Daftar isi Dua Belas Bakul (12) · bab 7/12

Mati terhadap Hukum Taurat, Hidup terhadap Allah

“Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk (terhadap) hukum Taurat, supaya aku hidup untuk (terhadap) Allah.”

Galatia 2:19a

Saya harap saudara saudari memperhatikan bahwa menurut kebenaran Alkitab, ayat ini memiliki satu kedudukan yang sangat besar, satu kedudukan yang sangat penting. Namun, bagi kebanyakan orang Kristen, ayat ini justru tidak memiliki kedudukan. Mungkin Anda telah membaca kitab Galatia sebanyak sepuluh kali, dua puluh kali, tetapi ayat ini tidak masuk ke dalam diri Anda. Banyak saudara saudari yang mengetahui ayat selanjutnya yang mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Tetapi terhadap perkataan dalam ayat 19, sedikit pun tidak menaruh perhatian.

Saudara saudari, sebagaimana Yohanes 3:16 merupakan suatu ayat yang besar dalam Alkitab, demikian juga Galatia 2:19. Berapa banyak anak yang dilahirkan oleh Abraham,Anda boleh tidak mengetahuinya, tetapi Galatia 2:19 tidak bisa tidak Anda ketahui. Karena perkataan sedemikian dalam Alkitab sangatlah khusus, di alam semesta ini juga sangat khusus.

DUA SASARAN DAN DUA PERLAKUAN

Apa yang dikatakan dalam ayat Alkitab ini? Dia mengatakan, “Mati terhadap hukum Taurat, hidup terhadap Allah.” Di sini menyinggung dua sasaran; satu adalah hukum Taurat, satu adalah Allah. Ada dua perlakuan; satu adalah mati, satunya adalah hidup. Dengan mati memperlakukan hukum Taurat, dengan hidup memperlakukan Allah. Dalam alam semesta ini, terhadap hukum Taurat dan Allah, Anda dan saya tidak bisa memperlakukan bersama, memperlakukan setara, dan memperlakukan sama. Hukum Taurat dan Allah mutlak berbeda, perlakuan Anda dan saya terhadap hukum Taurat dan Allah juga mutlak tidak sama.

Saya katakan lagi, di hadapan saya, satu adalah hukum Taurat, satu adalah Allah. Terhadap hukum Taurat aku telah mati, terhadap Allah aku hidup. Hukum Taurat — mati, Allah — hidup. Hukum Taurat harus diperlakukan dengan mati, Allah harus diperlakukan dengan hidup. Mati terhadap hukum Taurat, hidup terhadap Allah. Sungguh sangat diharapkan bahwa kedua perkataan ini bisa tergarap ke dalam saudara saudari. Kita hidup terhadap Allah berarti membiarkan Allah hidup. Kapan saja kita berpaling kepada Allah, saat itu juga kita hidup, dan saat yang bersamaan Allah juga hidup. Begitu kita mati terhadap hukum Taurat, kita telah mati, hukum Taurat juga mati. Ini sungguh adalah satu rahasia.

Agar Allah hidup, hukum Taurat tidak bisa tidak harus mati. Lihatlah “sebab aku telah mati oleh hukum Taurat terhadap hukum Taurat, supaya aku hidup terhadap Allah” (Tl.). Mati oleh hukum Taurat baru bisa hidup terhadap Allah. Sebagai orang Kristen kita tahu bahwa Allah yang kita percayai adalah Allah yang hidup. Namun, hidupkah Allah yang ada di dalam Anda? Apakah Allah hidup di dalam Anda? Agar Allah hidup, tidak bisa tidak hukum Taurat harus mati; tanpa hukum Taurat mati, Allah tidak bisa hidup. Jika hukum Taurat ada kedudukan, Allah tidak akan ada kedudukan. Hidup terhadap Allah adalah suatu hasil, mati terhadap hukum Taurat adalah satu penyebab. Ingin ada hasil, harus ada faktor penyebab; ingin Allah hidup, harus mati terhadap hukum Taurat.

APAKAH HUKUM TAURAT?

