereja di Antiokhia secara keseluruhan. Karena itu, pekerjaan penginjilan dan pendirian gereja di tiap lokal adalah milik pribadi, bukan milik gereja.

Alasan Allah memanggil orang keluar menjadi rasul dan mempercayakan kewajiban pekerjaan kepada rasul, tak lain agar sifat lokal gereja dapat dipertahankan. Andaikata sebuah gereja menangani pekerjaan lokal lain, maka gereja akan berubah menjadi bukan gereja lokal, sebab sifat lokalnya sudah hilang. Ia tidak lagi sebatas lokal, melainkan lebih besar daripada lokal. Allah tidak ingin membiarkan sebuah gereja lokal kehilangan sifat lokalnya. Allah hanya mengijinkan gereja mengurusi urusan lokal, Ia tidak mengijinkan gereja lokal mengurusi urusan pekerjaan di luar ruang lingkup lokal. Maka penatua dalam Alkitab, selamanya hanya mengurusi urusan gereja lokal, tidak mengurusi urusan pekerjaan di luar batas lokal. Kewajiban pekerjaan itu Allah serahkan kepada rasul, dan itu melampaui lokal, karena kewajiban resmi pekerjaan yang khusus dilakukan oleh orang yang dipanggilNya bersifat pribadi (Walau kewajiban rohaninya bersifat korporat).

Karena itu, bila penatua Efesus tiba di Filipi, ia bukan lagi penatua. Ia hanya dapat menjadi penatua Efesus, tidak dapat menjadi penatua Filipi. Demikian pula bila penatua Filipi tiba di Efesus, ia bukan lagi penatua. Sebab penatua terbatas oleh lokal. Paulus bisa dari Miletus mengutus orang ke Efesus untuk mengundang para penatua datang; tetapi tidak ada rasul di Efesus. Rasul adalah rasul semua gereja bukan rasul satu gereja. Seperti tercantum dalam surat Korintus, bahwa kedua saudara itu adalah rasul semua gereja. Maka sifat rasul adalah untuk pekerjaan dan melampaui lokal; sedang kewajiban penatua adalah untuk gereja Allah, milik lokal, ia tidak dapat mengurusi pekerjaan di luar lokal. Rasul tidak boleh kehilangan sifat melampaui lokal, maka rasul tidak boleh mengurusi pekerjaan gereja. Bila gereja mengurusi pekerjaan, hilanglah sifat lokalnya, bila rasul mengurusi gereja, hilanglah sifat melampaui lokalnya. Bila keduanya bercampur aduk, maka rusaklah batasan perbedaan antara pekerjaan dengan gereja yang diatur Allah.

Boleh jadi ada orang ingin bertanya, "Mengapa ketika timbul masalah sunat, Paulus dan Barnabas naik ke Yerusalem menghadap rasul dan penatua?" Itu dikarenakan beberapa saudara yang menyebarkan ajaran sunat itu berasal dari Yerusalem. Sebab itu, mereka harus pergi ke Yerusalem untuk memperoleh kejelasan sikap Yerusalem. Ibarat kita hari ini, bila melihat seorang bocah nakal lalu kita membawanya kepada orang tuanya. Hasilnya, para rasul yang tinggal di Yerusalem dan penatua di Yerusalem memberi satu penyelesaian yang sangat jelas. Penatua bukan penatua yang tinggal di Yerusalem, melainkan penatua Yerusalem; rasul bukan rasul Yerusalem, melainkan rasul yang tinggal di Yerusalem. Yang satu adalah wakil setempat, yang lainnya adalah wakil pekerjaan Allah. Penatua mewakili gereja, rasul mewakili pekerjaan. Kedua golongan orang ini harus memutuskan, dapatkah orang beroleh selamat tanpa menerima sunat Musa. Dari permintaan mereka kepada rasul dan penatua untuk memutuskan kasus ini, kita nampak, bahwa baik para penatua sebagai pewajib setempat maupun para rasul, tidak membuat ketentuan tersebut. Kemudian ketika rasul mengunjungi berbagai kota, ketentuan rasul dan penatua di Yerusalem itu diserahkan kepada murid-murid untuk ditaati (Kis. 16:4). Ini tidak berarti para penatua Yerusalem memiliki wewenang khusus untuk menyuruh gereja lokal lain menaati ketentuan mereka, melainkan menyatakan, bahwa ajaran semacam itu tidak saja tidak disetujui oleh rasul yang tinggal di Yerusalem, juga tidak disetujui oleh para penatua di Yerusalem. Maka orang-orang yang keluar dari Yerusalem tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan ajaran tersebut. Hanya itu saja penyebabnya, lain tidak.

Maka para pekerja harus ingat, bahwa pekerjaan kita adalah pekerjaan rasul, harus mutlak berbeda dengan gereja lokal.

RUMAH YANG DISEWANYA SENDIRI

Sebuah contoh yang sangat baik dapat kita jumpai dalam gereja di Roma. Paulus menulis surat kepada mereka, bahwa ia berulang-ulang berharap dapat pergi kepada mereka (1:10-11). Ini membuktikan, bahwa di Roma sudah ada gereja sebelum ia pergi ke sana. Kemudian, karena Paulus dianiaya oleh orang-orang Yahudi, maka ia pergi ke Roma untuk naik banding kepada Kaisar. Andaikata hari ini Paulus tiba di Roma, boleh jadi gereja di Roma akan berkata, "Puji Tuhan, selamat datang para rasul, kami sangat memerlukan bantuan Anda. Silakan ambil alih tugas pekerjaan gereja di sini. Kami senang menyerahkan segala kewajiban pekerjaan di sini kepada Anda. Binalah dan kelolalah gereja ini!" Tetapi ada kata-kata yang mengherankan tercatat dalam Alkitab, "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus" (Kis. 28:30-31). Dua tahun penuh Paulus tinggal di rumah yang disewanya sendiri, bahkan menerima orang-orang yang datang kepadanya dan menyampaikan berita dan mengajar. Walau Alkitab mencatat hal tersebut secara sederhana, tapi dari sini kita segera nampak sebuah prinsip, yaitu: pekerjaan rasul selamanya tidak bercampur aduk dengan gereja lokal. Di Roma sudah ada gereja lokal, dengan sendirinya mereka pun sudah memiliki tempat bersidang. Mungkin rumah satu orang atau rumah beberapa orang menjadi tempat persidangan mereka. Tapi mereka tidak memakai balai sidang mereka sebagai tempat pekerjaan Paulus. Mereka tidak mengundang Paulus mengambil alih tugas pelayanan gereja di Roma. Di luar gereja lokal di Roma, Paulus memiliki pekerjaan sendiri yang lain. Paulus tidak mengambil alih pekerjaan gereja di Roma. Paulus bekerja di rumah yang disewanya sendiri!

