Daftar isi Dua Belas Bakul (12) · bab 11/12

Ministri yang Terang Mulia

Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 3:5-9, 18; 4:1-2, 7-11, 16.

Dalam berita ini kita akan menyinggung tentang ministri. Dalam hal ini ada dua istilah yang berkaitan, yaitu ministri dan minister. Minister adalah orangnya, ministri adalah urusannya. Yang satu mengacu kepada manusianya, yang lainnya mengacu kepada perkaranya. Yang ingin kita bahas di sini bukanlah minister, melainkan ministri.

LIMA HAL MENDASAR UNTUK BEKERJA BAGI TUHAN

Saya harap setiap saudara saudari bisa mengingat jelas bahwa orang yang bekerja bagi Tuhan, orang yang melayani Allah, harus mengenal lima hal mendasar, yaitu panggilan, visi (atau wahyu), karunia, ministri, dan pimpinan. Jika seseorang mengharapkan pelayanannya berbobot, bisa menjamah kehendak Allah itu, yakni rencana kekal Allah, dia harus memiliki pengenalan yang jelas terhadap kelima hal yang mendasar tersebut. Jika Anda melayani Allah namun tidak jelas terhadap panggilan, sepertinya tidak memiliki wahyu, karunianya juga tidak nyata, ministrinya tidak tuntas, kabur dalam hal pimpinan, maka Anda hanya dapat menjadi seorang pengkhotbah yang umum disebut dalam kekristenan, Anda tidak bisa menjadi hamba Allah, tidak bisa menjadi utusan Allah. Jika Anda adalah seorang hamba yang dibangunkan, diutus, dan dipakai oleh Allah, pastilah di atas diri Anda ada panggilan yang jelas, wahyu yang jelas, karunia yang nyata, ministri yang pasti, dan Anda adalah orang yang hidup di dalam pimpinan Tuhan. Kiranya kita semua mengingat kelima hal ini. Kelima butir ini haruslah menduduki tempat yang sewajarnya di atas diri kita masing-masing, memiliki bobotnya tersendiri, barulah pelayanan kita ini berasal dari utusan panggilan-Nya; pekerjaan kita, jalan kita, barulah berasal dari visi, dari wahyu.

DIRI SENDIRI BERHENTI, BARU BISA TAMPAK TERANG

Tentang visi dan wahyu yang telah kita bahas, perlu kita tambahkan sedikit. Kitab Ayub menampakkan kepada kita bahwa di bumi ini ada satu orang yang sangat beribadah kepada Allah, orang ini adalah Ayub. Di atas bumi ini, sulit sekali menemukan orang lain yang begitu beribadah kepada Allah; boleh dikatakan bahwa Ayub tanpa cela, bahkan Allah bisa memberi tahu Iblis bahwa ia tidak bisa menemukan sedikit pun kesalahan pada diri Ayub. Namun kitab Ayub menampakkan kepada kita satu hal, yaitu yang disebut sempurna oleh manusia, kebenaran manusia sendiri, telah menutupi mata manusia, sehingga manusia tidak tampak wahyu Allah, sehingga manusia tidak tampak terang Allah. Ayub memang adalah orang yang sungguh baik, tetapi dari seluruh kitab Ayub kita tampak bahwa ketika Ayub dalam keadaan baik, ia tidak memiliki terang, tidak memiliki wahyu. Ayub takwa dan ibadah kepada Allah, ia tanpa cela, tetapi ia tidak memiliki terang, ia tidak hidup di hadapan terang wajah Allah.

Mungkin Anda akan bertanya kepada saya, berdasarkan apa saya berkata demikian? Saya akan menunjukkan satu dua ayat saja dan Anda akan mengetahuinya. Akhirnya, setelah Ayub berjumpa dengan Allah, dia berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb. 42:5). Perkataan ini memberi tahu kita bahwa sebelum pasal 42, Ayub adalah orang yang hanya mendengar tentang adanya Allah, ia tidak tampak terang Allah.

Ayub pernah berkata bahwa jika ia bisa menemukan Sang Mahakuasa, ia akan memaparkan perkaranya kepada-Nya, menanyakan di manakah letak kesalahan dirinya. Perkataan ini menunjukkan dua hal. Pertama, ia sungguh-sungguh adalah seorang yang sempurna, kalau tidak, bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan sedemikian. Sahabat-sahabatnya berkata kepadanya bahwa Allah itu adil, jika Ayub tanpa salah, Allah tidak akan membuatnya demikian terpukul; namun Ayub sama sekali tidak menerima perkataan ini. Kedua, menunjukkan bahwa Ayub belum menemukan Allah. Meskipun ia adalah seorang yang sempurna, seorang yang takwa dan ibadah kepada Allah, seorang yang berkelakuan benar, tetapi ia tidak mempunyai terang. Ketika Allah mengizinkan Iblis menanggulangi Ayub, jangan sekali-kali mengira bahwa Ayub telah berbuat salah. Allah menanggulangi Ayub justru dikarenakan dia tidak memiliki kesalahan sama sekali.

