Visi yang dari Surga
Pembacaan Alkitab:
Kis. 26:19; Gal. 1:11-12, 16; 2 Tim. 3:14-15; 2:21; Yer. 15:19; Ayb. 42:3-5; Mat. 5:8; 2 Kor. 3:15-18.
Dalam berita ini kita akan melihat bagaimana bekerja bagi Tuhan. Orang yang bekerja bagi Tuhan, pertama dia harus memiliki panggilan; kedua, harus memiliki visi. Kita akan memakai waktu yang cukup banyak untuk melihat hal visi ini, atau hal wahyu ini; orang yang melayani Tuhan harus mengenal hal ini.
VISI DAN WAHYU PAULUS
Dalam Perjanjian Baru, boleh dikata, Paulus adalah seorang yang standar dalam melayani Tuhan; ia adalah pekerja yang standar. Dalam banyak perkataannya, yang paling memberi kesan kepada kita ialah bahwa dia tidak menyangkal visi (penglihatan) yang dari surga. Perkataan ini menampakkan kepada kita bahwa pelayanan seumur hidup Paulus, pekerjaan seumur hidup Paulus, berasal dari visi ini.
Karena itu saudara saudari harus jelas, jika Anda melayani Allah, Anda harus mendapatkan visi dari Allah. Misalnya, Anda mempunyai seorang pembantu rumah tangga di rumah Anda, Anda tentu tidak senang jika pembantu Anda itu sibuk bekerja tanpa mendengarkan perintah Anda atau menerima petunjuk Anda terlebih dulu. Anda tentu tidak mau memakai pembantu yang demikian. Seorang pembantu yang baik, begitu masuk ke suatu rumah, pasti bertanya kepada tuannya, apakah yang tuan rumah inginkan; karena ia datang bukan untuk melakukan pekerjaannya sendiri, bukan melakukan urusannya sendiri, melainkan menjadi seorang pembantu yang mendengarkan amanat. Ia datang untuk melakukan pekerjaan Anda, melakukan urusan Anda. Ini adalah butir dasar yang harus kita pegang teguh.
Hal yang paling ditakutkan atas orang yang melayani Tuhan ialah dengan gairah dan kemauan pribadi melakukan banyak pekerjaan. Yang paling ditakutkan di dalam pekerjaan Tuhan adalah membawa masuk hal yang ingin dikerjakan manusia, hal yang dipandang seharusnya oleh manusia, hal yang dipandang baik oleh manusia, ke dalam pekerjaan Tuhan.
Pendidikan yang Paulus terima sejak kecil; pengajaran dan didikan yang dia terima, yang dia tampak, dan yang dia sentuh; semuanya adalah milik Perjanjian Lama, adalah Yudaisme, adalah hukum Taurat. Boleh dikata, ketika Paulus keluar menganiaya orang Kristen, semua barang Yudaisme tersusun bukan hanya di dalam otaknya, bahkan tersusun di dalam manusianya. Manusianya bisa mewakili Perjanjian Lama, bisa mewakili hukum Taurat, bisa mewakili ajaran Yudaisme. Yudaisme, hukum Taurat, Perjanjian Lama, semua berada di dalam Paulus; bukan hanya merupakan satu macam pendidikan, bukan hanya merupakan suatu pengetahuan, bahkan telah menjadi diri manusia Paulus. Jika Paulus yang sedemikian ini datang melayani Allah dan ia tidak memiliki visi yang dari surga, coba bayangkan, apa yang akan dia bawa dalam pelayanannya? Yang dia bawa pasti adalah hukum Taurat, Perjanjian Lama, Yudaisme, karena semua itu telah tersusun di dalam dirinya, telah menjadi manusianya.