Maka setiap rasul Allah harus belajar bekerja di rumah yang disewanya sendiri; belajar jangan membiarkan gereja lokal menanggung kewajiban pekerjaannya. Pekerjaan pribadi selamanya jangan dicampur aduk dengan gereja. Pekerjaan Allah itu milik pekerja Allah, sedangkan gereja selamanya milik lokal. Pekerjaan bersifat sementara, tapi gereja itu kekal. Di suatu lokal pekerjaan bersifat sementara, sedangkan gereja di suatu lokal bersifat kekal. Sewaktu ada pekerja, waktu itu ada pekerjaan; sewaktu pekerja pergi, pekerjaan pun berhenti. Gereja selalu berada di suatu lokal. Maka gereja lokal bagaimanapun harus berusaha sendiri dan bekerja sendiri, lain dengan pekerjaan, yang bisa dihentikan atau dipindahkan sewaktu-waktu. Misalnya, Paulus berniat meninggalkan Korintus, tapi pada malam itu Tuhan berbicara kepadanya dalam penglihatan, mengatakan kepadanya, bahwa di Korintus masih banyak umatNya, maka Paulus kemudian tinggal di sana selama setahun setengah. Tetapi Paulus tetap bisa meninggalkan tempat itu sewaktu-waktu. Begitu ia meninggalkan tempat itu, pekerjaannya pun pergi bersamanya. Pekerjaan pribadinya usai, namun gereja di Korintus tetap ada dan berlangsung terus. Gereja tidak dipengaruhi oleh kepergian pekerja. Ke mana saja setiap pekerja bekerja, ia harus menjaga batasan yang jelas dengan gereja lokal.

Kita harus tahu dan harus memperhatikan, bahwa pekerjaan rasul dengan pekerjaan gereja lokal adalah "paralel" bukan "bertumpukan". Paralel di sini berarti sementara rasul melakukan pekerjaan yang diamanatkan Allah kepada pribadinya, bersamaan dengan itu gereja tetap berjalan. Bertumpukan di sini berarti ketika rasul bekerja, maka pekerjaan gereja berhenti untuk sementara dan membiarkan rasul yang bekerja; semua pekerjaan gereja ditanggung oleh rasul. Bila rasul akan meninggalkan tempat itu, ia harus menyerah-terimakan pekerjaannya kepada gereja. Itu bukan cara dan teladan yang Alkitabiah. Di mana pun kita bekerja dan kapan saja meninggalkan tempat itu, hendaknya kita tidak mempengaruhi gereja lokal. Selama pekerja utusan Allah bekerja di suatu lokal, hendaknya pekerjaan gereja lokal tetap berlangsung. Itulah yang diwahyukan Alkitab kepada kita.

"Paulus tinggal di rumah yang disewanya sendiri". Kalimat yang singkat ini memberi kita sebuah prinsip yang sangat baik, yaitu pekerja Allah hendaknya bekerja di rumah yang disewanya sendiri, sedang gereja lokal hendaknya tetap menanggung kewajibannya sendiri seperti sediakala. Pekerjaan adalah pekerjaan, gereja adalah gereja, sedikit pun tidak boleh bercampur aduk.

Misalkan kita pergi menginjil di Kweiyang untuk menyelamatkan orang dan mendirikan gereja, bagaimanakah pelaksanaan kita? Pertama-tama, ketika kita tiba di Kweiyang, dengan sendirinya kita tinggal di penginapan atau menyewa rumah. Kemudian kita mulai menginjil. Setelah ada orang diselamatkan apa tindakan kita selanjutnya? Kekeliruan yang lampau, ya, kekeliruan misi selama lebih dari seabad ini (semoga Allah merahmati saya, agar saya tidak salah bicara!), yaitu setelah pekerja-pekerja Injil memimpin orang beroleh selamat, mereka segera menyediakan sebuah tempat dan memanggil orang-orang yang telah selamat itu datang bersidang di situ. Tetapi cara demikian tak pernah terdapat dalam Alkitab. Teladan Alkitab ialah: setelah Anda menginjil dan memimpin orang beroleh selamat di suatu lokal, Anda harus segera menyuruh mereka membaca Alkitab, berdoa dan bersaksi sendiri, bersamaan dengan itu mereka pun bersidang dan memecahkan roti sendiri. Anda harus memberitahu mereka, bahwa tempat atau rumah yang Anda sewa itu untuk Anda bekerja. "Kalian sekarang sudah menjadi orang Kristen, maka ada beberapa kewajiban "dasar" sebagai orang Kristen yaitu: berdoa, membaca Alkitab, bersaksi dan saling bersidang. Bersidang merupakan satu kewajiban utama orang Kristen. Kalian sendiri yang wajib menanggung sidang kalian. Maka kalian sendiri sekarang harus mencari sebuah tempat yang memadai untuk bersidang. Bukan kami yang mewakili kalian membaca Alkitab, berdoa dan bersaksi, tetapi kalian sendiri yang harus melakukannya. Demikian pula, bukan kami yang mewakili kalian memimpin sidang kalian dan mewakili kalian menyediakan tempat sidang kalian. Bukan kami yang menanggung semua kewajiban itu, melainkan kalian sendiri yang menanggungnya." Jadi mereka sendiri harus mencari sebuah tempat. Apakah di rumah seseorang atau di tempat lainnya. Mereka sendiri harus memulai sidang mereka. Bukan kita yang menyediakan tempat lalu mengundang saudara-saudara setempat datang bersidang, melainkan mereka sendiri menyediakan tempat, dan mereka sendiri bersidang.

Kita harus memperhatikan, bahwa pekerjaan rasul bukan persidangan gereja, sebab persidangan gereja adalah milik lokal. Maka bila ada orang beroleh selamat, pekerja Allah harus menyuruh mereka berdoa sendiri, menyelidiki Alkitab sendiri, bersaksi sendiri, bersidang memecahkan roti sendiri . . . dan menyuruh mereka sendiri menyediakan tempat atau menyewa rumah. Mereka harus menanggung kewajiban mereka sendiri. Beritahukan kepada mereka, bahwa rumah yang kita sewa adalah untuk pekerjaan bukan untuk persidangan gereja.

