Daftar isi Dua Belas Bakul (12) · bab 6/12

Hayat yang Menang

Dalam berita di depan kita telah melihat bahwa hayat setiap orang Kristen dapat mencapai keselamatan yang penuh, sehingga ia dapat memiliki hati nurani yang murni, dapat memiliki hati yang suci, dapat hidup tanpa kekhawatiran, dapat memiliki pikiran yang tulus, dapat memiliki angan-angan terkonsentrasi. Dapat mutlak taat kepada Allah, dapat mutlak beribadah dan mengasihi Allah, mengalahkan semua kelemahan-kelemahan tubuh, dan dapat mempersembahkan anggota-anggota tubuhnya kepada Allah untuk menjadi alatalat kebenaran yang membawa kepada pengudusan. Setiap orang Kristen dapat mencapai satu taraf di mana dia dapat berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Semua ini bisa terjadi, bisa dicapai. Kini kita perlu membicarakan satu hal, yaitu bagaimana kita mendapatkan hayat yang menang ini.

1. Hayat Kristus Ketika Ia Hidup di Bumi

Ketika Kristus hidup di bumi, Dia taat sepenuhnya kepada Bapa; Dia sama sekali tidak mengasihi dunia, tidak menuruti kemauan-Nya sendiri, baik dalam tutur kata maupun dalam perbuatan. Dia tidak pernah membiarkan pencobaan mengalahkan diri-Nya. Dia tidak satu kali pun berbuat dosa. Dia taat kepada Allah, bahkan taat sampai mati. Inilah hayat Kristus.

Bagaimana dengan kita? Sepenuhnya taat kepada Allah? Tidak. Sejenak pun tidak menuruti kemauan diri sendiri? Tidak mampu. Sedikit pun tidak berbuat dosa? Ah, kita telah berbuat banyak dosa. Sedikit pun tidak mengasihi dunia? Mungkin secara luaran tidak mengasihi, tetapi di dalam hati diamdiam mengasihinya. Siapa yang tidak pernah goyah ketika menghadapi pencobaan? Tidak seorang pun. Kalau demikian, bagaimana ini? Alkitab berkata bahwa orang Kristen harus sepenuhnya taat kepada Tuhan, tidak mencintai dunia, tidak menuruti kehendak sendiri, tidak berdosa, dan tidak goyah oleh pencobaan. Namun saudara saudari, Anda berkata bahwa itu tidak mungkin! Saya juga berkata, tidak mungkin! Banyak di antara kita yang telah menjadi orang Kristen selama satu, dua tahun, dan sebagian besar dari kita telah menjadi orang Kristen selama tiga, lima tahun, atau mungkin lebih lama dari itu. Selama tahun-tahun ini, berapa banyak hasil yang sudah kita capai? Berapa kali dengan sedih kita harus bertobat kembali, bahkan sampai mencucurkan air mata? Di manakah kemenangan itu?

Kita sudah tahu standar yang dikatakan dalam Alkitab mengenai orang Kristen. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh menuruti kehendak sendiri, harus adil dan benar seperti Allah, harus sungguh-sungguh mencari Kerajaan. Namun, pada faktanya, apakah kita seperti itu? Betapa sering kita jatuh dalam dosa. Betapa sering hati kita cemar, emosi kita tak terkendali, diam-diam mengasihi dunia, dan dijajah oleh hawa nafsu daging. Kita tidak suka membaca Alkitab, tidak senang berdoa. Bahkan adakalanya kita ingin berkata bahwa lebih baik tidak menjadi orang Kristen.

Oh! Alkitab berkata, “Harus!” Namun kita berkata, “Tidak mampu!” Harus, selamanya harus; dan tidak mampu, selamanya tidak mampu. Tidak dapatkah kita mohon Tuhan untuk menurunkan sedikit standar kebenarannya? Sekali-kali berdosa, itu tidak apa-apa? Atau, mungkin ada orang yang dapat mengasihi Allah, taat kepada-Nya, menyangkal diri sendiri, dan juga kudus; tetapi standar semacam itu hanya untuk segolongan orang tertentu, bukan untuk aku.

Sebagai kaum beriman kita tampak bahwa walaupun kita tidak mampu, saudara saudari, kita harus tampak, meskipun kita tidak mampu, tetapi ada satu Orang yang mampu, dan Dia adalah Kristus. Kita tahu bahwa kita harus menjadi sempurna, tetapi kita tidak mampu. Namun, Kristus telah melakukannya, dan Dia adalah sempurna. Ini membuat kita mengetahui tiga hal:

(1) Standar kehidupan yang ditetapkan Allah harus diperhidupkan oleh setiap orang Kristen.

(2) Namun, kita tidak mampu melakukannya.