Itulah sebabnya ketika Allah memanggil Paulus, perkara pertama yang Allah lakukan ialah menyoroti dia dengan terang, membuat dia jatuh rebah ke tanah. Rebahnya Paulus kali itu mewakili rebahnya Yudaisme, rebahnya Perjanjian Lama, dan rebahnya hukum Taurat. Karena seluruh hukum Taurat, Perjanjian Lama, Yudaisme, telah tersusun di dalam dirinya. Terang Perjanjian Baru Allah menyoroti manusia yang atas dirinya mewakili Perjanjian Lama. Di hadapan terang ini, dia tidak bisa berdiri lagi, manusianya jatuh rebah. Begitu dia rebah, dia telah membawa rebah semua yang dia wakili. Perjanjian Lama telah rebah, hukum Taurat telah rebah, Yudaisme telah rebah, semua telah rebah, tamat.
Saudara saudari terkasih, Anda tentu ingat, ketika Paulus dipanggil, dia mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama ialah, “Siapa Engkau, Tuhan?” Ingatlah, Paulus bukanlah orang yang ateis. Dia memiliki Allah, dan dia sangat mempercayai Allah. Alasan utama dia menganiaya orang Kristen adalah karena dia percaya kepada Allah. Dia sangat bergairah bagi Allah nenek moyangnya, namun dia tidak mengenal Allah. Sekali-kali jangan mengira bahwa jika seseorang memiliki pengetahuan Alkitab yang banyak, dia tentu bisa mengenal Allah. Itu bukan jaminan. Mungkin Paulus bisa menghafal seluruh isi Perjanjian Lama, namun pengetahuan tidak bisa mewakili untuk mengenal Allah. Paulus adalah orang yang bergairah bagi Allah, adalah orang yang mengenal Alkitab, tetapi dia masih tidak mengenal Allah. Tidak hanya demikian, dia bahkan menentang Allah. Secara luaran, dia sedang melayani Allah, tetapi sesungguhnya, dia sedang menentang Allah. Dia menendang galah rangsang, sama sekali tidak mengenal Allah. Karena itu, ketika dia jatuh rebah oleh sorotan terang, dari surga ada satu Persona yang memanggil dia, namun dia tidak mengenal siapa Dia. Paulus bertanya, “Siapa Engkau, Tuhan?” Tuhan menjawab dia, “Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.” Kamu mengira sedang menganiaya orang Kristen? Sebenarnya kamu sedang menganiaya Aku. Aku ada di dalam Petrus, Yakobus, Stefanus. Menurut pandanganmu, kamu sedang menganiaya orang Kristen, sedang menganiaya gereja, tetapi menurut pandangan-Ku, kamu sedang menganiaya Aku. Aku adalah Yesus, orang Nazaret yang kauaniaya itu.
Paulus segera sadar, dia mengetahui; selanjutnya menyusul pertanyaan yang kedua, “Tuhan, apakah yang harus aku perbuat?” Pertanyaan pertama adalah ingin mengenal Tuhan, pertanyaan kedua adalah ingin mendapatkan wahyu Tuhan, mendapatkan visi Tuhan. Tuhan berkata, “Bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Saudara saudari, dari sinilah dimulai wahyu Paulus, dimulai visi Paulus. Wahyu ini, visi ini, telah memutuskan pelayanannya yang lampau, dan memulai pelayanan Perjanjian Barunya. Yudaisme yang lampau telah tamat, hukum Taurat yang lampau telah tamat, Perjanjian Lama yang lampau telah tamat; pengetahuan agama yang lampau sejak hari itu juga telah tamat. Sejak hari itu, mata lahiriah Yudaismenya telah buta, matanya yang mewakili hukum Taurat telah buta. Tadinya dia memimpin orang menentang kekristenan, kini dia harus dipimpin orang untuk masuk ke kota Damsyik. Matanya yang di luar telah buta. Namun sejak itu, matanya yang di dalam terbuka dan terang. Matanya yang lama, yang di luar, telah buta; matanya yang di dalam, yang baru, telah dibuka dan terang. Untuk memutuskan segala keusangannya, matanya yang di luar harus buta. Begitu matanya yang di luar buta, maka matanya yang di dalam menjadi terang.
