Bab 9
Hukum-Ku di dalam Hati Mereka
Dalam beberapa bab yang di depan, kita terus membangun satu gambaran tentang dunia, supaya orang nampak dunia bukan hanya suatu tempat, bukan hanya semacam orang, sesungguhnya juga bukan hanya barang materi saja, lebih-lebih adalah sistem rohani yang dikepalai oleh musuh Allah. “Dunia” adalah karya besar Iblis, kita nampak Iblis dengan sekuat tenaga, dengan cerdik memakai kemewahan dunia ini. Apa tujuannya? Tentunya untuk menawan orang, supaya orang setia kepadanya; menarik orang, supaya orang menurut kepadanya. Iblis mempunyai satu tujuan: di hati seluruh umat manusia mendirikan otoritasnya. Meskipun dia tahu bahwa otoritas itu hanya bertahan sejangka waktu yang pendek saja, tetapi tidak diragukan lagi ini adalah tujuannya. Ketika akhir zaman ini sudah dekat, ia melipatgandakan aktivitasnya, sehingga penderitaan yang diterima oleh umat Allah juga makin banyak. Karena mereka adalah pelancong dan pendatang, kedudukan mereka ada di dalam dunia, tetapi mereka bukan milik dunia, sebab itu mereka tidak bisa tinggal dengan tenteram. Mereka sangat mengharapkan melalui menjauhkan diri dari tubuh daging, bisa mengurangi ketegangan rohani. Sepenuhnya meninggalkan dunia, selamanya beserta Tuhan, itu sungguh indah!
Tetapi jelas sekali itu bukan kehendak-Nya. Seperti yang kita nampak, Ia berdoa kepada Bapa, jangan menyuruh mereka meninggalkan dunia, tetapi menjaga mereka terlepas dari si jahat itu. Paulus juga mempunyai pikiran yang sama. Dalam satu contoh yang khusus, dia menganjuri kaum beriman di Korintus jangan berhubungan dengan kelompok orang berdosa tertentu, untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin terjadi, tetapi dia segera menjelaskan, maksudnya bukan supaya mereka mengasingkan diri. Mereka tidak perlu memutuskan hubungan dengan semua orang berdosa di dunia, bahkan tidak perlu memutuskan hubungan dengan orang-orang yang disebut itu, karena kalau berbuat begitu berarti mereka harus sepenuhnya meninggalkan dunia. “Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang tamak dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini” (1 Kor. 5:9-10).
Jadi, perkataan Paulus jelas sekali, kita boleh, sebenarnya juga harus, dalam taraf tertentu berhubungan dengan orang dunia, karena bukankah orang dunia dikasihi oleh Allah? Tetapi masalahnya adalah: Sampai taraf apa? Sampai tahapan apa? Kita semua menyetujui, kita terpaksa dalam beberapa hal berkontak dengan perkara dunia, tetapi harus ada batasan. Dalam batasan ini, akan aman; melampaui batasan ini, ada bahaya direpoti oleh Iblis.
Saya tidak merasa bahwa kita terlalu berlebihan melihat hal ini, karena hal ini adalah persoalan yang serius, bahayanya juga sangat nyata. Andaikata Anda sakit keras, sangat menderita, dokter akan memberi resep heroin atau morfin untuk Anda. Anda segera sadar akan terjadi bahaya ketergantungan terhadap obat-obatan itu. Anda akan menurutinya, menerima pengobatan, tetapi Anda juga takut, dengan doa menerima pengobatan ini; karena Anda tahu bahwa di dalamnya ada semacam kekuatan, Anda juga tahu bahwa Anda mungkin akan dikendalikan oleh kekuatan itu. Jika lama pengobatan harus diperpanjang, lebih-lebih akan terjadi demikian.