(3) Sepanjang sejarah, hanya ada satu Orang yang mampu melakukannya, yaitu Kristus.

Percayakah kita bahwa kita tidak mampu melakukannya? Ya. Percayakah kita bahwa Kristus dapat melakukannya? Ya. Kita harus, tetapi kita tidak dapat; Kristus sudah mencapai kesempurnaan, dan ini kita akui. Semua ini memperlihatkan kita satu fakta bahwa hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi standar kehidupan yang ditentukan-Nya. Dengan perkataan lain, untuk memperhidupkan satu kehidupan tertentu, diperlukan satu hayat yang sama dengan kehidupan itu. Misalnya, hanya burunglah yang bisa memperhidupkan kehidupan burung; atau seekor binatang memperhidupkan hayat binatang. Jadi, hanya Allahlah yang dapat memperhidupkan kehidupan Allah. Dan karena Kristus adalah Allah, maka hanya Kristuslah yang dapat memperhidupkan kehidupan Allah.

2. Kehidupan Kristiani yang Dikatakan dalam Alkitab

Filipi 1:21 mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Apakah di sini dikatakan “seperti” Kristus? Tidak. Apakah “meniru” Kristus? Tidak. Apakah mengambil Kristus sebagai contoh dan meneladani-Nya? Tidak. Melainkan dikatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Meniru Dia, pasti tidak ada gunanya; menjadi baik, juga sia-sia. Sekalipun kita sekarang dapat membaca Alkitab, berdoa, dan memperhidupkan satu kehidupan yang saleh, tetapi jika hayatnya salah, maka kehidupan kita pun salah. Mendambakan, menangis, menyesal, dan berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku sungguh-sungguh mau taat kepada-Mu.” Demikian memang tidak salah, tetapi ada satu yang salah, yaitu hayat kita yang salah.

Allah tidak hanya menetapkan Kristus mati bagi kita di Golgota, tetapi juga membuat Dia menjadi hayat kita. Semoga kita benar-benar jelas akan hal ini: Tuhan tidak menjadikan kita orang Kristen dengan cara mengajar seekor monyet untuk berbusana, makan, atau bergerak. Mendidik seekor monyet untuk hidup dan berperilaku seperti manusia sangat menyiksanya, sehingga lebih baik ia tetap menjadi seekor monyet daripada belajar menjadi manusia. Tidak! Tuhan tidak memperlakukan kita seperti itu.

Kita membaca Alkitab selama lima menit, tanpa perasaan dan kesan apa pun, hambar; namun buku-buku lain kita baca dengan penuh minat. Kita berdoa tanpa hasil; namun jika tidak berdoa, kita merasa tertuduh. Tidak mengasihi dunia, terasa berat; pergi mengasihi dunia, dalam batin tiada damai sejahtera. Alangkah sulit menjadi orang Kristen. Betapa mustahil memperhidupkan satu kehidupan seperti Tuhan. Kita sungguh menderita! Ketahuilah, kalau masih merasa menderita, itu berarti masih ada harapan; sebab perasaan semacam itu membuktikan bahwa kita sedang berada dalam perjalanan. Kalau orang sudah tidak merasa menderita; saya harus merasa menderita untuknya; sebab ia sudah meninggalkan jalan yang seharusnya ditempuh itu.

Tidak jarang kita hanya diam membisu menyaksikan betapa hebatnya godaan dunia ini. Kita tidak bisa mencela orang lain berbuat begitu karena dalam batin kita juga tergerak olehnya. Adakalanya kita rindu menjadi seperti orang-orang yang begitu taat kepada Tuhan, membelakangi dunia, dan selalu memandang wajah-Nya. Kita berusaha sekuatnya untuk mencapainya, tetapi betapa sulit! Saudara saudari, jika Allah menginginkan kita menjadi orang Kristen semacam itu, sungguh sangat sengsara! Siapa yang dapat meraih standar yang setinggi itu? Andaikata menyuruh anak usia lima tahun mengangkat beban seberat 150 kilogram, ini sungguh kejam; apa lagi menyuruhnya mengangkat beban seberat 500 kilogram, itu di luar batas peri kemanusiaan! Demikianlah, menyuruh orang Kristen mencoba memperhidupkan satu kehidupan seperti Allah, ini jauh lebih celaka daripada menyuruh seorang anak untuk mengangkat 300 atau 500 kilogram.

