← Daftar isi Jangan Mengasihi Dunia · bab 10/11

Bab 10

Kuasa-kuasa Dunia yang akan Datang

Penulis Surat Ibrani mengatakan bahwa orang Kristen “mengecap . . . kuasa-kuasa dunia yang akan datang” (Ibr. 6:5), apakah artinya? Kita semua bersama-sama menyetujui bahwa kita mengharapkan satu dunia akan datang yang cemerlang. Kerajaan yang kini berada di tengah kita, yang memiliki kuasa Roh Allah (Mat. 12:28), sampai saat itu akan terlihat di mana-mana, yang tidak bisa dilawan. Kerajaan dunia ini akan menjadi Kerajaan Allah kita dan Dia yang diurapi-Nya (Why. 11:15). Tetapi mungkin kita akan bertanya, “kuasa” yang sampai hari ini hanya bisa kita kecap, namun belum bisa kita nikmati sepenuhnya itu apa? Jelas sekali bahwa kuasa-kuasa ini untuk diterima dan dinikmati oleh orang, karena kata “mengecap” bukan hanya mengacu kepada doktrin untuk direnungkan dan dianalisis orang, melainkan mengacu kepada hal-hal yang secara subyektif kita alami dan terima. Kuasa-kuasa ini adalah permulaan pesta, kemudian hari masih banyak yang bisa dinikmati, tetapi kita sudah mengecap sedikit.

Kita bisa menunjukkan beberapa perkara semacam ini yang diharapkan oleh Alkitab. Ada keselamatan yang telah siap dinyatakan pada zaman akhir (1 Ptr. 1:5); ada aspek kesegaran hidup kekal pada zaman yang akan datang (Luk. 18:30); ada hari perhentian yang tersedia bagi umat Allah (Ibr. 4:9); ada kebangkitan dan pembaruan tubuh kita yang akan mati (Rm. 8:23; 1 Kor. 15:44); pada suatu hari semua perkara yang menyandung orang akan dibersihkan (Yer. 31:9; Yes. 57:14; 62:10); pada suatu hari, semua orang, besar kecil, akan mengenal Allah (Yer. 31:34; Ibr. 8:11), saat itu seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya (Yes. 11:9; Hak. 2:14). Terhadap semua perkara ini, hari ini kita di dalam Kristus mempunyai pengecapan yang sesungguhnya, tetapi belum mendapatkan perwujudan yang sepenuhnya.

Beberapa butir di bawah ini mempunyai hubungan yang lebih langsung dengan perkara yang sedang kita bahas. Mazmur 8:7b mengatakan, “Segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya.” Surat Ibrani menerapkan perkataan ini ke atas diri Tuhan Yesus, kemudian dengan terus terang menyatakan, menurut pengalaman secara umum, kita tidak bisa tidak mengakui “kita belum melihat segala sesuatu ditaklukkan kepada-Nya” (Ibr. 2:8). Tetapi selain dua perbandingan ini, kita harus menambahkan juga perkataan Tuhan Yesus dalam Lukas 10:19, Dia telah memberikan “kuasa kepada kamu (murid-Nya) . . . atas segala kekuatan musuh.” Ini pasti adalah satu janji, sekarang kita bisa memiliki pengecapan terhadap apa yang akan datang yang belum kelihatan.

Dalam ayat-ayat dari kitab Injil yang sama, mencatat Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (ayat 18). Dalam kitab Wahyu 12:9, Yohanes seolaholah menempatkan hal ini pada kemudian hari yang masih jauh. Tetapi perkataan Yesus jelas menyiratkan, dipandang dari sudut gereja yang bersaksi, dalam makna tertentu, ini adalah fakta pada hari ini. Tidak saja demikian, pada akhir kitab Wahyu, Yohanes mendapatkan petunjuk, nampak pada suatu hari Iblis akan diikat dengan rantai selama seribu tahun (20:1-4). Tetapi Yesus berkata “orang kuat” itu sudah diikat, sebab kita sekarang juga bisa memasuki rumahnya, dan merampas harta bendanya (Mat. 12:29).