Saudara saudari, baik Anda adalah orang yang baru beroleh selamat atau yang telah lama beroleh selamat; sebagai orang-orang yang mengurusi urusan gereja atau berprofesi yang lain, ingatlah, jika Anda ingin pelayanan Anda mencapai syarat dasar dari Allah, mata Anda yang di luar harus buta. Mata yang mewakili corak Anda itu harus buta. Jika mata Anda tidak buta, manusia Anda yang lampau tidak bisa diputuskan. Jika mata Anda yang di luar tidak buta, mata Anda yang di dalam sulit terbuka. Jika mata yang di dalam tidak terbuka, Anda sulit tampak visi Allah, sulit tampak wahyu Allah.
Hari ini di sinilah letak kesulitan kekristenan. Di dalam kekristenan terdapat banyak Paulus dari Tarsus, matanya yang di luar tidak buta, namun matanya yang di dalam buta. Itulah sebabnya Anda tampak bahwa hari ini terdapat banyak kekacauan di dalam kekristenan. Mengapa? Karena banyak orang yang datang ke dalam gereja, mata mereka tidak pernah buta, mereka belum pernah jatuh rebah. Mereka bisa membawa masuk Perjanjian Lama, hukum Taurat, Yudaisme, dan banyak barang lainnya ke dalam gereja, karena itu mereka tidak mendapatkan wahyu Allah, tidak mendapatkan visi Allah. Pelayanan mereka masih merupakan pelayanan Perjanjian Lama, harfiah; pelayanan mereka bukan dikarenakan mendapatkan visi dari surga.
Paulus berkata bahwa sejak hari ia mendapatkan sorotan terang di jalan menuju Damsyik, dia tidak pernah tidak taat (mengkhianati) kepada penglihatan (visi) yang dari surga. Perkataannya ini menyatakan jalan pelayanannya kepada Allah. Dari surga ada satu visi ditampakkan kepada dia, dan dia telah tampak visi ini. Karena itu barang-barang Perjanjian Lama terhenti, dan mulailah jalan Perjanjian Baru. Misalnya terhadap hal sunat, sekalipun Anda mencuci darah orang Yahudi sampai bersih, masih tidak bisa menyuruh mereka tidak memelihara sunat ini. Namun terhadap hal ini Paulus pun telah tercuci bersih; dia menolaknya. Perjanjian Lama, hukum Taurat, Yudaisme, telah lewat di atas dirinya. Bagaimana bisa lewat? Paulus berkata bahwa dia tidak pernah tidak taat kepada penglihatan yang dari surga. Perkataan Paulus ini dikatakan kepada Raja Agripa. Karena Paulus telah membuang Yudaisme, maka dia menimbulkan amarah orang Yahudi sehingga mereka mendakwa Paulus. Paulus berkata, aku membuang Yudaisme, itu bukan karena kemauanku sendiri, melainkan karena aku tampak visi. Hari ini aku membawa belenggu, menjadi tawanan, bukan karena yang lain, melainkan karena aku tidak mengkhianati visi yang dari surga. Yang usang aku tidak mau; aku harus mempertahankan yang baru. Jalan yang lama tidak bisa kutempuh, aku harus berlari di atas jalan yang baru.
Sampai Galatia 1 Paulus berkata, “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi.” Ini bukan hanya satu visi yang di luar, mengenai jalan, tetapi juga satu wahyu yang di dalam, mengenai hayat. Dia berkata bahwa dirinya tidak pernah tidak taat kepada penglihatan yang dari surga, itu adalah mengenai jalan yang di luar. Dia juga berkata bahwa Allah telah mewahyukan Anak-Nya di dalam dirinya, ini adalah mengenai hayat yang di dalam. Dia mengenal Kristus sebagai hayat di dalam orang yang melayani Allah.