Adakalanya, kita ingin mencoba, berusaha melakukannya dengan menahan derita, damba bisa mencapainya. Namun apa hasilnya? Sebelum satu dosa dibereskan dengan tuntas, dosa yang lain sudah muncul. Satu pertobatan atas suatu perkara belum beres, sudah muncul lagi perkara yang sama. Sebelum air mata penyesalan mengering, perkara yang membuat kita menangis itu telah datang lagi. O, saudara saudari, betapa baiknya jika kita bisa percaya bahwa kita “tidak dapat”. Allah tidak menghendaki kita mencoba melakukan. Alkitab memberi tahu kita bahwa hayat yang Dia berikan kepada kita bukanlah hayat yang setelah jatuh akan bertobat kembali dan demikian berulang terus. Dia menghendaki kita “hidup adalah Kristus”, yakni Kristus di dalam kita memperhidupkan kehidupan-Nya sendiri.

Maria memberi Tuhan sebuah tubuh, dan melaluinya Tuhan menyatakan satu kehidupan Allah. Demikian juga kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan serta menerima Kristus, Dia bisa membuat kita memperhidupkan hayat-Nya dan hidup sebagaimana Dia pernah hidup.

Saudara saudari, perhatikan baik-baik: menjadi suci, tidak menuruti kemauan diri sendiri, mengasihi Tuhan dengan sebulat hati, dan taat sepenuhnya kepada Dia, bukanlah perkara berusaha atau meniru; melainkan karena Kristus yang telah Allah sediakan bagi kita. Inilah keselamatan penuh. Allah menyediakan Kristus untuk dua tujuan: di satu pihak Kristus memelihara hukum bagi kita; di pihak lain Dia hidup di dalam kita supaya kita bisa memelihara hukum Allah. Di satu pihak, Dia mati bagi kita; di pihak lain, Dia hidup di dalam kita. Di Golgota Dia merampungkan keselamatan bagi kita; sekarang Dia mengerjakan di dalam kita apa yang telah dirampungkannya. Di Golgota Dia membenarkan kita; sekarang, di dalam kita, Dia membuat kita benar. Dia tidak hanya taat kepada Allah, tetapi juga hidup di dalam kita dan membuat kita taat kepada Allah. Dia bukan hanya mengerjakan segala sesuatu bagi kita, tetapi juga mengerjakan segala sesuatu di dalam kita.

Di sini, kita baru tampak pentingnya kebangkitan. Paulus berkata, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, . . . kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor. 15:17). Perhatikanlah, Paulus tidak berkata bahwa catatan dosa tidak dihapuskan. Sebab oleh kematian Kristus catatan dosa itu telah dihapuskan. Tetapi jika Kristus tidak dibangkitkan dari antara orang mati, kita masih hidup dalam dosa-dosa kita; dan keselamatan yang kita terima hanyalah separuh. Sewaktu memberitakan Injil, kita sering menggunakan perumpamaan ini: yaitu kita, orang-orang dosa, adalah seperti orang yang berutang; Kristus adalah seorang sahabat yang kaya raya; kematian-Nya sebagai sahabat kita, telah melunasi semua utang kita. Tidak diragukan, ini adalah kabar baik, tetapi sayang, ini tidak lebih dari separuh keselamatan. Benar, Kristus sudah melunasi utang-utang kita, tetapi jika Dia hanya membayar lunas semua utang kita, dapatkah perbuatan yang terbatas ini menjamin kita untuk tidak membuat utang baru lagi? Apakah kita tidak akan membuat utang baru lagi jika Kristus hanya melunasi utang-utang lama kita? Benar, sahabat kita telah melunasi utang-utang yang lalu; namun, setelah sejangka waktu kemudian, kita akan jatuh ke dalam utang yang harus dibayar oleh sahabat kita itu lagi. Bukankah ini membuktikan bahwa jika Kristus hanya mati bagi dosa-dosa kita, yang kita terima hanyalah keselamatan separuh. Meskipun sahabat duniawi kita dapat membayar lunas utang-utang kita, namun kita masih dapat jatuh ke dalam utang yang baru. Walaupun Kristus sahabat surgawi kita telah mati bagi kita, tetapi kita masih di dalam dosa-dosa. Mungkinkah keselamatan Allah hanya seperti itu?

Oh! Keselamatan Allah membuat Kristus mati di Golgota bagi kita, juga membuat Kristus hidup di dalam kita. Dia tidak hanya melunasi semua utang kita, tetapi juga hidup di dalam kita, agar kita jangan berutang lagi. Allah tidak hanya menyelamatkan kita agar terluput dari neraka dan masuk Surga, tetapi juga menyelamatkan kita sedemikian rupa sehingga Kristus menjadi hayat kita. Kalau Anda hanya menerima separuh dari keselamatan, Anda akan menderita dan tidak dapat mengalami sukacita keselamatan yang penuh. Yesus Kristus adalah hayat kita. Allah tidak menuntut orang Kristen untuk berbuat ini dan itu. Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Karena Kristus hidup di dalamnya, maka Paulus dapat menanggung segala siksaan, aniaya, bahaya, dipenjarakan di Yerusalem, dan dipindahkan ke Roma. Dia tidak menjadi seperti Kristus, bukan pula meniru Kristus, melainkan karena Kristus hidup di dalamnya, maka dia bisa demikian. Jika tidak, dia pun tidak akan mampu. Seperti kera tidak dapat diubah menjadi manusia, demikian pula orang Kristen tidak dapat belajar meniru Kristus.