Makna perkataan-perkataan ini sangat besar; karena kalau hari ini kita mendapatkan karunia keselamatan dan hidup yang kekal, maka hari ini juga, terhadap “kuasa” yang akan datang ini, kita seharusnya mempunyai sedikit pengecapan. Karena hal-hal ini meskipun belum ternyata secara umum, tetapi jelas sekali adalah hasil dari salib dan kebangkitan Kristus, sedikitnya pada prinsipnya pasti adalah warisan gereja pada hari ini.

Kehendak Allah yang kekal berhubungan erat dengan manusia. Ia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa . . .” (Kej. 1:26). Allah menghendaki manusia memegang kekuasaan, berkuasa dan mengatur, mengendalikan makhluk ciptaan lainnya. Kita tidak bisa berkata bahwa penebusan adalah rancangan Allah — mungkin salah satu bagian saja — karena Allah tidak pernah menghendaki manusia jatuh,lebih-lebih tidak bermaksud supaya manusia binasa. Kejadian 3 mewakili sejarah manusia, bukan tujuan Allah terhadap manusia. Mungkin seorang pekerja terjatuh dari lantai lima sebuah bangunan yang sedang dibangun, namun itu sama sekali bukan rencana dari arsiteknya!

Tidak, rencana Allah berhubungan dengan hak pemerintahan manusia; kita harus hati-hati, batasan istimewa hak pemerintahan ini adalah “seluruh bumi” (kej. 1:26). Langit tidak bermasalah, masalahnya terjadi di bumi. Manusia diperintahkan untuk “menaklukkan bumi” (ayat 28 Tl.), kita akan bertanya mengapa. Kalau tidak ada satu kekuatan untuk menaklukkan, mengapa berpesan kepada manusia secara demikian? Tidak saja demikian, Alkitab juga memberi tahu kita, TUHAN menaruh manusia di Taman Eden untuk mengusahakan dan “memelihara” taman itu (Kej. 2:15). Di sini bahasa aslinya bukan hanya “memelihara” seperti umumnya, melainkan mempunyai arti “menjaga” Taman firdaus Allah, ini juga menyiratkan bahwa di dekatnya ada musuh sehingga Adam perlu menjaga taman, jangan membiarkan musuh masuk.

Perhatikanlah cara pengutaraan Kejadian 1:26, ini sangat berarti sekali. Manusia akan berkuasa atas seluruh bumi, perkataan ini mencakup banyak perkara yang lain, di antaranya ada “segala binatang melata yang merayap di bumi”. Tetapi perkara pertama yang atasnya manusia tidak bisa menunaikan tugasnya adalah belum bisa menguasai binatang melata — ular. Karena kegagalan manusia, Iblis di dalam manusia mendapatkan hak baru atas bumi. Memang debu tanah di bumi ditetapkan berada di bawah kekuasaannya, “dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu” (Kej. 3:14). Tetapi debu itu apa? Debu adalah substansi penciptaan Adam! Sebab itu manusia yang ada di dalam daging, hari ini sesungguhnya takluk di bawah tangan Iblis. Musuh Allah mendapatkan hak yang jelas, boleh mengurus hakiki dan segala suatu yang dimiliki kehidupan manusia. Hayat alamiah manusia adalah landasan pergerakan Iblis di bumi. Dunia milik Iblis bisa timbul dan bergerak dengan kuat, adalah berdasarkan haknya di atas diri manusia, bahkan Allah juga tidak menyangkal hak-hak ini. Melalui kegagalan manusia menunaikan tugas, Iblis mendapatkan hak terhadap segala ciptaan lama.

