← Daftar isi Penghidupan Gereja yang Normal · bab 1/9

MINISTRI ITU DAN PARA MINISTER PEKERJAAN ALLAH

Allah mempunyai satu tujuan, yaitu "memperbanyak" AnakNya. Allah menghendaki manusia berpaling ke dalam nama AnakNya, memperoleh hayat AnakNya, menjadi anak-anakNya, sehingga Kristus yang individual itu menjadi Kristus yang korporat. Tujuan Allah seluruhnya tertuju pada diri AnakNya, dan pekerjaan Allah tak lain ialah "memperbanyak" AnakNya itu sendiri.

Namun sayang, terjadi peristiwa taman Eden. Saat itu manusia terjerumus ke dalam dosa, sebelum mereka menerima hayatNya, bahkan menjadi seteru Allah dan budak Iblis. Karenanya, sejak saat itu, pekerjaan Allah di pihak negatif ialah membereskan masalah dosa manusia dulu agar manusia terlepas dari belenggu Iblis. Kemudian pada pihak positifnya mengaruniakan hayat AnakNya kepada mereka. Dengan cara inilah Ia bisa "memperbanyak" AnakNya sehingga Dia boleh memenuhi segala sesuatu. Sebelum manusia jatuh, Allah cukup menghendaki manusia menerima hayatNya. Tetapi sekarang manusia telah jatuh, maka sebelum Allah mengaruniakan hayatNya, Ia terlebih dulu harus membereskan masalah dosa dan kuasa Iblis. Jadi pekerjaan Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan Iblis, dan agar segolongan manusia tersebut mendapat bagian dalam hayat AnakNya.

Jika kita ingin memahami pekerjaan Allah, kita harus ingat, bahwa manusia telah berada di bawah kuasa Iblis. Manusia telah menjadi tawanan musuh karena berdosa dan bertindak menurut kemauan sendiri secara jasmani maupun rohani. Sekarang Allah ingin menyelamatkan manusia dari kuasa musuh, maka diutusNyalah AnakNya turun ke dunia ini sebagai manusia. Pada suatu hari, Dia dipimpin oleh Roh Kudus untuk menghadapi pencobaan Iblis, dan Dia telah menang dengan mutlak. Dia dipenuhi oleh kuasa Allah, Dia mengusir setan agar membebaskan manusia dari kekangannya. Tetapi hal itu belum menghasilkan manfaat yang kekal, sebab manusia masih hidup dalam segala macam dosa. Sebelum masalah dosa ini dibereskan, mustahillah manusia terlepas secara tuntas dari cengkeraman musuh. Jika Dia tidak mati, mustahil manusia bersatu denganNya dan mendapatkan hayat Allah.

Sebab itu, Tuhan kita telah mati bagi kita demi keadilan Allah; Dia mengalirkan darah adiNya untuk membersihkan segala dosa kita. Sebenarnya, orang-orang dosalah yang harus menanggung hukuman keadilan Allah. Namun kini Kristus yang menanggung hukuman ini bagi kita, sehingga baik Allah yang adil maupun Iblis si pendakwa itu tak dapat berkata apa-apa lagi. KematianNya telah sepenuhnya memuaskan hati Allah, pula kerajaan Iblis telah dihancurkan, sehingga Iblis kehabisan alasan untuk menyerang manusia. Betapa sempurna dan kekalnya penebusanNya!

Tuhan bahkan merangkum setiap orang imani ke dalam kematianNya. SalibNya juga salib kita; manusia lama kita telah disalibkan bersamaNya. Maka manusia yang dulu tunduk di bawah cengkeraman Iblis sudah berlalu, dan musuh sudah tidak berdaya menemukan umat tawanannya yang dulu lagi.

Bukan itu saja, melalui kematianNya, Tuhan kita telah melepaskan hayatNya sendiri sebagai daging untuk kita makan, agar kita boleh mengambil bagian dalam hayatNya, sehingga rencana yang telah ditetapkanNya sejak azali, bisa tergenap di atas diri kita. Sekarang, manusia bisa menjadi anak-anak Allah melalui AnakNya, dan oleh iman, manusia dapat berbagian atas diriNya, sehingga Dia diperluas dan "diperbanyak" secara besar-besaran.

Karena pekerjaan Kristus demikian sempurna, maka Allah pun menyerahkan segala kuasa penghakiman kepadaNya, dan semua manusia pun dikaruniakan kepadaNya. Namun pada hari ini, kita belum nampak Kristus melaksanakan kuasa penghakimanNya, juga belum nampak Dia memperoleh semua manusia. Meskipun Dia sudah memiliki segala kuasa di langit dan di bumi, tetapi di sini kita masih melihat kekuatan Iblis! Apakah sebabnya?

G E R E J A

Itu tak lain karena masalah gereja belum terselesaikan. Dalam Alkitab tidak hanya ada Kristus yang individual juga ada Kristus yang korporat. Kristus yang individual memang sudah menang mutlak, tetapi Kristus yang korporat, masih belum menang dalam segi pengalaman. Kristus yang individual adalah Kepala Kristus korporat. Kristus adalah Kepala, gereja itulah Tubuh, maka Kristus ditambah gereja sama dengan Kristus korporat. Kristus sendiri sudah mendapatkan kemenangan secara total, namun gereja masih belum mengalami kemenanganNya. Kemenangan yang telah dimiliki Sang Kepala itu belum sepenuhnya dialami oleh Tubuh.

Tak hanya demikian, gereja juga masih belum cukup mengenal Kristus, dalam hal kepercayaan, juga masih kurang jelas. Walaupun mereka semua mempunyai hayat, tetapi masih dalam taraf bayi, belum akil-balig, belum mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan perawakan Kristus (Ef. 4:13). Gereja harus mencapai tingkat tertentu baru bisa memuaskan kehendak hati Allah. Segala sesuatu milik Allah adalah untuk Kristus dan Kristus adalah tujuan Allah. Allah menghendaki setiap orang tebusan sepenuhnya beroleh hayat dari Kristus, dengan sempurna mengenal Kristus, dan mutlak serupa dengan Dia. Tujuan Allah ialah agar seluruh kasih karunia dan hayat Sang Kepala tersalur ke dalam Tubuh. Semua fakta dalam diri Kristus harus menjadi pengalaman gereja.

Sebab itu, sebelum Kristus mengikat Iblis dan membuat manusia di bumi mendapatkan berkat karena diriNya, Dia terlebih dulu harus membangun gereja, agar gereja berbagian dalam kemenanganNya, serta mencapai tingkat pertumbuhannya yang seharusnya dicapai.

Sekarang, Allah mempunyai pekerjaanNya sendiri yang ingin Dia kerjakan. Allah ingin membangun Tubuh Kristus (gereja), hingga gereja mencapai kesatuan iman dan pengenalan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan perawakan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13). Pembangunan Tubuh Kristus inilah yang menjadi pekerjaan Allah pada hari ini. Pekerjaan ini menduduki tempat yang paling besar dan paling penting dalam seluruh pekerjaanNya. Dengan kata lain, pekerjaan ini adalah inti pekerjaan Allah dewasa ini. Allah sangat menaruh perhatian kepada masalah pembangunan Tubuh Kristus.

PEKERJAAN MINISTRI ITU

Karena adanya pekerjaan yang sangat penting ini, maka Allah khusus memilih segolongan manusia untuk bekerja sama denganNya, dan segolongan manusia ini bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan Allah tersebut. Ini tidak berarti, bahwa hari ini Allah tidak mempunyai pekerjaan lainnya, atau Allah tidak mempunyai pekerja-pekerja lainnya, melainkan pekerjaanNya yang utama pada hari ini adalah membangun Tubuh Kristus. Hari ini, Allah pun mempunyai banyak pekerja, tetapi hanya segolongan pekerja yang membangun Tubuh Kristus inilah yang merupakan pekerja yang istimewa.

