PARA RASUL RASUL PERTAMA
Pekerjaan Allah di bumi secara langsung dimulai dari pengutusan AnakNya ke bumi. Ini tidak berarti Allah tidak punya pekerjaan sebelum AnakNya datang ke bumi. Allah sudah bekerja sebelum mengutus AnakNya ke bumi, tetapi pekerjaanNya di bumi secara langsung itu dimulai sejak Ia mengutus AnakNya. Jadi, Kristus adalah pekerja Allah yang pertama; dan Kristus adalah sebutan ministriNya. Ia disebut "Kristus" karena pekerjaan yang dilakukanNya, seperti halnya Ia disebut "Yesus", karena inkarnasiNya. Ia diurapi justru untuk pekerjaan Allah. Ia bukan datang sendiri, melainkan diutus. Ia bukan datang ke bumi dan naik ke atas kayu salib dengan tekad keberanianNya sendiri, melainkan karena diutus Allah. Sebab itu, Injil Yohanes berulang-ulang mengutip perkataan, "Dia yang mengutus Aku." Yesus tidak berkata, "Bapa", atau "Allah", melainkan "Dia, yang mengutus Aku." Ia menyebut diriNya seorang utusan. Pengutusan ini merupakan prinsip pertama dalam pekerjaan Allah. Tanpa pengutusan, tidak ada pekerjaan Allah.
Dalam Alkitab, orang-orang yang diutus diberi satu sebutan khusus, yaitu "rasul". Istilah ini dalam bahasa Yunani berarti seorang "utusan".
Tuhan sendiri adalah rasul yang pertama, sebab Dia adalah yang pertama-tama diutus. Karena itu, Alkitab menyebutNya Rasul (Ibrani 3:1).
KEDUA BELAS RASUL
Tidak hanya Tuhan yang menjadi rasul dan melakukan pekerjaan rasul. Ketika Ia masih ada di bumi, dan belum meninggalkan bumi ini, Ia sudah tahu, bahwa pekerjaanNya (dalam daging) tidak bisa bertahan terus, maka di samping mengemban tugas, Ia memilih sekelompok orang untuk melanjutkan tugasNya itu. Sekelompok orang ini juga disebut rasul. Mereka bukan datang dengan tekad keberanian sendiri, melainkan diutus juga. Jadi, prinsip yang paling penting dari pekerjaan Allah ialah pengutusan, bukan bekerja karena keberanian sendiri. Alkitab menyebut orang-orang yang bekerja dengan jabatan ini sebagai rasul.
Dari manakah Tuhan memilih para rasul ini? Dari antara murid-muridNya. Pada mulanya, pekerja-pekerja yang diutus Tuhan adalah orang-orang yang dipilihNya dari antara murid-murid. Bukan setiap murid itu rasul, tetapi setiap rasul itu pasti murid. Bukan semua murid keluar melakukan pekerjaan Tuhan, melainkan orang-orang yang dipilih dari antara murid-murid yang keluar melakukan pekerjaanNya. Maka, seorang rasul pasti beroleh dua kali panggilan; sekali dipanggil menjadi murid, sekali lagi dipanggil menjadi rasul. Pertama kali ia dipanggil dari antara orang dunia untuk menjadi murid, kedua kalinya ia dipanggil dari antara murid-murid untuk menjadi rasul.
