← Daftar isi Penghidupan Gereja yang Normal · bab 3/9

PENGUTUSAN DAN JEJAK PARA RASUL

-- Kisah Para Rasul 13-14 --

Rasul pertama, Tuhan Yesus, adalah utusan Bapa sendiri. Kedua belas rasul itu adalah utusan Anak di bumi. Pekerjaan rasul pertama secara jasmani telah berlalu, demikian pula pekerjaan kedua belas rasul itu. Rasul utusan Bapa dan Anak sudah berlalu, yang ada sekarang tinggal para rasul utusan Roh Kudus (wakil Tuhan yang telah naik ke sorga) di bumi. Bagaimana Bapa mengutus Anak, dan bagaimana Anak mengutus Roh Kudus, semuanya itu sudah kita ketahui. Sekarang kita akan melihat bagaimana Roh Kudus mengutus kita. Dalam Kisah Para Rasul 13, kita nampak awal mula Roh Kudus mengutus orang secara resmi. Hal tersebut tak pernah terjadi sebelumnya.

Gereja di Antiokhia adalah satu "contoh" (teladan) gereja yang tercantum dalam Alkitab, sebab gereja ini baru terbangun setelah gereja-gereja di kalangan orang Yahudi dan orang kafir terbangun. Dalam Kisah Para Rasul 2, tercatat terbangunnya gereja bagi kalangan orang Yahudi di Yerusalem; sedang dalam Kisah Para Rasul 10, tercatat terbangunnya gereja bagi orang-orang kafir di rumah Kornelius. Gereja di Antiokhia baru didirikan setelah ada gereja-gereja di Yudea dan di tanah kafir. Karena itu, gereja di Antiokhia merupakan contoh/teladan gereja. Gereja di Yerusalem berada pada masa transisi dan sudah tentu masih berbau agama Yahudi; lain halnya dengan gereja di Antiokhia yang berdiri pada kedudukan gereja secara tuntas dan riil. Di Antiokhialah untuk pertama kalinya murid-murid disebut "Kristen" (Kis. 11:26). Sifat Kristiani dan karakteristik kekristenan secara khusus terekspresi di Antiokhia; seolah-olah Yerusalem pun kurang memadai. Sebab itu, gereja di Antiokhia adalah sebuah contoh gereja; para nabi dan pengajar di sana adalah "contoh"; begitu pula rasul-rasul yang dipilih di sana. Pengutusan para rasul yang dilakukan di Antiokhia bertumpu pada kedudukan gereja, dan merupakan kali pertama Roh Kudus memilih rasul secara resmi. Maka pengutusan rasul oleh gereja "contoh" di Antiokhia kali ini merupakan teladan pengutusan yang sangat penting.

Sejak rampungnya Perjanjian Baru, dalam sejarah, banyak orang yang diutus Roh Kudus pergi ke seluruh dunia demi melaksanakan pekerjaan yang diperintahkan Tuhan. Tetapi secara serius boleh dikatakan, semua itu tidak dapat menjadi teladan kita. Kita harus mengamati bagaimana Roh Kudus berbuat untuk pertama kali, itulah yang patut menjadi teladan kita. Sekarang, mari kita kaji bagaimana seluk beluk Roh Kudus pada mulanya memilih dan memanggil orang. Untuk ini, kita perlu kembali kepada ayat-ayat Alkitab yang bersangkutan. Kisah Para Rasul 13 adalah sejarah Roh Kudus pertama kali mengutus orang, maka sekarang kita ingin memeriksa Kisah Para Rasul 13 dengan seksama.

PANGGILAN DAN SIMPATI (DUKUNGAN)

Kisah Para Rasul 13:1-3 mengatakan, "Pada waktu itu dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi."

Hal pertama yang harus kita perhatikan di sini ialah ada satu gereja di Antiokhia, gereja lokal, dan di gereja ini ada beberapa nabi dan pengajar. Kemudian dari orang-orang itu Roh Kudus memilih dua orang untuk pergi melakukan pekerjaanNya. Roh Kudus tidak mungkin memilih orang yang tidak mempunyai karunia atau yang tak pernah melakukan pekerjaanNya. Sebelum terpanggil, para rasul itu sudah mempunyai karunia, mereka sudah menjadi nabi dan pengajar, yakni sudah sebagai minister dalam "ministri" itu. Jadi mereka sudah berkarunia sebelum menjadi rasul. Seperti kata Spurgeon kepada seorang pelajar, "Allah tidak mungkin memanggil orang yang bisu untuk memberitakan Injil." Jika Allah memanggil seseorang untuk menjadi mulut, orang itu pasti diberiNya peta lidah. Ini jelas mengacu kepada aspek alamiah. Demikian pula, Allah tak mungkin memilih orang yang tidak mempunyai karunia untuk bekerja; Roh Kudus pun tak mungkin memilih orang yang menyembunyikan karunia atau yang tanpa beban rohani untuk melakukan pekerjaan utusan. Mereka itu sudah merupakan kader "pekerjaan ministri itu" di lokal mereka sendiri, sudah merupakan petugas pekerjaan rohani yang memperhatikan serta melaksanakan pekerjaan Tuhan di situ. Mereka bukan orang-orang yang menetap dan tidak mau bergerak dari satu lokal, yang baru aktif setelah ada panggilan Roh Kudus untuk pergi ke berbagai tempat. Justru ketika mereka sedang menunaikan tugas lokal, datanglah suara dari Roh Kudus yang mengutus mereka pergi melakukan pekerjaan di setiap lokal. Roh Kudus memilih dua orang di antara beberapa nabi dan pengajar. Saya tidak dapat memastikan apakah mereka itu nabi atau pengajar, atau kedua-duanya. Yang berani saya pastikan ialah, bahwa mereka adalah orang-orang berkarunia dan yang sudah bekerja di lokal mereka sendiri.

