← Daftar isi Penghidupan Gereja yang Normal · bab 6/9

DASAR KESATUAN DAN PEMECAHAN/PEMISAHAN

Pendirian Gereja Lokal

Telah kita katakan, bahwa istilah "gereja" dalam Kitab-kitab Injil hanya dipakai dua kali, dan kedua kali itu terdapat dalam Injil Matius. Istilah tersebut kemudian dipakai terus dalam kitab Kisah Para Rasul. Kitab Kisah Para Rasul tidak memberitahu kita bagaimana gereja itu didirikan. Pada awal kitab Kisah Para Rasul hanya dikatakan ada tiga ribu dan lima ribu orang beroleh selamat, tidak dijelaskan bahwa mereka itu terbentuk menjadi gereja. Namun, selanjutnya mereka disebut gereja. Kisah Para Rasul 5:11 mengatakan, "Maka sangat ketakutanlah seluruh gereja dan semua orang yang mendengar hal itu." Inilah ayat pertama dalam kitab Kisah Para Rasul yang menggunakan istilah gereja. Demikianlah orang-orang yang diselamatkan itu dilukiskan secara sederhana dan biasa sebagai "gereja". Dalam pasal 2, 3 dan 4, golongan orang yang beroleh selamat itu tidak disebut gereja, hingga pasal 5 barulah mereka disebut gereja. Dalam pasal 2 ada orang yang mendapatkan hayat, dalam pasal 3 juga ada orang yang mendapatkan hayat, namun baru pada pasal 5 mereka disebut sebagai "gereja". Ketika terjadi kasus Stefanus, maka istilah ini dipakai lebih nyata. Kisah Para Rasul 8:1 mengatakan, "Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap gereja di Yerusalem pada hakekatnya adalah gereja di Yerusalem. Sejak saat itu kita tahu apakah yang disebut gereja. Gereja tak lain sebuah kelompok yang terbentuk dari semua orang yang diselamatkan di suatu tempat. Kemudian, Paulus memberitakan Injil di berbagai tempat dan ada orang yang beroleh selamat. Alkitab (Kis. 13 dan 14) tidak mengatakan Paulus mengorganisir mereka menjadi gereja. Tetapi pada 14:23 dengan tegas orang percaya dan yang diselamatkan di tiap lokal disebut gereja. "Di tiap-tiap gereja rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi gereja itu ..." Ketika Paulus kembali, Roh Kudus menyebut orang-orang yang beroleh selamat di tiap-tiap lokal sebagai gereja. Jadi, sekelompok orang yang beroleh selamat di suatu lokal otomatis menjadi gereja di lokal itu, tanpa melalui rekomendasi atau pernyataan. Maka dalam Alkitab, pendirian gereja tidak memakai prosedur tertentu di luar penginjilan, tak memakai cara tertentu sebagai tambahan. Bila orang telah mendengar Injil, menerima Tuhan sebagai Juruselamat, orang-orang ini adalah gereja, tidak ditambah dengan prosedur tertentu; tidak ada prosedur kedua. Dengan kata lain, bila seseorang telah mendengar Injil, percaya kepada Tuhan Yesus, otomatis ia menjadi salah satu unsur dalam gereja. Bila ada dua atau tiga orang semacam itu di suatu lokal, dengan sendirinya gereja telah muncul.

Karena itu, kita harus memperhatikan penggunaan istilah ini dalam kitab Kisah Para Rasul. Pendirian gereja tidak ada prosedur tertentu. Gereja dengan otomatis berdiri setelah ada penginjilan dan ada orang yang beroleh selamat. Herannya, pada pasal 2 dan 3 istilah gereja tidak dipakai, dan pada pasal 5, tanpa penjelasan apa-apa, orang-orang yang diselamatkan itu disebut gereja. Pula tidak dijelaskan, bahwa sebutan itu mengacu kepada mereka; hanya demikian menyebutnya, namun dengan sendirinya para pembaca mengerti gereja itu adalah orang-orang tersebut. Demikian pula, hingga pasal 13 dan 14, yakni ketika kedua rasul itu memberitakan Injil. Di mana ada orang percaya Tuhan, di sanalah gereja berdiri. Bila di satu tempat ada orang percaya Tuhan, dengan spontan gereja pun muncul di tempat itu. Gereja berdiri karena ada orang yang menerima Injil. Begitu seseorang menerima Injil, ia segera menjadi salah satu unsur di gereja lokal itu. Masalah berikutnya ialah sejauh mana mereka menempuh hidup gereja itu.

Bila satu orang imani di suatu lokal sudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, maka di lokal itu ia adalah satu anggota gereja lokal, tidak perlu melakukan prosedur lain untuk masuk ke dalam gereja. Kalau dia milik Tuhan, dia sudah menjadi orang dalam gereja lokal tersebut, tidak peduli melalui prosedur memasuki atau tidak. Karena itu, setiap orang imani yang bermukim selokal, tidak peduli bagaimana keadaan mereka, mereka adalah orang-orang yang satu gereja dengan kita. Asalkan mereka telah mendengar dan percaya kepada Injil, mereka sudah merupakan saudara saudari dalam gereja kita, dan tidak seharusnya mereka dituntut untuk menempuh prosedur lain sebagai syarat pengakuan kita. Jangan menuntut mereka harus begini atau begitu, baru terhitung sebagai saudara kita. Kalau demikian, maka "gereja kita" yang kita miliki itu pasti bukan gereja Allah. Gereja Allah di lokal kita, terdiri dari orang-orang yang mendengar Injil dan menerima Kristus. Mereka sudah dianggap orang dalam, tanpa prosedur lain. Andaikata di "gereja kita" ada prosedur tertentu sebagai syarat, maka "gereja kita" ini pasti bukan gereja Allah, melainkan sejenis kelompok lain. Maka ingatlah, semua orang yang beroleh selamat, yang tinggal selokal dengan kita, tak peduli mereka mempunyai hubungan lain atau tidak, asalkan mereka sudah benar-benar beroleh selamat, dan kita sendiri benar-benar berada dalam gereja Allah, bukan organisasi manusia, maka mereka sudah satu gereja dengan kita. Mereka adalah anggota gereja kita. Ini disebabkan sebuah gereja lokal mencakup semua anak-anak Allah di lokal itu.

Sebab itu, kita harus senantiasa memperhatikan, bahwa kita menerima orang karena ia sudah diterima Tuhan. Penerimaan kita hanyalah mengakui orang yang diterima Tuhan. Tegasnya, kalau ia milik Tuhan, ia ada di dalam gereja, kalau ia bukan milik Tuhan, ia tidak ada dalam gereja. Maka, setiap kali kita menerima orang, kita hanya melihat sudahkah ia diterima oleh Tuhan, cukup itu saja. Kalau tidak, kita adalah sebuah sekte. Dalam Alkitab, hanya ada orang yang ditambah ke dalam gereja, tidak ada orang yang masuk ke dalam gereja, karena tidak ada orang bisa masuk ke dalam gereja, tetapi Allah bisa menambah jumlah orang ke dalam gereja.

MASALAH DI DALAM ATAU DI LUAR LINGKARAN

Bila di suatu tempat ada orang memberitakan Injil, lalu ada yang percaya Tuhan dan beroleh selamat, mereka adalah saudara kita, mereka adalah gereja lokal di situ. Tetapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Sebab pada satu aspek, ada sekte yang telah memecah belah anak-anak Allah, dan di aspek lain, ada orang dunia yang menyelundup ke dalam kalangan anak-anak Allah. Kesulitan pada masa kini adalah banyak yang disebut "gereja" malah menutup di luar pintu, orang-orang yang seharusnya ada di dalam, namun merangkum orang-orang yang seharusnya di luar. Di manakah sebenarnya garis batas dalam dan luar ini? Bagaimana pula agar yang di luar berada di luar dan yang di dalam tetap di dalam? Orang macam apakah yang dapat dianggap sebagai salah satu unsur gereja? Orang bagaimana yang boleh kita terima? Dengan tuntutan apakah baru kita tidak dapat tercerai dengan mereka? Dengan kualifikasi apakah kita menentukan siapa anak-anak Allah dan siapa bukan anak-anak Allah? Dengan syarat apakah kita menentukan saudara atau bukan saudara? Jika batasan itu tidak jelas, niscaya orang-orang yang di dalam gereja akan kita kucilkan di luar, dan orang-orang yang di luar akan kita rangkum ke dalam.

Siapakah sebenarnya orang Kristen? Bagaimana baru bisa terhitung sebagai orang Kristen? Mengenai hal ini, Alkitab menunjukkan kepada kita dengan jelas: semua orang milik Allah mempunyai satu titik persamaan, yakni oleh iman mereka kepada Kristus, mereka mempunyai Kristus dalam hati melalui tinggalnya Roh Kudus dalam hati mereka, "Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus" (Roma 8:9). Inilah titik persamaan mutlak dari setiap orang Kristen. Mereka boleh berlainan dalam ribuan perkara, tetapi dalam perkara ini, mereka sama. Siapa milik Tuhan, ada ini; siapa bukan milik Tuhan, tidak ada ini. Jika kita ingin mengenal siapa milik Tuhan dan siapa bukan milik Tuhan, cukup melihat apakah ia memiliki Roh Kudus atau tidak. Sebab, kaum imani sejati pasti memiliki Roh Kudus. Jadi, yang memiliki Roh Kudus adalah orang dalam, yang tidak memiliki Roh Kudus adalah orang luar. Gereja Allah minum dari satu Roh dan juga dibaptis dari satu Roh. Barangsiapa ada bagian dalam Roh Kudus, ia ada bagian dalam gereja ini (Tubuh), barangsiapa tidak ada bagian dalam Roh Kudus, tidak ada bagian dalam gereja ini. Gereja yang universal demikian, gereja-gereja lokal pun demikian. Orang yang memiliki Roh Kudus barulah milik gereja Allah dan milik gereja-gereja Allah. Titik persamaan mutlak dari kaum imani ialah berhuninya Kristus dalam hati melalui Roh Kudus. Tidak ada seorang milik Tuhan yang sejati yang terkecuali. "Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam hatimu?" (II Kor. 13:5).

Siapakah orang Kristen? Orang yang telah bersatu dengan Kristus oleh Roh Kudus. Siapakah anak-anak Allah? Orang yang beroleh Roh Anak sehingga bisa memanggil, "Ya Aba, ya Bapa." Siapakah saudara kita? Orang yang beroleh Roh hayat yang sama dengan kita. Siapakah gereja? Orang-orang yang oleh Roh Kudus terbentuk menjadi tempat kediaman Allah. Semua orang yang demikian adalah orang yang bersama kita di dalam gereja. Orang yang tidak demikian adalah orang yang di luar gereja. Jadi, siapa yang kita cakup ke dalam dan siapa yang kita pisahkan di luar, tergantung apakah mereka mempunyai hubungan hayati oleh Roh Kudus dengan Tuhan. Ini adalah yang dimiliki bersama oleh setiap orang yang telah ditebus darah adi; ini tidak mungkin dimiliki oleh orang-orang yang binasa dalam dosa. Antara gereja dan dunia terdapat satu batasan yang subjektif. Yang ada di dalam semuanya sudah beroleh selamat, yang ada di luar semuanya masih binasa. Garis batasan ini tak lain adalah Roh Kudus yang berhuni dalam batin kita.

