Daftar isi Dua Belas Bakul (12) · bab 5/12

Ruang Lingkup Keselamatan Orang Kristen

Kita semua tahu, sebagai orang berdosa kita telah menerima hidup kekal melalui iman. Hari ini kita akan melihat sampai sejauh mana Allah menyelematkan kita melalui Kristus. Dengan kata lain, kedudukan apa yang akan kita capai sebagai pribadi-pribadi melalui keselamatan yang telah dirampungkan Kristus.

Satu hal yang saya perhatikan pada dua, tiga tahun belakangan ini, yaitu saya merasa ada sesuatu yang “kurang” dalam hidup (hayat) kristiani saya secara pribadi. Ketika membaca Alkitab, saya harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Alkitab, yang seharusnya saya miliki itu, tidak ada pada saya. Meskipun ada banyak orang Kristen yang hidupnya lebih kasihan daripada saya, dan walaupun beberapa saudara yang mempunyai pengalaman yang dalam dengan Tuhan telah meyakinkan bahwa saya telah memiliki apa yang seharusnya saya miliki, namun demikian saya tetap merasa belum memiliki semua yang dikatakan oleh firman Tuhan, yang seharusnya saya miliki. Puji Tuhan! Sekarang saya telah tahu! Di dalam Kristus benar-benar ada hal-hal yang lebih baik, dan hal-hal itu bisa diperoleh, bahkan bisa diperoleh sekarang!

Yang akan saya persekutukan dalam berita ini ialah ruang lingkup warisan kita di dalam Kristus Yesus. Ini bukan mengacu kepada warisan kelak di dalam surga, karena ini pasti menjadi milik kita kelak; bukan tentang hidup kekal, karena ini telah diperoleh sewaktu dilahirkan kembali; bukan pula kemuliaan dalam Kerajaan, karena ini akan di nikmati di dalam Kerajaan Seribu Tahun. Yang hendak saya tekankan di sini adalah sampai sejauh mana hari ini Allah dapat berbuat untuk keselamatan pribadi kita.

Marilah kita membaca beberapa ayat Alkitab. Kita akan membaca dan membahasnya satu persatu, untuk melihat sampai sejauh mana hari ini Allah dapat menyelamatkan kita.

1. Hati Nurani

Ibrani 9:14 mengatakan, “Terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia (mati), supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Ayat ini menerangkan kita sampai sejauh mana Kristus dapat menyelamatkan hati nurani kita. Darah-Nya dapat menyucikan hati nurani kita, bisa menyingkirkan perbuatan kita yang mati.

Saudara saudari, hari ini cobalah bertanya kepada hati nurani Anda sendiri, apakah Anda merasa tertuduh? Kalau hati nurani Anda selalu merasa tertuduh, itu berati apa yang Anda peroleh belumlah seluruhnya. Tuhan menyelamatkan kita dan darah-Nya mencuci bersih hati nurani kita, sehingga tidak ada tuduhan lagi. Ketika kita bersidang, kita berdoa, “Tuhan, terima kasih, karena hati nurani kami telah dipercik oleh darah-Mu, sehingga terhindar dari hati nurani yang jahat”, tetapi setelah itu, sering kali kita kembali merasa tertekan. Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu itu hati nurani kita hanya ditutupi, diselubungi. Namun darah Putra Allah dapat membasuh bersih hati nurani kita. Jadi kalau masih ada tuduhan dalam hati nurani Anda, itu berarti keselamatan yang Anda terima belum utuh. Ini bukan berarti keselamatan Allah tidak dapat menyelamatkan Anda sampai tahap demikian. Puji syukur kepada Allah! Dia sanggup menyelamatkan kita sampai hati nurani kita benar-benar terbasuh. Dia sanggup!

2. Hati

Markus 7:21-23 mengatakan, “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” Matius 5:8 mengatakan, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Tl.). Kedua ayat ini membicarakan keadaan asli hati kita yang najis, dan Kristus sanggup menyelamatkan hati kita hingga murni.

Hati yang dibicarakan oleh Markus adalah hati alami kita, hati pembawaan kita. Bagaimanakah keadaannya? Tuhan Yesus berkata bahwa semua hal yang jahat itu timbul dari dalam hati manusia. Oh, alangkah banyak kejahatan yang timbul dari dalam hati! Namun Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang (murni) hatinya.” Tuhan sanggup menyelamatkan hati yang jahat itu sehingga menjadi hati yang murni.