VISI DAN WAHYU ADALAH JALAN DAN HAYAT PELAYANAN
Saudara saudari terkasih, kini kita khusus membahas dua hal ini: Yang satu adalah visi, yaitu jalan; yang lainnya adalah wahyu, yaitu hayat. Jalan yang tadinya ditempuh Paulus bukanlah jalan dosa, melainkan jalan pelayanan terhadap Allah; hanya, itu adalah jalan pelayanan terhadap Allah milik Perjanjian Lama, adalah jalan pelayanan Yudaisme terhadap Allah. Setelah terang surga menyoroti dirinya, barulah dia sadar bahwa jalan yang lama itu sudah tidak bisa ditempuhnya lagi, bahwa cara yang lama harus ditinggalkan, dan seluruh jalan pelayanannya terhadap Allah pun berubah. Jalannya yang dulu itu belum selesai ditempuhnya, dia telah dipotong di tengah jalan. Apakah dia sudah benar begitu dia berganti jalan? Masih belum cukup, yang di dalam juga harus diganti. Hanya mengganti cara yang di luar tidaklah cukup, hayat yang di dalam juga harus diganti. Jalan yang usang tidak bisa ditempuh, cara yang usang tidak bisa dipakai, hayat yang usang pun harus dikesampingkan.
Dalam kalangan kekrsitenan, banyak orang yang memperhatikan terang pada perjalanan ke Damsyik, namun banyak orang yang tidak tampak terang hayat di dalam Paulus. Banyak orang berkata bahwa Paulus tidak pernah tidak taat kepada visi yang dari surga, namun mereka mengabaikan pewahyuan Anak Allah di dalam Paulus yang disinggung dalam Galatia 1. Terang ini bukan hanya merupakan perkara jalan yang di luar, lebih-lebih merupakan perkara hayat yang di dalam. Ini bukan hanya perkara penanganan di luar, lebih-lebih adalah perkara hayat di dalam.
Misalnya ada orang bertanya kepada saya, “Saudara, mengapa kalian berkata bahwa orang harus dibaptis selam, bukan dibaptis percik?” Saya akan menjawab bahwa ini bukan hanya merupakan satu cara yang di luar, lebih-lebih merupakan satu pengenalan terhadap Kristus yang di dalam. Jika Anda hanya mengubah cara yang di luar dan tidak ada penggantian yang di dalam, itu tidak ada artinya. itu bagaikan pepatah yang mengatakan “mengganti air (kuah) tanpa mengganti obat”. Di luar telah diubah, di dalam tidak; ini tidak ternilai. Jalan yang di luar harus ada visi, hayat yang di dalam harus ada wahyu. Jalannya adalah surgawi, hayatnya adalah Kristus.
Beberapa hari ini ada saudara-saudara dalam Tuhan yang selalu bersekutu dengan saya. Mereka bertanya, “Mengapa gereja kalian sedikit pun tidak memperbincangkan masalah sosial masyarakat? Sepertinya kalian berada di awangawang.” Jawaban saya adalah, saya adalah hamba Allah, berbicara bagi Allah, bagaimana saya bisa memperbincangkan masalah sosial masyarakat? Bagaimana saya bisa ikut menangani masalah-masalah di bumi. Ingatlah, visi yang dari surga selalu membuat orang menjadi surgawi. Gereja itu surgawi, tidak menerima pencemaran bumi. Entah itu tradisi masyarakat, peraturan masyarakat, semua ini adalah perkara manusia bumiah, bukan perkara gereja. Meskipun gereja berjalan di atas bumi, tetapi gereja bukan milik bumi (bumiah), gereja menempuh jalan yang surgawi di atas bumi. Inilah jalan gereja. Hayat gereja juga surgawi, bahkan adalah Kristus sendiri. Gereja tidak hanya memiliki jalan surgawi, gereja juga memiliki hayat Kristus.