Kedua belas rasul itu mempunyai posisi istimewa dalam Alkitab, dan dalam rencana Allah, mempunyai pengaturan yang khusus, sebab mereka beserta dengan Anak Allah semasa Anak Allah berada di bumi ini. Seperti pernyataan Yohanes, "yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami" (I Yohanes 1:1). Juga seperti pernyataan Tuhan sendiri, "Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar" (Mat. 13:16). Maka dalam Alkitab, para rasul itu berkedudukan istimewa, tidak saja disebut rasul, bahkan disebut "kedua belas rasul itu." Maka kita nampak, pada mulanya Tuhan "memanggil murid-muridNya kepadaNya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebutNya rasul" (Lukas 6:13). Di kemudian hari, Tuhan berkata kepada Petrus, "Kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam kerajaanKu dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel" (Lukas 22:30). Kedua belas orang itu mempunyai posisi istimewa, yang tidak dipunyai pekerja-pekerja lainnya. Kalau Kristus memiliki satu takhta khusus, maka kedua belas rasul itu memiliki dua belas takhta. Ini tidak dimiliki rasul-rasul pada umumnya. Akhirnya, Yudas Iskariot berkhianat (ia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Allah), dan jabatan ini terlepas dari dia. Allah lalu memimpin rasul-rasul lainnya mengajukan dua orang, dan dari kedua orang itu memilih seorang untuk menggenapi jabatan kedua belas orang itu. Dengan undi maka terpilihlah Matias, sehingga "ia ditambahkan kepada bilangan kedua belas rasul itu" (Kis. 1:25-26). Pada Kisah Para Rasul 2:14 tercatat, "Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu." Masuknya Matias ke jajaran kedua belas rasul terbukti diakui Roh Kudus. Jadi di antara kedua belas rasul itu tidak boleh kurang satu atau lebih satu. Kedua belas orang itu mempunyai posisi istimewa bahkan sampai ke alam kekal. Dalam Wahyu 21:14 dikatakan, "Dan tembok kota (Yerusalem Baru) itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu." Allah mempunyai banyak sekali pekerja, namun kedudukan kedua belas rasul itu tidak dimiliki pekerja-pekerja Allah lainnya. Allah mengaruniakan kedudukan istimewa ini kepada mereka atas dasar kehendak, rencana dan hakNya sendiri. Hingga langit baru dan bumi baru, kedua belas rasul itu tetap mempunyai kedudukan yang istimewa.
PARA RASUL DI JAMAN ROH KUDUS
Sebagai rasul, Tuhan adalah rasul unik, tetapi Dia tidak dapat berada terus di bumi. Kedua belas rasul mempunyai kedudukan istimewa, tetapi mereka juga tidak dapat terus berada di bumi. Setelah Tuhan pergi, ada dua belas rasul di antara kita; kini, setelah kedua belas rasul pergi, siapakah yang ada di antara kita?
Setelah Tuhan pergi, datanglah Roh Kudus, dan Roh Kuduslah yang menanggung kewajiban pekerjaan itu. Sang Anak bekerja bagi Bapa, Roh Kudus bekerja bagi Anak. Sang Anak datang demi menggenapkan kehendak Bapa, Roh Kudus datang demi menggenapkan kehendak Anak. Sang Anak datang untuk memuliakan Bapa, Roh Kudus datang untuk memuliakan Anak. Bapa melantik Kristus sebagai Rasul; Anak, di bumi, melantik dua belas rasul; Roh Kudus datang juga melantik rasul. Para rasul yang dilantik Roh Kudus meski tidak sejajar dengan kedua belas rasul itu, tetap disebut rasul.
Bacalah Efesus 4. Rasul-rasul yang dilantik di situ bukan dua belas rasul. Di situ dikatakan dengan jelas adanya segolongan rasul yang baru dilantik setelah kenaikan Tuhan Yesus. Mereka adalah karunia-karunia yang diberikan kepada gereja setelah Tuhan Yesus naik ke sorga. Jelas sekali, mereka bukan kedua belas rasul yang semula; kedua belas rasul yang dilantik Tuhan Yesus di bumi itu tidak ada kedudukannya dalam surat kiriman yang membahas Tubuh Kristus serta keesaan Tubuh ini. Kitab ini juga menyinggung segolongan minister (pekerja), khususnya para rasul, yang ditetapkan untuk pembinaan Tubuh Kristus. Jika Kepala belum eksis tak mungkin Tubuh ada; jika Kepala belum beroleh kedudukan, tak mungkinlah Tubuh ada. Maka sebelum Tuhan Yesus menjadi Kepala gereja, ketika Ia masih berada di bumi, para rasul pembangun Tubuh Kristus yang dikatakan ini tak mungkin ada. Karena itu, kita wajib membedakan para rasul "saksi kebangkitan Yesus" dengan para rasul "pembangun Tubuh Kristus" (Kis. 1:22,25). Yang dua belas itu adalah rasul kesaksian kebangkitan Yesus, sedang para rasul yang dilantik setelah Tuhan naik ke sorga adalah para rasul pembangun Tubuh Kristus. Yang dua belas itu, di kemudian hari tentunya juga menerima amanat membangun gereja. Tetapi terlantiknya mereka menjadi kedua belas rasul berbeda dengan para rasul dalam surat Efesus. Jadi, selain yang dua belas itu, Allah masih memiliki rasul-rasul lainnya.