KESATUAN ROH KUDUS

Jadi, kita tahu, perbedaan antara kaum imani dan orang dunia ialah pada ada tidaknya Kristus, ada tidaknya Roh Kudus. Yang beroleh Roh Kudus adalah milik Tuhan, yang tidak beroleh Roh Kudus, Tuhan pun tidak dimilikinya. Kita juga tahu, semua orang yang mendengar dan percaya Injil, beroleh selamat serta beroleh Roh Kudus, tanpa melalui prosedur langkah kedua, sudah otomatis menjadi anggota dalam gereja. Jika mereka tinggal selokal, dengan sendirinya mereka adalah unsur gereja lokal tersebut. Jika tinggal terpencar di berbagai lokal, dengan sendirinya adalah unsur gereja universal. Meskipun jumlahnya banyak, asalkan mereka orang Kristen sejati, semuanya dengan otomatis bersatu menjadi esa. Mengapa demikian?

Mengapa anak-anak Allah yang jumlahnya sebanyak itu, dan tinggal terpisah di berbagai lokal, serta hidup di dalam waktu yang berbeda, namun di hadapan Tuhan tetap sebagai satu gereja? Bagaimana mungkin banyak orang imani di satu lokal tetap merupakan satu gereja di lokal tersebut? Mengapa mereka bersatu, dan bagaimana orang Kristen yang sebanyak itu menjadi satu? Latar belakang, suku bangsa, kewarganegaraan, pendidikan, status sosial, dan pengalaman orang-orang itu tidak sama, bagaimana mereka bisa menjadi satu? Berdasarkan apa kekristenan bisa menyatukan orang-orang Kristen yang berbeda latar belakang itu? Ingatlah, kesatuan orang Kristen bukanlah buatan manusia, bukan hasil mufakat satu dengan yang lain. Kesatuan orang Kristen berasal dari "kesatuan" yang dikaruniakan Allah di dalam batin kita ketika kita percaya kepada Kristus, dan "kesatuan" ini dimiliki bersama oleh setiap orang milik Tuhan. Karena setiap anak-anak Allah beroleh "kesatuan" yang misterius ini, maka mereka bisa bersatu, dan "kesatuan" ini disebut Alkitab "kesatuan Roh Kudus" (Ef. 4:3).

Apakah "kesatuan Roh Kudus" ini? Ini tak lain adalah Roh Kudus yang dimiliki setiap orang Kristen. Roh Kudus yang bersemayam dalam hati kita masing-masing ini adalah satu Roh Kudus. Karena itu, Ia membuat setiap orang yang dihuni olehNya dapat saling bersatu, seperti Dia sendiri adalah satu. Melalui inilah Allah memisahkan mereka dari dalam dunia; melalui ini pula Allah membuat mereka saling bersatu. Di sinilah letak perbedaan antara kaum imani dengan orang dunia; di sini pula letak persamaan di antara kaum imani. Titik bersatunya kaum imani justru adalah titik yang membuat mereka berbeda atau terpisah dari orang dunia. Hal inilah yang menentukan apakah seorang milik Kristus atau bukan. Melalui ini pula terjadi kesatuan antar umat Kristen. Kristus yang di dalam Roh Kudus inilah yang membuat kita berbeda dengan orang dunia, dan membuat kita, kaum imani, saling bersatu.

Umat Kristen menjadi satu kelompok, tidak dapat diceraikan dengan alasan apa pun (kecuali kelainan lokal), justru karena di dalam kita masing-masing ada satu kesamaan yang mendasar ini. Jika seseorang tidak memiliki ini, tidak dapatlah kita menganggapnya sebagai saudara, dia adalah orang luar. Jika ia memiliki ini, dia adalah orang dalam, dan kita sudah menjadi manusia yang bersatu. Dengannya kita tidak boleh berpisah karena alasan apa pun. Semua orang yang mempunyai Roh Kudus sudah bersatu sedemikian, tak mungkin berpisah lagi, sebab kita sudah bersatu pada dasarnya, yakni bersatu di dalam hayat dan di dalam roh. Karena itu, Paulus berkata, "Sebab itu, aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera . . ." (Ef. 4:1-3). Perlu kita perhatikan, di sini Paulus tidak berkata, "harus saling bersatu," melainkan "harus memelihara kesatuan." Kita tidak mungkin memelihara sesuatu yang tidak kita miliki. Kita hanya dapat memelihara sesuatu yang sudah kita miliki. Paulus menasihati kita untuk memelihara kesatuan yang sudah kita miliki ini, maka sekarang kita wajib memeliharanya. Tuhan tidak menyuruh kita bersatu dengan kaum imani lain, juga tidak menyuruh kita menciptakan satu kesatuan, melainkan memelihara kesatuan yang telah kita miliki di dalam Tuhan, yaitu yang telah kita peroleh melalui Roh Kudus. Kita telah menerima kesatuan ini ketika kita percaya Tuhan. Kita berpisah dengan dunia oleh karena Roh Kudus, dan kita saling menjadi satu karena Roh Kudus yang bersemayam di batin kita ini. Sekarang kita tidak perlu menciptakan satu kesatuan antar kaum imani, namun kita harus memahami, melihat dan mengakui, bahwa Roh Kudus yang kita terima itulah kesatuan di antara kaum imani.

Walaupun kita tak dapat menciptakan kesatuan, sebab kita sudah bersatu di dalam Kristus melalui Roh Kudus, tetapi kita bisa merusak fungsi kesatuan ini, sehingga ia tidak dapat dinyatakan di antara anak-anak Allah. Itulah sebabnya perintah yang kita terima ialah: hendaklah kita berusaha memelihara kesatuan ini. Sungguh kasihan, kita sering tidak memelihara kesatuan itu, malah merusaknya.

Jadi, siapakah saudara kita? Kita tidak melihat sama tidaknya mereka dengan kita atas ajaran Alkitab, atau sama tidaknya mereka dengan kita atas pengalaman rohani, atau sama tidaknya selera, adat istiadat, kebiasaan, kehidupan, kegemaran mereka dengan kita. Semua orang yang tertebus oleh darah adi, yang menjadi anak-anak Allah, yang memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka, itulah saudara kita. Kita tak dapat menuntut kesatuan daging, kesatuan opini, atau kesatuan lainnya. Kita hanya wajib melihat kesatuan Roh Kudus. Bila ia memiliki kesatuan ini, dialah orang di dalam Tuhan. Orang-orang yang memiliki kesatuan ini, yang tinggal selokal dengan kita, adalah orang-orang yang satu gereja dengan kita. Kita berpisah dengan orang, hanya dapat dikarenakan ia tidak mempunyai kesatuan ini; kita bersatu dengan orang, juga hanya karena masing-masing memiliki kesatuan ini.

Kerapkali ketika kita bepergian, di kereta api atau di kapal laut, kita bertemu dengan orang yang tenang dan takwa. Kita lalu menduga apakah ia orang Kristen. Setelah berbicara sejenak dengannya, tahulah kita, bahwa ia memang seorang milik Tuhan. Ia telah ditebus darah, dan ia adalah seorang saudara sejati. Tadinya, Anda tidak mengenalnya sama sekali, tetapi begitu bertemu, seolah sudah kenal lama, dan hati kita merasa sangat sukacita bisa berjumpa dengan seorang saudara. Ketika itu, dalam hati kita dengan spontan timbul kasih terhadapnya. Ini karena adanya "kesatuan Roh Kudus" di dalam kita dan dia. Perasaan hati kita itulah fungsi kesatuan Roh Kudus. Pada saat itu, kekuatan dalam batin benar-benar telah melampaui perbedaan suku, kewarganegaraan dan status sosial, sehingga membuat kita sama sekali bersatu di dalam Roh Kudus. Tetapi, ketika kita lebih jauh memperbincangkan soal kebenaran Alkitab, boleh jadi ia sangat berbeda dengan kita dalam menafsirkan nubuat, sehingga kasih kita terhadapnya mulai bocor dan berkurang. Sadarkah Anda, sekarang Anda berada di suatu posisi lain lagi; Anda berusaha menemukan kesatuan, bukannya memelihara kesatuan, lebih-lebih bukan berusaha memelihara kesatuan Roh Kudus ini. Hasilnya, kita akan berpisah dengan rasa tidak gembira. Berpisahnya anak-anak Allah hari ini, dikarenakan mereka tidak berusaha memelihara kesatuan ini.

Bagaimanakah kita tahu orang lain ada kesatuan ini? Andaikata orang mempunyai kesatuan Roh Kudus ini, secara luaran, bagaimana kita dapat mengetahuinya? Bagaimana kita dapat mengetahui dia juga saudara? Paulus memberitahu kita, jika orang telah memiliki kesatuan Roh Kudus, ia pasti memiliki tujuh hal lain yang sama dengan kita. Kita tak dapat mengharap dia sama dengan kita dalam segala perkara, tetapi kita dapat mengharap dia sama dengan kita dalam tujuh hal. Ketujuh hal itu membuktikan benar tidaknya seseorang memiliki kesatuan Roh Kudus ini. Karena ketujuh hal tersebut menyatakan kesatuan Roh Kudus, kita wajib berusaha memeliharanya, mementingkannya. Walau hal-hal lainnya juga penting, tetapi ketujuh hal inilah yang memastikan persekutuan Kristiani kita. Maka tuntutan kita terhadap orang haruslah terbatas pada ketujuh hal tersebut.

Apakah ketujuh hal itu?

