Daftar isi Dua Belas Bakul (12) · bab 8/12

Penerangan dan Pengalaman Salib

“Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terusmenerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.”

2 Korintus 4:7-11

INTI PEKERJAAN ALLAH —

KRISTUS DAN SALIB

Inti pekerjaan Allah adalah Kristus dan salibnya. Kristus adalah hayat, salib adalah jalan. Yang kita terima bukan hanya Kristus, tetapi juga salib Kristus. Yang kita dapatkan bukan hanya satu hayat, tetapi juga satu jalan. Kita telah mendapatkan Kristus sebagai hayat kita, kita juga telah menerima salib sebagai jalan kita.

Namun, di dalam gereja hari ini, kedua hal ini telah diabaikan oleh orang. Meskipun hari ini orang-orang memberitakan Kristus, memberi tahu orang bahwa Kristus adalah Juruselamat manusia, Kristus adalah hayat manusia, tetapi sesungguhnya, sangat sedikit orang yang di dalam kehidupannya mengalami Kristus sebagai hayatnya. Perkataan atau doktrin “Kristus adalah hayat kita”, di dalam gereja hari ini telah diketahui dan dibicarakan oleh banyak orang; tetapi pengalaman Kristus sebagai hayat kita sangatlah sedikit di dalam kehidupan sehari-hari kita.

Saudara saudari yang terkasih, kami sungguh menengadah kepada Allah, kiranya di tengah-tengah kita benar-benar ada sekelompok orang yang dalam pengalamannya sungguh-sungguh mengenal apakah yang disebut “Kristus adalah hayatku”. Saya masih harus berkata, bahwa di dalam kekristenan hari ini, pengenalan orang terhadap Kristus sangatlah kurang, apalagi pengenalan terhadap salib, lebih parah lagi. Seolah-olah sangat sulit menemukan seseorang yang benar-benar mengenal apakah salib. Anda sulit menemukan satu orang yang dalam kehidupannya, dalam pekerjaannya, bisa membuktikan bahwa dia hidup dalam salib, dan dia berjalan di atas jalan salib.

Kedua butir ini, yakni Kristus dan salibnya adalah inti dalam karunia keselamatan Allah. Karena itu Paulus berkata kepada orang-orang Korintus bahwa dia datang ke antara mereka dengan tidak mengetahui yang lain kecuali Kristus dan salibnya. Namun, bagaimana dengan orang-orang Korintus? Jika kita membaca Surat 1 Korintus, kita akan tampak bahwa mereka memperhatikan banyak hal yang mereka sebut sebagai perkara rohani. Mereka memperhatikan karunia rohani, petah lidah rohani, kekuatan rohani; ada juga yang berkata bahwa mereka memperhatikan iman. Bahkan Paulus bisa berkata kepada mereka bahwa di antara mereka tidak kekurangan dalam karunia apa pun. Dengan kata lain, atas diri orang-orang Korintus ada karunia, ada petah lidah, ada iman, juga ada berbagai macam perkara rohani. Namun Paulus memperlihatkan kepada mereka, bahwa hal-hal yang mereka perhatikan itu di pandangan Allah adalah perkara-perkara yang ringan. Yang diperhatikan oleh Allah tidak mereka jamah. Apa yang dipandang berat oleh Allah? Yaitu yang dikatakan oleh rasul: Kristus dan salibnya.

Kita pernah mengatakan bahwa tujuan utama Allah adalah agar Dia sendiri menjadi hayat kita. Namun, bagaimana Dia bisa menjadi hayat kita? Ini mutlak melalui salib. Di mana salib berada, di sanalah hayat Allah berada. Di mana ada salib, di sana baru ada jalan hayat Allah. Jika demikian halnya, kita harus menengadah kepada Allah agar kita tampak apa sebenarnya tujuan yang hendak dicapai oleh Kristus dan salibnya atas diri kita. Bagaimana kita seharusnya mengenal kedua hal ini.