Sejak Roh Kudus turun, kita nampak, yang mulai bekerja adalah kedua belas rasul itu, dan mereka bekerja hingga Kisah Para Rasul 12. Mulai Kisah Para Rasul 13, kita nampak Roh Kudus mulai tampil sebagai Tuan gereja; Ia seolah menjadi "direktur" dari Kristus. Ketika itu, di gereja Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar. Sewaktu mereka melayani Allah sambil berpuasa, Roh Kudus berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiku, untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka" (Kis. 13:1-2). Kini ada dua orang telah diutus oleh Roh Kudus.
Apakah sebutan kedua orang itu? Rasul. Ketika Paulus dan Barnabas bekerja di Ikonium "ada yang memihak kepada orang-orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu"(Kis. 14:4). Barnabas rasul, Paulus pun rasul. (Istilah rasul disini, dalam bahasa Yunani berbentuk jamak). Pada ayat 14 juga dijelaskan, ". . . kedua rasul itu, Barnabas dan Paulus" (Tl.). Ini menunjukkan kepada kita, kedua orang utusan Roh Kudus ini adalah rasul. Walau mereka bukan termasuk rasul yang dua belas itu, namun mereka tetap rasul.
Siapakah rasul? Rasul adalah pekerja Allah, yakni yang diutus melakukan "tugas yang Ku (Roh Kudus) tentukan bagi mereka". Tugas pekerjaan ada di tangan mereka. Dalam arti luas, semua saudara melakukan pekerjaan Allah, keempat jenis orang dalam ministri itu, lebih-lebih melakukan pekerjaan Allah. Namun, golongan para rasul lebih khusus melakukan pekerjaan Allah; tugas pekerjaan Allah itu khusus teremban di atas diri mereka. Mereka sendiri adalah pekerja Allah, dan tugas kewajiban mereka adalah pekerjaan Allah.
Di sini kita segera nampak ajaran Alkitab tentang kerasulan. Allah melantik AnakNya sebagai rasul; Kristus melantik dua belas rasul untuk bekerja bagiNya; Roh Kudus pun, di luar kedua belas rasul itu, melantik sekelompok rasul. Rasul pertama itu tunggal, hanya Dia seorang; kedua belas rasul itu, khusus dan tidak dapat ditambah satu. Tetapi, sesudah kedua belas rasul itu, bukan tidak ada rasul lagi. Sebab Roh Kudus kini sedang memilih orang untuk menjadi rasul. Pemilihan Tuhan atas kedua belas rasul itu sudah berlalu. Kini, di luar kedua belas rasul itu, Roh Kudus tetap terus memilih rasul, dan yang dipilihNya adalah rasul-rasul tingkat lain. Berapa lamanya Roh Kudus berada di bumi, selama itu pula Ia memilih terus.
Dalam Alkitab, kita tidak saja nampak Barnabas dan Paulus sebagai rasul, masih banyak rasul sejenis itu yang dibangunkan Roh Kudus. Entah berapa banyak para rasul tingkatan baru seperti ini. Selain Paulus dan Barnabas, masih banyak rasul yang sedemikian. Surat I Korintus 4:9 mengatakan, "Sebab menurut pendapatku Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah (akhir)" Siapakah yang dimaksudkan di sini? Karena dikatakan "kami", sudah tentu selain Paulus masih ada orang lain. Siapa itu? Dengan membaca ayat-ayat di atasnya, kita segera tahu, Apolos juga sekerja. Jika membaca I Korintus 1:1, Sostenes pun termasuk di dalamnya. Maka "kami" yang dimaksud di sini jika bukan Apolos tentu Sostenes, atau kedua-duanya. Di sini kita nampak, bukan Paulus saja sebagai rasul, Apolos dan Sostenes juga rasul.
Dalam II Korintus 8:23 dikatakan, "Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu, saudara-saudara yang lain itu adalah utusan gereja-gereja . . ." (Di sini utusan dalam bahasa Yunani ialah rasul). Saudara-saudara ini diutus Paulus membawa uang bantuan kepada saudara-saudara yang berkekurangan di Yudea. Walau nama mereka tidak disebut, tetapi mereka adalah rasul terkenal, sebab Alkitab mengatakan mereka adalah utusan gereja-gereja.
Lagi dalam Roma 16:7 dikatakan, "Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjara bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul". "Orang-orang yang terpandang di antara para rasul" berarti di sini ada rasul, bukan hanya rasul, tetapi rasul-rasul yang terpandang. Dari sini kita bisa melihat, bukan Paulus dan Barnabas saja adalah rasul yang dilantik Roh Kudus, tetapi masih banyak lagi.