Allah mempunyai banyak pekerjaan, karena itu, dalam pekerjaanNya terdapat bermacam-macam ministri. Ministri adalah sebagian pekerjaan yang khusus Allah amanatkan kepada seseorang untuk dikerjakan. Ada yang diutus Allah untuk ministri ini, ada yang diutus Allah untuk ministri itu. Jumlah ministri sangat banyak, sebab Allah memakai orang pada tempat dan tugas yang berbeda-beda. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita adanya satu ministri yang lebih istimewa daripada ministri-ministri lainnya. Alkitab menyebutnya "ministri itu", untuk membedakannya dari ministri-ministri yang lain. Dalam Alkitab, Allah menyebut pekerjaan yang menghimpun orang dan membina Tubuh Kristus ini "pekerjaan ministri itu" (Ef. 4:12; terjemahan lain), untuk membedakannya dengan pekerjaan ministri biasa. Banyak sekali orang yang melakukan pekerjaan Allah, tetapi hanya segolongan orang yang melakukan "pekerjaan ministri itu". Ministri yang ditugaskan kepada manusia sangat banyak, namun hanya segolongan orang saja yang tercakup dalam "ministri itu".

Baiklah kita tinjau bagaimana firman Allah menyinggung hal ini, "Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan, Ia memberikan karunia-karunia kepada manusia . . . Dan Ialah yang memberikan baik para rasul maupun para nabi, baik para pemberita Injil maupun para gembala dan pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan ministri itu, bagi pembangunan Tubuh Kristus, sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan perawakan kepenuhan Kristus." (Ef. 4:7-8,11-13 Tl.).

Dari ayat-ayat di atas, kita nampak dua perkara yang dikerjakan Kristus sesudah kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga. Pertama, Kristus telah menang total serta menawan musuh, sehingga musuh tidak berdaya lagi menuduh dan memperalat manusia yang dulu menjadi budak-budaknya. Dia sudah menang, naik ke tempat yang tinggi serta menawan semua kuasa yang pernah mengekang manusia, sehingga di dalam Kristus, manusia juga dapat menaklukkan Iblis. Kelak Kristus akan merealisasikan kekuasaanNya di bumi dengan mengikat dan melempar Iblis ke jurang maut. Kedua, sebelum Dia melaksanakan hal ini, Dia terlebih dulu akan menampilkan kekuasaanNya ini di dalam gereja, dengan menganugerahkan berbagai karunia kepada orang-orang yang dibebaskanNya dari musuh; pada satu aspek, sebagai bukti ditinggikannya manusia di dalam Dia, dan di aspek lain agar Dia dapat menggunakan mereka sebagai alat untuk menyelamatkan orang lain.

Karunia di sini bukan mengacu kepada karunia atau talenta yang diperoleh manusia secara individual dari Roh Kudus, melainkan kasih karunia yang dianugerahkan kepada manusia oleh Tuhan sebagai Kepala gereja, agar manusia itu menjadi karunia gereja, menjadi hambaNya, untuk melayani kaum saleh dan membangun TubuhNya. Dengan kata lain, Tuhan menganugerahkan segolongan pekerja kepada gereja sebagai karunia untuk membantu, membina dan membangun gereja, yakni yang khusus menggarap pekerjaan ministri itu. Dulu mereka adalah budak musuh, tetapi sekarang sudah sepenuhnya diselamatkan oleh kematian dan kebangkitanNya. Kini, dengan posisi kenaikanNya, Dia melantik mereka sebagai bejanaNya yang tangguh untuk membebaskan orang lain. Dia mengaruniakan kuasa kepada orang-orang ini agar mereka juga melaksanakan pekerjaan penyelamatan, sebagaimana yang dilakukanNya sendiri. Mereka telah diselamatkan dan sekarang dijadikan bejana dalam tanganNya untuk mengganyang musuh.

Ia menghendaki semua orang yang diselamatkan mengenal Dia, dipenuhi hayat dan Roh Kudus, serta murni tanpa tercampur oleh kedagingan. Untuk itu, perlu ada orang-orang yang bangkit melaksanakan tugas pembinaan umatNya, supaya mereka bisa mencapai tujuanNya. Sebab itu, hari ini ketika Ia duduk di sebelah kanan Allah dan menunggu musuh menjadi tumpuan kakiNya, Ia menganugerahkan segala karunia yang diperlukan kepada gereja, yakni para hambaNya dalam ministri itu, agar mereka menghimpun orang-orang yang terpanggil untuk menikmati kemuliaanNya, dan juga membina mereka sampai tingkat terpenuhi oleh diriNya sendiri.

Ada satu perkara yang harus kita perhatikan, yaitu karunia yang kita sebut di sini bukan mengacu kepada karunia yang dibagi-bagikan Roh Kudus menurut kehendakNya pada saat Ia turun ke bumi, melainkan mengacu kepada orang-orang yang dilantik Tuhan sendiri di dalam gereja untuk persidangan dan pembinaan, agar kaum saleh mendapatkan faedah. Dalam Alkitab, kita nampak adanya dua kategori karunia. Yang pertama adalah karunia yang diterima gereja secara korporat dari Tuhan, dan yang kedua adalah karunia (talenta) yang kita peroleh secara individual dari Roh Kudus. Karunia yang kita peroleh secara individual dari Roh Kudus membuat kita mampu melayani dan melakukan pekerjaan tertentu di hadapan Allah. Ada yang menjadi nabi, ada yang menjadi pengajar, ada yang bisa berbahasa roh, ada yang bisa menyembuhkan sakit, dan sebagainya. Semua itu merupakan karunia yang dibagi-bagikan Roh Kudus kepada orang secara individual. Tetapi tidak demikian dengan karunia yang Tuhan berikan kepada gereja. Karunia yang satu ini justru adalah "orang-orang" yang telah memiliki karunia Roh Kudus itu.

Hari ini Tuhan bersemayam di dalam kemuliaan, namun hatiNya damba memanggil dan mendapatkan kembali orang-orang yang tersesat, bahkan lebih lagi, Ia sangat menaruh perhatian kepada kaum salehNya, yaitu gereja. Dia ingin lebih banyak mendispensikan (memberikan, menyalurkan) diriNya sendiri kepada mereka, agar mereka dipenuhi dengan diriNya sendiri. Dia menghendaki gereja menerima berbagai macam karuniaNya, mendapatkan pimpinan Roh Kudus, mengenal kehendak Allah, berperan serta dalam pekerjaan Kristus, dan mendapatkan segala realitasNya. Karunia-karunia itu justru adalah orang-orang yang mengatur, mempersekutukan dan menyuplaikan semua itu agar mendatangkan berkat bagi semua orang. Pekerjaan inilah yang disebut "pekerjaan ministri itu", dan ini berbeda dengan ministri-ministri yang umum. Tiap orang imani mempunyai karunia, tapi hanya "mereka" yang mendapatkan karunia khusus untuk "pekerjaan itu". Tiap orang imani pasti beroleh ministri dari Tuhan, tetapi ministri yang mereka miliki adalah yang umum; hanya yang dimiliki "orang-orang" ini yang istimewa, berbeda dengan yang lainnya. (Perhatikan: istilah "ministri" dan "pekerjaan" yang dipakai dalam buku ini, selalu mengacu kepada "ministri atau pekerjaan yang istimewa itu"). Orang-orang ini adalah para minister (pekerja) Allah yang merampungkan pekerjaan Allah di dalam ministri yang ditetapkan Tuhan. Orang-orang ini terdiri dari empat golongan sebagai berikut:

RASUL, NABI, PEMBERITA INJIL, GEMBALA DAN PENGAJAR

(Catatan: Sebenarnya, pengajar dan gembala merupakan satu karunia, bukan dua karunia, sebab sifat kedua karunia ini berkaitan erat).