Saudara saudari terkasih, melayani Allah harus memiliki visi, harus memiliki wahyu. Jalan untuk melayani Allah berasal dari visi, hayat untuk melayani Allah berasal dari wahyu. Dalam hal melayani Allah, barang-barang milik manusia tidak dapat dibawa masuk. Pandangan Anda sendiri yang dulu tidak bisa dibawa masuk, yang berasal dari suku bangsa mana pun tidak bisa dibawa masuk; corak lama tidak bisa dibawa masuk, corak baru juga tidak bisa dibawa masuk. Tidak ada satu pun pengaturan agama tertentu, tidak ada cara kelompok masyarakat tertentu, tidak ada metode masyarakat tertentu, tidak ada suatu pemikiran diri pribadi, yang bisa Anda bawa ke dalam pelayanan terhadap Allah. Yang Anda bawa tidak bisa lebih baik daripada yang dibawa Saul; yang Anda bawa mungkin barang-barang Socrates, mungkin barang-barang tokoh terkenal lainnya; tetapi barang yang dibawa Saul itu hanyalah barang-barang Perjanjian Lama, barang-barang agama yang Allah berikan kepada nenek moyangnya. Semua itu tidak bisa; semua itu telah lewat, Allah tidak menghendaki semua itu. Apa lagi jika yang Anda bawa itu adalah barang-barang milik masyarakat, milik dunia, berasal dari manusia. Tak peduli barang-barang itu sesuai dengan zaman atau tidak, tidak bisa dibawa ke dalam pelayanan gereja. Visi yang surgawi membuat semua orang yang melayani Allah menghentikan pemakaian cara bumiah, metode bumiah. Semua itu adalah yang luaran.
Bagaimana dengan yang di dalam? Di dalam harus mengenal Kristus. Ketika Anda berkhotbah, apa yang Anda khotbahkan? Berkhotbah itu banyak macamnya. Yang diberitakan Socrates juga adalah suatu khotbah, demikian juga yang diberitakan Konghucu atau Mengtze atau lainnya. Akan tetapi, khotbah yang kita beritakan adalah Kristus sendiri. Kristus adalah khotbah itu. Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah; Firman itu telah menjadi manusia. Firman ini bukan yang objektif, melainkan yang subjektif, adalah yang Allah wahyukan di dalam kita. Kita bisa memberitakan firman bukan karena hasil putaran otak manusia, bukan dari pemikiran manusia, juga bukan karena membaca Alkitab beberapa kali. Tidak, melainkan karena Allah mewahyukan Anak-Nya di dalam kita; kita telah mengenal Anak Allah, Anak Allah adalah hayat kita. Inilah yang sekarang kita beritakan. Jalan yang kita beritakan berasal dari visi surgawi; isi yang kita beritakan berasal dari wahyu. Jalannya surgawi, isinya adalah milik Kristus, bahkan adalah Kristus sendiri.
Saudara saudari, ini sungguh sangat mendasar. Firman yang kita beritakan bukanlah huruf-huruf yang mati, bukan pengajaran yang mati, bukan paham yang mati, juga bukan doktrin yang mati. Firman yang kita beritakan adalah Yesus yang hidup, Kristus yang hidup, yakni Tuhan sendiri. Kita justru memberitakan Tuhan yang hidup ini, Kristus yang hidup ini; dan cara yang kita gunakan berasal dari surga.
Di beberapa tempat, saya tampak, ada kelompok kekristenan yang ketika mengadakan “Kebaktian Kebangunan Rohani”, karena takut jumlah yang hadir sedikit, lalu menyelipkan tontonan dalam acara tersebut. Begitu iklan atau brosur disebarkan, banyak orang berdatangan. Kita semua tahu bahwa acara tontonan tersebut ditaruh di antara khotbah, sehingga orang yang ingin menonton mau tak mau juga mendengar khotbah. Akibatnya, tidak jarang timbul gerutuan yang mengecam lamanya tontonan disajikan. Ada yang tidak tahan lalu pergi. Begitu tontonan dimulai, teriakan-teriakan bermunculan. Saya berkata kepada beberapa saudara, buat apa kita melakukan hal-hal demikian? Saya berani dengan tegas berkata bahwa cara semacam ini tidak memiliki visi yang dari surga. Namun, firman yang kita beritakan adalah diri Tuhan sendiri, yang hidup; cara yang kita gunakan adalah surgawi, rohani. Dunia memakai tontonan untuk menarik orang, tetapi kita tidak bisa melakukan itu.