Keselamatan hati kita itu berarti menekan hal-hal yang jahat di dalam supaya jangan muncul ke luar, melainkan dibasuh bersih dari dalam. Kalau kita hanya sekadar menyelubungi atau menutupi hati kita, itu bukan keselamatan; sebab yang kita peroleh belum sampai pada tahap kemurnian hati. Kita harus bertanya kepada Tuhan, berapa banyak angan-angan jahat, kelicikan, iri hati, juga kesombongan yang terpandam di dalam hati kita? Kalau kita hanya berusaha menekannya di dalam, kita hanya menutup-nutupinya dan hati kita tetap belum selamat. Karena Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang murni hatinya” (Mat. 5:8).

Kekurangan, kesulitan, dan tiadanya kesaksian kita hari ini adalah dikarenakan ketidakmurnian hati kita. Betapa sering kita melihat dosa dalam diri orang lain, namun kita tidak berani menegurnya; ini dikarenakan perbuatan mereka yang di luar adalah bunga dosa, tetapi di dalam hati kita sendiri juga ada benih dari bunga yang sama. Walaupun kita tidak mencintai dunia seperti orang lain, tetapi hati kita pun terpengaruh olehnya. Antara kita dan mereka tidak terdapat banyak perbedaan. Tanpa kemurnian hati, tidak ada kesaksian.

Tuhan tidak akan membiarkan kecemaran di dalam hati kita. Walaupun hati yang jahat seperti tertulis dalam Markus, Ia dapat menyelamatkannya serta memberikan kita satu hati yang murni. Puji syukur kepada Tuhan! Dia sanggup menyelamatkan kita sampai sedemikian rupa! Dia sanggup menyelamatkan kita dari hati yang jahat hingga menjadi hati yang murni.

3. Hati, Jiwa, Akal Budi, Kekuatan

Markus 12:30-31 mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ayat ini menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan kita sehingga kita mengasihi-Nya dengan segenap kemampuan kita dan mengasihi orang lain tanpa keegoisan sedikit pun.

Alangkah sulitnya mengasihi Allah hingga taraf “segenap”. Sering kali kita ingin mengasihi Allah, tetapi diam-diam juga mengasihi dunia; ingin melayani Allah, tetapi juga ingin melayani mamon. Sering kali, banyak orang atau banyak hal telah membuat hati kita bercabang dari Allah! Namun Dia dapat menyelamatkan kita sampai pada taraf segenap — agar kita dapat mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan kita. Bahkan selain menyelamatkan kita hingga demikian mengasihi Allah, juga menyelamatkan kita hingga dapat mengasihi orang lain dengan hati yang tanpa keegoisan sedikit pun.

Saudara saudari, jika hari ini kita belum dapat mengasihi Allah hingga taraf “segenap”. Selain Allah, masih ada manusia, benda, atau perkara lain yang menjadi pusat kasih kita; dan juga kita belum bisa mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri, ini berarti keselamatan yang kita peroleh belumlah penuh. Kristus dapat menyelamatkan kita sehingga taraf mengasihi Allah dengan “segenap” ini, dan juga mengasihi orang lain tanpa pamrih. Ini bisa kita capai! Puji bagi-Nya!

4. Pikiran

Dua Korintus 11:3 mengatakan, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan (ketulusan) kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Ayat ini menunjukkan bahwa pikiran kita dapat diselamatkan sedemikian rupa sehingga menjadi “tulus”.

Sering kali, kita merasa sulit dalam hal taat kepada Tuhan, mempersembahkan diri kepada Tuhan, dan mengasihi Tuhan. Sungguh sulit! Sangat sulit! Kita tidak berdaya melakukannya. Kita damba bisa mengasihi Tuhan dengan kasih yang sempurna, dengan segala kepolosan, tanpa penyelewengan sedikit pun, benar-benar dengan segala kemurnian. Betapa baiknya ini! Pengharapan sedemikian ini seolah-olah tanpa hari perwujudannya. Namun, Allah dapat menyelamatkan kita hingga kita mencapainya; ini mungkin dan bisa dilakukan. Pikiran kita harus tulus. Kalau pikiran kita bercabang, kita akan seperti Hawa. Pada satu pihak, Hawa memandang buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu baik untuk di makan, tetapi pada pihak lain, dia beralasan bahwa Allah melarang untuk makan buahnya. Dia melihat bahwa buah itu sedap dipandang mata dan sangat membangkitkan selera, tetapi juga ingat bahwa Allah melarangnya untuk makan buah itu. Namun karena hati tergerak, tertarik, maka ia memakan buah itu. Demikianlah karena sekali penyimpangan itu, maka ia kehilangan hati yang tulus terhadap Allah.

