GEREJA YANG DIDIRIKAN PARA RASUL
Para rasul pergi ke berbagai tempat bekerja. Setelah ada orang diselamatkan, di berbagai tempat itu mereka mendirikan gereja. Kemudian, mereka melantik penatua di gereja-gereja tersebut, agar para penatua itu menangani urusan gereja lokal masing-masing. Setelah itu, para rasul pergi ke tempat lain lagi. Sampai di sini, kita dapat bertanya: Gereja bagaimanakah yang didirikan rasul di antara mereka? Mengapa rasul mendirikan banyak gereja di berbagai tempat itu? Menurut Alkitab, bukankah gereja hanya ada satu, mengapa dikatakan pula bahwa rasul di berbagai tempat mendirikan gereja-gereja? Gereja adalah Tubuh Kristus, hanya satu, mengapa sekarang timbul banyak gereja? Sekarang kita akan menggunakan sedikit waktu untuk membahas masalah ini.
Makna istilah "gereja" dalam bahasa Yunani sangat sederhana, yaitu "orang-orang yang dipanggil keluar". Kelompok apakah itu? Yakni orang-orang yang dipanggil keluar, itulah yang disebut gereja. Istilah ini hanya muncul dua kali dalam keempat kitab Injil, masing-masing dalam Matius 16 dan 18. Kecuali itu tidak pernah disinggung lagi. Memang istilah ini banyak terdapat dalam kitab Kisah Para Rasul. Tetapi dalam keempat kitab Injil hanya dipakai dua kali, diucapkan oleh Tuhan sendiri, dan kedua kali itupun dipakai secara berbeda.
GEREJA DAN GEREJA-GEREJA
Matius 16:18 mengatakan, "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gerejaKu . . ." Gereja apakah ini? Di sini, "batu karang" mengacu kepada "Kristus" sendiri. Petrus mengakui Tuhan adalah Kristus dan Anak Allah, maka gereja justru dibangun di atas "batu karang" ini. Tuhan akan mendirikan gereja di atas kesaksian Dia sebagai Anak Allah (statusNya sendiri) dan Kristus Allah (pekerjaanNya sendiri). Ia akan mendirikan gerejaNya di atas batu karang ini. Gereja yang demikian meliputi segenap orang yang memiliki hayat Allah, orang yang ditebus oleh darah adi Tuhan Yesus, orang yang dilahirkan ulang oleh Roh Kudus, semua orang yang berpaling ke dalam nama Tuhan di segala jaman dan seluruh dunia. Ini adalah gereja yang universal, gereja Allah yang tunggal. Gereja ini adalah Tubuh Kristus.
Ini jauh berbeda dengan gereja dalam Matius 18:17. "Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada gereja. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan gereja, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai." Di manakah letak perbedaan antara gereja di sini dengan gereja terdahulu? Sudah pasti ruang lingkup gereja dalam pasal 18 tidak sebesar ruang lingkup gereja dalam pasal 16. Gereja dalam pasal 16 tidak mengenal batas waktu dan ruang; segenap umat milik Tuhan termasuk di dalamnya. Gereja dalam pasal 18 adalah gereja yang bisa menanggapi laporan Anda. Gereja dalam pasal 16 mencakup seluruh anak-anak Allah, sedang gereja dalam pasal 18 hanya mencakup anak-anak Allah yang tinggal setempat dengan Anda. Karena setempat, maka bisa timbul masalah, dan Anda boleh menyampaikan masalah itu kepada gereja setempat itu. Jadi gereja dalam pasal 18 bukan mengacu kepada gereja yang universal, melainkan mengacu kepada gereja di satu lokal. Hanya kepada gereja yang menetap di satu tempat yang sama dengan Anda barulah Anda bisa menyampaikan suatu persoalan kepada mereka. Jika itu gereja universal, mungkinkah Anda menghimpun seluruh anak-anak Allah dan menyampaikan masalah Anda kepada mereka? Maka gereja semacam ini adalah gereja yang ada di tiap-tiap lokal, berbentuk jamak.
Jadi jelaslah, bahwa gereja terbagi dalam dua aspek: pertama adalah gereja yang unik, tunggal; dan yang kedua adalah gereja di tiap-tiap lokal. Yang pertama adalah gereja, yang kedua adalah gereja-gereja. Gereja itu tak berbentuk, sedang gereja-gereja itu berbentuk. Gereja yang universal itu tanpa struktur (organisasi), gereja-gereja itu berstruktur. Kita semua mengetahui adanya gereja universal, tetapi kita tidak tahu bagaimana bentuknya. Sebab ia rohani, tidak berupa dan tidak berbentuk. Namun, gereja-gereja lokal itu kelihatan dan ada bentuknya. Kalau gereja universal adalah yang hayati, adalah satu kesatuan yang organik, maka gereja-gereja di tiap lokal adalah yang berbentuk, karena itu, ada struktur organisasinya, di sana ada para penatua dan diaken.
Problem yang timbul dalam gereja dewasa ini, semua tidak terjadi pada gereja universal, tetapi pada gereja-gereja lokal. Sebab gereja universal itu tanpa bentuk/rupa, dan bersifat rohani, maka manusia tak dapat campur tangan. Tetapi gereja-gereja lokal berbentuk, berstruktur, maka bisa mengalami banyak masalah. Anda tidak pernah mendengar orang berselisih atas surat Efesus, sebab surat tersebut membahas masalah rohani. Tetapi banyak perselisihan akan timbul bila orang membaca surat Korintus; ada yang mengatakan itu perkara yang sudah berlalu, ada pula yang mengatakan ini atau itu tak benar. Karena surat Korintus khusus menanggulangi gereja-gereja lokal yang berbentuk. Gereja semacam ini sangat praktis, dan tertampak dalam hidup sehari-hari. Maka gereja universal yang tanpa bentuk, rohani dan adikodrati itu, tidak terhitung sebagai ujian ketaatan kita; sebaliknya, gereja-gereja lokal yang berstruktur itulah yang menjadi ujian ketaatan kita.
DASAR PENDIRIAN GEREJA-GEREJA
Bagaimanakah gereja terbagi menjadi gereja-gereja? Bagaimanakah gereja tunggal dalam Alkitab itu terbagi menjadi banyak gereja? Alkitab menyebut gereja sebagai "gereja Allah" (I Kor. 10:32). Gereja ini berbentuk tunggal. Gereja Allah hanya satu. Tetapi dalam I Tesalonika 2:24 dikatakan pula "gereja-gereja Allah". Pada satu aspek disebut gereja Allah, hanya satu; pada aspek lain dikatakan gereja-gereja Allah, berarti tidak hanya satu. Mengapa Alkitab mengatakan gereja Allah hanya satu, lalu mengapakah pula gereja Allah tidak hanya satu? Satu menjadi banyak, gereja tunggal menjadi gereja jamak; bagaimanakah proses perubahannya? Dengan cara apakah Alkitab membagi gereja menjadi gereja-gereja?
Setelah membaca Alkitab, kita menjadi jelas, bahwa gereja tunggal terbagi menjadi gereja-gereja, tak lain karena adanya perbedaan lokal. Dengan perbedaan lokal inilah Allah membagi gereja tunggal itu menjadi banyak gereja. Jadi mendirikan gereja menurut lokal adalah cara satu-satunya dalam Alkitab, dan itupun adalah alasan satu-satunya yang diperkenan Alkitab.
Bagaimanakah cara memisahkan gereja-gereja dalam Alkitab? Misalkan pada kitab Wahyu pasal 2 dan 3, ada gereja di Efesus, gereja di Smirna, gereja di Pergamus, gereja di Tiatira, gereja di Sardis, gereja di Filadelfia dan gereja di Laodikia. Mereka terbagi menjadi tujuh gereja karena perbedaan lokal (berbedanya tempat tinggal kaum imani). Jadi gereja-gereja itu terpisah karena perbedaan lokasi. Efesus, . . . Laodikia, semua adalah nama tempat. Mereka adalah tujuh tempat yang berlainan, maka di situ ada tujuh gereja yang berlainan. Gereja terpisah menjadi tujuh buah, oleh sebab berbedanya satu lokal dengan lokal lain. Bukan hanya ketujuh gereja dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3 yang didirikan berdasarkan lokalitas, di tempat lainnya dalam Alkitab pun sama. Misalnya gereja di Yerusalem, gereja di Listra, gereja di Korintus, gereja di Derbe, gereja di Kolose, gereja di Troas, gereja di Filipi, gereja di Roma, gereja di Tesalonika, gereja di Antiokhia, dan lain sebagainya.