Akhir-akhir ini kita sering mengadakan pengijilan keliling. Di banyak tempat, dengan memukul genderang, berkeliling untuk mengumpulkan orang; semua sunguh bersemangat. Namun di dalam saya ada satu pertanyaan, apakah cara ini adalah visi dari surga? Apakah tahan terhadap sorotan terang surgawi? Demikian mengumpulkan orang dengan genderang, apakah ini cara yang surgawi? Atau cara yang bumiah? Apakah ini memakai kekuatan surgawi menggerakkan orang mendengarkan Injil, atau orang berkumpul karena genderang? Ada saudara yang berkata, tidaklah salah kalau memukul genderang. Bukankah pada hari Pentakosta itu ada suara yang dari surga, dan orang-orang berkumpul karena suara itu? Namun saya berkata, suara itu dan suara ini berbeda. Suara itu berasal dari surga, suara ini berasal dari buatan manusia. Yang pertama berasal dari surga, yang terakhir berasal dari bumi.
Saya tidak berkata bahwa kita sama sekali tidak boleh memakai genderang. Permulaan adanya pasukan Injil, saya sepenuhnya ikut bertanggung jawab; yaitu dimulai di Shanghai Nanking pada tahun 1948. Namun secara serius, apakah hal ini sesuai dengan karakteristik surgawi, ini sungguh satu persoalan. Saya tidak bermaksud kalian semua menentang pasukan Injil, saya tidak bermaksud demikian. Tujuan saya ialah menampakkan kepada saudara saudari bahwa melayani Allah harus memiliki visi, melayani Allah harus memiliki wahyu. Anda tidak bisa membawa masuk cara dunia, cara kelompok tertentu, cara masyarakat, cara orang kuno dulu, cara pemberita zaman sekarang, atau cara apa pun.
Akan tetapi, hanya memiliki jalan yang luar masih belum cukup, masih harus ada hayat di dalam. Allah tidak hanya menyuruh kita memberitakan jalan yang di luar, melainkan juga menyuruh kita memberitakan hayat yang di dalam. Allah tidak menyuruh kita memberitakan pembaptisan, Allah menyuruh kita memberitakan Kristus yang mati dan yang bangkit. Inilah hayat kita. Saya rasa, dengan demikian sederhana kita singgung, kita seharusnya sudah jelas. Visi dan wahyu yang dari surga menampakkan kepada kita jalan dan isi dari pelayanan terhadap Allah.
MELAYANI TUHAN HARUS MEMILIKI VISI
Setiap orang yang melayani Allah harus memiliki visi. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, kita tampak bahwa setiap orang yang melayani Allah, pasti memiliki visi. Habel mempersembahkan domba, ini menunjukkan dia memiliki visi, memiliki wahyu. Banyak pembaca Alkitab yang membela Kain, mengira bahwa Allah tidak adil. Sang kakak mempersembahkan, sang adik juga mempersembahkan, mengapa Allah berkenan kepada persembahan sang adik dan tidak berkenan kepada persembahan sang kakak? Pada awalnya, saya juga tidak bisa menerima. Namun perlahan-lahan saya tahu, bahwa di sana ada persembahan yang berasal dari visi dan ada persembahan yang berasal dari diri sendiri. Persembahan Habel berasal dari visi, Allah memperlihatkan kepadanya apa yang harus ia perbuat dan Habel berbuat demikian. Sedangkan Kain, ia sendiri ingin melakukan begitu, sama sekali tidak memperhatikan kehendak hati Allah; karena itu Allah tidak bisa memperkenannya. Ini bagaikan seorang hamba, yang tanpa perintah tuannya, memindahkan perabotan kamar tuannya ke luar. Terhadap hamba yang demikian, tentu tidak ada tuan yang mau memakainya.