Saudara saudari terkasih, saya benci karena suara saya terlalu kecil. Betapa saya ingin berteriak sehingga seluruh alam semesta mendengar bahwa Allah menanggulangi Ayub bukan karena Ayub berbuat salah, melainkan karena ia terlalu benar. Dia benar sedemikian rupa sehingga Iblis tidak berdaya menanggulanginya; dia benar sedemikian rupa sehingga dalam alam semesta ini ia ingin berargumentasi dengan Allah, berdebat dengan Allah. Namun ingatlah, orang yang benar sering kali adalah orang yang buta. Merasa diri sendiri benar membuat orang menjadi buta, merasa diri sendiri benar menutupi orang dari melihat terang, merasa diri sendiri benar membuat orang tidak tampak Allah.

Saudara saudari, merasa diri sendiri benar justru mencelakakan Ayub. Benar ini justru menjadi kesulitan bagi Ayub; benar ini juga adalah musuh Allah. Jadi, Anda menghargai kesempurnaan Ayub, namun Allah tidak. Allah mengizinkan Iblis menghancurkannya, Allah mengizinkan Iblis memukulnya sedemikian rupa sehingga Ayub tidak tahu harus bagaimana. Dalam seluruh Alkitab tidak pernah tercantum pertengkaran mulut seperti yang tercantum dalam kitab Ayub. Dari keempat puluh dua pasal di depan dari kitab Ayub, tiga puluh enam pasal membicarakan perbantahan manusia. Ayub berbantahan dengan ketiga sahabatnya, sangat seru. Sahabat pertama datang, mereka berdebat; Ayub tidak terima. Sahabat kedua datang, berdebat lagi; Ayub kembali tidak terima. Sahabat ketiga datang, lagi-lagi berdebat, sekali lagi Ayub membantah mereka. Sedikitnya setiap sahabatnya menghabiskan tiga pasal, total sudah sekitar sembilan pasal untuk perbantahan, semua sahabatnya dikalahkan oleh Ayub. Kemudian datanglah seorang pemuda yang bernama Elihu, kembali berdebat. Akhirnya, setelah Ayub sendiri berjumpa dengan Allah, ia menarik napas panjang dan berkata bahwa dirinya telah memakai perkataan yang bodoh sehingga mengaburkan kehendak-Nya, dan menutupi terang-Nya.

Kita tahu, ketika kita berbicara dengan orang, paling baik adalah membiarkan orang lain berbicara sampai habis baru kita menanggapinya. Allah paling sabar, terus membiarkan mereka berbantahan, berbantahan sedemikian rupa sehingga akhirnya ketiga sahabat Ayub tidak bisa berkata apa-apa lagi. Perkataan Ayub juga habis, saat inilah baru Allah masuk. Allah tidak berkata yang lain, Allah mengajukan beberapa hal kepada Ayub. Berapa banyak pertanyaan yang Allah ajukan kepada Ayub? Ada orang yang menghitung, Allah bertanya tiga puluh lebih pertanyaan kepadanya. Beberapa pasal terakhir dari kitab Ayub berupa pertanyaan Allah kepada Ayub. Satu pun tidak bisa dijawab oleh Ayub. Melalui ditanya demikian, di dalam Ayub menjadi terang, segera Ayub berkata, “Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Tanpa pengertian aku telah bercerita . . . Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Menyesalkan apa? Menyesalkan diri sendiri. Bukan menyesal atas diri sendiri yang tidak baik, melainkan menyesal atas diri sendiri yang baik; bukan menyesal atas diri sendiri yang bobrok, melainkan menyesal atas diri sendiri yang sempurna, yang bajik. Justru diri sendiri yang sempurna dan bajik itulah yang telah menutupi terang Allah.

Saudara saudari terkasih, ingatlah, orang yang ingin tampak visi Allah, seorang yang ingin tampak terang Allah, orang ini harus berhenti, perkataannya harus sudah selesai. Sampai hari ini, saya masih melihat ada saudara saudari yang di hadapan allah perkataannya belum juga selesai diucapkan, mereka memiliki pendapat sendiri, memiliki pandangan sendiri; bahkan mereka merasa bahwa pendapat mereka paling benar, pandangan mereka paling tepat. Tidak beberapa lama yang lalu, ada seorang saudara yang cukup mengenal saya datang menemui saya dan berkata, “Saudara Lee, mengapa kita tidak melakukan ini, mengapa tidak melakukan itu? Betapa baiknya kalau kita melakukannya, kalau kita melakukannya kita akan mendapatkan faedah.” Menghadapi pertanyaan semacam ini, saya selalu menjawab, “Kalau memang baik, ya silakan Anda melakukannya.” Maksud saya, saudara, Anda tidak tahu apa yang Anda katakan. Begitu Anda melakukannya, Anda baru tampak. Anda berkata bahwa ada penyertaan Allah, sebenarnya, Anda tidak menemukan Allah. Anda berkata bahwa Allah berkenan, sebenarnya Anda tidak menjamah apa-apa. Begitu Anda benar-benar mau berjalan ke depan, Anda akan tampak ketidaktepatan yang Anda lihat. Ketika Ayub belum berjumpa dengan Allah, saya rasa, dalam seluruh alam semesta ini, tidak ada orang yang lebih benar daripada Ayub. Ayub benar sedemikian rupa sehingga bisa berkata, “Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, . . . kupenuhi mulutku dengan kata-kata pembelaan.” Cara pembicaraan Ayub ini adalah cara orang yang belum berjumpa dengan Allah. Betapa sembrono dan betapa butanya orang yang belum berjumpa dengan Allah. Namun setelah lewat sejangka waktu, Allah datang, Allah menampakkan diri kepadanya, barulah Ayub takluk. Hanya dari perkataan orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oh, perkataanku dulu yang begitu banyak adalah perkataan tanpa pengetahuan, betapa tidak berfaedah, semua itu hanya membuat kehendak Allah terselubung, hanya membuat terang Allah tertutupi. Sekarang tidak ada yang patut disesalkan kecuali diri sendiri yang sempurna. Ayub telah tampak terang.