Sebenarnya apakah hukum Taurat? Peraturan-peraturan, huruf-huruf, kemauan, keputusan, semuanya ini adalah hukum Taurat. Misalnya, aku tak peduli Allah atau bukan, pokoknya aku sendiri merasa sebagai orang Kristen tentunya tidak bisa tidak menjenguk saudara saudari. Pewajib gereja terus-menerus mengingatkan kita untuk menjenguk, karena itu aku memiliki satu keputusan bahwa setiap hari Rabu dan Sabtu aku keluar menjenguk, setiap minggu sedikitnya menjenguk dua orang. Inilah hukum Taurat. Misalnya, seorang saudari merasa bahwa temperamennya sangat tinggi, sikapnya sombong. Ia lalu berketetapan bahwa sejak hari ini tidak akan begitu meledak-ledak, harus seperti anak domba. Ketetapan semacam ini adalah hukum Taurat. Seseorang memutuskan untuk cinta Tuhan, cinta gereja, keputusan ini pun adalah hukum Taurat. Bukan hanya sepuluh perintah adalah hukum Taurat, bukan hanya perintah dalam Alkitab adalah hukum Taurat, bahkan semua yang kita harapkan, putuskan, tekadkan, pikirkan, rindukan, dambakan, inginkan, kehidupan yang ingin kita tempuh, semuanya itu adalah hukum Taurat.

Saudara saudari, tak peduli orang kafir, atau orang Kristen, atau orang macam apa, asalkan ia adalah manusia, sebagai manusia, ia tidak bisa tidak bertemu dengan hukum Taurat. Manusia pasti memiliki hukum Taurat. Hukum Taurat menyuruh manusia berbuat baik, menyuruh manusia berbuat bajik, menyuruh manusia tirakat. Renungkanlah, bisakah seseorang hidup sebagai manusia tanpa hukum Taurat. Tidak mungkin! Terhadap seorang anak, ketika masih berumur tiga atau empat tahun, orang tuanya sudah memberi tahu mereka untuk tidak ribut, begitu ada tamu datang harus tenang. Ini adalah hukum Taurat. Adakalanya anak kecil juga bisa mendirikan hukum Tauratnya sendiri: Ibu demikian mengasihi aku, aku telah membuatnya marah dan menangis. Aku sungguh bersalah. Selanjutnya aku tidak akan membuat ibu marah lagi. Ini juga adalah hukum Taurat. Anak kecil mempunyai hukum Taurat, orang tua juga mempunyai hukum Taurat. Misalnya, seorang saudari tua di rumah memukul cucunya yang kecil, setelah memukul, kembali ke kamarnya sendiri, merenungkan perkara itu, lalu menyesal, dan memutuskan bahwa di kemudian hari tidak akan marah-marah lagi, akan dengan sabar mendidik cucunya. Angan-angan apakah ini? Inilah hukum Taurat. Setiap orang, setiap hari, mendirikan hukum Taurat bagi orang lain, juga mendirikan hukum Taurat bagi diri sendiri. Dari segi manusia, ini boleh juga benar. Tetapi sebagai orang Kristen, ini adalah masalah.

Lalu, apakah Allah? Allah bertolak belakang dengan hukum Taurat. Dalam pandangan manusia, semakin seseorang memiliki hukum Taurat, semakin beraturan, ia semakin mirip manusia. Namun pengajaran Alkitab adalah agar kita mati terhadap hukum Taurat. Karena hukum Taurat adalah peraturan yang mati, sedangkan Allah adalah hukum Taurat yang hidup. Sebagaimana kita tidak bisa terlepas dari hukum Taurat sehari pun, demikian juga kita tidak bisa terlepas dari Allah sehari pun. Misalnya, kita berketetapan untuk rendah hati, lemah lembut, ini adalah hukum Taurat. Namun kita pun takut tidak bisa lemah lembut, tidak bisa rendah hati, karena itu kita berdoa kepada Allah. Tampakkah Anda? Terlebih dulu mengundang hukum Taurat baru mohon kepada Allah. Misalnya, Anda berketetapan untuk bangun jam 05.30, membaca lima pasal Alkitab. Setelah memutuskannya, Anda lalu berlutut berdoa, mohon Allah mendengarkannya. Kepandaian kita sungguh hebat, menggabungkan bumi dengan langit, langit dengan bumi. Membawa hukum Taurat, juga mengundang Allah, agar membantu kita memelihara hukum Taurat, menggenapkan hukum Taurat. Tetapi saya ingin bertanya, mau datangkah Allah? Allah tidak akan datang. Allah tidak akan datang untuk membantu kita guna menggenapkan hukum Taurat. Ini tidak akan Allah lakukan. Allah menginginkan agar kita mati terhadap hukum Taurat. Begitu kita mati terhadap hukum Taurat, hukum Taurat pun matilah.