Siapakah mereka? Barnabas adalah orang yang baik. Simeon mungkin dulunya bukan orang yang terpandang, sebab "niger" berarti "hitam". Lukius, orang Kirene adalah Negroid dari benua Afrika. Menahem adalah seorang bangsawan, sebab ia pernah diasuh bersama raja wilayah Herodes. Saulus adalah seorang pemikir cerdas yang sarat pengetahuan. Ditinjau dari segi mental, pengetahuan atau status sosial, mustahil kelima oknum itu bisa hidup bersama, sebab perbedaan mereka satu dengan yang lain besar sekali. Latar belakang dan sejarah satu dengan yang lain sangat jauh berbeda. Tetapi di hadapan Allah, mereka sama-sama menerima kasih karunia sebagai nabi dan pengajar.

"Ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus." Mereka sering mendekati Tuhan, melayani Tuhan, sehingga Tuhan mempunyai kesempatan berbicara dengan mereka. Begitu tekunnya mereka melayani Tuhan, sehingga menghentikan perkara yang paling wajar -- makan -- untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Dengan demikian, Roh Kudus mempunyai kesempatan berbicara serta memanggil dua orang di antara mereka untuk pergi bekerja. Di sini kita harus memperhatikan satu hal: setiap pengutusan pekerja bertolak dari Roh Kudus, bukan karena ada kebutuhan atau kesenangan, atau pengaturan lingkungan. Tujuan kelima orang itu ialah melayani Tuhan, karena itu, Roh Kudus baru dapat mengutus mereka untuk melakukan pekerjaan Allah. Belum tentu setiap orang yang melakukan pekerjaan Allah itu melayani Allah. Tetapi mereka berlima datang ke hadapan Allah bukan ingin bekerja bagi Allah, melainkan melayani Allah. Ketika mereka sedang melayani Allah, Roh Kudus memanggil mereka.

"Berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Setiap pekerjaan yang resmi harus bertitik tolak pada kalimat tersebut. Walau idenya sudah sempurna, alasannya sudah cukup, orangnya sudah memenuhi syarat, dan kebutuhannya pun sangat mendesak, tetapi jika Roh Kudus tidak berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka", maka tidak layaklah orang itu menjadi rasul. Mereka layak menjadi nabi atau pengajar, tetapi mereka tidak layak menjadi rasul. Seorang rasul harus diutus oleh Roh Kudus. Rasul jaman itu harus diutus oleh Roh Kudus, rasul jaman kini juga harus diutus oleh Roh Kudus. Orang yang belum beroleh panggilan Roh Kudus tidak layak pergi melakukan pekerjaan rasul. Memang Allah ingin manusia melayani Dia, melakukan pekerjaanNya, namun Allah tidak ingin manusia melakukan pekerjaanNya menurut kemauan manusia itu sendiri. Maka motivasi untuk membantu gereja, membina kaum imani atau menyelamatkan orang dosa, itu masih bukan kualifikasi seseorang untuk keluar bekerja. Hanya ada satu kualifikasi, yakni pengutusan Allah. Jadi bukan "wajib militer" dengan kerelaannya sendiri, melainkan menerima undangan/panggilan Allah. Allah tidak mau memakai orang yang masuk tentara dengan tekad dan kegairahannya sendiri; hanya orang yang dipanggil Allah baru bisa dipakai olehNya.

Roh Kuduslah yang berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Ia terlebih dulu memanggil orang menjadi murid, kemudian dari antara murid-murid itu, memanggil orang menjadi rasul. Tanpa panggilan, tak mungkin menjadi murid. Demikian pula, tanpa panggilan tak mungkin menjadi rasul. Sebab itu, semua rasul wajib menerima panggilan Roh Kudus. Melayani Allah adalah motivasi mereka, berpuasa adalah penyataan sikap mereka, sedang yang berbicara dengan mereka adalah Roh Kudus; ini mutlak perlu. Kualifikasi kerasulan diperoleh melalui menerima panggilan Roh Kudus. Tanpa surat tugas, tak mungkin orang bekerja pada instansi pemerintah; demikian pula, tanpa panggilan Roh Kudus, tak mungkin ada jabatan rasul. Masalahnya hari ini ialah ada orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai rasul, tanpa panggilan Roh Kudus. Para rasul dalam Alkitab adalah orang yang dipanggil Roh Kudus. Jika tidak mengakui panggilan Roh Kudus, berarti tidak mengakui penyertaan Roh Kudus. Di sini ada satu hal yang harus khusus diperhatikan, yaitu bagi setiap orang yang ingin menjadi rasul, perkara yang terpenting ialah menerima panggilan atau tidak. Nasihat orang, pengaturan lingkungan, desakan kebutuhan, dorongan saudara senior, . . . , semuanya tidak berguna.