Ini disebabkan gereja Allah adalah Tubuh Kristus yang hanya satu dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Semua manusia milik kelompok ini, sama dalam segala perkara. Tetapi tempat mereka bermukim itu tidak sama. Pada hakekatnya gereja hanya satu, tak mungkin terpisahkan, sekalipun mereka terpisah karena lokalitas, tetap disebut gereja di tempat anu, tetap gereja! Secara lokal, walau gereja di tempat anu berbeda, mereka tetap gereja. Karena itu, dalam Alkitab hanya ada satu alasan yang diijinkan untuk memisahkan gereja menjadi banyak gereja yakni terpisah oleh lokal. Kecuali ini tidak ada cara lain untuk membagi gereja menjadi gereja-gereja, dan kecuali ini tidak ada cara halal atau alasan yang sudah digariskan untuk memisahkan gereja. Ini satu fakta, semoga hal ini terukir dalam kalbu kita, yaitu: gereja hanya dapat dipisahkan karena lokalitas, kecuali ini, cara atau alasan apapun berasal dari manusia dan berasal dari daging; itu tidak terdapat dalam Alkitab.
Gereja yang didirikan rasul tak lain adalah menurut lokalitas. Hasil pekerjaan mereka ialah mendirikan gereja lokal di berbagai tempat. Mereka tidak mampu mendirikan gereja yang tunggal itu, karena itu adalah Tubuh Kristus, hanya Kristus yang dapat mendirikan. Siapa pun tidak ada bagian dalam pendirian gereja itu. Namun, pendirian gereja lokal ini memang yang diamanatkan Allah kepada para rasul. Rasul seolah-olah telah memisahkan satu gereja menjadi banyak gereja. Saya tidak berkata, bahwa mereka telah terpisah dengan sesungguhnya, melainkan saya katakan "seolah-olah" terpisah. Di sini ada satu cara pemisahan yang diperbolehkan Allah.
BATASAN LOKAL
Semua gereja dalam Alkitab adalah gereja lokal. Tetapi lokal yang sebesar apa baru terhitung satu lokal? Kita harus ingat: lokal-lokal di tempat gereja ada dalam Alkitab bukan sebuah negara, sebuah propinsi atau sebuah daerah atau distrik. Dalam Alkitab, bukan tempat-tempat tersebut yang terhitung sebagai unit lokal, sebagai batasan gereja. Dalam Alkitab sama sekali tidak ada gereja negara, atau gereja propinsi, atau gereja distrik. Yang ada ialah gereja di Efesus, gereja di Roma, gereja di Yerusalem, gereja di Antiokhia, gereja di Derbe, gereja di Filipi, gereja di Ikonium, gereja di Korintus, dan seterusnya. Efesus, Roma, Yerusalem, Antiokhia, Derbe, Filipi, Ikonium, Korintus dan sebagainya, sebenarnya semua itu tempat apa? Kalau menurut istilah hari ini, ada yang sebagai pelabuhan, desa atau kota. Tetapi pada masa itu semua disebut kota, sebab pada masa itu setiap tempat pemukiman dan perlindungan, semua disebut kota. Maka pada satu aspek, Alkitab mencatat, bahwa rasul "di tiap-tiap gereja menetapkan penatua-penatua di gereja itu" (Kis. 14:23). Pada aspek lain mencatat, rasul memerintahkan Titus "menetapkan penatua-penatua di setiap kota" (Tit. 1:5). Ini disebabkan kota merupakan batasan gereja pada masa itu. "Tiap gereja" itu berada di "tiap kota". Semua tempat, seperti Efesus dan sebagainya, adalah sebuah kota. Sebab semua tempat itu adalah tempat pemukiman.
Dalam struktur yang rumit hari ini terdapat perbedaan status tempat, seperti kota metropolitan, kota propinsi, kota kabupaten, kota kecamatan, kota kecil dan seterusnya. Adakalanya sebuah kota hanya sebesar satu kecamatan, adakalanya pula sebuah kota nyaris sebesar satu kabupaten yang sekaligus berstatus propinsi (daerah istimewa). Karena itu, kita tak dapat mendefinisikan "kota" pada masa itu dengan pengertian perkotaan hari ini. Sebaliknya, kita wajib ingat, bahwa makna "kota" dalam Alkitab adalah sebuah tempat yang terlindung dan dihuni sekelompok penduduk. Maka semua perkotaan yang disebut orang hari ini pada hakekatnya identik dengan "kota" pada masa itu. Pada jaman ini walau semua disebut kota, tetapi terbagi pula menjadi kota propinsi, kota keresidenan, kota kabupaten dan sebagainya. Demikian pula pada jaman kuno.
Justru "kota-kota" inilah yang menjadi batasan gereja pada masa itu. Dalam Alkitab, tidak ada gereja yang lebih besar daripada "kota", pun tidak ada gereja yang lebih kecil daripada "kota". Jadi "kota" adalah satuan/unit lokal dalam Alkitab. Jika hari ini kita akan menentukan tempat yang bagaimana yang merupakan satu unit lokal, kita cukup bertanya, apakah tempat tersebut merupakan tempat orang bermukim bersama. Ada dua pertanyaan lagi yang dapat membantu kita: apakah tempat itu merupakan unit terendah dalam pemerintahan, dan apakah ia memiliki sebuah nama yang unik, sebuah nama paling kecil? Sebab bila kita baca kitab Kejadian, ketika Yosua membagi-bagi tanah, kita nampak bahwa kota pada masa itu adalah unit terendah dalam pemerintahan, dan tempat-tempat itu mempunyai sebutan tersendiri. Maka jika satu tempat merupakan tempat pemukiman manusia dan mempunyai sebutan tersendiri, serta merupakan unit terendah dalam pemerintahan, itulah satu unit lokal, yakni batasan lingkungan sebuah gereja lokal.
Menurut Alkitab, unit tempat pendirian gereja adalah kota tempat sekelompok penduduk bermukim bersama. Maka tempat Anda tinggal, baik itu kota propinsi, kota keresidenan, kota kebupaten, kota kecamatan, semua boleh terhitung sebagai satu lokal, tempat sebuah gereja berdiri. Jadi bukan sebesar satu kecamatan, satu kabupaten, satu propinsi atau satu negara, melainkan sebesar tempat sekelompok masyarakat bermukim bersama. Tempat seperti itulah yang menjadi batas lingkungan gereja dalam Alkitab. Gereja-gereja Allah justru dibagi menurut ruang lingkup ini. Kota besar Roma atau Yerusalem boleh terbilang satu lokal, satu unit. Kota kecil Ikonium atau Troas pun boleh terbilang satu lokal, satu unit. Lokal itu tak lain setiap tempat sekelompok orang bermukim bersama. Kecuali lokal semacam itu, dalam Alkitab tidak ada ruang lingkup lain untuk gereja.
Cara memisahkan gereja dengan lokal semacam ini benar-benar hikmat Allah, demi menghindarkan anak-anak Allah dari banyak kesulitan. Jika Allah memakai negara sebagai batasan gereja, maka batasan gereja akan sering berubah, karena negara sering berubah. Kalau negara musnah atau berubah, batasan gereja tentu harus berubah mengikutinya. Jika Allah memakai propinsi sebagai batasan gereja, ini juga sering berubah. Jika propinsi diubah, batasan gereja juga harus diubah. Bukankah ini akan menyulitkan? Itulah sebabnya Allah tidak memakai negara atau propinsi atau suatu wilayah kerja sebagai unit gereja. Seperti telah kita ketahui, batasan negara sering berubah, batasan propinsi juga sering berubah. Tetapi, batasan kota paling sulit berubah. Pengaruh politik terhadap kota/lokal, boleh dikata paling kecil, bahkan hampir tidak ada. Banyak kota, yang ratusan tahun yang lalu, batasan dan namanya, tetap sama sampai hari ini. Banyak kota yang mungkin sudah menjadi milik negara lain atau berganti pemerintahan, tetapi ia tetap sebagai kota itu, tidak berubah. Karena kota (lokal) merupakan satuan yang paling kokoh dalam politik, maka Allah menetapkannya sebagai batas lingkungan gereja lokalNya.