Keempat jenis orang ini dapat dibagi dalam dua kelompok. Rasul dan nabi satu kelompok; pemberita Injil, gembala dan pengajar satu kelompok. Rasul dan nabi bekerja pada aspek dasar (Ef. 2:20), sedang pemberita Injil dan gembala/pengajar bekerja pada aspek pembangunan setelah dasar itu diletakkan. Rasul dan nabi langsung berasal dari Tuhan untuk memasang pondasi kediaman Allah di sorga dengan cara yang luar biasa. Tetapi pemberita Injil dan gembala (termasuk pengajar) merupakan ministri biasa di dalam gereja. Mereka berada di luar rasul dan nabi; menyelamatkan dan membina orang berdasarkan ajaran rasul dan nabi.

Keempat jenis orang-orang ini juga boleh dibagi dalam dua golongan lain: rasul dan pemberita Injil lebih banyak bagi penginjilan, sedangkan nabi dan pengajar/gembala lebih banyak bagi gereja. Nabi menyampaikan firman Allah secara adikodrati (mengherankan / luar biasa), sedang pengajar menjelaskan firman Allah secara biasa; tetapi keduanya khusus bagi satu gereja lokal. Dalam Kisah Para Rasul 13:1 kita nampak kedua jenis orang tersebut di gereja Antiokhia. Rasul adalah minister khusus untuk penginjilan, sama dengan pemberita Injil. Tetapi penginjilan rasul itu untuk gereja-gereja lokal, sedangkan penginjilan pemberita Injil untuk satu gereja lokal.

Alkitab menjelaskan, walau keempat jenis orang ini merupakan karunia yang dianugerahkan Allah kepada gereja, tetapi belum tentu sebagai karunia perorangan atau talenta pribadi yang dibagi-bagikan oleh Roh Kudus. Kita tahu bahwa nubuat nabi adalah sejenis karunia (I Kor. 12:10; Rm. 12:6), pengajar pun sejenis karunia (Rm. 12:7). Namun dalam Alkitab tidak pernah ada sejenis karunia/talenta yang memungkinkan orang menjadi rasul atau penginjil. Ada karunia nabi, ada karunia pengajar, tetapi tidak ada karunia rasul, atau karunia penginjil. Keempat jenis orang itu adalah karunia gereja, tetapi dua di antaranya adalah karunia yang diperoleh secara perorangan. Jadi, dari keempat jenis orang ini -- kecuali nabi dan pengajar yang sudah beroleh karunia nabi dan pengajar, sehingga mereka menjadi nabi dan pengajar -- kita tidak tahu karunia/talenta apakah yang diterima rasul dan pemberita Injil dari Roh Kudus, yang melayakkan mereka menjadi rasul dan pemberita Injil. Namun, karunia-karunia apa pun yang mereka peroleh dari Roh Kudus, keempat jenis orang ini adalah pekerja-pekerja yang diangkat Allah dalam ministri itu. Mereka semua telah menerima jabatan dari Allah untuk melaksanakan pekerjaanNya yang khusus itu. Allah melantik mereka khusus untuk bertanggung jawab membangun Tubuh Kristus dalam gereja. Merekalah yang khusus bertanggung jawab atas pekerjaan rohani di dalam gereja, dan melalui pekerjaan merekalah Allah dapat mencapai seluruh tujuanNya pada masa kini.

PERBANDINGAN BEBERAPA AYAT ALKITAB

Untuk memahami bagaimana cara pengutaraan dan bagaimana posisi para minister dalam "ministri itu" dalam Alkitab, perlulah kita membandingkan ayat-ayat lainnya. Setidak-tidaknya ada tiga ayat Alkitab yang sejenis dengan Efesus yang kita kutip di atas, yakni I Korintus 12:8-10,28 dan Roma 12:6-8. Di antara ketiga ayat tersebut ada yang mengatakan bermacam-macam ministri, ada yang mengatakan bermacam jenis orang, dan ada yang mengatakan karunia-karunia. Tetapi hanya surat Efesus yang mengatakan "ministri itu". Kalau kita ingin memahami Efesus 4 dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, perlulah kita membandingkannya satu dengan yang lain.

Satu Korintus 12:8-10, "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu."

Satu Korintus 12:28, "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat (gereja): pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh."

Roma 12:6-8, "Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Jika karunia itu untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."

Satu Korintus 12:8-10 mengacu kepada karunia pemberian Roh Kudus kepada perorangan kaum imani, sedang karunia dalam Efesus 4 mengacu kepada karunia pemberian Tuhan kepada gereja, yakni manusianya. Karunia dalam I Korintus 12 bersifat adikodrati dan ilhami, sedang karunia dalam Roma 12 bersifat biasa tanpa keadaan yang adikodrati, yang kita peroleh karena kasih karunia dan oleh iman kita. Kesembilan perkara yang tercantum dalam I Korintus 12 itu adalah karunia-karunia yang diperoleh seseorang ketika ia menerima ilham roh di dalam kuasa Roh Kudus. Karenanya ayat pertama mengatakan, "Tentang karunia Roh", terjemahan aslinya, "Tentang menerima ilham Roh . . ." Karunia yang tertera dalam Roma 12 berdasar pada kasih karunia Allah. Allah membagi-bagikan karunia kepada mereka, agar mereka dapat menyatakan kasih karuniaNya, dan agar mereka dapat menunaikan fungsi mereka sebagai anggota Tubuh. Karena itu, karunia-karunia yang tercantum di dalamnya tidak bersifat adikodrati dan ilhami, melainkan bersifat biasa dan hayati; itulah sebabnya perkara membagi-bagikan sesuatu dan menunjukkan kemurahan terbilang sebagai karunia juga. Jadi, semua itu boleh disebut karunia dari kasih karunia, sedang yang tercatat dalam surat Efesus itu adalah karunia Tuhan kepada gereja. Karunia-karunia yang diperoleh mereka sendiri selaku "karunia", tercantum dalam I Korintus 12 dan Roma 12. Yang ditekankan surat I Korintus adalah kekuatan, sedang yang ditekankan surat Roma adalah hayat. Surat Efesus mengatakan, bahwa orang-orang yang telah menerima kedua jenis karunia tersebut, dijadikan karunia oleh Allah dan diberikan kepada gereja.

"Ministri itu" dalam surat Efesus bersifat tunggal, unik, istimewa dan khusus, sedang ministri dalam surat I Korintus adalah rupa-rupa, banyak (ayat 5). Itulah ministri-ministri umum, biasa, banyak jumlahnya, yaitu ministri yang diperoleh setiap anak Allah di hadapan Tuhan. Keempat jenis karunia gereja dalam surat Efesus adalah untuk ministri itu. Hanya keempat jenis orang itu yang beroleh bagian dalam ministri itu, sedang kesembilan jenis karunia perorangan dalam surat I Korintus itu bagi ministri-ministri. Mereka memiliki karunianya masing-masing untuk ministri yang berbeda-beda.