Dalam I Tesalonika 2:6 dikatakan, ". . . kami sebagai rasul-rasul . . ." Di sini sekali lagi Paulus berkata, ". . . kami, sebagai rasul-rasul." Ini jelas mencakup Silas dan Timotius (1:1) yang bersama-sama menandatangani surat dengan Paulus. Maka kedua pemuda yang bekerja sama dengan Paulus itu adalah rasul juga.
Dalam I Korintus 15:5 dikatakan, "Bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas muridNya." Ayat 7 mengatakan, "Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul." Jelas, selain kedua belas rasul masih ada "semua rasul". Semua rasul yang dimaksud di sini pasti bukan kedua belas rasul itu, melainkan yang dilantik Roh Kudus untuk melanjutkan pekerjaan rasul.
Banyak orang yang beranggapan keliru, yakni mengira Paulus adalah rasul yang terakhir, dan di belakangnya tidak ada rasul lagi. Namun Alkitab tidak berkata demikian, Paulus pun tidak mengaku demikian. Alkitab mengatakan, "Dan yang paling akhir dari semuanya, Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul . . ." (I Kor. 15:8-9). Perhatikan bagaimana Paulus menggunakan istilah "paling akhir" dan "paling hina" dalam ayat tersebut. Ia tidak berkata, bahwa dirinya adalah rasul yang "terakhir", melainkan ia adalah "yang paling akhir" melihat penampakan tubuh kebangkitan Tuhan. Ia mengaku dirinya "paling hina" dari semua rasul, tidak mengatakan dirinya sebagai rasul yang "paling akhir". Kalau Paulus adalah rasul "paling akhir", berarti di belakangnya tidak ada rasul lagi. Ia hanya mengatakan, di antara orang-orang yang telah nampak penyataan diri Tuhan setelah Ia bangkit, dirinya adalah yang paling akhir; Paulus bukan rasul yang paling akhir.
Dari ayat-ayat di atas kita nampak, Roh Kudus melanjutkan pekerjaan Tuhan di bumi dan juga memilih para rasul di bumi untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Banyak yang mengira tidak ada rasul lagi selain kedua belas rasul, padahal setelah kedua belas rasul itu, Allah tetap memilih rasul-rasul, mengutus mereka pergi bekerja. Sekelompok orang ini juga adalah rasul seperti halnya kedua belas rasul, hanya mereka tidak memiliki kedudukan istimewa seperti yang dimiliki kedua belas rasul itu.
MAKNA RASUL
Apa dan siapakah orang-orang utusan Allah hari ini? Dalam bahasa Yunani arti kata "rasul" tidak lebih dari "utusan", sama sekali tak perlu ditambah tafsiran apa-apa. Rasul adalah utusan, kecuali itu tidak ada makna lain.
Bagaimanakah segolongan orang ini? Mereka bukan orang-orang yang berkarunia istimewa, melainkan utusan Allah semata. Jadi, setiap utusan Allah adalah rasul. Istilah ini mengacu kepada utusan biasa, bukan orang yang punya karunia khusus. Hari ini orang mengira harus berbuat ini atau berbuat itu, baru bisa menjadi rasul. Ketahuilah, "bisa atau tidak bisa" itu masalah karunia, tetapi "rasul atau bukan rasul" itu masalah utusan. Dalam gereja ada suatu konsepsi, yakni mengira rasul adalah satu orang yang luar biasa; padahal siapa saja yang diutus, dialah rasul. Banyak orang memiliki karunia yang tidak sebesar karunia Paulus, tetapi jika mereka diutus, maka samalah jabatan mereka dengan Paulus. Rasul tidak tergantung pada besar kecilnya karunia, melainkan tergantung pada utusan. Siapa yang diutus, dialah rasul; besar kecilnya karunia tidaklah menjadi soal. Rasul bukan mewakili orang berkarunia sangat besar, melainkan mewakili orang yang khusus diutus Allah untuk bekerja.
Lukas 11:49 mengatakan, "Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya . . ." Setiap utusan yang pergi ke bani Israel disebut rasul. Siapakah nabi-nabi dan rasul-rasul itu? Apakah mereka rasul dalam Perjanjian Baru? Bukan. Di sini dikatakan, bahwa Allah terlebih dulu mengutus nabi dan rasul kepada bani Israel, tetapi mereka tidak menerima, kemudian barulah Ia mengutus AnakNya. Jadi, nabi-nabi dan rasul-rasul itu semua adalah yang diutus kepada bani Israel sebelum kedatangan Tuhan Yesus. Karena itu, mereka adalah rasul-rasul Perjanjian Lama. Tetapi dari kitab Kejadian hingga Maleakhi, dapatkah Anda temukan seorang rasul? Satu pun tidak. Mengapa Tuhan Yesus berkata demikian? Itu tak lain karena rasul adalah suatu sebutan yang umum dan biasa, bukan mengacu kepada orang berkarunia istimewa. Rasul adalah utusan Allah semata, satu sebutan biasa. Maka Tuhan berkata semua orang yang diutus kepada bani Israel dalam Perjanjian Lama adalah rasul.