Gereja dalam Alkitab, pada aspek positifnya, didirikan menurut lokal. Pada aspek negatifnya, ada dua fakta, yakni gereja tidak boleh lebih kecil dari lokal, pun tidak boleh lebih besar dari lokal. Dengan kata lain, dalam Alkitab hanya ada dua jenis gereja: gereja universal, yang bukan menurut pendapat manusia, sebab bukan disusun oleh tangan manusia; dan gereja lokal, yaitu gereja di suatu lokal, yang sebesar lokal itu dan beruang lingkup lokal itu. Kecuali itu, tidak ada gereja macam ketiga; tidak ada yang lebih kecil daripadanya, pun tidak ada yang lebih besar daripadanya. Satuan gereja lokal adalah gereja paling kecil. Selain gereja universal, gereja lokal adalah gereja yang terkecil; tidak mungkin membaginya menjadi lebih kecil lagi. Bersamaan dengan itu, ia pun yang paling besar, maka mustahil orang menggabungkan beberapa gereja lokal menjadi gereja yang lebih besar. Sebab kalau begitu, ia bukan lagi sebuah gereja di satu lokal. Jadi, yang lebih kecil daripada gereja lokal bukanlah gereja lokal, yang lebih besar daripada gereja lokal juga bukan gereja lokal.
TAK DAPAT LEBIH KECIL DARIPADA LOKAL
Dalam I Korintus 1 dikatakan "gereja di Korintus". Korintus hanyalah sebuah lokal, dan gereja di Korintus pun hanyalah sebuah gereja. Maka gereja semacam ini barulah gereja satu unit. Tetapi di gereja ini, orang-orangnya bergolong-golongan sehingga terpecah menjadi empat golongan, dan orang-orang dari keempat golongan itu ingin memecah belah orang-orang dalam gereja di Korintus menjadi empat kelompok yang berbeda. Maka Paulus menegor mereka, ". . . kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?" Macam apakah keempat kelompok orang itu? Mereka tidak memenuhi syarat mendirikan gereja. Hanya semua orang di Korintus, yang dikuduskan dalam Kristus Yesus, yang terpanggil menjadi kaum saleh, yang menyeru nama Tuhan Yesus, dan yang menjadi anak-anak Allah di tempat itu, mereka barulah gereja. Korintus adalah sebuah kota, dan unit gereja adalah sebuah kota (lokal); sebuah kota metropolitan atau sebuah kota kecil. Tempat atau lokal yang sebesar kota metropolitan atau kota kecil itu baru memenuhi syarat sebagai tumpuan gereja. Kota-kota sebesar itulah baru cukup sebagai unit. Gereja yang lebih kecil daripada satu lokal tidak cukup sebagai unit, maka tidak memenuhi syarat sebagai tumpuan sebuah gereja. Sebuah gereja lokal adalah sebuah gereja yang paling kecil. Gereja tidak boleh lebih kecil lagi daripada gereja lokal. Maka jika orang ingin di dalam satu lokal mendirikan beberapa gereja, itu mutlak mustahil dan mutlak tidak diperbolehkan. Gereja di Korintus sudah gereja yang paling kecil, mustahil orang ingin membaginya menjadi empat kelompok, menjadi empat gereja. Sebuah gereja harus sebesar lokal tempat ia berada, barulah benar. Jika lebih kecil daripada lokal, itu bukan sebuah gereja, paling-paling hanya suatu perkumpulan. Gereja tidak bisa menjadi gereja jika Anda memotongnya kecil-kecil.
Orang yang mengatakan aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos atau aku dari golongan Kefas jelas telah bergolong-golongan. Orang yang mengatakan aku dari golongan Kristus, walau perkataan ini sangat mustika, tidak cukup beralasan untuk mendirikan gereja lagi, dan itu tetap perbuatan daging. Sebab perkataan itu bukan menyatakan persamaan Anda dengan anak-anak Allah di tempat itu. Orang yang mengatakan dari golongan Paulus, Apolos atau Kefas bermaksud menyatakan perbedaan mereka dengan orang Kristen setempat. Perkataan "Aku dari golongan Kristus" pada saat-saat biasa adalah perkataan yang sangat baik. Tetapi sangatlah keliru, jika perkataan tersebut dipakai untuk membedakan diri sendiri dengan anak-anak Allah lainnya. Sebab di suatu lokal Allah menghendaki anak-anakNya menjadi satu gereja. Ia tidak mengijinkan mereka di sebuah lokal membedakan diri dengan orang lain berdasarkan alasan atau cara apa pun.
Menurut Alkitab, semua anak-anak Allah yang berada bersama di satu lokal adalah saudara-saudara kita. Selain dengan ruang lingkup satu lokal, sekalipun membedakan atau mengklaim dengan alasan kita adalah khusus dari golongan Kristus, itu pun tidak diperbolehkan. Tidak peduli orang lain berada di sekte/denominasi apa, jika mereka ada terang Allah, dengan sendirinya mereka akan sadar. Jika mereka beroleh kasih karunia Allah, dengan sendirinya mereka bisa menanggulanginya. Namun jangan karena mereka berada di dalam denominasi lalu kita memandang mereka dengan sikap lain dan membedakan mereka. Jika kita berbuat demikian, berarti kita tidak membatasi gereja berdasarkan lokal, melainkan berdasarkan alasan lain. Segala sesuatu yang memotong gereja lokal menjadi kecil bukanlah gereja, dan itu adalah tindakan daging.
Tidak peduli siapa, asalkan ia ada hayat Allah dan tinggal di tempat yang sama dengan kita, dialah saudara kita; dia adalah orang yang ada bersama kita di satu gereja. Sebab batasan gereja adalah lokal. Ini adalah penyusunan Allah terhadap gereja lokal.
Ruang lingkup kita bukanlah orang-orang di satu lokal yang sama-sama mengaku "aku dari golongan Kristus", melainkan orang-orang yang "menjadi milik Kristus" di lokal itu. Saya tidak mengatakan, bahwa perkataan "kita dari golongan Kristus" itu salah. Tetapi jika perkataan ini kita ambil sebagai batas perbedaan kita dengan anak-anak Allah lainnya, itu tidak dibenarkan Alkitab. Semua orang Kristen, asalkan mereka tinggal di tempat yang sama dengan kita, sama-sama berada di satu gereja. Secara individual, saya hanya dapat menjadi satu orang milik Kristus, tidak menjadi milik denominasi apa pun. Namun saya tidak memakai perkataan itu untuk membedakan diriku dengan orang lain. Andaikan "gereja" saya tidak sebesar lokal, itu adalah perkumpulan buatan manusia, bukan gereja yang didirikan Allah.
TAK DAPAT LEBIH BESAR DARIPADA LOKAL
Di pihak lain, gereja pun tak dapat lebih besar daripada lokal; lebih besar itu tidak benar. Tidak sedikit kaum imani di Yerusalem pada masa pertama, sekali dibaptis tiga ribu orang, kemudian lima ribu orang. Tetapi Alkitab hanya menyebut mereka gereja di Yerusalem. Karena Yerusalem adalah sebuah lokal, maka di Yerusalem hanya ada satu gereja. Karena Yerusalem adalah sebuah lokal, Yerusalem hanya dapat menjadi satu unit. Jika Anda hendak memecahkan gereja, Anda harus lebih dulu memecahkan lokal. Dalam Alkitab tidak ada gereja-gereja di Yerusalem, tidak ada gereja-gereja di Efesus, tidak ada gereja-gereja di Korintus, sebab tempat-tempat itu hanya terhitung sebagai satu lokal. Jika lokal tidak dapat dibagi, gereja yang didirikan menurut lokal pun tidak dapat dibagi. Selama Yerusalem, Efesus dan Korintus adalah suatu lokal, gereja di dalamnya hanya satu.