Filipi 2:12-13 mengatakan, “. . . karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, . . . karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 1:21 membicarakan pengalaman pribadi Paulus; sedangkan kedua ayat di sini membicarakan apa yang dapat dialami oleh setiap orang Kristen.

“Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”. Banyak orang begitu membaca sampai sini, lalu mengira bahwa mereka harus mengerjakan keselamatan mereka sendiri. Demikianlah mereka bertekad untuk bangun pagi-pagi, membaca Alkitab, dan bersaksi dengan penuh semangat. Namun mereka tidak berhasil, karena mereka mengabaikan ayat 13 yang mengatakan, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Kata “karena” mengindikasikan bahwa ini adalah “penyebab”; sedangkan “mengerjakan keselamatanmu” dalam ayat 12 tak lain adalah “akibat”.

Apa yang biasa kita lakukan sehari-hari terdiri atas dua hal: 1. Bertekad, ini adalah kemauan di batin; dan 2. Bekerja, ini adalah perbuatan yang di luar. Jadi, kedua perkara inilah yang membangun hidup kita. Di dalam batin kita merencanakan, di luar (di lahir) kita mengerjakan. Tetapi baik bertekad maupun bekerja adalah hasil dari Allah yang mengerjakannya di dalam kita lebih dulu. Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa kita harus bertekad dan bekerja; melainkan Ia mengatakan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Pertama-tama Allah bekerja di dalam kita sehingga membuat kita dapat bertekad dan bekerja. Karena Allah telah bekerja di dalam, maka kita dapat mengerjakannya di luar. Tanpa pekerjaan yang pertama, yang kedua takkan ada.

Kita sering berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku mau taat kepada-Mu dengan mutlak, tetapi ini sangatlah sulit. Aku tidak ingin mengasihi dunia, namun betapa beratnya perkara ini. Aku tidak ingin mengasihi diri sendiri, tetapi hal ini sulit dilakukan.” Namun, keselamatan yang Allah berikan kepada kita adalah: Allah dapat mengerjakan di dalam kita serta membuat kita taat kepada-Nya dengan mutlak, tidak mengasihi dunia, juga tidak mengasihi diri sendiri. Walaupun di dalam diri kita sendiri kita tidak mampu, tetapi Allahlah yang mengerjakannya sehingga kita mampu.

Apakah keselamatan yang penuh? Tidak berarti bahwa hari ini kita terlepas dari satu dosa dan esok hari satu dosa yang lain lagi. Keselamatan yang penuh berarti menerima Kristus yang penuh. Memiliki Kristus yang demikian berarti mempunyai keselamatan yang penuh. Orang Kristen yang paling sulit dibantu adalah orang yang matanya tidak bisa tampak Kristus. Yang dia lihat hanyalah kebaikan atau keburukannya sendiri; yang dia perhatikan adalah salah satu dosanya, atau gangguan orang lain, atau daya tarik sesuatu barang. Karena hal-hal tersebut dia gusar dan membenci diri sendiri, berusaha mengatasinya. Ini adalah satu kesalahan besar. Allah tidak menyuruh kita mengatasi perkara demi perkara, menampilkan perbuatan baik demi perbuatan baik; tetapi Dia menyuruh kita untuk menerima Kristus yang penuh.

Misalnya, ada seorang anak yang sangat suka makan buah-buahan. Hari ini ia ingin makan buah pear, maka pergilah ia ke perkebunan buah untuk membeli beberapa buah pear. Esok harinya ia ingin makan apel atau peach, maka ia pun pergi ke perkebunan buah lagi untuk membelinya. Kemudian, ia tahu bahwa ternyata pemilik perkebunan itu adalah ayahnya sendiri; dan ayahnya mewariskan perkebunan itu kepadanya. Karena kini seluruh buah-buahan dalam perkebunan itu menjadi miliknya, maka hal makannya kini berubah. Demikian pula orang Kristen, hari ini damba berbuat begini dan besok berbuat begitu. Hari ini perlu kesabaran dan besok perlu kasih. kita mirip dengan anak yang hari ini membeli buah pear dan besok membeli buah apel atau peach. Namun Allah mengundang kita untuk menerima Kristus yang penuh; kebun buah-buahan rohani milik Allah itu sekarang menjadi milik kita seluruhnya. Kalau membeli eceran, maka setiap kali ada kebutuhan, ia harus pergi untuk membeli.