Kita tidak bisa menghindar dari berkali-kali menjamah dunia, tetapi setiap kali Anda dan saya berkontak dengan perkara dunia dan menjamah dunia, kita seharusnya merasa bagaikan menerima morfin, karena setiap perkara duniawi, di belakangnya ada setan. Sama seperti kalau saya sakit keras, mungkin dokter memberi resep opium; demikian juga, karena saya tetap di dalam dunia, maka saya harus berhubungan dengan orang dunia, melakukan suatu profesi atau pekerjaan untuk menyambung hidup. Tetapi saya tidak tahu bisa menerima berapa banyak obat-obatan yang bahaya, namun masih terhitung aman, tidak sampai terjerumus menjadi ketagihan opium; demikian juga saya tidak tahu bisa membeli berapa banyak barang, bisa untung berapa banyak uang, dalam pekerjaan atau profesi bisa berapa dekat berhubungan dengan orang dunia, baru tidak terkait oleh dunia. Yang saya ketahui ialah di belakang setiap hal duniawi ada kekuatan Iblis. Sebab itu, roh setiap orang Kristen harus mempunyai wahyu yang jelas terhadap dunia, mengenal dirinya benar-benar senantiasa berada di dalam bahaya, wahyu semacam ini sangat penting!
Mungkin Anda mengira saya keterlaluan. Mungkin Anda berkata, “Ya, ini boleh jadi adalah contoh khotbah yang baik, tetapi aku benar-benar merasa bahwa kamu terlalu membesar-besarkan.” Namun, begitu Anda nampak, Anda akan membicarakan dunia seperti membicarakan opium, di belakangnya ada kuasa jahat, ada semacam kuasa yang berusaha membujuk dan menawan orang. Orang yang matanya betul-betul tercelik nampak sifat sejati dunia, akan dengan takut dan gemetar menjamah setiap perkara di dalam dunia, dan terus menengadah kepada Tuhan. Mereka sadar bahwa dirinya mudah sekali sewaktu-waktu tertahan dalam gangguan Iblis. Sama seperti obat yang mula-mula disambut karena bisa mengurangi penderitaan, akhirnya mungkin menjadi faktor yang menimbulkan penyakit. Demikian juga, di bawah otoritas Tuhan, kita bisa dengan sah memakai perkara-perkara dunia, tetapi begitu kita tidak hati-hati, mungkin perkara-perkara itu menjadi faktor yang menyandung kita. Hanya orang bodoh yang masih bisa santai dalam situasi demikian.
Tidak heran, kita semua mendambakan Yohanes Pembaptis! Kita merasa orang seperti dia, bisa menyendiri ke tempat yang aman, betapa nyaman! Tetapi kita tidak seperti dia. Tuhan kita telah mengutus kita ke dunia, mengikuti jejak-Nya, “makan dan minum”. Allah mengasihi dunia, pesan yang Ia berikan kepada kita adalah pergilah ke “seluruh dunia”, memberitakan Injil-Nya; tentunya, “seluruh dunia” termasuk orang yang harus kita temui setiap hari.
Jadi, di sini kita menghadapi masalah yang serius. Sama seperti yang pernah kita katakan, harus ada pembatasan. Mungkin Allah di sana telah memberi garis pembatas. Yang tinggal dalam garis pembatas akan aman, tetapi yang melampaui garis pembatas menghadapi ancaman bahaya yang besar. Tetapi di mana garis pembatasnya? Kita harus makan dan minum, menikah dan dinikahkan, memelihara anak, berjual beli, berjerih payah bekerja. Bagaimana caranya kita melakukan hal-hal ini tanpa tercemar? Bagaimana caranya kita dengan leluasa berhubungan dengan laki-laki dan perempuan yang Allah sangat kasihi bahkan memberikan Anak Tunggal-Nya kepada mereka, tetapi tetap menjaga diri tidak tercemar oleh dunia?