Saudara saudari, orang yang tampak terang pasti adalah orang yang telah selesai berbicara; orang yang tampak terang adalah orang yang telah diam tenang. Semoga setiap orang yang melayani Allah bisa tampak hal ini. Di dalam dan di luar bisa diam tenang, barulah Allah bisa keluar. Kapan saja Anda berbicara, Allah tidak akan berbicara. Inilah perbedaan antara Maria dengan Marta. Maria, seorang yang diam tenang; Marta, seorang yang selalu sibuk. Hasilnya, yang seorang mendapatkan wahyu, yang seorang tidak mendapatkan wahyu. Apakah Tuhan tidak berbicara kepada Marta? Tidak! Bukan Tuhan tidak berbicara kepada Marta, melainkan karena di dalam Marta tidak bisa berhenti, tidak bisa diam, maka dia tidak bisa mendengar.

Saya harap, dalam hal pelayanan kepada Tuhan, setiap saudara saudari bisa belajar menenangkan diri, belajar tidak membawa masuk opini sendiri, belajar tidak membawa masuk pandangan sendiri, pendapat sendiri. Semoga Anda bisa berkata di hadapan Allah, “Ya Allah, segenap diriku berhenti, diam, semua perkataan di dalamku telah habis.” Demikian Anda membaca Alkitab, demikian Anda mendekati Tuhan, pasti ada terang, ada wahyu, ada visi, bisa menjamah jalan yang hendak ditempuh Allah, bisa menjamah pekerjaan yang hendak Allah kerjakan di atas bumi.

Orang yang tidak memiliki terang, pasti ada masalah di dalam dirinya. Orang yang tidak memiliki visi, pasti di dalam dirinya ada barang lain. Problemnya bukan di pihak Allah, semua problemnya terletak pada pihak kita. Namun ingatlah, jika Anda tidak memiliki visi, tidak memiliki wahyu, Anda tidak bisa melayani Allah. Anda hanya bisa melayani pendapat Anda sendiri, pandangan Anda sendiri, cara Anda sendiri. Anda hanya bisa melakukan pekerjaan Anda sendiri, Anda tidak bisa melakukan pekerjaan Allah. Karena Anda tidak memiliki wahyu Allah, tidak memiliki visi Allah, tidak tampak barang yang hendak Allah berikan kepada Anda.

MANFAAT KARUNIA TERBATAS

Setelah ada wahyu, ada visi, selanjutnya adalah masalah karunia. Karunia harus mengikuti visi. Ada visi, tampak Tuhan sendiri; ada visi, tampak isi pelayanan; tetapi, bagaimana supaya visi yang dilihat bisa dilayankan kepada orang lain? Ini memerlukan karunia. Misalnya, saya pulang dari membeli ikan. Namun saya tidak bisa memasak, saya tidak memiliki karunia memasak. Tentu ikan itu tidak bisa saya sajikan kepada Anda. Meskipun saya telah dipanggil, juga telah memiliki visi, memiliki wahyu, telah tampak harus berbuat apa, tetapi kalau saya tidak bisa melakukannya, tidak mempunyai karunia, itu akan tidak berarti. Karunia adalah semacam kemampuan rohani, kalau Anda tidak memiliki kemampuan rohani, Anda tidak bisa melakukan pekerjaan rohani. Karena itu, orang-orang yang belajar melayani Allah harus mendambakan karunia, melatih karunia, sehingga menjadi kemampuan rohani diri sendiri.