Di sini, pertama-tama Roh Kudus memanggil dan mengutus Barnabas dan Saulus untuk melakukan pekerjaanNya, kemudian kita nampak saudara-saudara melepas mereka pergi. Boleh jadi saudara-saudara berkata, "Pada diri Anda ada panggilan," lingkungan sekitar dan orang-orang selokalpun berkata, "Anda ada panggilan". Tetapi persoalannya, Anda sendiri ada panggilan atau tidak? Kalau Anda sendiri tidak ada panggilan, meski adakalanya opini saudara itu sangat mustika, namun itu tak mungkin mewakili wahyu Anda di hadapan Allah. Meski pengutusan lembaga (kelompok) adakalanya sangat membantu, namun itu tidak dapat menggantikan terang Anda di hadapan Allah. Opini saudara maupun utusan lembaga memang berharga, tetapi itu bukan Perjanjian Baru. Kita harus menerima wahyu dari Allah sendiri, itu barulah Perjanjian Baru.

Panggilan adalah awal mula segala pekerjaan. Manusia tidak mungkin dengan tekad atau keberaniannya sendiri berjuang bagi kerajaan Allah. Orang yang demikian tidak terpakai olehNya. Jika Allah ingin melakukan sesuatu, Ia sendiri akan memanggil dan mengutus orang melakukannya. Ia tidak memakai manusia menjadi penasihatNya. Semua kegairahan yang diprakarsai darah daging manusia tidak ada faedahnya. Perkara utama bagi pekerja Allah ialah mengerti panggilan Allah; tanpa itu, tidak ada pekerja dan pekerjaan. Itulah titik tolak segala-galanya, sebab panggilan menunjukkan Allah yang memulai, bukan manusia yang memulai. Panggilan juga meletakkan Allah pada nomor satu dalam pekerjaanNya. Panggilan Allah adalah melalui "Roh Kudus berkata". Terpanggilnya seseorang boleh jadi melalui manusia, atau Alkitab, atau lingkungan, atau khotbah. Bagaimanapun Roh Kudus harus berkata; Roh Kudus harus berbicara di balik segala perkara itu. Roh Kudus bisa langsung berkata kepada manusia, Iapun bisa berkata melalui manusia, perkara atau benda. Adakalanya Ia bisa berkata melalui visi dan mimpi. Hanya mimpi, tanpa ayat Alkitab atau lingkungan, itu tidak berguna. Yang terpenting adalah Roh Kudus berbicara; bagaimanapun Roh Kudus harus berbicara. Semua orang dalam Perjanjian Baru bisa mengetahui Roh Kudus berbicara kepada dirinya atau tidak. Bukan orang mengatakan, "Pergi", baru Anda pergi, juga bukan karena Anda diundang orang, baru Anda pergi, atau karena keadaan sekitar menghimpit Anda, ataupun karena terdesak oleh kebutuhan. Bukan diutus oleh sebuah misi atau seseorang, melainkan mutlak diutus oleh Roh Kudus. Memang manusia kemudian bisa "membiarkan" Anda pergi, tetapi manusia hanya dapat membiarkan orang yang telah diutus oleh Roh Kudus. Kehidupan Tubuh memang sangat penting, tetapi itu sekali-kali tidak dapat menggantikan perintah Roh Kudus. Kita wajib saling menaati, namun itu tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemandirian di dalam Roh Kudus. Dengan dalih kehendak Tuhan lalu mengabaikan petunjuk rekan sekerja, itu memang tidak benar. Tetapi hanya menghiraukan perkataan rekan sekerja, tanpa mendengar perintah Roh Kudus, itu juga tidak benar.

Pada aspek lainnya, ini tidak berarti kita boleh mandiri, tidak seorang pun boleh menilai aku sebagai rasul atau bukan rasul. Roh Kudus melarang orang berbicara sembarangan. Ya, memang Roh Kudus memanggil Barnabas dan Saulus, tetapi Roh Kudus juga berkata kepada para nabi dan pengajar yang tinggal bersama mereka, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus (Paulus) bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Roh Kudus tidak hanya berbicara kepada Barnabas dan Saulus, juga berbicara kepada para nabi dan pengajar yang tinggal bersama mereka. Roh Kudus bukan berkata kepada gereja di Antiokhia, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus", melainkan berkata kepada beberapa nabi dan pengajar di gereja Antiokhia. Roh Kudus tak mungkin berbicara kepada seluruh gereja di Antiokhia, sebab orang-orang di dalam gereja itu ada yang dewasa, ada pula yang hijau. Banyak yang tanpa tuntutan dan selera rohani, mustahil mereka dapat mendengar suara Allah. Maka tidak mungkin gereja lokal mengetahui perihal Allah mengutus seseorang. Roh Kudus berbicara kepada beberapa nabi dan pengajar saja, karena mereka adalah orang-orang yang mempertahankan "pekerjaan ministri itu" di lokal itu. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman rohani, berbeban rohani, dan yang berminat terhadap kehendak Allah; mereka tidak mau melewatkan hari-hari mereka dengan sembarangan. Karena itu, Roh Kudus berbicara kepada mereka saja. Semua yang menjadi rasul wajiblah beroleh wahyu dari Roh Kudus secara langsung, ini adalah dasar mutlak dan satu-satunya bagi seorang rasul. Tetapi, hanya ada itu saja tidak cukup, masih perlu ada simpati/dukungan para sekerja yang mempunyai wahyu Allah, selera rohani dan mengenal kehendak Allah.