Bagaimana Tuhan menyebut orang-orang yang diutusNya pada zaman Perjanjian Baru? Kata Tuhan, "Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya" (Yoh. 13:16). "Utusan" di sini, dalam bahasa Yunani sama dengan "rasul". Tuhan menyinggung rasul di sini tidak mengandung arti lain, mereka hanyalah seorang utusan, bukan orang-orang "bergengsi" yang berkedudukan luar biasa.
Bagaimana tentang pekerjaan rasul? ". . . jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima. Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang daripada rasul-rasul yang tidak ada taranya (besar) itu" (II Kor. 11:4-5) Dari ayat ini kita nampak, bagaimana pekerjaan seorang rasul. Mereka diutus untuk pergi memberitakan Injil, memberitakan Tuhan Yesus, agar orang beroleh selamat dan beroleh Roh Kudus. Orang-orang yang demikian dulu disebut rasul, hari ini tetap disebut rasul. Dulu, sekelompok orang yang diutus Roh Kudus adalah rasul-rasul, hari ini, orang-orang yang diutus Roh Kudus juga disebut rasul.
Dalam II Petrus 3:2 dikatakan, "Supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu." Di sini ternyata, bahwa pekerjaan rasul adalah pekerjaan menyampaikan perkataan. Para rasul menyampaikan sabda Tuhan kepada anak-anakNya. Kalau dulu yang menyampaikan sabda Allah kepada anak-anak Allah adalah rasul, demikian pula hari ini, orang-orang seperti itu juga disebut rasul.
Hari ini, orang-orang yang diutus Tuhan keluar memberitakan Injil tidak menyebut dirinya sendiri rasul, tetapi mengaku dirinya sebagai "misionaris". Ketahuilah, istilah ini adalah bahasa Latin, artinya "utusan", sama persis dengan "apostolos" dalam bahasa Yunani. Kedua istilah ini sinonim. Saya tidak tahu mengapa para penginjil hari ini tidak langsung saja menyebut dirinya "rasul", melainkan "misionaris". Tetapi istilah ini sudah menunjukkan, bahwa para penginjil hari ini mengakui mereka adalah utusan Allah, seperti halnya orang-orang utusan Allah pada masa lampau.
Rasul tidak ditentukan oleh ada tidaknya pekerjaan (mata pencarian) di dunia. Bukan berarti orang yang mempunyai pekerjaan tidak bisa menjadi rasul, yang tanpa pekerjaan baru bisa menjadi rasul. Paulus adalah seorang yang mempunyai pekerjaan. Mungkin hanya rasul-rasul lainnya tanpa pekerjaan. Hanya saja pekerjaan Paulus itu bersifat tidak menetap, yakni dapat dipindah-pindahkan sewaktu-waktu. Seseorang menjadi rasul ditentukan oleh ada tidaknya panggilan dan pengutusan terhadap dirinya. Itulah pokok masalahnya. Ada ini, ia adalah rasul, tanpa ini, ia bukan rasul. Rasul atau bukan rasul tidak ditentukan oleh ada tidaknya pekerjaan. Maka anggapan hari ini, yang menganggap rasul harus tanpa pekerjaan duniawi, adalah opini manusia, bukan pikiran Allah. Namun, saya percaya, seorang rasul tidak boleh memiliki pekerjaan yang tidak dapat dipindah-pindahkan.