TUJUH KESATUAN ILAHI

"Satu tubuh, dan satu roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu. Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua" (Ef. 4:4-6). Di sini ada tujuh "satu" yang semuanya berkaitan dengan kesatuan pemberian Roh Kudus. Setiap orang yang percaya Kristus berada dalam gereja, dan kita dapat menyebutnya saudara, bisa bersekutu dengannya, itu semua karena kesatuan Roh Kudus; dalam ketujuh hal ini kita mutlak sama. Ketujuh "satu" ini dimiliki oleh setiap orang Kristen. Lebih satu tidak perlu, kurang satu tidak mungkin. Kesamaan ketujuh hal ini adalah tuntutan persekutuan kita dengan orang. Tidak boleh lebih banyak, pun tidak boleh kurang dari itu. Sebab kalau lebih banyak dari itu, akan ada saudara yang kita tutup di luar pintu, jika kurang dari itu, kita akan memasukkan orang yang bukan saudara ke dalam gereja. Ketujuh "satu" yang dikatakan di sini mutlak harus dipunyai setiap orang yang percaya. Maka setiap orang yang percaya Tuhan telah memiliki kesatuan Roh Kudus, dan secara maksimum telah memiliki kesamaan tujuh hal tersebut. Orang yang memiliki ketujuh hal tersebut adalah milik Allah, yang tidak memiliki ketujuh hal itu bukan milik Allah. Kalau kita ingin memelihara kesatuan yang dikaruniakan Roh Kudus ini, perlulah kita memperhatikan ketujuh hal tersebut, dan tidak ada masalah dengan anak-anak Allah lainnya dalam ketujuh hal tersebut. Ketujuh "satu" ini sangat sederhana. Mari kita tinjau satu persatu.

1) Satu Tubuh -- Pertanyaan pertama tentang dapat tidaknya kita bersatu dengan orang lain ialah apakah ia anggota dalam Tubuh Kristus. Tubuh Kristus justru adalah ruang lingkup kesatuan kita dengan orang lain. Orang yang tidak berada di dalam Tubuh, sudah tentu tidak bersangkut paut dengan kita. Tapi setiap orang yang berada di dalam Tubuh Kristus, mempunyai persekutuan dengan kita. Kita tidak boleh mempunyai persekutuan pilihan di dalam Tubuh Kristus. Apakah Tubuh Kristus itu? Tubuh Kristus ialah orang-orang yang berbagian di dalam Kristus. Satu lambang terindah bagi Tubuh Kristus ialah seketul roti yang Anda pecah-pecahkan dan makan setiap hari Tuhan itu. Walau roti itu telah masuk ke dalam perut saudara dan saudari, bila digabungkan tetaplah seketul itu. Itulah Tubuh Kristus, yang terbentuk oleh kesatuan setiap manusia yang memiliki hayat Kristus. Anda memiliki hayat Kristus, aku memiliki hayat Kristus, bila hayat-hayat ini disatukan, itulah keseluruhan Kristus. Kita masing-masing adalah sebagian dari Tubuh Kristus. Karena itu, ketika kita hendak menerima seseorang, janganlah menghiraukan apa latar belakangnya, apa jenjang statusnya, dan apa doktrin ajarannya. Yang terpenting kita harus bertanya, sudahkah ia berbagian di dalam Tubuh Kristus? Kalau di dalam batinnya ada Kristus, ia adalah saudara kita. Jika kita dengan berbagai alasan hendak menolak seseorang sebagai saudara, beranikah kita mengatakan ia bukan satu anggota dalam Tubuh Kristus? Jika ia benar-benar anggota Tubuh Kristus, tak peduli bagaimanapun keadaannya (kecuali alasan yang disebutkan dalam Alkitab) kita harus menerimanya. Kita tak boleh menerima beberapa anggota yang ini, menolak beberapa anggota yang itu. Kita bersama-sama ada di dalam satu Tubuh, tidak mungkin terpisah-pisah. Andaikata kita dengan dia merupakan dua Tubuh, kita punya alasan untuk menolaknya. Tapi kalau kita tak dapat memastikan dia bukan anggota dalam Tubuh yang sama, maka kita harus memelihara kebersatuan kita dengan dia. Jadi tuntutan kita terhadap setiap orang ialah, jika ia sebagai satu anggota dalam Tubuh Kristus, ia adalah saudara atau saudari kita. Kecuali ini, tidak ada lagi tuntutan lainnya.

2) Satu Roh -- Orang Kristen tidak hanya memiliki hayat Kristus di batinnya. Ketika ia percaya, Roh Kudus juga tinggal di batinnya. Aku telah beroleh Roh Anak, ia pun telah beroleh Roh Anak. Mungkin seleranya berbeda dengan seleraku, jalan dan caranya juga berbeda. Tetapi Roh Kudus yang ada di batinnya sama dengan Roh Kudus yang ada di batinku, itu sudah cukup.

Benarkah yang diterimanya itu Roh Kudus? Dapatkah kukatakan Roh Kudus tidak berada di batinnya? Dapatkah kukatakan yang diterimanya itu roh jahat? Boleh jadi ketika ia menerima Roh Kudus, penampilan luarannya agak aneh dan tak lazim dalam pandangan Anda; boleh jadi biasanya Anda sangat menentang keadaan Pentakosta semacam itu. Namun Roh Kudus hanya satu. Alkitab tidak mengatakan, bahwa yang sama sekali tanpa gerakan adalah Roh Kudus, yang berapi-api dan bergairah itu bukan Roh Kudus. Alkitab tidak mengukur benar tidaknya Roh Kudus dengan penampilan luaran. Alkitab menguji benar tidaknya Roh Kudus dengan "mengaku Yesus adalah Tuhan" (I Kor. 12:3). Jadi dalam diri Anda, Roh yang memungkinkan Anda mengaku, "Yesus adalah Tuhan," itulah Roh Kudus. Maka jika Roh di dalam dia juga memungkinkannya mengaku, "Yesus adalah Tuhan", itu juga Roh Kudus.

Kalau yang diperolehnya adalah Roh Kudus, yang Anda peroleh juga Roh Kudus, Roh Kudus itu satu, maka kita sekalian di dalam Tuhan adalah satu, dan tidak mungkin terpisah-pisahkan.

3) Satu pengharapan panggilan -- Di sini tidak dikatakan semua pengharapan adalah sama. Di sini hanya ada sebutir, yakni adanya pengharapan yang sama yang dikarenakan panggilan; sebagai orang Kristen, maka ada pengharapan yang sama. Apakah pengharapan kita? Kita mengharap beserta dengan Kristus dalam kemuliaan sampai selama-lamanya. Tak seorang pun yang menjadi milik Tuhan tanpa pengharapan mulia ini, dan tak seorang pun milik Tuhan yang mengharapkan bumi bukan mengharapkan sorga. Karena menerima panggilan, kita mempunyai satu pengharapan yang mulia. Tidak ada satu orang Kristen yang selamanya tidak mendambakan sorga dan kemuliaan; jika ada, orang yang demikian pasti bukan milik Tuhan. Kelak di sorga, kita akan tinggal bersama selama-lamanya, dan hari ini kita di bumi mungkin terpisahkan. Kita mempunyai masa depan yang sama, maka kita harus menempuh jalan yang sama.

4)Satu Tuhan -- Hanya satu Tuhan, yakni Yesus. Kita mengaku, bahwa Yesus orang Nazaret telah ditetapkan Allah sebagai Tuhan dan Kristus, karena itu, kita ingin melayani Dia. Tuhan mereka adalah Tuhan kita. Di antara kita satu sama lain, yang kita akui dan layani adalah satu Tuhan. Karena itu, kita tak mungkin terpecah-belah.

5) Satu iman -- Iman di sini adalah kepercayaan. Jadi arti "satu iman" di sini bukan mengacu kepada keyakinan yang sama terhadap doktrin atau kebenaran Alkitab. Tuntutan demikian tidak ada dalam Alkitab. Satu iman di sini mengacu kepada kepercayaan yang dimiliki bersama oleh orang Kristen, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ia mati untuk menyelamatkan orang dosa, Ia menanggung segala dosa orang dosa. Tanpa kepercayaan demikian bukanlah milik Kristus. Semua anak-anak Allah boleh mempunyai pandangan berbeda atas tafsiran kebenaran atau doktrin, tetapi harus sama dalam kepercayaan asasi ini. Siapa yang tidak mempunyai kepercayaan ini, ia tidak ada sangkut pautnya dengan kita; tetapi yang mempunyai iman ini, ialah saudara atau saudari kita. Tuntutan kita tak boleh kurang dari ini. Jika tidak, kita akan membaurkan orang non Kristen ke tengah-tengah kita. Kita pun tidak boleh menuntut lebih banyak dari ini. Jika tidak, kita akan mengucilkan orang Kristen sejati di luar pintu.

6)Satu Baptisan -- Apakah itu dicelup, dipercik, dicelup sekali, dicelup tiga kali, dengan wajah mendongak atau menunduk . . . Cara atau corak pembaptisan sangat banyak. Andaikata itu dijadikan titik perbedaan, maka banyak orang Kristen sejati yang akan terkucil di luar. Sebab banyak anak Allah sama sekali tidak dibaptiskan, di antaranya seperti aliran The Quaker dan Bala Keselamatan. Apakah makna baptisan di sini? Di tempat lain, Paulus telah menerangkan dengan jelas kepada kita tentang baptisan ini. Katanya, "Adakah Kristus terbagi-bagi? Apakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?" (I Kor. 1:13). Dari ayat ini kita nampak, bahwa arti satu baptisan ialah dalam nama siapakah kita dibaptiskan? Tak peduli Anda dicelup atau dipercik, atau dicelup sekali, atau dicelup tiga kali, mendongak atau menunduk, dengan cara rohani atau dengan air; yang penting dalam atau demi nama siapa Anda dibaptiskan? Jika Anda menerima baptisan dalam nama Tuhan, cukuplah sudah! Jadi makna satu baptisan ialah baptisan yang kita terima dalam nama Tuhan. Jika seseorang telah dibaptiskan dalam nama Tuhan, dia sudahlah saudara atau saudari kita. Saya tidak mengatakan, bahwa tidak dibaptis itu benar. Menurut Alkitab, dibaptis itu dicelup, tidak benar jika bukan dicelup. Namun di sini, bukan ini yang diperhatikan Paulus. Yang diperhatikannya ialah dalam nama siapakah kita dibaptiskan. Jika orang dibaptis dalam nama Kristus, itu berarti bersatu.

7) Satu Allah -- Apakah Anda percaya kepada Allah? Apakah Allah yang Anda percayai itu Bapa Anda? Yang kita percayai memang satu Allah yang sama, dan sama sebagai satu Bapa. Allah ini adalah Bapa segala sesuatu, di atas semua, oleh semua dan di dalam semua, pun tinggal di dalam kita semua. Dia berada di atas kita, di tengah-tengah kita, dan di dalam kita. Apakah yang kita percayai ini adalah Allah yang bepersona? Apakah Allah yang melampaui segalanya? Dan apakah Allah ini Bapa Anda? Kalau yang kita percayai bukan Allah ini, kita bukan orang Kristen. Jika kita semua percaya kepada Bapa dari semua ini, yaitu Allah yang bepersona ini, tiadalah alasan bagi kita untuk berpecah-belah.

