Bab 11
Merampas Perebut Kekuasaan
“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1 Tim. 1:15). Karena dalam ketetapan kehendak kekal Allah yang mempunyai hak kuasa adalah manusia (bukan makhluk ciptaan yang lain), maka kita seharusnya mengalirkan belas kasihan kepada orang-orang yang berdosa, ini adalah hal yang spontan dan tepat. Tak peduli di depan kita mengatakan apa, mungkin kita mempunyai perasaan yang dalam, dalam zaman kasih karunia yang pendek ini, merebut jiwa berpaling kepada Juruselamat adalah cara tertinggi kita untuk merebut barang jarahan Iblis. Kalau “manusia” itu sebagai pokok utama kita, di sini kita seharusnya mementingkan perkara menyelamatkan jiwa.
Tetapi kita telah membahas tentang pemberitaan Injil di tempat yang lain. Sebab itu ketika mengakhiri pembahasan tentang “dunia” ini, kita akan melihat wilayah yang lebih bersifat materi lain yang dikuasai oleh Iblis, yaitu wilayah harta benda; saya akan dengan riil mengambil contoh untuk menjelaskan bagaimana “merampas orang kuat itu”.
Uang berlawanan dengan Allah. Firman Allah mengatakan uang adalah mamon, tidak jujur (Luk. 16:9). Yesus berkata, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, . . .” Maksud Tuhan di sini jelas bukan mengacu kepada Mamon yang didapat dengan perdagangan yang tidak jujur. Ia berkata, diri Mamon sendiri tidak jujur. Ketidakjujuran yang diperlihatkan kepada kita di sini, bukan ditujukan kepada cara untuk mendapatkan uang, juga bukan fungsi uang, melainkan sifat uang itu sendiri. Hakiki uang itu sendiri adalah jahat. Kita berkata ada uang yang bersih, ada uang yang kotor; tetapi dalam pandangan Allah, asal uang, selalu kotor. Orang yang mengenal Allah juga mengenal ciri uang. Dia mengenal diri uang sendiri adalah jahat.
Kalau Anda ingin menguji sifat khusus sesuatu hal, asal bertanya hal itu akan mengarahkan Anda kepada Allah, atau mengarahkan Anda menjauhi Allah? Uang selalu mengarahkan orang menjauhi Allah. Dalam Lukas 16:13 dengan jelas Tuhan Yesus meletakkan prinsip tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Tetapi saya berpikir, sekalipun Dia tidak menjelaskan demikian, kebanyakan dari kita juga yakin demikian. Karena pengalaman memberi tahu kita bahwa Allah dan Mamon sama sekali tidak bisa berdiri pada pihak yang sama; Mamon selalu melawan Allah.
Tentunya, kita mungkin menjelaskan firman Yesus dengan lebih luas lagi, mengatakan “Mamon” adalah segala perkara dan barang yang beroposisi dengan Allah. Tetapi rasul Paulus membantu kita, dengan jelas menunjukkan uang adalah cara yang paling manjur untuk menarik kita menjauhi Allah. Ia berkata, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagaibagai duka” (1 Tim. 6:9-10). Dengan kata lain, kalau ada sesuatu yang bisa menarik kita meninggalkan Allah, itulah uang.
Unsur utama dunia adalah uang. Setiap kali Anda menjamah uang, Anda menjamah dunia. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa memakai barang yang benar-benar diketahui milik dunia, tetapi tidak terlibat ke dalam sistem dunia? Bagaimana kita menangani uang, barang duniawi yang paling duniawi, memakai uang untuk jual beli, tetapi tidak berkaitan dengan Iblis? Dikatakan lebih sungguh-sungguh lagi, kalau hari ini tidak memakai uang tidak bisa menjadikan sesuatu, bagaimana kita bisa memakai uang, yaitu faktor tertinggi untuk membangun kerajaan antikristus, untuk membangun Kerajaan Kristus?
Janda yang memasukkan uang receh terkecil ke dalam peti persembahan Bait Suci, melakukan perkara yang diperkenan Tuhan, sehingga mendapatkan pujian yang khusus dari-Nya. Sesungguhnya, yang ia lakukan adalah mengambil sedikit barang dari kerajaan Iblis, untuk dimasukkan ke dalam Kerajaan Allah; lalu Yesus memujinya.Sebab itu kita akan bertanya, bagaimana baru bisa melakukan peralihan ini? Bagaimana baru bisa mengambil uang yang hakiki dan ciri khususnya tidak jujur, untuk membangun Kerajaan Allah? Bagaimana Anda bisa menegaskan bahwa dunia telah putus hubungan dengan uang yang ada dalam kantong Anda? Beranikah Anda berkata bahwa semua uang yang Anda miliki, tidak ada satu pun yang tercatat dalam pembukuan Iblis?
Pada setiap uang logam Roma kuno ada gambar Kaisar. Sesuai perkataan Yesus, semua uang yang demikian adalah “barang milik Kaisar”. Bisakah memisahkan hubungan Kaisar dengan uang? Uang adalah barang duniawi, bagian yang paling penting dalam sistem dunia. Lalu bagaimana bisa mengambil keluar dari dunia uang yang milik dunia, dan dipersembahkan kepada Allah untuk dipakai oleh Allah?
Pada zaman Perjanjian Lama, telah ditetapkan satu prinsip yang keras. “Akan tetapi segala yang sudah dikhususkan oleh seseorang bagi TUHAN dari segala miliknya, baik manusia atau hewan, maupun ladang miliknya, tidak boleh dijual dan tidak boleh ditebus, karena segala yang dikhususkan adalah maha kudus bagi TUHAN” (Im. 27:28). Dengan kata lain, tidak ada satu persembahan yang sejati yang tidak dirusak. Pada hari itu, kalau domba dipersembahkan kepada Allah, bukan lagi domba hidup yang bisa melahirkan anak domba; domba dibawa ke depan Allah adalah untuk dipersembahkan sebagai kurban. Domba ini “pastilah dihukum mati” (ayat 29b). Perusakan yang demikian adalah tanda diperkenan.
Semua uang yang sungguh-sungguh dipersembahkan kepada Allah, harus berada di bawah prinsip dirusak; artinya, bagi dunia, keberadaannya harus tidak ada lagi, bagi saya, keberadaannya juga harus tidak ada. Tuhan kita memuji janda yang memasukkan dua uang tembaga ke dalam peti persembahan, karena Dia melihat janda itu memasukkan biosnya, yaitu hidupnya ke dalam peti persembahan. “Tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk. 12:44). Banyak orang hanya memasukkan uang ke dalam peti persembahan; tetapi dia memasukkan hidupnya bersamaan dengan uangnya. Dengan kata lain, ketika uang itu keluar dari tangannya, hidupnya ikut keluar. Ketika ia mempersembahkan dua uang tembaga, itu adalah mempersembahkan segala-galanya.
Kalau uang Anda akan keluar dari dunia, hidup Anda harus ikut keluar dari dunia. Anda tidak bisa mempertahankan diri Anda sendiri, lalu mempersembahkan suatu barang penting kepada Allah. Anda sebenarnya tidak bisa “mengutus” uang Anda keluar dari dunia, Anda hanya bisa “membawa” uang keluar dari dunia!
Sebab itu, kalau ingin membawa uang keluar dari wilayah Iblis dan masuk ke wilayah Allah, itu bukan perkara yang mudah; di sini mengandung penderitaan persalinan. Kenyataannya, membawa orang dari Iblis berpaling kepada Allah, lebih mudah daripada membawa uang dari Iblis berpaling kepada Allah. Karena anugerah Allah, entah kita sendiri mutlak setia atau tidak, kita bisa membawa orang berpaling kepada-Nya; tetapi perkara uang tidak demikian. Kalau ingin supaya kita mengalihkan emas perak yang dalam sifat khususnya jahat menjadi emas perak dalam tempat kudus, perlu kekuatan rohani yang sangat besar. Harta perlu berubah, sama seperti orang perlu berubah; saya percaya, (mungkin dalam makna yang sangat tidak sama) uang bisa diperbarui, sama seperti orang bisa diperbarui. Tetapi Anda mempersembahkan uang ke dalam peti persembahan, pergerakan ini sendiri tidak bisa mengubah sifat khusus uang yang Anda persembahkan. Selain hidup Anda ikut keluar bersama uang Anda, kalau tidak, uang Anda tidak bisa terlepas dari kerajaan Iblis dan beralih ke dalam Kerajaan Allah. Nilai rohani Anda bekerja bagi pekerjaan Allah, sama seperti uang yang Anda kelola, apakah uang itu telah terlepas dari sistem dunia. Saya bertanya kepada Anda, apakah sudah terlepas? Apakah Anda bisa mengumumkan bahwa uang di tangan Anda tidak ada satu sen pun yang milik dunia? Apakah Anda bisa mengatakan bahwa sekarang uang Anda tidak lagi menjadi satu bagian dari kosmos, karena dia sepenuhnya telah berubah? Apakah Anda mau berkata kepada Allah, “Aku mau supaya semua uang yang kudapat melalui segala jerih payahku, dan semua uang yang diberi oleh orang, menjadi milik-Mu”?
Bagi Paulus, prinsip ini sangat jelas: Yang aku minta adalah kalian, bukan milik kalian. Kaum saleh di Makedonia yang dengan sukacita menyatakan kaya dalam kemurahan mempersembahkan harta, meski dalam keadaan sangat miskin. Mereka “memberikan diri mereka pertamatama kepada Allah”, kemudian mempersembahkan uang mereka (2 Kor. 8:5). Paulus telah menerima pelatihan Perjanjian Lama; dalam Perjanjian Lama, persembahan barang materi, selalu bergandengan dengan orang yang membawa barang persembahan itu. Teorinya mungkin bersumber dari sana.
Ada satu hal yang kedengarannya mungkin mengejutkan orang, tetapi nyata, yaitu uang yang dipersembahkan untuk dipakai Allah itu terbatas, namun uang yang dipakai Iblis tidak terbatas. Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana kalimat ini dicocokkan dengan kalimat yang lain, yaitu semua perak dan emas kepunyaan TUHAN (Hag. 2:9). Tetapi Tuhan Yesus kita sendiri berkata, ada barang milik Allah, juga ada barang milik Kaisar. Akhirnya tidak diragukan lagi, semua barang materi adalah milik Allah Pencipta. Tetapi hari ini uang yang ada dalam peti persembahan Allah ada berapa, terbatas oleh jumlah orang yang mempersembahkan kepada-Nya.
Kalau kita hidup dalam zaman Perjanjian Lama, bisa segera menghitung jumlah uang di tempat kudus. Asal saya bertanya berapa jumlah orang Israel yang terdaftar, kemudian menghitung dengan setengah syikal perak, uang pendamaian (penebusan) karena nyawa setiap orang (Kel. 30:11-16), ditambah jumlah anak sulung orang Israel yang melebihi jumlah orang Lewi, setiap orang harus menambah uang penebusan lima syikal (Bil. 3:39-51). Di luar kedua jumlah ini, masih perlu ditambah nilai nazar khusus mempersembahkan diri kepada TUHAN yang ditimbang menurut syikal kudus (Im. 27:1-8). Jadi, jumlah uang Allah ditentukan oleh jumlah umat Allah. Batas kekayaan di peti persembahan Allah, berdasarkan jumlah orang yang mempersembahkan kepada-Nya.
Di sini ada satu prinsip yang sangat penting, yang harus dijawab oleh setiap orang: Hari ini uang yang aku jamah adalah syikal dalam tempat kudus, atau Mamon yang tidak jujur? Setiap kali aku menerima satu perak uang, atau aku mendapat untung satu perak uang, aku harus segera mengubah uang satu perak itu dari dunia ini menjadi uang dalam tempat kudus. Uang bisa memusnahkan kita, tetapi uang juga bisa menjaga kita. Jangan memandang ringan uang; di aspek ini nilainya terlalu nyata. Dia sangat penting bagi Tuhan. Anda sendiri kalau dengan sepenuh hati dan jiwa keluar dari dunia, kalau Allah kehendaki, Anda juga bisa membawa banyak harta kekayaan keluar dari dunia. Ketika orang Israel keluar dari Mesir, mereka membawa pergi banyak harta kekayaan. Mereka merampas orang Mesir, dan memakai barang-barang rampasan mereka untuk membangun kemah. Kita ingat, di antara mereka juga ada orang-orang yang memakai barang-barang itu untuk membuat patung anak lembu emas, sehingga binasa di depan Allah. Tetapi ketika umat Allah meninggalkan Mesir, kemah, sedikitnya bahan untuk membangun kemah, mengikuti mereka meninggalkan Mesir. Emas, perak, tembaga, lenan Mesir — semua beralih dan dipersembahkan ke tempat kudus Allah.
Kalau dalam zaman Perjanjian Lama ada realitas ini, maka tolok ukur yang ditetapkan oleh Perjanjian Baru pasti lebih tinggi! Kunci mengatur uang dalam Perjanjian Baru adalah tidak mempertahankan sesuatu untuk diri sendiri. “Berilah dan kamu akan diberi” inilah firman Tuhan kita (Luk. 6:38). Tuhan tidak berkata, “Menabunglah supaya kaya!” Ini berarti prinsip pertambahan Allah adalah memberi, bukan menabung. Allah meminta setiap orang di antara kita harus memberi menurut perbandingan yang tertentu, bukan memberi dengan sekehendak hati. Artinya, pemberian yang akan Allah dapatkan, tidak saja karena kesenangan hati, tetapi juga karena perjanjian yang telah ditetapkan dengan-Nya, dan dilakukan dengan setia.
Ini dikarenakan rahasia sejati merampok Iblis, seperti yang kita lihat, tergantung pada persembahan pribadi. Kita ditebus dari dunia, tetapi tidak mempersembahkan diri kepada Allah, ini tidak mungkin. “Kamu bukan milik kamu sendiri, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Kor. 6:19-20). Entah kita membawa pekerjaan, dari dunia mendapatkan pemasukan uang, atau sepenuh hati melakukan pekerjaan memberitakan firman, bersandar pemberian dari umat Allah mempertahankan hidup, itu tidak ada masalah; di depan kita hanya ada satu jalan, tidak ada dua jalan. Kita semua bersama-sama mempersembahkan diri kepada Allah, kita semua adalah saksi-saksi-Nya. Ada orang mengira memberitakan Injil itu bersih, berdagang itu tidak bersih, sebab itu orang yang berdagang pasti tercemar, sehingga nilainya bagi Allah agak sedikit; konsepsi ini tidak benar. Yang penting harus membiarkan Allah menjadi pusat kehidupan kita, bukan usaha kita sebagai pusat kehidupan kita.
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya” (1 Yoh. 2:15). Kamu telah menerima urapan dari Yang Kudus itu, hiduplah berdasarkan urapan ini! Persembahkan diri kepada Allah; sepenuhnya dan mutlak hidup bagi-Nya; perhatikan, bagi Anda, perkara dunia ini akan dihapus dari pembukuan Iblis, dan dialihkan ke dalam pembukuan Allah. Karena “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (ayat 17).
BAGAIMANA HIDUP TANPA KEKURANGAN
Di jaman sekarang, kita melihat banyak orang imani yang mengalami kemiskinan. Mereka semua membutuhkan pertolongan. Kita juga melihat banyak saudara saudari yang mempercayakan kehidupan mereka kepada Tuhan, meskipun mereka tidak pernah menderita kelaparan, tapi mereka kerap kali tidak memiliki keseimbangan dalam keuangan. Dan lagi, ada saudara-saudara yang mendambakan hidup dengan iman, namun karena tidak menemukan jalannya, maka mereka tidak berani memulai menempuh hidup seperti itu. Apakah firman Tuhan mengatakan kepada kita, bahwa anak-anak Allah bisa melepaskan dirinya dari kekurangan? Jawabannya adalah "ya".
Orang imani hidup dalam kekurangan, dikarenakan adakalanya yang "tersisa" pada mereka masih terlalu banyak, mereka lupa memberi kepada yang lain. Akibatnya, tak seorangpun yang memberi kepada mereka. Alasan yang terbesar (meskipun saya tidak berani mengatakannya sebagai satu-satunya alasan) dari kekurangan yang terjadi di antara orang-orang imani adalah karena mereka tidak memberi. Prinsip yang diajarkan Alkitab adalah: "Berilah dan kamu akan diberi" (Lukas 6:38). Bukan hanya menerima, melainkan memberi dulu, baru kemudian menerima. Pada waktu kita mengalami kekurangan, kita berharap untuk menerima dari seseorang atau dari Tuhan. Tetapi perintah Tuhan adalah "memberi". Kita tidak seharusnya hanya memberi pada saat kita kaya atau pada waktu kita mengalami kelebihan, tetapi pada saat kita membutuhkan orang lain memberi kita. Semakin kita dalam kekurangan, kita harus semakin memberi. Semakin kita berharap menerima pertolongan dari orang lain, kita harus semakin memberi pertolongan kepada orang lain. Jika kita benar-benar melakukan menurut janji dari ayat ini, kita akan benar-benar melihat janji Tuhan tergenap dalam hidup kita. Selama bertahun-tahun saya melayani Tuhan, Ia selalu mengajar saya dengan ayat ini. "Memberi" orang lain, dan saya akan diberi. Inilah ilmu saya dalam mengatur keuangan, inilah ilmu ekonomi saya. Pada saat saya memiliki kebutuhan yang sangat besar dan saya tidak bisa memenuhi kebutuhan itu, saya teringat ajaran dalam ayat ini. Saya datang ke hadapan Tuhan dan bertanya, apa yang harus saya berikan kepada orang lain. Begitu Dia memberikan perintah, saya segera menaatinya. Dan tak lama kemudian, saya mengalami Dia memenuhi kebutuhan saya melalui tangan orang lain. Hari ini, jika saya merenungkan kembali, saya sungguh-sungguh bisa mengatakan, bahwa ayat ini benar-benar dapat dipercaya. Pula ajaib sekali, saat saya mempersembahkan paling banyak sesungguhnya merupakan saat saya paling kekurangan. Namun Tuhan senantiasa mengembalikan kepada saya sepuluh kali lipat dan seratus kali lipat dari apa yang telah saya keluarkan. Setiap kali saya mengeluarkan sesuatu, saya selalu memperhitungkannya pada akhir bulan dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Ajaib sekali! Dia senantiasa memberi dan memberi dengan berlimpah. Saya dapat bersaksi, bahwa Tuhan tidak pernah satu kalipun merugikan saya ketika saya menerapkan Lukas 6:38. Ada orang heran, bagaimana saya dapat mempunyai begitu banyak uang untuk diberikan kepada orang lain. Mereka mengira, mungkin Tuhan memberi kasih karunia yang khusus kepada saya. Mereka tidak tahu, bahwa saat saya memberikan paling banyak, sesungguhnya merupakan saat saya betul-betul kekurangan. Beberapa orang mungkin mengira, bahwa saya sangat kaya. Sebenarnya saya lebih miskin dibanding kebanyakan orang. Tetapi kuasa Tuhan sangatlah besar. Meskipun beberapa orang berpikir begitu, hal itu tidak menghalangi Tuhan untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya mempunyai seorang teman yang juga mengalami hal ini. Suatu ketika ia mengeluarkan dollar terakhirnya bagi Tuhan. Beberapa hari kemudian, ia memerlukan 100 dollar untuk membayar upah para pekerjanya. Ia duduk tenang di hadapan Tuhan dan mulai memuji Dia. Ia menggubah sebuah lagu dalam bahasa Inggris (karena ia adalah orang Inggris). Salah satu syair dari lagu itu mempakan sebuah ayat dalam Mazmur 23 yang mengatakan, “piala berkat Tuhan melimpah." Ia percaya, bahwa segala sesuatunya (termasuk emas dan perak), akan melimpah baginya. Sebenarnya, saat ia menuliskan ini, ia sedang tidak mempunyai uang sepeserpun! Pada waktu temannya di Inggris melihat lagu itu, ia menulis surat dan berkata, "Terima kasih kepada Allah, karena Ia begitu kaya bagimu!". Memang benar, bahwa ia tidak miskin. Ketika tiba saatnya ia harus membayar, Tuhan menggerakkan pendetanya yang dulu di Inggris agar mengirim 100 dollar kepadanya.
Memberi adalah rahasia untuk menerima. Semakin Anda tidak mau memberi, Anda akan semakin tidak memperoleh. Sering kali kita merasa, bahwa sumber kita mulai kering, dan mengira sumber itu akan lebih cepat kering kalau kita memberi kepada orang lain. Tetapi Tuhan berfirman, "Berilah dan kamu akan diberi." Anda bisa melatih iman Anda. Anda bisa berdoa, tetapi Anda tidak akan menerima jika Anda tidak memberi. Mata Tuhan tertuju kepada bagian yang sedikit, yang Anda sisakan. Anda berkata kepada Allah "Ya, Bapa, hanya sedikit ini." Allah akan berfirman, "Masih sebanyak itukah yang kamu miliki?" Anda mengira, "yang ku miliki begitu sedikit, ini perlu disimpan untuk menyambung hidup". Tetapi Allah justru tidak dapat memberi Anda, karena sisa yang masih Anda miliki itu. FirmanNya, "Berilah dan kamu akan diberi."
Segenggam tepung dan sedikit minyak yang dimiliki perempuan Sarfat itu hanya cukup untuk dibuat seketul roti bagi dirinya. Makanan itu hanya cukup meleraikan rasa laparnya selama satu atau dua jam. Tetapi ia perlu memberi. Ia perlu memberikan roti pertamanya kepada nabi Elia. Sesudah itu, Tuhan menopang hidupnya dan hidup anaknya selama tiga setengah tahun. Bila Tuhan tidak menghendaki Anda melakukan sesuatu, tak ada yang bisa dikatakan. Tetapi jika la telah memimpin Anda untuk memberi, Anda harus memberi. Namun, janganlah Anda takut terhadap pimpinan Tuhan.