Saudara saudari, apakah Anda mempunyai hati yang tulus, bersih terhadap Allah? Kita harus mengasihi-Nya, Jangan takut terlalu mengasihi Kristus. Kasihilah Dia tanpa pertimbangan dan tanpa perbantahan. Puji syukur kepada Allah, Dia dapat menyelamatkan kita sampai satu taraf, berhati tulus terhadap Tuhan! Ini bukanlah hal yang mustahil!

Roma 12:2 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (pikiranmu), sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.” Sekali lagi ayat ini menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan pikiran kita dengan jalan memperbaruinya sedemikian rupa sehingga kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.

Saudara saudari, pernahkah Anda memikirkan hal-hal ini? Pikiran yang sudah diperbarui dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna. Betapa sering kita dibingungkan, seolah-olah hal ini atau hal itu adalah kehendak Allah. Pikiran yang sudah diperbarui tidak akan salah dalam membedakan kehendak Allah. Tanpa pikiran yang diperbarui, kita tidak akan dapat membedakan kehendak Allah. Dengan demikian berarti kita belum mengalami keselamatan yang penuh. Namun demikian, Allah tidak hanya menyelamatkan kita sampai taraf yang kita capai hari ini, Dia akan menyelamatkan kita hingga mencapai satu posisi yang sempurna. Inilah yang harus menjadi kerinduan kita dan untuk inilah kita harus bersyukur kepada-Nya. Syukur kepada Allah, karena hal ini mungkin, dan dapat kita capai.

5. Angan-angan (Pemikiran)

Dua Korintus 10:5-6 mengatakan, “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran (pemikiran) dan menaklukkannya (taat) kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bilamana ketaatan kamu telah menjadi sempurna.” Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan angan-angan kita, sehingga semua angan-angan kita taat kepada Kristus.

Dapatkah kita mengendalikan angan-angan kita? Kita tahu bahwa banyak angan-angan yang tidak bisa kita kendalikan. Allah tidak menghendaki kita mempunyai angan-angan yang kacau, Allah menghendaki segala angan-angan taat kepada Kristus.

Saudara saudari, apakah angan-angan Anda taat kepada Kristus? Angan-angan yang liar, angan-angan yang cemar, angan-angan yang diam-diam mengasihi dunia, tidak seharusnya ada. Jika ada, itu menunjukkan bahwa Anda belum memperoleh keselamatan yang penuh. Sebab keselamatan Allah dapat membuat angan-angan setiap orang yang percaya Tuhan untuk taat kepada Kristus. Ini dapat kita capai. Kita dapat menyerahkan setiap angan-angan kita kepada Tuhan, supaya taat kepada-Nya, inilah keselamatan yang telah disediakan bagi kita di dalam Kristus. Allah tidak hanya menyelamatkan kita agar mendapatkan hidup kekal, masuk surga, tetapi Dia juga menyelamatkan seluruh segenap diri kita, bahkan segala angan-angan kita hingga taat kepada Kristus. Puji syukur kepada Allah! Hal ini bisa dilakukan, hal ini dapat dicapai. Dia sanggup menyelamatkan kita sampai tuntas!

Satu Petrus 1:13 mengatakan, “Sebab itu, siapkanlah akal budimu, waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada saat Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” Kata-kata “Siapkanlah akal budimu” dalam bahasa aslinya adalah “Ikatlah pinggang pikiranmu.” Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah dapat menyelamatkan pikiran kita yang kacau dan terserak sehingga dapat terkonsentrasi.

Seperti kita tahu, jubah orang Yahudi zaman kuno tergantung pada tubuh dengan agak kendor dan kedodoran tanpa kancing. Kalau orang mulai bekerja, ia harus mengetatkan pinggangnya (dengan ikat pinggang), supaya ia lebih leluasa bergerak. Pikiran yang terserak menyebar ke mana-mana itu ibarat pinggang yang tidak terikat; namun demikian Tuhan dapat mengumpulkan pikiran-pikiran yang kocar-kacir, seperti seorang mengikat pinggang jubahnya.

Pikiran kita, walaupun tidak najis, sering kali terserak ke mana-mana dan tidak terkonsentrasi. Baru saja berdoa, pikiran sudah lari entah ke mana; begitu membaca Alkitab, lagi-lagi pikiran kita telah liar mengembara. Bukannya pikiran kita itu tidak jelek, mungkin baik dan penuh perasaan, tetapi itu terjadi pada waktu yang tidap seharusnya. Ini disebabkan pinggang pikiran kita terlalu kendor dan tidak dapat terkonsentrasi. Allah dapat menyelamatkan kita sampai taraf kita dapat mengendalikan pikiran kita, supaya semua pemikiran kita, angan-angan kita terfokuskan. Pikiran kita sangatlah kendor! Kalau pikiran kita kekurangan daya konsentrasi, ini berarti kita belum mengalami keselamatan Tuhan yang penuh. Puji syukur kepada Allah! Dia dapat menyelamatkan kita dari pikiran-pikiran yang berserakan tak menentu hingga terkonsentrasi! Hal ini bisa terlaksana, hal ini dapat kita capai!