Saya tidak berkata bahwa kita tidak membutuhkan kesabaran atau kasih. Kita harus sabar, juga harus memiliki kasih. Namun kalau kita melakukannya satu per satu, kita tidak akan mampu. Jika kita berusaha berbuat demikian, maka kita akan menjadi semakin mencintai dunia, semakin sombong, dan semakin mengikuti kehendak sendiri. Kita harus tahu bahwa seluruh “kebun buah itu” adalah milik kita. Allah menghendaki kita memiliki satu sasaran bersama, yaitu memiliki Kristus yang penuh. Kristus yang di dalam kita dapat membuat kita berkemauan dan bekerja untuk perkenan-Nya.

Mungkin dulu Anda telah mendengar tentang kebenaran bahwa Kristus memperhidupkan hayat-Nya di dalam kita; tetapi sudahkah Anda memiliki ini dalam pengalaman? Sering kali, meskipun kita sudah tahu, kita masih saja berusaha, namun tetap gagal.

Satu Korintus 1:30 mengatakan, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” Jika ayat ini kita baca dengan cermat dan hati-hati, kita akan tahu bahwa sewaktu kita beroleh selamat, Allah telah menjadikan Kristus kebenaran dan pengudusan pribadi kita. Karena itu, jika ada orang bertanya, “Apakah pengudusan itu? Jawabannya adalah: Kristus. Apakah kemenangan itu? Kristus. Apakah ketekunan dan rendah hati? Kristus. Orang yang dapat menjawab demikian, berarti telah menemukan rahasianya. Seluruh diriku bejat dan bersifat daging, tetapi Kristus itu kudus, Dialah pengudusanku. Tidak ada seorang pun yang kudus dan menang; hanya ada satu jalan, yaitu kita berkata kepada Tuhan, “O, Tuhan, aku menerima Putra-Mu!”

3. Kapan Kristus Tinggal di dalam Kita?

Jika benar hanya Kristus yang mempunyai hayat yang menang, kapankah Dia mulai berhuni di dalam kita? Kita harus tahu bahwa sejak diselamatkan, kita telah memiliki Kristus. Satu Yohanes 5:12 berkata, “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup.” Yohanes 1:12 mengatakan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Ketika kita percaya, kita segera mempunyai Kristus. Dua Korintus 13:5 mengatakan, “Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” Siapakah yang dipandang tidak tahan uji oleh Tuhan? “Dan siapa saja datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37b). Sudahkah Anda datang kepada Tuhan? Jika kita sudah datang kepada-Nya, maka kita akan tahan uji. Apa yang kita miliki? Kita mempunyai Kristus di dalam kita. Jadi kalau ada orang memberi tahu bahwa walaupun sudah percaya kepada Tuhan, namun Anda belum mempunyai Kristus di dalam; itu adalah salah besar. Kalau Anda belum beroleh selamat, Anda harus menerima Kristus; tetapi bila sudah, Kristus sudah ada di dalam Anda.

4. Bagaimana dapat Membiarkan Kristus Memperhidupkan Hayat-Nya

di dalam Kita?

Kita tahu bahwa hanya Kristuslah Sang Pemenang. Kita juga tahu bahwa Dia berhuni di dalam kita; ketika percaya kepada-Nya, kita mendapatkan Dia. Namun, hari demi hari, tampaknya aku tetap aku, sedikit pengaruh pun tidak ada. Apa yang harus kita perbuat agar Kristus dapat memperhidupkan hayat-Nya di dalam kita? Ada dua cara atau dengan kata lain ada dua syarat.

Pertama, Berserah

Memang benar, Kristus ada di dalam kita, tetapi Dia tidak dapat berbuat apa-apa kalau kita tidak mempersilakan-Nya bekerja. Kita harus taat kepada Allah. Apakah berserah itu? Berserah bukan berarti berjanji kepada Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya dan berbuat baik, juga bukan berarti membuat perjanjian dengan Tuhan untuk melakukan apa yang tidak dapat dilakukan. Berserah berarti melepaskan tanganku dari hayatku, meletakkan kebaikan, keburukan, kekuatan, kelemahan, masa lalu, masa depan, persoalan, hayat, dan diriku ke tangan Tuhan, membiarkan Dia sendiri yang bekerja.

Jika kita tidak menarik tangan kita, Tuhan tidak dapat memperhidupkan hayat-Nya dari dalam kita. Misalkan Anda memberikan sebuah buku kepada seseorang, tetapi tangan Anda tidak mau melepaskan buku itu; orang lain tentu tidak dapat menerima buku tersebut. Pada saat kita datang kepada Tuhan, kita harus berkata, “Aku menyerahkan yang baik, buruk, suka, tidak suka, mau, tidak mau, rela, tidak rela, mampu, tidak mampu, semuanya, kepada-Mu.” Maukah kita berbuat demikian? Jika tidak mau, Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kita. Kita bertanggung jawab untuk berserah diri sendiri yang gagal ini kepada Tuhan. Hari ini, Allah sedang menunggu kita untuk merelakan diri berserah kepada-Nya.