Prinsip Tuhan adalah Anda harus memberi lebih dulu, baru kemudian Anda akan diberi. Prinsip kita adalah meminta Tuhan memberi lebih dulu, setelah kita memiliki kelebihan, kita baru memberi kepada orang lain.
Tuan Moule adalah seorang redaktur majalah rohani "Hayat dan Iman" di Inggris. Di hadapan Tuhan, ia memiliki banyak hal yang positif; salah satu di antaranya ialah ia sangat mengenal Alkitab. Ia adalah seorang yang hidupnya selalu bersandar kepada Tuhan; ia sering mengalami kekurangan dan sering mengalami ujian.
Pernah sekali, dalam rumahnya hampir tiada barang apa-apa lagi. Umumnya, orang Inggris paling mementingkan tepung gandum. Tetapi, barang inipun sudah habis. Setelah menunggu satu dua hari, tak ada satu barangpun yang dikirim orang. la lalu berkata kepada istrinya, "Ini pasti dikarenakan kita masih memiliki banyak barang." Lihatlah, tidak mohon Tuhan memberi tepung gandum, Sebaliknya ia berkata, "Ini pasti dikarenakan kita masih memiliki banyak barang, karena itu Tuhan tidak memberi." Mereka lalu berlutut dan berdoa, mohon Tuhan menunjukkan kepada mereka masih ada barang apa yang lebih di rumah. Setelah berdoa, mereka naik ke loteng, meneliti setiap barang, apakah ada yang terlalu banyak, sampai-sampai barang-barang anaknya pun diperiksa semua. Ternyata semuanya hanya sekadar cukup untuk dipakai. Mereka lalu memeriksa lagi. Sampai di lantai bawah tanah, di situ ternyata ada satu peti mentega pemberian orang beberapa hari yang lalu. Begitu melihat peti mentega itu, ia merasa sangat gembira, lalu berkata kepada istrinya, "Barang ini pasti berlebihan."
Suami istri tua ini memotong-motong mentega itu menjadi potongan-potongan kecil, membungkusnya dan kemudian mengirimkannya ke rumah saudara saudari.
Hari itu hari Sabtu. Di antara sekian banyak keluarga yang menerima kiriman menteganya, ada satu keluarga saudari yang sangat miskin lagi cacat. Sehari-hari ia hanya berbaring di atas ranjang. Beberapa hari ini ia hanya memakan roti tanpa mentega, karenanya ia berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, belaskasihanilah aku. Berilah aku sedikit mentega." Tak lama setelah ia berdoa demikian, tuan Moule datang dengan membawa sepotong mentega. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan atas kiriman itu. Sejenak kemudian, ia menengadah kepada Tuhan, dan berkata, "Walaupun saudara Moule tidak kekurangan apa-apa, dan ia telah memberiku sepotong mentega, tetapi jika ia ada kekurangan, mohon Tuhan menjawab doanya." Pada hari itu juga, tidak lebih dari dua atau tiga jam setelah itu, tuan Moule menerima dua karung gandum dan berakhirlah kesulitannya.
Masih banyak bagian lain dalam Alkitab yang membicarakan prinsip tentang "Berilah, dan kamu akan diberi." Sebuah ayat yang sangat dihargai orang-orang Kristen adalah Filipi 4:19. Ayat ini mengajarkan hal yang sama. Paulus berkata, "Allah-ku akan memenuhi segala keperluan-mu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus." Ayat ini benar-benar suatu janji yang sangat besar! Tetapi kita tak boleh melupakan syarat yang terdapat dalam ayat ini. Dari ayat 15 hingga 18 Paulus berbicara tentang bagaimana orang-orang Filipi memenuhi kebutuhannya. Kemudian dalam ayat 19, ia berkata, bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan mereka. Perhatikanlah, di sini tidak dikatakan Allahmu akan memenuhi segala keperluanmu, tetapi Allahku akan memenuhi segala keperluanmu. Allah Pauluslah, Allah dari orang yang menerima bantuan, yang akan memenuhi segala kebutuhan mereka, yaitu memenuhi setiap kebutuhan orang-orang yang telah menyuplai. Harus memberi lebih dulu, baru kemudian Allah memberi kepada Anda.
Persembahan Elia di gunung Karmel juga merupakan suatu contoh baik yang lain (Lihatlah I Raja-raja 18). Seorang saudari tua di dalam Tuhan berkata, "Jikalau Elia tidak menuangkan air, maka air dari langit tidak akan datang." Pada masa itu, kekeringan telah berlangsung selama tiga setengah tahun. Tidak ada air di seluruh penjuru negeri itu. Bahkan raja sendiri harus mencari rumput untuk ternaknya. Bisa dibayangkan, betapa seriusnya kekeringan pada masa itu. Betapa berharganya air! Mereka membutuhkan air. Tetapi ketika Elia mempersembahkan korban, ia menuangkan air berkali-kali, bahkan sampai dua belas buyung penuh, ke atas korban bakaran. Dikatakan dalam Alkitab, bahwa "air mengalir di sekeliling mezbah; dan ia juga memenuhi parit dengan air" (ayat 35). Segera sesudah itu, "Langit menjadi gelap, dipenuhi awan dan angin, lalu turunlah hujan lebat" (ayat 48). Jika tidak ada air yang dipersembahkan, tidak akan ada air yang turun! Saya teringat bahwa sekitar lima tahun yang lalu, saya mempunyai pengalaman yang seperti itu untuk pertama kalinya. Saya harus pergi ke suatu tempat untuk memimpin sidang. Biaya perjalanan sekitar 20 dollar. Saya hanya memiliki belasan dollar. Saya berdoa selama kurang lebih satu minggu untuk biaya perjalanan dan sidang itu. Semula, saya bermaksud berangkat pada hari Minggu malam. Pada hari Jumat, saya utarakan lagi soal biaya perjalanan itu kepada Allah. Dua hari lagi saya akan berangkat. Kelihatannya saya mendesak Tuhan, tetapi Ia berkata kepada saya, bahwa seorang sekerja saya sedang kekurangan, karenanya saya harus memberinya lima dollar. Hal itu sangat sulit saya lakukan. Bagaimana bisa memberi kepada orang lain, sedangkan saya tidak mempunyai cukup uang untuk diri saya sendiri? Tetapi perintah Tuhan tidak pernah memberi kesempatan untuk tawar-menawar. Akhirnya, saya memasukkan lima dollar ke dalam amplop dan mengirimkannya kepada sekerja saya. Meskipun lima dollar itu tidak banyak, namun pada waktu melakukannya, saya meneteskan air mata. Saya berpikir, tentu Tuhan akan mengurus kebutuhan perjalanan saya. Tetapi yang mengejutkan saya, pada hari Minggu malam tak ada uang yang datang secara khusus. Namun saya tahu, bahwa saya berjalan menurut kehendak Tuhan dan saya meninggalkan rumah dengan damai. Tahap pertama dari perjalanan saya adalah naik kapal uap sehari semalam. Selanjutnya saya perlu naik kapal lain dan bepergian selama satu minggu lagi. Ongkos perjalanan naik kapal uap adalah satu dollar, dan saya dapat membayarnya. Tetapi ongkos kapal lain itu tidak bisa bila kurang dari 20 dollar. Saat naik kapal uap, saya berdoa agar Tuhan mau menyediakan dana yang diperlukan. Ketika kapal uap telah mendekati dermaga, saya masih tidak memiliki uang. Pada saat itu, Roh Kudus mengajar saya bagaimana berdoa. Daripada berdoa untuk uang, sebaiknya saya berdoa untuk kapal yang sesuai. Sayapun berdoa demikian. Benar, ketika saya sampai di dermaga, saya mendapatkan sebuah kapal kecil, yang mau membawa saya ke tempat tujuan dengan tarif 7 dollar. Saya masih mempunyai sedikit sisa uang, lebih dari yang saya perlukan! Usai sidang, bagaimana dengan biaya perjalanan pulang saya? Tuhan mendengarkan doa saya; sehingga pada waktu saya tiba kembali di rumah, saya masih memiliki uang beberapa dollar. Setelah tiba di rumah, saya pergi menengok sekerja saya. Ia tidak ada di rumah, dan saya hanya bertemu dengan istrinya saja. la menanyai saya, mengapa sebelum berangkat saya memberi suaminya lima dollar. Saya berkata kepadanya, bahwa saya menuruti pimpinan Tuhan dan itu bukan atas prakarsa saya. Istri sekerja saya itu memberitahu saya, bahwa pada saat uang itu datang, mereka telah memakai uang mereka yang terakhir. Tuhan memakai lima dollar itu untuk menunjang mereka selama satu minggu, sebelum Tuhan memberi melalui orang yang lain untuk memuliakan namaNya. Lihatlah, jika saya melalaikan Tuhan pada hari itu, bukankah itu akan membuat Tuhan juga melalaikan hambaNya? Sebenarnya lima dollar itu tidaklah berguna bagi saya. Sesampainya di rumah, saya memuji Tuhan sambil mengucurkan air mata.
Tuhan sangatlah berhikmat. Ia tahu hal-hal apa yang akan merugikan kita. Perkara memberi dan menerima bukanlah transaksi niaga yang memerlukan modal. Bila kita tidak memberi, seolah-olah Allah telah terhalangi sehingga tidak bisa bekerja. Tuhan senang kalau kita percaya kepadaNya dengan sepenuh hati. Ia tidak ingin melihat kita menahan sesuatu, sehingga lebih bersandar kepada tabungan kita daripada diriNya. Tuhan juga senang melihat kita mengasihi anak-anakNya dan ciptaanNya. Ia tidak suka melihat kita menyimpan kekayaan kita untuk diri sendiri. Tuhan ingin bekerja sama dengan kita dalam memenuhi kebutuhan orang lain. Ia bisa saja langsung mengirimkan manna dari langit, tetapi Ia lebih senang membagikan sebagian dari kemuliaanNya kepada anakanakNya dan bekerja bersama mereka. Karena itu, Ia mau supaya kita memberi kepada orang lain.
Ada lagi soal ukuran. "Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Lukas 6:38). Kadar ketaatan kita terhadap ayat yang mengandung janji ini akan menjadi kadar berkat yang kita terima dari Tuhan. Diberkatilah mereka yang mau memberi dengan ukuran yang penuh kepada orang lain. Mereka akan melihat Tuhan sang sempurna itu, bekerja bagi mereka dengan ukuran yang juga penuh. "Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga" (II Korintus 9:6). Banyak orang menganggap perkataan ini berlaku pada masa yang akan datang; jika seseorang menabur dalam jaman ini, maka ia akan menuai pada masa yang akan datang. Walaupun anggapan demikian tidak salah, tetapi juga benar menabur pada jaman ini, akan menuai dalam jaman ini pula. Semua persembahan kita tidak akan terbuang percuma, itu adalah penaburan yang akan menghasilkan penuaian. Jika seseorang menabur, maka panen akan tiba setelah persediaan yang lama habis. Bila kita memberikan uang kita, Tuhan akan mengirim apa yang kita butuhkan pada saat yang tepat. Tuaian selalu lebih limpah daripada yang ditaburkan. Apa yang diberikan kepada kita akan selalu melebihi apa yang kita berikan. Seperti halnya pertanian di dunia ini: ada menanam (menabur) pasti ada menuai, pemberian kita juga menjanjikan hasil yang pasti.
Hanya orang-orang kaya di dunia ini, yang memberikan kepada orang lain dari kelebihannya. Tetapi Tuhan ingin kita memberi seperti halnya orang-orang yang kaya, meskipun tidak ada simpanan lebih sebagaimana orang kaya itu. Kita sangat bersukacita, sebab kita memberi lebih banyak daripada orang-orang kaya itu. Semakin kita memberi, Tuhan akan makin memberi kita; semakin Tuhan memberi kita, kita akan semakin sanggup memberi. Kekayaan kita tidak pernah hilang; kekayaan itu hanya berputar di luar. Tapi sungguh kasihan, banyak orang imani yang kaya, rumahnya mewah, tetapi tangan mereka tidak kaya, karena mereka tidak memberikan apapun kepada Tuhan. Semua uang kita yang tidur, uang kita yang malas, akan mendakwa kita pada takhta penghakiman. Tetapi, sekarang saya tidak berbicara kepada orang kaya, melainkan kepada saudara- saudara yang miskin: Kita harus memberi. Kita boleh meminta Tuhan, agar membuat kita lebih bermurah hati dalam memberi daripada orang yang kaya pada umumnya. Memberi adalah syarat. Kita harus memberi kepada Tuhan, baru Tuhan akan memberi kepada kita. Saya rasa, kita semua mengenal nama Colgate. Ia adalah pengusaha pabrik sabun, pasta gigi dan parfum yang sangat terkenal di dunia. Semasa mudanya, ketika ia hendak meninggalkan Inggris menuju Amerika, ia pergi kepada pendetanya dan meminta nasihat sebelum keberangkatannya. Pendeta itu menumpangkan tangan ke kepala Tuan Colgate dan berkata, "Jadikan Tuhan sebagai kepalamu dalam segala perkara, dan Ia akan memberkatimu." Sesampainya di Amerika, ia hanya mempunyai uang sepuluh dollar lebih sedikit. Dengan uang itu ia membuat beberapa sabun dan menjualnya. Meskipun ia miskin, ia mempersembahkan satu dollar kepada Tuhan dari setiap sepuluh dollar yang ia hasilkan. Tuhan meningkatkan produksinya. Kemudian ia mempersembahkan dua dollar dari setiap sepuluh dollar yang dihasilkannya. Akhirnya ia mempersembahkan lima dollar dari setiap sepuluh dollar yang dia hasilkan. Sampai saat ini, pasta giginya merupakan pasta gigi yang sangat terkenal di dunia. Dia memberi, karena itu Tuhan memberi kepadanya. Silakan Anda membuktikan kesungguhan janji Tuhan dalam ayat ini.
SUMBER IMAN
Iman mempunyai sumber. Sumber ini bukan di dalam orang-orang kudus, melainkan di dalam Allah. Jika sumber iman ini di dalam orang-orang kudus, maka iman itu akan rapuh; lalu siapa yang bisa memiliki iman? Banyak anak-anak Allah yang mengeluh dengan sedih, karena mereka tidak mempunyai iman yang besar. Jangankan iman yang besar, beberapa di antaranya bahkan iman yang kecil saja tidak memiliki! Kita sering mengakui, bahwa kita tidak mempunyai iman. Kita sangat ingin bisa memiliki iman yang lebih besar, sehingga kita bisa percaya dan bersandar kepadaNya, dan Ia bisa setiap hari memperlihatkan mujizatNya kepada kita. Kita sangat mengharapkan memiliki iman yang praktis, agar kita bisa menyerahkan segala sesuatunya dengan senang dan tenang ke dalam tangan Allah. "Jika kita bisa memiliki iman yang lebih besar, segalanya akan baik." Inilah perkataan pengharapan yang sering kita ucapkan. "Jika iman kita seperti iman si Anu, maka segalanya akan berjalan dengan baik." Inilah ungkapan pujian kita. Bukankah kita sering meminta Tuhan untuk menambah iman kita? Tetapi mengapa iman kita masih kurang? Apakah iman hanya dimiliki golongan orang kudus tertentu saja? Apakah benar-benar tak ada jalan bagi kita untuk memperoleh iman yang lebih besar? Di dalam Tuhan tentu ada jalan. Tetapi, hanya mereka yang menginginkannya yang bisa memperoleh.
Permintaan orang-orang kudus masa kini adalah ingin memperoleh iman yang lebih besar. Tetapi dari manakah iman yang lebih besar itu? Orang-orang kudus mengharapkan memiliki iman yang lebih besar di dalam diri mereka sendiri. Salahkah ini? Ya, kesalahan orang-orang kudus adalah: mereka menginginkan iman yang lebih besar di dalam diri mereka sendiri. Mereka mencari iman dari sumber yang salah. Tidaklah heran kalau mereka tidak pernah memperolehnya!
Kita semua bertanya kepada diri sendiri, "Adakah aku mempunyai iman?" "Bisakah aku percaya kepada Allah dalam persoalan ini?" "Cukupkah imanku?" Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu selalu, "Tidak" dan "Aku tidak dapat"! Betapa menyedihkan! Kita tidak seharusnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Kita bukanlah sumber iman, karena itu kita tidak bisa mengharapkan diri kita sendiri memiliki iman yang lebih besar. Semakin kita bertanya kepada diri sendiri, menyelidiki, mencari, dan melihat ke dalam diri sendiri, kita semakin merasa, bahwa kita tidak mempunyai iman, atau memiliki iman yang sangat kecil! Mengapa demikian? Sebab diri kita sendiri bukanlah sumber iman. Kita harus mempelajari suatu pelajaran: kita bukanlah sumber iman, karena itu kalau kita memeriksa diri kita sendiri, dengan sendirinya kita tidak akan bisa melihat atau merasakan bahwa kita mempunyai iman.
Firman Allah memberitahu kita tentang sumber iman yang sesungguhnya, "Iman......bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah" (Efesus 2:8). Ayat Alkitab ini sangat jelas; iman diberikan Allah kepada kita. Pernyataan yang sama kita temukan dalam Kisah Para Rasul 3:16, " . . . Kepercayaan (iman) yang Dia berikan telah . . . "(Tl). Demikianlah kita tahu, bahwa sumber iman ada di dalam Allah, bukan di dalam kita. Hal ini mungkin kelihatanya sangat lazim, biasa dan kita kenal. Namun tidak banyak orang yang benar-benar mengerti pentingnya sumber iman. Jika kita benar-benar memahami bahwa Allah adalah sumber iman kita, kita tidak akan pernah bertanya kepada diri sendiri, "Apakah imanku cukup? Apakah aku mempunyai iman?" Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan, bahwa kita masih tidak memahami, Allah adalah sumber iman kita. Jika kita mengerti, kita tidak akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.
Allah adalah Pemberi iman; karena itu Allah adalah sumber iman. Meskipun demikian, fakta Allah adalah sumber iman bukan hanya berarti Ia memberikan iman kepada kita. Arti Allah adalah sumber iman: orang-orang bisa memiliki iman atau meningkat dalam iman adalah melalui Allah. Dengan kata lain, orang-orang bisa memiliki iman atau imannya bertambah dikarenakan Allah memiliki suatu sifat yang dapat membuat manusia percaya kepadaNya.
Apakah arti pemyataan ini? Artinya, kita tidak perlu bertanya, "Apakah kita mempunyai iman?" Apakah iman kita cukup?" Semua itu bukan pertanyaan yang sangat penting. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan membawa kita kepada kegelapan dan keputusasaan. Kita seharusnya bertanya, "Apakah Allah bisa diandalkan?" "Apakah Allah setia?" "Apakah Allah patut dipercaya?" "Apakah Allah mengingkari janji-Nya?" "Apakah kuasa dan kasih Allah itu benar-benar nyata?" Karena kita selalu memperhatikan diri kita sendiri, maka makin kita menyelidiki, kita makin tidak bisa menemukan iman kita. Bila kita mencurahkan perhatian kepada Allah, kita akan menemukan bahwa iman datang secara spontan. Iman tidak berasal dari dalam diri kita sendiri. Tidaklah mengherankan jika iman tidak bisa ditemukan pada saat kita memeriksa diri kita sendiri! Iman berasal dari Allah. Semakin kita memandang Allah, melihat Allah, dan merenungkan Allah kita akan makin memiliki iman.
Sebuah ilustrasi akan membantu kita memahami perkara ini. Suatu ketika, beberapa saudara datang untuk berbincang-bincang dengan saya mengenai iman. Mereka merasa, iman mereka terlalu kecil. Tetapi saya berkata kepada mereka, bahwa bukan iman mereka yang terlalu kecil, melainkan Allah mereka. Jika mereka ingin memiliki iman yang lebih besar, mereka perlu memiliki Allah yang lebih besar. Pada hari itu, saya katakan kepada mereka, bahwa iman berarti penyerahan diri kita dan segala kita kepada orang lain. Percaya kepada Allah berarti menyerahkan diri kita dan segala kita kepada Allah, dan percaya kepadaNya untuk menyelesaikan hal-hal itu bagi kita. Saya bertanya, "Pada waktu Anda menyerahkan persoalan Anda kepada orang lain, apakah Anda bertanya, "Adakah aku memiliki iman untuk percaya kepada orang ini?" Apakah aku cukup beriman untuk percaya kepadanya?" Anda tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Sebaliknya Anda bertanya, "Dapatkah aku mempercayainya?" Anda tidak akan bertanya, "Apakah aku memiliki kepercayaan kepadanya?" Misalkan Anda pemilik sebuah toko, dan Anda memakai seorang manajer serta menyerahkan seluruh usaha Anda kepadanya. Pada saat Anda memakai dia, Anda tidak akan bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku memiliki kepercayaan kepadanya?" “Bukankah kepercayaan saya begitu kecil?" "Apakah saya harus meningkatkan kepercayaan saya terhadapnya?" Sebaliknya, Anda akan bertanya kepada diri sendiri, "Dapatkah saya mempercayai dia?" "Apakah dia jujur?" "Apakah dia setia?" "Apakah dia dapat diandalkan?" Jika ia jujur, dapat dipercaya dan dapat diandalkan, maka dengan spontan Anda dapat menyerahkan seluruh usaha Anda ke dalam tangannya. Anda tidak perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah Anda memiliki kepercayaan, atau apakah kepercayaan Anda besar atau cukup.