Tetapi, dalam Alkitab pun tidak ada gereja di Makedonia, gereja di Galatia, atau gereja di Yudea, atau gereja di Galilea, sebab Makedonia adalah sebuah propinsi; Galatia juga sebuah propinsi; Yudea adalah sebuah daerah; demikian pula Galilea. Dalam propinsi atau daerah tersebut entah tercakup berapa banyak lokal. Propinsi dan daerah bukanlah satu unit lokal, melainkan mencakup banyak unit lokal. Karena gereja dalam Alkitab berunitkan satu lokal, dan dibatasi oleh satu lokal, dalam satu propinsi atau daerah tentu ada banyak gereja. Karena itu, tidak boleh ada sebuah gereja propinsi atau gereja daerah. Jika demikian, itu bukan gereja lokal, melainkan gereja gabungan lokal-lokal. Justru karena itu, demi gereja lokal, Alkitab tidak pernah mencatat adanya gereja propinsi anu, atau gereja daerah anu. Setiap menyinggung propinsi atau daerah, sebutannya lain lagi.
Mari kita tinjau bagaimana Alkitab mengatakan gereja semacam itu. "Berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan gereja-gereja di situ" (Kis. 15:41). Di sini tercatat gereja-gereja, sebab Siria dan Kilikia adalah satu daerah yang luas, dan di dalamnya terdapat banyak lokal. Tiap lokal ada gerejanya masing-masing, karena itu, disebut gereja-gereja. Dalam Alkitab tidak tercatat fakta bergabungnya gereja-gereja itu menjadi satu gereja besar. Berbagai lokal itu boleh bergabung menjadi Siria atau Kilikia, namun Allah tidak mengorganisasikan atau mempersatukan kaum imani di lokal-lokal yang berbeda itu menjadi gereja di Siria atau Kilikia. Lokal boleh bergabung menjadi kabupaten, propinsi dan negara. Tetapi dalam Alkitab tidak ada gereja kabupaten, gereja propinsi atau gereja negara, hanya ada gereja lokal, yakni gereja lokal yang sebesar kota.
". . . Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi semua gereja bukan Yahudi (kafir)" (Roma 16:4). Di luar Yudea ada gereja-gereja orang kafir. Namun, mereka tidak bergabung menjadi satu gereja orang kafir, sebab gereja dibagi berdasarkan lokal, bukan berdasarkan negara atau bangsa.
"Salam kepadamu dari gereja-gereja di Asia Kecil" (I Kor. 16:19). Asia Kecil adalah sebuah propinsi. Tetapi tidak ada sebuah gereja propinsi, melainkan gereja-gereja di sebuah propinsi. Dalam Alkitab tidak ada satu gereja propinsi, pun tidak ada satu gereja negara atau bangsa; hanya ada satu gereja, yakni gereja lokal. Dalam Alkitab hanya ada gereja lokal, yang merupakan tempat sekelompok masyarakat bermukim bersama.
"Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada gereja-gereja di Makedonia" (II Kor. 8:1) Makedonia adalah sebidang tanah dataran luas, karenanya gereja di sana disebut gereja-gereja.
". . . kepada gereja-gereja di Galatia" (Gal. 1:2) Galatia juga sebuah propinsi, karenanya rasul menulis surat kepada gereja-gereja di Galatia.
". . . gereja-gereja Kristus di Yudea" (Gal. 1:21) Yudea merupakan satu daerah atau distrik, maka di sini disebut gereja-gereja.
Kini kita mengetahui cara Alkitab membagi gereja. Alkitab tidak mengijinkan kita mengiris sebuah gereja lokal, itu adalah perbuatan daging. Alkitab juga tidak mengijinkan kita menggabungkan setiap gereja lokal, itu pun adalah tindakan daging. Dengan perkataan lain, sekte di suatu lokal, atau denominasi yang menggabung beberapa lokal, tidak sesuai dengan Alkitab. Dalam Alkitab hanya ada satu lokal satu gereja, tidak pernah ada satu gereja lokal terbagi menjadi beberapa gereja, pun tak pernah ada beberapa gereja lokal bergabung menjadi satu gereja. Jadi, yang lebih kecil dari lokal bukan gereja, yang lebih besar dari lokal pun bukan gereja. Sebab Alkitab memberi batasan gereja dengan lokal.
Mari kita ambil sebuah contoh: Shanghai adalah sebuah lokal, Soochow juga sebuah lokal. Shanghai adalah satu unit, maka di situ terdapat gereja di Shanghai. Soochow juga satu unit, maka di situ ada gereja di Soochow. Walau jarak kedua lokal tersebut sangat dekat, keduanya adalah dua unit. Di antara mereka hanya ada hubungan rohani, tidak ada kesatuan administrasi. Hubungan antara Shanghai dengan Soochow tak berbeda dengan hubungan antara Shanghai dengan Nanking dan London. Meskipun London adalah kota di sebuah negera lain, lagi pula jaraknya sangat jauh dari Shanghai, tetapi seperti halnya dengan Soochow, London juga satu unit. Karena itu, hubungan Shanghai dengan London sama dengan hubungan Shanghai dengan Soochow. Bukan karena dekat lalu menjadi istimewa intim, juga tidak karena jauh lalu istimewa renggang. Unit yang terbesar di dunia adalah negara, lalu propinsi, kemudian distrik. Namun, Alkitab tidak mempedulikan perbedaan negara, propinsi atau distrik. Unit dalam Alkitab ialah satu lokal, tempat sekelompok masyarakat bermukim bersama sehari-hari. Inilah batasan gereja lokal yang ditetapkan Alkitab. Gereja-gereja semacam inilah - gereja lokal - yang didirikan para rasul di tiap-tiap tempat.
Camkanlah baik-baik, gereja adalah milik lokal, bahkan sangat lokal. Bila orang memasukkan yang lain, itu bukanlah gereja yang disebut Alkitab.
KEMANDIRIAN GEREJA
Alkitab tidak menggabungkan tiap-tiap gereja lokal menjadi satu organisasi. Administrasi, kewajiban dan keputusan setiap gereja lokal adalah mandiri (independen). Kita harus ingat, bahwa kitab Wahyu membicarakan tujuh gereja di Asia, bukan gereja di Asia. Tegoran atau celaan Tuhan terhadap Efesus, tidak dapat dilimpahkan ke atas Smirna. Kesetiaan Smirna di hadapan Tuhan tidak dapat dijadikan jasa Efesus. Kekacauan Pergamus tidak dapat menyalahkan Tiatira. Keduniawian Tiatira tidak dapat ditanggungkan kepada Sardis. Kematian Sardis tidak dapat dilemparkan ke Filadelfia, dan saling kasih Filadelfia tidak dapat diambil alih oleh Laodikia. Kesombongan Laodikia pun tidak dapat menjadi celaan gereja-gereja lainnya. Tiap-tiap gereja mempunyai tanggung jawabnya masing-masing. Sebuah gereja tidak bertanggung jawab atas gereja lainnya. Andaikata ketujuh gereja itu digabungkan, tentu tidak perlu menulis tujuh pucuk surat, melainkan cukup menulis satu surat saja kepada gereja pusat, biar pusat yang mengatur. Tetapi karena ada tujuh lokal, maka ada tujuh gereja. Alkitab memberi peringatan atau pujian terhadap masing-masing gereja lokal.