Ketujuh butir di atas adalah tujuh kesatuan ilahi yang merupakan pusaka milik bersama segenap gereja. Dengan inilah kita menguji benar tidaknya seseorang sebagai orang Kristen, dan ini pula dasar kesatuan Kristiani kita. Setiap orang Kristen, tak peduli ia manusia jaman apa dan bangsa apa, pasti ia adalah manusia yang lengkap dengan ketujuh butir ini. Karena kita semua bersama-sama memiliki ketujuh butir ini, maka kita semua telah terikat menjadi satu dengan erat oleh ketujuh butir ini. Ketujuh butir ini merupakan tali rangkap tujuh yang telah mengikat dengan erat seluruh kaum imani dalam segala jaman dan di segala tempat, sehingga mempersatukan mereka menjadi suatu kelompok yang tak terceraikan. Roh Kudus di dalam mengaruniakan kita satu kesatuan rohani, dan menyatakan pula kesatuan ini dengan ketujuh butir yang sama ini. Walau di antara orang Kristen terdapat ribuan perkara yang berbeda, tetapi semua itu tidak boleh memecah- belahkan dan membeda-bedakan kita, sebab kita sama atas ketujuh butir ini, kita telah memiliki kesamaan yang tak mungkin terhapuskan. Ketujuh butir kesatuan ini bersifat ilahi, abadi, rohani dan melampaui segala-galanya. Ketujuh butir ini memungkinkan kita menjadi orang Kristen, pun membuat orang yang sama atas ketujuh butir ini bersatu selama-lamanya. Dunia bisa tamat, waktu bisa berlalu, namun ketujuh butir ini tinggal tetap selama-lamanya. Maka kita yang saling bersatu dengan ketujuh butir ini juga tak dapat terpecah-belah.

Jika kita menuntut atau menghendaki lebih banyak satu hal lagi saja, itu sudah keliru. Kita akan segera menjadi sekte. Jika Anda ingin bersekutu dengan seseorang, tetapi dengan syarat ia harus percaya kepada baptisan celup, atau percaya kepada keterangkatan sebelum malapetaka, atau percaya kepada keharusan pencurahan Roh Kudus, atau percaya kepada doktrin kekudusan tertentu, itu sudah berlebihan. Allah hanya mengijinkan kita menguji apakah seseorang itu saudara kita dengan ketujuh butir kesatuan ini, maka kita tidak boleh di luar kesatuan tujuh butir ini menambahkan syarat tertentu. Asalkan seseorang memiliki ketujuh kesatuan ini, dengan sendirinya ia adalah orang gereja. Kita wajib nampak satu perkara, yakni semua orang yang memiliki tujuh kesatuan ini adalah orang gereja. Bila seseorang memiliki tujuh kesatuan ini, tidak peduli ia dari denominasi mana, ia adalah saudara kita. Ia berada dalam denominasi atau tidak, itu urusan pribadinya. Bila ia ada terang, dengan sendirinya ia akan nampak mana yang benar, mana yang salah. Kita bukan dan tidak seharusnya menjadikan non-denominasi sebagai syarat kesatuan, melainkan menganggap orang yang memiliki ketujuh butir ini sebagai saudara kita, dan harus berupaya memelihara hati yang bersatu terhadap mereka, tanpa menghiraukan mereka berada dalam denominasi atau tidak. Hal ini sangat penting. Kesatuan kita bukan bertumpu di atas kebenaran gereja, bukan pula bertumpu pada perkara meninggalkan sekte dan berdiri di atas posisi yang unggul, melainkan berdasarkan apakah orang memiliki ketujuh kesatuan ilahi ini -- apakah mereka sama dengan kita dalam ketujuh butir ini. Kalau sama, janganlah hiraukan ketidaksamaannya dalam perkara lain. Yang pasti mereka adalah saudara saudari kita. Jika kita tidak memiliki sikap demikian, mengira walau mereka sudah sama dalam ketujuh butir itu, tapi kita masih mengharap mereka memiliki "kesamaan" yang lain, dan masih menuntut mereka harus memiliki kesamaan lainnya, maka kita adalah sebuah sekte yang paling besar dan paling jahat.

GEREJA LOKAL

Kalau begitu, apakah gereja lokal? Gereja lokal, gereja Allah, adalah kelompok orang-orang milik Tuhan, meliputi segala bangsa dalam segala jaman, yang memiliki kesatuan Roh Kudus dan yang sama sekali sama atas ketujuh butir ini. Karena kesamaan ketujuh butir ini, maka gereja Allah tidak mungkin bercerai. Namun, demi kemudahan administrasi, organisasi, kesaksian dan pengelolaannya, maka terbagi menjadi banyak gereja lokal menurut tempatnya. Inilah gereja-gereja Allah. Allah menetapkan lokal sebagai satu-satunya alasan yang sah untuk memisahkan gereja menjadi gereja-gereja. Pada esensinya, gereja-gereja Allah tidak berbeda dengan gereja Allah. Ketidaksamaannya ialah yang satu merangkum semua bangsa dalam segala jaman, sedang yang satu lagi hanya merangkum satu lokal. Pada esensinya, semua memiliki kesatuan Roh Kudus, dan mutlak sama pada ketujuh butir itu. Perbedaan antara gereja Allah dengan gereja-gereja Allah terletak pada ruang lingkupnya, bukan pada esensinya. Apakah gereja lokal? Gereja lokal ialah kelompok yang terbentuk dari orang Kristen yang tinggal di satu tempat yang memiliki kesamaan dalam ketujuh butir itu. Setiap orang yang sama dalam ketujuh butir itu adalah orang di dalam gereja Allah. Di suatu lokal, setiap orang yang memiliki kesamaan dalam ketujuh butir itu adalah orang-orang di dalam gereja lokal. Hari ini, tak peduli orang itu siapa, asalkan ia sama dengan kita dalam ketujuh butir itu, dan juga tinggal di lokal yang sama dengan kita, ia adalah saudara kita, yakni orang di dalam gereja tempat kita tinggal. Mereka dengan kita adalah orang di dalam gereja yang sama. Tak perlu prosedur lain untuk menjadikan mereka saudara atau saudari kita; mereka adalah saudara saudari kita secara spontan. Batasan gereja lokal adalah sebatas lokal itu, namun mencakup semua orang yang sama dalam ketujuh butir itu. Cara pembagian lokal merupakan cara pembagian yang ditetapkan Allah.

Ada satu hal yang patut kita camkan, yaitu pada esensinya, gereja hanya ada satu. Iman kepercayaannya satu (bukan hanya sama), baptisannya punsatu, mereka menerima satu Roh Kudus, menjadi satu Tubuh, memiliki satu pengharapan, melayani satu Tuhan dan beroleh satu Allah sebagai Bapa mereka. Karena itu, mereka satu sama lain juga telah manunggal. Maka tak ada apa pun yang bisa menceraikan mereka. Pada esensinya gereja Allah mustahil dipisah-pisahkan. Kecuali jika ketujuh "satu" ini bisa dipisahkan, barulah gereja di dalam Roh Kudus ada kemungkinan kehilangan kesatuannya itu. Semua pemisahan buatan manusia hanya bisa tidak memelihara kesatuan ini, sehingga ia tak dapat terwujud, namun tak mungkin merusak kesatuan ini, sehingga membuatnya bubar.

Gereja Allah tetap tidak bisa dipecahbelahkan, sekalipun dengan cara pembagian lokal yang diperbolehkan Allah. Perbedaan geografis tak mungkin membuat gereja Allah terpecah belah. Mungkinkah iman kita dipecahbelahkan? Berbedakah baptisan yang kita terima? Tidak samakah Roh Kudus yang kita terima? Bolehkah Tubuh tempat kita berada dipotong-potong? Berlainankah pengharapan kita? Bukankah Allah Bapa dan Tuhan kita itu satu? Jika semuanya itu tak mungkin terpisah-pisahkan, gereja pun tak mungkin dipecahbelahkan. Jika secara geografis tak mungkin memisahkan semuanya itu, niscayalah secara geografis pun tak mungkin memecah belah gereja. Gereja adalah satu, seperti halnya Allah adalah satu, maka geografi mustahil memecahbelahkannya.

Kalau demikian, mengapa Allah memerintahkan kita memakai lokalitas sebagai dasar pemisahan gereja? Mengapa tidak hanya mendirikan satu gereja, melainkan mendirikan banyak gereja lokal? Ini disebabkan hal tersebut bukan mengacu kepada perpecahan pada aspek esensinya. Secara esensial gereja mustahil terpecah belah, sama seperti Allah tak mungkin terpecah belah. Namun pembagian secara lokal bukanlah pembagian secara esensial, melainkan pada administrasi, manajemen dan organisasinya. Gereja tidak hanya memiliki aspek rohani, tetapi ketika ia masih berada di bumi dan merangkum begitu banyak orang, dengan sendirinya ia perlu ada organisasi, manajemen dan administrasi. Karena seluruh umat milik Tuhan di dunia mustahil tinggal di satu lokal dan bersidang di satu lokal; pada aspek organisasi, manajemen, dan administrasinya tak dapat tidak terbagi-bagi menjadi gereja-gereja. Itulah gereja-gereja lokal dalam Alkitab. Itulah alasan Allah yang dengan khusus menetapkan lokalitas sebagai batasan gereja-gereja.

Kita harus jelas, bahwa esensi gereja-gereja ini mutlak sama. Bukan di sebuah gereja lokal ada sejenis unsur, sedangkan di gereja lokal lain ada sejenis unsur lain; mereka mutlak sama. Yang berlainanhanya lokal tempat mereka berada. Selaku orang Kristen, pada esensinya kita telah mendobrak semua batasan sehingga tiada lokal apa pun yang dapat membatasi kesamaan dan kesatuan kita. Tetapi pada aspek lainnya, kita masih sebagai manusia dan tinggal di dalam daging, dan masih hidup di dalam waktu, karena itu kita tak dapat tidak terkendali oleh ruang. Dalam sementara waktu ini, pada aspek urusan, kita tak dapat tidak terbatas oleh geografi. Jadi, pada aspek esensinya, gereja-gereja lokal mutlak sama dan bersatu, mustahil terpecah belah. Namun pada aspek ruang lingkupnya, mereka saling berbeda, saling mandiri dan dapat dibagi-bagi. Jadi pendirian gereja-gereja lokal bukanlah untuk memecah belah kehidupan gereja Allah, melainkan memisahkan manajemen, organisasi dan administrasinya. Alangkah mustikanya! Anak-anak Allah di mana-mana sama, tidak ada alasan geografis yang dapat membuat mereka menjadi manusia yang berbeda. Yang kita percayai sama, yang kita peroleh juga sama, dan tujuan kita kelak pun sama.