Kita lihat selanjutnya, apakah Nuh pada suatu hari bermimpi, dan setelah bangun, ia lalu membangun sebuah bahtera? Tidak. Nuh membangun bahtera karena mendapatkan wahyu Allah, mendapatkan visi Allah. Allah memberi tahu dia harus berbuat apa, dan berdasarkan perintah Allah itu Nuh bertindak. Lihat lagi Abraham, dia keluar dari Ur-Kasdim, bukan karena dia senang berbuat demikian, melainkan atas wahyu Allah. Allah yang memberi visi kepadanya.
Kita lihat lagi, Musa memimpin bani Israel keluar dari Mesir. Ini juga bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan Allah yang berfirman bahwa Allah mengutus dirinya untuk membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Musa harus memberi tahu bani Israel bagaimana menyembelih domba, bagaimana mengoleskan darahnya pada ambang pintu, bagaimana memakan daging domba, bagaimana makan roti tidak beragi, bagaimana membawa tongkat di tangan dan berkasut di kaki. Bagaimana orang Mesir akan menyuruh mereka pergi dan bagaimana mereka harus keluar. Inilah visi. Allah berfirman kepada Musa, Musa pergi, dan membawa bani Israel keluar. Musa memimpin bani Israel keluar, sampai di padang gurun, juga bukan Musa sok pintar sendiri yang memikirkan bagaimana mendirikan Kemah Pertemuan, mendirikan mezbah, membuat tabut, membuat kaki pelita emas. Semua itu dikarenakan Musa berada di hadapan Allah selama empat puluh hari empat puluh malam; Allah memberinya wahyu, Allah memperlihatkan pola yang di surga kepadanya. Setelah turun gunung, Musa melakukannya sesuai dengan perintah Allah. Inilah pelayanan wahyu.
Setelah itu, ada Yosua. Allah berfirman bahwa Yosua harus kuat perkasa, dengan berani memimpin bani Israel menyeberang Sungai Yordan. Karena Allah telah memberikan wahyu, maka ia bisa bertindak. Lihatlah lagi Samuel, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, mereka semua telah melihat visi. Tidak ada seorang nabi pun yang bisa melayani Allah tanpa melihat visi, tanpa melihat wahyu.
Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, lebih-lebih dalam Perjanjian Baru. Selama tiga tahun, Tuhan Yesus membimbing murid-murid-Nya agar memiliki pandangan surgawi. Setelah Roh Kudus dicurahkan, murid-murid memiliki wahyu. Paulus memiliki visi, juga memiliki wahyu. Demikian juga Yohanes yang menulis Surat yang terakhir dalam Alkitab. Itulah sebabnya kitab yang terakhir disebut kitab Wahyu. Saya rasa, contoh-contoh telah cukup banyak. Saudara saudari, jika kalian ingin melayani Allah, kalian harus memiliki visi, harus memiliki wahyu.
BAGAIMANA BISA TAMPAK VISI
Bagaimana baru bisa tampak visi? Bagaimana baru bisa mendapatkan wahyu? Apakah jalan untuk mendapatkan wahyu? Meskipun atas diri masing-masing orang jalannya tidak mutlak sama, namun prinsipnya sama.
Visi berasal dari Allah, bukan berasal dari Anda. Jika Allah menampakkan kepada Anda, Anda baru bisa tampak; jika Allah tidak menampakkan kepada Anda, Anda tidak akan tampak. Namun di atas diri setiap orang ada suatu kewajiban.