Hayat Allah di dalam Kristus telah diberikan kepada kita; di dalam setiap orang yang telah beroleh selamat, pasti memiliki hayat Kristus. Namun, bisakah hayat ini di dalam kita memiliki kedudukan? Bisakah berbaur di dalam kita? Bisakah terbentuk di dalam kita dan tersalur keluar dari diri kita? Semua pertanyaan ini harus dijawab dengan pertanyaan: Pernahkah salib bekerja di atas diri kita? Berapa banyak pekerjaan salib di atas diri kita? Ini akan menentukan berapa banyak kedudukan, berapa banyak pembauran, berapa banyak pembentukan, berapa banyak penyaluran hayat Kristus di dalam kita.

Saudara saudari terkasih, Anda dan saya adalah orang-orang yang telah beroleh selamat; hayat Allah ada di dalam kita, Kristus tinggal di dalam kita. Semua ini tidak perlu diragukan. Namun, sebenarnya Kristus yang di dalam kita, yakni hayat-Nya itu, bagaimana bisa tersusun di dalam kita? Bagaimana karakter-Nya bisa menjadi karakter kita? Bagaimana semua unsur-Nya bisa menjadi unsur kita? Bagaimana hayat-Nya di dalam kita bisa menelan segala alamiah kita dan memenuhi di dalam kita, sehingga menjadi unsur kita dan kemudian terekspresi keluar dari kita? Bagaimana dia bisa mencapai tujuan ini? Untuk mencapai tujuan ini, tidak ada dua jalan, hanya ada satu jalan, yaitu peremukan salib. Hanya salib yang bisa membuat Kristus memiliki kedudukan, memiliki kesempatan, memiliki jalan keluar, di dalam manusia, sehingga Dia bisa mengerjakan pekerjaan yang ingin Dia lakukan.

MAKNA SALIB ADALAH MATI

Apakah salib? Saya khawatir banyak saudara saudari akan menjawab bahwa salib membuat orang menderita. Ingatlah, pemahaman sedemikian tidaklah memadai. Itu adalah pemahaman kekristenan hari ini, pemahaman setengah jalan. Kita harus tahu bahwa makna paling akhir dari salib bukan hanya penderitaan. Memang salib adalah suatu penderitaan, tetapi makna salib bukan penderitaan, melainkan kematian. Slogan salib adalah “singkirkan Dia!” Ketika Tuhan Yesus akan disalibkan, banyak orang berteriak-teriak, “Singkirkan Dia! Singkirkan Dia!” Salib bukan hanya membuat Tuhan Yesus menderita. Itu hanyalah suatu proses; tujuan akhirnya adalah menyingkirkan dia, membereskan dia, mengakhiri dia. Mati adalah mengakhiri sesuatu, mengakhiri seseorang. Mati barulah makna salib. Makna salib adalah pengakhiran, pemberesan. Salib bukan hanya mengakhiri dosa, salib juga mengakhiri manusia.

Saya boleh berkata kepada saudara saudari demikian: jika seseorang tidak mati, tidak diakhiri, namun dia ingin terlepas dari dosa, terlepas dari dunia, itu adalah perkara yang hampir mustahil. Hanya orang yang telah mati yang bisa terlepas dari dosa; hanya orang yang telah mati yang bisa terlepas dari dunia. Orang yang hidup dan dosa tidak bisa dituntaskan dengan jelas, demikian juga dengan dunia. Saudara saudari terkasih, makna paling akhir dari salib adalah meletakkan manusia ke dalam kematian. Jika seseorang berada di atas salib, hasil yang paling akhir adalah pengakhiran.