Namun ingatlah, karunia bukanlah barang yang paling baik dalam pelayanan kita. Dalam pelayanan terhadap Allah, karunia adalah “pinjaman” sejenak dari Allah; itu bukan yang paling baik, juga tidak seharusnya bersifat jangka panjang. Misalnya, di suatu tempat ada beberapa saudara saudari yang telah beroleh selamat selama dua atau tiga tahun, meskipun ada yang beroleh selamat cukup lama tetapi pengenalan rohaninya tidak cukup banyak. Namun semua dibangkitkan oleh Tuhan untuk mengadakan suatu sidang di tempat itu. Begitu ada sidang, tentu perlu ada orang yang berbicara (berkhotbah). Lalu, beberapa saudara yang memiliki hati terhadap Tuhan mulai berdoa, “Tuhan, mohon Engkau membangkitkan orang untuk berbicara di tengah-tengah kami!” Doa semacam ini sepertinya didengar oleh Allah. Ada saudara yang bangkit berbicara; sekali berbicara, cukup baik; dua kali, lumayan; tiga kali, juga tidak ada masalah. Semua merasa gembira dan berkata bahwa saudara anu adalah orang yang dibangunkan Allah. Ketahuilah, ini adalah karunia yang Allah bangkitkan di tempat itu, yaitu karunia untuk berbicara di dalam gereja. Orang ini lebih banyak membaca Alkitab, melihat buku-buku rohani sebagai referensi, merenungkannya, memikirkannya, dengan sangat baik mengutarakannya, sehingga banyak orang terjamah. Banyak berita yang bisa ia sampaikan; apakah yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan? Apakah konsikrasi? Apakah peremukan? Apakah penanggulangan? Apakah menempuh jalan salib? Apakah Kristus hidup di dalam kita, kita hidup di dalam Tuhan? Sepertinya ia seperti Paulus, atau bahkan melebihi Paulus. Namun ingatlah, semua berita yang disampaikan saudara ini hanyalah karunia. Apakah dirinya sendiri benar-benar mengerti apa itu peremukan salib? Apakah dirinya sendiri benar-benar mengerti apa itu hidup di dalam Tuhan? Mungkin mengerti, tetapi di dalam otak, di dalam perkataan. Di atas dirinya, adakah peremukan salib? Ini persoalan yang besar! Adakah dia secara riil hidup di dalam Tuhan? Ini juga adalah persoalan.

Mungkin Anda bertanya, “Apakah saudara ini telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya?” Tidak, sedikit pun tidak. Jika saudara ini tidak ada di tempat itu, saudara saudari yang lainnya mungkin pergi tidur. Dia berbuat demikian, ada faedahnya sendiri. Orang yang baru dibangkitkan oleh Tuhan, hanya memiliki karunia. Namun setelah seseorang melayani Tuhan sejangka waktu yang lama, setelah suatu gereja berdiri sejangka waktu yang lama, kalau di dalam gereja hanya ada karunia saja, itu tidaklah memadai, bisa timbul masalah. Orang yang melayani Tuhan harus mengubah karunianya menjadi yang lain, yaitu ministri, demikian baru gereja bisa dibangunkan.

Dikatakan dari segi peremukan salib, misalnya saudara ini selama satu tahun berselang telah memberitakan dua atau tiga puluh kali tentang peremukan salib. Namun atas diri saudara ini, belum tentu ada hayat peremukan salib. Khotbah tentang peremukan salib bisa keluar dari mulut orang yang berkarunia, tetapi hayat peremukan salib belum tentu bisa tertampak dari diri orang tersebut. Ini tidak bisa didapatkan melalui doa selama tiga hari. Doa bisa mendapatkan karunia, doa tidak bisa mendapatkan ministri.

KARUNIA HARUS BERUBAH MENJADI MINISTRI

Bagaimana ministri ini didapatkan? Ini didapatkan sejak hari dia tampak terang peremukan salib, dan dia takluk di bawah terang itu, menerima peremukan salib. Mengalami peremukan sedemikian rupa sehingga sampai suatu hari, dirinya adalah peremukan salib itu, hayat peremukan salib telah tersusun di dalam dirinya. Atas dirinya, peremukan salib bukan hanya merupakan suatu khotbah, bukan hanya suatu teori, bukan hanya suatu pembicaraan, tetapi juga adalah suatu susunan, suatu hayat, yakni telah menjadi orang tersebut.

Di dalam gereja harus ada karunia, di dalam gereja juga harus ada ministri. Namun Anda tidak bisa mengharapkan begitu suatu gereja telah berdiri dua tahun lamanya, harus sudah memiliki ministri; mungkin ini memerlukan waktu lima tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun. Jika atas diri saudara ini Roh Allah dan hayat Allah memperoleh kerja sama yang memadai, Roh Kudus bisa menggarapkan hayat peremukan di atas dirinya. Ketahuilah, sampai suatu hari, ketika saudara ini memberitakan lagi peremukan salib, ia tidak perlu lagi membaca Alkitab atau buku referensi, karena manusianya justru adalah peremukan salib. Peremukan salib tidak lagi berupa khotbah dari mulutnya, melainkan telah tersusun di dalam dirinya selama delapan atau sepuluh tahun, telah terbentuk di dalam saudara ini.