Mengapa harus dibagi dengan alasan lokalitas, bukan alasan lain? Sebab cara pembagian lain dapat "dielakkan" dan memang tidak seharusnya. Hanya cara pembagian lokalitaslah yang tak mungkin terhindarkan, bahkan seyogianya. Asalkan kita masih hidup sehari di tempat ini, maka kita tak dapat tidak terkendali oleh batas ruang. Perbedaan geografis ini alamiah, bukan ciptaan manusia. Karena itu, gereja yang bersaksi di dunia ini hanya dapat dibagi menurut lokalitas. Gereja berunitkan kaum imani, sedangkan kaum imani tidak dapat hidup di luar lokal tempat ia tinggal. Maka gereja yang terbentuk oleh kesatuan kaum imani pun tak mungkin tidak terkendali oleh tempat tinggal. Itulah alasan cara pembagian lokalitas.

Tidak hanya demikian, cara pembagian lokalitas pun sahih, sedangkan cara pembagian lain bersifat kedagingan. Pendukungan terhadap tokoh/pemimpin, kesombongan etnis/suku, membanggakan kebangsaan, mempertahankan doktrin tertentu, berselisih opini, diskriminasi status sosial, kepongahan atas hal-hal adikodrati dan sebagainya, tidak ada satu yang tidak bersifat kedagingan. Karena manusia belum beroleh wahyu Allah, sehingga nampak kedagingan dirinya sendiri, maka ia tidak merasa ganjil terhadap hal-hal tersebut. Tetapi kalau orang pernah menerima penanggulangan Allah, niscayalah akan mengetahui betapa kejinya semuanya itu. Sebab itu, jika hal-hal itu yang dijadikan cara untuk pembagian gereja Allah, gereja tidak hanya akan terbagi-bagi pada ruang lingkupnya, pada esensinya pun akan terbagi-bagi. Namun pembagian secara lokalitas tidak akan melukai kehidupan gereja, sedangkan cara pembagian lainnya akan melukai kehidupan gereja. Maka cara pembagian yang lain adalah apa yang disebut Alkitab "bergolong-golongan". Hanya cara pembagian lokalitaslah yang berlaku (diperkenankan) di bumi ini.

Semua cara pembagian lain, tak dapat dihindarkan akan mempengaruhi esensi gereja, paling tidak akan membuat esensi ini tidak tertampil. Tapi cara pembagian lokalitas memenuhi kebutuhan keterkendalian hidup manusia oleh batas ruang, maka ia hanya bisa memisahkan gereja secara regional, tidak bisa mengubah gereja secara esensial. Maka pembagian lokalitas pada hakekatnya tidak berarti terpecah belah, sebab sifatnya tetap sama. Lain halnya dengan pembagian menurut cara lainnya, itu benar-benar memecah belah, sebab sifatnya telah terpengaruh. Pembagian lokalitas hanya menyentuh masalah regional tanpa ketidaksamaan yang lainnya; ketujuh keidentikan dan kesatuan tetap tidak terpecah belah dan berantakan. Jadi, hanya pembagian ini yang benar-benar bukan perpecahan. Itulah sebabnya Allah membagi-bagi gerejaNya menjadi gereja-gereja menurut cara ini. Karena itu, selanjutnya kita nampak, walau telah mengalami pembagian sedemikian, gereja tetap gereja, tidak ada perubahan. Mulanya adalah gereja Allah, kini adalah "gereja Allah di Korintus". Tetap gereja, hanya saja ditambah dengan ruang lingkup tempat ia berada.

TUJUH PEMECAHAN/PEMBAGIAN YANG TERLARANG

Meskipun Allah telah menetapkan demikian, namun manusia memiliki banyak cara pembagian berdasarkan diri manusia sendiri. Dalam sejarah gereja selama dua ribu tahun, manusia justru menemukan banyak cara baru untuk membagi (memecah belah) gereja Allah. Alkitab tidak hanya dari segi positif mewahyukan kepada kita, bahwa gereja dibangun dengan ruang lingkup apa, juga dari segi negatif memberitahu kita, gereja tidak dapat dibagi/dipecah-belah dengan apa.

TOKOH ROHANI

Surat I Korintus 1:12 mengatakan, "Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus." Ayat 13 mengatakan, "Adakah Kristus terbagi-bagi?" Di sini Paulus berkata, bahwa mereka dalam kedagingan dan tidak benar. Mereka ingin memecah belah gereja Allah. Dengan cara apakah mereka memecah belah gereja Allah? Mereka memecah belah menurut beberapa rasul yang dipakai Allah. Dengan kata lain mereka memecah belah gereja Allah dengan beberapa tokoh rohani. Ingatlah, ini bukan dasar pendirian gereja dalam Alkitab. Dalam Alkitab adanya gereja di Korintus atau gereja di Efesus memang diperbolehkan. Adanya beberapa gereja di Galatia juga diperbolehkan, sebab mereka adalah tempat/lokal yang berbeda, maka boleh ada gereja yang berbeda. Bukankah Kefas itu baik? Ya, ia dipakai oleh Allah. Bukankah Apolos itu baik? Ya, dialah tokoh yang sangat bergairah. Bukankah Paulus itu baik? Ya, dialah rasul yang banyak menderita susah. Walaupun mereka semua baik, tetapi Allah tidak mengijinkan gereja berpecah belah karena mereka. Tak peduli betapa rohaninya mereka, betapa dipakainya mereka oleh Allah, dan betapa mereka banyak menderita susah bagi Allah, Allah hanya mengijinkan gereja dibagi menurut lokalitas, tidak mengijinkan gereja dibagi menurut tokoh ini atau tokoh itu. Semua perpecahan menurut raksasa rohani atau tokoh yang dipakai Allah secara besar-besaran, tidak diperkenan Allah. Di sinilah kita nampak penyebab kegagalan banyak orang Kristen.

Penyanjungan terhadap manusia merupakan kecenderungan alamiah manusia dalam kedagingan. Karena orang atau tokoh yang disanjung berbeda dengan yang lain, maka mudahlah timbul sikap bergolong-golongan. Di antara Paulus, Kefas dan Apolos, karena mereka masing-masing adalah hamba Allah, tentu tidak terdapat ketidaksatuan atau ketidakrukunan. Tetapi, para penyanjung merekalah yang telah memecah belah mereka, membuat mereka menjadi alasan perpecahan.

Banyak nasihat tokoh-tokoh rohani memang sangat mustika. Wahyu yang mereka miliki memang sangat menggerakkan kita. Kehidupan iman mereka pun patut dipuji dan ciri-ciri mereka yang melayakkan mereka dipakai Allah memang dapat mendorong semangat kita. Mereka memang memiliki kualifikasi yang baik untuk menjadi pemimpin rohani. Tetapi, Allah tidak mengijinkan mereka menjadi dasar pendirian gereja. Dalam Alkitab hanya ada satu dasar yang sah, yakni perbedaan lokal, bukan perbedaan tokoh rohani yang disanjung.

ASAL USUL KESELAMATAN

Ayat ini juga memberi kita satu ajaran lain, yakni perpecahan itu dikarenakan asal usul keselamatan mereka berbeda. Ada yang diselamatkan karena penginjilan Kefas, lalu mengira aku adalah dari golongan Kefas. Ada yang beroleh selamat melalui khotbah Apolos, lalu mengira dirinya dari golongan Apolos. Ada yang beroleh selamat karena penginjilan Paulus, lalu menganggap dirinya milik Paulus. Namun, menurut Alkitab, tidak saja tidak boleh berpecah belah dengan alasan menjadi milik tokoh rohani tertentu, juga tidak boleh berpecah belah dengan alasan diselamatkan melalui siapa. Gereja Allah hanya boleh terbagi karena perbedaan geografis, tidak boleh karena alasan perbedaan asal usul keselamatan itu.

Alangkah spontan dan umumnya orang berpikir: aku beroleh selamat melalui orang atau "gereja" anu, dengan sendirinya aku milik orang atau "gereja" anu. Tetapi dalam Alkitab hanya ada gereja lokal, tidak ada gereja misi. Alangkah spontan dan umum pula orang atau "gereja" yang menyelamatkan orang menganggap jiwa-jiwa yang diselamatkan seyogianya menjadi milik "gereja"nya. Sungguh disayangkan, mereka tidak menyadari, bahwa semua pekerjaan adalah untuk mendirikan gereja lokal. Semua hasil pekerjaan pun untuk gereja lokal, bukan untuk diri sendiri. Setiap pribadi maupun lembaga yang bekerja hanya patut menjadi orang yang melayani gereja lokal, tidak seharusnya menjadi tuan/majikan suatu gereja independen.

AKU DARI GOLONGAN KRISTUS

Ada sebagian orang tidak berkata, "Aku dari golongan Kefas", atau "Aku dari golongan Apolos", atau "Aku dari golongan Paulus", mereka berkata, "Aku dari golongan Kristus." Maksud mereka mungkin mengira orang lain penuh dengan konsepsi sekte, itu tidak benar, maka mereka tidak mau dimiliki siapa pun, mereka mengaku milik Kristus, dari golongan Kristus. Dengan demikian mereka menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sebab mereka mengira mereka milik Kristus, yang melampaui Kefas, Apolos, maupun Paulus; mengira orang lain punya sekte, mereka tidak punya sekte; mereka tidak menjadi milik siapa pun selain Kristus. Walau orang lain juga milik Kristus, tapi juga menjadi milik orang lain. Mereka mencela orang lain bergolong-golongan di atas Tubuh Kristus, dan mereka tidak mau mengikuti perbuatan itu. Mereka berkata, "Kami adalah orang-orang milik Kristus, dan jauh berbeda dengan kalian."

Namun, Allah pun menegor mereka sebagai orang berdosa. Mengapa? Bila seseorang hanya menjadi milik Kristus saja tidaklah salah, malah itu sangat penting. Bila seseorang tidak mau bergolong-golongan seperti orang-orang lainnya yang bergolong-golongan, itu sangat mustika. Bila seseorang menolak mengambil bagian dalam sekte/denominasi apa pun, tetapi hanya ingin menjadi orang Kristen sederhana, itu adalah hal yang paling baik. Tetapi, di sini ada orang yang dihakimi juga oleh Allah, sebab walaupun nampaknya ia menentang perpecahan, namun tanpa disadari ia sendiri pun menjadi sekte; ia telah terperosok ke dalam dosa yang disalahkannya sendiri.

Apa sebabnya demikian? Sebab Anda berkata, "Aku dari golongan Kristus". Apakah orang lain bukan? Jika Anda berkata, "Aku dari golongan Kristus" hanya untuk menyatakan opini Anda terhadap sekte, itu boleh saja. Tetapi jika Anda berkata, "Aku dari golongan Kristus", untuk menyatakan perbedaan diri Anda dengan orang Kristen lain, itu tidak benar. Ide Anda untuk membedakan anak-anak Allah seperti itu berasal dari sekte yang lahir dari kedagingan. Membedakan/memisahkan anak-anak Allah itulah sekte. Meninggalkan sekte berarti tidak lagi membedakan/memisahkan anak-anak Allah. Jika Anda mengira orang lain itu sekte, lalu memisahkan atau membedakan diri Anda sendiri karena Anda menganggap diri sendiri milik Kristus, itu juga sekte. Tak peduli Anda dengan apa membedakan/memisahkan anak-anak Allah, dengan Kristus sekalipun, Anda adalah sekte.