Dalam I Korintus 12:28 disebutkan Allah telah melantik delapan jenis orang di dalam gereja. Ini berbeda dengan karunia dalam ayat 8-10 di atasnya. Yang disebut di atas adalah karunia Roh Kudus, sedang yang di bawah adalah "fungsi" Allah. Yang dikatakan di atas adalah karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus di dalam gereja lokal, sedang yang dikatakan di bawah adalah fungsi yang dilantik Allah di gereja universal. Yang di atas adalah karunia yang diperoleh manusia dari Roh Kudus, sedang yang di bawah adalah bagaimana orang-orang yang telah beroleh karunia itu diletakkan Allah di dalam gereja sebagai "fungsi"Nya. Ada delapan jenis orang yang dilantik Allah di dalam gereja, tetapi orang yang dikaruniakan Allah kepada gereja untuk mengerjakan "ministri itu" hanya ada empat jenis, seperti yang tercantum dalam surat Efesus. Meski banyak orang yang berfungsi di dalam gereja Allah, namun hanya empat jenis orang yang tercatat dalam surat Efesus itu yang dapat merampungkan tujuan Allah, yaitu yang mendapat bagian dalam pekerjaan pembangunan Tubuh Kristus. Lainnya memang berguna dan memiliki ministri mereka masing-masing, tetapi hanya beberapa jenis orang itu yang memiliki fungsi khusus untuk ministri itu.

Tiga dari empat jenis orang yang tercantum dalam surat Efesus, tercantum dalam I Korintus 12, pemberita Injil tidak dimasukkan. Ini dikarenakan perbedaan ruang lingkup mereka. Ruang lingkup surat Efesus adalah pembangunan Tubuh Kristus, sebab itu perlu ada pemberita Injil, bahkan mendahului pengajar dan gembala; sebab merekalah yang memperoleh orang dan memasukkannya ke dalam Tubuh Kristus. Sedangkan ruang lingkup pembahasan surat Korintus berkisar pada fungsi yang ditetapkan Allah di dalam gereja, karenanya tidak ada pemberita Injil. Sebab fungsi pemberita Injil bukan di dalam gereja, melainkan di luar gereja, sekalipun fungsi mereka adalah untuk gereja. Yang dibahas surat Efesus adalah siapa yang ditentukan bagi gereja.

Ada satu perkara yang patut diperhatikan, yaitu baik surat Roma, surat Korintus maupun surat Efesus, semuanya membahas masalah Tubuh Kristus, tetapi di antaranya terdapat perbedaan. Surat Roma dan surat Korintus menegaskan, bahwa kita semua adalah anggota Tubuh, karenanya semuanya mempunyai karunia dan fungsi masing-masing. Tetapi Tubuh Kristus yang diwahyukan surat Efesus berkisar pada bagaimana Tubuh ini dibangun oleh karunia. Surat Efesus tidak mengartikan keempat orang itu anggota Tubuh, melainkan pembangun Tubuh. Keempat jenis orang tersebut memiliki posisi yang berlainan dengan anak-anak Allah pada umumnya.

ANALISIS KEEMPAT ORANG ITU

Pengajar dan gembala adalah sejenis, sebab yang mengajar juga harus menggembala, yang menggembala juga harus mengajar. Jadi tugas kedua jenis orang ini sama dan terpadu. Anehnya, istilah gembala dalam kitab Perjanjian Baru kecuali muncul sekali ini, tidak dipakai lagi di tempat lain. Tetapi istilah "pengajar" masih dipakai empat kali lagi. Kitab Perjanjian Baru pernah menyebut orang sebagai rasul, seperti Paulus dan kawan-kawannya; atau sebagai nabi, seperti Agabus; atau sebagai pemberita Injil, seperti Filipus; atau sebagai pengajar, seperti Menahem, namun selamanya tak pernah menyebut orang sebagai "gembala". Fakta tersebut membuktikan, bahwa keempat jenis sebutan itu bukan karunia rohani, melainkan empat jenis orang yang berkarunia, dan juga membuktikan bahwa pengajar identik dengan gembala.

Pengajar/gembala adalah orang yang berkarunia mengajar. Karunia ini tidak mengandung ciri yang adikodrati, maka tidak tercatat dalam I Korintus 12:8-10. Itu adalah kasih karunia pemberian Allah yang membuatnya memahami firman Allah, memahami pokok ajaran Alkitab, kebenaran Allah dan rencana Allah, sehingga mereka dapat membimbing anak-anak Allah secara doktrinal. Karenanya mereka tercantum dalam Roma 12. Di gereja Antiokhia justru ada beberapa orang demikian (Kis. 13). Paulus sendiri juga orang demikian. Mereka adalah sejenis fungsi yang ditetapkan Allah di dalam gereja (I Kor. 12:28) yang berposisi setingkat di bawah nabi. Pengajar adalah orang yang ditetapkan Allah berdasarkan karunia pengajaran, yang diberikanNya kepada gereja.

Pekerjaan pengajar ialah memberikan pengajaran atau bimbingan berdasarkan wahyu Allah yang sudah ada, agar orang nampak terang Allah dan mengenal kebenaranNya. Sasaran utama pekerjaan mereka adalah anak-anak Allah, dan adakalanya orang kafir (Baca I Kor. 1:28; 2:7; I Tim. 4:11; 6:2; II Tim. 2:2; Kis.4:2,18; 5:21,25,28,42 dan lain-lain). Pekerjaan mereka lebih bersifat menjelaskan daripada mewahyukan; sedangkan pekerjaan nabi lebih banyak mewahyukan daripada menjelaskan. Terhadap kaum imani mereka mengajarkan kebenaran Allah, dan terhadap orang kafir mereka mengajarkan Injil.

Pemberita Injil juga sejenis orang pemberian Allah, namun kita tidak tahu berdasarkan apa mereka dilantik Allah menjadi pemberita Injil. Pelantikan Allah atas pengajar dan nabi dikarenakan mereka masing-masing memiliki karunia mengajar dan nubuat (Rm. 12:7,10). Namun tidak demikian dengan pemberita Injil. Walau ia dilantik oleh Allah, kita tidak tahu berdasarkan karunia apa Allah melantik orang menjadi pemberita Injil. Sebab Alkitab tidak memberitahu kita tentang adanya karunia menginjil.

Pemberita Injil juga merupakan sejenis orang yang dilantik Allah dalam ministri itu. Dalam Alkitab, hanya Filipus yang berpredikat pemberita Injil (Kis. 21:8). Paulus pun pernah sekali menasihati Timotius untuk melakukan "pekerjaan pemberita Injil, dan tunaikan tugas ministrimu" (II Tim. 4:5). Timotius bukan disuruh memberitakan Injil, melainkan melakukan pekerjaan pemberita Injil. Karena ini adalah masalah ministri, bukan masalah karunia. Pemberita Injil adalah salah satu minister dalam ministri itu. Kecuali ketiga kali penyebutan itu, Alkitab tak pernah lagi memakai istilah ini, walaupun Alkitab sering memakai istilah memberitakan Injil dalam bentuk kata kerja. Tugas pemberita Injil tak lain menyiarkan berita Injil. Hal ini memenuhi seluruh Alkitab dan diketahui semua orang.

Posisi nabi dalam Alkitab lebih menonjol daripada pengajar maupun pemberita Injil. Karunia nabi ini ada, baik di dalam kasih karunia yang dianugerahkan (bernubuat dalam Roma 12), maupun dalam karunia adikodrati (I Kor. 12:10). Di antara orang-orang yang dilantik Allah di dalam gereja universal ada nabi (I Kor. 12:28), di antara orang-orang yang dikaruniakan Tuhan dalam ministri itu, juga ada nabi (Ef. 4:11). Hal ini disebabkan nabi adalah sejenis karunia, juga sejenis jabatan; adalah satu karunia adikodrati, juga satu karunia anugerah; adalah orang yang dilantik Allah dalam gereja, juga orang pemberian Allah di dalam ministri itu. Itulah sebabnya kita nampak adanya nabi di setiap aspek.