“Berserah” bukan berarti Allah menghendaki kita melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan; melainkan hanya menyuruh kita menyerahkan kebaikan, keburukan, kekuatan, kelemahan, segala sesuatu kita. Pada suatu hari, saya membaca sebuah kisah tentang seorang anak muda yang menyatakan bahwa dia rela untuk melakukan apa saja kecuali satu hal. Yaitu jika Tuhan mengutusnya untuk berkhotbah di antara orang-orang tertentu, dia akan menolaknya. O, saya mengajukan satu pertanyaan, maukah Anda menyerahkan hati yang tidak rela itu kepada Tuhan?

Berserah mengandung dua aspek: pertama, yaitu konsikrasi untuk dipakai oleh Allah. Kedua, konsikrasi untuk membiarkan Allah bekerja. Banyak orang yang beranggapan bahwa berserah adalah konsikrasi untuk dipakai oleh Tuhan, sementara mereka mengabaikan aspek yang kedua. Sebenarnya Tuhan hanya ingin Anda untuk melakukan satu perkara, yaitu sejak kini menyerahkan diri sendiri kepada Tuhan. Berserah yang demikian ini disebut kematian diri (ego), inilah terlepas dari daging. Anda harus menyerahkan diri Anda sendiri. Maukah Anda? Jika Anda mau, Anda berhasil.

Betapa sulit untuk melepaskan tangan Anda dari orang atau barang yang Anda sayangi. Dengan terus terang saya katakan, inilah yang paling sulit. Anda merasa bahwa harga yang harus dibayar terlalu tinggi, karena itu Anda enggan meletakkannya. Misalkan Anda tahu bahwa Anda sering gagal dalam masalah persahabatan. Betapa sulit bagi Anda untuk berkata kepada Tuhan, “Tuhan, sahabatku itu baik atau buruk, kuserahkan kepada-Mu. Aku mohon Engkau menyelamatkan aku.” Contoh lain, kalau Anda berdoa untuk orang-orang yang tidak ada hubungan dengan Anda, dengan mudah Anda percaya bahwa Allah akan menolongnya. Apakah kemudian orang itu sembuh atau tidak, Anda akan melewatkannya dengan begitu saja; tetapi kalau yang sakit itu orang tua atau istri atau suami atau keluarga Anda, Anda sangat sulit menyerahkannya kepada Allah. Jika tidak ada orang yang menolong, dan dia tidak sembuh, maka Anda khawatir dia akan meninggal. Ini membuktikan bahwa terhadap sesuatu yang Anda sayangi, semakin sulit untuk melepaskan tangan Anda.

Yang Allah minta bukan jumlah kebajikan yang Anda perbuat. Dia hanya menyuruh Anda menyerahkan segala sesuatu Anda kepada-Nya. Kita mengalami banyak kekalahan yang membuat kita merasa putus asa. Sampai beberapa bulan yang lalu, Aku masih mempunyai satu dosa yang belum dapat kuatasi. Aku kurang iman untuk menyerahkannya kepada Tuhan. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, berkali-kali, aku berusaha mengatasinya, namun sia-sia. Akhirnya, aku pun demikian berserah kepada Tuhan. Masalahnya hari ini adalah apakah kita mau menyerahkan diri sendiri kepada Tuhan dengan tuntas atau tidak. Tidak peduli manusia, dunia, dosa atau apa pun juga, jika dengan kekuatan sendiri, Anda tidak mampu mengatasinya. Asal Anda mau berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, kuserahkan kepada-Mu apa yang tidak dapat kulepaskan. Bekerjalah sampai aku rela melepaskannya.” Saya tidak khawatir kalau Anda tidak dapat melepaskan, saya juga tidak khawatir kalau kelemahan Anda berlipat hingga seratus kali, atau jika Anda berbuat lebih banyak dosa; yang saya khawatirkan ialah Anda tidak mau menyerahkan diri Anda kepada Allah, agar Allah bekerja di dalam Anda. Maukah Anda menyerahkan orang yang Anda sayangi itu kepada Tuhan? Maukah Anda menyerahkan dosa tertentu, masalah tertentu, perkara yang tidak diperkenan Allah itu kepada-Nya? Masalahnya tidak terletak pada adanya puluhan ribu kelemahan dan kekalahan yang Anda miliki, tetapi maukah Anda berkata kepada Tuhan, “Tuhan! Kuserahkan segala sesuatuku kepada-Mu.”