Di bumi ada tujuh gereja, di sorga pun ada tujuh kaki dian menjadi wakil mereka. Yang ada di sorga bukan satu kaki dian terbagi tujuh carang, melainkan tujuh kaki dian yang berbeda. Kalau dalam Perjanjian Lama satu kaki dian mempunyai tujuh carang, maka dalam Perjanjian Baru ada tujuh kaki dian berdiri sendiri. Andaikata dalam Perjanjian Baru juga ada satu kaki dian dengan tujuh carang, maka kaum imani di tujuh gereja di Asia pun boleh bergabung menjadi satu gereja. Namun, di Asia ada tujuh gereja, di sorga ada tujuh kaki dian. Alkitab bahkan mengatakan, "Tuhan berjalan di antara kaki dian emas" (bukan di dalam). Ini menunjukkan kepada kita bahwa tiap kaki dian itu mandiri dan terpisah. Andaikata hanya satu kaki dian, bagaimana mungkin Tuhan berjalan di antaranya? Tuhan ternyata berjalan di antara ketujuh kaki dian itu, maka ketujuh gereja di hadapan Tuhan tidak bergabung menjadi satu gereja.
Setelah para rasul pergi memberitakan Injil, menyelamatkan jiwa, mereka memilih dan melantik orang di tempat itu untuk menjadi penatua. (Rasul pada masa itu tidak meninggalkan seorang pekerja tertentu untuk menjadi penatua di situ). Kemudian, pergi lagi ke tempat lain memberitakan Injil dan memperoleh jiwa lagi, dan di tempat itu pula mereka mendirikan gereja. Kita pun harus demikian, harus memberitahu semua saudara setempat, bahwa setiap orang yang di dalam Kristus, asalkan ia tinggal di tempat yang sama, adalah orang dalam satu gereja, tidak peduli siapa dan bagaimana orang tersebut. Harus memelihara sifat lokal gereja, jangan memisahkan saudara di lokal itu, juga jangan menggabungkan saudara di tempat itu dengan saudara di tempat lain, sehingga menjadi satu gereja besar. Hal ini harus kita perhatikan secara khusus, dan harus kita praktikkan baik-baik.
HUBUNGAN ANTAR GEREJA
Namun, ini tidak berarti gereja di satu lokal tidak perlu berhubungan dengan gereja-gereja lokal lain, dan tidak saling memperhatikan. Meskipun tidak bergabung secara organisasi, sehingga menjadi sebuah lembaga besar, tetapi harus bersama gereja-gereja lainnya memelihara kesatuan dalam Tuhan, dan menuntut keseragaman langkah. Sebab keesaan kita di dalam Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh lokalitas. Bila mengetahui gereja lain mengalami kesukaran, wajiblah menunjang dengan sekuat tenaga. Bila sebuah gereja lokal beroleh terang di hadapan Allah, maka gereja lain harus belajar darinya dan meneladaninya. Namun, sebuah gereja lokal tetap mandiri dalam hal administrasi dan organisasi.
Setiap gereja lokal langsung bertanggung jawab kepada Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan. Bersamaan dengan itu, Alkitab juga mengatakan, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh Kudus kepada gereja-gereja." Inilah keseimbangan kebenaran. Pada satu aspek, Roh Kudus berbicara kepada malaikat gereja di Efesus, namun pada penutupnya dikatakan, bahwa perkataan itu juga ditujukan kepada gereja-gereja. Di atas dikatakan bahwa surat itu ditulis kepada malaikat gereja di Efesus, Smirna, Pergamus dan seterusnya, tetapi di bawah dikatakan, bahwa surat itu harus didengar dan ditaati oleh gereja-gereja. Di atas dikatakan, bahwa surat itu ditujukan kepada satu gereja tertentu, yang bertanggung jawab secara langsung kepada Allah, tetapi di bawah dikatakan, bahwa setiap gereja wajib mendengarkan apa yang dikatakan Allah kepada gereja lain. Karena itu adalah perkataan Roh Kudus kepada gereja-gereja, maka barangsiapa bertelinga harus mendengarkannya. Ini membuktikan, apa yang harus ditaati oleh satu gereja, harus pula ditaati oleh gereja-gereja. Kewajiban tiap gereja lokal memang ditanggungnya sendiri di hadapan Allah, tetapi pergerakan semua gereja lokal adalah bersama-sama. Itulah sebabnya, meski suratnya ditulis kepada Efesus, namun isi surat itu ditujukan kepada seluruh gereja. Inilah keseimbangan kebenaran.
Dalam surat rasuli juga terdapat ajaran serupa, ". . . Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap gereja" (I Kor. 4:17) Bagaimana Paulus mengajar orang di mana-mana dalam setiap gereja, itu juga harus diperingatkan di gereja di Korintus. Bukan di Korintus ajarannya begini, di tempat lain ajarannya lain lagi. Bagaimana rasul mengajar orang di setiap gereja, itu juga perlu diperhatikan oleh setiap gereja. Tidak hanya dalam ajaran demikian, dalam perintah pun sama. Misalkan Paulus berkata, ". . . hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua gereja" (I Kor. 7:17). Sebuah gereja tidak mungkin beroleh satu perintah dari Tuhan yang sama sekali berlainan dengan yang diterima gereja lain. Semua perintah Allah harus ditaati oleh setiap gereja, tidak ada satu yang terkecuali.
Meskipun mandiri dalam administrasi, tetapi dalam masalah perilaku, keluarga dan masyarakat, setiap gereja adalah sama. Misalkan dalam masalah posisi wanita; bagaimana laki-laki harus menjadi kepala, dan bagaimana perempuan berdiri pada posisi bertudung kepala. Paulus menegaskan, "Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun gereja-gereja Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian" (I Kor. 11:16). Dalam hal di atas, terang yang diperoleh setiap gereja, atau perintah yang diterima, semuanya sama, tidak ada satu yang terkecuali. Andaikata saudari-saudari di Korintus ingin menjadi kepala, tidak berdiri pada posisinya, tidak rela bertudung kepala, maka gereja-gereja Allah lainnya tidak mempunyai kebiasaan itu; lain halnya jika kaum imani di Korintus memang ingin lebih istimewa daripada yang lain! Di sini kita nampak, betapa sempurnanya Alkitab. Pada satu aspek, yakni secara administrasi dan organisasi, kita nampak sebuah gereja lokal sangatlah mandiri. Pada aspek lain, kita juga nampak, bahwa perintah atau pesan Allah itu wajib ditaati oleh setiap gereja. Jika ada orang mau membantah (berdebat), gereja tidak mempunyai kebiasaan itu.
Kesamaan ini tidak hanya dalam hal kedudukan saudari, dalam hal saudari mengajar di dalam sidang pun sama, "Sama seperti dalam semua gereja orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan gereja" (I Kor. 14:34). Sangat mengherankan, dalam surat Korintus, Paulus selalu mementingkan gereja-gereja Allah. Sebab kaum imani di Korintus ingin selalu mengandalkan diri sendiri dan mandiri dalam segala perkara. Maka Paulus mengoreksi mereka. Tetapi kasihan sekali, hari ini terlalu banyak "gereja" yang mencontoh gereja di Korintus! Akibatnya, gereja-gereja yang hari ini ingin menaati perintah Allah, malah dianggap tidak mirip dengan "gereja-gereja orang kudus" hari ini! Yang semula istimewa, hari ini tidak istimewa; yang semula tidak istimewa, hari ini istimewa. Namun, kehendak Allah ialah, kalau gereja-gereja Allah begitu, maka kita tidak bisa terkecuali; kita pun harus menaatinya. Bagaimana kata orang, kita tak peduli. Kita wajib mempedulikan bagaimana kata Alkitab. Jika manusia yang keliru, kita tidak mau mengikuti manusia; tetapi jika "kekeliruan" itu karena Alkitab mengatakan demikian, kita rela memiliki "kekeliruan" itu.
Dalam masalah "bantuan" juga demikian. "Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada gereja-gereja di Galatia" (I Kor. 16:1). Bagaimana yang diperbuat gereja-gereja di Galatia, kalian di Korintus juga harus berbuat seperti itu. Memang kalian mandiri, tetapi kalian harus meneladani mereka. Kalau gereja-gereja di Galatia memberi bantuan kepada kaum saleh yang kekurangan karena bencana kelaparan di Yudea, maka kalian, gereja di Korintus juga harus mencontoh mereka. Bila gereja lain mengalami kesukaran, gereja-gereja lainnya harus menolong. Bagaimana gereja lain membantu, kita pun harus meneladaninya. Masalah saling membantu adalah perbuatan yang harus dilakukan bersama. Saling meneladani juga merupakan tindakan yang harus dimiliki bersama.