Apakah jalan salib itu? Jalan salib bukan hanya jalan penderitaan, jalan salib bukan hanya jalan menerima kesulitan, jalan salib adalah mengakhiri seseorang. Saya sungguh merasakan bahwa hari ini pengajaran yang diterima oleh anak-anak Allah di kalangan kekristenan berada di tengah jalan. Semua pengenalan rohani, semua pandangan rohani, berada di tengah jalan. Anda mengira bahwa jika seseorang ingin rohani, dia harus bagaimana bergairah mengasihi Tuhan, dengan tertib menjadi manusia. Anda mengira bahwa asal seseorang bisa menanggulangi temperamennya, memperbaiki kelakuannya, itu sudah cukup lumayan. Namun ingatlah, yang Allah berikan kepada Anda bukan yang lain, tetapi Kristus dan salibnya. Apakah Kristus? Kristus adalah jelmaan Allah. Apakah salib? Salib adalah akhir dari manusia. Salib mengakhiri manusia; Kristus mengekspresikan Allah. Kristus dan salibnya tidak bisa dipisahkan, demikian juga Allah terekspresi di atas diri manusia dan pengalaman salib tidak bisa dipisahkan. Kristus mendatangkan Allah, salib menyingkirkan manusia. Makna kekristenan yang paling tinggi bukanlah Anda harus mengubah kelakuan, Anda harus bergairah, Anda harus memiliki kasih, atau Anda harus memiliki budi pekerti yang luhur. Makna kekristenan yang tertinggi adalah memberi tahu Anda bahwa salib mengakhiri manusia Anda. Manusia Anda harus diakhiri, manusia Anda harus ditamatkan, manusia Anda hanya patut berada di atas salib.

Saudara saudari! Di sinilah Anda dan saya perlu mendapatkan terang, Anda dan saya perlu tampak. Tahukah Anda? Salib adalah satu pengalaman, dan pengalaman ini justru akan membawa manusia kepada pengakhiran, pemberesan, membawa manusia kepada angka nol. Angka nol ini tidak disukai manusia. Orang yang berdagang tidak senang berdagang sedemikian rupa sehingga menjadi nol. Orang yang menempuh ujian juga tidak senang mendapatkan angka nol. Orang yang memiliki tabungan di bank juga tidak senang kalau simpanannya mencapai angka nol; semua orang tidak senang angka nol. Tetapi ingatlah, karunia keselamatan Allah akan membawa manusia ke angka nol. Salib akan membawa manusia ke angka nol, supaya manusia ditamatkan, supaya manusia diakhiri.

Kekristenan pemula itulah yang menyuruh Anda berpaling dari kejahatan, menganjuri Anda untuk mengubah kelakuan Anda. Namun kekristenan yang mencapai taraf tertinggi akan membawa Anda kepada kematian, membawa Anda ke atas salib. Dia akan memperlihatkan kepada Anda bahwa Anda adalah manusia yang berada di atas salib. Seseorang yang telah digantung di atas salib, seseorang yang telah mati di atas salib, masihkah ada gunanya untuk berubah? Masihkah ingin menganjuri dia dan berkata kepadanya, “Hai saudara, kelakuanmu sangat tidak baik, kamu harus mengubahnya”? Anjuran tidak pernah diberikan kepada orang mati, hanya kepada orang hidup. Jika Anda mengenal karunia keselamatan Allah pada taraf yang tertinggi, Anda akan tampak di manakah manusia Anda itu. Anda akan tampak bahwa yang dipaku di atas salib bukan hanya kejahatan dosa Anda, bukan hanya kelakuan Anda, bahkan manusia Anda.

Betapa saya ingin mendatangi setiap saudara saudari dan berkata kepada mereka, “Tahukah Anda di mana Anda berada?” Saudara, di manakah Anda? Saudari, di manakah Anda? Benar, di atas salib. Namun di sini saya ingin mengajukan satu pertanyaan, apakah penuntutan kita hari ini merupakan kehidupan orang yang di atas salib atau bukan? Ini bukan satu doktrin; doktrin bisa Anda pelajari dalam waktu 5 menit saja. Suatu hari, Allah akan membuka mata Anda, agar Anda tampak bahwa sebagai orang milik Kristus, dalam pandangan Allah, Anda telah berada di atas salib. Orang ini jika dikatakan dengan perumpamaan yang agak kasar ialah seolah-olah Anda telah dipaku dengan paku besar, sehingga Anda tidak berdaya untuk bergerak lagi. Begitu Anda tampak terang ini, terang ini akan mengikuti Anda, menopang Anda, seperti memaku diri Anda. Sejak itu, jangan katakan Anda menolak kejahatan, bahkan yang baik pun akan Anda tolak.