Dalam hal ini kita nampak dua fakta yang mustika: pertama, kita tidak boleh menuruti perkataan orang lain, termasuk perkataan nabi atau pengajar. Kedua, kita harus mempunyai pembuktian dan simpati nabi dan pengajar, mereka dan kita sama-sama beroleh wahyu dari Roh Kudus.

Sebagai hasilnya, mereka "berpuasa dan berdoa, meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan membiarkan keduanya pergi" (Kis. 13:3). Setelah ada panggilan Roh Kudus, harus pula ada pelepasan nabi dan pengajar. Kedua hal tersebut dapat mencegah orang dari tindakan individual. Terpanggil adalah masalah individual, tetapi pelepasan adalah masalah korporat. Tetapi korporat ini bukan mengacu kepada seluruh gereja lokal, melainkan beberapa orang berkarunia dalam gereja lokal, dan yang mempunyai beban rohani sama.

Tak sedikit saudara yang berkarunia, namun tanpa sikap rohani, sehingga masalah mereka sendiri saja tidak sempat mereka atasi, maka tak mungkinlah mereka mengetahui tentang terpanggilnya orang lain. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang panggilan, mereka tidak bisa memberi penjelasan apa-apa, sekalipun mereka menjelaskan sesuatu, tetap tidak bisa diandalkan. Mereka mungkin ada karunia, tetapi tidak mempunyai sikap rohani yang wajar. Namun, lain halnya dengan beberapa nabi dan pengajar ini, mereka adalah orang-orang yang bersama-sama melayani Tuhan, dan bersama-sama berdoa, maka mereka bisa menganggap urusan orang lain seperti urusan sendiri; mereka mempunyai sikap yang senang membawakan urusan orang lain ke hadapan Allah, dan mereka mempunyai sikap yang memungkinkan Allah bersabda kepada mereka. Karena itu, mereka dapat mengetahui apakah Allah telah memanggil orang, juga memungkinkan Roh Kudus berkata, "Khususkanlah si Anu dan si Anu bagiKu".

Di sini ada satu teladan yang patut kita perhatikan: bahwa puasa merupakan titik awal dan titik akhir pelepasan rasul. Titik awal pelepasan rasul adalah berpuasa, beribadah kepada Tuhan, dan titik akhir pelepasan rasul juga berpuasa dan berdoa. Orang yang tidak berpuasa, melayani Tuhan, tidak mungkin mendengar suara Allah. Bila tidak berpuasa dan berdoa, pembuktian mereka bisa keliru. Karena itu, orang-orang yang melepas utusan, haruslah orang-orang yang berpuasa, berdoa dan melayani Tuhan.

Terpanggil adalah perkara yang langsung, sedang diutus adalah perkara yang tidak langsung. Panggilan merupakan perkataan Roh Kudus langsung terhadap orang yang dipanggil, sedangkan pengutusan/pelepasan merupakan perkataan Roh Kudus melalui sekerja kepada orang yang terpanggil itu. Sebab itu, bila saudara-saudara yang berkarunia hendak mengutus saudara lain sebagai rasul, mereka harus bertanya kepada diri sendiri apakah hal tersebut bisa mewakili perbuatan Roh Kudus atau tidak. Kalau Anda tidak yakin dan agak memaksa, itu tak bernilai sama sekali. Andaikan Anda mengutus orang sebagai rasul, Anda harus berani berkata bahwa Roh Kudus sudah mengutusnya. Kalau tidak, maka tindakan Anda tidak ada nilai rohaninya. Memang ia rasul, tetapi rasul siapa? Jika ia rasul manusia, manusia boleh mengutusnya; tetapi jika ia rasul Allah, ia harus diutus Allah. Setelah manusia terpanggil oleh Roh Kudus, barulah ia diutus oleh para nabi dan pengajar setelah mereka berpuasa dan berdoa.

Tujuan berpuasa di sini tidak hanya untuk mengenal kehendak Allah, juga untuk kesukaran di depan, dan berdoa di sini bukan hanya untuk melaksanakan kehendak Allah, juga untuk kasih karunia di hari depan. Peletakan tangan di sini sama dengan peletakan tangan dalam Perjanjian Lama, yakni sebagai pernyataan simpati, bersatu dan pengharapan kelancaran masa depan. Mereka tidak hanya berpuasa, berdoa, juga meletakkan tangan. Peletakan tangan bukan tanda pelantikan, sebab mereka sudah dilantik oleh Roh Kudus, jadi mereka hanya menyatakan simpati semata. Maksudnya: kalian pergi berarti kami pergi; kalian memberitakan Injil, berarti kami memberitakan Injil. Jika ada orang yang memberi Anda peletakan tangan, berarti ada orang yang mendoakan Anda dari belakang, ada yang memperhatikan, bersehati, berharap, serta ada yang menantikan kabar berita Anda. Setelah mereka menerima peletakan tangan, barulah mereka berangkat.