Di pihak lain, selain "rumah yang kita sewa sendiri" dipakai untuk menginjil dan membina orang, kita wajib menghadiri sidang yang diadakan di tempat sidang lokal; datang ke tengah-tengah mereka untuk memecahkan roti, datang ke tengah-tengah mereka untuk berdoa, datang ke tengah-tengah mereka untuk bersidang, menggunakan karunia. Begitu di suatu lokal ada gereja, maka kita sendiri hanyalah salah seorang saudara di lokal tersebut, karena itu kita wajib bersidang dengan mereka. Merekalah gereja, kita bukan gereja. Kita mewakili pekerjaan, merekalah yang mewakili gereja. Kita menanggung kewajiban pekerjaan, tapi persidangan gereja ditanggung bersama oleh saudara-saudara di lokal itu. Jadi kita tidak boleh mewakili mereka menanggung kewajiban.

Walaupun kita bekerja di Kweiyang, bila di sana sudah ada gereja, kita pun hanya sebagai seorang saudara di gereja di Kweiyang. Maka kita wajib pergi ke sana untuk bersidang bersama mereka; mengikuti sidang doa mereka, mengikuti pemecahan roti mereka. Bukan mereka yang datang mengikuti sidang-sidang kita. Jika tidak, maka kita akan menjadi penunggu, dan bila kita ingin meninggalkan tempat itu, kita harus mencarikan pengganti. Jika selalu memelihara batasan pekerjaan sebagai pekerjaan dan gereja sebagai gereja, maka kapan saja kita meninggalkan mereka, yang kurang di antara mereka paling banyak hanya seorang saudara, bukan kehilangan seorang "pendeta". Sebab di dalam gereja tidak ada "pekerja", tidak ada rasul.

Pekerjaan dan gereja harus kita bedakan dengan tegas. Jika tidak, pasti akan timbul banyak kesulitan, yaitu seluruh gereja akan terlibat ke dalam pekerjaan sehingga membuat gereja tidak dapat bertumbuh, pekerjaan juga tidak dapat berkembang.

Belakangan ini ada sebuah motto, yakni gereja harus berdiri sendiri, memelihara sendiri, dan memberitakan sendiri. Timbulnya prakarsa ini disebabkan bercampur aduknya gereja dengan pekerjaan, tidak dipisahkan dengan jelas. Dengan kata lain, misi bercampur aduk dengan gereja. Misi yang menyediakan gedung bagi mereka, misi yang menyelenggarakan sidang doa bagi mereka, misi yang mengadakan sidang pemahaman Alkitab bagi mereka, dan seterusnya. Akibatnya, jika kemudian menghendaki mereka berdiri sendiri, memelihara sendiri dan memberitakan sendiri, sangatlah sulit. Andaikan sejak permulaan sudah menurut cara Alkitab, pasti sama sekali tidak akan timbul masalah-masalah tersebut.

Orang Kristen yang tidak ingin menjadi orang Kristen sejati, tidak perlu dikatakan; tetapi jika ingin menjadi orang Kristen sejati, maka Anda harus menganjuri mereka mengadakan sidang sendiri, saling membantu dan saling menasihati. Setiap orang Kristen mempunyai kewajiban alami Kristiani mereka sendiri. Bila seseorang telah menjadi Kristen, dia sendirilah yang harus bersyukur, dia sendirilah yang harus membaca Alkitab, dia sendirilah yang harus berdoa, dan bersidang pun demikian. Semua itu adalah kewajiban alami mereka. Tidak seperti gereja hari ini, yang menjadi orang Kristen hanya pergi mendengar khotbah di gedung kebaktian yang disediakan oleh misi. Tetapi itu bukan "bersidang". Sebab sidang (perhimpunan) dalam Alkitab adalah yang ditanggung saudara-saudara setempat sendiri. Jika tidak bersidang, tidak mirip orang Kristen. Misalkan ada orang memastikan diri ingin menjadi orang Kristen, tapi berkata kepada Anda, "Saya mau menjadi orang Kristen, tapi saya tidak mau berdoa sendiri, Andalah yang berdoa bagi saya. Saya juga tak mau membaca Alkitab sendiri, Andalah yang membacakan bagi saya." Walaupun berdoa dan membaca Alkitab bukan syarat untuk menjadi orang Kristen, tapi jika ia sejak awal sudah berkata demikian, dapatkah Anda percaya bahwa ia orang Kristen? Boleh jadi ia orang Kristen, tetapi ia tidak mirip orang Kristen. Demikian pula, jika orang Kristen tidak bersidang sendiri, melainkan menghendaki pekerja yang menyediakan sidang baginya, boleh jadi ia orang Kristen, namun ia sudah tidak mirip orang Kristen. Maka setelah seseorang beroleh selamat, bersidang adalah kewajiban alaminya. Kewajiban gereja adalah kewajiban alaminya.

HASIL PEKERJAAN

Hamba Allah hanya dapat mendirikan gereja ketika ia tiba di suatu lokal; ia tidak boleh sebelum mendirikan gereja terlebih dulu mendirikan pekerjaan kelompok lainnya. Pekerjaan adalah untuk membantu gereja lokal. Jiwa-jiwa dari hasil penginjilan rasul harus diserahkan kepada gereja. Bila rasul mengadakan pembinaan dan kaum imani beroleh faedahnya, itu pun untuk gereja. Tujuan pekerjaan ialah menghasilkan buah untuk diserahkan kepada gereja. Jadi segala yang dihasilkan oleh pekerjaan adalah untuk gereja lokal, sama sekali tidak untuk pribadi.

Prinsip ini jelas sekali tercantum dalam Alkitab. Bila seorang rasul tiba di suatu gereja dan mengucapkan sesuatu, ia mengucapkannya dengan status saudara, bukan dengan status rasul. Saudara-saudara pun wajib memandangnya sebagai seorang saudara dan berbicara dengan status saudara. Jika pada segi penerapannya kita tidak menurut cara Alkitab, niscaya akan segera timbul banyak masalah.

Kita wajib ingat, bahwa pekerjaan adalah seperti profesi rasul yang bersifat individual. Gereja adalah satu-satunya kelompok kaum imani di sebuah lokal. Seluruh hasil pekerjaan rasul adalah untuk gereja lokal. Karena itu saya berkata, bahwa seorang rasul adalah hamba semua orang, bukan juragan siapa pun. Bila rasul berhasil memperoleh jiwa dalam pekerjaannya, harus segera diserahkan kepada gereja. Tangan rasul selamanya kosong. Semua hasil pekerjaannya ditinggalkan di gereja lokal itu dan tidak ada hubungannya dengan rasul itu.