Berserah ini tidak bertujuan untuk membuat Anda menderita, sengsara; melainkan agar Anda mau membiarkan Tuhan bekerja di dalam Anda sampai Anda benar-benar rela.

Berserah tidak menuntut Anda melakukan hal yang tidak dapat Anda lakukan. Ia hanya menuntut Anda menyerahkan diri sendiri kepada Tuhan serta membiarkan Dia bekerja sehingga Anda siap untuk menaati Dia serta rela untuk melepaskan segala perkara. Jika Anda mau, Tuhan mendapatkan jalan. Allah “tidak takut” pada besarnya dosa atau bejadnya manusia; Dia hanya “takut” bahwa hati manusia tidak berada di tangan-Nya.

Pendek kata, berserah berarti taatnya tekad kita, yaitu menyerahkan diri sendiri ke dalam tangan Tuhan serta membiarkan-Nya bekerja hingga Dia berkenan.

Kedua, Percaya

Karena kita sudah berserah, kita harus percaya bahwa Allah pasti dapat menyelamatkan kita dari apa yang kita sayangi, yang tidak dapat, dan yang tidak rela. Mazmur 37:5 mengatakan, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” Berserah dan percaya; hasilnya adalah Ia akan bertindak. Karena kita tahu bahwa kita tak dapat berbuat apa-apa, maka kita menyerahkan diri kepada Tuhan dan percaya bahwa Dia yang berhuni di dalam kita akan merampungkan semuanya.

Dapatkah Anda berkata bahwa Anda telah menang? Haleluya! Saya dapat berkata bahwa saya telah menang, karena Alkitab demikian memberi tahu saya. Sayang sekali, iman kita tidak hanya tidak lebih besar daripada biji sesawi, malah lebih kecil dari sebutir debu! Kalau kita beriman, Tuhan akan bekerja. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Dia hanya menggunakan mulut-Nya; Dia hanya berkata, “Jadilah terang” maka terang pun jadilah! Kalau kita beriman, tentu Dia akan bekerja, sebab Allah damba untuk merampungkan pekerjaan-Nya.

Beberapa minggu yang lalu, seorang saudara mencari saya untuk berbincang-bincang. Dia mengatakan bahwa dia memiliki 3 atau 4 dosa yang tidak dapat diatasi; kadang-kadang dia bahkan merasa ingin bunuh diri. Saya bertanya kepadanya, “Apakah Anda percaya Kristus dapat menyelamatkan Anda dari dosa Anda?” “Ya,” jawabnya. Kemudian dia melanjutkan lagi, “Namun aku berbuat dosa lagi dan berbuat lagi. Dosa-dosa yang lain sudah kukalahkan, tetapi beberapa dosa ini masih saja muncul.” Kemudian saya membaca Roma 8:1 bersamanya, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Saya bertanya kepadanya, “Alkitab memberi tahu kita, ada satu syarat untuk diselamatkan, yaitu di dalam Kristus. Apakah Anda ada di dalam Kristus?” “Ya, aku ada di dalam Kristus,” jawabnya. Saya meneruskan pembicaraan sambil membacakan ayat berikutnya “Hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (ayat 2 Tl.). Dia menanggapi, “Alkitab berkata bahwa aku telah dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut.” Saya bertanya, “Apakah Anda telah merdeka?” Dia menjawab, “Aku tidak berani berkata begitu.” Saya pun berkata, “Kalau begitu, di manakah imanmu?”

O! Saya tidak takut orang lemah, rusak, berdosa; tetapi saya takut terhadap semacam orang, yaitu orang yang tidak percaya kepada firman Tuhan. Betapa mustikanya firman yang mengatakan, “memerdekakan” kamu, bukan “akan memerdekakan”. Benarkah kita percaya?

Kristus sudah mati bagi Anda. Kalau Anda percaya, Anda memiliki hidup kekal. Apakah buktinya? Buktinya ialah: Alkitab mengatakan demikian. Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa “hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Jadi saya sudah merdeka, sudah terlepas dari hukum dosa dan hukum maut. Sekalipun ada ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu dosa, aku sudah diselamatkan dari semua itu! Bahkan aku sudah terlepas dari kematian rohani yang berasal dari Adam.

Saudara saudari, percayakah Anda pada firman ini? Percayakah bahwa Anda sudah dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut? Alkitab mengatakan bahwa Anda sudah dimerdekakan. Kalau Anda benar-benar percaya, Anda akan berseru, “Haleluya, Puji Tuhan! Aku sudah merdeka dari hukum dosa dan hukum maut oleh karena firman Allah yang mengatakannya!” Apakah Anda mempunyai satu dosa tertentu atau pikiran-pikiran najis yang tidak dapat ditanggulangi? Kalau demikian, ketahuilah bahwa Injil yang diberitakan pada Anda hari ini mengatakan bahwa hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan Anda dalam Kristus dari dosa tersebut.