6. Hati dan Pikiran Kita

Filipi 4:6-7 mengatakan, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Dua ayat ini menyatakan bahwa Allah dapat menyelamatkan hati dan pikiran manusia, sehingga manusia terhindar dari kekhawatiran. Sampai sejauh mana Allah dapat menyelamatkan manusia? Allah dapat menyelamatkan manusia hingga mencapai memiliki damai sejahtera Allah. Allah sanggup memelihara hati dan pikiran kita.

Kata “memelihara” di sini dalam bahasa aslinya mengandung arti yang khusus, yaitu satu istilah yang dipakai di dalam kemiliteran. Terjemahannya yang paling tepat boleh dikatakan sebagai “membentengi”. Artinya, damai sejahtera Allah dapat memelihara, menjaga hati dan pikiran kita bagaikan suatu kota benteng dengan pasukan penjaganya, sehingga ada damai sejahtera, tanpa bahaya sedikit pun. Damai sejahtera Allah dapat membentengi hati dan pikiran kita bagaikan pasukan membentengi suatu kubu. Allah sanggup menyelamatkan kita terlepas segala kekhawatiran. Damai sejahtera Allah dapat membentengi kita!

Saya jarang bertemu dengan orang Kristen yang tanpa kekhawatiran. Kebanyakan orang Kristen memiliki kekhawatiran. Ada seorang ibu, ia mempunyai tujuh orang anak. Ibu ini berkata, “Terhadap setiap anak, aku terus mengkhawatirkan mereka sampai mereka dewasa, sampai mereka beroleh selamat. Dua orang anak tidak perlu kukhawatirkan lagi, karena mereka sudah pulang ke surga. Tetapi sisi yang lima ini, aku masih mengkhawatirkan mereka.” Seorang saudara memberi tahu dia bahwa khawatir semacam itu salah dan bahkan berdosa. Ibu ini menjawab, “Seorang ibu harus khawatir terhadap anak-anaknya. Kalau tidak, itu justru berdosa.” Saudara itu lalu menunjukkan firman dalam Filipi 4:6-7 kepadanya. Namun ibu ini menganggap kekhawatiran yang disebutkan dalam Filipi tidak mengacu kepada jenis kekhawatiran yang dia miliki. Menurut jalan pikirannya, istri harus mengkhawatirkan suaminya, orang tua harus mengkhawatirkan anaknya, pedagang harus mengkhawatirkan dagangannya. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga.” Ya, jangan khawatir tentang apa pun juga, bukan hanya sebagian saja.

Saya hampir belum pernah berjumpa dengan saudara atau saudari yang tidak memiliki kekhawatiran tentang apa pun juga. Demikian bukanlah keselamatan yang penuh. Kalau orang mengkhawatirkan keluarganya, atau khawatir tentang segala hal; khawatir ini, khawatir itu, bagaimana damai sejahtera Allah dapat membentengi hati dan pikirannya? Orang semacam ini tidak dapat mempersaksikan bahwa setiap hari Tuhan menanggung bebannya.

Khawatir itu dosa. Allah sanggup menyelamatkan kita dari segala kekhawatiran. Baik dalam perkara besar atau kecil, berat atau ringan, kita tidak boleh khawatir. Kalau Anda belum memiliki damai sejahtera Allah membentengi hati dan pikiran Anda, maka keselamatan yang Anda peroleh itu belum penuh. Kalau Anda jelas akan hal ini, Anda akan berdoa, “Ya Tuhan, dari semua yang Kauberikan kepadaku, hanya sedikit yang kudapatkan!” Puji syukur kepada Allah! Dia sanggup menyelamatkan kita dari segala kekhawatiran. Damai sejahtera-Nya bisa memelihara hati dan pikiran kita. Hal ini mungkin, kita harus memuji-Nya.

7. Pikiran dan Tekad

Satu Petrus 4:1-2 mengatakan, “Jadi, karena Kristus telah menderita secara badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran (tekad) yang demikian — karena siapa yang telah menderita secara badani, ia telah berhenti berbuat dosa — supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan dapat menyelamatkan pikiran dan tekad kita, sehingga kita rela menderita seperti Kristus.