BUKTI KERASULAN
Apakah yang menjadi bukti dari sekelompok orang yang menjadi rasul ini? Orang macam apakah baru bisa menjadi rasul? Dalam I Korintus 9:1-2 dikatakan, "Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan? Sekalipun bagi orang lain aku bukan rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai (bukti) dari kerasulanku." Dari ayat ini kita nampak, bahwa seorang rasul ada buktinya. Tuhan tidak mengutus seseorang bekerja tanpa bukti. Dalam suratnya kepada kaum imani di Korintus, Paulus pernah memperdebatkan masalah ini. Kaum imani di Korintus ada yang tidak mengakui kerasulan Paulus. Paulus berkata, bahwa ia adalah rasul, dan ia punya bukti kerasulannya. Katanya, "Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai (bukti) dari kerasulanku." Tanpa aku, kalian tidak akan beroleh selamat, di Korintus pun tidak akan ada gereja. Kalau bukan Allah mengutus aku datang ke Korintus, maka di Korintus tidak akan ada kalian. Benar tidaknya Allah mengutus seseorang menjadi rasul, terbukti dari ada tidaknya buah dari pekerjaannya di tempat itu. Di mana ada perintah Allah, di situ ada wewenang Allah. Di mana ada wewenang Allah, di situ ada kekuatan Allah. Di mana ada kekuatan Allah, di situ ada buah-buah rohani. Wewenang berasal dari perintah Allah, kekuatan berasal dari wewenang Allah, buah berasal dari kekuatan Allah. Jadi buah pekerjaan kita itulah bukti posisi pekerjaan kita.
Mungkin ada yang bertanya, Paulus berkata, "Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita." Apakah berarti orang yang telah melihat Tuhan yang bangkit layak menjadi rasul? Kita harus tahu, dalam I Korintus 9:1 itu, Paulus menyinggung empat perkara: 1) bukankah aku orang bebas; 2) bukankah aku rasul; 3) bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita; 4) bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan. Pada ayat 2 Paulus merangkaikan dua fakta di antaranya, dan dua fakta lainnya dihapuskan. Fakta dia sebagai rasul dan orang-orang Korintus sebagai buah pekerjaannya dalam Tuhan dirangkaikannya, sedang fakta dirinya sebagai orang bebas dan telah melihat Yesus dihapusnya. Maka kita tahu, bahwa yang Paulus jadikan bukti kerasulannya adalah buah pekerjaannya, bukan karena ia pernah melihat Yesus atau menjadi orang bebas. Jika tidak demikian, bukankah orang-orang yang bebas semuanya menjadi rasul? Paulus tak pernah jadi budak. Di sini Paulus hanya mengungkapkan tiga jenis kualifikasinya, tidak berarti harus memiliki ketiga syarat itu baru terbukti sebagai rasul.
Ada satu bukti lagi, yaitu I Korintus 15:5-9, "Bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas rasulNya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang . . . Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku . . . karena aku adalah yang paling hina (kecil) dari semua rasul . . ." Apakah dalam ayat-ayat ini hal menjadi rasul dan hal melihat Tuhan yang bangkit disejajarkan oleh Paulus? Tidak. Di sini kita nampak sangat jelas, rasul Paulus tidak mengatakan melihat Tuhan sebagai syarat menjadi rasul. Judul pasal ini adalah menyaksikan kebangkitan Tuhan, dan yang disaksikan di sini bukan tentang bukti menjadi rasul, melainkan bukti kebangkitan Tuhan Yesus. Lagi pula, Tuhan tidak hanya menyatakan diri kepada Kefas, kedua belas rasul, Yakobus dan lima ratus saudara. Jadi rasul yang melihat kebangkitan Tuhan adalah rasul, rasul yang tidak melihat kebangkitan Tuhan juga adalah rasul. Kelima ratus saudara itu bukan rasul, meski telah melihat Tuhan yang bangkit, mereka tetap bukan rasul. Maka mengatakan, melihat Tuhan yang bangkit, barulah bukti kerasulan, itu hanyalah anggapan manusia. Alkitab tidak mengatakan begitu, dan kita harus menyingkirkan kesalahpahaman ini.