SALIB MENGAKHIRI BARANG MILIK MANUSIA,

MENAMPILKAN BARANG MILIK ALLAH

Mungkin Anda bertanya, apakah artinya ini? Ketahuilah, sering kali kita berbuat dosa berdasarkan diri sendiri, kita juga sering kali berbuat baik berdasarkan diri sendiri. Berdasarkan diri sendiri berbuat jahat, juga berdasarkan diri sendiri berbuat baik. Tetapi persoalannya hari ini, Allah bukan hanya menyuruh kita menolak yang jahat, Allah juga menyuruh kita menolak yang baik. Allah mau supaya kita menolak yang jahat, Allah juga mau supaya kita menolak kebaikan yang berasal dari diri kita. Jika kita tidak menolak kebaikan dari diri kita sendiri, maka kebaikan Allah, hayat Allah, tidak berdaya keluar dari diri kita.

Di Asia Tenggara, ada seorang saudara tua yang sangat baik, orang-orang di sana juga memujinya. Setelah saya selesai berbicara tentang hal ini, saudara tua ini memberi tahu saya, “Tentu memperhidupkan kasih Allah itu baik, namun memperhidupkan kasih manusia tentu lebih baik daripada memperhidupkan kebencian manusia.” Saya kemudian memperlihatkan kepadanya bahwa kasih Allah hanya tertampil dari satu macam orang. Orang macam apa? Yaitu orang yang menolak dirinya sendiri. Orang macam ini bukan hanya menolak kebencian diri sendiri, juga menolak kasih diri sendiri. Orang yang hidup di dalam kebencian diri sendiri, tidak bisa menampilkan kasih Allah. Orang yang hidup di dalam kasih diri sendiri, juga tidak bisa menampilkan kasih Allah. Kasih Allah itu terang dan jernih, seperti emas murni, namun bagaimana dengan kasih manusia? Dibandingkan dengan lumpur pun tidak bisa. Alkitab memberi tahu kita bahwa kelakukan baik manusia hanyalah seperti kain compangcamping; apalagi dosa dan kejahatan manusia. Kasih kita tidak sempurna, tidak bersih, murni. Kasih Allah mutlak berbeda dengan ini. Kasih Allah itu tulus murni, tidak berubah, tidak terbatas, sungguh seperti emas murni.

Saudara saudari, jika barang yang berasal dari manusia tidak ditolak, jika barang yang berasal dari manusia tidak diremukkan, maka barang yang berasal dari Allah tidak bisa diekspresikan di atas dirinya. Manusia Anda jika tidak ditamatkan, lalu Anda mohon Allah membantu, Allah tidak akan menjawabnya. Allah selamanya tidak akan membantu manusia. Jika Anda sendiri di sana bekerja, Allah tidak akan bergerak.

Orang yang baru beroleh selamat sering berpikir bahwa dirinya tidak seharusnya marah-marah, tidak seharusnya mengucapkan perkataan yang sia-sia. Karena itulah ia lalu berdoa, “Ya Allah, tambahilah tenaga kepadaku, bantulah aku, supaya aku tidak marah-marah.” Namun doa-doa yang lain Allah dengar, hanya doa semacam ini tidak Allah dengar. Anda mohon Allah membantu Anda agar tidak marah-marah, namun akhirnya Anda malah marah besar. Karena tujuan akhir keselamatan Allah bukanlah untuk membantu Anda, tujuan akhir keselamatan Allah adalah memaku Anda di atas salib. Misalnya, seseorang yang mudah marah meninggal, masih bisakah dia meminta Anda membantunya agar tidak marah-marah? Ketahuilah, begitu seseorang mati, temperamennya juga terbereskan. Begitu seseorang mati, temperamennya pun berlalu.