Apakah kita takut menderita? Ya! Betapa kita mengharapkan setiap hari menempuh hidup dengan nyaman, tanpa kesulitan sedikit pun. Begitu ada sedikit kesulitan, kita segera mohon Tuhan menyingkirkannya. Ketika kita benar-benar taat kepada Tuhan dan masa depan kita terasa pahit dan sulit, kita mungkin berdoa, mohon agar Tuhan menjauhkan hal-hal itu dari kita. Namun, Allah sanggup menyelamatkan kita sedemikian rupa sehingga kita tidak takut terhadap kesulitan maupun penderitaan. Kita dipersenjatai dengan tekad untuk menderita.

Senjata apakah ini? Ini adalah senjata yang paling baik! Yaitu mempersenjatai diri dengan tekad menderita seperti yang dimiliki Kristus. Ketika Anda taat kepada Allah, dan orang lain berkata bahwa hidup Anda akan sulit, orang-orang akan tidak baik memperlakukan Anda. Namun pikiran Anda akan tertuju pada Kristus, betapa berat penderitaan-Nya dalam daging dan karena itulah Anda juga rela menderita. Demikianlah Anda dipersenjatai: Aku datang untuk menderita. Menderita bukan hanya bagianku, juga tugasku. Menderita adalah urusanku, aku rela menerimanya. Kalau Anda demikian dipersenjatai, Anda akan mengalahkan segala perkara. Tidak takut menderita, malah dengan senang menerimanya. Anda tidak undur menghadapi penderitaan, malahan menantangnya. Kalau Anda takut menderita dan berusaha untuk melarikan diri, berarti keselamatan yang Anda miliki belum penuh. Allah dapat menyelamatkan Anda sehingga Anda memiliki tekad menderita. Hanya dengan cara demikian Anda dapat “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” Puji syukur kepada Allah! Ini tidak mustahil! Dia sanggaup menyelamatkan kita sampai taraf sedemikian!

8. Tutur-Kata

Yakobus 1:26-27 mengatakan, “Jikalau seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Juga dikatakan dalam Yakobus 3:8-10, “Tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tidak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, Saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi.” Kedua bagian Alkitab ini mengatakan bahwa tidak seorang pun mampu menjinakkan lidah. Namun Allah sanggup menyelamatkan anggota tubuh kita yang buas ini serta mengekangnya.

Saya pernah berjumpa dengan seseorang yang berkata demikian: “Karena Yakobus dengan jelas mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjinakkan lidah, maka orang Kristen boleh tidak mengekang lidahnya.” Tetapi kita harus tahu bahwa Yakobus juga berkata dengan tegas dalam bagian yang sama, “Hal ini, Saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi” (ayat 10). Musa gagal masuk tanah Kanaan karena satu hal, yaitu “ia teledor dengan kata-katanya” (Mzm. 106:33). Dia berbicara bukan seperti orang yang pernah belajar. Agar tahu bagaimana seharusnya kita berbicara, kita perlu “lidah seorang murid” (Yes. 50:4), juga telinga seorang murid. Allah tidak hanya sanggup menyelamatkan hati, pikiran, dan angan-angan kita hingga sempurna, tetapi juga lidah kita. Jika kita tidak dapat mengendalikannya, sekali lagi saya katakan, kita belum mendapatkan keselamatan yang penuh. Puji syukur kepada Allah, Dia sanggup menyelamatkan lidah kita sepenuhnya. Ini bisa terlaksana, ini mungkin terjadi.

9. Nafsu Tubuh Daging

Roma 8:12 mengatakan, “Jadi, Saudara-saudara, kita adalah orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.” Ayat ini mengatakan bahwa Allah dapat menyelamatkan kita hingga mengalahkan tuntutantuntutan alamiah daging dan terlepas dari semua tuntutan nafsu daging.

Berbicara sampai di sini, saya ingin khusus menyinggung tiga perkara yang berkaitan dengan tubuh daging manusia. Secara umum, fungsi tubuh manusia kita dapat dirangkum dalam tiga bagian:

1.Pemeliharaan, untuk tetap bereksistensi.

2.Perkembangbiakan, untuk mempertahankan kesinambungan manusia.

3.Perlindungan, untuk mempertahankan diri.

Sebelum kejatuhan, ketiga hal ini sangat serasi, seimbang, sebab dosa belum mencemari mereka. Tetapi setelah manusia berdosa, di dalam manusia ada sifat dosa, maka ketiga bagian ini menjadilah alat untuk perbuatan dosa.