Benar, rasul harus ada buktinya. Surat II Korintus 12:11-12 mengatakan, ". . . Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mijuzat dan kuasa-kuasa." Bukti sebagai rasul ada pada Paulus. Satu perkara yang pasti, jika seseorang dipanggil oleh Allah menjadi rasul, pada dirinya pasti ada tanda-tanda kerasulan, sehingga begitu orang melihatnya, segera mengetahui, bahwa ia adalah rasul. Tanda kerasulan Paulus di sini terlihat dengan adanya dua jenis kekuatan: kekuatan rohani dan kekuatan adikodrati. Kekuatan rohani yang terbesar ialah kesabaran. Penyataan terbesar dari kekuatan rohani ialah kemampuan bersabar hati dan lapang dada dengan sukacita (Kol. 1:11) Kesabaran paling memerlukan kekuatan, maka kesabaranlah kekuatan rohani yang terbesar. Dapat tidaknya Anda bersabar hati, membuktikan besar kecilnya kekuatan rohani Anda. Ketika I Korintus 13 membahas penyataan kasih, kalimat pertama adalah: "kasih itu sabar", dan kalimat terakhir adalah: "sabar menanggung segala sesuatu". Kesabaran adalah tanda kerasulan, yakni suatu semangat yang pantang mundur dan tak terpatahkan. Orang yang mudah lepas tangan, tanpa daya sabar, tentu tidak pernah nampak Allah, dan tidak memiliki realitas rohani. Mungkinkah orang semacam itu menerima panggilan Allah? Boleh jadi mereka adalah rasul, tetapi tanpa tanda kerasulan; mereka tidak mirip rasul. Seorang rasul tidak hanya memiliki kekuatan rohani sebagai tanda kerasulannya, juga ada kekuatan adikodrati di belakangnya. Allah mengabulkan doa mereka, dan dengan mujizat-mujizat Allah membuktikan bahwa mereka adalah rasul utusanNya. Betapa perlunya hal ini bagi mereka ketika mereka bekerja di kalangan orang kafir.
Namun harus kita perhatikan: bukan semua orang yang dapat melakukan mujizat adalah rasul. Ingatlah, bahwa dalam I Korintus 12:28, di luar rasul masih ada orang yang dapat melakukan mujizat dan dapat menyembuhkan. Ada orang yang dapat melakukan mujizat dan bersamaan dengan itu ia memang adalah rasul, ada juga orang yang dapat melakukan mujizat tetapi ia bukan rasul, ia hanyalah orang yang berkarunia melakukan mujizat semata. Surat I Korintus 12 memperlihatkan kepada kita perbedaan antara orang yang dapat melakukan mujizat dengan rasul. Hanya saja, ada rasul yang dapat melakukan mujizat, ada pula pelaku mujizat yang bukan rasul.
RASUL PALSU
Rasul palsu itu ada; bukan saja pada hari ini, bahkan pada jaman dulu pun ada. Surat II Korintus 11:13 mengatakan, "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus." Alkitab mengatakan dengan jelas tentang adanya rasul-rasul palsu. Mereka bukan murid-murid palsu; boleh jadi mereka benar-benar adalah murid-murid, orang-orang yang sudah dilahirkan kembali dan beroleh selamat. Namun mereka memanfaatkan perkara ibadah sebagai cara untuk memperoleh keuntungan (I Tim. 6:5). Mereka ingin menjadi kaya melalui jalur agama. Mereka menaruh harapan pada orang-orang Korintus agar beroleh sesuatu. Maka Paulus mengingatkan kaum imani Korintus untuk waspada. Adakalanya, setelah rasul sejati memperoleh hasil dari pekerjaannya, lantas ada orang yang ingin menarik keuntungan dari hasil-hasil tersebut. Orang semacam inilah rasul palsu. Maka Alkitab mengatakan, bahwa rasul sejenis itu harus diuji. Gereja di Efesus pernah menguji orang-orang yang menyebut dirinya rasul, padahal bukan rasul (Why. 2:2); mereka adalah pendusta. Pengujian semacam itu jelas diperkenan oleh Tuhan.
Ujian terbesar untuk membuktikan seseorang itu rasul palsu atau bukan adalah melihat sikapnya terhadap uang. Barangsiapa tidak beres, ada main dan serakah dalam hal keuangan, ia pasti rasul palsu. Rasul palsu kalau tidak mencari nama tentu mencari harta. Barangsiapa cinta uang, ia pasti rasul palsu. Ketika Paulus mengirimkan bantuan kepada kaum saleh di Yerusalem, ia khusus mengutus dua orang saudara pergi membawakan uang ke sana. Dalam hal ini, sikapnya luar biasa jernih dan terang. Barangsiapa bersikap tamak atas hal uang, pasti ia rasul palsu. Begitu hati kita terjamah oleh uang, dan pekerjaan kita bukan sepenuhnya untuk Tuhan karena mengasihi Tuhan, melainkan dipengaruhi oleh uang, maka kita berkemungkinan berubah dari rasul sejati menjadi rasul palsu! Kita wajib belajar seperti kaum imani Efesus, tahu bagaimana menguji orang-orang yang mengaku dirinya rasul, padahal bukan rasul.