Yang bagaimanakah baru benar? Segala pembedaan/pemisahan adalah salah, yang benar adalah merangkum seluruhnya. Tidak ada sekte tentu tidak ada perbuatan pembedaan/pemisahan, dan tentu akan ada sikap yang merangkum seluruhnya. Sekte yang berbentuk jelas keliru; kita harus sama sekali tidak ada bagian dalam sekte atau kesektean. Tetapi apabila kita dengan sikap "aku dari golongan Kristus" membedakan/memisahkan anak-anak Allah, dan berkata, "Orang lain bersekte, kita tidak bersekte; mereka milik sekte anu, kita adalah milik Kristus", sikap demikian itu sudah berarti sekte.

Memang kita adalah milik Kristus, tetapi persekutuan kita tidak terbatas pada orang-orang yang berkata, "Kita adalah milik Kristus" itu saja, melainkan seluruh orang yang menjadi milik Kristus. Jadi bukan hanya dengan orang yang berkata, "Aku milik Kristus", melainkan semua orang yang milik Kristus. Walaupun mereka ada yang berkata, "Aku milik Paulus", "Aku milik Kefas", atau "Aku milik Apolos", tetapi pada hakekatnya mereka adalah milik Kristus. Tak peduli mereka pada lahirnya bersekte atau tidak, kita hanya bertanya: apakah mereka milik Kristus atau bukan. Kalau mereka benar-benar milik Kristus, mereka adalah saudara kita.

Perkataan "aku dari golongan Kristus" tidak salah, tetapi jika perkataan ini dijadikan batasan untuk memisahkan anak-anak Allah, itu keliru. Persekutuan kita harus mencakup seluruh orang Kristen yang ada di satu lokal, bukan sebagian orang Kristen yang "non-sekte" di satu lokal. Semua orang Kristen yang ada di lokal itu adalah orang dalam gereja kita. Mereka boleh melakukan pembedaan antar sekte, tapi kita tak boleh melakukan pembedaan "non-sekte". Mereka boleh memisahkan anak-anak Allah, tapi mana boleh kita memisahkan mereka karena mereka memisahkan anak-anak Allah? Mereka juga anak-anak Allah! Mereka keliru, sebab mereka adalah orang pertama yang melakukan pemisahan. Jika kita adalah orang kedua yang melakukan pemisahan, tidakkah kita juga keliru? Kalau mereka memisahkan orang lain itu salah, maka kalau kita memisahkan mereka bukankah kita juga bersalah?

Dasar Allah mendirikan sebuah gereja adalah satu lokal. Maka orang-orang Kristen di satu lokal adalah orang-orang dalam satu gereja, hal ini tak dapat berubah selamanya. Satu "kota" adalah batasan gereja. Kita tak dapat mengubahnya menjadi: orang-orang Kristen yang non-sekte di satu lokal barulah orang-orang dalam satu gereja. Bila kita tidak menjadikan lokal sebagai batasan gereja, melainkan dengan non-sekte atau meninggalkan sekte sebagai batasan, maka kita sudah kehilangan sifat lokal, dan sudah merupakan satu sekte pula. Jadi yang benar adalah gereja lokal (yang mencakup seluruh orang Kristen di lokal itu), bukan "gereja" sekte/denominasi, pun bukan "gereja" sekte yang non-sekte.

Karena itu, sikap orang Kristen haruslah merangkum bukan membedakan. Kita harus merangkum semua orang Kristen, baik yang bersekte maupun yang non-sekte, bukan membedakan yang tanpa sekte atau yang membuang sekte. Di suatu lokal, barangsiapa membedakan anak-anak Allah, ialah sekte. Kita harus jelas, bahwa pekerjaan kita adalah mendirikan gereja lokal, bukan mendirikan gereja yang non-sekte. Perbedaan di sini jauhnya tak terukur dengan kilometer. Gereja lokal memang tanpa sekte, tapi gereja yang non-sekte adalah sekte. Gereja di Korintus itu benar, tetapi di tengah-tengah Korintus orang berkata, "Aku dari golongan Kristus", itu salah. Pekerjaan kita haruslah mendirikan gereja lokal secara positif dan konstruktif, bukan menarik orang keluar dari sekte/denominasi secara negatif dan destruktif.

Kini ada satu hal yang sangat penting: melalui usaha pelayanan sekerja kita di berbagai tempat selama tahun-tahun ini, syukur kepada Allah, tidak sedikit orang yang menerima kesaksian kita. Tetapi karena kita sendiri tanpa sekte, maka mereka yang menerima kesaksian kita dengan sendirinya tidak memasuki sekte, ada pula yang keluar dari sekte. Ini memang benar, tapi di sinilah bahayanya. Bila hati seseorang tidak mengandung hati Kristus yang mengasihi gereja, ia tidak mungkin memiliki hati yang mengasihi saudara. Dengan spontan ia tidak melihat, bahwa seluruh orang Kristen di lokal itu adalah saudara-saudara kita, tetapi ia hanya nampak orang yang tidak bersekte saja sebagai saudara-saudara kita. Jika demikian, orang akan sangat mudah mengira, bahwa kita mendirikan gereja yang non-sekte, tidak memahami bahwa tujuan kita adalah mendirikan dan membangun gereja lokal. Kita mutlak bukan mendirikan dan membangun gereja yang non-sekte. Non-sekte (non-denominasi) bukan alasan yang cukup baik yang boleh kita pakai sebagai dasar pendirian gereja. Hanya ada satu alasan yang cukup baik, yakni lokal. Karena itu, kita harus memperhatikan, agar saudara-saudara di tiap lokal nampak kebenaran gereja lokal, dan jangan memperhatikan masalah sekte. Kita harus menunjukkan kepada mereka, bahwa ruang lingkup persekutuan yang Alkitabiah adalah seluruh kaum imani di lokal itu, bukan kaum imani yang non-sekte di lokal itu. Setiap kali mereka menyebut "kita" haruslah merangkum seluruh saudara di dalam Tuhan, bukan hanya merangkum saudara yang bersidang dengan mereka saja. Begitu kita menyebut "saudara kita", tapi "kita" nya bukan mengacu kepada seluruh saudara, hanya mengacu kepada saudara-saudara yang bersidang bersama kita, itu berarti kita sendiri adalah sekte. Kita harus belajar mengurangi berkata "saudara kita", tetapi banyak memperhatikan "saudara di dalam Tuhan". Membangun gereja lokal barulah pekerjaan kita.

Saya tidak berkata, bahwa sekte itu benar, saya pun tidak berkata, kita tidak perlu meninggalkan sekte. Tapi saya berkata, bahwa menarik orang keluar dari sekte bukanlah pekerjaan kita. Pekerjaan kita adalah sama seperti yang dilakukan para rasul dulu yakni mendirikan gereja lokal. Kita perlu membimbing orang mengenal Tuhan, mempersembahkan diri kepada Tuhan, belajar menaati Tuhan dan mohon Tuhan memberi terang agar bisa menempuh jalan di dalam Roh Kudus sambil menolak perbuatan daging. Jika demikian, Anda akan nampak, Anda tak perlu menyinggung masalah sekte, tapi Roh Allah sendiri akan memimpinnya menanggulangi masalah ini. Jika seseorang tidak belajar hidup dalam Roh Kudus, dan taat kepada Allah karena mengenal Dia, walau ia telah meninggalkan denominasi, apakah faedahnya? Gereja kita harus merangkum lokal tempat kita berada, dan merangkum seluruh orang Kristen di lokal itu. Semua cara pembagian orang Kristen lainnya tidak diijinkan Allah.

PERBEDAAN DOKTRIN

Galatia 5:20 mengatakan, ". . . roh pemecah" (bahasa aslinya: sekte). Dalam ayat ini tercantum banyak perbuatan daging yang tidak diperkenan dan ditolak Allah. Satu di antaranya ialah "sekte" (dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan "roh pemecah"). Dalam bahasa Yunani berarti "berpecah belah menjadi sekte karena berbeda doktrin dengan orang lain". Sedangkan J.N. Darby menerjemahkannya menjadi "berbeda opini". Istilah ini tidak mesti berarti ajaran-ajaran serong, melainkan mengacu kepada ajaran yang berbeda dengan ajaran orang lain, atau berarti "mencipta perbedaan". Dalam bahasa aslinya belum tentu mengacu kepada kesalahan. Hanya karena aku mempunyai ajaran-ajaran tertentu yang berlainan dengan ajaran orang lain, maka aku berpisah dengan orang lain. Boleh jadi ajaranku benar atau boleh jadi ajaranku salah; tetapi penekanannya di sini bukan masalah benar atau salah, melainkan berpecah belah dengan orang karena perbedaan ajaran tersebut. Di sini sama sekali tidak terkandung masalah benar atau salah, yang ada hanya perpecahan akibat perbedaan ajaran.

Di sini kita segera menemukan satu pelajaran, yakni Allah juga tidak mengijinkan orang berpecah belah karena perbedaan ajaran. Sebagai contoh: ada anak-anak Allah yang percaya keterangkatan kaum imani terjadi sebelum kesusahan besar, ada pula yang percaya hal itu terjadi sesudah kesusahan besar; ada yang percaya pembaptisan harus diselam ke dalam air, ada pula yang percaya dipercik saja sudah boleh. Kita tidak boleh karena ini lalu berpecah menjadi dua kelompok; itu tidak diijinkan Allah. Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat dijadikan alasan kaum imani untuk berpecah menjadi dua gereja. Satu-satunya alasan yang Alkitabiah untuk mendirikan sebuah gereja ialah satu lokal baru. Bila kita tiba di satu lokal, tidak boleh ada dua gereja. Jika lokalnya satu, gerejanya pun satu. Jika kita tinggal di Korintus, ialah gereja di Korintus. Jika kita tinggal di Efesus, ialah gereja di Efesus. Jika kita tinggal di kota A, ialah gereja di kota A. Jika kita tinggal di kota B, ialah gereja di kota B. Perpecahan karena perbedaan doktrin yang mengakibatkan adanya lebih dari satu gereja di satu lokal, tidak diijinkan Allah. Bukan hanya ajaran sesat, ajaran sehat pun, tidak diijinkan Allah menjadi batasan perpecahan dan sebagai alasan perpecahan.