Kita perlu menaruh perhatian khusus pada istilah "bernubuat" dalam Roma 12 dan "menjadi nabi" dalam I Korintus 12. Kedua istilah tersebut merupakan kata benda "verbal", dan dalam bahasa asli merupakan istilah yang sama, maka keduanya boleh diterjemahkan "menjadi nabi". Dari sini kita nampak adanya dua aspek dalam karunia nabi. Pertama, yang bersifat "ilhami", yakni manusia berbicara bagi Allah karena beroleh kekuatan adikodrati dari Roh Kudus. Kedua, yang bersifat biasa, yakni manusia berbicara bagi Allah karena menerima kekuatan rohani dari Roh Kudus. Fungsi nabi dalam Perjanjian Lama ialah: 1) bernubuat, 2) berkhotbah, dan 3) menunjukkan kehendak Allah terhadap seseorang. Dalam Perjanjian Baru, nabi masih bernubuat dengan kekuatan adikodrati dan masih berkhotbah dengan kekuatan rohani, tetapi tidak lagi menunjukkan kehendak Allah terhadap seseorang. Sebab semua orang pasti mengenal Allah di dalam batin mereka sendiri. Perkataan yang diucapkan nabi-nabi ini mengandung wibawa Allah, sebab baik mereka bernubuat maupun berkhotbah, semua dilakukan di dalam kuasa Roh Kudus. Melalui wahyu yang mereka terima dari Allah, mereka dapat mengungkapkan perkara-perkara masa kini atau perkara-perkara masa yang akan datang untuk memperingatkan dan membina orang.

Namun, di antara keempat jenis orang ini, rasul lebih-lebih berbeda dengan ketiga lainnya. Setiap pembaca Alkitab perlu nampak keistimewaan posisi rasul; rasul sangat menonjol di antara keempat jenis orang dalam ministri itu. Mereka khusus diutus Allah untuk memberitakan Injil, mendirikan gereja, mewahyukan kebenaran, memutuskan doktrin, menetapkan sistem, membina kaum saleh dan membagi-bagikan karunia. Ruang lingkup pekerjaan mereka tidak terbatas di satu lokal, melainkan untuk tiap-tiap lokal.

Kedudukan rasul lebih tinggi daripada nabi dan pengajar biasa. Dengan jelas firman Allah mewahyukan, "Pertama sebagai rasul, kedua nabi, ketiga pengajar" (I Kor. 12:28), bahkan dalam ministri itu pun (Efesus) rasul berada pada urutan pertama. Ini tak lain karena rasul adalah pekerja pilihan khusus Allah, hal ini tidak dimiliki ketiga jenis orang lainnya. Jika kita ingin memahami bagaimana melakukan pekerjaan Tuhan, bagaimana mendirikan gereja, bagaimana melayani Allah menurut kehendak Allah, maka kita harus mengenal siapakah rasul, dan mengkaji dengan seksama bagaimanakah sebenarnya pekerja Allah yang amat penting ini. Dengan demikian kita akan tahu, bagaimana sebenarnya melakukan pekerjaan Allah.

JABATAN DAN KARUNIA

Alkitab menunjukkan kepada kita, bahwa rasul adalah sejenis jabatan, bukan sejenis karunia atau talenta. Hal ini sangat penting. Kita akan terjebak ke dalam suatu kegelapan jika kita tidak mengetahui hal ini. Karena itu, kita harus melihat seluk beluk rasul melalui Alkitab. Satu Timotius 2:7 mengatakan, "Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul . . . dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran." Dua Timotius 1:11 mengatakan, "Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru." Dari ayat-ayat di atas kita nampak, bahwa rasul adalah orang yang diutus untuk melakukan suatu urusan. Jadi seseorang menjadi rasul atau tidak, tergantung pada ia diutus Allah atau tidak, bukan tergantung pada ia ada kekuatan atau tidak. Kekuatan adalah masalah karunia, sedang diutus adalah masalah jabatan. Rasul adalah utusan, maka rasul merupakan satu jabatan.

Apakah perbedaan antara jabatan dan karunia? Semua yang berasal dari pengutusan, itulah jabatan; sedang semua yang berasal dari kemampuan yang tadinya sudah ada, itulah karunia. Dengan kata lain, karunia adalah yang tadinya kita sudah bisa/mampu. Karunia rohani adalah kemampuan yang kita peroleh dari Roh Kudus. Namun jabatan adalah penugasan atau pengutusan Allah. Jadi, rasul adalah sejenis jabatan. Itulah yang diwahyukan kepada kita dalam surat I dan II Timotius.

KARUNIA YANG ALLAH BERIKAN KEPADA GEREJA

Tidak saja jabatan berbeda dengan karunia, karunia-karunia yang diperoleh pun harus dibedakan antara yang diperoleh secara perorangan dengan yang diperoleh gereja. Sudah kita bahas di atas, bahwa rasul bukan karunia melainkan jabatan. Lalu, apakah maksud kata "Ialah yang memberikan baik rasul . . ." dalam Efesus 4:11? Di sini kita perlu jelas, sebenarnya rasul itu sejenis karunia perorangan, atau sejenis karunia gereja? Suatu kemampuan rohani yang didapat secara perorangan dari Allah, atau sejenis orang yang didapatkan gereja dari Allah? Ingatlah, rasul bukan suatu talenta atau ketrampilan rohani yang diperoleh orang secara perorangan dari Allah, melainkan satu jenis orang yang diperoleh gereja dari Allah. Sebab dalam firman Allah tidak ada karunia rasuli. Efesus tidak mengatakan karunia rasul, melainkan "Ialah (Kristus) yang memberikan baik rasul (seorang yang demikian) . . ." Alkitab tidak pernah mengatakan, seseorang beroleh karunia dari Allah sehingga ia menjadi rasul. Alkitab hanya berkata, ada yang beroleh karunia dari Roh itu untuk bernubuat, untuk mengajar, untuk menyembuhkan, untuk mengadakan mujizat dan seterusnya; sedangkan rasul adalah sejenis orang yang diperoleh gereja dari Allah. Rasul bukan sejenis karunia rohani istimewa. Jadi dalam Alkitab tidak ada ungkapan karunia rasuli.

Satu Korintus 12:8-10 mengatakan, "Sebab kepada yang seorang Roh Kudus memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." Ayat-ayat Alkitab ini mewahyukan kepada kita berbagai jenis karunia yang diberikan Roh Kudus secara perorangan. Adakah Roh Kudus memberikan karunia kepada orang untuk menjadi rasul? Tidak. Dalam Alkitab tidak ada karunia rasuli. Dalam Alkitab ada karunia bernubuat, menyembuhkan, berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi tak pernah ada karunia rasuli.

Mari kita baca lagi I Korintus 12:28, "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh." Lihatlah, pada ayat-ayat yang mewahyukan karunia-karunia pemberian Roh Kudus kepada orang, tidak tercantum rasul, namun pada ayat-ayat yang mewahyukan orang-orang yang Allah tetapkan dalam gereja, tertampaklah: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar . . . Di sini tidak dikatakan, Allah memberikan karunia rasuli, melainkan "Allah menetapkan sejenis orang, yakni rasul"; tidak dikatakan, Allah memberikan karunia nabi atau pengajar, tetapi "Allah menetapkan sejenis orang, yakni sebagai nabi atau sebagai pengajar. Di dalam gereja, ada orang-orang yang berbeda-beda itu. Jadi, rasul bukanlah sejenis karunia, melainkan sejenis orang.