Setiap utusan Allah wajib memperhatikan kedua aspek ini: pertama, harus ada panggilan pribadi, harus tahu keadaan terpanggilnya diri sendiri. Kedua, harus ada pembuktian dari rekan sekerja, yakni pembuktian dari orang-orang yang sama-sama menjadi nabi dan pengajar. Sudah tentu para nabi dan pengajar ini haruslah orang yang membuka hati, yang bisa menerima wahyu Roh Kudus dan yang dapat bersimpati terhadap rekan sekerja di hadapan Allah. Prinsip pengutusan rasul oleh Roh Kudus hari inipun sama dengan yang diterapkanNya pada kali pertama itu. Gereja lokal hanya menangani urusan gereja lokal; nabi dan pengajar menangani pekerjaan gereja lokal, maka mereka harus menyatakan simpati.

PERJALANAN PENGINJILAN

Bagaimanakah tindak lanjut para rasul setelah mereka menerima panggilan Roh Kudus dan simpati dari rekan sekerja? Ingatlah, orang-orang yang mengutus mereka hanya meletakkan tangan dan menyatakan simpati belaka, mereka tidak berkuasa mengendalikan para rasul itu. Puasa, doa dan peletakan tangan mereka hanya menyatakan simpati saja, tetapi tidak bertanggung jawab apapun atas aktivitas, tunjangan dan keperluan para utusan tersebut. Dalam Alkitab tidak pernah ada catatan tentang seorang rasul yang dikendalikan oleh manusia. Mereka dipanggil Roh Kudus, dan rekan sekerja hanya menyatakan simpati saja. Mereka tidak punya peraturan dan atasan. Mereka hanya memiliki Roh Kudus sebagai komandan mereka, dan mereka maju ke depan hanya menurut pimpinan Roh Kudus.

Untuk kali pertama Roh Kudus mengutus dua rasul terlihat dalam Kisah Para Rasul 13 dan 14. Setelah membaca kedua pasal itu, kita nampak bagaimana seharusnya jejak perjalanan para rasul. Kedua pasal itu merupakan catatan penginjilan rasul yang pertama kalinya, juga pengalaman penginjilan mereka yang pertama kalinya, supaya kita sebagai rasul hari ini tahu harus bagaimana berbuat. Meskipun kita hari ini tidak mungkin menuju Seleukia, Derbe atau Listra, namun pengalaman perjalanan mereka boleh menjadi teladan kita. Walau dari segi luaran pimpinan Roh Kudus pada kita mungkin tidak sama dengan mereka, tetapi pada prinsipnya, jejak perjalanan mereka adalah teladan kita.

"Oleh karena disuruh (diutus) Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis, mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi . . . Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos . .." (13:4-6). Dari beberapa ayat ini kita nampak, bahwa jejak rasul adalah bergerak terus. Anda tidak akan melihat mereka tinggal menetap di suatu tempat. Dengan kata lain, seorang rasul adalah seorang yang bergerak, bukan seorang yang bercokol/terpaku di satu tempat.

"Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; . . . Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia . . . (Antiokhia lain)" (ayat 13-14). Setelah rasul meninggalkan Antiokhia dan sebelum tiba di Antiokhia Pisidia, mereka sudah memberitakan Injil di tempat-tempat yang disinggahi, tetapi mungkin hasilnya tidak seberapa. Setelah rasul tiba di Antiokhia Pisidia berbedalah keadaannya. Silakan baca ayat-ayat di bawah ini:

"Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas . . ." (ayat 43). Itulah hasil penginjilan mereka di Antiokhia Pisidia. Mereka menarik banyak orang berpaling ke dalam nama Tuhan. Berselang seminggu, rasul berkhotbah lagi kepada mereka dan nyaris orang seisi kota datang berhimpun untuk mendengar firman Allah. Hasilnya, ada beberapa orang Yahudi iri hati, lalu membantah perkataan Paulus, bahkan memfitnahnya. Paulus dan Barnabas kemudian beralih ke kalangan orang kafir dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (ayat 43-48). Pada hari Sabat pertama ada orang-orang Yahudi diselamatkan, dan pada hari Sabat ini ada orang-orang kafir diselamatkan, jadi, banyak orang yang beroleh selamat. Karenanya muncullah gereja di Antiokhia Pisidia.

Tetapi, pekerjaan rasul tidak berhenti di Antiokhia Pisidia. Rasul tidak berkata, "Aku sudah bekerja di sini, dan gereja sudah mulai berdiri, maka kita harus menetap di sini untuk membina atau menggembala mereka." Setelah mendirikan gereja lokal, rasul tidak menetap terus di situ untuk melakukan pembinaan, melainkan "firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu" (13:49). Rasul tidak mementingkan satu lokal saja, melainkan seluruh daerah itu. Alkitab tidak memberi teladan seorang utusan menetap terus di suatu lokal untuk menjaga kawanan domba, seperti yang kita lihat hari ini, melainkan memperhatikan "seluruh daerah itu".