Karena kebutuhan untuk memelihara tubuh, maka dunia sebagai satu sistem telah menggunakan hal makan dan minum untuk menggoda manusia. Godaan utama bagi manusia terletak pada hal pemeliharaan ini. Seperti buah pengetahuan baik dan jahat telah dipakai musuh untuk menggoda Hawa, demikian juga hal kesenangan makan minum hari ini telah menjadi dosa kedagingan. Sekali-kali kita jangan mengabaikan hal makan minum ini, sebab banyak orang Kristen karnal gagal dalam hal ini. Karena makanan, orang-orang beriman milik daging di Korintus telah menjadi sandungan bagi banyak saudara-saudaranya (lihat 1 Korintus 8). Karena itu, orang-orang yang tidak bisa mengalahkan hal makan dan minum, tidak bisa menjadi penatua atau diaken pada gereja yang sebermula (lihat 1 Tim. 3:2-8).

Kedua adalah masalah berkembang biak. Setelah manusia jatuh, ia merosot menjadi hawa nafsu manusia. Dalam Alkitab hawa nafsu dan daging berkaitan secara khusus. Di Taman Firdaus, dosa kerakusan segera membangkitkan nafsu yang mendatangkan rasa malu. Dalam 1 Korintus Paulus menjajarkan kedua hal ini (1 Kor. 6:13); ia juga menghubungkan kemabukan dan kecemaran (ayat 9-10).

Ketiga, masih ada satu bagian, yaitu mempertahankan diri. Setelah dosa berkuasa, kekuatan tubuh mulai menampilkan keperkasaannya untuk melindungi diri sendiri. Apa pun yang menjadi penghalang bagi kenikmatan dan kepuasan diri harus ditentang. Temperamen manusia beserta buah-buahnya, yaitu pertengkaran dan perselisihan, dihasilkan oleh daging dan dosa-dosa kedagingan. Atas hal perlindungan diri ini, karena ada dosa yang aktif di dalam, entah berapa banyak dosa yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk melindungi keuntungan diri sendiri, keberadaan diri sendiri, popularitas diri sendiri, opini diri sendiri, dan jutaan lagi untuk diri sendiri, timbullah begitu banyak dosa yang paling gelap di dunia ini.

Kalau kita menganalisis satu per satu dosa-dosa di dunia ini, kita akan melihat bahwa umumnya semua itu berkaitan dengan ketiga perkara di atas. Orang Kristen karnal adalah orang yang di bawah kendali ketiga bagian atau salah satu dari bagian ini.

Namun, Paulus berkata bahwa kita tidak berutang kepada daging, sedikit pun tidak berutang. Kita masing-masing boleh hidup tanpa menuruti daging. Kristus sanggup menyelamatkan kita dari semua keinginan dan hawa nafsu daging. Apakah hawa nafsu itu? Manusia mempunyai dua nafsu (tuntutan): (1) Tuntutan alami. (2) Karena ada tuntutan alami, maka timbullah satu tuntutan lain yang cenderung memakai sarana yang tidak semestinya, untuk memenuhi tuntutan alami. Tuntutan yang kedua inilah yang disebut hawa nafsu. Tetapi Tuhan kita Yesus Kristus dapat menyelamatkan kita dari hawa nafsu ini.

Tuhan sanggup menyelamatkan kita sehingga kita mencapai kedudukan yang tidak ada hawa nafsu ini, Dia juga dapat menyelamatkan kita mencapai kedudukan yang mengalahkan tuntutan alami. Namun jangan salah paham, mengira bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan kita sehingga kita tidak mempunyai tuntutan alami. Alkitab hanya berkata bahwa Kristus dapat membuat kita mengalahkannya. Alkitab tidak mengajar bahwa daging akan lenyap; tetapi menegaskan bahwa kita tidak lagi berutang apa-apa kepada daging. Jadi, kita tidak berkewajiban memenuhi tuntutan alami daging. Memang, utang itu harus dibayar; tetapi kita tidak berutang apa-apa, jadi kita dapat mengendalikan diri sendiri.