Demikian pula, seharusnya Anda mempercayai Allah. Anda tidak perlu bertanya, "Apakah aku memiliki iman? Apakah imanku besar dan cukup? Berapa banyak lagi imanku harus ditambah?" Yang perlu Anda tanyakan adalah, "Apakah Allah itu jujur? Apakah Allah setia? Apakah Allah dapat disandari? Apakah Allah menyesali janjiNya dan mengingkari firman-Nya?" Bila Allah jujur, setia, dapat disandari, dan jika Ia telah berjanji, Ia tidak akan menyesali, maka Anda tidak perlu menyelidiki dan memeriksa diri sendiri untuk melihat apakah Anda memiliki iman. Secara spontan Anda akan menyerahkan diri Anda dan segala Anda ke dalam tangan Allah. Inilah iman. Iman bukanlah sesuatu yang dihasilkan dari dalam diri kita. Iman adalah suatu kepercayaan yang timbul dari fakta, bahwa pihak lain itu jujur, teguh, dapat dipercaya, dapat diandalkan. Karena itu, kekurangan kita bukannya tidak ada iman yang lebih besar, melainkan Allah yang lebih besar!
Umumnya, kita tidak berani menyerahkan diri kita dan segala kita kepada Allah dengan dalih iman kita terlalu kecil. Sesungguhnya, alasan ketidakberanian kita menyerahkan diri kepada Allah bukan karena tidak adanya iman ataupun kecilnya iman kita, melainkan kita merasa Allah itu tidak dapat diandalkan! Jika Allah setia, mengapa kita tidak berserah kepadaNya? Jika Allah dapat dipercaya, mengapa kita tidak menaruh kepercayaan kita kepadaNya? Jika Allah dapat disandari, mengapa kita tidak bersandar kepadaNya? Jika Allah tidak akan mengingkari firmanNya, mengapa kita tidak bersandar kepadaNya sesuai dengan janjiNya? Kita kuatir, Allah kita tolol, tidak bisa disandari, tidak jujur, selalu mengingkari janjiNya, karena itu kita tidak mempunyai iman. Sekaranglah saatnya kita mengakui dosa-dosa kita! Kita tahu suatu bank itu jujur, dapat dipercaya. Karena itu kita mendepositokan uang kita ke bank tersebut. Yang kita tanyakan adalah: apakah bank itu dapat dipercaya. Kita tidak bertanya, apakah kita memiliki iman terhadap bank itu. Ketika seorang bayi berada dalam bahaya, asal ia dapat menyentuh tangan ayahnya atau wajah ibunya, maka ketakutannya segera hilang dan ia merasa tenang. Ia tidak akan mempercayai orang lain, karena baginya orang lain tidak bisa dipercaya. Ia mempercayai orang tuanya, karena mereka dapat dipercayai.
Iman itu alami! Iman datang secara spontan dan tanpa dipaksakan, karena kita menaruh kepercayaan kepada persona yang kita anggap dapat dipercaya.
Jadi, yang kita perlukan sekarang bukanlah iman yang lebih besar, melainkan kita perlu mengetahui kesetiaan dan dapat dipercayanya Allah. Jika kita menyadari, bahwa Allah adalah sumber iman, maka kita tidak akan mencari iman di dalam diri kita sendiri. Sebaliknya, kita akan mengarahkan mata kita kepada Allah dan menengadah kepadaNya agar mengenal Dia. Ketika kita menyadari bahwa Allah dapat disandari, iman kita akan tumbuh secara spontan. Bila kita tahu, bahwa Allah dapat dipercayai, kita pasti mempercayai Dia. Tetapi jika kita menganggap Allah tidak bisa dipercaya, kita tidak akan mempercayai Dia.
Iman kita memiliki suatu dasar, karena iman itu bersandar dengan penuh perhentian kepada Allah. Yang kita percayai bukanlah diri kita sendiri, melainkan Allah. Kita harus jelas membedakan: yang kita percayai bukanlah iman kita, melainkan Allah. Kesalahan kebanyakan kaum imani adalah mereka lebih mempercayai perasaan iman mereka daripada mempercayai Allah. Jika mereka merasa tidak memiliki iman, mereka tidak berani percaya kepada Allah, tidak berani menyerahkan perkara mereka ke dalam tangan Allah. Bila mereka merasa memiliki iman, mereka dengan berani mempercayakan segala mereka kepada Allah. Apakah ini? Ini bukan mempercayai Allah. Ini berarti mempercayai iman mereka sendiri! Kita tidak seharusnya menaruh banyak perhatian pada iman ini. Kita tidak seharusnya bertanya atau menyelidiki untuk mengetahui apakah kita memiliki iman, dan kita tidak seharusnya mempercayai Allah hanya bila kita memiliki iman. Kita harus bertanya, apakah Allah bisa disandari atau tidak. Jika "ya" tentu saja Allah dapat dipercaya -- mengapa kita tidak mempercayai Dia? Jika kita berkata, "Sekarang aku tidak takut, karena aku memiliki iman." Ini berarti kita mempercayai iman kita sendiri, dan bukan mempercayai Allah. Demikian pula, jika kita mengatakan, "Aku tidak bisa menyerahkan persoalan-persoalan ini kepada Allah, karena aku tidak memiliki iman." Demikian itu bukan berarti kita tidak percaya kepada Allah, melainkan kita meragukan iman kita sendiri. Kita tidak beriman, tidak berani mempercayai Allah, itu bukan karena Allah tidak bisa dipercaya. Problemnya bukan pada Allah, tetapi pada manusianya. Mungkin benar, bahwa Anda tidak mempunyai iman, tetapi apakah Allah tidak bisa dipercaya? Jika Allah dapat dipercaya, mengapa Anda tidak mempercayai Dia? Anda harus memperhatikan Allah saja, bukan diri Anda sendiri. Bila Allah bisa dipercaya, dengan sendirinya Anda akan mempercayaiNya, jika tidak, meskipun Anda mempunyai iman, hal itu tidaklah berguna. Jangan mempercayai iman Anda sendiri, iman Anda tidak bisa dipercaya. Sebaliknya, percayalah kepada Allah! "Karena aku tahu kepada siapa aku percaya", sebab itu, "aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku" (II Timotius 1:12).
Alkitab tidak hanya memberitahu kita, bahwa Allah adalah sumber iman kita, juga memberitahu, bahwa firman Allah pun adalah sumber iman kita. "Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Mengapa lebih dahulu mengatakan, bahwa Allah adalah sumber iman kita? Di sini kita melihat keajaiban dari firman Allah. Bagaimana kita mengenal Allah? Kita mengenal Dia melalui firmanNya. FirmanNya mewakili kehendak hatiNya. Setelah kita memahami firmanNya, kita akan tahu apa yang telah dijanjikanNya kepada kita, apa yang Dia kehendaki, dan apa yang tidak Dia kehendaki. Hanya melalui firman Allah - Alkitab - kita bisa mengetahui janji Allah. Bila kita mengetahui janjiNya, kita akan mempercayai Dia sesuai dengan janjiNya dan memohon kepadaNya melalui doa. Jika kita tidak memiliki firman Allah, kita tidak akan memiliki apapun. "Bagaimana mereka dapat berseru kepada Dia, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?" (Roma 10:14). Jika kita tidak memiliki janji Allah, tetapi secara sembarangan percaya kepada Dia, kita akan jatuh ke dalam sejenis takhyul. Iman harus mempunyai dasar. Percaya dengan sembarangan (ngawur) dan tanpa dasar adalah takhyul; tidak seorangpun akan memperoleh sesuatu dari iman semacam itu. Jika ayahku menjanjikan sesuatu kepadaku, maka aku percaya bahwa ia akan memberikan kepadaku; ini sangat mantap, karena imanku berdasarkan janji ayahku. Bila ayahku tidak menjanjikan apa-apa kepadaku, tetapi aku memaksa diriku untuk percaya bahwa ia akan memberi, maka aku bukannya percaya, melainkan bermimpi; karena aku percaya kepada sesuatu yang tidak berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan imajinasiku sendiri. Dari contoh ini, kita bisa melihat hubungan yang penting antara iman dengan janji.
Janji Allah hanya tertulis dalam firman Allah yaitu Alkitab. Untuk hendak mengetahui janji Allah, seseorang harus mengetahui firman Allah. Tanpa janji Allah, iman kita bukanlah iman yang sejati. Janji-janji itu ada dalam firman Allah. "Jadi iman timbul dari pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Telah kita katakan, bahwa kita percaya akan kesetiaan, keterpercayaan, dan dapat disandarinya Allah. Kita juga telah mengatakan, bahwa jika kita mengenal Allah, dengan spontan kita akan mempunyai iman. Tetapi ini berkaitan dengan janji-janji Allah, yaitu firmanNya. Jika Allah tidak menjanjikan apapun, bagaimana kita bisa mengetahui Ia setia? Ia harus menjanjikan sesuatu, barulah kita dapat berbicara tentang kesetiaanNya.
Apakah iman? Iman adalah berpegang pada apa yang telah difirmankan Allah, dan mendoakannya agar janji Allah terwujud. Iman adalah percaya, bahwa Allah akan melakukan sesuai dengan apa yang telah dikatakanNya. Iman adalah percaya, bahwa Allah itu setia dan pasti melaksanakan apa yang telah difirmankanNya. Apakah iman itu besar atau kecil tidaklah penting. Yang penting adalah: jika Allah telah menjanjikan sesuatu, mungkinkah Ia berdusta dan berubah? Satu-satunya pertanyaan yang harus kita ajukan adalah, apakah kita percaya, bahwa Allah itu jujur. Itu tidak ada hubungannya dengan iman kita yang besar atau kecil.
Kita tahu Allah mengasihi kita. Karena itu, kita tidak ragu-ragu bahwa Ia adalah untuk kita. Alkitab menunjukkan kepada kita sedikitnya ada dua aspek yang berkenaan dengan janj iNya: "Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah la janjikan" (Roma 4:21). Allah berkuasa, dan dengan kuasa-Nya Ia menepati janjiNya. Allah kita bukanlah Allah yang lemah tak berdaya, yang tidak bisa melakukan apa yang telah dijanjikanNya. Seandainya demikian, apa gunanya Ia berjanji? Semua janjiNya akan merupakan kata-kata kosong. Tetapi Allah tidak hanya sangat berkuasa dalam menjadikan sesuatu. Dia juga berkuasa dalam melaksanakan janjiNya. Apapun yang telah dijanjikanNya, Ia sanggup menepati. "Ia sanggup" -- pernyataan inilah yang dikatakan Alkitab kepada kita tentang pribadiNya. "Karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri" (Roma 14:4). "Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu " (II Korintus 9:8). "Dia berkuasa memeliharakan…" (IITimotius1:12). Abraham menyerahkan Ishak, karena ia tahu bahwa "Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati . . . "(Ibrani 11:19).
Allah tidak hanya sanggup melaksanakan apa yang telah la janjikan, Ia juga dengan sungguh-sungguh menepatinya. Sekalipun seseorang mampu melaksanakannya, tetapi kalau ia tidak menepati perkataannya, janjinya akan sia-sia. Allah tidak hanya sanggup, Ia pun dengan sungguh-sungguh menepati janji-janjiNya. "Sebab Ia, yang menjanjikannya, setia" (Ibrani 10:23). "Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya" (II Tim. 2:13). Allah mau agar semua janjiNya, setiap perkataan dan setiap kalimat, dipenuhi dalam anak-anakNya. Apapun yang difirmankanNya, akan Dia tepati. Apapun yang telah Dia janjikan, akan Dia dipenuhi. Kalau tidak, ke-AllahanNya akan terancam. Karena Ia tidak bisa menyangkal diriNya; Ia harus tetap dapat dipercaya, apapun keadaannya. Jika janjiNya merupakan perkataan yang kosong, kita tentu tidak dapat mempercayakan segala sesuatu dan diri kita kepada Allah. Bagaimana kita masih bisa ragu-ragu, atas apa yang telah Ia janjikan, sedangkan Ia setia dan tidak akan mengingkari perkataanNya?
Karena itu, saudara-saudara, sekarang marilah kita belajar pelajaran ini. Diri Anda bukanlah dasar dari iman. Jangan Anda tanyakan pada diri Anda, "Apakah aku mempunyai iman? Apakah imanku cukup?" Tak ada gunanya mengajukan pertanyaan tersebut. Semakin Anda bertanya, makin berkurang iman Anda. Bertanyalah kepada Allah. Apakah janji Allah mengenai persoalan ini? Pernahkah kasihNya terhadap Anda berubah? Akankah Ia mengingkari janjiNya? Sanggupkah Ia melaksanakan janjiNya? Dapatkah la dipercaya? Dapatkah Ia disandari? Bila Anda lebih mempertimbangkan Allah, Anda tidak akan membuat iman sendiri. Iman akan timbul dengan spontan. Ingatlah, diri Anda tidak bisa dipercaya, iman Anda juga tidak bisa dipercaya. Hanya Allah yang bisa dipercaya.
ORANG BENAR YANG GAGAL
Dalam berita ini, kita akan membahas satu kisah dengan judul: “Orang Benar yang Gagal”. Artinya, orang ini gagal, tetapi dia juga orang yang benar. Ada orang benar yang menang, ada orang benar yang gagal. Kita harus menjadi orang benar yang menang dengan menerima peringatan dari peristiwa orang benar yang gagal ini. Siapakah orang benar yang gagal ini? Kita akan melihat dari ayat-ayat Alkitab yang kita baca ini.
Dua Petrus 2:6-8 mengatakan, “Allah menghukum Kota Sodom dan Gomora, dan memusnahkannya dengan api dan menjadikannya peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian, tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tidak mengenal hukum dan hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja — sebab orang benar ini tinggal di tengahtengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa.” Jiwa Lot adalah jiwa yang benar. Orangnya adalah orang yang benar. Melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan dan perkaraperkara yang tidak benar, hari demi hari jiwanya merasa tersiksa. Kalau dia orang yang demikian, mengapa disebut orang benar yang gagal?
Kita harus mengetahui siapakah Lot? Lot bukanlah seorang yang ternama dan luar biasa. Lot bisa terkenal karena mempunyai seorang paman yang terkenal, yaitu Abraham. Pamannya adalah orang yang terkenal, karena itu ia juga ikut terkenal. Mari kita melihat Kitab Kejadian untuk melihat orang macam apakah Lot itu.
PERMULAAN LOT
Kejadian 11:31 mengatakan, “Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, istri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke Tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana.” Kalau kita membaca lagi Kisah Para Rasul 7, kita akan mengetahui, ketika Abraham di Mesopotamia, sebelum ia tinggal di Haran, Allah sudah menampakkan diri kepadanya. Allah memanggil dia untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya, pergi ke negeri yang akan di-tunjukkan-Nya kepadanya. Lalu Abraham meninggalkan Ur-Kasdim menuju ke Kanaan. Namun ketika ia meninggalkan Ur-Kasdim, ayahnya juga ikut. Bukan hanya ayahnya yang mengikuti dia, keponakannya, Lot, juga mengikuti dia. Boleh dikatakan, Lot seperti seorang anak atau adik kecil dalam satu keluarga yang beriman. Karena pamannya berkata bahwa Ur-Kasdim adalah tempat yang moralnya tidak benar, yang dihukum Allah, dan mereka harus pergi ke Kanaan, karena Allah telah memanggil mereka meninggalkan Ur, lalu Lot mengikuti pamannya, meninggalkan Ur-Kasdim, pergi ke Kanaan.
Menurut catatan ahli sejarah, semula rumah Abraham adalah satu rumah pembuat berhala; mungkin ayah Abraham mencari nafkah dengan pekerjaan itu. Yosua 24 mengatakan bahwa Abraham dibawa keluar dari rumah penyembah berhala. Karena Lot mendengar pamannya berkata bahwa dia ingin memisahkan diri dari dunia, dan tidak mau menempuh hidup dengan sembarangan, dia pun mengikuti pamannya dan meninggalkan Ur-Kasdim.
Saudara saudari, hari ini mungkin bukan Anda yang terlebih dulu mendengar panggilan Allah. Mungkin kakek Anda, ayah Anda, ibu Anda, istri Anda, atau paman Anda telah mendengarkan panggilan Allah, lalu membawa Anda keluar. Lot sendiri tidak mendengar panggilan Allah. Pamannyalah yang mendapat dan mendengar panggilan Allah. Itulah sebabnya dia mengikuti pamannya pergi. Mungkin ayah Anda percaya lebih dulu, mungkin kakak Anda percaya lebih dulu, mungkin kakak perempuan Anda percaya lebih dulu,atau mungkin istri Anda percaya lebih dulu, kemudian Anda ikut percaya. Anda seperti Lot! Kalau dalam keluarga Anda sudah ada yang percaya Tuhan, dan Anda tidak mengikuti, Anda salah. Kalau Anda ikut, itu baik sekali. Ada orang mengikuti ibunya atau ayahnya percaya Tuhan, itu baik. Tetapi sayang, banyak orang yang dirinya sendiri tidak mengenal Allah. Kakek Anda percaya, paman Anda percaya, tetapi Anda sendiri tidak mengenal Allah. Ini adalah satu perkara yang patut disayangkan.
Lot itu baik! Dia bukan hanya mengikuti pamannya, dia sendiri adalah orang yang benar. Abraham seperti orang beriman yang senior dan Lot adalah orang beriman yang junior. Sebagai sanak saudara, juga sebagai teman seperjalanan, mereka seharusnya baik sekali. Permulaan mereka berdua sungguh baik, tetapi dikemudian hari mereka berpisah. Mengapa mereka berpisah? Mari kita lihat ayat Alkitab selanjutnya.
PILIHAN LOT
Kejadian 13:5-6 mengatakan, “Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.” Bersama-sama menderita itu mudah, tetapi bersama-sama makmur dan bahagia itu cukup sulit. Dua orang bersama-sama keluar dari Ur-Kasdim, bersama-sama pergi ke Kanaan, itu sungguh baik. Allah memberkati mereka, sehingga harta benda mereka bertambah banyak. Mereka makin kaya, tetapi kesulitan pun timbul. Tempat itu tidak cukup luas bagi mereka berdua untuk tinggal bersama. Kalau Anda ada tempat tinggal, maka saya tidak ada. Kalau saya yang bertempat tinggal, Anda tidak bertempat tinggal. Lembu dan domba Anda ada rumput, lembu dan domba saya tidak ada rumput; begitu juga sebaliknya. Anda mungkin tidak bicara, saya juga tidak bicara, tetapi hamba-hamba kita angkat suara.
Kejadian 13:7 mengatakan, “Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot.” Anak buah mereka mulai berkelahi. Yang satu berkata, “Dombaku, lembuku harus makan rumput di sini.” Yang lain juga berkata, “Dombaku, lembuku juga harus makan rumput yang di sini.” Mereka tidak bisa tinggal bersama-sama, karena hartanya terlalu banyak. Hari ini, banyak sekali orang yang bisa bersamasama meninggalkan Ur-Kasdim, tetapi setelah sampai di Kanaan, timbul masalah.
Di sini, saya juga akan menyinggung beberapa tempat yang oleh Alkitab dipakai untuk melambangkandunia. Ur-Kasdim melambangkan kekacauan dunia. Sodom dan Gomora melambangkan kenikmatan dunia. Mesir melambangkan dunia di bawah kuasa Iblis. Ketiga tempat ini semua melambangkan dunia. Tetapi masing-masing mempunyai ciri-ciri yang khusus.
Lot meninggalkan Ur-Kasdim yang kacau balau, tetapi setelah sampai di Kanaan, ada sesuatu yang tidak rela ia lepaskan. Orang Kristen juga demikian. Setelah percaya Tuhan, mereka mungkin tidak rela meletakkan ketenaran dalam kerohanian; tidak rela kehilangan kedudukan dalam pekerjaan. Dulu, di dunia mereka berebut reputasi, kini di gereja mereka berebut mendapatkan kedudukan. Dulu dalam profesi membuat berhala, mereka berebut keuntungan, kini di gereja mereka juga berebut keuntungan.
Kejadian 13:8-9 mengatakan, “Maka berkatalah Abram kepada Lot: ‘Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.’” Salah satu sebab kejatuhan orang Kristen adalah tidak bisa tinggal bersama orang Kristen yang lain. Begitu Anda merasa tidak bisa tinggal bersama orang Kristen yang lain, begitu Anda tidak bisa berhubungan dengan orang Kristen yang lain, begitu Anda berkata, bahwa orang yang percaya Tuhan masih tidak sebaik keluarga Anda, begitu Anda takut melihat orang Kristen lainnya, semua itu membuktikan bahwa kerohanian Anda ada penyakitnya. Begitu Anda tidak bisa berhubungan secara baik dengan orang Kristen lainnya, saat itu juga Anda gagal.
Semua kesalahan ada di pihak Lot. Abraham adalah kepala keluarga, Lot adalah anak muda. Lot mendapat harta juga karena pamannya. Ia seharusnya tidak membiarkan para hambanya berkelahi dengan para hamba Abraham. Abraham sendiri tidak mau bertengkar, Abraham adalah pemenang. Lot seharusnya berkata, “Lembu dombaku boleh mati kelaparan, tetapi aku tidak boleh meninggalkan pamanku. Hanya sekeluarga ini yang percaya Allah di Kanaan, bagaimana aku bisa meninggalkannya?” Tetapi Lot tidak berpikiran demikian. Ia merasa lembu domba mendapatkan makanan lebih penting daripada dia mendapatkan makanan. Lebih baik kehilangan persekutuan dengan paman daripada kehilangan lembu domba. Lebih baik kerohaniannya tidak terbina daripada kehilangan harta benda. Lebih baik kehilangan pamannya, Abraham, daripada kehilangan seekor ternaknya. “Karena hari ini paman sudah menyuruhku memilih, maka aku akan memilih yang terbaik.” Demikianlah Lot menentukan pilihannya.
Kejadian 13:10 mengatakan, “Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti Tanah Mesir, sampai ke Zoar. — Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora.” Lihatlah, benda yang pertama masuk adalah harta. Orang muda yang baru percaya Tuhan sangat berani. Paman pergi, aku juga ikut pergi. Sejangka waktu kemudian, setelah mengecap rasa dunia, sepertinya iman kepada Tuhan boleh disingkirkan, persekutuan dengan orang Kristen lain boleh diabaikan. Lot “melayangkan pandangan dan melihat bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya.” Dia tidak peduli, lembu domba Abraham ada rumput untuk dimakan atau tidak, dia hanya mempedulikan lembu dombanya sendiri.