Bila suatu gereja mempunyai kelebihan, gereja-gereja lain wajib meneladaninya. Misalkan yang dilakukan saudara-saudara di Tesalonika, "...telah menjadi penurut gereja-gereja Allah di Yudea" (I Tes. 2:14). Karena usia mereka di dalam Tuhan lebih tua, maka kalian, gereja-gereja yang lahir belakangan, harus mencontoh mereka.
Ajaran Alkitab sangatlah seimbang. Pada satu aspek, satu gereja lokal dengan gereja lokal lain saling mandiri, tidak saling bergabung. Pada aspek lain, satu gereja lokal harus meneladani gereja-gereja lain, harus mengikuti teladan mereka, dan mengambil langkah yang seragam dengan mereka. Tetapi tanpa pimpinan Roh Kudus, segalanya tidak benar, tanpa menurut teladan Alkitab juga tidak benar.
MAHKAMAH AGUNG
Karena sebuah gereja lokal dengan gereja-gereja lokal lain memiliki hubungan rohani di dalam Tuhan, maka hal ini membuat sebuah gereja lokal tidak berani melakukan perkara yang disukainya sendiri, tidak berani menganggap mempunyai wewenang sehingga boleh bebas menentukan perkara dengan sembarangan, atau sembarangan bertindak sendirian. Pergerakan satu gereja harus mendatangkan faedah bagi semua gereja, menimbulkan simpati dari gereja-geraja. Pada pihak lain, karena gereja lokal mutlak mandiri, maka keputusan gereja lokal adalah keputusan yang tunggal. Keputusan gereja lokal adalah keputusan yang tertinggi, adalah keputusan terakhir. Di atas maupun di bawahnya tidak ada instansi lainnya. Gereja lokal tidak mempunyai atasan atau bawahan apa pun.
Andaikata seseorang diterima atau ditolak oleh gereja lokal, maka keputusan gereja lokal adalah keputusan terakhir. Kendatipun keputusan gereja lokal itu tidak benar, Anda hanya dapat memohon gereja untuk meninjau kembali keputusan itu. Andaikata gereja lokal tidak mau menanggapi permohonan Anda, kecuali Anda pindah ke tempat lain, Anda tidak dapat berbuat apa-apa. Gereja lokal adalah instansi yang tertinggi. Kalau gereja lokal lain tidak menyetujui tindakan satu gereja, selain menasihati, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab gereja lokal satu dengan gereja lokal lain hanya memiliki hubungan rohani, tidak memiliki hubungan resmi atau formal.
Andaikata di gereja di Nanking ada seorang saudara terkena pengucilan, kemudian ia datang ke Soochow dan dapat membuktikan, bahwa dirinya tidak seharusnya dikucilkan, maka gereja di Soochow punya wewenang penuh untuk menerima dia, tanpa harus menghiraukan keputusan gereja di Nanking. Apa yang dilakukan gereja di Soochow adalah bertanggung jawab kepada Allah, bukan bertanggung jawab kepada gereja di Nanking. Soochow adalah satu gereja yang berwewenang menetapkan sendiri untuk melakukan sesuatu. Tetapi, demi menghindari perselisihan, Soochow sebaiknya menunjukkan kesalahan tindakan tersebut kepada Nanking sebelum menerima saudara itu. Kalau gereja di Nanking rohani, niscaya mau menerima pernyataan gereja di Soochow. Tetapi kalau gereja di Nanking tidak mau mendengar perkataan gereja di Soochow, gereja di Soochow pun tak dapat menghukum gereja di Nanking. Karena gereja di Nanking adalah satu gereja lokal yang juga bertanggung jawab langsung kepada Tuhan; ia boleh menetapkan sendiri untuk melakukan sesuatu. Ia tidak bertanggung jawab kepada gereja di Soochow. Andaikata setiap gereja lokal rohani, tentu tidak ada kesulitan; jika tidak, Allah sudah sejak dini menetapkan, pemerintahan masing-masing lokal adalah otonom!
Tidak ada satu gereja yang mempunyai wewenang dan organisasi yang lebih tinggi daripada gereja-gereja lainnya. Alkitab sama sekali tidak memperlihatkan kepada kita adanya satu gereja lokal, di mana pun, yang memiliki wewenang lebih tinggi daripada gereja-gereja lain. Ada orang mengira gereja di Yerusalem adalah gereja induk, sebenarnya bukan demikian. Setiap gereja lokal adalah otonom, bertanggung jawab langsung kepada Kristus, tidak bertanggung jawab kepada instansi atau gereja mana pun. Sebuah gereja lokal adalah instansi tertinggi dari kekristenan di bumi. Di bumi tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi daripadanya. Tidak ada lagi pengadilan di atasnya untuk naik banding. Jadi, struktur tertinggi adalah gereja lokal, unit terendah pun adalah gereja lokal. Dalam Alkitab, tidak ada Roma sebagai pusat, dan gereja-gereja lain harus menerima pengendaliannya. Ini disebabkan Kristus yang di sorga ingin mempertahankan posisiNya sebagai Kepala. Walau masing-masing gereja lokal wajib memelihara kesaksian Tubuh itu, setiap gereja lokal wajib menjadi miniatur Tubuh Kristus, namun masing-masing gereja harus bertanggung jawab langsung kepada Kristus, bukan kepada gereja lainnya. Jadi, setiap gereja seharusnya hanya menerima pengendalian Kristus, tidak menerima pengendalian gereja atau instansi mana pun.
Kali itu, rasul pergi ke Yerusalem dikarenakan ada beberapa orang dari Yudea datang ke Antiokhia dan mengajar saudara-saudara di Antiokhia, "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa, kamu tidak dapat diselamatkan" (Kis. 15:1). Sebab itu, Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem menemui para rasul dan para penatua. Karena beberapa saudara itu berasal dari Yerusalem, maka Paulus dan Barnabas menyelesaikannya dengan para pewajib di Yerusalem. Yerusalem adalah tempat terjadinya peristiwa. Karenanya Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kepercayaan para rasul dan para penatua di Yerusalem terhadap masalah tersebut, dan bagaimana cara mereka mengatasinya. Jadi, maksud Paulus dan Barnabas ke Yerusalem tak lain untuk menghindari kesalahpahaman, karena masalah itu ditimbulkan oleh saudara-saudara dari Yerusalem. Mereka tidak menganggap Yerusalem sebagai pusat gereja atau induk gereja. Mereka ke sana adalah untuk menjernihkan masalah. Gereja lokal adalah satu-satunya lembaga di suatu lokal, dan kecuali lembaga ini tidak ada lembaga yang lain.
BAGAIMANA MEMELIHARA SIFAT LOKAL
Berhubung gereja yang didirikan Allah melalui rasul sangat bersifat lokal, maka kita harus memelihara sifat lokalnya itu, yaitu harus memelihara batasan atau ruang lingkup lokalnya. Jika kehilangan ini, sifat lokal gereja akan hilang, dan menjadi "sekte". Sekte adalah "gereja" yang kehilangan sifat, batasan atau ruang lingkup lokal. Jika sebuah gereja merusak ruang lingkup lokal dan menjadikan Paulus atau Apolos sebagai ruang lingkupnya, ia akan menjadi sekte. Sekte takkan terjadi jika ruang lingkupnya lokal. Maka bila orang selain gereja lokal mendirikan lembaga lain, itu berarti tidak menjadikan lokal sebagai ruang lingkupnya, dan mereka akan segera menjadi sekte.
Jika kita ingin memelihara sifat lokal dalam gereja, ada dua perkara yang harus kita perhatikan dan cegah.