Kalau menghendaki Iblis menghentikan pergerakannya di dalam kita, kita harus menyingkirkan semua tumpuannya di atas diri kita. Itulah sebabnya dalam penebusan-Nya Allah membereskan situasi ini, bukan secara langsung membereskan Iblis, tetapi seperti yang kita lihat, melalui membersihkan seluruh ciptaan lama — manusia sendiri, dunianya, dan segala sesuatu, sehingga menyingkirkan tumpuan sah Iblis. Kejatuhan Iblis bukan melalui langsung menyerang dia, melainkan secara tidak langsung melalui kematian Kristus, menyingkirkan semua hak pengendalian yang dengan riil diberikan kepadanya. “Manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rm. 6:6).

Sebab itu puji syukur kepada Allah, atas diri kita Iblis tidak lagi mempunyai hak apa pun. Tetapi ini hanya fakta yang negatif saja. Selain itu masih ada satu fakta yang positif. Allah tidak hanya menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi kehendak kekal-Nya melalui menyingkirkan ciptaan lama, tetapi juga mendapatkan segala sesuatu yang diperlukan untuk merealisasikan kehendak ini melalui membawa masuk ciptaan baru — manusia baru Allah. “Sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia” (Rm. 6:9). Kehendak-Nya diwahyukan dalam Kejadian 1, dan yang terhilang dalam Kejadian 3, bukan hilang selamanya. Di atas manusia yang pertama, Allah tidak bisa mendapatkannya; di atas manusia yang kedua, Allah telah mendapatkannya. Manusia yang kedua ini berada di atas takhta. Tidak heran penulis Perjanjian baru dengan berani sekali lagi mengutip perkataan pemazmur, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehinga Engkau mengindahkannya? . . . dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm. 8:5-6). Setelah demikian mengutip perkataan pemazmur, selanjutnya penulis mengatakan, “Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus . . . dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat” (Ibr. 2:6-9). Kalau penciptaan manusia adalah untuk memuaskan keperluan Allah, hari ini keperluan ini telah tergenapi. Allah telah mendapatkan manusia-Nya.

Sebab itu, Kejadian 1, Mazmur 8, dan Ibrani 2, secara istimewa bergandeng menjadi satu. Tentunya Mazmur 8 adalah satu kidung, mengidungkan rencana Allah terhadap umat manusia, tetapi butir yang paling bermakna di dalamnya adalah, meskipun manusia telah jatuh, si pemazmur tetap tidak meninggalkan rencana Allah. Dia hanya sekali lagi menegaskan rencana semula dalam Kejadian 1, “Engkau membuat dia berkuasa atas . . .” (Mzm. 8:7-9). Rencana ini tidak berubah. Selain itu, nyanyiannya dimulai dengan seruan pujian, dan diakhiri dengan seruan yang sama, “Betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ayat 10).

Musuh sudah bertindak sekuatnya; manusia sudah terjerumus ke dalam perangkap, bahkan menghujat Allah. Kalau Anda dan saya yang menulis mazmur ini, setelah ayat 9, pasti akan dengan sedih berseru, “Tetapi kasihan, manusia telah jatuh; semuanya sudah hilang!” Pemazmur tidak menulis demikian. Sepertinya dia telah melupakan peristiwa kejatuhan, karena dia sama sekali tidak menyinggungnya. Pikirannya melampaui seluruh sejarah penebusan, dengan gembira berseru, “Betapa mulianya!” Adam dan Hawa bisa jatuh, tetapi mereka tidak bisa mengubah ketetapan kehendak Allah yang menghendaki manusia menggulingkan Iblis. Ketetapan kehendak-Nya kukuh tidak berubah, kemuliaan-Nya akan diketahui oleh manusia — Di mana? Di seluruh bumi.