Surat Korintus terdiri dari dua Surat, yaitu Surat Pertama dan Surat Kedua. Surat 1 Korintus adalah surat dari rasul yang menanggulangi masalah karunia, dan Surat 2 Korintus memperlihatkan kepada kita apakah ministri itu. Orang-orang Korintus sangat memperhatikan karunia. Paulus berkata bahwa mereka tidak kekurangan dalam karunia apa pun; karena itu dalam 1 Korintus 12 dan 14 Paulus menyebutkan berbagai macam karunia. Dari sini kita bisa tampak bahwa seorang yang berkarunia, satu gereja yang berkarunia, mungkin saja masih dalam keadaan hijau, kacau balau. Gereja di Korintus kaya akan karunia, tidak ada karunia yang tidak dimiliki, tetapi gereja di Korintus sangat kacau. Percabulan, pertengkaran, bergolong-golongan, . . . berbagai macam kekacauan ada di sana.

Dalam Surat 1 Korintus tidak membicarakan karunia, melainkan menanggulangi karunia. Paulus memperlihatkan kepada gereja di Korintus bahwa hanya memiliki karunia tidaklah bisa memenuhi kebutuhan gereja, tidak bisa membereskan masalah dalam gereja. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Paulus memperlihatkan kepada mereka bahwa karunia tidak bisa membereskan masalah-masalah dalam gereja. Hanya ketika Kristus yang disalibkan tertampil dari gereja, masalah pun terbereskan. Karunia bisa memenuhi sebagian kebutuhan gereja, tetapi tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan, lebih-lebih tidak bisa membereskan seluruh masalah dalam gereja. Karunia bisa membuat gereja mendapatkan bantuan, tetapi ketika dalam gereja timbul masalah, karunia belum tentu bisa membereskannya. Yang bisa membereskan masalah dalam gereja adalah Kristus yang disalibkan.

Sampai di Surat 2 Korintus, Paulus tidak menyinggung karunia, melainkan memperlihatkan kepada kita bagaimanakah sebenarnya rasul yang memperhidupkan Kristus yang disalibkan. Satu pasal demi satu pasal ia memperlihatkan kepada kita bahwa di sini bukan hanya suatu karunia, melainkan suatu ministri. Bukan hanya setiap hari memberitakan doktrin tentang salib, melainkan setiap hari membiarkan kematian Kristus bekerja di atas dirinya, membiarkan salib ternyata di atas dirinya, hasilnya orang ini menjadilah satu ministri. Pada saat demikian, Kristus yang disalibkan yang diberitakan Paulus bukan satu doktrin, tetapi satu kehidupan. Doktrin itulah karunia, kehidupan itulah ministri. Ministri bukan hanya di mulut membicarakan suatu berita, tetapi orangnya hidup di dalam berita tersebut.

Saudara saudari terkasih, gereja yang baru dibangunkan, tentu saja hanya bisa memiliki karunia, tidak bisa memiliki ministri. Mungkin benih ministri sudah tertanam di sana, namun belum bertumbuh besar, belum bisa menghasilkan buah yang limpah. Namun, setelah lewat sejangka waktu lamanya, seharusnya timbul ministri. Setiap orang yang memiliki karunia harus berubah menjadi ministri.

Sekali lagi saya katakan, apakah karunia? Karunia adalah Roh Tuhan menimpa diri Anda, memberi Anda suatu kemampuan rohani, membuat Anda bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Apakah ministri? Ministri berarti Anda hidup di dalam hayat Roh Kudus, Anda hidup di dalam berita yang Anda khotbahkan, Anda hidup di dalam terang yang Anda tampak, membiarkan Roh Kudus di dalam Anda terus melakukan pekerjaan penyusunan, membaurkan berita yang Anda khotbahkan ke dalam Anda, dibaurkan sedemikian rupa sehingga diri Anda adalah khotbah Anda, diri Anda adalah ministri khotbah Anda.

Tidaklah mudah bila berkhotbah menggunakan karunia; harus banyak membaca Alkitab, banyak membaca buku referensi, sepanjang minggu harus mempersiapkan diri, begitu berdiri di mimbar terasa gemetar, khawatir kalau-kalau setelah berbicara sedikit lalu melupakan yang lainnya. Setelah berkhotbah, adakalanya sangat menyesal mengapa bagian yang mengharukan lupa disinggung! Inilah cerita karunia. Namun, setelah karunia berubah menjadi ministri, Anda naik mimbar, Anda tidak akan melupakannya, bagaimanapun Anda berbicara, semuanya sangat serasi; karena khotbah (berita) itu hidup di dalam Anda, diri Anda juga hidup di dalam berita itu. Anda tidak berkhotbah dengan menggunakan karunia, Anda membuktikan khotbah dengan ministri, menggunakan perkataan ministri mengutarakan apa yang ada di dalam.