Gereja adalah milik lokal, tidak bersangkut paut dengan pekerja. Pekerja tidak boleh memiliki satu gereja pribadi di tempat mana pun. Jiwa-jiwa yang diselamatkan pekerja di suatu tempat, harus diserahkan kepada gereja lokal itu; pekerjaannya semua harus bagi gereja lokal. Gereja lokal adalah satu ruang lingkup yang merangkum seluruh umat Tuhan. Asalkan kaum imani bermukim di tempat yang sama, mereka harus tercakup di dalamnya. Rasul tidak cuma satu, rasul juga tidak bisa pergi ke seluruh tempat. Andaikata ada satu gereja atau beberapa gereja didirikan melalui seorang rasul, lalu mereka menganggap, bahwa mereka boleh menjadi milik rasul tersebut, hal itu berarti memisahkan/membedakan gereja-gereja di tempat lainnya; karena mereka didirikan melalui rasul lain, dan menjadi milik rasul lain. Jika demikian, para rasul akan menjadi dalang berbagai sekte! Berapa luasnya ruang lingkup aktivitas seorang rasul, seluas itu pula ruang lingkup sektenya. Gereja yang didirikan oleh rasul yang berbeda, akan menjadi unsur sekte yang berbeda. Hal ini sangat tidak diperkenan Tuhan.
Sifat lokal justru untuk mencegah timbulnya dampak buruk ini. Maka untuk memelihara gereja agar tidak menjadi sekte, ada satu hal yang harus khusus diperhatikan: jangan sekali-kali membiarkan seorang pekerja mempengaruhi gereja (mengacu kepada aspek formal/resmi, bukan aspek rohani). Rasul adalah sejenis jabatan yang melampaui lokal. Allah tidak mengijinkan seorang rasul mengatur sebuah gereja. Begitu rasul mengatur sebuah gereja, maka gereja itu kehilangan sifat lokalnya, dan akan mengenakan warna rasul yang mengaturnya itu. Bila sebuah gereja dimiliki oleh seorang rasul, gereja itu akan berubah menjadi sekte. Gereja yang dikelola oleh rasul bukanlah gereja lokal lagi. Menurut pengaturan Allah, setelah rasul bekerja dan memperoleh jiwa di berbagai tempat, maka dari antara saudara yang agak lumayan dan agak maju, ia memilih dan melantik beberapa orang sebagai penilik. Sesudah ada penatua di sebuah gereja lokal, rasul harus segera lepas tangan. Jika rasul tidak lepas tangan, gereja itu pasti akan diwarnai oleh sifat rasul itu, tanpa sifat lokal.
Surat Korintus memberi kita terang yang indah. Pertama kali kasus bergolong-golongan di gereja Korintus ialah adanya orang yang berkata, "Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos, dan aku dari golongan Kefas," sebagai alasan perbedaan. Masing-masing golongan mendukung tokoh yang memberitakan Injil dan menyelamatkan mereka. Terjadinya kekhilafan ini karena mereka tidak nampak, bahwa gereja adalah milik lokal. Seandainya mereka tahu, bahwa dirinya adalah milik lokal, tentu tidak mungkin mereka berkata, "Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos, atau aku dari golongan Kefas." Jika mereka mengenal dengan tepat ruang lingkup gereja adalah lokal, tentu tidak mungkin terjadi sekte. Sifat lokal dapat memelihara sebuah gereja sehingga tidak mungkin menjadi sekte. Pada saat Anda mengorbankan sifat lokal, saat itulah sekte mulai muncul. Makna sekte ialah: di luar Tuhan dan di luar lokal, menjadi milik sesuatu yang lain.
Di sinilah letak persoalannya dewasa ini, yakni orang yang bekerja dan lembaga/kelompok yang bekerja, tidak nampak bahwa Allah tidak membenarkan pekerja atau lembaga yang bekerja menahan atau mengelola kaum imani dan mengambil alih mereka ke bawah nama pribadi pekerja atau lembaga tertentu. Jika seorang pekerja mengurus satu gereja, niscaya gereja tersebut menjadi gereja Paulus, atau gereja Apolos, atau gereja Kefas. Orang-orang itu akan menjadi ciri-ciri gereja. Untuk mencegah gereja menjadi sekte karena kekhilafan pekerja seperti yang dikatakan di atas, maka Allah khusus menetapkan lokal sebagai batasan gereja.
Terbentuknya sekte justru karena ada beberapa orang yang sangat berpengetahuan, sangat berpengalaman, atau sangat terang, dan menarik sebagian orang untuk mengikuti mereka, dan justru orang-orang itulah yang menjadi sekte. Jika mereka nampak, bahwa pekerjaan adalah untuk mendirikan gereja lokal, bukan mendirikan lembaga perorangan atau suatu kelompok orang, tidak mungkinlah sekte terbentuk. Karena itu gereja harus mempertahankan sifat lokalnya, baru tidak sampai menjadi sekte. Para pekerja Allah harus lepas tangan. Kalau tidak lepas tangan, gereja tidak dapat menjadi gereja lokal. Bila pekerja lepas tangan dan membiarkan saudara setempat yang bertanggung jawab, gereja itu akan menjadi gereja lokal. Dengan kata lain, sebagai pekerja Allah, kita wajib sekuat tenaga mempertahankan sifat lokal setiap gereja, tidak memberinya warna apa pun, khususnya warna pribadi kita sendiri. Kita adalah hamba semua orang, bukan majikan siapa pun. Tidak ada satu gereja yang bersangkut paut dengan pekerja (kecuali pada aspek rohani). Pekerjaan kita adalah untuk setiap gereja. Ada orang beroleh selamat, itu milik mereka; ada orang maju kerohaniannya, juga milik mereka. Tidak pada tempatnya sebuah gereja dimiliki pekerja, tidak pada tempatnya pula satu orang imani dimiliki pekerja. Ingatlah selalu, gereja adalah milik lokal.
Seandainya semua orang yang dipakai Allah dalam sejarah gereja nampak kebenaran lokalitas gereja, (bukan karena setelah mendengar Injil atau menerima bantuan rohani dari seseorang atau lembaga tertentu, lalu menjadi gereja seseorang atau lembaga tertentu), niscaya tidak akan muncul sekte sebanyak hari ini. Begitu mendapatkan jiwa di suatu tempat, para rasul segera mendirikan gereja dan kemudian melantik penatua. Ini justru untuk mencegah pekerja menjadi "majikan" gereja. Pengaturan Allah yang demikian justru agar gereja tidak kehilangan sifat lokalnya.
Untuk memelihara sifat lokal gereja, masih ada satu perkara lagi yang sangat penting, yakni jangan membiarkan ruang lingkup gereja melampaui ruang lingkup lokal. Praktik yang populer dewasa ini ialah bergabungnya kelompok-kelompok yang sepaham dari beberapa tempat menjadi satu "gereja". Atau dengan satu misi sebagai pusat, dan mendirikan satu "gereja" misi, yang mencakup banyak lembaga/organisasi. "Gereja" sejenis ini jelas tidak bersifat lokal, sebab mereka sudah melampaui ruang lingkup lokal. Mereka mengambil doktrin atau misi sebagai ruang lingkup mereka. Jadi, ruang lingkup mereka sudah melampaui ruang lingkup yang ditetapkan Alkitab.
Allah tidak mengijinkan kita mendirikan gereja yang menggabungkan kelompok-kelompok kaum imani di berbagai tempat, sebab berbuat demikian bisa merusak prinsip lokal yang ditetapkanNya, dan akan membuat kelompok ini menjadi kelompok yang tak keruan. Hanya sejenis gereja yang sesuai dengan kehendak Allah, yakni gereja yang beruang lingkup lokal. Semua yang melampaui ini tidak dikehendakiNya. Setiap gereja yang berpusatkan misi, yang mengkoordinir tiap lembaga/organisasi, pasti melampaui ruang lingkup lokal. Kendatipun lembaga-lembaga itu tetap eksis di berbagai lokal, tetapi pusat persatuan mereka adalah misi, maka ruang lingkup mereka adalah misi juga. Sebab adanya satu pusat akan melahirkan satu ruang lingkup. Di luar lokal, mereka akan memiliki sebuah batasan perbedaan. Tujuan Allah yang semula ialah agar AnakNya, Kristus, menjadi pusat atau inti perhimpunan setiap gereja, sedang setiap gereja itu sendiri ruang lingkupnya adalah batasan perbedaan lokal. Jadi jelas, bahwa gereja-gereja misi semacam itu telah melampaui batasan lokal sehingga kehilangan sifat lokalnya.