Jika demikian, di manakah letak penyakit misi hari ini? Berdasarkan prinsip Alkitab, setelah seorang pekerja Allah bekerja, hasil pekerjaannya harus sepenuhnya diberikan kepada gereja lokal di tempat ia berada. Tetapi setelah misi bekerja, hasil-hasil itu dimilikinya sendiri, yakni membuat orang-orang itu menjadi anggota misinya. Itulah praktik misi di mana-mana. Hasilnya, misi mereka menjadi sebuah lembaga besar, dan tidak ada eksistensi gereja lokal. Karena tidak ada gereja lokal, maka harus mengutus pekerja pergi ke lokal itu untuk menjadi pendeta pengasuh. Maka akhirnya pekerjaan tidak mirip dengan pekerjaan, gereja pun tak mirip dengan gereja.

Kita harus tahu, pekerjaan bersifat melampaui lokal dan tidak boleh bercampur aduk dengan gereja lokal, sedang gereja adalah milik lokal, ia harus ada sidangnya sendiri. Orang-orang dari hasil pekerjaan rasul harus diletakkan ke dalam gereja lokal. Semua orang yang terpanggil melakukan pekerjaan Allah menerima satu perintah, yakni mendirikan gereja di setiap lokal. Allah tak pernah bermaksud menyuruh mereka memperluas kekuatan mereka sendiri. Beberapa orang bergabung bekerja sama itu boleh, tapi hasil pekerjaannya harus diserahkan kepada gereja lokal. Misi paling-paling hanya boleh dianggap sebagai kelompok rasul; misi tidak seharusnya mendirikan gereja lain di luar gereja lokal.

Bila rasul dipimpin Allah bekerja di suatu lokal agak lama, dan di lokal tersebut sudah ada gereja, maka ia harus membuat batasan perbedaan yang jelas dengan gereja lokal tersebut.

DUA JALUR PEKERJAAN

Ada dua jalur pekerjaan bagi pekerja Allah untuk bekerja di mana saja. Bila sebuah gereja di suatu lokal merasa perlu, dan merasa pekerjaan seorang pekerja berfaedah bagi mereka, gereja itu boleh mengundangnya datang bekerja. Atau bila seorang beroleh wahyu dari Allah untuk pergi bekerja di suatu tempat, maka bolehlah ia pergi ke sana. Jika di tempat itu sudah ada gereja, ia boleh menulis surat kepada mereka, seperti Paulus menulis surat kepada gereja di Korintus dan di Roma, memberitahu mereka, bahwa ia ingin datang ke tempat mereka. Jika di tempat itu sudah ada gereja dan saudara di situ mengundang Anda memimpin sidang selama sepuluh hari atau setengah bulan atau sebulan, Anda boleh pergi. Selesai bekerja, Anda boleh meninggalkan tempat itu. Ini sesuai dengan Alkitab. Jika Allah menghendaki Anda di lokal itu bekerja dalam jangka panjang, Anda wajib menetap di situ. Waktunya entah berapa lama, tapi semua kewajiban harus Anda tanggung sendiri. Bila seorang pekerja menanggung kewajiban pekerjaan suatu tempat cukup lama, ia harus mempunyai tempat sendiri dan harus menanggung semua kewajiban dirinya sendiri serta pekerjaannya. Pekerjaan pekerja Allah sama sekali tidak boleh bercampur aduk dengan pekerjaan gereja lokal di tempat itu. Pekerjaan mereka dengan pekerjaan gereja lokal hanya boleh bersifat paralel, tidak boleh bertumpukan. Mereka hanya boleh ada pekerjaan, tidak boleh ada sidang yang identik dengan gereja lokal. Tidak boleh ada sidang apa pun di luar ruang lingkup pekerjaan dan di dalam ruang lingkup gereja. Bila pekerjaan rasul bertumpukan dengan pekerjaan gereja, bukan paralel, tentu akan terjadi masalah serah terima. Begitu mereka pergi, gereja akan mengalami kesulitan.

Bila pekerja tiba di suatu lokal dan bekerja dalam jangka panjang, ia wajib menyediakan sendiri segala kebutuhannya. Jika tak dapat tinggal di rumah yang disewanya sendiri seperti halnya Paulus, ia tetap harus mengeluarkan harga yang memadai untuk menyewa rumah kepada gereja lokal. Pekerjaan tidak boleh membebani gereja lokal, pekerjaan tidak boleh menyuruh gereja memikul kewajiban apa pun. (Kewajiban rohani tentu merupakan masalah lain. Jika gereja rohani, mereka pasti akan menanggung kewajiban rohani juga). Semua pekerjaan ditanggung oleh pekerja itu sendiri, supaya gereja nampak, bahwa pekerjaan dengan gereja benar-benar merupakan dua perkara. Pada aspek lain, pekerja juga dapat baik-baik belajar menanggung kewajiban pekerjaan, dan juga dapat baik-baik belajar di hadapan Allah, menengadah kepada suplaiNya untuk segala keperluan pekerjaannya.

Bila pekerja Allah tiba di suatu lokal yang ada gereja, ia harus ingat bahwa wewenang gereja bukan ada pada dirinya. Andaikata gereja di tempat Anda hendak bekerja menolak Anda, mengatakan, "Kami tidak memerlukan pekerjaan Anda, walau Anda seorang pekerja yang baik", maka Anda harus pergi dari situ. Sebab mereka berkuasa menerima atau menolak seorang pekerja. Begitu gereja lokal berdiri, wewenang gereja sudahlah diserahkan kepada penatua. Kendati gereja didirikan oleh rasul, di dalam gereja tidak ada kedudukan rasul. Walau gereja didirikan oleh pekerja, di dalam gereja tidak ada eksistensi pekerja.

Andaikata Anda dipimpin Tuhan untuk pergi ke tempat anu menginjil atau membina, tapi Anda ditolak oleh gereja bersangkutan, apakah yang harus Anda lakukan? Jika Anda benar-benar jelas kehendak Tuhan, dan memang gereja yang khilaf; jika Anda ingin menaati perintah Tuhan, Anda boleh tidak mempedulikan segalanya, menyewa tempat dan mulai bekerja di sana. Namun Anda sekali-kali tidak boleh mengadakan sidang lain yang mirip dengan gereja. Anda tak boleh berkata, "Kalian sungguh jahat. Baiklah, sekarang saya bekerja. Begitu saya memperoleh orang, saya akan mendirikan sebuah 'gereja'." Perbuatan demikian tidak dibenarkan Alkitab. Seorang pekerja di suatu tempat hanya dapat mendirikan atau membangun satu gereja. Jika di luar gereja lokal ia mendirikan satu "gereja" lain, maka "gereja" itu bukan satu gereja, melainkan satu sekte. Gereja terpisah menurut lokal, bukan menurut apakah mereka menerima Anda atau tidak. Semua jiwa hasil penginjilan harus diserahkan kepada gereja lokal itu. Tak seorang pun boleh menghimpun jiwa-jiwa hasil pekerjaannya untuk mendirikan satu "gereja" lain. Sebab semua tujuan pekerjaan adalah untuk membangun gereja lokal itu. Semua yang disebut "gereja" di luar gereja lokal adalah sekte.