Setiap orang yang melayani Tuhan, tidaklah cukup bila hanya memiliki karunia, perlu karunia berubah menjadi ministri, barulah memadai. Pada kesempatan yang lalu saya menganjuri saudara saudari untuk mendambakan karunia, karena kalian baru mulai melayani Tuhan, kalian harus memiliki karunia. Sekarang saya memberi tahu kalian, hanya memiliki karunia tidaklah berharga, masih perlu mengalami pengikisan di tangan Tuhan, mengalami peremukan, agar berita yang Anda khotbahkan bisa tersusun ke dalam Anda, menjadi manusia Anda, agar karunia Anda menjadi ministri Anda.

Mungkin Anda juga ingin bertanya, “Bisakah karunia pemberitaan Injil juga menjadi ministri?” Jawabannya ialah “Bisa!” Saya pernah melihat, ada saudara saudari muda yang sungguh memiliki karunia memberitakan Injil. Ketika mereka berdiri di mimbar memberitakan Injil, sulit ada orang yang tidak tergerak, sulit ada orang yang tidak mengaguminya. Akan tetapi ingatlah, setelah dia turun dari mimbar, mungkin saja saat ia tampak banyak orang tidak beroleh selamat, ia sedikit pun tidak tergerak hatinya. Ini berarti hanya memiliki karunia Injil namun tidak memiliki ministri Injil. Ketika ia berdiri di mimbar, roh Injil tertampil, petah lidah Injil ternyata, namun dalam kehidupan di bawah mimbar, tidak hanya roh Injil tidak ada, bahkan Injil itu pun tidak ada, inilah karunia.

Saya juga pernah melihat seorang saudari minionaris Barat, dia pernah tinggal di Fuchou selama belasan tahun, masa tuanya tinggal di Shanghai. Ketika Anda bertemu dengannya, Anda merasa bahwa atas dirinya tidak begitu ada karunia Injil, namun Anda merasakan bahwa orang ini justru adalah Injil. Atas dirinya Injil telah tersusun selama lima, enam puluh tahun, orang ini telah menjadi ministri Injil. Dia tidak perlu memberitakan Injil, namun dirinya sudah merupakan Injil. Dia benar-benar memiliki kekuatan Injil, begitu dia memberikan traktat Injil, tidak ada yang tidak tergerak. Injil telah tersusun di dalam dirinya sedemikian rupa sehingga menjadi satu ministri.

Petah lidah saya sungguh sangat kurang; sejak kecil hingga sekarang, saya terus belajar bahasa Inggris, namun bahasa Inggris saya masih tidak karuan. Namun saya ingin bertanya kepada Anda, dalam hal berbicara dengan bahasa Mandarin, disinggung secara perumpamaan, ini karunia atau ministri? Saya rasa semua orang tahu, ini adalah ministri. Mengapa? Karena saya tidak perlu berpikir sudah bisa langsung mengutarakannya, bahasa Mandarin sudah tersusun di dalam saya, bahasa Mandarin telah menjadi manusia saya. Namun jika sekarang menyuruh saya berkhotbah dengan bahasa Inggris, saya harus menggunakan sekuat tenaga membaca buku-buku referensi, baik-baik mempersiapkannya. Inilah karunia. Atas diri saya, bahasa Mandarin adalah ministri, bahasa Inggris adalah karunia. Ini hanya sekadar misal.

Jadi, apakah karunia? Karunia ialah pada hari-hari biasa Anda tidak berada di dalamnya, hanya pada waktu-waktu tertentu Anda menggunakannya. Apakah ministri? Ministri ialah pada hari-hari biasa Anda berada di dalamnya, Anda adalah itu dan itu adalah Anda; inilah ministri.

Sampai di sini tentunya Anda sudah mengerti apa yang dikatakan dalam 2 Korintus 3 tentang ministri yang berkemuliaan. Di bawahnya Paulus mengatakan bahwa kita memandang kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, dan kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. Dia terbuka kepada Tuhan, diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, karena itu ministrinya memiliki kemuliaan.

Sampai pasal 4 Paulus berkata lebih lanjut bahwa kita memiliki harta (mustika) di dalam bejana tanah liat. Sejak hari harta ini dimasukkan, di dalam ada mustika, namun di luar tidak ada hari yang damai; di dalam ada mustika, namun di luar ditindas; semua itu tidak lain bertujuan agar mustikanya makin hari makin berkembang menjadi besar. Maut bekerja di atas diri kita, Tuhan juga bekerja di atas diri kita. Ini bukanlah yang bisa diberitakan oleh perkataan saja, melainkan satu firman hayat, di atas dirinya telah berubah menjadi ministri.