Saudara saudari, saya tidak ingin bertanya kepada Anda, sudah berapa lama Anda percaya Tuhan; saya hanya memberi tahu Anda bahwa hari ini Allah telah membentangkan dua jalan di depan Anda. Hari ini Allah menaruh dunia di depan Anda, Allah juga menaruh Tanah Kanaan di depan Anda. Allah hendak melihat bagaimana Anda memilih!
Lot melihat Lembah Yordan banyak airnya sampai ke Zoar, seperti taman TUHAN, juga seperti Tanah Mesir. Oh, di satu pihak seperti taman TUHAN, di pihak lain seperti Mesir, inilah dunia! Sodom dan Gomora mewakili kenikmatan dosa dunia. Orang dunia mencari kesenangan di dalam dosa.
Kejadian 13:11 mengatakan, “Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.” Di dunia ini ada berkat, ada kemuliaan, juga ada kenikmatan. Demikianlah Lot memilih lembah Yordan. Mungkin dia berpikir, “Tempat ini seperti taman TUHAN!” Saya pernah bertanya kepada seorang saudara yang berbuat dosa, bagaimana perasaannya. Dia menjawab, seperti merasakan kesenangan surga. Ketika baru percaya Tuhan, dia tidak bisa melakukan ini, tidak bisa melakukan itu. Namun begitu dia melakukan sedikit dosa, dia merasa bahwa berdosa ada kenikmatannya. Dalam pandangan Lot, Sodom dan Gomora seperti taman TUHAN. Apa yang diperlihatkan dunia ini kepada kita, bisa jadi sedikit seperti surga.
Tetapi Sodom dan Gomora juga seperti Mesir. Di satu pihak, hati nurani orang Kristen membuat orang itu mempunyai satu daya pembeda. Seperti taman TUHAN, tetapi juga seperti Mesir. Ada kenikmatan, tetapi juga ada penderitaan. Ketika orang Israel di Mesir menjadi budak, mereka dianiaya oleh orang Mesir, disesah oleh orang Mesir; tidak diberi jerami, tetapi masih dituntut membuat batu bata. Karena itu, orang Israel ingin keluar dari Mesir. Ketika Anda mengasihidunia, mungkin ada sedikit kesenangan, ada sedikit kebahagiaan, Anda merasa bahwa dunia ini mirip taman TUHAN, tetapi hati nurani Anda juga membuat Anda merasa tidak tenteram. Banyak orang Kristen ketika berbuat dosa, di satu pihak merasa senang tetapi di pihak lain mereka merasakan hati nuraninya tidak damai. Di satu pihak ada kesenangan taman TUHAN, di pihak lain ada penganiayaan Mesir.
Saudara saudari muda, hari ini apa yang Anda sukai? Dunia? Kesenangan? Allah tidak memaksa Anda menempuh satu jalan tertentu, Allah menyerahkan pilihan sepenuhnya kepada Anda sendiri. Anda menjadi Abraham yang memilih Tanah Kanaan, atau menjadi Lot yang memilih dunia? Lot tidak memilih tinggal di dalam kota, dia memilih tinggal di luar kota. Seluruh Lembah Yordan memang menyenangkan, tetapi juga pahit. Hari demi hari, di mana Anda menempuh hidup?
Geografi Kanaan adalah demikian: di sebelah timur adalah sungai Efrat. (Ini adalah sungai Efrat yang diseberangi Abraham dari Ur-Kasdim ke Kanaan). Di sebelah barat ada Sungai Yordan. Kanaan terletak di antara kedua sungai itu. Apa yang dikatakan Alkitab setelah Lot memilih seluruh Lembah Yordan? “Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur” (13:11). “Berangkat ke sebelah timur” adalah bergerak ke arah Sodom. Ini merupakan kejatuhan. Karena dia memilih demikian, maka perlahan-lahan dia bergerak ke sebelah timur. Tidak ada orang yang berbuat dosa, yang berhasil dalam satu hari. Tidak ada orang yang jatuh, yang langsung jatuh dalam satu hari. Semuanya terjadi karena hari ini kehilangan sedikit, besok kehilangan sedikit lagi; sejangka waktu kemudian, jatuhlah ia ke dalam dosa. Kalau Anda memilih lembah, Anda mudah menggembalakan ternak dan mencari air, Anda tidak perlu naik turun gunung, Anda dapat hidup enak. Kalau Anda ingin kenyamanan, tidak ingin kerja keras, kemah Anda perlahan-lahan akan bergeser ke timur. Kalau Anda menyukai kesenangan dunia yang penuh dosa, akhirnya kaki Anda akan berjalan ke dunia. Kalau Anda tidak menahan langkah pertama Anda, Anda tidak akan mampu menahan langkah kedua. Karena hati Anda condong kepada dunia, maka Anda tidak dapat menahan kaki Anda agar tidak berjalan menuju dunia. Karena mata Anda terarah ke dunia, maka Anda tidak dapat menahan kaki Anda dari melangkah ke dunia. Kalau Anda sudah memilih dunia, Anda tidak akan mampu menahan kaki Anda dari berjalan ke dunia.
Kejadian 13:12 mengatakan, “Abram menetap di Tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.” Saudara saudari, saya tidak tahu bagaimana pilihan Anda hari ini. Abraham merelakan tanah yang subur dan indah kepada Lot. Dia sendiri menetap di Tanah Kanaan, tanah yang ditunjukkan Allah kepadanya dalam panggilan-Nya, tanah yang diberkati Allah, dan tanah yang memungkinkannya menerima pembinaan rohani. Bagaimana dengan Lot? Dia menetap di kota-kota Lembah Yordan, tempat pilihannya sendiri. Apakah kita seperti Abraham, yang tinggal di Kanaan, tanah yang ditunjukkan Allah kepadanya dalam panggilan-Nya? Atau, kita seperti Lot, yang tinggal di kota-kota Lembah Yordan, yang dipilihnya sendiri?
Kejadian 13:12 mengatakan, “Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.” Boleh jadi Lot berpikir, “Aku adalah orang benar. Kalau aku memilih Sodom, aku tentu akan jatuh dan menjadi murtad. Namun, tidak mengapa kalau memilih tempat di luar kota Sodom. Ini hanya dekat dengan Sodom, bukan di dalam Sodom. Kalau di dalam Sodom tentu tidak baik, tetapi tidak mengapa tinggal dekat Sodom.” Oh, mungkin kita mengira memilih dunia itu tidak baik, tetapi mungkin masih boleh memilih sesuatu atau satu tempat di perbatasan dunia. Banyak orang Kristen adalah orang Kristen di perbatasan. Dunia mengatakan, “Anda tidak seperti salah satu dari kami.” Kanaan juga berkata, “Anda tidak seperti salah satu dari kami.” Memang, Anda hanya tinggal dekat dunia, tetapi Anda juga tidak tinggal di Kanaan. Anda di pihak yang mana?
Suatu kali, saya tinggal di sebuah desa, dan saya bertanya kepada seorang tentara, mengapa sebagian tentara mudah sekali berubah haluan. Dia berkata, sebab seragam mereka abu-abu. Abu-abu adalah campuran warna hitam dengan warna putih, bukan hitam juga bukan putih. Banyak orang Kristen yang seperti itu. Mereka nampaknya tidak berada di pihak sini juga tidak berada di pihak sana. Kelihatannya mereka ada di taman TUHAN, tetapi saat yang bersamaan mereka juga ada di Mesir. Mereka tidak rela berserah kepada Allah di pihak sini, juga tidak mau melepas dunia di pihak sana.
Saudara saudari, hari ini Anda ada di pihak yang mana? Apakah Anda orang Kristen abu-abu, yang bukan hitam atau putih? Bila Anda mendekati orang dunia, apakah mereka menganggap Anda manusia abad kedua belas yang kuno, yang sangat berbeda dengan orang lain di dunia? Sungguh menyedihkan, ada orang menganggap orang Kristen seharusnya jauh berbeda dengan orang lain, tetapi ternyata orang Kristen serupa dengan mereka! Ini adalah pernyataan yang paling buruk yang dapat dilontarkan oleh orang luar terhadap orang Kristen! Banyak orang tidak mau berdiri mengatakan, “Aku adalah milik Kristus.” Mereka merasa, asalsudah menjadi orang Kristen, mengakui atau tidak mengakui itu tidaklah penting. Mereka tidak bisa melepas taman TUHAN, tetapi mereka juga menginginkan Mesir. Mereka pergi ke balai sidang pada hari Minggu pagi, membaca Alkitab selama lima menit sehari, lalu mengira mereka adalah orang Kristen. Namun, mereka tidak memiliki persekutuan kristiani yang sejati. Mereka tidak dapat sungguh-sungguh melepas ternak mereka. Saudara saudari, kita harus memohon Allah melepaskan kita dari jalan yang demikian. Kalau tidak, kita akan menghadapi bahaya.
Mungkin Anda mengira tidaklah mengapa asal Anda tidak masuk ke Sodom, asal Anda tidak murtad, asal Anda tidak mengatakan bahwa Anda tidak percaya Tuhan Yesus. Tetapi, kemah Anda perlahan-lahan bergerak, dan akan bergerak terus ke arah Sodom. Kalau Anda sudah mengayunkan langkah pertama, tidak terhindari lagi, Anda akan mengayunkan langkah kedua. Kalau Anda sudah memilih mengarah ke Sodom, akhirnya Anda akan masuk ke dalam Kota Sodom. Kalau Anda sudah memilih kesenangan duniawi, kesudahannya tentu dalam dosa dan kejahatan. Kalau Anda sudah memilih harta benda, Anda tentu akan tercemar. Anda harus berkata, “Ya Allah, ke arah manakah kakiku melangkah?” Dulu, Anda di luar kota-kota Lembah Yordan, tetapi kemah Anda dapat bergerak perlahan-lahan. Saya tidak tahu, apakah kaki Anda sudah bergerak atau belum. Saya tidak tahu, Anda sudah masuk ke dalam Kota Sodom atau belum. Mungkin jejak yang Anda tinggalkan di belakang akan menunjukkan bahwa kaki Anda sudah bergerak. Mula-mula, Anda dapat memilih meninggalkan orang Kristen lain karena Anda menghargai ternak Anda, tetapi di kemudian, pasti jejak Anda bergerak makin jauh. Syukur kepada Allah, hari ini masih banyak orang Kristen yang kemahnya ada di Kanaan. Semoga kita nampak, kita harus menolak dosa dunia seperti halnya kesenangan dunia.
Kejadian 13:13 mengatakan, “Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan.” Apakah Lot tidak tahu keadaan Sodom? Lot tahu. Orang-orang Sodom sangat jahat dan berdosa di hadapan Tuhan. Tetapi Lot masih tetap selangkah demi selangkah bergerak ke dalam Kota Sodom. Bila kaki Anda bergerak menjauhi orang Kristen yang lain, kemah Anda juga akan bergerak ke arah Sodom. Sehingga apa yang dibenci Allah, tidak akan Anda benci; apa yang dihakimi Allah, tidak akan Anda hakimi Perlahan-lahan, kaki Anda akan bergerak ke timur. Ada pepatah yang mengatakan, “Tidak takut perlahan, hanya takut berdiri teguh.” Berdiri teguh sangat ditakuti oleh Iblis. Tetapi perlahan-lahan sangat mudah memberi kesempatan kepada Iblis. Demikianlah caranya pencobaan-pencobaan masuk. Hari ini kita sedikit melanggar hati nurani, besok kita melanggar sedikit lagi; hari ini kita mengurangi sedikit pembacaan Alkitab kita, besok kita akan mengurangi lebih banyak lagi; hari ini kita mengurangi waktu doa kita beberapa menit, besok kurang lagi beberapa menit; hari ini kita sedikit kurang dalam hal bersaksi bagi Tuhan, besok kita lebih jarang bersaksi. Justru karena hari demi hari terus berkurang sedikit, akhirnya kita akan mundur. Iblis tidak dalam sekejap membuat kita berhenti bersidang, berhenti membaca Alkitab, berhenti berdoa atau bersaksi. Dia membuat kita mundur perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, saat demi saat. Ia dengan sabar menarik kita mundur.
PERINGATAN ALLAH
Kemah Lot perlahan-lahan beralih ke Sodom. Bahaya apa yang ditemukan di sana? Kejadian 14:9-12 mengatakan bahwa empat raja berperang melawan lima raja. “Di lembah Sidim itu di mana-mana ada sumur aspal. Ketika raja Sodom dan raja Gomora melarikan diri, jatuhlah mereka ke dalamnya, dan orang-orang yang masih tinggal hidup melarikan diri ke pegunungan. Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi — sebab Lot itu diam di Sodom” (ayat 10-12). Dua kelompok pasukan berperang, lima raja dikalahkan oleh empat raja. Lot dan harta bendanya dirampas. Lot ditawan karena ia tinggal di Sodom. Di depan, kita melihat Lot masih tinggal di luar kota. Sekarang dia tinggal di dalam kota. Anda seperti orang Kristen, sekarang Anda telah menjadi warga negara Sodom. Sedikit lebih banyak berdosa, Anda sedikit lebih dekat dengan Sodom. Lewat beberapa waktu kemudian, Anda merasa desa tidak sebaik kota; beberapa waktu lagi, Anda merasa tinggal di lembah tidak sebaik tinggal di kota.
Ketika Lot tinggal di Sodom, Allah bukan tidak memberi peringatan kepadanya. Pada saat lima raja dikalahkan oleh empat raja, Lot juga ditawan. Inilah peringatan Allah terhadap Lot; Sodom bukan tempat yang patut ia tinggali. Hari ini saya berterus terang kepada Anda, juga memberi tahu Anda, kalau ada orang sakit, kalau ada orang yang gagal dalam bisnis, kalau ada orang dalam rumah tangganya ada kesulitan, mungkin hal itu adalah satu peringatan dari Allah. Kekalahan lima raja oleh empat raja, adalah peringatan Allah terhadap Lot, agar tidak tinggal di Sodom. Kemah Lot perlahan-lahan beralih ke Sodom. Akhirnya Lot masuk menjadi warga negara Sodom. Hari ini Lot pindah sedikit, besok sedikit lagi, setiap hari pindah sedikit, sekali demi sekali pindah sedikit, akhirnyamasuk ke dalam kota. Sebab itu Allah memberi peringatan kepada Lot. Hari ini kita bagaimana? Mungkin ada orang yang istrinya meninggal, mungkin ada orang yang suaminya meninggal, mungkin ada orang yang anak kesayangannya meninggal, mungkin ada orang yang gagal dalam bisnis, ketahuilah dalam hal-hal itu mungkin ada peringatan Allah. Kalau Anda orang Kristen, namun Anda sehari lewat sehari mendekati dunia, Allah akan mengingatkan Anda. Anda akan tidak memiliki damai sejahtera. Allah memberi peringatan kepada Anda, supaya Anda cepat-cepat berpaling.
Sayang, banyak orang Kristen tidak memiliki perasaan, tidak bisa merasa sakit. Meskipun mengetahui dirinya sakit, mengetahui usahanya gagal, juga mengetahui keluarganya ada kesulitan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa semuanya itu adalah cambuk Allah. Karena itu, mereka tidak mau berpaling. Kalau mereka tidak berpaling, akan ada urusan yang lebih besar. Ada seorang saudara, ia tidak jatuh, tetapi perlahan-lahan menjadi tawar. Saudara lain pada suatu hari menganjuri dia, “Janganlah terus demikian.” Dia menjawab, “Tidak mengapa. Saudara A asalnya gairah, lama kelamaan tawar. Pada umur 60 tahun, ketika anak sulungnya yang baru lulus dari perguruan tinggi tiba-tiba meninggal, saudara itu bergairah kembali.” Saudara itu berkata, “Allah pasti berdasarkan yang kaukehendaki, menggenapkan maksudmu.” Dia segera berkata, “Aku tidak mau demikian.” Saudara saudari, kalau Anda adalah orang milik Allah, begitu kaki Anda berjalan menuju dunia yang berdosa, Allah pasti mendisiplin Anda. Kalau Anda sakit, kalau keluarga Anda menghadapi urusan, usaha Anda gagal, seharusnya Anda bertanya kepada Allah. Kalau Allah berkata, “Semua ini menimpamu karena kamu telah meninggalkan Tuhan.” Anda harus segera berpaling. Sering kali kalau kasih Allah tidak dapat menarik kita, Allah akan dengan cambuk menghukum kita. Kalau firman Allah tidak bisa menggerakkan kita, Allah akan mendesak Anda dengan kesulitan. Kalau Anda milik Tuhan, begitu Anda berdosa, begitu Anda mundur, Allah pasti akan menghajar Anda, mendisiplin Anda. Dia tidak akan membiarkan Anda demikian. (Untunglah, ketika Lot tertawan, pamannya menyelamatkan dia).
Pertama-tama Lot tinggal di luar Kota Sodom, hanya dekat Kota Sodom. Ada orang mungkin masih seperti orang Kristen, masih belum masuk Kota Sodom, hanya sampai batas kota, batasannya masih sangat jelas. Tetapi akhirnya, dia tinggal di dalam kota. Ada satu cerita: Ada seorang anak kecil. Ibunya memberinya enam buah permen untuk dimakan esok harinya. Anak ini menaruh permen di hadapannya, tidak berani memakannya. Tidak dimakan, terasa sayang! Lalu apa yang ia perbuat? Ia menaruh setiap permen di bibirnya, dan menjilatnya. Sekali demi sekali, dengan lidahnya ia menjilati permen itu. Memang permen itu masih tetap bulat, tetapi lama-lama semakin kecil. Kemudian, ia memakan permen itu satu, makan dua, sisa empat, makan tiga, sisa tiga, akhirnya semua ditelan. Banyak orang Kristen juga demikian dalam hal berbuat dosa. Mengingkari hati nurani sedikit, mengabaikan lagi sedikit, akhirnya pergi mencari kesenangan di dunia. Saudara saudari, ketahuilah, setelah sekali berbuat dosa, bukannya tidak bisa berbuat dosa lagi, melainkan setelah berbuat sekali, timbullah satu ketagihan, dan Anda akan berbuat dosa lagi. Setiap kali berbuat dosa, ada dua akibat: pertama, memberi Anda kesenangan dalam dosa; kedua, menimbulkan satu ketagihan di dalam Anda, supaya Anda berbuat dosa untuk yang kedua kali dan seterusnya. Lot lama-lama masuk ke dalam kota; bisakah Anda tidak masuk ke dalam kota? Kita mengira, kita hanya berbuat dosa sekian banyak, tidak akan masuk ke dalam kota. Ketahuilah, tidak mungkin demikian. Kalau Anda di luar Kota Sodom, Anda akan masuk ke dalam Kota Sodom. Kalau mau, jangan berbuat dosa; kalau Anda berbuat dosa, Anda tidak akan mampu dan tidak akan ada kekuatan menguasai diri untuk hanya berbuat sekian banyak dan tidak berbuat lebih banyak lagi.
KESUDAHAN LOT
Kejadian 19:1 mengatakan, “Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom.” Pada masa itu, di negara-negara timur ada kebiasaan yang berbeda dengan pengadilan pada hari ini. Negara-negara itu mengadili segala kejadian di tengah masyarakat di depan pintu gerbang kota. Hakim mereka dipilih dari antara orang-orang yang bersyarat, dan mereka bertugas sebagai tua-tua. Sebagai hakim, mereka duduk di depan pintu gerbang, mengadili perkara-perkara yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kini Lot duduk di depan pintu gerbang. Lot sudah naik pangkat. Ia bukan hanya rakyat biasa atau rakyat jelata di Sodom, ia telah menjadi hakim. Kedudukan Lot di dunia makin tinggi dan maju, jalan berbuat dosa makin lama akan makin cepat. Lot pertama-tama hanya mendekati Sodom. Akhirnya, ia tinggal di Sodom, bahkan menjadi hakim di Sodom.
Apa akibatnya? Istrinya mati di tengah jalan, anak perempuannya melakukan perzinaan, dan calon menantunya terbakar api dari langit.
Surat 2 Petrus mengatakan, Lot adalah orang benar (2:7), tetapi ia lupa bahwa ia sudah jatuh ke dalam Sodom. Ia mencucurkan air mata bagi mereka yang jahat, tetapi untuk dirinya sendiri, ia lupa mencucurkan air matanya. Ada orang bisa mencucurkan airmata untuk orang Kristen yang lain, tetapi lupa mencucurkan air mata untuk dirinya sendiri. Melihat dosadosa besar orang Sodom, Lot ingin membantu mereka. Tetapi ia tidak sadar, kalau ia tidak mampu. Banyak orang Kristen juga demikian. Mereka sendiri jatuh, tetapi masih menganjuri orang lain agar percaya Tuhan Yesus.
Allah akan memusnahkan Sodom, tetapi Allah mendengarkan doa Abraham, lalu dua malaikat diutus untuk menolong Lot. Kejadian 19:12-14 mengatakan, “Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: ‘Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya.’ Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: ‘Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.’ Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.” Ini menunjukkan bahwa Lot tidak ada kesaksian di depan menantunya. Menantunya mengira dia hanya berolok-olok kepada mereka: orang mungkin percaya kalau berkata, “Ada kebakaran.” Tetapi tidak ada yang akan percaya, kalau mengatakan, “Ada api yang akan turun dari langit.” Kalau mengatakan, “Api dari tangki bensin membakar seseorang,” mungkin orang masih bisa percaya; Tetapi tidak ada yang percaya bila Anda mengatakan, “Api belerang membakar orang.”