Kita harus tampak bahwa berserah dan iman sangat erat hubungannya. Kalau kedua tindakan ini disatukan, pasti ada kemenangan dan bukan kekalahan. Kalau kita hanya percaya, tetapi tidak mau menyerahkan hayat kita kepada Tuhan sebagai ganti hayat Kristus, kita akan kalah. Walau pada waktu dilahirkan kembali kita telah mendapatkan hayat Kristus, tetapi kalau kita tidak mau menyerahkan tekad kita kepada-Nya, untuk membiarkan Kristus hidup di dalam dan tampil melalui kita, Allah tidak akan memaksa kita. Jika kita hanya berserah tetapi tidak percaya, maka penyerahan kita akan menjadi sejenis perbuatan mati. Sebab walaupun kita siap untuk membiarkan Tuhan bekerja, tetapi kita tidak memberikan kesempatan bagi-Nya untuk masuk.

Karena itu kita harus (1) menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Kuserahkan segala sesuatuku kepada-Mu, aku mau membiarkan Engkau bekerja. (2) Aku percaya bahwa Tuhan telah bekerja menurut firman-Nya.

Kristus telah memikul semua peperangan bagi kita. Pemerintahan ada di atas bahunya. Kita harus percaya kepada-Nya dari hari ke hari. Iman harus berlangsung terus, sedang penyerahan dilakukan sekali dan untuk selamanya. Kita boleh berserah kepada Tuhan sekali dan tidak usah melakukannya lagi (walaupun beberapa orang berserah secara berangsur-angsur, tetapi sebenarnya tidak perlu demikian). Karena kita telah berserah kepada Tuhan, maka kita harus percaya bahwa Dia akan membuat Kristus memperhidupkan kekudusan-Nya dan kemenangan-Nya di dalam dan melalui kita. Dulu kita diselamatkan dari hukuman neraka; kini kita diselamatkan dari kuasa dosa. Selain berserah dan percaya, tidak ada hal lain yang perlu dilakukan. Semoga setiap orang di antara kita benar-benar dapat membuktikan bahwa kita menang.

Saudara saudari, cukup percaya! Tidak percaya, tak ada gunanya; percaya, pasti ada perubahan. Karena Allahlah yang mengatakannya. Kita harus bersyukur kepada-Nya! Demikianlah kita percaya dengan polos, tanpa berdasarkan perasaan. Apa pun yang dikatakan firman Tuhan, jadilah demikian. Walaupun kita belum pernah melihat surga atau neraka, namun kita percaya, sebab firman Allah mengatakannya. Percaya tidak memerlukan bukti. Kita hanya perlu satu bukti, yaitu firman Tuhan. Bukan karena kita melihat kalau kita berubah, tetapi karena kita percaya apa yang difirmankan Tuhan. Percaya, akan berubah; tidak percaya, tidak berubah.

Pada suatu hari saya bertanya kepada seorang saudara, “Apakah Anda percaya Roma 8:2.” Ia menjawab, “Ya”. Saya bertanya lagi, “Kalau esok hari Anda bangun pagi, lalu berbuat dosa lagi, apa yang akan Anda perbuat? Andaikata Anda masih berbuat dosa lagi, apa yang akan Anda perbuat?” Saudara ini tidak dapat menjawab. Saudara saudari, bahaya terbesar terletak pada pencobaan pertama. Iblis akan berkata, “Berserah dan percaya itu sia-sia. Bukankah kamu telah berbuat dosa lagi. Apa bedanya dengan keadaanmu sebelumnya, bukankah sama saja?” Namun, saudara saudari, saya sudah berkata, dan akan berkata lagi bahwa iman itu “panjang umur”. Yang pendek umurnya bukanlah iman. Dari semua yang hidup di dunia, imanlah yang paling berumur panjang. Begitu pencobaan datang, dan Tuhan berkata bahwa kita menang, kita pasti menang; pencobaan terkalahkan. Bagaimana Anda menanggulangi pencobaan yang pertama, itu membuktikan apakah Anda memiliki iman.

Suatu hari, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Yesus sedang tidur di buritan. Murid-murid membangunkan Yesus dan berkata, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” Ia pun bangun, membentak angin itu. Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk. 4:35-40). Kalaupun Tuhan telah menyuruh mereka menyeberang, pastilah mereka dapat mencapai ke seberang. Angin boleh saja bertiup kencang dan gelombang boleh semakin dahsyat; tetapi tidak ada satu pun yang dapat menghalangi mereka untuk tiba di seberang; sebab Tuhanlah yang menyuruh mereka. Jadi yang paling penting adalah percaya kepada firman Tuhan. Kalau Tuhan berfirman, itu sudah cukup; jangan pedulikan yang lain.