Gereja di Korintus pernah menaruh syak wasangka terhadap Paulus, tetapi Paulus hanya bisa menasihati mereka agar tidak terkena perangkap orang. Demikian pula gereja di Galatia. Paulus pun hanya meminta agar mereka tidak bertolak belakang dengan ajaran yang mereka terima. Sekalipun gereja di Korintus tidak mau mengucilkan kaum imani yang berdosa, ia pun hanya bisa menggunakan wewenang rohaninya, yakni hanya dapat berdoa kepada Allah agar Allah menyuruh mereka bertobat. Jadi, Anda tidak dapat karena gereja lokal itu menolak nasihat Anda, lantas Anda mendirikan satu "gereja" lain. Itu adalah sekte atau tindakan berpecah-belah produksi kedagingan. Semua perbuatan mendirikan "gereja" di luar gereja lokal adalah tindakan yang tidak rohani. Hasil pekerjaan Anda seluruhnya harus diberikan kepada gereja lokal. Tidak peduli bagaimana sikap gereja lokal itu terhadap Anda, menyukai atau menolak Anda, hasil pekerjaan Anda adalah milik mereka.

Semua rasul yang bekerja bagi Tuhan wajib banyak menuntut dalam hal rohani, harus ada terang dalam kebenaran rohani, harus pula ada pengalaman dalam jalan rohani. Jadilah seorang pekerja yang diperkenan Allah maupun semua gereja. Bila Anda ingin kemenangan, raihlah kemenangan itu dengan kerohanian Anda, bukan dengan kekuasaan Anda. Jika Anda rohani, Anda wajib belajar tunduk di bawah wewenang gereja setempat. Jika gereja setempat tidak menerima Anda, Anda hanya boleh melewati mereka, tetapi jangan mendirikan apa yang disebut "gereja" yang mempunyai hubungan khusus dengan Anda. Banyak sekte justru timbul karena hamba-hamba Allah enggan tunduk di bawah wewenang gereja setempat. Munculnya banyak "gereja" yang percaya pada doktrin khusus, justru karena ada orang yang ditolak oleh gereja lokal, lantas dia mengumpulkan sekelompok orang demi mempertahankan doktrin tertentu. Itu adalah sekte.

Bila kita benar-benar telah beroleh terang dari Allah, ketika kita tiba di suatu tempat, kita harus mohon Allah membukakan pintu bagi kita. Kita bersyukur kepada Allah bila gereja lokal anu menerima kebenaran kita. Bila gereja itu menolak ajaran kita, kita pun hanya bisa menantikan Allah membukakan pintu bagi kita. Kebanyakan hamba Allah hanya percaya Allah bisa mewahyukan kebenaran, namun tak percaya Allah bisa membukakan pintu bagi kebenaran. Kita percaya Allah bisa memberi kita terang, tapi tak percaya bahwa Allah adalah pemegang kunci. Karenanya kita lalu dengan kekuatan daging melakukan usaha pemencaran dan perusakan di antara anak-anak Allah, dan menarik sekelompok orang menjadi pengikut kita. Atau di luar gereja lokal mendirikan lagi sebuah "gereja" lain, sehingga merusak keesaan gereja lokal, merugikan gereja Allah. Jika Allah tidak membukakan pintu bagi kita di dalam keadaan sekitar kita, kita hanya dapat merasa puas dalam keadaan sekitar yang diatur Allah tanpa bertindak memecah-belah anak-anak Allah.

MINISTRI DARI BERBAGAI DOKTRIN

Karena itu, masalah hamba Allah terhadap ministri masing-masing dalam hal doktrin, sangatlah penting. Kita tahu, semua pekerja berada dalam ministri itu, dan semuanya demi membina Tubuh Kristus. Namun orang-orang yang termasuk dalam ministri itu, masing-masing memiliki ministri bidang doktrin yang berbeda.Setiap orang memiliki ministrinya masing-masing, dan jelas, dari masa ke masa Allah sering membangkitkan sekelompok saksi baru, agar mereka nampak terang baru dalam firman sehingga menjadi saksi yang berguna, yang sesuai dengan kehendak Allah pada masa tersebut. Dalam ministri firman Allah, mereka adalah yang baru dan berbeda dengan orang lain. Orang demikian besar sekali gunanya dan benar-benar patut dimustikakan. Tapi ada satu hal yang patut diingat, bila Allah mengaruniakan kepada seseorang suatu ministri doktrin khusus, jangan sekali-kali ia menaruh sebuah motif, yaitu ingin mendirikan satu "gereja" dengan doktrin khusus atau ministri khususnya itu. Setiap hamba Allah hendaknya jangan mempunyai satu ambisi, yakni agar doktrinnya sendiri beredar; ia hanya boleh menantikan Allah dalam keadaan sekitar; ia hanya boleh berdoa, mohon Allah membukakan pintu agar doktrinnya beredar luas. Tetapi ia selamanya tidak boleh mendirikan "gereja" lain untuk mempertahankan kesaksiannya. Misalkan seseorang mendapat terang baru atas doktrin kemenangan, dan yang lain lagi ada perolehan baru atas doktrin pralambang. Semua itu baik. Tetapi baik itu diterima maupun ditolak orang janganlah Anda dengan itu mendirikan satu "gereja" untuk mempertahankan kebenaran yang Anda tekankan itu. Dalam Alkitab semua kebenaran adalah untuk gereja. Dalam Alkitab selamanya tidak pernah ada sebuah "gereja" untuk mempertahankan satu kebenaran. Alkitab hanya mengakui satu kelompok yakni gereja lokal.