JIKA KARUNIA TIDAK BERUBAH MENJADI MINISTRI,

GEREJA PASTI DIRUGIKAN

Saudara saudari, dalam gereja harus ada karunia, tetapi dalam gereja juga takut kalau ada karunia. Cobalah renungkan, di manakah problem gereja di Korintus? Problem di gereja di Korintus adalah karena memiliki banyaknya karunia. Saya ingin mengisahkan satu kisah yang sebenarnya. Ada satu gereja di suatu tempat yang benar-benar dirahmati Allah, dan Allah membangunkan dua orang yang berkarunia memberitakan. Pada awalnya kedua saudara tersebut sangat segar, terasa berkat Tuhan, banyak saudara saudari yang mendapatkan berkat. Namun sejangka waktu yang tidak lama kemudian, kedua orang tersebut memiliki banyak pandangan yang berbeda terhadap kebenaran. Misalnya, saudara yang pertama berdiri berkhotbah bahwa untuk mati bersama Tuhan kita perlu memiliki wahyu, perlu tampak; mengutarakan dengan sangat baik. Setelah lewat satu minggu, tiba minggu berikutnya, saudara yang kedua berdiri berkhotbah, juga membahas tentang mati bersama Tuhan. Dia berkata bahwa hanya memiliki wahyu saja tidak cukup, masih perlu setiap hari mengikuti Roh Kudus mematikan perbuatan-perbuatan daging, baru terhitung; dia juga berkhotbah dengan sangat baik. Satu minggu kemudian, saudara yang pertama mendapat giliran berkhotbah, sekali lagi membicarakan Roma 6, mengatakan bahwa jika orang tidak tampak mati bersama Kristus, pasti tidak akan bisa mengalami mati bersama Kristus. Membunuh diri sendiri dengan cara apa pun bisa, hanya mati disalibkan yang tidak bisa dilakukan diri sendiri. Saudara saudari yang hadir juga merasa apa yang dikatakan itu benar. Lewat satu minggu lagi, kembali saudara yang kedua berdiri di mimbar. Dia berkata, Surat Kolose dengan jelas memberi tahu kita bahwa kita harus mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita, bagaimana bisa berkata tidak bisa mati disalibkan? Akibatnya, mimbar menjadilah kisah Ayub (yang berdebat dengan sahabatsahabatnya). Demikian terus berlangsung hingga dua tahun, saudara saudari yang hadir makin lama makin berkurang. Orang-orang yang tadinya dibawa masuk karena karunia, sekarang, semakin mendengar khotbah, semakin tidak mempunyai jalan untuk ditempuh. Dua orang berkhotbah tentang mati, namun keduanya tidak ada yang mati. Tak peduli khotbah tentang mati disalibkan atau tidak bisa mati disalibkan, kedua orang itu belum disalibkan; keduanya memberitakan hal disalibkan, namun keduanya tidak memiliki realitas disalibkan. Mereka memiliki perkataan salib, tetapi tidak memiliki hayat salib. Perkataan salib keluar dari mulut mereka, tetapi hayat salib tidak tersusun di dalam mereka, tidak menjadi ministri mereka.

Jadi, di sini kita tampak bahwa karunia berubah menjadi ministri adalah satu perkara yang besar. Saya mohon Allah bersaksi bagi saya, ketika saya melihat banyak saudara saudari mengasihi Tuhan, mau melayani Tuhan, mengeluarkan waktu mereka, tak mempedulikan masa depan, ini sungguh bukan masalah kecil, saya merasa ini sangat berharga, saya juga merasa sukacita. Namun di aspek lain, hati saya juga merasa “khawatir” bagi mereka, kalau orang-orang yang ingin melayani Allah ini hanya memiliki karunia dan tidak memiliki ministri, beberapa tahun kemudian, di banyak tempat akan timbul percekcokan, perselisihan. Bukan orang lain yang bertengkar, antar mereka sendiri sudah bertengkar. Ini bukan cerita saja, melainkan dapat saya tunjukkan dengan kejadian sesungguhnya, baik di tempat yang jauh maupun di tempat yang dekat. Yang di dekat kita, di daratan bisa kita temukan; yang di tempat yang jauh, dari sejarah gereja, Kaum Saudara bisa terpecah menjadi dua aliran, semuanya dikarenakan adanya pertentangan dalam doktrin kebenaran. Dua doktrin bertengkar, bertengkar hebat sedemikian rupa sehingga gereja terpecah-belah.

Kita semua pernah membaca biografi George Whitefield. Geoerge Whitefield mempunyai seorang teman sekerja yaitu John Wesley; mereka berdua bersama-sama mendapatkan bantuan dari Zinzendorf. Namun kalau kita membaca biografi mereka, kita akan menemukan bahwa pada awalnya mereka adalah dua sekerja yang sangat baik, tetapi di tengah jalan timbul masalah di antara mereka. Ketika membicarakan tentang kekudusan (kesucian), Zinzendorf berkata, “Kita tidak memiliki kekudusan, juga tidak berdaya menjadi kudus; kekudusan kita ialah Kristus.” George Whitefield juga menyetujui pendapat ini. Namun Wesley berkata, “Kekudusan kita ialah di dalam kita ada satu kekuatan yang menyingkirkan dosa yang ada di dalam kita, sehingga kita sama sekali bersih.” Kekudusan adalah satu kesempurnaan yang tanpa dosa. Atas butir inilah timbul pertentangan yang hebat di antara mereka berdua, sampai-sampai akhirnya mereka tidak bisa lagi bekerja sama.