Ketetapan ini tidak hanya terwujud di atas diri Anak Manusia, tetapi juga akan terwujud di atas diri orang dunia, yaitu terwujud di atas diri “banyak anak” yang akan dibawa oleh Allah masuk ke dalam kemuliaan. Pemazmur dengan sekuat tenaga menekankan fakta ini. Meskipun musuh telah berusaha sekuatnya, tetapi keuntungan yang dia dapatkan melalui kejatuhan manusia, bukan tidak bisa direbut kembali. Di tengah-tengah manusia, masih ada hal-hal yang tidak bisa dijamah olehnya. “Dari mulut bayi-bayi dan anakanak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam” (Mzm. 8:3). Allah tidak bersandar jenderal ahli militer, hanya memakai anak-anak, bahkan bayi, sudah bisa menguasai tentara musuh.

Kita telah melihat, inspirasi Ibrani 2 berasal dari Mazmur 8. Tetapi Ibrani 2 lebih maju selangkah, di satu pihak, sekali lagi meneguhkan ketetapan kehendak Allah dalam penciptaan beserta sasaran yang ditunjuknya, di lain pihak juga mengucapkan lebih banyak hal. Ibrani 2 dengan riil melihat kembali sejarah kejatuhan manusia yang kelam, kemudian menegaskan ketetapan kehendak Allah dalam penebusan dan pemulihan yang mengarah pada sasaran yang sama. Dalam segala situasi baru yang dihasilkan oleh penebusan, rencana Allah tetap tidak berubah. Allah tidak pernah melepaskan sasaran-Nya. Tidak hanya demikian, penulis Surat Ibrani melihat dari sudut kemenangan salib, bisa dengan mantap menegaskan lagi penegasan yang dilakukan oleh pemazmur melalui iman. Sebab itu, sesungguhnya, semuanya belum hilang, di dalam Kristus Allah telah mencapai tujuan-Nya.

Ya, rencana itu masih sama, “Segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya” (Ibr. 2:8). Dipandang dari luar, kita sepertinya tidak bisa mengakui butir ini, sebab itu di sini mengatakan, “Tetapi sekarang ini kita belum melihat segala sesuatu ditaklukkan kepada-Nya.” Meskipun demikian, penulis tidak mempedulikannya, bahkan segera dengan menang maju berkata, “Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh anugerah Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (ayat 9). Kemudian, dia dengan berani menambahkan, “Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis” (ayat 14).

Apa yang harus manusia lakukan di atas bumi bagi Allah, namun belum bisa dilakukan, telah digenapkan oleh Tuhan Yesus kita. Ia “mengalami maut bagi semua hal”. (Seperti yang disiratkan dalam bahasa aslinya — tidak saja bagi “semua manusia”). Artinya, kematian-Nya tidak saja untuk menebus manusia, tetapi juga untuk menebus semua makhluk ciptaan, dan maju selangkah lagi kembali kepada keadaan semula, yaitu untuk memulihkan kehendak Alah Bapa yang akan menggulingkan total susunan dunia Iblis.

Sebab itu hari ini gereja di hadapan Allah mempunyai kewajiban yang jelas, akan di atas wilayah kekuasan Iblis menyatakan kemenangan Kristus. Kalau ingin bersaksi terhadap penguasa dan pemerintah, kalau otoritas kedaulatan yang Kristus dapat melalui salib-Nya akan menyatakan daya dobraknya dalam lingkungan kerohanian, harus membereskan titik pijak di hati kita yang dijajah oleh “pemalsu” itu, melalui salib yang sama, menyingkirkan dan memusnahkannya. Karena tujuan Allah tetap menghendaki manusia “berkuasa”. Untuk pekerjaan-Nya, kita tidak hanya memberitakan Injil yang hanya menghapus akibat dari Kejadian 3, meskipun itu sangat indah. Allah masih akan membawa kita maju selangkah lagi kembali kepada Kejadian 1. Dia menginginkan kita di dalam Kristus, mendapatkan kembali hak kekuasan musuh-Nya, sehingga dengan riil bumi kembali lagi kepada Allah. Inilah yang menyebabkan, “dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan” (Rm. 8:19), seperti yang Paulus beritahukan kepada kita.