Ada satu hal yang wajib terukir dalam hati setiap pekerja, yaitu pekerjaan kita adalah untuk ministri kita, dan ministri kita adalah untuk gereja. Gereja selamanya tidak boleh jatuh di bawah suatu ministri. Ministri harus tunduk di bawah gereja. Gereja bukan untuk ministri, tapi ministri untuk gereja. Pekerjaan adalah untuk menggenapkan ministri, sedang ministri adalah untuk melayani gereja. Pekerjaan hamba Allah adalah untuk menyukseskan ministrinya sendiri, dan ministrinya untuk membina gereja lokal. Tetapi sayang sekali, minister-minister hari ini kebanyakan menginginkan gereja tunduk di bawah ministri mereka! Orang yang menghendaki banyak gereja tunduk di bawah pengendalian ministrinya mengakibatkan gereja menjadi bukan milik lokal, melainkan milik sekte. Maka dalam sejarah gereja, tiap sekian tahun berselang, ministri-ministri khusus yang khusus dibangkitkan Allah harus bersikap bagaimana barulah benar? Ada satu hal yang wajib kita perhatikan, yakni bila muncul sebuah kebenaran baru, dengan sendirinya ada segolongan orang yang mengikutinya. Bila segolongan orang itu tidak masuk ke dalam gereja lokal agar gereja lokal diperluas, melainkan mendirikan satu "gereja" baru, itu berarti ingin mendirikan gereja milik ministri, dan ingin menaruh gereja di bawah ministri. Namun kehendak Allah ialah ministrilah yang harus tunduk di bawah gereja dan melayani gereja. Tapal batas gereja adalah lokal, bukan ministri. Maka bila anak-anak Allah bermaksud menyuruh gereja tunduk kepada ministri, itu adalah titik awal sekte baru. Dari sejarah gereja kita nampak, semua sekte nyaris bertitik awal dari adanya ministri baru, kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut baru, dan yang mengakibatkan munculnya kelompok baru. Maka tak terelakkan, gereja tunduk kepada ministri, dan bukan lagi milik lokal.

Karenanya, kalau Tuhan menangguhkan kedatanganNya, kalau kita setia dan jika itu kehendak Allah, maka sewaktu-waktu akan ada kemungkinan munculnya ministri baru. Allah mengaruniakan kepada orang satu kebenaran khusus yang melaluinya anak-anak Allah beroleh faedah. Tetapi tidak semua orang dapat menerima sebuah kebenaran baru, malah mungkin mencurigai dan menolak, bahkan menilainya bukan kebenaran tetapi bidat. Jika demikian, bagaimanakah seharusnya sikap seorang minister? Anda wajib ingat dengan tuntas: Satu lokal hanya ada satu gereja.Bila khotbah Anda diterima orang, Anda harus bersyukur kepada Allah. Bila ada yang menolak, Anda pun harus bersyukur kepada Allah. Anda jangan di luar gereja lokal melakukan usaha memecah belah. Anda wajib menyerahkan kebenaran Anda ke dalam gereja lokal dan jangan di luar gereja lokal mendirikan satu "gereja" yang merangkum orang-orang yang menerima kebenaran Anda. Andaikata dalam gereja ada beberapa orang menerima kebenaran Anda, maka orang-orang itu tetap harus berada di dalam gereja lokal. Mereka boleh memperoleh orang dengan ajaran dan kekuatan rohani. Mereka hanya dapat mengharukan orang dengan doktrin dan buah rohani, tapi selamanya tidak dapat memecah belah anak-anak Allah dengan cara lainnya. Gereja Allah adalah milik lokal. Saya terus-menerus mengatakan, bahwa ruang lingkup gereja adalah lokal. Dengan mengingat ini kita akan terhindar dari banyak sekte.

Kalian yang menjadi minister hanya boleh menengadah kepada Allah agar kebenaran itu bisa diterapkan di dalam gereja. Tapi jangan karena doktrin Anda itu menjadi populer pada saat itu, lalu Anda mendirikan sebuah "gereja" lain. Apakah ministri Anda diterima oleh gereja lokal atau ditolak, Anda hanya dapat menantikan pengaturan Allah. Jangan mempromosikannya dan mempertahankan kesaksian Anda dengan memakai cara organisasi apa pun.

Misalkan Anda telah beroleh ministri khusus dari Allah. Bila Anda tiba di suatu tempat yang belum ada gereja lokal, Anda harus mendirikan dulu gereja lokal di sana, kemudian baru Anda meletakkan ministri Anda ke dalam gereja tersebut. Anda hanya boleh mendirikan gereja lokal, tidak boleh mendirikan gereja ministri. Anda tidak boleh berdasarkan perbedaan ministri mendirikan sebuah gereja ministri. Anda hanya boleh dengan alasan lokalitas mendirikan sebuah gereja lokal.

Sekarang kita ambil sebuah perumpamaan dangkal untuk menyatakan hubungan antara berbagai ministri dengan gereja-gereja lokal. Ada saudara A membuka toko kertas, saudara B membuka toko bunga dan saudara C membuka toko pakaian. Mereka masing-masing bertujuan menyediakan komoditi mereka sebanyak mungkin dan menjualnya sebanyak mungkin. Apakah artinya mendirikan gereja dengan ministri? Itu ibarat Anda dengan komoditi Anda membuka cabang toko, yang khusus menjual komoditi Anda di mana-mana. Misalkan Anda yang menjual kertas mendirikan cabang toko kertas di mana-mana; yang menjual bunga mendirikan cabang toko bunga di mana-mana; yang menjual pakaian juga mendirikan cabang toko pakaian di mana-mana. Seperti itulah orang yang mendirikan "gereja" dengan ministri khusus. Namun itu tidak sesuai dengan cara yang dikehendaki Allah, dan tidak Alkitabiah.

Cara Alkitab ialah terlebih dulu mendirikan satu gereja di suatu lokal, kemudian baru mengisi gereja ini dengan berbagai ministri yang berbeda. Alkitab tidak mengijinkan orang mendirikan gereja dengan ministri. Ajaran Alkitab ialah dengan ciri-ciri ministri itu menyuplai gereja. Karena itu, bila Anda tiba di suatu tempat, bukan terlebih dulu membuka cabang toko bunga Anda, melainkan terlebih dulu mendirikan sebuah toko serba ada. Sesudah ada toko serba ada barulah Anda memajangkan kertas Anda, bunga Anda atau pakaian Anda di dalamnya. Jadi bukan hanya sejenis komoditi, melainkan memberikan tempat untuk menampung komoditi lainnya. Setiap kita tiba di suatu tempat, kita selalu harus membuka toko serba ada. Barang saya diletakkan di dalamnya, barang Anda diletakkan di dalamnya dan barang dia pun diletakkan di dalamnya. Kehendak Allah ialah: ada gereja dulu di sebuah lokal, kemudian para hamba Allah mempersembahkan ministri mereka yang berbeda-beda kepada gereja ini. Gereja bukan hanya milik satu ministri, melainkan banyak ministri. Semua ministri adalah untuk gereja lokal. Semua ministri tunduk di bawah gereja lokal. Sebagaimana dalam toko serba ada terdapat banyak macam barang, demikian pula dalam gereja Allah, tidak hanya ada sejenis ministri. Jika hanya menjual sejenis komoditi, hanya menampung ministri-"ku" saja, itu adalah sekte.