Dengan sendirinya, pada aspek pelaksanaannya banyak kesulitan. Betapa banyaknya pergesekan akan terjadi bila banyak orang yang berbeda opini berhimpun di dalam satu gereja. Alamiah/daging manusia memang senang menghimpun orang yang seopini menjadi satu kelompok, dan mengucilkan orang yang berbeda opini di luar pintu. Namun, Allah tidak setuju demikian. Berkumpulnya orang-orang yang berbeda opini memang membuat daging menderita, tetapi itu berfaedah terhadap hidup rohani. Allah tidak mengatasi kesulitan itu dengan cara memisahkan mereka, melainkan menghendaki anak-anak Allah banyak belajar saling mengasihi, saling tenggang rasa dan sabar. Dalam situasi demikian, Anda akan nampak, jika tidak ada kasih, tentu akan timbul kegusaran; jika tidak ada tenggang rasa, pasti akan timbul pertikaian; dan jika tidak ada kesabaran, pasti akan bubar berantakan. Boleh jadi apa yang Anda percayai itu benar, tetapi sekarang yang penting adalah benar tidaknya kasih Anda. Boleh jadi pengetahuan Anda tidak salah, tetapi sekarang yang penting adalah kasih Anda salah atau tidak. Betapa mudahnya satu orang imani dipenuhi oleh ide dan pengetahuan rohani tanpa sikap dan kehidupan rohani sedikit pun. Maka orang-orang yang berbeda opini atas doktrin di dalam gereja lokal akan menelanjangi Anda, apakah kerohanian Anda hanya di atas kepala (otak), atau di dalam hati. Apakah yang Anda hayati dalam kehidupan lebih banyak daripada yang Anda ketahui, atau sebaliknya?

Dalam Roma 14 kita nampak bagaimana sikap kita seharusnya terhadap seorang saudara yang berbeda pandangan terhadap doktrin tertentu. Andaikata hari ini kita melihat orang Kristen yang pantang makan daging, atau yang memelihara hari Sabat, bagaimana reaksi kita? Mungkin kita tak tahan untuk hadir bersamanya dalam satu gereja. Namun, baginilah perintah Allah: "Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya . . . siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri . . . Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!" Inilah sikap kita yang dikehendaki Allah. Betapa bedanya itu dengan sikap kaum imani hari ini! Oh, inilah kelapangan dada orang Kristen! Inilah toleransi orang Kristen! Alangkah kasihan, hari ini justru banyak orang yang terlampau gairah terhadap doktrin, asal melihat orang yang imannya berbeda dengannya, segera menganggapnya bidah atau ajaran sesat, dan menjauhinya seolah air bah dan binatang buas. Namun Allah menghendaki anak-anakNya "hidup (bersikap) menurut tuntutan kasih" (ayat 15). Ini sangat mustika!

Tetapi ini tidak berarti, bahwa di dalam sebuah gereja lokal setiap orang imani boleh bertindak menurut kemauannya sendiri, dan percaya kepada apa yang dibenarkan oleh dirinya sendiri. Hanya saja cara penanggulangannya bukan menolak, mengucilkan atau keluar dan mendirikan kelompok lain, melainkan dengan pengajaran yang tekun dan sabar, agar "semua mencapai kesatuan iman" (Ef. 4:13). Jika tidak terlaksana dalam waktu singkat, haruslah sabar menanti waktu Allah. Pada saat Anda menanti, mungkin Allah akan merahmati orang yang menentang Anda, atau mungkin Anda sendiri akan beroleh rahmat sehingga menyadari, bahwa diri Anda bukan seorang pelayan sebaik itu, seperti yang Anda bayangkan sendiri. Sangat jarang ada satu kasus yang menguji seorang pengajar seperti tentangan orang terhadap ajarannya!

Surat Filipi harus kita baca secara khusus. Jika kaum imani dapat menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, rendah hati, yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan . . . niscayalah kita akan memelihara kesatuan gereja di satu lokal tanpa timbul perpecahan.

Masih ada beberapa cara lagi yang juga tidak diijinkan oleh Allah. Mari kita baca I Korintus 12:13, "Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh." Di sini kita nampak gereja juga tidak boleh terpecah belah karena:

ETNIS (SUKU BANGSA)

Gereja adalah satu Tubuh, dan di dalam Tubuh ini semuanya mempunyai hubungan hayat yang tidak dapat dipecahbelahkan. Perbedaan etnis atau suku bangsa di dunia sangatlah hebat. Misalkan sukuisme pada orang Yahudi. Mereka menganggap setiap orang bukan Yahudi sama dengan anjing, sebagai keturunan hina, sampai-sampai makan bersama pun mereka enggan. Namun Paulus menunjukkan kepada kita, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani telah menjadi satu Tubuh di dalam Kristus. Menurut Alkitab, gereja tidak dapat dipecah belah menurut tokoh rohani, atau menurut asal usul keselamatan, atau dengan mengaku dari golongan Kristus sebagai golongan unggul, atau dengan perbedaan doktrin. Menurut Alkitab gereja pun tidak dapat dipecah belah karena perbedaan etnis. Bila dipecah belah menurut etnis, itu bukan lagi gereja. Segala perbedaan di dalam Adam telah lenyap karena keberadaan kita di dalam Kristus. Gereja berada di dalam Kristus. Gereja yang universal adalah tunggal, gereja lokal adalah yang berbatas lokal. Maka gereja etnis tidak bisa masuk ke dalamnya.

Dewasa ini, di tempat-tempat yang dihuni oleh macam-macam etnis, ada yang mendirikan gereja orang kulit putih, gereja orang kulit hitam, atau gereja orang Asia, gereja orang Barat, semua itu disebabkan ketidakjelasan mereka, bahwa gereja beruanglingkupkan "kota" atau lokal. Selain karena perbedaan lokal, Allah tidak mengijinkan orang mendirikan gereja yang berbeda karena perbedaan warna kulit, adat istiadat atau cara kehidupan. Sebaliknya, Allah menghendaki semua orang itu berhimpun bersama dalam satu gereja lokal, dan menyatakan bahwa hayat AnakNya dan Roh Kudus mampu mendobrak segala batasan alamiah manusia. Semua yang berasal dari Adam, tidak ada satu pun yang tidak dapat dibasmi di dalam Kristus. Lokal adalah ruang lingkup gereja. Di sebuah lokal yang sama, tidak ada satu alasan pun yang patut diajukan untuk memecah belah anak-anak Allah. Jadi, segala masalahnya tergantung pada apakah Kristus mampu menumpas segala sesuatu yang di dalam daging. Siapakah yang lebih berkuasa? Adam atau Kristus? Yang manakah yang lebih perkasa di atas diriku? Aku kini hidup di dalam daging atau di dalam Kristus? Dapatkah segala perbedaan karena kedagingan tenggelam di dalam Kristus oleh karena Kristus? Apakah di dalam gereja ada kedudukan daging?

KEWARGANEGARAAN

Pada orang Yahudi dan Yunani tidak saja ada masalah etnis, juga ada masalah kewarganegaraan. Tetapi baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik orang Cina maupun orang Amerika semuanya telah menjadi satu Tubuh di dalam Kristus. Kita tidak boleh berpecah belah menurut etnis, kita juga tidak boleh berpecah belah menurut kewarganegaraan. Semua orang yang tinggal di lokal (kota) itu, tak peduli ia warga negara apa, asal ia memiliki hayat Kristus, ia adalah orang dalam gereja itu. Jika ia tinggal di tempat lain, tak peduli ia warga negara apa, ia adalah orang dalam gereja lain. Dalam Alkitab hanya ada gereja lokal, tidak ada gereja negara, juga tidak ada gereja negara anu di kota anu.

Karena gereja milik lokal, bila ada seorang saudara, tak peduli ia warga negera apa, pribumi atau asing, pindah (bukan pelancong) dari satu lokal ke lokal lain, maka ia adalah saudara di gereja lokal terakhir ia tinggal, tidak lagi sebagai saudara di gereja lokal terdahulu. Kewargaan gereja seseorang tidaklah ada hubungannya dengan kewargaan negaranya. Itu ditentukan oleh tempat kediamannya. Begitu ia pindah tempat tinggal, berpindah pulalah kewargaan gerejanya. Begitu ia pindah rumah maka pindah/ganti pula gerejanya. Misalkan ia pindah dari kota A ke kota B, maka kewargaan gereja sekarang adalah B, bukan A lagi. Ia tidak dapat menjadi saudara A lagi, kecuali ia pulang kembali ke A. Ia tak dapat tinggal di B, sambil menjadi saudara A dari jauh. A tidak berhak menguasai saudara yang tinggal di luar A. Jika ia seorang saudara yang pindah dari luar negeri ke sebuah lokal di dalam negeri, prinsipnya tetap sama. Gereja tidak mengenal negeri, hanya mengenal kota. Sebuah gereja hanya dapat menganggap kaum imani selokal dengannya sebagai "anggota gereja", tidak bisa mendobrak batasan lokal dan memperluas ruang lingkupnya sendiri ke lokal lain. Dengan kewarganegaraan sebagai alasan melintasi batas juga tidak boleh. Bila seorang saudara pindah ke lokal lain, ia sudah menjadi orang gereja lain. Dalam gereja selamanya tidak ada hak di luar kekuasaan. Maka perbuatan semacam lintas batas dan ada saudara di lokal lain, itu dikarenakan tidak mengetahui, bahwa batasan gereja hanya sampai pada lokal. Allah menghendaki gereja membatasi pemerintahannya pada lokal, maka kita pun hanya boleh memerintah sebatas lokal.

Sebab itu, saudara-saudara harus hati-hati. Bila Anda keluar negeri, jangan sekali-kali mendirikan gereja Cina di luar negeri. Kamar dagang Cina, sekolah Cina atau organisasi Cina itu boleh, lainnya juga boleh, tetapi tidak boleh ada gereja Cina. Gereja adalah milik lokal. Begitu Anda tiba di sebuah lokal di luar negeri, Anda segera menjadi seorang saudara di gereja lokal itu, sama halnya dengan Anda pindah dari satu lokal ke lokal lain di dalam negeri. Di dalam gereja sama sekali tidak ada masalah kewarganegaraan. Bila kewarganegaraan dimasukkan, maka gereja tak dapat tidak dirugikan. Betapa mulianya, jika di sebuah kota semua orang Kristen bisa sama sekali tidak menghiraukan dari mana asalnya, dari negeri mana, dan sama sekali tidak memperhatikan perbedaan mereka di dunia, tetapi bisa bersatu sepenuhnya di dalam Kristus! "Kita adalah orang-orang percaya Kristus di kota anu", betapa mustikanya kesatuan yang demikian!