Kejadian 19:16 mengatakan, “Ketika ia berlambatlambat . . .” Perkataan ini memberikan gambaran yang jelas. Seolah-olah Lot ingin berkata kepada lembu dombanya, “Ya lembuku, karena kamu, aku berpisah dengan Abraham; karena kamu, aku memilih Lembah Yordan. Ya dombaku, kamu sudah berada di tempatku lima tahun, apakah hari ini aku harus meninggalkanmu?” Melihat perabot rumahnya, melihat barang-barang kesayangannya, melihat lembu dombanya, melihat gudangnya, mungkin ia berpikir, “Aku kira, aku bisa tinggal di Sodom selamanya. Aku akan membuat gudang yang lebih besar, untuk menyimpan segala makanan dan hartaku. Kemudian aku akan berkata kepada jiwaku, Ya jiwaku, makanlah, minumlah, dan bersenangsenanglah. Apakah hari ini aku secara demikian meninggalkan ini semua? Apakah aku hari ini harus pergi begitu saja? Aku tidak bisa kehilangan begitu banyak barang yang berharga ini!”
Kejadian 19:16-17 mengatakan, “Maka tangannya, tangan istri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: ‘Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.’” Inilah pesan bagi mereka setelah malaikat membawa mereka keluar kota. Hari ini Anda di dunia, mungkin uang Anda tidak terlalu banyak, tetapi mungkin Anda seperti Lot, tidak rela meninggalkan dunia. Ada seorang nenek tua yang hanya mempunyai 15 dolar. Setiap hari ia menghitung uangnya satu dolar demi satu dolar. Mungkin kita menertawakan nenek itu, karena menganggap ia mata duitan. Tetapi orang yang mempunyai surat-surat berharga sebrankas, ketika dia meneliti surat-surat berharga itu, dan menganggapnya mustika, Allah di surga akan menertawakan dia seperti kita menertawakan nenek tua itu (Mzm. 59:9). Dalam pandangan kita, 15 dolar tidak terhitung apa-apa; dalam pandangan Allah, surat-surat berharga satu brankas penuh, juga tidak terhitung apa-apa.
Tuhan Yesus segera datang. Pemusnahan Sodom adalah satu lambang pemusnahan yang akan terjadi atas dunia ini. Kalau segala pengharapan Anda, baik yang besar maupun yang kecil, Anda tanamkan di dunia ini, pada suatu hari, api dari surga akan memusnahkannya. Pada suatu hari, Allah akan memusnahkan semuanya. Bila hari itu tiba, ingin melarikan diri pun tidak akan sempat, tidak akan ada jalan meloloskan diri. Dengan tegas ingin saya katakan, “Apa yang tidak rela Anda lepaskan hari ini, harus dilepaskan pada hari itu. Pada saat pengangkatan, Allah hanya mengangkat orang, bukan mengangkat barang. Allah hanya menyelamatkan orang, bukan menyelamatkan barang.” Sebab itu, hari ini kita harus rela melepaskan barang-barang yang sepatutnya dilepaskan.
Kejadian 19:26 mengatakan, “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.” Istri Lot meneruskan keinginan suaminya — ia menoleh ke belakang. Walaupun tidak ada lagi barang yang dapat dilihat, menoleh sebentar ke arah api yang menyala tidaklah baik. Apa yang hendak dilihatnya, menunjukkan apa yang tidak rela dilepaskan hatinya. Perbuatannya menoleh ke belakang menyatakan banyak hal dan menyiratkan banyak perasaan dalam batin. Begitu menoleh, dia menjadi tiang garam, dan menjadi peringatan yang serius bagi kita, bahkan sampai hari ini! Tuhan berkata, “Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakanmereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan . . . Ingatlah akan istri Lot!” (Luk. 17:29-30, 32). Ketika Tuhan datang lagi, dunia juga akan dihakimi, dan semua barang di bumi akan dibakar musnah. Orang yang mengasihi dunia akan tertinggal di bumi, sama seperti istri Lot yang menjadi tiang garam, tertinggal di bumi.
Saudara saudari, saya khawatir, kita terlalu memperhatikan perkara yang sia-sia dan lupa memperhatikan perkara yang kekal. Mungkin kita terlalu sibuk dengan kegiatan sosial, terlalu sibuk mendidik anak, terlalu sibuk dalam bisnis. Memang, mendidik anak, melakukan bisnis, semua itu sudah sepatutnya. Tetapi hal-hal yang kekal juga perlu diperhatikan. Saudara saudari, khususnya yang masih muda, jalan Anda masih panjang. Kalau Tuhan berlambatan, marilah kita memilih jalan yang seharusnya kita tempuh. Semoga kita hari ini memperhatikan apa yang berharga, apa yang berasal dari Allah, apa yang bertahan sampai kekal. Semoga kemuliaan kita bukan pada hari ini, agar kita belajar mendekati Allah, dan agar kita baik-baik menempuh jalan yang di depan.
W.N.
BAGAIMANA MEMBAGIKAN TRAKTAT
PENTINGNYA MEMBAGIKAN TRAKTAT
Dalam berita ini kita akan membahas masalah membagikan traktat. Terlebih dulu kita harus mengetahui pentingnya membagikan traktat. Selama dua atau tiga ratus tahun yang lalu, Allah sangat memakai traktat untuk menyelamatkan manusia. Baik traktat itu dibagikan melalui pos atau dibagikan secara langsung, traktat sungguh-sungguh memberikan hasil. Banyak orang telah diselamatkan melalui traktat. Semoga membagikan traktat bisa menjadi praktek yang umum di dalam gereja pada hari ini. Kita juga harus menyiapkan traktat-traktat yang efektif. Kita perlu memberi tahu orang-orang yang baru beroleh selamat, supaya perkara membagikan traktat ini boleh menjadi satu pelajaran yang dilaksanakan oleh setiap orang dalam generasi selanjutnya di dalam gereja.
KEUNTUNGAN MEMBAGIKAN TRAKTAT
Allah sangat memakai traktat untuk menyelamatkan manusia, karena ada aspek-aspek yang khusus mengenai membagikan traktat. Kita dapat menyebutkan keuntungankeuntungan sebagai berikut:
1. Traktat Tidak Dibatasi oleh Perkataan Manusia
Keuntungan pertama dari membagikan traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh perkataan manusia. Banyak orang tidak dapat berbicara dengan baik, tidak bisa berbicara dengan lancar, atau tidak mempunyai karunia. Ada lagi yang lain, pembawaannya memang tidak suka banyak bicara. Namun, baik seseorang itu tidak pandai berbicara atau tidak suka berbicara, begitu ia beroleh selamat, ia harus membuka mulut untuk bersaksi bagi Tuhan. Dia tidak seharusnya berdiam diri dengan alasan tidak pandai bicara. Pada saat yang sama, gereja harus mendorong kaum beriman, memberikan banyak kesempatan kepada mereka untuk berbicara. Mereka harus belajar berbicara bagi Tuhan. Orang-orang yang tidak berpetah lidah pun harus berbicara bagi Tuhan.
Akan tetapi, ada orang benar-benar berada dalam keadaan yang sulit untuk berbicara; kalau bukan tidak jelas terhadap kebenaran, mungkin kurang dalam pengalaman. Terhadap beberapa orang dosa, Anda harus memberi tahu mereka tentang kesia-siaan dunia; terhadap yang lain, harus memberi tahu mereka tentang betapa dosa adalah perkara yang sangat membencikan, dosa membuat manusia kehilangan damai sejahtera, betapa kuatnya dosa itu; terhadap lainnya lagi, harus memberi tahu mereka tentang pertobatan. Banyak orang beriman, begitu menghadapi keadaan ini, mereka tidak tahu harus berkata apa. Dalam keadaan demikian, mereka boleh memberikan traktat. Ketika seseorang menemukan bahwa dirinya sulit membuka mulut untuk mengabarkan Injil, traktat menjadilah satu sarana yang sangat penting.
Orang yang membagikan traktat, terlebih dulu harus mengetahui tentang orang yang akan diberi traktat. Misalnya, si penerima adalah famili atau temannya, tentu ia tahu akan keperluan sasarannya dan dapat memilih traktat yang tepat untuk diberikan kepada mereka. Ditambah lagi dengan kesaksiannya sendiri, maka Injil dapat diberitakan dengan jelas. Seseorang yang memberitakan Injil sangat mudah terpengaruh dan terbatasi oleh diri pribadinya. Tetapi jika traktat memberitakan Injil, tidak akan terpengaruh oleh pribadi seseorang. Bahkan, sering kali traktat berbicara lebih jelas dan tepat daripada pembicaraan manusia. Inilah keuntungan pertama dari membagikan traktat, bisa menutupi atau memenuhi kekurangan seseorang.
2. Traktat Tidak Dibatasi oleh Umur dan Status Manusia
Keuntungan kedua dari traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh umur dan status manusia. Satu prinsip dasar dalam memimpin orang kepada Kristus ialah orang yang bagaimana memimpin orang yang bagaimana. Tidaklah tepat kalau Anda meminta seorang anak kecil memimpin seorang tua, atau meminta seorang pekerja kasar memimpin seorang dokter. Untuk memimpin orang tua, perlu mengutus orang tua; untuk memimpin orang muda, perlu mengutus orang muda; untuk memimpin seorang perawat, perlu mengutus seorang perawat. Secara umum, kita harus bekerja di dalam status sosial, jenis kelamin, dan umur yang sama. Sebagai contoh, adalah lebih baik dan lebih tepat bagi para saudari untuk memberitakan Injil kepada para wanita. Memang, kadang kala ada perkecualiannya. Bagi saya sebagai seorang lakilaki, cukup sulit untuk memberitakan Injil kepada seorang perempuan muda yang saya temui secara perorangan. Tidaklah mudah bagi seorang saudari muda untuk membuka mulut bersaksi kepada seorang tua. Tentu, kalau bisa banyak berdoa, mendapatkan kekuatan, seseorang bisa saja melampaui rintangan-rintangan ini. Tetapi secara umum, sangatlah sulit untuk menginjil kepada orang dengan status atau latar belakang yang berbeda. Saat demikian, traktat menjadilah sarana yang sangat baik. Di lain pihak, ketika Anda mengunjungi seseorang, Anda harus telah mendoakannya dengan tekun, dengan sopan memberikan traktat kepadanya dan bersaksi kepadanya. Atau mungkin Anda adalah orang yang baru percaya; Anda tidak tahu harus bagaimana berbicara, juga tidak bisa berbicara. Anda hanya perlu memberinya sebuah traktat. Namun ini tidak berarti Anda membiarkan traktat mengerjakan segala sesuatu, melainkan traktat itu hanya menutupi kekurangan Anda; Anda masih harus membuka mulut Anda untuk bersaksi. Ketika ada “pemisah” antara penginjil dan pendengar dalam tingkatan, umur, atau jenis kelamin sehingga tidak mudah membuka mulut memberitakan Injil, sangatlah baik kalau memakai traktat Injil untuk menutupi kekurangan tersebut.
3. Traktat Tidak Dibatasi oleh Emosi dan Suasana Hati Manusia
Keuntungan ketiga dari traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh emosi dan suasana hati manusia. Di dalam sidang penginjilan yang besar dan formal, seorang penginjil dapat berdiri di mimbar dan berbicara dengan serius mengenai dosa, penghakiman, dan berbagai topik lainnya. Namun ketika menginjil secara perorangan, akan timbul pembatasan atas masalah sopan santun, mimik wajah, dan faktor manusiawi lainnya. Akibatnya, banyak perkataan keras dan tegas tidak dapat diutarakan dengan terus terang. Keadaan ini cukup menyulitkan. Jika terlalu menekankan masalah kedosaan atau penghakiman, membicarakannya terlalu terus terang, mungkin bisa kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan orang itu lagi. Jadi, untuk mengatakan perkataan yang berat dan terus terang dalam penginjilan secara perorangan, ada keterbatasan dan kesulitannya. Namun, jika pada saat demikian kita bisa memberikan traktat yang berbunyi, “Kita semua adalah orang berdosa, berdosa di hadapan Allah; kita semua perlu Yesus!” Hal ini lebih mudah diterima oleh teman Injil. Meskipun mungkin ada banyak perkataan yang saat itu tidak dapat Anda katakan kepada teman Injil Anda, tetapi Anda bisa berdoa untuk orang itu. Anda boleh bertanya, “Apakah kamu merasa bahwa kita semua berdosa?” Ini tentu tidak menyakitkan hatinya. Kita tidak ingin menyakitkan hati orang lain ketika menginjil, tetapi kita tetap harus berbicara secara tepat dan terus terang. Karena itu, begitu kita menghadapi suasana yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan atas status, tingkatan, gengsi, atau faktor manusiawi lainnya, berikanlah traktat kepadanya dan berdoalah baginya. Keuntungan traktat ialah tidak ada faktor emosi manusia, tidak terpengaruh oleh suasana hati manusia; traktat hanya mengatakan kebenaran kepada manusia.
4. Traktat Dapat Menghindari Perdebatan
Keuntungan keempat dari traktat ialah traktat dapat menghindari perdebatan. Ketika kita memberitakan Injil kepada seseorang, sering jatuh ke dalam suatu suasana, yaitu perdebatan dan adu argumen. Kadang-kadang kita bertemu dengan orang yang suka berdebat. Orang itu tidak ada hati terhadap Injil; dia hanya ingin menguji kita. Ketika kita bersaksi kepadanya, dia akan mendebat kita. Pada saat demikian, kita tidak boleh berdebat dengannya. Sebaliknya, kita harus dengan hati tenang, tanpa emosi, dengan tulus memberinya selembar traktat. Berbuat demikian sangat baik untuk mengatasi situasi. Karena orang yang suka berdebat tidak dapat berbuat apa-apa terhadap traktat yang diam dan obyektif. Adakalanya, kita bertemu dengan seorang famili kita. Dia tahu bahwa kita orang Kristen, lalu dia mencoba untuk berdebat dengan kita. Pada saat demikian, kita tidak seharusnya berkata banyak kepadanya. Kita hanya dengan sopan memberikan selembar traktat kepadanya. Tidak peduli bagaimana seseorang senang berdebat, ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap traktat. Karena itu, jalan yang paling baik menghadapi orang yang sedemikian adalah memberinya traktat. Hari berikutnya, jika bertemu dengannya, kita boleh bertanya, “Sudahkah kamu membaca traktat yang kuberikan itu? Maukah traktat yang lain?” Berbuat demikian akan menghindari perdebatan yang terbuka. Sudah tentu, di balik itu kita juga harus banyak berdoa untuk orang itu.
5. Traktat Tidak Dibatasi oleh Waktu dan Orang
Keuntungan kelima dari traktat ialah traktat tidak dibatasi oleh waktu dan orang. Traktat menyelamatkan orang tanpa pembatasan waktu. Seseorang pergi memberitakan Injil, ia akan terbatas oleh waktu dan ruang, juga terbatas oleh manusianya sendiri. Boleh dikatakan tidak mungkin seseorang berada di tempat yang sama dua puluh empat jam sehari, tetapi traktat tidak dibatasi oleh faktor ini. Tidak hanya demikian, sulitlah bagi kita untuk bersaksi kepada orang yang sama sekali tidak kita kenal, tetapi traktat dapat bersaksi kapan saja, di mana saja, kepada setiap orang. Baik kita kenal atau tidak, traktat dapat bersaksi kepada orang. Traktat tidak dibatasi oleh jenis orang yang menerima traktat. Seseorang dapat membaca traktat kapan saja ia mau. Jika kita memberi seseorang selembar traktat, traktat itu dapat pergi ke mana saja orang itu pergi; traktat itu dapat bersaksi kepada dia di mana saja dan kapan saja. Ini yang membuat traktat begitu praktis.
6. Traktat Dapat Ditabur di Mana pun
Keuntungan keenam dari traktat ialah traktat dapat ditabur di mana pun. Dalam Pengkotbah 11:1 dan 6, Salomo berkata, “Lemparkanlah rotimu ke air . . . Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari.” Sekalipun menabur secara acak (sepertinya sembarangan), juga baik, karena kita tidak tahu benih mana dari yang kita tabur itu akan berhasil baik. Rasul Paulus berkata, “Orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6). Untuk menabur secara besar-besaran, tidak ada cara yang lebih baik daripada membagikan traktat. Setiap orang dapat menabur dengan traktat di setiap tempat. Jika hari ini kita ingin memberitakan Injil kepada 3, 5, atau 10 orang, kita harus menghabiskan banyak waktu. Tetapi membagikan traktat, sampai 1.000 atau 2.000 lembar sehari, tidak ada masalah. Beberapa saudara telah membagikan lebih dari seribu traktat sehari selama lebih dari tiga tahun. Inilah penaburan secara besarbesaran. Tidak ada satu metode pun bisa semudah membagikan traktat bila ingin menaburkan benih Injil secara besarbesaran; tidak ada cara lain yang lebih praktis. Banyak orang yang dipakai Allah senang membagikan traktat; bahkan waktu berpergian pun mereka tidak memboroskan waktu mereka, menggunakan kesempatan untuk membagikan traktat di banyak tempat. Dalam satu hari, jika ada satu orang diselamatkan melalui traktat yang kita sebarkan, itu berarti kita sudah mengerjakan pekerjaan yang besar. Karena itu, orang-orang yang baru percaya harus belajar menyebarkan traktat secara besar-besaran. Jika kita tidak dengan baikbaik memakai traktat, ini adalah perkara yang sangat disayangkan.
7. Traktat Bisa Membuat Semua Orang Beriman Berfungsi
Keuntungan ketujuh dari traktat ialah traktat bisa membuat semua orang beriman berfungsi. Allah telah memberikan rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, serta gembalagembala dan pengajar-pengajar kepada gereja. Kita tahu, meskipun tidak setiap orang dapat menjadi rasul, namun setiap orang dapat memberitakan Injil. Keadaan gereja yang normal adalah setiap orang memberitakan Injil, setiap orang berfungsi. Mungkin ada orang yang berkata: Aku tidak mempunyai petah lidah, aku tidak mempunyai karunia, aku tidak bisa menyanyi, aku tidak bisa memberitakan Injil. Tetapi, syukur kepada Tuhan, setiap orang di antara kita tentunya dapat berkata, “Aku bisa membagikan traktat.” Tidak ada perbedaan di antara para pembagi traktat; orang yang menerima traktat tidak memperhatikan dari mana dia menerima traktat itu. Dalam memberitakan Injil dan bersaksi, orang bisa berkata bahwa siapa yang lebih berkarunia dan lebih memiliki kekuatan, ia akan lebih banyak menyelamatkan orang; siapa yang tidak memiliki karunia dan kekuatan, akan lebih sedikit menyelamatkan orang. Tidak demikian dengan membagikan traktat. Baik Anda berkarunia atau tidak, memiliki kekuatan atau tidak, anak-anak atau orang dewasa, orang berpendidikan atau tidak terpelajar, Anda dapat membagikan traktat. Jadi, ruang lingkup ini sangat besar, siapa pun dapat melakukannya; asal ia adalah orang beriman, cukuplah.
Seorang saudara angkatan kerja dapat menyisihkan sejumlah uang untuk mencetak traktat-traktat, membagikannya kepada saudara atau saudari, kemudian bersama mereka membagikan traktat-traktat itu. Pekerjaannya ini berbeda dengan pekerjaan di mimbar. Pekerjaan di mimbar hanya terbatas pada beberapa saudara atau saudari, tetapi membagikan traktat tidak terbatas oleh perbedaan ini. Setiap orang dapat mengerjakannya. Kita harus membatu para penyebar traktat untuk menyadari bahwa mereka sedang berbagian dalam pelayanan terhadap Allah, bahkan pekerjaan mereka itu merupakan berkat yang besar bagi gereja. Dengan demikian hati mereka akan ditarik ke dalam gereja, dan akan berbeban bagi jiwa manusia. Tidak ada pekerjaan yang dapat bersifat umum seperti membagikan traktat.
CONTOH-CONTOH MENYELAMATKAN ORANG MELALUI TRAKTAT
DAN DISELAMATKAN MELALUI TRAKTAT
Allah sungguh-sungguh menggunakan traktat untuk menyelamatkan orang. Banyak orang diselamatkan melalui membaca traktat, kita dapat menemukan banyak kesaksian demikian, dan banyak di antaranya yang sangat ajaib. Saya tahu, ada orang yang menyebarkan traktat dari rumah ke rumah dengan menyelipkannya di pintu-pintu rumah. Ada yang meletakkannya di kotak surat. Ada yang memberikan traktat kepada para pejalan kaki di jalan-jalan. Seorang pejalan kaki begitu menerima traktat segera merobek dan membuangnya. Namun, orang lain mengambil sobekan kertas itu; bagian sobekan itu membicarakan tentang melarikan diri dari murka yang akan datang. Dia tidak mengerti apa yang dia baca, tetapi dalam hatinya terasa tidak nyaman. Di kemudian hari, dia menemukan jalan untuk percaya kepada Tuhan dan beroleh selamat. Saya masih ingat, ada seorang, di perjalanan menerima selebaran traktat Injil, ia membuangnya. Kemudian ada orang lain berjalan melewati tempat itu; ia tidak leluasa berjalan, ternyata dalam sepatunya ada paku kecil yang tersembul yang membuat kakinya terasa sakit. Ia memungut secarik kertas (ternyata lembaran traktat itu) dan menutupi bagian dalam sepatunya yang ada pakunya itu. Setiba di rumah, ia membetulkan sepatunya dan membaca lembaran kertas itu. Ia tergerak dan kemudian beroleh selamat. Inilah yang dimaksud dengan “melemparkan roti ke air”, pada waktunya ia akan berbuah. Pengalaman keselamatan melalui traktat semacam ini sangat banyak juga mengherankan.