Maka perkara pertama yang kita lakukan begitu tiba di suatu tempat ialah mendirikan gereja lokal. Bila gereja telah berdiri, kita boleh menyuplainya sekuat tenaga dengan ministri kita. Sesudah itu kita boleh meninggalkannya. Kita harus berani setia bersaksi dengan ministri kita, kita pun harus berani memberi kesempatan bagi ministri orang lain. Ini merupakan sikap yang wajib dimiliki setiap hamba Allah. Jangan sekali-kali mengharap hanya ada ajaran kita di dalam gereja. Kita harus membiarkan gereja Allah memiliki berbagai jenis ajaran. Bila ajaran saya disambut baik oleh banyak orang, saya bersyukur kepada Allah. Sekalipun ajaran saya ditolak, saya tetap bersyukur. Ketika ministri saudara kita diberkati Allah, kita harus lebih bersyukur kepada Allah! Bagaimanapun kita tidak boleh mempunyai hati ingin memonopoli gereja. Kita harus memberi kedudukan bagi ministri saudara kita yang lain. Kita tidak seharusnya melindungi "jemaat" kita dengan tidak menerima bantuan wajar dari orang lain. Ministri ada dalam tangan Allah, maka Allah akan bertanggung jawab memelihara ministri kita sejauh mana ia berfungsi. Jika kita mendirikan "gereja" dengan ministri, berarti kita bermotif menjadi paus.

Maka kalau Allah membangkitkan ministri baru, ia hanya untuk mengabdi kepada gereja lokal, dan tidak karenanya lalu timbul denominasi atau organisasi baru. Di luar gereja lokal, ministri baru bagaimanapun tidak boleh membentuk "gereja" baru yang lain.

PEKERJAAN IMAN

Ini tak berarti di luar rasul dan ministri berbagai doktrin tidak ada lagi pekerja Allah yang lain. Kita tahu, bahwa Allah mempunyai banyak pekerja. Para pekerja dalam ministri itu hanya satu di antara yang lainnya. Allah mempunyai sekelompok pekerja yang secara lahiriah pekerjaan mereka seolah tidak serohani pekerjaan para rasul dan ministri-ministri lain. Akan tetapi realitas dan tujuan pekerjaan mereka juga sama rohaninya. Itulah yang saya maksud dengan "pekerjaan iman". Akhir-akhir ini banyak pekerjaan iman bermunculan, dan sungguh bermanfaat bagi gereja. Pekerjaan iman tersebut adalah pekerjaan Allah, walau tidak harus berupa penginjilan seperti yang dilakukan rasul, atau mempersaksikan kebenaran seperti yang dilakukan ministri bidang doktrin. Manusia boleh ada di dalam ministri itu, manusia pun boleh ada di dalam ministri lainnya, tetapi bersamaan dengan itu menerima amanat Allah untuk melakukan pekerjaan iman. Misalkan George Muller, panti asuhannya adalah suatu pekerjaan yang demikian. Allah memanggil dia dan dia bangkit melakukan pekerjaan tersebut bukan mengandalkan kekuatan manusia, melainkan mengandalkan janji Allah. Mulanya ia memiliki beberapa rekan sekerja, kemudian menantunya yang meneruskan pekerjaannya. Apa yang dilakukan Muller dan rekan-rekannya itu juga sejenis pekerjaan. Mereka bukan khusus menjadi rasul atau minister firman tertentu, pun bukan khusus bekerja di dalam gereja lokal. Tetapi pekerjaan mereka benar-benar adalah pekerjaan Allah.

Mereka ada panggilan Allah untuk melakukan pekerjaan panti asuhan, bagaimanakah hasil pekerjaan mereka? Hasil pekerjaan mereka ialah memperoleh orang dari panti asuhan itu, tapi tidak menjadikan mereka gereja panti asuhan, melainkan diberikan kepada gereja lokal. Panti asuhan juga sejenis pekerjaan. Tetapi usaha ini selamanya tak memenuhi syarat untuk menjadi gereja, hanya lokallah yang layak mendirikan gereja. Di panti asuhannya terdapat banyak yatim piatu, bahkan ada banyak saudara. Jumlah kaum imani di Bristol malah tidak sebanyak kaum imani di dalam panti asuhan itu. Tetapi Bristol layak mendirikan gereja. Panti asuhan merupakan suatu pekerjaan, ruang lingkupnya tidak sebesar lokal, dan ia bukan satu kota, maka ia tak layak mendirikan gereja. Tak peduli bagaimana besarnya dan bagaimana majunya pekerjaan iman itu, kita tak dapat mendirikan gereja dalam ruang lingkup pekerjaan. Kalau kita mendirikan gereja di dalam ruang lingkup pekerjaan, andaikan di satu kota terdapat beberapa pekerjaan, maka akan berdiri beberapa gereja di kota itu. Kalau begitu, bukan lokal yang menjadi batasan gereja, melainkan pekerjaan.

Lima tahun yang silam, ketika saya berada di kota Tsinan, ada saudara dari universitas Chiloo bertanya, "Bagaimana kalau kami memecahkan roti di sini?" Saya balik bertanya, "Itu untuk Universitas Chiloo atau untuk Tsinan?" "Tentu untuk Chiloo", jawab mereka. Lalu saya berkata, "Kalau begitu, saya tidak dapat mengambil bagian dalam pemecahan roti itu." "Mengapa?" tanya mereka. Saya menjawab, "Apakah tumpuan kalian? Alkitab tidak mengijinkan ada meja Tuhan di Universitas Chiloo. Alkitab hanya mengijinkan ada meja Tuhan di Tsinan." Mereka bertanya lagi, "Bila di Tsinan hanya ada belasan orang yang beroleh selamat di universitas Chiloo, bolehkah kami memecahkan roti bersama?" Saya berkata, "Jika untuk universitas Chiloo, lebih banyak orang pun tidak boleh. Sebaliknya, jika untuk Tsinan, lebih sedikit dari itu pun boleh. Sebab ruang lingkup universitas Chiloo tidak cukup besar, maka tidak layak untuk memecahkan roti, dan tidak layak untuk mendirikan gereja. Ruang lingkup gereja adalah lokal. Ruang lingkup universitas Chiloo bukan ruang lingkup lokal, melainkan ruang lingkup universitas. Yang menjadi persoalan bukan banyak atau sedikitnya orang, melainkan berbatasan lokal atau bukan. Jadi tumpuan universitas Chiloo tidak layak memecahkan roti, tapi tumpuan Tsinan layak mendirikan gereja."