Syukur kepada Allah, Roh Kudus masih ada di sini. Syukur kepada Allah, bukan karena tidak memiliki karunia istimewa, maka kita tidak bisa menjadi rasul. Syukur kepada Allah, bukan setelah nampak Tuhan dengan mata jasmani, baru layak menjadi rasul. Syukur kepada Allah, baik kita sebagai nabi, pengajar atau pemberita Injil, asalkan kita ada panggilan Allah, kita sudah layak menjadi rasul. Hari ini, semua orang yang terpanggil, apa pun karunia yang dimilikinya, pernah melihat Tuhan atau tidak, asal ia terpanggil oleh Tuhan, maka dialah rasul yang meneruskan urutan kerasulan Paulus dan Barnabas. Meskipun kita bukan satu di antara kedua belas rasul itu, tetapi kita adalah rasul. Walau kita bukan rasul besar, kita adalah salah satu rasul paling kecil dari semua rasul. Jatah rasul belum jenuh dan ini bisa menjadi bagian setiap orang yang menerima amanat Tuhan, menjadi bagian setiap orang yang diutusNya.
SAUDARI SEBAGAI RASUL
Adakah rasul perempuan (saudari)? Ada. Dalam Roma 16:7 kita nampak ada dua rasul yang terkenal di antara para rasul, seorang bernama Andronikus, dan seorang lainnya bernama Yunias. Berdasarkan kitab bahasa Yunani yang berwibawa, Yunias adalah sebuah nama feminin. Jadi Yunias adalah seorang perempuan, dan dia adalah salah seorang rasul terkenal. Maka kita nampak, bahwa di antara rasul terdapat rasul perempuan. Memang di antara kedua belas rasul itu tidak ada rasul perempuan, tetapi di antara para rasul ada saudari. Meski tidak ada bukti lain, tetapi nama Yunias ini merupakan satu bukti. Mungkin dalam bahasa lain ada nama seorang laki-laki yang mirip dengan nama wanita, tetapi dalam bahasa Yunani tidak mudah ada kekeliruan.
PARA RASUL KECIL
Satu hal lagi, yakni meski kita boleh jadi adalah rasul-rasul, tetapi itu tidak berarti setiap orang sama besar kecilnya. Ada rasul yang terbesar, ada pula rasul yang terkecil. Dalam Alkitab rasul terbagi menjadi yang besar dan kecil. Ada rasul, karena amanat yang Allah bebankan lebih banyak, maka jabatan kerasulannya lebih besar. Rasul besar itu tidak saja karena amanat yang diterimanya lebih banyak daripada yang lain, iapun bekerja lebih keras daripada yang lain (I Kor. 15:10). Dalam II Korintus 11:5 dikatakan, "Sedikitpun aku tidak kurang daripada rasul-rasul yang tak ada taranya itu", dan II Korintus 12:11 mengatakan, "Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Dari ayat-ayat tersebut kita nampak, bahwa Alkitab tidak menyamakan setiap rasul.
Di sini kita wajib bersyukur kepada Allah. Hari ini walau kita tidak terpanggil sebagai rasul besar, kita lebih kecil daripada rasul yang terkecil, tetapi kita benar-benar adalah utusan Tuhan. Dibandingkan dengan rasul-rasul dalam Alkitab, kita memang sangat kecil, dan dibandingkan dengan rasul utusan Allah hari ini, kita pun jauh lebih kecil. Namun, demi kasih karunia, kita tahu siapakah pengutus kita. Terhadap rekan sekerja, saya katakan, kita harus selalu mengambil satu sikap, yaitu kita memang tidak setara dengan orang lain. Kita tidak dapat berkata seperti Paulus, "Sedikit pun aku tidak kurang daripada rasul-rasul besar"; tetapi kita dapat berkata seperti Paulus, "Aku adalah yang paling hina dari antara rasul-rasul." Dalam pekerjaan, meski Paulus bekerja keras luar biasa dan sangat dipakai Allah, dan meski ia benar-benar seorang rasul besar, tetapi ia selalu menaruh sikap: Aku tak layak jadi rasul, aku adalah rasul yang paling kecil. Apa lagi kita hari ini, benar-benar adalah rasul kecil. Kalau tidak, pasti kita akan bersaingan atau bergesekan dalam pekerjaan. Ke"besar"an yang harus kita tonjolkan bukan dalam perkataan, kedengkian atau kesombongan, melainkan dalam kesabaran, kerja keras dan motivasi. Kalau demikian, barulah kita dapat setia terhadap jabatan kita, barulah kita dapat dengan sehati memberitakan Injil Tuhan dan membangun gerejaNya.