Untuk memuaskan keperluan manusia, harus ada dan tidak bisa kekurangan Injil karunia keselamatan. Tetapi sebagai hamba Allah, kalau kita hanya berjerih lelah bagi orang lain, kita telah mengabaikan tujuan semula Allah dalam penciptaan; itu hanya memuaskan keperluan manusia, bukan memuaskan keperluan Allah sendiri. Karena seperti yang telah kita bicarakan, manusia tercipta untuk memuaskan keperluan Allah. Sebab itu, hari ini kalau kita ingin memuaskan keperluan Allah, kita harus maju selangkah lagi untuk membereskan si Iblis itu. Bagi Allah, kita harus dari Iblis merebut kembali kuasanya, mengusirnya dari daerah kekuasaannya, merampas hartanya, melepaskan tawanannya. Masalahnya bukan hanya dalam hal merebut jiwa kita terhitung apa, melainkan dalam wilayah penguasa dan pemerintah kita terhitung apa. Untuk ini kita harus membayar harga.

Kita sering bisa mengharukan orang, tetapi tidak bisa menggoyahkan Iblis. Menanggulangi Iblis harus mengeluarkan harga yang lebih besar daripada menyelamatkan jiwa, ini adalah fakta yang nyata. Ini perlu roh kita mutlak terhadap Allah, demikian akan sangat efisien membuat Iblis kehilangan kedudukan yang akan dia dapatkan di atas diri kita. Harga ini sangat besar. Allah dalam rahmat kasih-Nya terhadap orang-orang yang hilang, sering bisa mengabaikan dan bertoleransi terhadap kelemahan bahkan kegagalan diri hamba-Nya, yang dianggap orang sangat menakutkan. Terhadap menyelamatkan jiwa, Dia boleh berbuat demikian; tetapi ketika kita akan menanggulangi Iblis, masalahnya berbeda.

Roh-roh jahat bisa melihat tembus kesaksian orang. Mereka bisa melihat mana yang tidak mutlak atau tidak benar, sehingga ada kompromi. Mereka mengetahui kapan kita menahan sebagian harga. Mereka tidak akan salah melihat, mereka juga tahu siapa yang tidak perlu diperhitungkan, siapa yang tidak perlu ditakuti; sebaliknya juga sangat hafal, siapa yang tidak bisa mereka perdaya. “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapa kamu?” (Kis. 19:15). Karena mereka percaya, sebab itu mereka tahu kapan harus gemetar. Biarlah saya berkata demikian, karena pekerjaan kita yang paling penting adalah supaya mereka runtuh, maka kesaksian yang diberikan kuasa jahat untuk kita, selalu melebihi pujian orang terhadap kita.

Tetapi saya ulangi lagi, harga untuk kesaksian dari penguasa dan pemerintah adalah mutlak dan sepenuhnya setia terhadap Allah. Kalau kita mementingkan diri dan harapan kita sendiri, atau memilih jalan yang berbeda dan berlawanan dengan kehendak Allah, itu berarti memberi keuntungan kepada musuh. Singkatnya, itu berarti menyerah kepada musuh. Di pihak lain, mungkin dalam motivasi kita, boleh jadi masih ada sedikit angan-angan untuk keuntungan diri sendiri, yang kita anggap tidak akan menimbulkan banyak kerugian. Tetapi kenyataan sama sekali berbeda, saya ulangi, sama sekali berbeda. Kalau terhadap Allah tidak ada kemutlakan yang demikian, tidak bisa menggenapkan apa-apa, karena kalau tidak ada ini, kita bahkan membuat Allah tidak berdaya terhadap musuh-Nya.

Sebab itu saya tegaskan lagi, permintaan di sini sangat tinggi. Anda dan saya, di bumi ini, apakah dengan mutlak menyerahkan diri, mempersembahkan diri kepada Allah? Apakah kita karena hal ini, saat ini juga bisa menikmati kuasa masa akan datang yang mulia itu? Apakah kita dari penguasa dunia ini merebut kembali wilayah untuk satu-satunya Pemilik yang sah?