Misalkan, seseorang merasa lapar. Tentu dia ingin makan, dan makan adalah salah satu keinginan alami. Tetapi kalau dia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan dan dia memakai cara yang tidak semestinya, (misalnya mencuri uang untuk membeli makanan) guna memuaskan keinginan alaminya, ini telah berubah menjadi pemuas nafsu daging. Untuk memenuhi keinginan alaminya, manusia hanya diizinkan memakai cara yang sesuai dengan Alkitab. Kalau seseorang lapar dan dia punya uang, dia dapat membeli makanan; ini tidak berdosa. Semua keinginan alami harus dipenuhi dengan sarana yang sesuai dengan ajaran Allah. Menyimpang dari prinsip ini berarti mengubah keinginan alami menjadi hawa nafsu daging. Allah menyelamatkan kita sehingga mengalahkan keinginan alami dan hawa nafsu daging. Maksudnya, kita lapar dan kebetulan tidak mempunyai uang, kita dapat mengalahkan desakan rasa lapar dan menolak memakai cara yang tidak halal untuk memenuhinya. Merasa lapar itu tidak dapat dihindari, tetapi jangan mengumbar hawa nafsu daging.

Hukum yang sama dapat diterapkan pada perkara perkembangbiakan dan perlindungan. Semuanya hanya dapat dipenuhi seturut tuntutan alami; apa pun yang melampauinya, adalah dosa. Memang kita mempunyai keinginan-keinginan alami yang bukan dosa, tetapi kita tidak berutang apa-apa kepada daging, kita tidak berkewajiban membayarnya. Atas kedua hal ini, Allah sanggup menyelamatkan kita terlepas dari tuntutan hawa nafsu dan mengalahkan tuntutan alami.

Kita tidak berutang apa-apa kepada daging, tidak hanya mencakup perkara di atas. Bahkan sewaktu kita sakit pun, kita tetap tidak berutang apa-apa kepada daging. Meskipun mungkin saraf-saraf kita menjadi lemah, namun kita bisa tidak marah-marah. Meskipun tubuh dan jiwa kita lemah dan terganggu, namun kita tetap masih dapat mengalahkannya. Firman Allah berkata bahwa kita tidak berutang apa-apa kepada daging. Apakah Allah tidak dapat menyelamatkan kita sampai tuntas hanya karena kelemahan dalam salah satu bagian dari orang itu? Sama sekali tidak! Kita tidak berutang apa-apa kepada daging.

Saudara saudari! Apakah Anda tertawan oleh kelemahankelemahan tertentu dari tubuh Anda? Apakah Anda terikat oleh masalah mengenai makan dan minum? Ketahuilah, keselamatan Tuhan itu memadai untuk segala keadaan dan masalah. Seberapa banyak kesulitan Anda, sejauh itu juga keselamatan Tuhan mencapai Anda. Misalnya, seorang Kristen kelaparan selama satu, dua, atau bahkan tiga hari. Dapatkah Anda melarangnya untuk mencuri demi memenuhi tuntutan rasa laparnya? Mungkin dia berkata, “Karena kelaparan, bolehkah aku menjadi pencuri untuk kali ini saja?” Oh! Tidak ada keharusan yang memaksa orang Kristen untuk berdosa. Allah dapat menyelamatkan setiap orang yang tidak hidup menurut daging. Roma 6:6 mengatakan, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Karena itu saudara saudari, kita berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Ya Allah, aku bersyukur kepada-Mu, segala milik manusia lamaku, telah terpaku di salib bersama Kristus! Baik itu iri hati, sombong, pikiran kotor, angan-angan liar, kekhawatiran, hawa nafsu, dan lainnya; Kristus sanggup menyelamatkan aku dari semua itu.” Puji Syukur kepada Tuhan!

10. Anggota-anggota Tubuh

Roma 6:13 mengatakan, “Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.”Juga dalam ayat 19 mengatakan, “Secara manusia aku mengatakan hal ini karena kelemahan kamu sebagai manusia. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian pula kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Kedua ayat ini membicarakan bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan anggota-anggota tubuh kita hingga mencapai tahap yang dikuduskan.

Tadinya, anggota-anggota tubuh kita telah menjadi hamba dosa, telah diserahkan kepada kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kepada kedurhakaan. Bagaimanakah sekarang? Apakah kita sudah terlepas dari dosa-dosa anggota-anggota tubuh kita? Apakah kita sudah mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita untuk menjadi hamba kebenaran? Kalau belum, berarti kita masih melayani dosa dan belum memperoleh keselamatan yang penuh. Tetapi Kristus sanggup menyelamatkan seluruh anggota-anggota tubuh kita untuk menjadi hamba-hamba kebenaran yang membawa kita kepada pengudusan. Ini tidak mustahil dan dapat dicapai. Kita sungguh bersyukur dan memuji Tuhan!

11. Aku

Galatia 2:19b-20 mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Ayat ini adalah ayat yang sangat kita kenal dan paling kita hafal. Firman ini mengatakan bahwa Dia tidak hanya menyelamatkan sehingga kita tersalib bersama Kristus, tetapi juga sekarang Kristus hidup di dalam kita.