Dalam prinsip yang sama, seseorang yang sangat lemah lembut, jika ia mati, masih bisa lemah lembutkah ia? Dua saudara di sini; yang satu sangat kasar, yang satu sangat lemah lembut. Pada suatu hari, kedua orang ini meninggal, masih bisakah Anda melihat bahwa salah seorang itu kasar dan yang lainnya lemah lembut? Pada diri orang yang hidup, baru bisa ditemukan keadaan yang berbeda; begitu orang itu meninggal, semua persoalannya berlalu. Jika Anda tampak bahwa Anda telah berada di atas salib, ketahuilah, temperamen Anda telah lewat, lemah lembut Anda juga telah lewat. Jika Anda tampak bahwa Anda telah berada di atas salib, maka kebencian Anda telah terakhiri, kasih Anda juga telah diakhiri. Begitu mati, semuanya telah tamat. Justru karena inilah maka banyak orang tidak mau mati. Jika membiarkan yang jahat mati dan memisahkan yang baik, semua orang menginginkannya. Namun, makna salib adalah mati. Pengalaman salib adalah mengakhiri manusia Anda.

Mungkin Anda bertanya, “Jika kita masing-masing telah diakhiri, bukankah semuanya akan habis?” Beberapa tahun yang lalu, seorang saudara membicarakan satu hal yang tidak akan saya lupakan. Dia berkata, “Saudara Lee, lihatlah, jika Anda menanam sebuah batu ke dalam tanah, batu itu akan habis, tamat. Namun jika Anda menanam sebutir benih, matikah ia? Ya, ia akan mati. Namun kematian itu justru memberinya satu kesempatan yang baik untuk keluar. Saudara, di sinilah perbedaan antara kita yang memiliki hayat dengan orang-orang yang tidak memiliki hayat. Orang-orang yang tidak memiliki hayat, begitu mereka berhenti dari segala aktivitas, segalanya tamatlah. Namun kita yang memiliki hayat, ketika kita tamat, hayat Allah akan keluar dari dalam kita.” Arti perkataannya di sini ialah, jika kita menghentikan kasih kita, jika kita menghentikan moral kita, jika kita menghentikan semua aktivitas itu, kita akan tampak bahwa kasih Allah, kebaikan Allah, hayat Allah, dengan sendirinya akan terekspresi keluar.

Hari ini, kesulitan orang Kristen bukanlah pada perkara dosa, melainkan pada perkara kebaikan. Yang Anda perhidupkan bukan dosa dan kejahatan, namun juga bukan Kristus; yang Anda perhidupkan adalah kasih Anda sendiri, kebaikan Anda sendiri. Jika demikian, paling jauh Anda hanyalah seorang yang telah berubah, dari kejahatan berubah kepada kebaikan, Anda tidak bisa mengalami salib. Pada diri orang yang mengalami salib bukan hanya tidak ada kejahatan, kebaikan pun tidak. Pada diri orang yang mengalami salib, Kristus memiliki kedudukan, dan dia bisa memperhidupkan hayat Allah.