Mereka memberitakan Injil dan mendapatkan beberapa orang, tetapi orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di kota itu, lalu menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas serta mengusir mereka dari daerah itu. Bagaimana reaksi rasul? "Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka . . . lalu pergi ke Ikonium" (ayat 51). Mereka bukan orang-orang yang bercokol di rumah, bukan orang-orang yang tinggal di "gereja" menjadi penjaga domba, melainkan orang-orang yang "menjelajahi jalan". Satu ciri seorang penginjil ialah kaki mereka berdebu. Bila Anda tanpa debu, Anda sudah kehilangan ciri seorang penginjil, kehilangan ciri seorang rasul. Apakah rasul? Rasul adalah utusan. Tidakkah sangat bertentangan jika seorang utusan tidak sering bepergian? Semua utusan harus pergi, harus berdebu, itulah yang diperlihatkan Alkitab kepada kita. Kita tidak boleh menetap seenaknya, tidak boleh menjadi penjaga pintu, melainkan harus pergi keluar. Kaki Anda harus berdebu, baru Anda bisa mengibasnya. Maka ciri-ciri orang-orang yang diutus Tuhan ialah: tidak menetap di satu lokal sebagai penggembala, melainkan sebagai perintis "semi" Injil. Hal ini harus kita perhatikan secara khusus.

Bagaimana keadaan gereja lokal sepeninggal rasul? "Murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus" (ayat 52). Ini benar-benar ajaib! Menurut pikiran kita, orang-orang itu baru saja menerima Injil dan beroleh selamat, bagaimana dengan mereka jika ditinggal para rasul? Mereka tidak berkata kepada para rasul, "Mengapa kalian begitu takut teraniaya dan ingin buru-buru pergi? Mengapa tidak tinggal beberapa hari lagi untuk membina kami? Jika kalian pergi, kami akan menjadi domba yang tanpa gembala. Sedikitnya seorang di antara kalian harus tinggal sesaat di sini." Atau berkata, "Bukankah kami seperti bayi-bayi yang baru lahir? Bagaimana kami bisa menghadapi aniaya yang sedahsyat itu kalau kalian meninggalkan kami?" Tidak, mereka tidak berkata demikian. Di sini kita harus memperhatikan satu perkara: Roh Kudus di sini telah memancangkan suatu teladan, yakni rasul tidak bercokol terus untuk pekerjaan peneguhan. Mereka bukan meninggalkan orang-orang yang beroleh selamat itu setelah mereka agak bertumbuh. Malahan setelah mereka pergi, murid-murid itu penuh dengan sukacita. Murid-murid tersebut memang berniat menjadi orang Kristen yang sesuai dengan Alkitab. Secara pribadi saya yakin, bahwa di dalam gereja semula tidak ada orang Kristen seperti hari ini. Dalam gereja semula, masing-masing orang menganggap gereja adalah kewajiban mereka sendiri, dan urusan dalam gereja adalah urusan mereka sendiri. Lain dengan hari ini, orang menjadi Kristen hanya ikut "kebaktian Minggu" dan mendengarkan khotbah belaka. Sebenarnya, dalam Perjanjian Baru tidak ada orang Kristen model ini. Orang Kristen model ini sebenarnya adalah ciptaan agama Katholik yang muncul di kemudian. Dalam Alkitab, bila seseorang menjadi milik Tuhan, maka dia sendirilah menjadi orang Kristen, dan dia sendiri pula yang menjalin hubungan yang wajar dengan gereja.

Walau para rasul pergi, murid-murid penuh dengan sukacita. Penuh dengan sukacita, karena mereka sudah beroleh selamat. Penuh dengan sukacita, karena mereka sekarang melayani Allah. Penuh dengan sukacita, karena mereka telah menerima terang dari Allah. Penuh dengan sukacita, karena sejak kini orang-orang Ikonium berkesempatan mendengar Injil. Mereka tidak seperti orang Kristen hari ini, yakni selalu menaruh harapan pada seorang gembala/pendeta yang terus-menerus memelihara mereka. Sejarah, latar belakang dan kebiasaan gereja hari ini ialah selalu menaruh harapan kepada seorang pendeta tetap. Namun, dalam gereja yang semula sama sekali tidak ada konsepsi yang demikian, bahkan sama sekali tidak dikenal konsepsi ini.

Mereka tidak hanya penuh dengan sukacita, mereka juga "penuh dengan Roh Kudus". Para rasul sudah pergi, tetapi Roh Kudus masih hadir. Para rasul teraniaya dan meninggalkan mereka, namun Roh Kudus tak mungkin meninggalkan mereka. Setelah para rasul pergi, kehadiran Roh Kudus malah lebih diperlukan. Andaikan di sana ada seorang pendeta, mungkin mereka tidak begitu merasa penting terhadap hal dipenuhi dengan Roh Kudus. Jika ada seorang pendeta di sana, dipenuhi Roh Kudus pun dirasa tidak berguna, tidak dipenuhi Roh Kudus pun tidak dirasa rugi. Karena ada seorang gembala yang khusus mengurusi urusan rohani bagi mereka, maka mereka tidak merasa perlu dipenuhi oleh Roh Kudus. Dalam Alkitab tidak ada konsepsi seorang rasul menetap lama dan menjadi pendeta di suatu lokal. Yang ada dalam Alkitab ialah seorang gembala yang Allah bangkitkan di gereja lokal itu untuk menggembalakan saudara-saudara lainnya di lokal tersebut. Mereka adalah saudara yang berkarunia dari antara orang-orang yang diselamatkan di lokal itu juga, bukanlah seorang rasul yang menetap terus di sana untuk menjaga sebuah gereja. Tetapi, bila rasul pergi namun di sana tidak dipenuhi Roh Kudus, tentu akan sulit. Karena itu, Allah harus memenuhi mereka dengan Roh Kudus. Hari ini orang-orang tidak dipenuhi Roh Kudus, ini dikhawatirkan, karena ada manusia yang bekerja menggantikan Allah!