Maka perbedaan rasul dengan nabi, pengajar, penyembuh, penutur bahasa roh dan sebagainya ialah, bahwa nabi-nabi adalah karunia-karunia pemberian dari Roh Kudus kepada orang secara perorangan, serentak sebagai orang-orang yang ditetapkan Allah dalam gereja; sedangkan rasul adalah orang yang ditetapkan Allah dalam gereja, bukan karunia pemberian Roh Kudus kepada orang secara perorangan. Kedua bagian ayat dalam I Korintus 12 ini hampir saling sebanding, yang di atas adalah pemberian karunia, yang di bawah adalah penetapan orang-orangnya. Hanya rasul yang tidak terdapat dalam daftar karunia Roh Kudus; ia hanya terdapat dalam daftar orang-orang yang ditetapkan Allah, bahkan di nomorsatukan. Jadi, rasul adalah karunia yang diberikan Allah kepada gereja, dan melalui orang ini gereja bisa beroleh berkat Allah yang rohani. Sedang karunia/talenta yang diterima seorang rasul secara pribadi tentu juga berasal dari Roh Kudus, hanya saja tidak disebutkan macam apa karunia itu. Orang-orang sedemikianlah yang diberikan Allah kepada gereja, dan mereka adalah fungsi yang Allah tetapkan bagi gereja. Karena itu, ketika I Korintus 12 membahas masalah Roh Kudus memberikan karunia-karunia kepada orang, tidak terdapat karunia rasuli. Tetapi selanjutnya, ketika membahas masalah fungsi Allah; rasul muncul sebagai yang pertama. Dalam gereja, rasul adalah sejenis karunia, sedang pada diri rasul itu sendiri, yang diterimanya bukanlah sebuah karunia, melainkan sebuah jabatan. Jadi kalau dalam gereja bertambah seorang rasul, itu berarti bertambah satu karunia.

GEREJA UNIVERSAL DAN GEREJA LOKAL

Ada satu hal yang ajaib di sini. Menurut I Korintus 12:28 Allah dalam gereja menetapkan: pertama rasul; kedua, nabi; ketiga, pengajar . . . Gereja apa yang disebut di sini? Gereja yang disebut di sini adalah gereja universal, yaitu gereja yang merangkum segenap anak Allah dari segala bangsa dan sepanjang jaman. Di dalam gereja ini rasul adalah yang pertama, nabi adalah yang kedua, dan pengajar adalah yang ketiga. Sampai pasal 14, tertampaklah seluruh gereja berhimpun bersama. Lalu, gereja apa lagi yang dimaksud di situ? Jelas itu bukan gereja universal, melainkan gereja lokal. Sebab hanya gereja lokal baru bisa berhimpun bersama. Jika itu gereja universal, mungkinkah anak-anak Allah dari segala bangsa dan sepanjang jaman berhimpun bersama? Sekarang kita akan meneliti perbedaan yang terkandung di dalamnya. Pada I Korintus 14 kita nampak keadaan atau pola persidangan gereja lokal, di sana saudara-saudara menerapkan karunia-karunia mereka masing-masing. Ketika bersidang ada yang bermazmur, ada yang memberikan pengajaran, ada yang memberikan wahyu, ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, ada yang menerjemahkan bahasa roh, dan lain-lain. Tetapi yang mereka utamakan adalah nabi yang berkhotbah.

Dari sini kita segera menemukan satu hal yang ajaib. Kalau pada I Korintus 12 rasul nomor satu, tapi pada I Korintus 14 nabilah yang pertama. Dengan kata lain, di dalam gereja universal, yang pertama adalah rasul, sedang dalam gereja lokal, yang pertama adalah nabi. Mengapa nabi, yang kedua dalam gereja universal itu, berubah jadi yang pertama dalam gereja lokal? Sebab dalam gereja universal yang berperan adalah orang yang Allah berikan, maka posisi nabi tidak setinggi rasul. Tetapi dalam gereja lokal, yang berperan adalah karunia, maka karunia nabilah yang paling besar. Kita wajib ingat, nabi dalam 12:28 adalah nabi sebagai jabatan, sedang nabi dalam pasal 14 adalah nabi dalam karunia. Ditinjau dari segi karunia, nabilah yang terpenting, tetapi ditinjau dari segi jabatan, rasul lebih besar daripada nabi.

Dalam pasal 14, rasul tidak muncul, sebab ia sama sekali bukan suatu karunia. Ketika gereja lokal menerapkan karunia-karunia rohani, peranan nabilah yang terbesar. Jabatan rasul adalah yang terbesar dalam jajaran pekerja Allah, sedangkan nabi adalah yang terbesar dalam jajaran karunia. Andaikata rasul itu karunia, pastilah rasul itu karunia yang lebih besar daripada nabi. Namun dalam I Korintus 14 tidak ada kedudukan rasul, karunia apapun harus mengalah terhadap nabi, sebab karunia nabi adalah yang terbesar daripada yang lainnya. Demikian pula jabatan apapun harus mengalah terhadap rasul, sebab jabatan rasullah yang paling besar. Jabatan nabi tidak lebih besar daripada rasul, karena itu, nabi hanya ada pada urutan kedua. Tetapi dalam persidangan gereja lokal, karunia terbesar adalah nabi. Nabilah yang mengungkapkan kehendak Allah, baik untuk hari ini maupun untuk masa akan datang. Rasul hanyalah jabatan yang terbesar dalam gereja universal.

KARUNIA PRIBADI RASUL

Siapakah rasul? Rasul adalah bejana yang cocok dipakai Allah sendiri, yang dipilihNya dari antara orang-orang yang berkarunia, yang diutus memberitakan Injil dan mendirikan gereja bagiNya. Rasul adalah sebuah jabatan lain yang Allah berikan kepada orang-orang yang berkarunia, lalu menyuruh mereka berkeliling melakukan pekerjaan khusus yang ditetapkanNya bagi mereka. Memang rasul merupakan sebuah jabatan, tetapi orang yang sebagai rasul, tentu mempunyai karunia pribadi. Boleh jadi karunianya adalah bernubuat, atau mengajar, atau mengadakan mujizat, atau karunia lainnya, namun ia tidak sekadar nabi, pengajar, atau orang yang mengadakan mujizat; ia bahkan seorang rasul. Karena ia telah menerima jabatan pengutusan Allah yang tidak dimiliki orang berkarunia lainnya.

Sebagai contoh, "Pada waktu itu dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu mereka membiarkan keduanya pergi" (Kis. 13:1-3). Kelima orang ini adalah nabi dan pengajar yang memiliki karunia nabi dan pengajar, yakni karunia adikodrati dan karunia anugerah. Kini Roh Kudus berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Roh Kudus mengutus dua orang dari antara lima orang itu, yang tiga tetap tinggal di Antiokhia. Kedua orang yang diutus ini pada ayat-ayat selanjutnya disebut "rasul" (14:4,14). Apakah mereka menerima karunia rasul? Tidak. Mereka tidak beroleh karunia lain, yang mereka terima hanyalah suatu pengutusan. Karunia mereka melayakkan mereka menjadi nabi dan pengajar, tetapi mereka diutus Roh Kudus untuk bekerja, maka jabatan lain yang ditambahkan kepada mereka itulah "rasul". Tiga orang yang tetap tinggal di Antiokhia: Simeon, Lukius dan Menahem, tetap sebagai nabi dan pengajar; mereka bukan rasul. Mereka tidak diutus Roh Kudus, sebab itu, mereka bukan rasul. Paulus dan Barnabas tidak hanya berkarunia nabi dan pengajar, mereka pun mempunyai jabatan rasuli, sebab mereka adalah orang-orang utusan Roh Kudus. Sebenarnya kelima orang itu memiliki karunia yang sama, tetapi karena yang dua menerima utusan khusus, maka mereka menjadilah rasul, sedangkan tiga lainnya tanpa pengutusan, maka tetap sebagai nabi dan pengajar. Jadi, rasul sebenarnya bukan suatu karunia istimewa, rasul hanyalah suatu jabatan.