Apakah gereja? Suatu kali ada beberapa saudara mengajukan pertanyaan ini kepada saya. Saya menjawab, "Kristus yang ada di dalam satu orang Kristen, ditambah dengan Kristus yang ada di dalam satu orang Kristen lain, ditambah lagi dengan Kristus yang ada di dalam satu orang Kristen lain, dan ditambah lagi dengan Kristus yang ada di dalam orang-orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya, lalu dikurangi Adam di dalam orang Kristen pertama, dan dikurangi lagi Adam di dalam orang Kristen kedua, dan dikurangi lagi Adam di dalam orang Kristen ketiga, dan dikurangi lagi Adam di dalam orang-orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya, maka kesatuan orang-orang yang demikianlah yang disebut gereja." Hari ini, saya layak berada di dalam gereja, karena di dalam saya ada Kristus. Hari ini, Anda layak berada di dalam gereja, juga karena di dalam Anda ada Kristus. Baik Anda orang kulit putih, baik Anda orang kulit hitam, baik Anda orang apa, baik Anda orang negeri lain, Anda bisa beroleh bagian di dalam gereja karena Kristus yang ada di dalam Anda, sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri Anda sendiri. Maka etnis dan kewarganegaraan bukan masalah, dan tidak seharusnya menjadi masalah. Seluruh masalahnya adalah: di dalam Anda ada Kristus atau tidak? Di manakah Anda tinggal? Ada tidaknya Kristus di dalam Anda menentukan apakah Anda berada di dalam gereja. Tempat tinggal Anda menentukan Anda berada di gereja mana. Terhadap orang dunia Allah menanyakan, "Apakah ia milik Kristus," tetapi terhadap kaum imani Ia menanyakan, "Di manakah ia berada." Jadi perihal etnis dan kewarganegaraan tidak menjadi masalah.

STATUS SOSIAL

Masalah status sosial juga tidak cukup menjadi alasan untuk memecah belah gereja. Tak peduli Anda orang merdeka atau budak, di dalam Kristus sudah menjadi satu Tubuh. Pada masa Paulus, masa itu berada di bawah kekuasaan Roma. Semua budak tidak ada hak kebebasan dan tidak ada perlindungan hukum; meninggal pun tidak dihiraukan orang. Tetapi setiap rakyat Roma yang merdeka tidak boleh dihukum tanpa melalui proses peradilan; berbeda dengan budak-budak yang tidak memiliki hak warganegara. Namun di dalam gereja tidak ada perbedaan orang merdeka atau budak. Kita tidak boleh mendirikan gereja "kaum sopir". Tak peduli ia sopir atau kepala negara, asal mereka orang Kristen yang tinggal di satu lokal, mereka semua adalah saudara dalam satu gereja lokal itu. Kita tidak boleh mendirikan gereja yang berbeda berdasarkan perbedaan status sosial. Selamanya tidak ada gereja para pembesar atau gereja kaum awam. Baik yang merdeka maupun budak, jika berada di satu lokal, maka sama-sama berada di dalam satu gereja, tidak ada perbedaan.

Jadi, dalam Alkitab setidak-tidaknya ada tujuh butir ajaran yang melarang berpecah belah. Jika diurut menurut ketujuh fakta tersebut, maka alasan-alasan lain pun dilarang Allah. Sebab selain menurut lokalitas, tidak ada alasan sah lainnya yang diijinkan untuk mendirikan gereja.

PARA PEMENANG DALAM GEREJA

Ruang lingkup gereja adalah lokal, manusia tak boleh memecah belahnya dengan alasan apa pun. Tetapi bila kerohanian saudara saudari di sebuah gereja lokal lesu dan hambar, bagaimanakah sikap kita? Bolehkah beberapa orang yang kerohaniannya agak baik menghimpun tiga atau lima lalu bersidang bahkan mendirikan kelompok lain? Jawaban Alkitab: tidak boleh! Allah hanya mengijinkan kita mendirikan gereja menurut lokalitas, dan tinggi rendahnya, atau baik buruknya kerohanian tidak dapat dijadikan alasan untuk berpecah belah. Andaikata mutu kerohanian dijadikan alasan perpecahan, akibatnya ialah: jika hari ini Anda tidak rohani, aku akan mendirikan sebuah kelompok lain; jika besok aku tidak rohani, dia pun akan mendirikan sebuah kelompok lain. Akibatnya, tidak lama kemudian, akan berdiri entah berapa banyak kelompok denominasi.

Bukan tingkat kerohanian saja yang tidak memenuhi syarat sebagai alasan perpecahan, organisasi, metode, administrasi . . . lokal pun tidak pada tempatnya dijadikan alasan perpecahan. Sebab Alkitab tidak mengijinkan baik buruknya administrasi atau organisasi sebagai syarat perpecahan. Alkitab hanya mengijinkan pemisahan menurut lokalitas. Hanya ada satu alasan dalam Alkitab yang mengijinkan pemisahan, yakni menurut perbedaan batasan lokal, kecuali ini, tidak ada alasan apa pun yang diijinkan bagi gereja untuk berpecah belah.

Entah kebenaran yang diyakini orang di sebuah gereja lokal berbeda dengan Anda, atau doktrin tentang pencurahan Roh Kudus yang mereka pegang berlainan dengan yang Anda yakini, atau tentang pemuliaan yang akan datang, atau tentang doktrin kesucian, atau tentang doktrin keselamatan kekal dan lain sebagainya, semuanya itu tidak boleh menjadi alasan perpecahan. Alkitab hanya membenarkan satu cara perpecahan, yaitu perpecahan menurut ruang lingkup lokal. Kita tidak boleh berpecah belah karena kondisi kerohanian, sistem, penafsiran doktrin dan sebagainya. Kita semua tinggal di satu lokal, karenanya kita hanya boleh berada di dalam satu gereja. Tidak mungkin kita meninggalkannya. Anda harus meninggalkan tempat/lokal itu dulu, barulah Anda bisa meninggalkan gereja lokal tersebut. Alkitab hanya mengijinkan kita meninggalkan sekte/denominasi, tidak mengijinkan kita meninggalkan gereja. Selain sekte, Alkitab tidak pernah memperlihatkan kepada kita, bahwa kita boleh meninggalkan gereja karena keadaan kerohanian atau perbedaan doktrin. "Gereja" yang bukan berbatasan lokal, melainkan dengan alasan-alasan lainnya, ialah sekte, Anda boleh meninggalkannya. Jika ia sebuah gereja lokal, Anda tak mungkin meninggalkannya. Andaikata Anda meninggalkannya karena alasan-alasan itu, maka Anda serta orang-orang yang bersidang dengan Anda adalah satu sekte, sekalipun kondisi kerohanian Anda lebih tinggi dan organisasi Anda lebih sempurna.

Dalam Wahyu 2 dan 3 ada tujuh gereja yang berlainan, namun di antaranya ada dua gereja yang dipuji Tuhan, yakni Smirna dan Filadelfia. Gereja yang lain seperti Efesus, hanya ada perilaku luaran; Pergamus ada kekeliruan doktrin; Tiatira ada kekeliruan moral; Sardis sangat mati; dan Laodikia hanya memperhatikan kemuliaan yang sia-sia. Mereka semua telah dicela oleh Tuhan. Kelima gereja itu sungguh sangat buruk. Tapi walaupun mereka lemah, mereka adalah lima gereja lokal, mereka bukan sekte. Mereka adalah gereja, hanya saja gereja yang lemah. Walau secara rohani mereka bersalah, namun secara posisi mereka tidak bersalah. Karena itu, Allah hanya memerintahkan anak-anakNya menjadi pemenang di gereja tempat ia berada, Allah tidak memerintahkan mereka meninggalkan gereja itu. Kita tak mungkin meninggalkan sebuah gereja lokal, maka bagaimanapun Anda harus berada di dalam gereja lokal itu. Jika dapat, Anda harus dengan kekuatan doa membangunkan seluruh gereja itu. Jika Anda tak berdaya mengubah seluruh gereja itu, maka Anda harus menjadi pemenang di dalamnya. Anda harus memelihara kebersihan pribadi Anda di hadapan Tuhan. Jika tidak, lebih baik Anda pindah ke tempat lain. Anda seharusnya meninggalkan sekte, sebab Alkitab menghukum sekte. Tapi Alkitab selamanya tak pernah memerintahkan Anda meninggalkan gereja lokal. Begitu Anda meninggalkan gereja lokal, Anda akan segera menjadi sekte. Maka kalau Anda ingin mengundurkan diri dari sebuah gereja, Anda harus selidiki dulu, apakah ia sebuah sekte atau sebuah gereja lokal. Jika ia adalah gereja lokal, begitu Anda meninggalkannya, Anda adalah seorang pemecah belah.

Sangat disayangkan bila di sebuah gereja lokal (bukan sekte) ada beberapa saudara saudari yang agak rohani mengadakan sidang lain, mendirikan kelompok lain karena merasa kebanyakan saudara saudari di situ terlalu hijau kerohaniannya! Mereka harus sadar, bahwa mereka tidak berwewenang bertindak demikian. Kewajiban mereka ialah menjadi pemenang di dalam gereja itu, membantu saudara saudari lainnya dan mewakili mereka berseru kepada Allah sampai Allah merahmati semua anak-anakNya. Daging manusia sangat mudah tidak memandang orang-orang yang tidak sebaik dirinya sendiri, dan sangat senang berhimpun dengan orang-orang yang setingkat dengan dirinya sendiri, menikmati saat-saat yang menggembirakan hati, sekalipun itu adalah kegembiraan rohani. Keangkuhan rohani dan kedambaan akan kegembiraan sering membuat orang-orang yang agak rohani lupa, bahwa gereja harus merangkum semua anak-anak Allah di satu lokal, sebaliknya, mereka menyeleksi (memilih) sebagian anak-anak Allah menurut kesukaannya, sehingga menciutkan persekutuan Allah. Namun hal demikian tidak diperkenan Allah. Organisasi yang demikian adalah satu sekte bukan satu gereja.

Orang yang berbuat demikian harus ingat, bahwa gereja Allah bukan tangsi tentara yang dihuni orang-orang yang berusia sebaya dan berukuran tubuh sebanding. Gereja Allah adalah sebuah keluarga, di dalamnya ada anak kecil, orang muda (remaja) dan orang tua. Anda tak mungkin di dalam gereja menemukan orang yang sama persis besar kecilnya. Karena itu, kita harus belajar memikul beban orang lain, teristimewa harus banyak melakukan doa syafaat. Tidak saja kita sendiri menjadi pemenang, harus pula dengan sekuat tenaga memimpin orang lain menjadi pemenang. Karena Anda menabur dengan air mata, Allah pasti akan membuat Anda menuai dengan sukacita!

Ruang lingkup gereja adalah lokal, maka tidak ada kemungkinan untuk meninggalkan. Lain masalahnya jika itu sekte. Pada masa Paulus dan Petrus, ketika mereka tiba di suatu tempat dan melihat gereja lemah, pernahkah mereka berkata, "Mari kita mengadakan sidang lain?" Tidak. Ingatlah: walaupun mereka lemah, mereka adalah domba-domba Tuhan. Tuhan justru datang dan mati untuk mereka. Semoga kita mau merawat domba-domba Tuhan itu!