Karena itu, jika kita mengkoordinir kelompok-kelompok kaum imani di beberapa lokal dengan dogma, doktrin, atau tokoh apa pun sebagai pusat/inti, sehingga membentuk sebuah gereja "persatuan", itu pasti akan menjadikan pusat itu sebagai ruang lingkup, dan akan kehilangan batasan yang ditentukan Allah. Kita tidak berkata, bahwa mereka telah menolak Kristus, dan sama sekali meninggalkanNya; mereka masih tetap mengakui Kristus. Namun kita harus ingat, inti adalah ruang lingkup. Bila di luar atau selain Kristus, Anda memiliki suatu inti atau pusat, itulah yang menjadi ruang lingkup Anda; hal ini pasti terjadi demikian. Jika seseorang memiliki dua inti atau pusat, maka ia dapat mengabaikan yang besar, tetapi memperhatikan yang kecil. Lagi pula, sifat alami manusia tidak mau memperhatikan apa yang dimiliki umum, melainkan apa yang dimiliki pribadi. Akibatnya, inti yang kedualah yang lebih diperhatikannya. Dengan inti ini pula ia menilai siapa orang kita, dan siapa bukan. Sebuah inti pasti akan menjadi batas perbedaan. Siapa yang berinti ini dianggap orang dalam, siapa yang tak berinti ini dianggap orang luar. Pasti ini yang terjadi! Jika demikian, batasan lokal itu segera rusak, dan terhapuslah batasan lokal tersebut.
Sebab itu, kalau anak-anak Allah ingin mempertahankan sifat lokal gereja, jangan sekali-kali memiliki pusat atau inti (misalkan doktrin, misi) lain kecuali Kristus. Bila anak-anak Allah mempunyai persatuan yang melampaui lokal, apa pun alasannya, mereka bukan lagi bersifat lokal, dan bila mereka bukan bersifat lokal, mereka pun bukan lagi milik gereja, sebab dalam Alkitab hanya ada gereja lokal!
Saya tidak tahu harus bagaimana menjelaskan hal ini. Namun, satu perkara yang saya ketahui, yakni Allah ingin memelihara gerejaNya menjadi gereja lokal. Sebab itu, dalam pekerjaan kita, kita harus selalu memelihara sifat lokal gereja. Kita harus belajar tidak mengelola gereja, tidak menggabungkan gereja-gereja menjadi suatu lembaga, agar anak-anak Allah tidak dirugikan.
FAEDAH MANDIRI
Allah mendirikan banyak gereja, dan membiarkan masing-masing gereja lokal langsung bertanggung jawab kepada Allah, yaitu membiarkan penilik/penatua mengawasi saudara-saudara setempat melakukan urusan gereja lokal mereka. Hal ini sangat berfaedah.
1) Gereja adalah mandiri, bukan bergabung, karena itu tidak ada kemungkinan bagi rasul palsu yang berambisi untuk memupuk kekuasaannya. Juga membuat segolongan saudara yang bertalenta namun berambisi tidak berdaya menggabungkan beberapa lokal menjadi sebuah lembaga besar untuk membina kekuasaannya sendiri. Bila dalam sebuah gereja lokal segala sesuatunya ditangani oleh penatua lokal, niscaya gereja itu tidak akan jatuh ke tangan pekerja-pekerja semacam itu. Setelah rasul pergi, kewajiban untuk mengurus gereja berada di tangan penatua. Hal ini akan tidak memberikan kemungkinan kepada para rasul palsu mengurus sebuah gereja lokal secara langsung.
Terbentuknya kekuasaan Roma adalah karena gereja meninggalkan sifat lokalnya. Andaikata tidak ada persatuan/penggabungan dan andaikata semua wewenang gereja dipegang oleh penatua setempat, maka kejahatan/dosa yang timbul, akan berkurang entah berapa banyaknya. Kalau hanya ada gereja lokal, tentu tidak mungkin ada gereja Roma. Gereja Roma ada karena gereja lokal lenyap. Dalam sejarah masa lalu, manusia dapat memperalat gereja untuk melakukan banyak dosa, bersaing dengan kekuasaan politik, bahkan mengendalikan kekuasaan politik, semuanya itu disebabkan gereja sudah bukan lagi gereja lokal, tetapi "gabungan". Gereja gabungan memang sangat kuat, tetapi itu bukan kekuatan rohani, melainkan kekuatan duniawi.
Tujuan Allah yang semula ialah menghendaki gerejaNya yang di bumi seperti biji sesawi, penuh dengan hayat, kecil tanpa keanehan. Hari ini, gereja bisa menjadi Tiatira adalah akibat penggabungan. Karena itu, oknum-oknum yang ambisius, yang tidak memperoleh kekuasaan di tempat lain, beralih ke gereja untuk memperalat kekuasaan agama ini. Ini jelas bukan kehendak Allah. Kegagalan besar Protestan ialah tidak kembali ke gereja lokal; mereka dengan gereja yang diorganisir menggantikan gereja Roma. Namun ingatlah, gereja Allah di bumi adalah gereja-gereja Allah.
2) Bukan itu saja, kemandirian gereja juga dapat mencegah menjalarnya berbagai kekeliruan dan bidah. Bila di satu tempat terjadi kekeliruan, maka kekeliruan itu tak akan menular ke tempat-tempat lain. Jika lokal sebagai ruang lingkup gereja, sekalipun di salah satu lokal timbul ajaran-ajaran sesat, maka tempat itu saja yang rugi. Tidak seperti denominasi dewasa ini, satu tempat keliru, banyak tempat ikut keliru.
Roma adalah satu contoh yang nyata. Karena struktur mereka menyatu, maka kekeliruan mereka pun menyatu secara merata. Lain halnya jika gereja dibatasi oleh lokal, yakni mengurus lokalnya masing-masing; jika terjadi bidah, mudah dikarantinakan. Tetapi, bila pada sebuah gereja yang terorganisir timbul bidah, tidak mudahlah cabang-cabang mereka tidak terpengaruh. Belakangan ini banyak "gereja-gereja" di Amerika menghadapi masalah, dan semuanya dikarenakan "gereja" mereka bukan gereja lokal, melainkan salah satu cabang dari gereja yang terorganisir itu.
3) Faedah terbesar dari adanya gereja lokal ialah mencegah kemungkinan terjadinya sekte atau denominasi. Mungkin Anda mempunyai pandangan Anda yang khusus, atau ajaran Anda yang istimewa, jika Anda ingin mendirikan sebuah lembaga lain untuk menyebarkan pendapat atau ajaran Anda, itu tidak akan dapat Anda lakukan. Segala-galanya untuk gereja lokal, karena itu Anda tidak dapat mengeluarkan sekelompok orang dari gereja lokal, dan mendirikan sebuah lembaga lain. Dengan demikian secara otomatis sekte atau denominasi tidak mungkin terjadi. Begitu gereja kehilangan sifat lokalnya, gereja menjurus ke jalan sekte. Tetapi bila gereja mempertahankan sifat lokalnya, kemungkinan untuk menjadi sekte itu tidak ada. Sekte terjadi karena melampaui batasan lokal. Jika ada orang bekerja di lokal A, lalu jiwa-jiwa yang diselamatkan, semuanya diserahkan ke gereja lokal A, dan ketika ia pergi, ia tidak membawa sekelompok orang itu, niscaya tidak mungkin terbentuk sekte. Gereja itu milik lokal, bukan milik siapa pun. Kalau ingin mendirikan sekte, harus terlebih dulu mendobrak batasan lokal. Dengan sendirinya, saya akui, secara organisasi, kemungkinan terbentuknya sekte tidaklah ada; tetapi, daging yang secara rohani tidak menerima penanggulangan itu adalah masalah lain lagi. Ya, Roh Allah, kiranya anak-anak Allah menaatiMu!