Pada mulanya Tuhan memanggil dua belas murid dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala kelemahan. Selanjutnya, mereka yang diutus Tuhan ini disebut "rasul-rasul" (Matius 10:1-2). Karunia yang mereka terima adalah karunia mengadakan mujizat, sedang jabatan mereka adalah rasul. Bukan setelah mereka menjadi rasul, baru khusus memiliki karunia rasul. Karunia apapun yang mereka punyai di luar jabatan mereka, itu perkara lain. Misalkan, seorang pakar matematika, ia belum tentu juga sebagai dosen ilmu matematika. Bila ia diminta memberi kuliah di sebuah universitas, barulah ia menjadi dosen. Mengerti ilmu matematika itu sejenis ketrampilan, sedang dosen ilmu matematika itu suatu kedudukan. Karunia itu sejenis ketrampilan rohani, tetapi rasul itu suatu kedudukan. Mungkin seseorang memiliki karunia, tetapi jika ia tidak diutus Allah, ia bukanlah rasul. Seperti halnya seorang pakar ilmu matematika, jika ia tidak diminta menjadi dosen, ia bukan dosen. Maka rasul bukan mewakili suatu ketrampilan istimewa, melainkan mewakili sejenis kedudukan khusus. Menjadi dosen harus mempunyai ketrampilan, namun mempunyai ketrampilan belum tentu memiliki kedudukan. Karunia Paulus dan Barnabas bisa jadi sama dengan karunia Lukius, atau Simeon, atau Menahem, tetapi karena Paulus dan Barnabas menerima pengutusan Allah, mereka segera mempunyai kedudukan khusus, yaitu sebagai rasul, sedangkan yang lainnya bukan rasul. Boleh jadi mereka di kemudian hari beroleh karunia khusus lain lagi, tetapi karunia-karunia itu tidak bersangkut-paut dengan kerasulan mereka.

RUANG LINGKUP PEKERJAAN

Perlu kita perhatikan bahwa dalam ministri itu, ruang lingkup pekerjaan rasul sama sekali berlainan dengan ketiga jenis orang lainnya. Mengenai nabi dan pengajar, kita tahu bahwa fungsi mereka bersifat lokal. Sebab itu firman Tuhan mengatakan, "Pada waktu itu dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar." Nabi dan pengajar adalah orang-orang dalam gereja lokal, tetapi dalam gereja lokal tidak terdapat rasul. Ini disebabkan rasul adalah untuk tiap-tiap lokal, bukan untuk satu lokal. Amanat rasul adalah diutus Allah bekerja di setiap lokal, memberitakan Injil atau mendirikan gereja. Ruang lingkup pekerjaan mereka adalah untuk tiap-tiap lokal. Namun pengajaran pengajar dan pengkhotbahan nabi adalah untuk gereja lokal ( I Korintus 14:26, 29).

Mengenai pemberita Injil, karena Alkitab jarang membicarakannya kita tidak tahu bagaimana ruang lingkupnya. Tetapi dari "Filipus, si pemberita Injil" itu kita dapat mengerti sedikit. Ia adalah pemberita Injil. Ketika ia meninggalkan tempat asalnya (Yerusalem) menuju Samaria, dengan sendirinya ia tak dapat tidak bersaksi bagi Tuhan, dan Tuhanpun memberkati pekerjaannya. Tetapi Roh Kudus tidak turun ke atas pendengar-pendengarnya yang telah beroleh selamat, masih perlu para rasul datang dari Yerusalem untuk menumpangkan tangan ke atas mereka, barulah mereka beroleh pencurahan Roh Kudus (bukan Roh Kudus yang berhuni di batin). Kasus ini seakan-akan menunjukkan kepada kita, bahwa pemberitaan Injil di satu lokal adalah tugas para pemberita Injil, sedangkan tugas pemberitaan Injil di tiap-tiap lokal adalah bagian para rasul. Namun, itu tidak berarti hanya para rasul yang boleh menginjil di tiap lokal, pemberita Injil pun boleh, hanya saja biasanya ruang lingkup tugas mereka bersifat lokal. Nabi Agabus juga pernah menerapkan karunianya di lokal lain. Ruang lingkup pekerjaan mereka, biasanya pada satu lokal. Kisah Para Rasul 8 menyiratkan hal ini, ditambah dengan penumpangan tangan para rasul menyatakan, bahwa pekerjaan tersebut sepenuhnya satu.

PROSEDUR MEMPEROLEH JABATAN

Kita tahu, bahwa seseorang menjadi nabi atau pengajar karena ia mempunyai karunia bernubuat atau mengajar; tetapi karunia apa yang dimiliki pemberita Injil, sehingga ia menjadi pemberita Injil, itu tidak kita ketahui. Rasul mutlak adalah jabatan, bukan karunia. Seseorang bisa menjadi rasul karena menerima panggilan dan diutus Allah secara khusus. Seorang nabi atau pengajar (termasuk gembala) syaratnya cukup dengan memiliki karunia saja, demikian pula pemberita Injil. Kita tidak nampak mereka harus melalui prosedur apa lagi baru layak menjadi nabi, pengajar dan pemberita Injil. Ketiga jenis orang dalam ministri itu dengan sendirinya menjadi orang-orang demikian karena karunia yang mereka miliki. Misalkan seorang nabi, karena ia memiliki karunia bernubuat, maka dengan sendirinya ia menjadi nabi, tanpa melalui prosedur pelantikan/pentahbisan tertentu. Ia adalah seorang nabi, karena ia memiliki karunia itu.

Namun rasul sama sekali berlainan dengan ketiga jenis orang itu. Seseorang bukan langsung menjadi rasul karena ia memiliki karunia rasuli, sebab rasul bukan karunia. Boleh jadi karunia yang dimiliki rasul sama dengan yang dimiliki ketiga jenis orang itu, tetapi rasul mempunyai panggilan khusus dan pengutusan khusus yang tidak dimiliki ketiga jenis orang itu. Dari segi karunianya, mungkin ia juga nabi, tetapi ia tidak sekadar seorang nabi, ia adalah rasul, sebab ia menerima utusan khusus. Itulah letak perbedaan rasul dengan ketiga jenis orang dalam ministri itu. Kalau yang bertiga melibatkan diri ke dalam ministri itu melalui karunia, maka rasul melibatkan diri ke dalam ministri itu melalui utusan. Hal ini perlu kita pahami dengan jelas.

Dalam persidangan gereja lokal, yang berperan adalah karunia, bukan jabatan, maka di sana hanya terdapat catatan tentang penerapan karunia oleh para nabi, tanpa kedudukan rasul. Meskipun rasul merupakan karunia gereja, tetapi ketika mereka menjadi rasul, mereka sendiri tidak menerima apa-apa. Ketika orang yang berkarunia nabi menerapkan karunianya dalam persidangan gereja lokal, dialah nabi, tetapi ketika dia terpanggil dan menerapkan karunianya di tiap-tiap lokal, dialah rasul. Karunia yang dimiliki rasul secara pribadi, belum tentu karunia bernubuat, mungkin juga karunia menyembuhkan. Tetapi rasul adalah yang dipanggil Allah untuk menerapkan karunia-karunia itu di tiap-tiap gereja lokal. Karunia pribadi mereka tidaklah ditentukan, tetapi jabatannya adalah rasul. Seorang rasul bisa menerapkan berbagai karunia rohaninya di suatu lokal, tetapi ia tidak bisa menerapkan karunia rasulinya, sebab rasul sama sekali bukan suatu karunia.