Abad yang lalu, di Inggris ada seorang penginjil. Dia hanya mempunyai sebuah paru-paru, tetapi dia sangat kuat dalam memberitakan Injil, dan banyak orang diselamatkan melalui dia. Dia mengabarkan Injil selama 37 tahun. Berbicara di tempat terbuka kepada 3.000 atau 4.000 orang merupakan hal yang biasa baginya. Dia menyiapkan lebih dari seratus macam traktat yang berbeda untuk digunakan di berbagai desa dan kota di Inggris. Ada traktat untuk orang-orang kota, ada traktat untuk orang-orang pedesaan; ada juga yang untuk diberikan di atas kereta api atau kapal-kapal penyeberangan. Hasil tuaian dari traktat-traktat itu sangat besar. Traktat untuk kereta api saja berjumlah 20 macam lebih. Misalnya, sebuah traktat berjudul: “Anda Mempunyai Tiket Kereta Api, tetapi Apakah Anda Mempunyai Traktat?” Traktat ini digunakan di atas kereta api. Satu kali, kembali ia naik kereta api. Ketika kereta api mulai berangkat, kondektur kereta api mengingatkan kepada para penumpang, “Apakah Anda memiliki tiket? Jika tidak memiliki tiket, tidak boleh naik.” Penginjil penyebar traktat ini mengiringi kondektur itu dan berkata, “Apakah Anda memiliki traktat? Jika tidak memiliki traktat, tidak boleh naik.” Hasilnya, pada hari itu, ada tujuh orang percaya kepada Tuhan beroleh selamat. Dia sendiri mencetak traktat-traktat itu, dia sendiri membagikan traktattraktat itu, dan dia sendiri memberitakan Injil dengan traktattraktat itu.
George Cutting, pengarang buku “Safety, Certainty, and Enjoyment” sangat jelas tentang anugerah keselamatan. Buku kecilnya saat itu menempati urutan kedua dalam peredaran buku di dunia setelah Alkitab. Pada masa mudanya, dia juga adalah seorang penyebar traktat. Tuhan memakai dia untuk menulis banyak traktat. Dia berkeliling seluruh Inggris dan selalu berusaha menyelamatkan orang. Kita harus menceritakan kisah-kisah ini kepada orang-orang yang baru beroleh selamat, mendorong mereka untuk mengerjakan hal yang sama.
Orang yang lain lagi, penulis buku “Christian Rest” adalah orang yang beroleh selamat karena empat orang yang secara berurutan membagikan traktat Injil. Artinya, orang pertama memberikan traktat kepada orang kedua, orang kedua beroleh selamat; orang kedua memberikan traktat kepada orang ketiga, orang ketiga beroleh selamat; orang ketiga kembali memberikan traktat kepada orang keempat, orang keempat beroleh selamat. Hasilnya, keempat orang ini dipakai Tuhan secara besar-besaran di Inggris. Mereka adalah orang-orang yang beroleh selamat melalui orang lain yang memberikan traktat, seorang kepada yang lain, akhirnya menghasilkan empat orang yang sangat dipakai Tuhan. Contoh-contoh di atas menunjukkan kepada kita betapa besarnya hasil dari traktat.
BAGAIMANA MEMBAGIKAN TRAKTAT
Setelah kita tahu pentingnya membagikan traktat, marilah kita melihat perihal bagaimana membagikan traktat.
1. Membagikan secara Umum
Cara yang paling sering dipakai dalam membagikan traktat adalah membagikan secara umum, ini adalah untuk menabur secara umum. Dalam membagikan secara umum, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, traktat itu harus kuat di hadapan Allah, harus mempunyai kata-kata yang “berkail”. Traktat yang efektif dalam menyelamatkan jiwa boleh dipakai terus; traktat yang tidak efektif jangan dipakai lagi. Traktat-traktat yang efektif perlu dicetak ulang. Selain itu, ketika membagikan traktat di jalanan, tidak boleh melanggar hukum setempat. Kedua, sebelum membagikan traktat, harus berdoa mohon Allah memberkati, supaya setiap lembar traktat membawa berkat anugerah menyelamatkan orang. Ketiga, ketika keluar membagikan traktat, harus memperhatikan masalah pakaian dan ekspresi. Pakaian harus rapi, jangan melampaui status, jangan berpakaian terlalu modern atau terlalu sederhana, pakaian harus sesuai. Selain itu, harus memegang sopan santun. Jika kita menghubungi orang kalangan kelas menengah, harus berpakaian seperti orang kelas menengah. Keempat, ketika membagikan traktat, harus bersikap sungguh-sungguh, hormat; tidak seharusnya bersikap santai, ringan, meremehkan; jangan berlaku seperti penjaja jalanan, juga jangan bersikap kasar. Dalam membagikan traktat, pegang sejumlah traktat dalam tangan kiri Anda, menyapa atau menganggukkan kepala kepada orang yang dituju, dan kemudian presentasikan kepada mereka. Jika mereka menerimanya, berikan lagi anggukan kepala.
Jika orang menolak traktat, janganlah kita marah-marah. Jika dia membuangnya, kita boleh memungutnya kembali. Jika dia berpaling dan mencaci maki kita, janganlah berdebat dengannya. Kita dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut: 1) membiarkan dia pergi; 2) dengan sopan mempersilakan dia meneruskan perjalanannya; 3) mencoba meyakinkan dia dengan beberapa kata lagi; atau 4) memungut traktat itu dan berdoa untuk traktat.
Jika mungkin, gereja harus sering berdoa untuk pekerjaan membagikan traktat, harus berdoa mohon Tuhan memberikan lebih banyak buah. Agar mendapatkan banyak buah, harus bertekun dalam doa. Kita harus berdoa untuk beberapa hal: 1) mohon Allah memberkati orang yang menerima traktat; 2) mohon Allah tidak membiarkan traktak itu dirusak; 3) mohon Allah membuat traktat itu berfungsi secara berkesinambungan; 4) mohon Allah menyelamatkan setiap orang yang tangannya menjamah traktat itu; dan 5) mohon Allah memperpanjang hari-hari traktat itu.
2. Membagikan secara Khusus
Cara kedua dalam membagikan traktat ialah secara khusus. Cara yang umum tidak sistematis, dibagikan kapan dan di mana saja. Pembagian secara khusus adalah pembagian secara terbatas, secara terencana, membagikan menurut kelompok, dari rumah ke rumah di jalan atau wilayah tertentu. Untuk cara pembagian ini, pertama kita harus membagi diri kita ke dalam beberapa tim, boleh dua saudara atau dua saudari dalam satu tim; meminta tiap tim khusus membagikan traktat di jalan atau wilayah tertentu, tiap rumah satu traktat. Harus berdoa untuk traktat-traktat itu, mencari kata-kata pembuka apa yang harus diucapkan kepada orang yang dijumpai, juga perlu mencari tahu berapa lama baru mengunjungi wilayah itu lagi. Orang-orang yang membagikan traktat harus menentukan untuk keluar dua hari, atau tiga hari, atau empat hari sekali; sedikitnya harus keluar seminggu satu kali. Pada hari yang telah ditentukan, harus menyiapkan berbagai judul traktat dan membagikannya kepada orang sesuai dengan kebutuhannya. Dan yang terakhir, tetap harus berdoa memohon berkat.
Sewaktu membagikannya, ada beberapa teknik. Pertama, terlebih dulu menemukan nama dari setiap keluarga yang dimaksud dari buku telepon. Kemudian menuliskan nama-nama keluarga pada amplop-amplop itu dan membagikannya beserta traktat Injil di dalamnya. Kedua, mengirimkannya secara langsung. Ketiga, menulis nama dan alamat dengan jelas dan mengirimkannya melalui pos. Jika saat membagikan traktat ada orang lain bertanya apa yang sedang Anda lakukan, Anda boleh menjawab, “Aku sedang memberikan Injil kemuliaan Putra Allah untuk Anda.” Cara membagi traktat secara demikian telah diterapkan di banyak negara di dunia dengan sukses yang besar. Banyak keluarga demi keluarga diselamatkan. Keempat, menetapkan sebuah jalan atau wilayah sebagai satu unit dan mendorong saudara dan saudari memikul beban guna bertanggung jawab untuk secara berkesinambungan membagi traktat di jalan atau wilayah itu. Ini juga cara yang sangat baik.
3. Membagikan secara Pribadi
Masih ada cara lain dalam membagikan traktat yaitu secara pribadi. Cara pribadi ini ditujukan kepada famili-famili dan teman-teman dekat. Kadang-kadang sulit untuk mengabarkan Injil kepada famili dan teman dekat, tetapi sangat mudah untuk memberi mereka traktat. Kita juga harus hatihati dalam memilih traktat yang hendak kita berikan. Kita harus mempertimbangkan keadaan masing-masing orang. Misalnya, kepada orang-orang tertentu, kita menunjukkan bagaimana dosa merusak manusia; kepada yang lain, kita menunjukkan bagaimana uang, kemuliaan yang sia-sia tidak dapat memuaskan manusia. Kita harus berdoa memohonkan berkat bagi mereka. Ketika memberikan traktat kepada mereka, kita juga harus dengan penampilan hormat dan sopan. Kita harus berkata, “Ada banyak perkataan yang tidak dapat saya katakan, ada banyak perkara yang tidak saya ketahui, namun saya senang memberimu traktat ini. Silakan membacanya.” Setelah pulang ke rumah, kita harus berdoa untuk mereka dan mohon Allah memberkati, agar traktat itu menghasilkan buah. Demikian, dengan mudah kita dapat menyebarkan Injil kepada famili dan teman dekat kita.
HAL-HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN
Jika kita setia melakukan pekerjaan ini, kita akan segera menemukan bahwa traktat kita sangat tidak mencukupi. Meskipun beberapa traktat itu kecil, namun bisa menyelamatkan orang. Traktat semacam ini boleh terus-menerus dicetak ulang dan terus-menerus disebarkan. Menerbitkan traktat tidak harus menitikberatkan pada penampilan yang menarik, melainkan harus memiliki kata-kata yang ada kailnya, yaitu kata-kata yang praktis dan tepat guna. Bahasa dan isi traktat harus jelas dan lancar; jangan ada kata-kata yang salah. Jika ada kesalahan kata dalam traktat, traktat itu mungkin akan hilang kegunaannya. Karena itu, kita harus hati-hati dalam menulis traktat. Tidak seorang pun boleh ceroboh dalam pekerjaan Allah.
Dalam memberitakan Injil, kita harus belajar mengucapkan kata-kata yang “bagaimana” kepada orang yang “bagaimana”. Dalam membagikan traktat, kita melakukan hal yang sama, memberikan traktat yang tepat. Misalnya, terhadap orang-orang dunia secara umum, jika kita memberikan traktat mengenai kesia-siaan dunia, maka kesempatan untuk menyelamatkan orang akan sangat besar. Ada orang telah berkontak dengan gereja; jika kita memberikan traktattraktat yang menjelaskan tentang kebesaran anugerah Allah kepada mereka, yang akan beroleh selamat juga akan banyak. (Orang menyadari dosanya setelah dia percaya; karena itu, membicarakan perkara dosa kepada orang yang tawar dan dingin akan mudah melukai dia). Terhadap orang dunia pada umumnya, membicarakan kesia-siaan dunia akan sangat mudah membawa mereka kepada keselamatan.
Selain itu, kita perlu setiap waktu membawa traktattraktat di saku kita, seperti membawa kartu bisnis kita. Begitu bertemu orang, sangat baik jika kita memberinya selembar traktat. Adakalanya sulit membuka mulut untuk memulai pembicaraan, namun selembar traktat dapat memudahkan kita berbicara, dan orang lain tidak akan merasa kita tidak tahu diri. Ada orang, begitu duduk segera berbicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak karuan. Sebuah traktat akan menutup mulutnya dan sebaliknya memberi kita kesempatan untuk membuka mulut. Ketika kita memberikan traktat kepada orang, kita boleh berkata beberapa patah kata, atau tidak perlu berkata apa-apa. Jika kita dengan setia melakukan demikian, Tuhan akan melalui sarana ini menyelematkan banyak orang.
Akhirnya, ingatlah, meskipun membagikan traktat itu adalah pekerjaan yang kita lakukan, tetapi kita tidak dapat bersandar kepada diri kita sendiri, mengira diri kita dapat menyelamatkan orang. Kita harus percaya kepada Roh Allah. Setiap kali kita membagikan traktat, kita harus berdoa mohon Tuhan memberkati orang yang menerima traktat. Kita harus menengadah kepada Roh Allah untuk menyelamatkan orang melalui traktat.
W.N.
Tambahan:
Kisah-kisah Traktat Injil
Mengajar membaca melalui traktat Injil
Di suatu tempat (Burma) ada seorang anak dari salah satu kepala suku yang karena traktat Injil bertobat dan percaya Tuhan. Tadinya, ia buta huruf, sama sekali tidak bisa membaca. Kemudian ia pergi ke Rangoon. Di sana ia bertemu dengan istri seorang penginjil yang mengajarinya membaca dari lembaran traktat Injil. Ternyata dalam waktu empat puluh delapan jam, anak ini sudah bisa membaca dan kemudian percaya Tuhan Yesus. Setelah itu, anak ini mengambil sekeranjang penuh traktat Injil, menempuh perjalanan yang sulit kembali ke kampung halamannya, lalu sekuatnya memberitakan Injil. Banyak penduduk setempat yang datang berkumpul dan mendengarkan pemberitaan Injilnya. Tuhan beserta dengannya, banyak orang menjadi percaya Tuhan Yesus. Dalam jangka waktu satu tahun, lebih dari 1.500 orang percaya dan dibaptis. Inilah salah satu pekerjaan ajaib yang Allah lakukan melalui traktat Injil.
Torray memberikan traktat Injil di atas kereta api
Suatu hari, ketika naik kereta api, Torray berdoa dalam hati memohon Allah memakai dia untuk membawa beberapa orang di atas kereta api agar berpaling kepada Allah. Kemudian, datang seorang gadis dan duduk di kursi di depannya. Ia adalah anak perempuan seorang diaken di suatu denominasi, yang agak kenal dengannya. Torray memilih sebuah traktat yang ia anggap cocok dan memberikannya kepada gadis itu. Ketika gadis itu membacanya, Torray berdoa dalam hatinya bagi gadis itu. Kemudian, ia bertanya kepada gadis itu bagaimana arti cerita traktat itu. Ternyata, gadis itu sangat terharu, saat itu juga, di atas kereta api itu, ia menerima Tuhan. Membagikan traktat Injil yang tepat, bisa memberi kita kesempatan untuk memberitakan Injil, dan bisa membawa orang berpaling kepada Tuhan.
“Kekal” dalam sobekan kertas
Pada suatu hari, di penyeberangan di sebuah sungai, ada seseorang dengan marah-marah menyobek-nyobek selembaran Injil yang diselipkan ke dalam tangannya, lalu melemparkannya ke arah sungai. Ajaib! Satu hembusan angin meniup kembali satu sobekan kecil dari sobekan-sobekan kertas traktat itu dan tepat terselip ke dalam lipatan lengan baju orang tadi. Sobekan kecil traktat Injil ini hanya tersisa satu kata, yaitu “kekal”. Orang itu tiba-tiba tergugah oleh satu kata ini; terpikirkan olehnya penderitaan kehidupannya yang tidak beribadah kepada Allah, ia lalu cepatcepat bertobat, dan “mencari TUHAN selama Ia berkenan ditemui” (Yes. 55:6). Kita hanya bertanggung jawab untuk memberitakan, meskipun hanya satu kata dalam secarik sobekan kertas, Allah bisa melakukan pekerjaan-Nya yang ajaib, dan melalui itu menyelamatkan orang yang tersesat.
Aku adalah orang yang beroleh selamat
karena traktat Injil yang Anda bagikan
Ada seorang pemuda menyebarkan traktat Injil di sebuah kapal penyeberangan di London. Datanglah seorang tua menertawainya, katanya, “Aku sudah bertahun-tahun menyebarkan traktat Injil, tetapi tidak ada hasilnya. Apakah Anda di sini akan mengulangi kegagalan yang dulu telah aku lakukan?” Pemuda ini dengan serius memperhatikan orang tua itu, lalu bertanya kepadanya, “Apakah Anda adalah orang tua yang dulu menyebarkan traktat-traktat Injil di kapal-kapal penyeberangan di London? Saya adalah orang yang beroleh selamat karena penyebaran traktat Injil Anda.”
Kerang mengulum traktat Injil
Di Inggris ada seorang bernama Thomson, ia berprofesi sebagai pencari teripang di dasar laut. Meskipun ia sering mendengarkan tentang Injil, namun ia selalu menolaknya. Pada suatu hari, seperti biasa ia menyelam ke dalam laut untuk mencari nafkah, ingin memperoleh teripang-teripang yang besar dan gemuk. Ketika sedang mencari, terlihat olehnya di atas sebuah karang laut ada seekor kerang yang sepertinya sedang mengulum selembar kertas. Thomson memperhatikannya, ternyata kertas itu adalah lembaran traktat Injil. Sekilas ia membaca isi traktat itu. Ternyata, ia sangat tergerak. Lalu, di dasar laut itu juga ia bertobat dan berkata kepada dirinya sendiri, “Meskipun aku telah bertahun-tahun menolak Tuhan, saat ini aku tidak dapat tidak taat kepada-Nya, percaya kepada-Nya.” Kemudian, seekor teripang pun tidak ia cari lagi, sebagai gantinya ia mengambil kerang beserta lembaran traktat yang dikulum kerang itu, dan menaruhnya sebagai kenangan di dinding ruang tamu rumahnya. Di kemudian hari, Thomson tidak hanya secara individu setia kepada Tuhan, bahkan telah membawa banyak orang berpaling kepada Tuhan.
Siapa sangka, benih Injil yang jatuh ke dasar laut, bisa bertunas dan bertumbuh. Karena itu, bagaimanapun, harus menyebarkan benih-benih Injil. Kapan bisa menuainya, tidak seorang pun yang tahu.
RENCANA ALLAH
DAN PERHENTIAN ALLAH
Pembacaan Alkitab:
Kejadian 1:26-2:3; 2:18-24; Efesus 5:22-32; Wahyu 12; 21:1-22:5
Dalam empat bagian Alkitab ini disebutkan empat perempuan. Dalam Kejadian 2, perempuan itu adalah Hawa; dalam Efesus 5, perempuan itu adalah gereja; dalam Wahyu 12, perempuan itu adalah perempuan yang terlihat dalam visi; dan dalam Wahyu 21, perempuan itu adalah pengantin perempuan dan Anak Domba.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita terang untuk melihat bagaimana kaitan keempat perempuan ini satu dengan yang lainnya, dan dengan rencanaNya yang kekal. Kemudian kita dapat melihat kedudukan gereja dan tanggung jawabnya dalam rencana Allah dan bagaimana pemenang-pemenang Allah melaksanakan tujuanNya yang kekal.
TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA
Mengapa Allah menciptakan manusia? Apa tujuan-Nya menciptakan manusia?
Allah telah memberi kita jawaban pertanyaan-pertanyaan ini dalam Kejadian 1:26 dan 27. Kedua ayat ini sangat penting. Ayat-ayat ini menyatakan kepada kita, bahwa penciptaan manusia oleh Allah benar-benar khusus. Ketika Allah menginginkan terang, Ia hanya berfirman, "Jadilah terang." Ketika Ia menginginkan cakrawala, Ia berfirman, "Jadilah cakrawala," dan semuanya terjadi menurut firmanNya. Tetapi penciptaan manusia tidaklah sesederhana itu. Hal itu membutuhkan sebuah rapat ke-Allahan. Allah berfirman, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (ayat 26). Inilah yang direncanakan Allah dalam rapat ilahiNya untuk penciptaan manusia. Allah berfirman, "Baiklah Kita . . . " Kata-kata ini menyatakan kepada kita adanya rapat keAllahan dan menunjukkan rencana Allah terhadap manusia yang akan diciptakan-Nya. Kemudian ayat 27 menyatakan kepada kita penciptaan manusia oleh Allah, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka." Dan dalam ayat 28, "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Dari ayat-ayat ini kita nampak manusia yang diinginkan Allah. Allah ingin mendapatkan manusia yang berkuasa, yang bisa menguasai bumi ini; dengan demikian, Ia akan merasa puas.
Manusia yang diciptakan Allah ini bukan hanya serupa denganNya, melainkan juga memiliki gambarNya --keserupaan itu di luar dan gambar itu di dalam. Allah ingin manusia bukan hanya serupa denganNya secara luaran, melainkan juga memiliki gambarNya secara batini, sehingga manusia dapat memiliki perasaan, dorongan batin, kehidupan, dan sifat kudus yang sama denganNya. Allah ingin manusia menyerupai diriNya, sehingga setiap orang yang melakukan kontak dengan manusia itu akan merasakan sifat Allah. Inilah keputusan yang dibuat dalam rapat ke-Allahan.
Bagaimana Allah menciptakan manusia? Ia menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri. Allah menginginkan seorang manusia yang seperti diriNya. Dengan demikian, jelas sekali, bahwa kedudukan manusia dalam penciptaan Allah sangatlah khusus, karena di antara semua ciptaan Allah, hanya manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Manusia yang sesuai dengan kehendak hati Allah dan yang ingin Allah dapatkan, mutlak berbeda dengan semua makhluk ciptaan lainnya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah sendiri.
Di sini kita perlu memperhatikan satu hal. Ayat 26 mengatakan, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita . . .; tetapi ayat 27 mengatakan, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka." Dalam ayat 26, kata ganti "Kita" berbentuk jamak, tetapi dalam ayat 27, kata ganti "Nya" berbentuk tunggal. Menurut tata bahasa, karena dalam ayat 26, selama rapat keAllahan dikatakan, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita," maka ayat 27 seharusnya mengatakan, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar Mereka." Tetapi ajaib, ayat 27 mengatakan, "Maka Allah menciptakan manusia menurut gambarNya." Bagaimana kita dapat menjelaskan hal ini? Ini disebabkan di dalam keAllahan ada Bapa, Anak, dan Roh, tiga Persona; dan hanya satu yang memiliki gambar Allah di dalam keAllahan, yaitu Anak Allah. Karena itu, ketika keAllahan merancang penciptaan manusia, dikatakan bahwa manusia itu akan diciptakan menurut gambar "Kita," tetapi ketika menciptakan manusia, dikatakan manusia diciptakan menurut gambar"Nya". "Nya" mengacu kepada Anak. Dari sini kita mengetahui dengan pasti, bahwa Adam diciptakan menurut gambar Tuhan Yesus. Adam tidak mendahului Tuhan Yesus; Tuhan Yesuslah yang mendahuluinya. Jadi, ketika Allah menciptakan Adam, Ia menciptakannya menurut gambar Tuhan Yesus. Inilah alasannya dikatakan "menurut gambarNya" dan bukan "menurut gambar Mereka."
Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang yang serupa dengan AnakNya. Jika kita membaca Roma 8:29, kita nampak tujuan Allah, "Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." Allah ingin memiliki banyak anak, dan Allah ingin semua anak ini serupa dengan AnakNya yang satu itu. Dengan demikian AnakNya tidak lagi menjadi anak tunggal, melainkan anak sulung di antara banyak saudara. Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang semacam itu. Jika kita nampak hal ini, kita akan menyadari betapa berharganya manusia, dan kita akan bersukacita setiap kali manusia disebutkan. Betapa Allah menghargai manusia! Bahkan Ia sendiri menjadi manusia! Rencana Allah adalah mendapatkan manusia. Jika Allah mendapatkan manusia, rencana Allah sudah terlaksana.
Melalui manusialah rencana Allah itu digenapi, dan melalui manusialah permintaanNya sendiri terpenuhi. Jika demikian, apakah yang diharapkan Allah dari manusia yang diciptakanNya? Manusia harus berkuasa. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak menakdirkan manusia untuk jatuh. Kejatuhan manusia terjadi dalam Kejadian pasal tiga, bukan pasal satu. Dalam rencana Allah menciptakan manusia, Ia tidak menakdirkan manusia untuk berdosa, Ia juga tidak menakdirkan penebusan sebelumnya. Saya tidak mengecilkan pentingnya penebusan, melainkan hanya mengatakan, bahwa penebusan itu tidak ditentukan Allah sebelumnya. Jika penebusan ditentukan sebelumnya, maka manusia harus melakukan dosa. Dalam rencana Allah menciptakan manusia, manusia ditakdirkan untuk memerintah. Ini dinyatakan kepada kita dalam Kejadian 1:26. Di sini Allah menyatakan kehendakNya dan memberitahukan rahasia rencanaNya kepada kita. "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kejadian 1:26). Inilah tujuan Allah menciptakan manusia.
Mungkin ada orang bertanya, "Mengapa Allah memiliki tujuan ini?" Ini disebabkan ada satu malaikat terang telah memberontak melawan Allah sebelum penciptaan manusia dan menjadi Iblis. Iblis telah berdosa, telah jatuh; bintang timur telah menjadi musuh Allah (Yesaya 14:12-15). Karena itu Allah menarik kuasaNya dari musuh itu dan menaruhnya ke dalam tangan manusia. Alasan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia dapat memerintah menggantikan Iblis. Betapa berlimpah kasih karunia yang kita nampak dalam penciptaan manusia oleh Allah!
Allah bukan hanya menghendaki manusia memerintah, Ia juga memberikan daerah khusus bagi manusia untuk memerintah. Kita melihat hal ini dalam Kejadian 1:26, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bunii . . . " "Seluruh bumi" adalah daerah kekuasaan manusia. Allah bukan hanya memberikan kuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan ternak, tetapi Ia lebih lanjut meminta agar manusia memerintah atas "seluruh bumi." Daerah yang Allah inginkan untuk diperintah oleh manusia adalah bumi. Manusia secara khusus berkaitan dengan bumi. Bukan hanya dalam rencanaNya untuk menciptakan manusia, perhatian Allah difokuskan pada bumi, tetapi setelah Allah menciptakan manusia, Allah dengan jelas memberitahu manusia, bahwa ia harus memerintah bumi. Ayat 27 dan 28 mengatakan, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu . . . " Yang ditekankan Allah di sini adalah manusia harus "memenuhi bumi" dan "menaklukkannya," penguasaan manusia terhadap ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan setiap makhluk hidup di bumi adalah hal kedua. Penguasaan manusia terhadap benda-benda ini hanya tambahan; yang utama adalah bumi.
Kejadian 1:1-2 mengatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya . . . " "Langit" di sini berbentuk jamak dan mengacu pada langit dari semua bintang (Bumi memiliki langitnya sendiri, demikian juga semua bintang). Terjemahan langsung dari ayat dua adalah, "Dan bumi menjadi sia-sia dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya." Dalam bahasa Ibrani, sebelum "bumi" ada kata penghubung "dan". "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Tidak ada kesulitan, tidak ada masalah; tetapi setelah itu, terjadi sesuatu: "Dan bumi menjadi sia-sia dan kosong." Kata "menjadi" di sini adalah kata yang sama dengan kata "menjadi" dalam Kejadian 19:26, "Isteri Lot menjadi tiang garam." Isteri Lot tidak dilahirkan sebagai tiang garam, tetapi ia menjadi tiang garam. Demikian pula, bumi tidak sia-sia dan kosong pada waktu diciptakan, tetapi kemudian bumi itu menjadi sia-sia dan kosong. Allah menciptakan langit dan bumi, tetapi "bumi menjadi sia-sia dan kosong." Ini menyatakan kepada kita, bahwa bukan langit yang menjadi masalah, melainkan bumi.
Jadi kita lihat, bahwa bumi adalah pusat persoalannya. Yang diperhatikan Allah adalah bumi. Doa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita adalah, ". . . Dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga." Menurut makna dalam bahasa aslinya, frasa "di bumi seperti di sorga," berlaku untuk ketiga klausa di depannya, bukan hanya klausa yang terakhir. Dengan kata lain, makna aslinya adalah, "Dikuduskanlah namaMu, di bumi seperti di sorga. Datanglah kerajaanMu, di bumi seperti di sorga. Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga." Doa ini menyatakan kepada kita, bahwa tidak ada masalah dengan "sorga;" masalahnya terletak pada "bumi." Setelah kejatuhan manusia, Allah berbicara kepada ular, "Dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu" (Kejadian 3:14). Ini berarti, bumi akan menjadi kawasan hidup ular, tempat ia menjalar. Kawasan pekerjaan Iblis bukan sorga, melainkan bumi. Jika kerajaan Allah mau datang, Iblis harus dienyahkan dari bumi; jika kehendak Allah hendak dilakukan, kehendakNya harus dilakukan di bumi; jika nama Allah hendak dikuduskan, namaNya harus dikuduskan di bumi. Semua masalahnya terletak pada bumi.
Ada dua kata dalam kitab Kejadian yang sangat berarti. Kata yang pertama ada dalam Kejadian 1:28, yakni kata "taklukkanlah." Yang lainnya ada dalam Kejadian 2:15, "memelihara", yang dapat juga diterjemahkan "menjaga."Dari ayat-ayat ini kita nampak, bahwa Allah menakdirkan manusia untuk menaklukkan dan menjaga bumi. Maksud Allah semula adalah memberikan bumi kepada manusia sebagai tempat tinggal. Allah tidak bermaksud membuat bumi menjadi kosong (Yesaya 45:18). Allah, melalui manusia, tidak ingin membiarkan Iblis menyusup ke bumi, tetapi masalahnya adalah Iblis itu sudah ada di bumi dan bermaksud merusaknya. Karena itu, Allah ingin manusia mendapatkan kembali bumi dari tangan Iblis.
Satu masalah lain yang perlu kita perhatikan ialah: sebenarnya, yang Allah kehendaki agar direbut kembali oleh manusia bukan hanya bumi, melainkan juga langit yang berhubungan dengan bumi. Dalam Alkitab, "langit" dibedakan dengan "sorga." "Langit" adalah tempat takhta Allah berada, tempat Allah melaksanakan kuasaNya, sedangkan "sorga" dalam Alkitab kadang-kadang mengacu kepada sorga yang berhubungan dengan bumi. Sorga inilah yang Allah ingin pulihkan (Lihat Wahyu 12:7-10).
Ada orang mungkin bertanya: Mengapa bukan Allah sendiri yang melemparkan Iblis ke dalam lubang yang tanpa dasar atau ke dalam lautan api? Jawaban kami adalah: Allah dapat melakukannya, tetapi Allah sendiri tidak melakukannya. Kita tidak tahu, mengapa Allah sendiri tidak melakukannya, tetapi kita sungguh-sungguh tahu, apa yang dikehendakiNya. Allah ingin menggunakan manusia untuk membereskan musuhNya, dan Ia menciptakan manusia untuk tujuan ini. Allah ingin makhluk ciptaan membereskan makhluk ciptaan. Manusia yang diciptakanNya dipakai olehNya untuk tujuan ini.
Mari kita baca lagi Kejadian 1:26: "Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di taut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi . . . " Kelihatannya kalimat ini akan berakhir di sini, tetapi ditambahkan sebuah frasa lain, "dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Di sini kita nampak, bahwa binatang melata menempati posisi yang sangat besar, karena Allah mengatakannya setelah Ia selesai menyebutkan "atas seluruh bumi." Ingin menguasai seluruh bumi, binatang melata tidak boleh diabaikan. Karena musuh Allah terwujud di dalam binatang melata itu. Ular dalam Kejadian 3 dan kalajengking dalam Lukas 10 adalah binatang melata. Bukan hanya ada ular, yang mewakili Iblis, ada pula kalajengking, yang mewakili roh jahat yang berdosa dan najis. Daerah kekuasaan ular dan kalajengking adalah bumi ini. Semua masalahnya ada pada bumi.
Karena itu, kita harus membedakan pekerjaan menyelamatkan manusia dengan pekerjaan Allah. Sering kali pekerjaan menyelamatkan manusia itu belum tentu pekerjaan Allah. Menyelamatkan manusia adalah membereskan masalah manusia, tetapi pekerjaan Allah adalah agar manusia berkuasa, memerintah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Allah membutuhkan penguasa dalam ciptaanNya, dan la justru memilih manusia untuk menjadi penguasa itu. Jika kita hanya untuk diri kita sendiri sebagai manusia, maka semua penuntutan kita hanyalah mengharapkan diri kita sendiri makin mengasihi Tuhan, diri kita bisa menjadi lebih kudus, diri kita bisa lebih bergairah, dan diri kita bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa. Semua penuntutan ini memang baik, tetapi terlalu berpusat pada manusia. Semua itu hanya memperhatikan keuntungan manusia; pekerjaan dan kebutuhan Allah sama sekali diabaikan. Kita harus nampak, bahwa Allah mempunyai kebutuhan. Kita ada di bumi ini bukan untuk kepentingan manusia saja, lebih dari itu, untuk kepentingan Allah. Kita bersyukur kepada Allah, karena Ia telah menyerahkan pelayanan pendamaian antara manusia dengan Allah kepada kita. Tetapi sekalipun kita telah menyelamatkan semua jiwa di seluruh dunia ini, kita belum menyelesaikan pekerjaan Allah atau memuaskan tuntutan Allah. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia telah mengatakan apa yang diinginkanNya. Allah menampakkan kepada kita bahwa keinginanNya ialah adanya manusia yang berkuasa, memerintah seluruh ciptaanNya. Memerintah untuk Allah bukanlah perkara kecil, melainkan perkara besar. Allah membutuhkan manusia yang dapat diserahi amanatNya dan yang tidak akan melalaikannya. Inilah pekerjaan Allah, dan inilah yang didapatkan Allah.
Kami tidak meremehkan pekerjaan pemberitaan Injil, tetapi jika pekerjaan kita hanya memberitakan Injil dan menyelamatkan jiwa, kita tidak membuat Iblis menderita kekalahan fatal. Selama manusia belum merebut kembali bumi dari tangan Iblis, manusia belum mencapai tujuan Allah dalam menciptakannya. Menyelamatkan jiwa sering kali hanya untuk kesejahteraan manusia, tetapi menanggulangi Iblis adalah untuk keuntungan Allah. Menyelamatkan jiwa adalah memenuhi kebutuhan manusia, tetapi membereskan Iblis adalah memuaskan kebutuhan Allah.
Saudara saudari, ini menuntut kita membayar harga! Kita tahu bahwa setan dapat berbicara. Setan pernah berkata, "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui; tetapi kamu, siapakah kamu? (Kisah Para Rasul 19:15). Masalahnya adalah, jika setan bertemu dengan Anda, apakah ia akan lari? Memberitakan Injil memang menuntut pengorbanan kita, tetapi kita harus lebih membayar harga untuk membereskan Iblis.
Ini bukan masalah khotbah atau pengajaran. Ini memerlukan pelaksanaan, dan harganya sangat besar. Jika kita mau menjadi orang-orang yang dipakai Allah untuk menggulingkan semua pekerjaan dan kekuasaan Iblis, kita harus mematuhi Tuhan secara mutlak dan sungguh-sungguh. Dalam melakukan pekerjaan lain, jika kita masih menyisakan kedudukan diri kita sendiri, kaitannya masih terhitung kecil; tetapi dalam menghadapi Iblis, kita tidak boleh menyisakan apapun untuk diri kita sendiri. Kita bisa menyisakan sesuatu bagi diri kita sendiri dalam hal membaca Alkitab, menyisakan sesuatu bagi diri sendiri dalam hal memberitakan Injil, menyisakan sesuatu bagi diri sendiri dalam hal membantu gereja atau saudara saudari, tetapi jika berurusan dengan Iblis, kita harus sepenuhnya melepaskan diri kita. Iblis tidak mungkin kita usir, jika kita mempertahankan diri kita. Semoga Allah membuka mata kita untuk melihat apakah tujuan Allah dalam menginginkan kita mutlak untuk Dia. Orang yang pikirannya bercabang tidak mungkin dapat membereskan Iblis. Semoga Allah menyampaikan kata-kata ini ke dalam hati kita.
TUJUAN ALLAH YANG TIDAK BERUBAH
Allah menghendaki manusia memerintah bagiNya di bumi ini, tetapi manusia tidak mencapai tujuan Allah. Dalam Kejadian 3, kejatuhan manusia terjadi dan dosa mulai masuk. Manusia berada di bawah kekuasaan Iblis, dan segala sesuatu nampaknya telah berakhir. Nampaknya Iblis menang dan Allah kalah. Tetapi, selain ayat-ayat dalam Kejadian 1, ada dua bagian lainnya dalam Alkitab yang berkaitan dengan masalah ini. Kedua bagian tersebut adalah Mazmur 8 dan Ibrani 2.
Mazmur 8
Mazmur 8 menunjukkan kepada kita, bahwa tujuan dan rencana Allah tidak pernah berubah. Setelah kejatuhan manusia, kehendak dan tuntutan Allah terhadap manusia tetap sama tanpa perubahan apapun. KehendakNya dalam Kejadian 1 ketika Ia menciptakan manusia, masih tetap sama, walaupun manusia telah berdosa dan jatuh. Walaupun Mazmur 8 ditulis setelah kejatuhan manusia, pemazmur masih dapat memuji; matanya masih tertuju pada Kejadian 1. Roh Kudus tidak melupakan Kejadian 1, Anak tidak melupakan Kejadian 1, demikian pula Allah sendiri tidak melupakan Kejadian 1.
Mari kita melihat isi mazmur ini. Ayat kedua mengatakan, "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!" Semua orang yang mendapatkan ilham dari Roh Kudus akan mengucapkan kata-kata semacam itu, "Betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!" Walaupun beberapa orang memfitnah dan menolak nama Tuhan, namun pemazmur dengan suara lantang memproklamirkan, "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!" Ia tidak mengatakan, "Nama-Mu sangat mulia." "Sangat mulia" tidak memiliki arti yang sama dengan "betapa mulia." "Sangat mulia" berarti saya, pemazmur, masih dapat menggambarkan kemuliaan itu, sedangkan "betapa mulia" berarti saya dapat menulis mazmur, tetapi saya tidak memiliki kata-kata untuk mengekspresikannya, saya juga tidak mengetahui betapa mulianya nama Tuhan. Maka saya hanya dapat mengatakan, "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!" Dan bukan saja namaNya mulia, melainkan namaNya mulia "di seluruh bumi!" Ungkapan "di seluruh bumi" di sini sama dengan yang ada dalam Kejadian 1:26. Jika kita mengetahui rencana Allah, setiap kali kita membaca kata "manusia" atau kata "bumi", hati kita seharusnya bergembira.
Ayat 3 melanjutkan, "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawanMu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam." Bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu di sini mengacu kepada manusia, dan penekanannya dalam ayat ini adalah pada Allah yang memakai manusia untuk membereskan musuh. Tuhan Yesus mengutip ayat ini dalam Matius 21:16, "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian." Kata-kata ini berarti, musuh boleh melakukan apa saja sebisanya, tetapi Allah tidak perlu menghadapinya sendiri, Allah akan memakai bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu untuk membereskannya. Apa yang dapat dilakukan oleh bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu? Dikatakan di sini, bahwa "dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan." Keinginan Allah adalah mendapatkan orang-orang yang dapat memuji; orang-orang yang dapat memuji adalah orang-orang yang dapat membereskan musuh.
Dalam ayat 4 sampai 9 pemazmur mengatakan, "Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan." Jika kita menuliskan mazmur ini, mungkin di sini kita akan menambahkan catatan, "Sayang, manusia telah jatuh, berdosa, dan diusir dari Taman Eden! Manusia tidak bisa mencapainya." Tetapi syukur kepada Allah, dalam hati pemazmur tidak ada pemikiran semacam ini. Dalam pandangan Allah, bumi masih dapat dipulihkan, kedudukan yang diberikan kepada manusia oleh Allah masih tetap ada, dan amanatNya kepada manusia untuk menghancurkan pekerjaan Iblis masih tetap ada. Inilah sebabnya, mulai dari ayat yang keempat pemazmur sekali lagi mengisahkan cerita lama yang sama, yang sepenuhnya mengabaikan Kejadian pasal tiga. Inilah ciri yang menonjol dari Mazmur 8. Tujuan Allah adalah agar manusia memerintah. Apakah manusia layak? Pasti tidak. Tetapi karena tujuan Allah adalah agar manusia memerintah, manusia harus memerintah.
Dalam ayat 10, pemazmur sekali lagi mengatakan, "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!" Ia terus-menerus memuji, seolah-olah ia sama sekali tidak melihat kejatuhan manusia. Adam dan Hawa telah berdosa, tetapi mereka tidak dapat menentang rencana Allah. Manusia bisa jatuh dan berdosa, tetapi manusia tidak dapat menggulingkan kehendak Allah. Sekalipun manusia telah jatuh, kehendak Allah terhadap manusia tetap sama. Allah masih menghendaki manusia menggulingkan kekuasaan Iblis. Oh, Allah sungguh tidak pernah berubah! JalanNya tidak menyimpang dan mutlak lurus. Kita harus tahu, bahwa Allah tidak dapat dikalahkan. Dalam dunia ini ada beberapa orang yang menerima banyak pukulan berat, tetapi tidak ada yang seperti Allah, yang diserang setiap hari dan menerima hantaman yang bertubi-tubi. Tetapi kehendakNya tidak dapat digulingkan. Hakiki Allah sebelum kejatuhan manusia sama dengan hakikiNya setelah kejatuhan manusia dan setelah dosa masuk ke dalam dunia. Keputusan yang ditetapkanNya pada waktu dahulu masih menjadi keputusanNya sekarang. Ia tidak pernah berubah.
Ibrani 2
Kejadian 1 membicarakan kehendak Allah pada penciptaan, Mazmur 8 membicarakan kehendak Allah setelah kejatuhan manusia, dan Ibrani 2 membicarakan kehendak Allah dalam penebusan. Sekarang mari kita lihat Ibrani 2. Kita akan nampak, bahwa dalam kemenangan penebusan, Allah masih menginginkan manusia mendapatkan kekuasaan untuk membereskan Iblis.
Dalam ayat 5 sampai 8a, penulis mengatakan, "Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kakiNya. Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepadaNya, tidak ada suatupun yang la kecualikan, yang tidak takluk kepadaNya." Segala hal harus takluk kepada manusia; Allah telah menetapkannya sejak semula.
Tetapi kenyataannya belum seperti itu. Penulis meneruskan, "Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat" (ayat 8b-9). Yesus adalah Persona yang disajikan di sini. Mazmur 8 mengatakan, bahwa Allah membuat manusia sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, tetapi di sini rasul mengubah kata "manusia" menjadi "Yesus." Ia menjelaskan kepada kita, bahwa "manusia" itu mengacu kepada Yesus; Yesuslah yang menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat. Penebusan manusia berasal dari sini. Allah pada mulanya telah menetapkan agar manusia sedikit lebih rendah daripada malaikat, manusia akan dimahkotai dan memerintah atas seluruh ciptaanNya, manusia akan berkuasa, manusia akan mengusir musuhNya dari bumi dan dari sorga yang berhubungan dengan bumi, manusia akan menghancurkan semua kekuasaan Iblis. Tetapi manusia jatuh dan tidak dapat berkuasa bagiNya. Karena itu, Tuhan Yesus datang dan memakai tubuh daging manusia, Dia menjadi "Adam yang akhir" (I Korintus 15:45).