Dalam 14:1 dikatakan, "Di Ikonium kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya." Untung ada aniaya di Antiokhia yang membuat mereka menghindar ke Ikonium. Jika tidak, di Ikonium tentu tidak begitu banyak yang diselamatkan. Pekerjaan rasul selalu maju ke depan; terus menyelamatkan jiwa dan terus mendirikan gereja. Setelah beberapa hari tinggal di sana, "Orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu" (ayat 4). Lihatlah, orang yang percaya bertambah banyak, sehingga muncullah gereja di Ikonium. "Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu" (ayat 5) Aniaya bertambah hebat, kali ini mereka menggunakan kekerasan. "Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe, dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil" (ayat 6-7). Mereka pergi lagi. Mereka tidak berkata, "Aniaya yang diderita kaum imani di Ikonium sangat besar, maka kita harus menanggungnya bersama-sama, dan kita harus melindungi mereka, serta menolong mereka." Tidak, mereka malah menyingkir ke Listra dan Derbe. Mereka pergi, baik dengan damai sejahtera oleh pimpinan Roh Kudus maupun dengan sengsara oleh aniaya atau penghinaan manusia. Bagaimanapun, mereka selalu berjalan, pergi. Apakah yang mereka lakukan di Listra dan Derbe? Mereka memberitakan Injil di sana dan di sekitarnya.

Bagaimana akibat penginjilan mereka di sana? "Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota . . ." (ayat 19-20). Kini aniaya lebih dahsyat daripada dua kali sebelumnya. Kita tak tahu ada berapa orang yang beroleh selamat, namun dengan adanya murid-murid berdiri mengelilingi Paulus, boleh jadi ketika itu ada delapan atau sembilan orang, atau mungkin ada dua tiga puluh orang, bahkan mungkin seratus atau dua ratus orang. Maka sebuah gereja lagi muncul di Listra. Keesokan harinya Paulus "berangkat bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe . . . memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid . . ." (ayat 20-21). Di Derbe mereka memperoleh sekelompok orang lagi. Perjalanan penginjilan Paulus yang pertama berakhir di Derbe.

Dari ayat-ayat Alkitab di atas, kita nampak satu prinsip terbesar dalam jejak perjalanan rasul, yakni mereka menginjil dan mendirikan gereja dari satu lokal ke lokal lain. Mereka tidak bercokol terus di satu lokal. Tidak ada rasul utusan yang duduk santai di rumah. Dalam Alkitab tidak ada rasul yang tidak bepergian. Teladan jelas telah diperlihatkan Alkitab kepada kita, bahwa tugas rasul adalah memberitakan Injil dari satu lokal ke lokal lain; mereka tidak bertugas menetap dan menggembalakan kaum imani di suatu lokal tertentu.

PEKERJAAN PENGULANGAN

Tetapi, kini ada satu pertanyaan, yakni: siapakah yang menggembala orang-orang yang telah diselamatkan itu? Siapa yang mengurus mereka? Bagaimanakah gereja disusun? Jika rasul tidak tinggal di antara mereka, siapakah yang akan melakukan pekerjaan itu di antara mereka? Selanjutnya, kita melihat bahwa pekerjaan rasul selalu berpola pergi dan pulang. Setelah mereka pergi, mereka masih akan kembali lagi. Ketika mereka kembali lagi, masalah-masalah itu dibereskan. Meskipun mereka sendiri tidak tinggal menetap, tetapi ketika mereka kembali, semua masalah itu diatasi. Mari kita lihat perkara apa yang terlebih dulu mereka lakukan.

"Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan menyatakan bahwa untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara" (ayat 21-22). Mereka sekarang kembali melakukan tugas perawatan atau pembinaan. Tetapi mereka bukan menetap terus di situ untuk membina. Pekerjaan penginjilan oleh rasul dilakukan dari satu lokal ke lokal lain, pekerjaan pembinaan oleh rasul juga dilakukan dari satu lokal ke lokal lain. Jadi, rasul tidak tinggal di satu lokal terus, baik untuk menginjil maupun membina. Perjalanan rasul yang pertama adalah mendirikan gereja, dan dalam perjalanan kembalinya adalah membina atau meneguhkan gereja. Perjalanan pergi dan pulang rasul kali ini memakan waktu lebih dari setahun. Dalam jangka lebih dari setahun ini Paulus telah mendirikan banyak gereja, dan telah membina banyak gereja pula. Kali pertama rasul melakukan pekerjaan pendirian, dan kali kedua rasul melakukan pekerjaan pembinaan. Ketika rasul pergi ke suatu lokal, mereka mendirikan gereja lokal; ketika mereka kembali di suatu lokal, mereka melakukan pembinaan. Dalam Alkitab tidak ada contoh seorang rasul menetap terus di satu lokal untuk memelihara satu gereja, atau menggembala satu gereja, melainkan mereka pergi mendirikan gereja, dan pulang membina gereja.