PENGALAMAN SALIB DALAM KEHIDUPAN

Mungkin ada orang yang berkata, secara doktrin aku telah mengerti bahwa di dalamku ada hayat Kristus, aku telah disalibkan bersama dengan Kristus, aku telah mati; dari sudut pandang Allah, aku telah diakhiri di atas salib. Namun ingatlah, Anda boleh saja memiliki berita ini, namun sedikit pun Anda tidak tampak terang ini; khotbah ini sama sekali tidak mempengaruhi manusia Anda, sama sekali tidak mempengaruhi kehidupan Anda. Ada orang berkata, dirinya telah berada di atas salib, dirinya telah habis, dirinya telah tamat. Namun jika Anda memperhatikan kehidupannya, Anda dapat tampak bahwa dia sama sekali tidak mengerti apakah salib itu. Mulutnya memberi tahu Anda bahwa dia mengenal salib, namun kehidupannya memberi tahu Anda bahwa dia tidak mengenal salib. Seluruh kehidupannya adalah dirinya sendiri. Ketika dia berpikir, dia berpikir dengan pikirannya sendiri; ketika dia memandang suatu perkara, dia memandangnya dengan pandangannya sendiri; ketika dia memutuskan perkara, dia memutuskannya sendiri; segalanya dirinya sendiri. Paling banyak dia bisa membedakan ini yang baik atau yang jahat; yang baik dia mau, yang jahat dia tolak. Paling jauh dia bisa membedakan ini yang benar, atau itu yang salah; yang salah dia tolak, yang benar dia mau. Paling jauh dia hanya sedemikian, dia belum pernah di hadapan Allah dengan baik-baik menerima penerangan, berada di bawah terang salib, sehingga atas segala perkara dalam kehidupannya, baik besar maupun kecil, dia bisa berkata, apakah hal ini berasal dari diriku sendiri atau berasal dari Allah? Pandangan ini berasal dari diri sendiri atau dari Kristus? Pemikiran ini berasal dari diri sendiri atau dari Kristus? Aktivitas ini berasal dari diri sendiri atau dari Kristus?

Saudara saudari terkasih, jika Anda telah bertemu dengan terang salib, Anda pasti memiliki perasaan; dan perasaan ini adalah satu penampakan, penampakan ini adalah mendapatkan penerangan. Suatu hari Anda mendapatkan terang Allah, benar-benar tampak bahwa diri Anda telah tamat, penampakan ini membuat Anda dalam kehidupan setiap hari, aktivitas setiap menit, pemikiran setiap menit, angan-angan setiap menit, pernyataan setiap menit, gerakan setiap menit, di dalam Anda penuh dengan perasaan yang merasakan bahwa ini berasal dari diri Anda sendiri atau berasal dari Kristus. Jika Anda memiliki terang salib, dalam kehidupan Anda pasti ada satu sikap, ada satu konsepsi; begitu ada satu tindakan yang berasal dari diri Anda sendiri, segera di dalam Anda ada suatu perasaan yang menyalahkan. Begitu terang ini menyorot, Anda segera jatuh rebah. Saudara saudari, pada suatu hari Allah akan menampakkan kepada Anda bahwa segala yang berasal dari “aku” adalah musuhnya. Jika “aku” tidak disingkirkan, hayatnya tidak ada jalan keluar. Penerangan ini membuat Anda tidak berdaya memperhidupkan hayat diri Anda sendiri. Terang ada di sini, begitu Anda ingin menyatakan opini, Anda tidak akan bisa mengeluarkannya. Inilah sedikit pengalaman akan salib.

Begitu Anda menghentikan aktivitas diri sendiri, Roh Allah segera memiliki kedudukan, segera memiliki kesempatan menggerakkan Anda, melewati Anda, dan beroperasi di dalam Anda. Saat ini, apa yang Anda tampilkan di luar itulah yang ditampilkan Allah sendiri. Begitu salib melakukan pekerjaan pembunuhannya, kebangkitan pun datanglah. Di mana ada kematian, di sana ada kebangkitan. Di mana ada salib, di sana ada Kristus. Ketika di dalam Anda ada pekerjaan kematian, di dalam diri Anda pasti ada kebangkitan Kristus tertampil. Saat demikian, yang keluar dari diri Anda adalah Allah sendiri, adalah Kristus.

Jika saya menuangkan segelas air ke atas diri seorang saudara, meskipun air itu bisa mengalir habis, tetapi baju saudara tersebut telah basah, bajunya telah terbaurkan dengan air. Setiap kali Anda menjamah salib, Kristus akan melewati diri Anda. Kristus sekali melewati Anda, maka sekali tersusun ke dalam Anda, sekali terbaur ke dalam Anda. Sampai pengalaman yang sedemikian terjadi banyak kali, banyak sedemikian rupa sehingga yang keluar bukan hanya Kristus, bahkan yang tertinggal di dalam Anda, yang terbaur di dalam Anda, yang ditambahkan ke dalam Anda, semuanya adalah Kristus. Karena itu, salib adalah memberi kedudukan kepada Kristus di dalam manusia, memberi jalan keluar kepada Kristus atas diri manusia, dan hasilnya adalah Kristus terbaur ke dalam diri manusia, manusia diakhiri di atas salib. Inilah Kristus dan salibnya.