TERLEPAS DARI HUKUM TAURAT

BERARTI TERLEPAS DARI BAIK DAN JAHAT

Ketika Adam di Taman Eden, Allah memberi tahu dia untuk tidak berhubungan dengan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hari ini, hukum Taurat di hadapan kita adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; Allah di hadapan kita adalah pohon hayat. Setiap hari kita berjalan mondar-mandir di depan kedua pohon ini. Kita mengira bahwa kejahatan harus kita tolak; kebaikan harus kita bina. Alhasil, kita tidak menolak pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, malah bersandarkan kepandaian diri sendiri untuk menolak yang jahat dan membina yang baik. Kita mengira bahwa hati yang membenci adalah jahat, harus dengan mati memperlakukannya; kasih adalah yang baik, mengapa kita harus dengan kematian memperlakukannya? Tetapi ingatlah, yang jahat harus dihadapi dengan kematian, yang baik juga harus dihadapi dengan kematian. Dalam pengalaman kita, setiap kali kita menghampiri Allah, menjamah Allah, hampir pasti timbul suatu kebaikan. Misalnya, Anda adalah orang yang tidak mengasihi orang lain. Anda berdoa kepada Allah, segera kasih yang mengasihi orang lain itu masuk ke dalam Anda, datang di tengah-tengah Allah dan Anda. Anda mengira bahwa Allah adalah sumber segala kebaikan, maka angan-angan kebaikan ini pasti berasal dari Allah; siapa tahu, ternyata kebaikan ini adalah kebaikan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, masih bukan diri Allah sendiri. Kapan kala Anda tampak pohon hayat, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat akan tersisihkan. Mati terhadap hukum Taurat berarti ketika di dalam Anda muncul suatu angan-angan kebaikan, Anda segera menolaknya seperti Anda menolak angan-angan yang jahat. Anda harus takut terhadap angan-angan kebaikan itu; takut terhadap angan-angan untuk merendahkan hati lebih daripada kesombongan. Anda harus berkata, “Sebagaimana kesombongan membuat hubunganku dengan Allah terputus, merdeka terhadap Allah, demikian juga kerendahan hati membuatku merdeka terhadap Allah. Karena itu aku tidak mau semuanya ini, aku hanya mau Allah sendiri, aku hanya mau Allah hidup di dalam diriku.”

Mohon Allah membelaskasihani kita, agar kita bisa mengesampingkan seluruh peraturan, kemauan, kedambaan, yang baik, yang jahat, dari kehidupan manusia kita. Kita hanya hidup terhadap Allah, membiarkan Allah memiliki kedudukan di dalam kita, bisa berkuasa, beroperasi, membawa kita menempuh hidup, menempuh jalan yang di depan. Mati adalah putus hubungan, hidup adalah senantiasa berhubungan. Memiliki hubungan terhadap hukum Taurat, berarti memutuskan hubungan terhadap Allah. Sekarang kita harus mati terhadap hukum Taurat dan hidup terhadap Allah. Setiap hari dan setiap saat ada persekutuan terhadap Allah, ada hubungan. Bukan peraturan, huruf-huruf, cara, melainkan Allah yang hidup telah menjadi hayat di dalam kita, menjadi kekuatan kita.

W.L