Kalau Tuhan kita membatasi setiap bulan kita hanya boleh melakukan jual beli sejumlah tertentu, itu sangat sederhana! Telah ditentukan, sudah jelas sekali, siapa saja bisa mengikutinya. Misalnya, orang yang setiap bulan menghabiskan uang lebih dari jumlah tertentu, adalah orang Kristen duniawi; orang yang menghabiskan uang kurang dari jumlah tertentu, bukan orang Kristen duniawi.
Tetapi Tuhan kita tidak menentukan jumlah uang itu, kita harus selalu bersandar kepada-Nya. Mengapa? Saya kira jawabannya sangat indah. Tuhan tidak mau kita terikat oleh peraturan, tetapi menghendaki kita terus terikat oleh pembatasan yang lain, yaitu pembatasan hayat. Kalau Tuhan kita memberi kita satu cara atau peraturan untuk kita pelihara, kita bisa dengan sangat hati-hati memelihara semuanya ini. Namun, kenyataannya, tugas kita jauh lebih sederhana dan langsung daripada ini, yaitu tinggal di dalam Tuhan sendiri. Dulu kita boleh memelihara hukum Taurat, hari ini kita hanya perlu menjaga diri kita berada dalam persekutuan-Nya. Perkara yang menggembirakan adalah kalau kita hidup dalam kontak yang intim dengan Allah, ketika kita mencapai garis batas, Roh Kudus-Nya yang di dalam hati kita pasti bisa mengingatkan kita!
Dulu kita berkata bahwa tidak lama lagi kerajaan antikristus akan muncul. Yohanes dalam Surat Kirimannya menulis tentang dunia dan apa yang ada di dalamnya kepada “anak-anak”-nya (1 Yoh. 2:15), selanjutnya memperingati mereka, “Seperti yang telah kamu dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus” (ayat 18). Menghadapi hal-hal ini, menghadapi “roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia” (1 Yoh. 4:3), yang lebih licik ini, mereka harus bagaimana? Bagaimana dengan sederhana mengenal apa itu yang benar, apa itu yang palsu? Bagaimana bisa membedakan jalan apa yang bahaya, jalan apa yang aman?
Jawaban Yohanes kepada mereka begitu sederhana, sampai-sampai kita hari ini tidak berani mempercayainya. “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (1 Yoh 2:20, 27). Ini tentunya mengacu kepada Roh Kebenaran yang Yesus janjikan kepada murid-murid-Nya, Roh ini akan menginsafkan orang dunia, dan memimpin mereka memasuki seluruh kebenaran (Yoh. 16:8, 13).
Dalam perkara apa pun, harus memiliki batas aman yang diketahui oleh Allah, yang tidak seharusnya kita lampaui. Batasan ini tidak ditandai di bumi untuk diperlihatkan kepada kita, tetapi ada satu hal yang pasti: Yang menjadi Penghibur kita pasti mengetahui, Iblis pun mungkin mengetahui. Apakah kita tidak bisa mempercayai Dia? Kalau dalam satu hal kita telah melampaui batas aman, apakah kita tidak bisa segera bersandar kepada-Nya, supaya di dalam kita ada kewaspadaan?
Dalam 1 Korintus 7:29-32a, rasul Paulus dalam tema yang sama memberi pimpinan yang lebih maju lagi. “Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: Waktunya telah singkat! Karena itu, dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolaholah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya, orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekhawatiran.” Di sini berurutan menyinggung beberapa hal, tetapi faktor yang mengendalikan di antaranya jelas sekali, yaitu “waktunya telah singkat”, atau beberapa versi menerjemahkan, “waktunya sudah sulit”. Rasul berkata bahwa kita hidup dalam waktu yang sangat tertekan, untuk waktu-waktu ini, harus dipimpin oleh prinsip ini: “yang mempunyai, seolah-olah tidak mempunyai”.