Di sini tidak mengatakan bahwa kita menjadi seperti Kristus atau supaya meniru Kristus; tetapi mengatakan bahwa Kristus telah menjadi aku, sekarang yang hidup bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Seperti Allah secara demikian menyelamatkan Paulus, dengan cara yang sama, Dia menyelamatkan kita.

Saudara saudari! Kalau hari ini kita belum mengalami Kristus hidup di dalam kita, berarti keselamatan yang kita dapatkan itu belum lengkap. Puji syukur kepada Allah! Dia menyelamatkan kita hingga tahap “Bagiku hidup adalah Kristus”. Hal ini dapat terjadi dan dapat dicapai oleh semua orang Kristen.

Saudara saudari, ada satu hal yang harus kita perhatiankan, yaitu keselamatan penuh yang telah Allah sediakan bagi kita harus kita terima dan dapatkan dengan penuh pula. Saya bukannya percaya akan kesempurnaan tanpa dosa, kesempurnaan dengan mencabut akar dosa, namun saya percaya bahwa Allah dapat menyelamatkan saya hingga mencapai tahap yang sempurna. Saya tidak percaya bahwa salib menghapuskan saya, tetapi saya percaya bahwa di sana Tuhan telah mati bagi saya. Tuhan tidak mencabut akar dosa, tetapi Dia mengaruniakan Kristus agar hidup di dalam saya. Dulu Kristus mati bagi saya di atas salib; sekarang Dia hidup di dalam saya dan bagi saya. Dulu mati bagi saya, sekarang hidup bagi saya. Seberapa besar ruang lingkup keselamatan Allah, sebesar itulah ruang lingkup keselamatan saya. Kita tidak perlu menyisakan temperamen buruk, kecemaran, kekhawatiran, atau hawa nafsu. Allah sanggup menyelamatkan kita dari semua itu. Dia tidak hanya menyelamatkan kita dari yang jahat, tetapi juga mengaruniakan kepada kita yang baik.

Hari ini kita telah tampak betapa besar keselamatan Allah! Betapa besar ruang lingkup keselamatan kita! Seolah-olah suatu harta karun dipulihkan bagi kita; namun bagaimana kita mendapatkannya? Kita tahu bahwa kita harus membayar harga. Ada beberapa syarat; pada kesempatan lain akan kita bicarakan. (Baca buku: Hayat yang Menang). Di sini saya ingin Anda melakukan satu hal, yaitu percaya kepada firman Allah. Karena firman Allah mengatakan bahwa Dia dapat menyelamatkan kita dengan tuntas, maka kita percaya, dan kita mendapatkan. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu tentang keselamatan-Nya pasti terjadi. Persoalannya bagi kita ialah kita tidak dapat mempercayai apa yang dikatakan Alkitab! Allah akan menggenapkan menurut iman kita. Kalau kita tidak percaya, kita tidak akan mendapatkannya.

Alangkah seriusnya hal ini! Firman Allah sudah diberitakan! Sekarang jika Anda berkata, “Dapat,” itu akan terjadi; tetapi jika Anda berkata “Tidak dapat,” itu tidak akan terjadi. Anda harus percaya kepada firman Allah, barulah Dia akan menggenapkannya sesuai iman Anda.

Andrew Murray adalah seorang Kristen yang dalam kerohaniannya. Saya khusus membaca catatan-catatan tentang khotbahnya. Setiap kali dia membicarakan tentang hayat menang, atau hayat yang kudus, atau hayat yang penuh perhentian, dia selalu memberikan beberapa syarat. Di antara syarat-syarat itu ada satu syarat yang umum yang selalu dia utarakan, yaitu “orang harus percaya bahwa hal ini bisa terjadi”. Ya, kalau orang menganggap ini tidak mungkin, maka Allah tidak dapat melakukannya bagi mereka. Jika Anda percaya bahwa Allah telah berkata demikian, percaya bahwa Allah dapat melakukannya, maka Allah dapat menggenapkan apa yang difirmankan-Nya di atas diri Anda.

Saudara saudari, bagaimana pendapat kita tentang hidup kristiani kita masing-masing? Kalau kita mengakui bahwa situasi kita sangat jauh dari sempurna, apakah kita menginginkan keselamatan Allah yang penuh tergenap di atas diri kita? Kalau kita mau keselamatan Allah yang penuh, sekarang kita harus percaya bahwa hal ini bisa terjadi, hal ini dapat dicapai. Kita harus membiarkan Allah menggenapkan pekerjaan-Nya di atas diri kita.