MELANTIK PARA PENATUA

Kalau demikian, bagaimanakah kelanjutan urusan-urusan gereja di kemudian hari? Para rasul tidak berunding siapa di antara mereka yang harus menetap di satu lokal, pun tidak mengirim surat ke Antiokhia untuk minta dikirimkan orang ke situ, melainkan, "Di tiap-tiap gereja rasul-rasul menetapkan penatua-penatua bagi gereja itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan" (ayat 23). Para rasul adalah pekerja yang Allah bangkitkan untuk memberitakan Injil di tiap-tiap lokal, dan hasil pekerjaan mereka adalah didirikannya gereja-gereja di tiap lokal. Setelah mereka mendirikan gereja, mereka tidak menetap terus di satu lokal. Pada zaman rasuli, setelah rasul pergi menginjil dan mendirikan gereja, maka ketika mereka kembali, mereka membina gereja itu. Berapa lama waktu yang dipergunakan, tidak kita ketahui. Selesai membina, menjelang pergi, lalu di setiap gereja mereka memilih beberapa orang yang agak bertumbuh dari antara kaum imani setempat untuk melantik mereka menjadi penatua, yakni yang disebut penilik dalam Alkitab. Berapa banyak gereja lokal yang mereka dirikan, di gereja-gereja itulah mereka melantik penatua. Mereka bukan menunggu suatu gereja mencapai suatu tingkat tertentu baru melantik penatua, melainkan di setiap gereja lokal mereka melantik para penatua.

Prosesnya sangat sederhana. Setelah rasul memberitakan Injil di suatu lokal dan ada beberapa orang diselamatkan, maka sudahlah ada pendirian gereja. Lalu rasul meninggalkan tempat itu sejangka waktu, dan kemudian kembali lagi ke situ. Dengan sendirinya akan terjadi tiga macam keadaan: 1) ada sebagian orang yang tidak dapat mengikuti; ketika rasul pergi, mereka pun mengundurkan diri; 2) ada sebagian orang bersikap biasa-biasa saja, mereka tetap datang berhimpun; tidak mundur, namun juga tidak giat menuntut kemajuan; 3) ada sebagian orang agak bertumbuh, mereka menaruh minat dalam hal rohani, dan ada tuntutan. Maka, dari antara sebagian orang yang agak bertumbuh inilah rasul memilih dan melantik beberapa orang menjadi penatua. Para penatua itulah yang lebih banyak bertanggung jawab atas penggembalaan, pembinaan dan pengajaran di gereja lokal mereka. Jadi, merekalah yang mengemban kewajiban administrasi dan pengaturan gereja.

Para penatua tersebut bukan bekerja bagi (menggantikan) saudara-saudara setempat, melainkan mengawasi mereka bekerja. Dalam Alkitab, "penatua" berarti "penilik" atau "pengawas". Dalam Alkitab selamanya tak pernah nampak seorang rasul menetap lama di satu lokal untuk mengurus satu gereja; itu tugas penatua, bukan tugas rasul. Rasul sudah pergi, tetapi mereka melantik para penatua dari lokal itu sendiri, untuk mengurus urusan lokal.

Setelah rasul melantik para penatua, maka dengan berpuasa dan berdoa, diserahkanlah mereka kepada Tuhan yang mereka percayai. Sebagaimana ketika mereka sendiri diutus, mereka diserahkan kepada Tuhan melalui puasa dan doa para nabi dan pengajar, kini mereka juga melalui berpuasa dan berdoa, menyerahkan para penatua itu kepada Tuhan.

Inilah teladan pekerjaan rasul. Hari ini kita juga harus bekerja menurut apa yang dikerjakan rasul. Jika kita menaati teladan rasul, wajiblah kita memiliki jejak rasul, perjalanan rasul dan cara kerja rasul. Kalau kita memiliki kekuatan rasul, persembahan rasul dan cara kerja rasul, kita pasti akan mendapatkan hasil seperti rasul, juga derita aniaya rasul. Jika kita hari ini tidak ada hasil seperti rasul, salah satu sebabnya ialah, karena kita tidak menggunakan cara kerja rasul.

KEMBALI KE ANTIOKHIA

"Mereka menjelajahi seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia, di pantai. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia, di tempat itulah mereka dulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman" (ayat 24-27). Begitu mereka kembali, mereka menceritakan segala yang telah mereka lakukan di luar, kepada gereja di Antiokhia. Sebab mereka asalnya adalah dua saudara dari gereja di Antiokhia, dan yang semula diutus pergi dari gereja di Antiokhia, maka mereka pulang memberi laporan kepada gereja tersebut. Dalam Alkitab kita nampak, memberi laporan kerja kepada orang-orang yang bersimpati dan yang membantu dalam doa itu diperbolehkan, bahkan diharuskan. Tetapi itu adalah laporan, bukan iklan, maka tidak boleh mengandung sifat iklan. Membuat laporan atau korespondensi mengenai perkembangan pekerjaan kepada anak-anak Allah itu sangat berharga. Tetapi kalau sifatnya berubah, dan mengandung maksud lain, itu tidak diperkenan Allah. Jika kita merasa rendah diri (minder, bersikap menutup diri yang milik sukma), namun mengira berbuat demikian berarti lebih luhur daripada orang lain, itupun bukan contoh rasul. Segalanya tergantung pada motivasi. Bagi orang yang bersih, segalanya bersih; bagi orang yang najis, segalanya najis. Inilah jejak para rasul, sebagai teladan yang ditinggalkan di antara kita, yang patut kita teladani. Semoga Allah merahmati kita!