Jika seseorang yang menerima amanat Allah memperoleh hasil dari pekerjaannya, ia tidak boleh memiliki hasil itu dengan mendirikan gereja di dalam lingkungan usahanya itu. Tidak boleh, sebab usaha Anda tidak memenuhi syarat. Ruang lingkup gereja yang ditetapkan Allah adalah sebesar lokal, maka yang tidak sebesar lokal tidak memenuhi syarat gereja.

Pernah sekali di Shanghai, beberapa penginjil Barat menemui saya seusai saya berkhotbah. Mereka bertanya bagaimana pendapat saya terhadap lembaga anu? Saya berkata, bahwa saya sangat setuju dengan usaha semacam itu. Kalau bisa saya harap dapat membantu mereka sekuat tenaga. Mereka menginjil di sana untuk menyelamatkan jiwa, itu baik sekali. Hanya saja lembaga anu itu adalah pekerjaan semata, bukan gereja! Mereka bertanya lagi, "Kami menginjil di sana dan ada orang yang beroleh selamat, juga sudah ada sidang doa dan sidang lainnya, mengapa Anda mengatakan di sana tidak ada gereja?" Jawab saya, "Memang kalian sudah ada semuanya itu, tapi tetap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan gereja. Ruang lingkup lembaga anu terlampau kecil, tidak seluas lokal. Yang memenuhi syarat untuk mendirikan gereja adalah Shanghai; gereja harus seluas kota Shanghai. Karenanya saya berkata, bahwa mereka hanya ada pekerjaan tanpa gereja.

Maka di hadapan Allah, lembaga semacam itu walau tidak seperti rasul dan ministri lainnya, tetapi Allah sesungguhnya juga menggunakan pekerjaan mereka. Mereka sering menghasilkan banyak buah. Namun mereka wajib nampak, bahwa mereka adalah suatu pekerjaan, bukan gereja; dan pekerja-pekerja atau orang-orang yang mengelola pekerjaan itu harus merendahkan diri menjadi saudara dalam gereja lokal itu. Jangan sekali-kali menganggap, Anda mempunyai pekerjaan rohani tertentu, lantas mengambil alih kedudukan tuan, tidak mau masuk ke dalam gereja lokal, dan mengira pekerjaan itu boleh menggantikan gereja.

Kita harus ingat:

1) Pekerjaan adalah milik pekerja, tetapi ruang lingkup pekerjaan tidak cukup besar untuk menjadi satu gereja, karena ruang lingkup pekerjaan bukan ruang lingkup lokal.

2) Semua rekan sekerja di dalam pekerjaan harus rendah hati menjadi saudara di dalam gereja lokal. Walau di dalam pekerjaan ia adalah seorang pekerja. Tapi di dalam gereja lokal tempat ia berada, ia hanya seorang saudara. Di dalam gereja lokal hanya ada saudara, tidak ada kedudukan pekerja.

3) Tujuan pekerjaan sepenuhnya untuk mendirikan gereja lokal. Jika orang mendirikan "gereja" lain dengan hasil pekerjaannya, itu tidak dibenarkan Alkitab. Semua hasil adalah untuk membantu gereja lokal. Janganlah mendirikan lembaga apa pun untuk menggantikan gereja. Tidak peduli betapa jayanya pekerjaan itu, Allah tidak mengijinkannya menggantikan gereja lokal. Bila kita dengan pekerjaan mendirikan satu "gereja" lain, kita sudah membangun sekte.

Seperti panti asuhan yang kita katakan tadi dan lembaga anu, semua itu adalah pekerjaan iman. Apa yang kita kenal sebagai tim pelayanan rohani, kursus tertulis, tempat pemahaman Alkitab, rumah retret, institut Alkitab, persekutuan doa, studio radio penyebaran Injil, dan berbagai sekolah Alkitab, semua itu adalah usaha atau pekerjaan. Bila kelak ada saudara yang ingin mendirikan rumah sakit, sekolah, atau usaha sosial lain, itu pun pekerjaan. Allah memang bisa memanggil orang melakukan usaha-usaha tersebut dan memberkati usaha-usaha tersebut. Tetapi kita harus ingat: pekerjaan bukanlah gereja, dan tidak dapat mewakili atau menggantikan gereja. Karena itu setiap pekerja harus dengan rendah hati mengikuti sidang-sidang gereja di gereja lokal tempat ia berada, dan menjadi seorang saudara di sana. Semua hasil pekerjaannya pun harus diserahkan kepada gereja lokal itu. Itulah kehendak Allah.

Semua ministri yang Allah karuniakan kepada orang adalah saling mendatangkan faedah, tidak saling berbentrokan; tujuannya pun satu, yakni mendirikan/membangun gereja lokal. Allah hanya bermaksud mendirikan satu kelompok, hatiNya pun hanya ingin memberkati satu kelompok, yakni gerejaNya. Gereja yang berwujud adalah yang dibatasi oleh lokal. Pekerjaan bukanlah sasaran Allah, melainkan semacam prosedur belaka. Jika tujuan kita hanya untuk pekerjaan, itu berarti kita belum mencapai sasaran Allah, kita hanya berhenti pada prosedur Allah.

Bila anak-anak Allah tidak tahu, bahwa ministri tidak dapat menggantikan gereja, pekerjaan tidak dapat menggantikan gereja; jika Tuhan lebih lama kembali, dan ini terus berlangsung demikian, maka pekerjaan Allah entah akan berkembang ke tingkat apa, dan gereja Allah pun entah akan merosot ke tingkat apa pula. Gereja harus ibarat toko, pekerjaan harus ibarat pabrik. Allah memang ingin pabrik memproduksi barang untuk menyuplai toko. Di suatu lokal boleh ada banyak pabrik, tapi hanya boleh ada satu toko untuk memelihara kesatuan toko tersebut. Kalau pabrik menggantikan toko maka pasti akan timbul masalah perpecahan. Lagi pula toko akan bangkrut karena tidak ada barang. Kita harus ingat baik-baik: pekerjaan tidak boleh menggantikan gereja.