Ayat 9b mengatakan, "Supaya oleh kasih karunia Allah Ia merasakan maut bagi semua manusia." "Semua manusia" menurut bahasa Yunani dapat diterjemahkan "segala hal." Kelahiran Tuhan Yesus, penghidupan Tuhan Yesus sebagai manusia, dan juga penebusan Tuhan Yesus, menunjukkan kepada kita, bahwa pekerjaan penebusanNya bukan hanya untuk manusia, melainkan untuk semua makhluk ciptaan. Semua ciptaan (kecuali malaikat) termasuk di dalamnya. Tuhan Yesus berdiri dalam dua posisi: terhadap Allah, Ia adalah manusia yang pada mulanya, manusia yang ditetapkan Allah sejak semula; terhadap manusia, Ia adalah Juruselamat. Pada mulanya Allah menetapkan manusia untuk memerintah dan menggulingkan Iblis. Tuhan Yesus adalah manusia itu, dan manusia itu sekarang telah duduk di takhta! Haleluya! Manusia itu telah menggulingkan kekuasaan Iblis. Dia adalah manusia yang dicari dan ingin didapatkan oleh Allah. Dalam aspekNya yang lain, Dia adalah seorang manusia yang berhubungan dengan kita; Dia adalah Juruselamat kita, yang telah membereskan masalah dosa bagi kita. Kita berdosa dan jatuh, dan Allah membuatNya menjadi korban pendamaian bagi kita. Selain itu, Dia bukan hanya menjadi korban pendamaian bagi kita, bahkan juga dihakimi demi semua ciptaan. Hal ini dibuktikan dengan terkoyaknya tirai ruang kudus. Ibrani 10 memberitahu kita, bahwa tirai ruang kudus itu mengacu kepada tubuh Tuhan Yesus. Pada tirai itu terdapat sulaman kerub, yang mewakili makhluk ciptaan; karena itu, tubuh Tuhan Yesus mencakup makhluk ciptaan. Pada saat Tuhan mati, tirai itu terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah, dan sebagai akibatnya kerub yang tersulam padanya juga ikut terkoyak. Ini menyatakan kepada kita bahwa kematian Tuhan Yesus mencakup penghakiman untuk semua makhluk. Ia bukan hanya merasakan kematian bagi setiap manusia, bahkan juga bagi "segala hal."
Ayat 10 melanjutkan, "Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah — yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan -- yaitu Allah yang membawa banyak orang (anak) kepada kemuliaan." Segala sesuatu adalah bagi Dia dan oleh Dia; segala sesuatu adalah kepada Dia dan berasal dari Dia. Bagi Dia berarti kepada Dia; oleh Dia berarti berasal dari Dia. Syukur kepada Allah, Allah tidak pernah mengubah tujuanNya dalam penciptaan! Apa yang ditetapkan Allah pada penciptaan, ditetapkanNya juga setelah kejatuhan manusia, dan dalam penebusan. Allah tidak mengubah rencanaNya karena kejatuhan manusia. Syukur kepath Allah, Dia membawa banyak anak ke dalam kemuliaan! Dia memuliakan banyak anak. Allah ingin mendapatkan sekelompok manusia baru yang memiliki rupa dan gambar AnakNya. Karena Tuhan Yesus adalah manusia yang pantas menjadi wakil, seperti apa Dia, demikian pula manusia lainnya; dan mereka akan masuk ke dalam kemuliaan bersamaNya.
Bagaimanakah hal ini dapat dilakukan? Ayat 11 mengatakan, "Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu..." Siapakah Ia yang menguduskan? la adalah Tuhan Yesus. Siapakah mereka yang dikuduskan? Kitalah yang dikuduskan. Jadi kita dapat membaca ayat itu demikian, "Karena Yesus yang menguduskan dan kita yang dikuduskan, semua berasal dari Satu." Tuhan Yesus dan kita, semua berasal dari Bapa yang sama; kita semua berasal dari sumber yang sama, .memiliki hayat yang sama, memiliki satu Roh Kudus yang berhuni di dalam, dan memiliki satu Allah sebagai Tuhan dan Bapa kita. ". . . Itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara." Kata "Ia" di sini mengacu kepada Tuhan Yesus, dan "mereka" mengacu kepada kita. "Ia tidak malu menyebut mereka saudara" karena Ia berasal dari Bapa dan kita juga berasal dari Bapa.
Kita adalah anak-anak Allah, dan pada akhirnya Allah akan membawa kita ke dalam kemuliaan. Penebusan tidak mengubah tujuan Allah; sebaliknya, penebusan itu menggenapi tujuan yang tidak terlaksana dalam penciptaan. Tujuan Allah mula-mula adalah agar manusia memerintah, khususnya memerintah atas bumi, tetapi sayangnya, manusia jatuh. Namun, segala sesuatu tidaklah berakhir karena kejatuhan manusia yang pertama. Apa yang tidak didapatkan Allah dari manusia pertama, Adam, akan didapatkanNya dari manusia kedua, Kristus. Karena Allah menakdirkan manusia untuk memerintah dan mendapatkan kembali bumi, karena Allah telah menetapkan manusia harus menghancurkan Iblis, maka terjadilah kelahiran di Betlehem. Itulah sebabnya Tuhan Yesus datang untuk menjadi manusia. Ia khusus melakukannya, Ia benar-benar menjadi manusia; Ia adalah manusia yang sejati. Kita telah nampak, bahwa manusia pertama tidak menggenapkan tujuan Allah, manusia pertama telah berdosa dan jatuh. Ia bukan hanya gagal mendapatkan kembali bumi, bahkan ia sendiri ditangkap oleh Iblis. Ia bukan hanya gagal memerintah, bahkan ia sendiri takluk pada kekuasaan Iblis. Kejadian 2 mengatakan, bahwa manusia terbuat dari debu; dan Kejadian 3 menjelaskan, bahwa debu adalah makanan ular. Ini berarti, manusia yang jatuh menjadi makanan Iblis. Manusia tidak lagi dapat menanggulangi Iblis; ia sudah kalah. Jika demikian, apa lagi yang dapat dilakukan? Apakah ini berarti Allah tidak mungkin lagi mencapai tujuanNya yang kekal? Apakah Allah tidak mungkin lagi mendapatkan apa yang diinginkanNya? Apakah Allah tidak mungkin mendapatkan kembali bumi? Tidak! Ia mengutus AnakNya untuk menjadi seorang manusia. Tuhan Yesus benar-benar Allah, tetapi Ia juga benar-benar manusia.
Di seluruh dunia ini, ada satu orang yang memilih Allah, ada satu orang yang dapat mengatakan, "Penghulu Dunia ini . . . tidak memiliki sesuatu apapun di dalamku. " Dengan kata lain, dalam diri Tuhan Yesus tidak ditemukan barang apapun yang milik penghulu dunia ini. Kita harus memperhatikan dengan teliti, bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menjadi Allah, melainkan menjadi manusia. Yang diinginkan Allah adalah manusia. Jika Allah sendiri yang membereskan Iblis, tentu sangat mudah; sekejap saja Iblis sudah jatuh. Tetapi Allah tidak mau melakukannya sendiri. Ia ingin manusialah yang membereskan Iblis; Ia bermaksud agar makhluk ciptaan (manusia) membereskan makhluk ciptaan (Iblis). Ketika Tuhan Yesus menjadi manusia, Ia menderita godaan sebagai manusia dan mengalami semua pengalaman manusia. Sekarang la telah naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Manusia ini telah dimuliakan. Ibrani 2 menyatakan kepada kita, bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk menerima kemuliaan sebagai Allah, melainkan menerima kemuliaan sebagai manusia. (Ini tidak berarti, bahwa Ia tidak memiliki kemuliaan Allah, tetapi Ibrani 2 tidak mengacu kepada kemuliaan yang dimilikiNya sebagai Allah). Yesus yang dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat untuk menderita kematian, telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Tuhan kita telah naik ke sorga dalam rupa manusia. Hari ini, ada seorang manusia telah pergi ke sorga, kelak akan banyak orang juga naik ke sorga. Hari ini seorang manusia sedang duduk di atas takhta; suatu hari, akan ada banyak orang yang duduk di atas takhta. Ini sudah pasti.
Ketika Tuhan Yesus dibangkitkan, la memberikan hayatNya ke dalam kita. Pada saat kita percaya kepada-Nya, kita menerima hayatNya. Kita semua menjadi anak-anak Allah, dan dengan demikian kita semua menjadi milik Allah. Karena kita memiliki hayat ini di dalam diri kita, maka kita dapat dipercaya oleh Allah untuk menggenapkan tujuanNya. Karena alasan ini, dikatakan bahwa Ia akan membawa banyak anak ke dalam kemuliaan. Memerintah berarti dimuliakan, dan dimuliakan berarti memerintah. Jika anak-anak itu telah mendapatkan kekuasaan dan memulihkan bumi, mereka akan dibawa ke dalam kemuliaan dengan penuh kemenangan.
Jangan sekali-kali beranggapan bahwa tujuan Allah hanya untuk menyelamatkan kita dari neraka, supaya kita dapat menikmati berkat sorgawi. Kita harus ingat, bahwa Allah ingin manusia menjadi penerus AnakNya dalam menjalankan kekuasaanNya di bumi. Allah ingin menyelesaikan sesuatu, tetapi Ia tidak ingin melakukannya sendiri; Ia ingin kita yang melakukannya. Jika kita telah melakukannya, berarti Allah telah mencapai tujuanNya. Allah ingin mendapatkan sekelompok manusia yang mau melakukan pekerjaanNya di bumi ini, sehingga Allah. dapat memerintah di bumi melalui manusia.
HUBUNGAN ANTARA
PENEBUSAN DENGAN PENCIPTAAN
Kita perlu melihat hubungan antara penebusan dengan penciptaan. Kita sama sekali tidak boleh menganggap bahwa Alkitab tidak membicarakan apa-apa kecuali penebusan. Syukur kepada Allah, bahwa di samping penebusan ada penciptaan. Keinginan hati Allah dinyatakan dalam penciptaan. Tujuan, rencana, dan kehendak Allah semuanya dinyatakan dalam penciptaanNya. Penciptaan menyatakan tujuan kekal Allah; menunjukkan kepada kita, sebenarnya apa yang diinginkan Allah.
Posisi penebusan tidak mungkin lebih tinggi daripada penciptaan. Apakah penebusan itu? Penebusan adalah sesuatu yang memulihkan apa yang tidak didapatkan Allah melalui penciptaan. Penebusan tidak membawa sesuatu yang baru bagi kita; penebusan hanya memulihkan bagi kita apa yang sudah menjadi milik kita. Melalui penebusan, Allah mencapai tujuanNya dalam penciptaan. Menebus berarti mendapatkan kembali dan memulihkan; menciptakan berarti menentukan dan memulai. Penebusan adalah sesuatu yang terjadi kemudian, supaya tujuan Allah dalam penciptaan dapat terpenuhi. Semoga anak-anak Allah tidak memandang rendah penciptaan; semoga anak-anak Allah tidak memandang penebusan adalah segala-galanya. Penebusan berkaitan dengan kita, penebusan membuat kita terselamatkan, membuat kita mendapatkan hidup yang kekal, membuat kita mendapatkan faedah. Tetapi penciptaan berkaitan dengan Allah dan pekerjaan Allah. Hubungan kita dengan penebusan adalah untuk keuntungan manusia, sedangkan hubungan kita dengan penciptaan adalah untuk keuntungan Allah. Semoga Allah melakukan hal yang baru di bumi ini, sehingga manusia tidak hanya menekankan Injil, melainkan lebih dari itu, memperhatikan pekerjaan Allah, urusan Allah, rencana Allah. Jika kita bukan orang Kristen, itu masalah lain. Tetapi, begitu kita telah menjadi orang Kristen, kita bukan hanya mendapatkan faedah penebusan; kitapun harus mencapai tujuan Allah dalam penciptaan. Tanpa penebusan, kita tidak mungkin berhubungan dengan Allah. Tetapi, begitu kita telah diselamatkan, kita perlu mempersembahkan diri kita kepada Allah untuk mencapai tujuanNya yang semula dalam penciptaan manusia. Jika kita hanya memperhatikan Injil, ini hanya separuh. Allah menginginkan separuh lainnya, yaitu agar manusia memerintah bagiNya di bumi dan tidak mengizinkan Iblis tinggal di bumi lebih lama lagi. Yang separuh ini juga dituntut dari gereja. Ibrani 2 menunjukkan kepada kita, bahwa penebusan bukan hanya untuk pengampunan dosa, supaya manusia dapat diselamatkan, melainkan untuk memulihkan manusia kembali kepada tujuan penciptaan.
Penebusan dapat diumpamakan dengan lembah di antara dua puncak. Ketika seseorang turun dari satu puncak dan mulai mendaki ke puncak lainnya, ia mendapatkan penebusan di dasar lembah tersebut. Menebus tidak lain berarti mencegah manusia agar tidak jatuh semakin dalam, menebus adalah mengangkat kembali manusia. Di satu pihak, kehendak Allah itu kekal dan lurus, tanpa penurunan, supaya tujuan penciptaan tercapai. Namun di pihak lain, sesuatu telah terjadi. Manusia telah jatuh, manusia telah meninggalkan Allah, dan jarak antara manusia dengan tujuan kekal Allah semakin lama menjadi semakin jauh. Kehendak Allah dari kekekalan sampai kekekalan merupakan garis lurus, tetapi sejak kejatuhan manusia, manusia tidak dapat mencapainya. Syukur kepada Allah, ada satu penyelamatan yang disebut penebusan. Ketika penebusan itu terjadi, manusia tidak perlu turun lagi. Setelah penebusan, manusia diubah dan mulai naik. Pada saat manusia terus naik, akan tiba saatnya, ia sekali lagi menyentuh garis lurus itu. Pada saat garis itu tercapai, kerajaan Allah datanglah.
Kita bersyukur kepada Allah, karena kita mendapatkan penebusan. Tanpa penebusan kita akan tercebur semakin dalam; kita akan ditindas semakin keras oleh Iblis sampai tidak ada jalan untuk bangkit. Puji Tuhan, penebusan telah. membuat kita kembali kepada tujuan kekal Allah. Apa yang belum didapatkan Allah dalam penciptaan dan apa yang hilang dari manusia dalam kejatuhan, didapatkan kembali dalam penebusan.
Kita harus mohon Allah membuka mata kita, agar kita dapat melihat apa yang Allah kerjakan, sehingga penghidupan dan pekerjaan kita bisa benar-benar terubah. Jika pekerjaan kita hanya menyelamatkan orang, kita masih gagal, kita tidak dapat memuaskan hati Allah. Baik penebusan maupun penciptaan dimaksudkan untuk mendapatkan kemuliaan dan menggulingkan semua kekuasaan Iblis. Mari kita di satu pihak mengumumkan kasih Allah dan kuasa Allah, di pihak lain, kita melihat dosa dan kejatuhan manusia, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan kuasa rohani untuk menggulingkan kekuasaan Iblis. Tugas gereja ada dua: bersaksi tentang penyelamatan Kristus dan bersaksi tentang kemenangan Kristus. Di satu pihak, gereja membawa faedah bagi manusia, di pihak lain, membuat Iblis menderita kekalahan.
PERHENTIAN ALLAH
Selama enam hari pekerjaan penciptaan Allah, yang istimewa adalah penciptaan manusia. Semua pekerjaan penciptaanNya selama enam hari adalah untuk manusia. SasaranNya yang sebenarnya adalah menciptakan manusia. Untuk melakukan hal ini, pertama-tama Allah harus memperbaiki bumi dan langit yang rusak. (Kejadian 2:4 mengatakan, "Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit." Kata "Langit dan bumi" di sini menunjukkan penciptaan pada mulanya, karena pada waktu itu langitlah yang dibentuk lebih dahulu, kemudian baru bumi. Tetapi bagian kedua, "Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit," mengacu kepada pekerjaan perbaikan dan pemulihan, karena dalam pekerjaan ini, bumilah yang diperhatikan lebih dahulu, kemudian baru langit.) Setelah Allah memulihkan bumi dan langit yang rusak, barulah Ia menciptakan manusia menurut rancanganNya. Setelah hari yang keenam, ada hari yang ketujuh, dan pada hari ketujuh itu Allah berhenti dari semua pekerjaanNya.
Perhentian datang setelah bekerja: harus bekerja lebih dulu, kemudian perhentian dapat mengikutinya. Selain itu, pekerjaan harus diselesaikan sampai kita merasa benarbenar puas, baru ada perhentian. Jika pekerjaan itu belum dilakukan sepenuhnya dan dengan memuaskan, tidak mungkin ada perhentian dalam pikiran atau hati. Karena itu kita tidak boleh meremehkan fakta Allah beristirahat setelah enam hari penciptaan. Allah mendapat perhentian, ini adalah perkara besar. la harus mencapai tujuan tertentu, barulah Ia dapat beristirahat. Betapa besarnya kekuatan yang membuat Allah Pencipta ini bisa beristirahat! Menyuruh Allah yang penuh rencana dan penuh hayat ini beristirahat, membutuhkan kekuatan yang paling besar.
Kejadian 2 menunjukkan kepada kita, bahwa Allah beristirahat pada hari yang ketujuh. Bagaimana mungkin Allah beristirahat? Bagian akhir Kejadian 1 mencatat, bahwa hal ini disebabkan, "Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik. "
Allah beristirahat pada hari yang ketujuh. Tetapi, sebelum hari yang ketujuh, ada pekerjaan yang harus dilakukanNya, dan sebelum pekerjaan itu, Ia memiliki satu tujuan. Roma 11 membicarakan pikiran, penghakiman, dan jalan-jalan Tuhan. Efesus 1 membicarakan rahasia kehendakNya, kesenanganNya, dan tujuan kekalNya. Efesus 3 juga membicarakan tujuan kekalNya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang bekerja, bahkan adalah Allah yang bertujuan, Allah yang berencana. Ketika Ia merasa senang bekerja, Ia bekerja; la bekerja karena dalam hatiNya ingin bekerja. Setelah Ia merasa puas dengan pekerjaanNya, la beristirahat. Jika kita ingin mengenal kehendak Allah, rencana Allah, kesenangan Allah, dan tujuan Allah, kita hanya perlu melihat apa yang membuatNya beristirahat. Jika kita nampak, bahwa Allah beristirahat karena hal tertentu, kita akan tahu bahwa hal itulah yang diinginkanNya sejak semula. Manusia tidak bisa mendapatkan perhentian atas hal-hal yang tidak memuaskannya; ia harus mendapatkan apa yang diinginkannya, baru bisa mendapat perhentian. Kita tidak boleh meremehkan perhentian ini, karena artinya sangat besar. Allah tidak mendapat perhentian selama enam hari yang pertama, tetapi Ia mendapat perhentian pada hari yang ketujuh. PerhentianNya ini menyatakan kepada kita bahwa Allah telah merampungkan perkara yang menjadi keinginan hatiNya, Ia telah melakukan sesuatu yang membuatNya bersukacita. Karena itu, Ia dapat beristirahat.
Kejadian 1:31 mengatakan, "Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik." Kita harus memperhatikan kata "melihat" yang digunakan di sini. Apa arti kata ini? Jika kita membeli sebuah benda yang sangat memuaskan kita, kita memutar-mutarnya dengan senang dan melihatnya dengan teliti. Inilah artinya "melihat." Allah tidak sepintas lalu "melihat" segala sesuatu yang telah dijadikanNya dan mengatakan bahwa itu baik. Tetapi, Ia "melihat" segala sesuatu yang telah dijadikanNya dan nampak bahwa itu sungguh amat baik. Kita perlu memperhatikan, bahwa pada saat penciptaan, Allah "melihat-lihat" apa yang telah dibuatNya. Kata "berhenti" merupakan pernyataan bahwa Allah puas, Allah merasa senang dengan apa yang telah dilakukanNya; kata ini menyatakan bahwa tujuan Allah telah tercapai dan maksud hatiNya terpenuhi seluruhnya. PekerjaanNya sempurna begitu rupa, sehingga tidak mungkin menjadi lebih baik lagi.
Karena alasan inilah Allah memerintahkan semua orang Israel untuk menaati hari Sabat turun-temurun. Allah merindukan sesuatu, Allah mencari sesuatu untuk memuaskan diriNya sendiri, dan Ia mendapatkannya, karena itu Ia mendapat perhentian. Inilah artinya Sabat. Sabat tidak berarti manusia harus lebih sedikit membeli atau lebih pendek berjalan. Sabat memberitahu kita bahwa Allah mempunyai kehendak, Allah mempunyai satu tuntutan, dan suatu pekerjaan harus dilakukan untuk memenuhi kehendak dan tuntutan hatiNya; sekarang, karena Allah telah mendapatkan apa yang dicariNya, Ia mendapat perhentian. Sabat bukanlah masalah hari yang khusus. Sabat memberitahu kita, bahwa Allah telah merampungkan rencanaNya, telah tercapai tujuanNya, dan telah terpuaskan hatiNya. Allahlah yang menuntut kepuasan itu, dan Allah juga yang merasa puas. Setelah Allah mendapatkan apa yang diinginkanNya, Ia mendapat perhentian.
Jika demikian, apa yang membuat Allah mendapat perhentian? Apa yang memberiNya kepuasan semacam itu? Selama enam hari penciptaan ada terang, cakrawala, rumput, tumbuh-tumbuhan, dan pohon-pohon; ada matahari, bulan, dan bintang-bintang; ada ikan, burung- burung, ternak, binatang melata, dan binatang buas. Tetapi dalam semua itu Allah tidak menemukan perhentian. Akhirnya, setelah ada manusia, Allah berhenti dari semua pekerjaan-Nya, Ia beristirahat, Ia mendapat perhentian. Semua penciptaan sebelum manusia merupakan persiapan. Semua pengharapan Allah terpusat pada manusia. Setelah Allah mendapatkan manusia, Ia merasa puas dan mendapatkan perhentian.
Mari kita baca lagi Kejadian 1:27-28, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di taut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Kemudian Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:3, "Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik . . ." "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu." Allah mempunyai tujuan, dan tujuan ini adalah mendapatkan manusia -- manusia yang memiliki kekuasaan untuk memerintah atas bumi. Perkara inilah yang dapat memuaskan hati Allah. Jika hal ini dapat dicapai, semuanya akan baik. Pada hari keenam, tujuan Allah tercapai. "Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik . . . berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu." Tujuan dan pengharapan Allah telah tercapai; Ia dapat berhenti dan beristirahat. Perhentian Allah didasarkan pada manusia yang memerintah.
W.N.