Kita sangat heran, apakah Paulus kontradiksi? Dalam Efesus 5, ia berpesan kepada yang menjadi suami, harus dengan kasih Kristus kepada gereja, kasih yang sepenuhnya itu, mengasihi istrinya sendiri — tidak boleh lebih kurang dari ini. Tetapi di sini dia memberi tahu mereka, hidup harus seperti tidak mempunyai istri! Kita terkejut, apakah dia benar-benar menghendaki kita mengasihi istri, bersamaan dengan itu juga seperti tidak mempunyai istri? Perkara yang berkebalikan ini bagaimana bisa dipadukan?
Di sini kita harus terlebih dulu berkata, kehidupan yang kontradiksi ini hanya bisa ditempuh oleh orang Kristen. “Yang mempunyai, seolah-olah tidak mempunyai” yang dikatakan oleh Paulus ini mungkin bisa memberi sedikit petunjuk. Perkataan ini mewahyukan bahwa ini adalah perkara yang di dalam, adalah perkara hati kita setia terhadap apa. Di dalam Kristus, terhadap Allah kita mempunyai kebebasan batiniah, bukan hanya perubahan perbuatan lahiriah. Dalam Efesus 5, mereka mempunyai sesuatu, sebab itu mereka bisa bersukacita; tetapi mereka tidak dikendalikan oleh apa-apa yang mereka miliki, sebab itu dalam 1 Korintus 7, mereka tidak mempunyai, tetapi juga bisa bersukacita. Biarpun mereka “mempunyai”, tetapi mereka benar-benar diselamatkan dalam roh, terlepas dari penjajahan dunia, mereka bisa hidup sama seperti “tidak mempunyai”.
Kehidupan orang yang alamiah selalu beraspek dua. Pertama, dia mempunyai sesuatu, lalu sepenuhnya tertangkap oleh sesuatu itu. Kedua, dia giat dalam agama, kemudian meninggalkan semua yang ia punyai, sehingga tidak mempunyai, lalu sama sekali tidak memperhatikan lagi. Tetapi cara orang Kristen berlawanan dengan cara alamiah. Cara orang Kristen menyelesaikan perkara bukan dengan menyingkirkan perkara, melainkan mendapatkan penyelamatan dalam hatinya, terlepas dari pengendalian perkara itu. Istrinya masih ada, kasih terhadap istrinya juga tidak berkurang, tetapi istri dan suami sama-sama terlepas dari pengendalian kasih yang berkelebihan. Sebab itu, meskipun kesulitan yang menyebabkan menangis belum tersingkirkan, tetapi kehidupannya sudah tidak dikendalikan oleh kesulitan itu. Meskipun penyebab sukacita masih ada, tetapi ada pengendalian batiniah yang menyebabkan kita tidak sampai dengan berlebihan melampiaskan perkara yang menyebabkan kita sukacita. Meskipun masih tetap jual beli seperti dulu, tetapi batin kita telah tertolong, sehingga kita tidak lagi dengan erat memegangi perkara itu dan tidak mau melepaskannya. Kita mempunyai perkara-perkara itu; meskipun kita mempunyai, namun “seolah-olah tidak mempunyai”.
Ada kalanya kita berkata bahwa kita damba seperti Yohanes, mempertahankan kesaksian Yesus di bumi. Kita harus ingat, kesaksian itu bukan berdasarkan apa yang bisa kita ucapkan, melainkan berdasarkan apa yang bisa Iblis ucapkan tentang kita. Allah telah meletakkan kita di dalam dunia, Dia juga sering meletakkan kita pada beberapa keadaan yang sangat sulit, di sana kita diuji, merasakan hari-hari orang dunia lebih enak daripada orang Kristen. Ini karena orang Kristen sebenarnya adalah pelancong, meskipun mereka hidup di sini, tetapi lingkungan di sekitarnya bukan milik mereka. Seorang yang berenang mungkin menyelam ke dalam lautan yang dalam, namun kalau tidak mempunyai baju yang khusus dan pelengkapan yang menyediakan oksigen, ia tidak bisa tinggal di sana.Tekanan terlalu besar, dia harus menghirup udara dari dunia di mana ia menjadi bagiannya. Karena ada tugas dan mendapat suplai kekuatan untuk mengatasi lingkungan di sekitarnya, ia baru tinggal di dalam lautan yang dalam; tetapi ia tidak menjadi milik lingkungan itu, di dalam dirinya lingkungan itu tidak mempunyai kedudukan apa pun.