Efesus 4 membahas gereja lokal dan gereja universal secara terpadu, sebab itu, "Tubuh Kristus", dan juga rasul, nabi dan pengajar dibahas secara terpadu. Sesungguhnya, ruang lingkup pekerjaan rasul berlainan dengan ruang lingkup pekerjaan nabi, pemberita Injil dan pengajar. Maka pengutusan rasul itu istimewa. Tetapi semua itu adalah untuk ministri itu. Pekerjaan ministri itu tidak saja untuk tiap-tiap lokal, juga untuk lokal; tidak saja untuk lokal, juga untuk tiap-tiap lokal. Ruang lingkup pekerjaan ministri itu adalah Tubuh Kristus, sebab itu di situ tidak saja ada rasul, juga ada nabi dan sebagainya; tidak saja ada nabi dan yang lainnya, juga ada rasul. Namun yang khusus terpanggil untuk diutus adalah rasul.

MINISTRI PARA MINISTER

Kedua jenis orang inilah yang dipakai Allah untuk mengemban tugas pekerjaan ministri itu. Di antara saudara-saudara di suatu lokal, Allah menurut kehendakNya memberi mereka karunia, supaya mereka bisa menjadi nabi, pengajar, atau pemberita Injil, agar mereka (berdasarkan karunia yang mereka terima) melayani Allah dan gerejaNya. Lalu, dari antara orang-orang yang beroleh karunia ini, dipilihNya pula secara khusus orang-orang tertentu, dan diutusNya mereka pergi melakukan pekerjaan yang sesuai dengan panggilanNya. Selain karunia yang telah mereka miliki, orang-orang itu beroleh satu jabatan lain, sehingga mereka menjadi sejenis pekerja yang mempunyai jabatan. Sebagaimana saudara yang berkarunia di sebuah gereja lokal menerapkan karunianya untuk melayani gereja, begitu pula saudara yang berjabatan ini di tiap-tiap gereja lokal menunaikan jabatannya membangun Tubuh Kristus.

Melalui orang-orang inilah Allah menyalurkan kasih karuniaNya kepada gerejaNya; dan melalui karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus kepada mereka, segala kasih karunia Sang Kepala dapat dialirkan ke atas Tubuh. Ministri sebenarnya tak lain menyuplaikan Kristus kepada gereja. Minister ialah orang yang menyalurkan Kristus, yang mereka kenal melalui karunia yang mereka peroleh, kepada gereja. Tujuan Allah justru menghendaki gereja memperoleh Kristus dari karunia-karunia tersebut.

Hasil dari Allah memberikan orang-orang ini ialah: masing-masing kaum saleh diperlengkapi, dan pekerjaan ministri itu terlaksana, Tubuh Kristus terbangun, dan seluruh anggota mencapai pertumbuhan kepenuhan perawakan Kepala mereka - Kristus. Orang Kristen harus bertumbuh ke arah Kristus, semakin dipenuhi olehNya, mengenal dan mengakui Dia sebagai Kepala, serta menerima kasih karunia dan perintahNya. Melalui orang-orang ini Allah mewahyukan Kristus serta segala kekayaanNya, agar seluruh anggota Tubuh bertumbuh ke arah Kristus yang terwahyu ini, seraya mengenal Dia sebagai Tuhan Sang Almuhit, Sang Kepala Tubuh dan satu-satunya Persona yang layak mendapatkan kemuliaan. Gereja harus melalui orang-orang ini, dipenuhi dengan suatu pengenalan yang mendalam tentang kekayaan Kristus, sehingga tidak diombang-ambingkan oleh musuh yang memakai berbagai doktrin dan ajaran.

Nabi melayani gereja lokal dengan karunianya, sedang rasul melayani tiap-tiap gereja lokal dengan jabatannya. Kedua jenis orang ini sangatlah penting, sebab pekerjaan lokal maupun tiap-tiap lokal ada di tangan mereka. Karena itu, Alkitab memberitahu kita, bahwa bait Allah "dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi" (Efesus 2:20).

Nabi dan lainnya, dalam gereja hanya merupakan karunia. Mereka berbagian dalam ministri pembangunan Tubuh Kristus karena karunia mereka, namun mereka tidak mempunyai jabatan apa-apa untuk mengelola gereja lokal. Tugas dan urusan suatu gereja lokal dikelola oleh "para penilik (penatua) jemaat dan diaken" ( Filipi 1:1). Penatua adalah jabatan terbesar dalam gereja lokal, dan nabi adalah karunia terpenting dalam gereja lokal. Tetapi dalam pekerjaan Allah, yakni dalam ministri pembangunan Tubuh Kristus, urutan jabatan yang ada adalah rasul, nabi, pemberita Injil, pengajar dan gembala. Merekalah yang mengemban seluruh tugas pembinaan gereja. Hanya saja, di dalam ministri ini, orang yang paling penting adalah rasul. Jabatan yang rasul miliki itu tidak dimiliki oleh nabi dan yang lainnya.

Dalam hal mengelola gereja lokal, jabatan yang terbesar adalah penatua, sedang dalam hal membina Tubuh Kristus, jabatan rasul yang terbesar. Maka kita nampak, ketika menanggulangi permasalahan satu gereja lokal yang berkaitan dengan gereja lokal lain, Alkitab mengatakan, "rasul dan penatua" (Kis. 15:2,4,22-23). Sebab mereka adalah dua jenis orang terbesar dalam dua jenis jabatan itu.

Dalam pekerjaan, golongan rasul adalah yang terbesar, tetapi mereka tidak ada kedudukan dalam gereja lokal. Sebaliknya, golongan penatua adalah yang terbesar dalam jabatan gereja, tetapi mereka tidak ada bagian dalam pekerjaan ministri itu. Golongan nabi, memang terpenting pada aspek karunia, namun mereka tidak berpartisipasi dalam tugas pekerjaan maupun jabatan gereja.

Dalam sebuah gereja lokal terdapat dua jalur: pertama adalah pengelolaan, kedua adalah pembinaan. Aspek pengelolaan adalah masalah jabatan, sebagai petugasnya adalah para penatua dan diaken; sedang aspek pembinaan adalah masalah karunia, tugas ini ditangani oleh nabi dan pengajar dan / atau pemberita Injil. Tugas para penatua ialah mengelola gereja pada urusan sehari-hari, sedang tugas nabi dan pengajar ialah membina gereja dalam persidangan. Jika ada penatua juga sebagai nabi atau pengajar, maka ia boleh mengelola gereja pada urusan sehari-hari, juga membina gereja pada waktu bersidang.

Rasul tidak ada bagian dalam mengelola gereja pada urusan sehari-hari, juga tidak ada bagian dalam membina gereja pada saat bersidang. Tetapi, jika ia juga sebagai nabi atau pengajar, walaupun ia tidak dapat mengelola gereja secara langsung seperti yang dilakukan para penatua, ia boleh turut membina gereja lokal berdasarkan kualifikasinya sebagai nabi atau pengajar pada persidangan gereja. Jadi, jabatan rasulinya itu menugaskannya pergi ke berbagai tempat untuk bekerja bagi Tuhan, tetapi dengan karunia yang ia miliki, entah karunia bernubuat atau mengajar atau lainnya, ia boleh membina kaum imani di tiap-tiap lokal.