Karena itu saudara saudari terkasih, jika Anda tidak tampak apa yang dimaksud dengan karunia berubah menjadi ministri, kelak pasti timbul suatu keadaan, berapa banyak khotbah yang bisa Anda katakan, sebanyak itulah perdebatan yang bisa muncul. Sampai karunia itu di atas diri Anda berubah menjadi ministri, barulah perdebatan itu akan terhenti. Saudara saudari, banyak perdebatan hanyalah karena doktrin. Hanya ketika Anda hidup di dalamnya, Anda akan tampak bahwa itu tidak bisa diperdebatkan; kalau ya, pasti ya, kalau tidak, pasti tidak. Tidak perlu perdebatan.

Seperti tadi telah kita singgung, ada orang berkata bahwa berbuat begini salah, berbuat begitu betul; saya akan berkata, silakan Anda melakukannya! Begitu perkaranya dipraktikkan, segala masalah akan lewat. Saya harap, para pewajib gereja, begitu menghadapi masalah serupa, ingatlah bahwa satu-satunya jawaban ialah menganjurkan orang yang mendebat untuk melakukannya. Segala perdebatan tidak perlu dilakukan; yang bisa menyingkirkan perdebatan ialah meminta orang yang mengusulkan atau mendebat untuk melakukan.

Karunia ada kedudukannya, tetapi hanya bisa berlangsung sepotongan waktu pada awalnya, kalau berlangsung lama, tidak ada faedahnya. Jika karunia terus mempertahankan keberadaannya di luar ministri, ia akan menjadi hal yang sangat mencelakakan gereja. Karunia harus kehilangan hakikinya di dalam ministri, demikian baru tidak mencelakakan gereja.

Saudara saudari terkasih, ingatlah, berapa banyak Anda bisa mengatakan, berapa banyak Anda bisa melakukan, jika Anda tidak bisa memperhidupkan sebanyak itu, maka apa yang Anda katakan, apa yang Anda lakukan, pada awalnya bisa membantu orang, akhirnya akan mencelakakan gereja. Jika setelah dikatakan, telah dilakukan, namun tidak menjadi kehidupan Anda, tidak bisa tersusun di dalam Anda, maka apa yang Anda katakan, lakukan, akan menjadi kesulitan di dalam gereja.

Saya harap semua saudara saudari yang memiliki karunia bisa tampak, gereja memang memerlukan karunia, tetapi karunia tidak bisa terlalu lama, umur karunia tidak seharusnya terlalu panjang. Hal ini seharusnya seperti ulat, perlu menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu yang terbang pergi. Karunia harus segera berubah menjadi ministri. Jika karunia tidak menjadi ministri, pada awalnya gereja memang akan mendapatkan bantuan, tetapi akhirnya akan meruntuhkan gereja.

Izinkan saya bersaksi, sejak hari pertama saya keluar melayani Tuhan, saya telah memiliki teman sekerja, dan hingga kini telah berlangsung dua puluh tahunan. Boleh dikatakan, sulit sekali Anda mendengar khotbah saya yang menolak khotbah sekerja yang lain; atau saya menulis suatu artikel yang menyatakan tidak setuju terhadap khotbah sekerja yang lain. Lalu, Anda mungkin bertanya, “Saudara, selama dua puluh tahunan ini, apakah pandangan Anda terhadap suatu kebenaran selalu sama dengan sekerjasekerja lainnya?” Sama sekali tidak. Di banyak tempat belum tentu memiliki pandangan yang sama. Lalu, mengapa tidak bertengkar? Ingatlah, setiap kali saya hendak membicarakan hal yang berbeda itu, di dalam saya ada satu benda — benda ini boleh Anda sebut sebagai salib, sebagai penanggulangan Tuhan, sebagai pengendalian Roh Kudus, — telah membunuh perdebatan yang ada di dalam saya, membuat saya tetap bisa bekerja sama dengan para sekerja.

Saudara saudari terkasih, jika Anda berbicara menuruti selera karunia, maafkan saya berkata, akibatnya sangat bahaya. Anda bisa jatuh ke dalam keekstreman, ke dalam kesalahan, tetapi diri sendiri masih tidak menyadarinya. Karunia boleh digunakan, namun tidak bisa berdasarkan selera karunia itu, hanya boleh memberi suatu batas pada karunia, selanjutnya harus membiarkan hayat karunia lenyap di dalam ministri. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, mohon semua perkataan ini memancarkan terang di dalam kita, agar banyak saudara saudari sekerja muda yang sekalipun menghargai karunia, tetapi tidak hidup di dalam karunia tersebut, melainkan belajar hidup di bawah naungan salib, menerima pengendalian Roh Kudus, membiarkan salib tersusun di dalam dirinya, demikian karunia berubah menjadi ministri. Demikian barulah kita bisa menjadi bantuan bagi gereja dan tidak menjadi kesulitan di dalam gereja; bisa membangun gereja, tidak meruntuhkan gereja.

W.L