Jadi, masalah kita berkontak dengan dunia tidak bisa diselesaikan melalui perubahan pergerakan di luar apa pun. Ada orang mengira, pada zaman ini, tanda kerohanian adalah jika tidak merencanakan untuk hari esok. Sebenarnya itu bukan rohani, melainkan kebodohan. Berdasarkan rencana kita bisa berbuat apa, hal ini yang akan kita bahas dalam bab terakhir; tetapi firman Allah dengan jelas memberi tahu kita bahwa kita perlu memakai barang-barang dunia. Kita perlu makan minum, jual beli, bercocok tanam, bersukacita, kalau diperlukan, juga menangis, tetapi jangan memakai hal-hal itu sampai melewati batas. Kita telah tahu ada bahaya apa dalam semua hubungan kita dengan dunia bagi kita. Tidak heran kita juga telah belajar untuk berhati-hati mengambil langkah, memperhatikan batasan lemah lembut dari Penghibur.
Yesus “berasal dari atas”, sebab itu Ia bisa dengan berani menyatakan, “Penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku” (Yoh. 14:30). Garis pemisah tidak ditarik pada tanah yang ada di depan kaki-Nya, melainkan di dalam hati-Nya. Demikian juga, semua hal di dunia ini yang “berasal dari atas”, sama kukuhnya dengan Dia. Allah di ujung lain pipa oksigen menggerakkan pompa. Hayat yang berasal dari atas dipertahankan dan disuplaikan oleh Allah. Sebab itu, kalau suatu hal itu rohani, pasti “milik Allah”, kita tidak perlu khawatir untuknya, juga tidak perlu bergumul untuknya agar ia bisa bertahan hidup. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan” (Yoh. 18:36). Mereka tidak perlu berperang.
Allah tidak khawatir untuk kita, karena Dia tidak khawatir untuk Roh Kudus-Nya. Dari satu aspek, tidak mungkin ada hayat rohani yang bermutu rendah, karena hayat rohani adalah hayat Allah; demikian juga, hayat rohani tidak bisa dikalahkan, kecuali Allah juga dikalahkan. Allah tidak berdebat untuk fakta ini. Dia puas dengan pertanggungjawaban Penghibur, supaya perkataan ini di dalam kita menjadi fakta. “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh. 4:4).
Lagi pula, ayat yang sama yang memberi tahu kita bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, juga memberi jaminan kepada kita, “Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah” (1 Yoh. 5:19). Kita berasal dari Allah! Ini adalah fakta yang sungguh hebat, menentang dan mengalahkan fakta jelek yang lainnya! Ada apa lagi yang lebih berkat daripada ini? Kita, orang-orang yang bersandar kepada Yesus, adalah “orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Yoh. 1:13). Puji Dia, karena kita dilahirkan dari Allah, si jahat tidak bisa mencelakai kita (1 Yoh. 5:18).
Singkatnya, di dunia ini, di mana-mana ada kuasa Iblis. Tetapi di mana saja, asal ada orang bertindak di dalam roh, peka terhadap urapan yang mereka terima dari Allah, kuasa Iblis akan sirna. Ada satu garis yang ditarik oleh Allah, yang berada di dalam garis ini, karena penyertaan Allah sendiri, Iblis sama sekali tidak berdaya. Kalau Allah sendiri menguasai semua ruangan, masih adakah tempat bagi si jahat itu untuk berpijak?
Apakah kita demikian mutlak bagi Allah? Apakah Iblis bisa bersaksi bagi Anda dan saya: “Aku tidak berdaya membuat orang ini terjerumus ke dalam jerat”?