Mohon Allah menyoroti kita, memberi terang kepada kita sedemikian rupa sehingga jangankan perkataan berdasarkan diri sendiri yang tidak baik tidak bisa kita katakan, bahkan perkataan yang baik yang berdasarkan diri sendiri juga tidak bisa dikatakan; yang tidak baik tidak bisa dinyatakan, yang baik pun tidak bisa dinyatakan. Orang yang mempunyai sikap penampilan demikian berarti telah berada di atas salib, telah tamat. Jika Anda mempelajari pelajaran yang dalam ini, ketika setiap kali Anda melakukan suatu perkara, di dalam Anda pasti ada satu perasaan, merasakan hal ini berasal dari diri sendiri atau berasal dari Kristus. Jika Anda bisa mencapai taraf sedemikian, berarti Anda sangat mendapatkan berkat. Begitu Anda ingin melakukan suatu perkara tertentu, Anda pasti bertanya ini berasal dari diri sendiri atau berasal dari Kristus. Begitu Anda mau bersikap atau menghadapi seorang teman, di dalam Anda akan merasakan ini berasal dari diri sendiri atau berasal dari Kristus. Anda bukan hanya memakai baik dan jahat atau salah dan benar secara luaran sebagai standar, lebih-lebih dengan Kristus yang ada di dalam Anda sebagai standar. Bukan hanya masalah membenci atau mengasihi, lebih-lebih adalah masalah kasih ini berasal dari diri sendiri atau berasal dari Kristus. Pada saat demikian, Anda adalah orang yang berada di atas salib, Anda adalah orang yang telah ditamatkan. Orang yang telah ditamatkan tidak memiliki kasih, juga tidak memiliki kebencian; orang yang telah ditamatkan tidak ada benar, juga tidak ada salah. Orang yang telah ditamatkan di atas salib, Kristus akan hidup di dalam dirinya. Di mana ada kematian salib, di sana ada kebangkitan Kristus. Pada saat demikian, Dia hidup di dalam Anda, segala yang berasal dari Dia yang keluar melalui Anda, baik itu adalah kebaikan, kasih, terang, atau hal-hal yang membuat orang lain mendapatkan faedah, apa pun juga, semuanya membuat orang berjumpa dengan Kristus. Bukan hanya membuat orang berjumpa dengan Kristus, di dalam diri Anda sendiri juga mendapatkan unsur Tuhan lebih banyak. Sehari demi sehari, Kristus makin bertambah di dalam Anda, bertambah sedemikian rupa sehingga Anda tidak perlu memikirkan; di dalam Anda Dia akan memberikan perasaan kepada Anda bahwa hal-hal itu berasal dari Dia.

Saudara saudari, hari ini yang ingin Allah dapatkan adalah banyak orang tampak terang salib, tampak bahwa di atas salib manusia telah diakhiri. Terang ini membuat orang tidak bisa bangun kembali, membuat orang jatuh rebah. Inilah penampakan yang hebat, tidak hanya membuat temperamen seseorang tidak bisa keluar, bahkan yang baik dari dirinya pun tidak bisa keluar. Penampakan ini membuat seluruh diri orang jatuh rebah ke dalam kematian. Puji syukur kepada Tuhan, di atas diri siapa ada kematian salib, di atas dirinyalah akan ternyata kebangkitan Kristus. Begitu Anda memiliki pengalaman sedemikian, Anda akan tampak bahwa Kristus adalah hayat Anda, Anda berada di dalam kematian salib, yakni Anda berada di atas jalan salib.

W.L