Kita bicarakan dulu Paulus. Sepertinya Paulus tidak menuntut untuk mendapatkan visi, tidak menuntut untuk mendapatkan wahyu; Allah memberinya wahyu secara mendadak. Tidak hanya Paulus demikian, Musa pun demikian. Ketika Musa sedang menggembalakan kambing domba di Gunung Horeb, ia sama sekali telah melupakan masalah orang Israel. Namun Allah datang dan menyuruhnya memimpin bani Israel. Sepertinya dia tidak mempunyai penuntutan apa-apa, dan sepertinya Allah sekonyong-konyong datang memberinya visi. Benarkah mereka tidak ada hati untuk itu? Jika Anda menelitinya lebih dalam, Anda akan menemukan bahwa baik Musa dalam Perjanjian Lama maupun Paulus dalam Perjanjian Baru, mereka memiliki hati itu. Sebelum Musa tampak visi, dia pernah memakai kekuatannya sendiri untuk memukul orang Mesir, dia ingin menyelamatkan orang Israel. Meskipun dia melarikan diri ke padang gurun, tetapi maksud hatinya tetap diingat oleh Allah. Caranya salah, tetapi minatnya diperkenan. Ketika Musa mencapai umur delapan puluh tahun, menurut perhitungannya sendiri, manusia hidup hanya tujuh puluh tahun, kalau kuat delapan puluh tahun. Musa sendiri seolah berkata, aku telah tamat, caraku, tenagaku, semua telah tamat. Justru pada saat inilah Allah memberinya visi. Dari sini kita tahu bahwa visi Allah berdasarkan minatnya pada empat puluh tahun sebelumnya. Paulus juga demikian. Meskipun jalannya salah, caranya salah, dia menendang galah rangsang, tetapi Anda tidak bisa berkata bahwa Paulus tidak mau melayani Allah. Sebelum dia beroleh selamat, dia tidak mengenal Allah. Dia menyembah Allah hanya karena mendengar tentang adanya Allah. Dia menganiaya orang Kristen justru karena ingin melayani Allah. Hatinya tertuju kepada Allah. Allah memperhatikan hati ini. Karena itu Allah datang dan mencari dia.
Dari seluruh Alkitab, Anda sulit menemukan orang yang sedikit pun tidak ada hati terhadap Allah, dan Allah tiba-tiba memberinya visi. Sedikitnya Anda harus ada hati. Karena itu, untuk tampak visi, pertama harus ada hati terhadap Allah.
Kedua, ingin tampak visi, harus membuang segala yang rendah, yang tidak mulia; sebaliknya, memilih yang mulia. Segala sesuatu yang bukan berasal dari Allah, bukanlah yang mulia. Hari ini, anak-anak Allah tidak tampak visi, tidak tampak wahyu, karena mereka selalu memandang hal-hal yang rendah sebagai hal-hal yang mulia. Ada saudara atau saudari yang telah saya kenal selama belasan tahun, puluhan tahun; atas diri mereka, saya tampak bahwa pengenalan mereka terhadap Tuhan selama puluhan tahun berselang masih tetap begitu saja. Penyebabnya ialah karena mereka terus menghargai yang sedikit yang ada di tangan mereka. Yang sedikit pada mereka itu mungkin berupa harta benda, mungkin usaha, mungkin keluarga, mungkin pelajaran yang mereka terima belasan tahun yang lalu.
Sungguh mengherankan, banyak orang yang tidak memegang erat-erat yang baik, malah memegang erat yang tidak baik. Yang mulia tidak dipegang erat, yang tidak mulia malah dipegang erat. Ada orang yang memiliki “kepandaian” ini: ketika mendengarkan khotbah, yang baik tidak didengar, yang tidak baik justru diingat terus. Pernah saya mengatakan lelucon bahwa banyak orang yang mendengarkan khotbah bagaikan memakan kulit semangka. Isi yang baik tidak didengar, namun perkataan kulit, perkataan biji, malah diingat terus.
Suatu hari, seorang saudara datang dan bertanya kepada saya, “Dalam Perjanjian Lama, Yakub memiliki empat istri, mengapa kini orang tidak boleh memiliki dua istri. Setiap kali saya menjumpai pertanyaan semacam ini, saya kurang senang menjawabnya. Pertanyaan tentang empat istri, bahkan tidak lebih baik daripada makan kulit semangka, ini boleh dikata sebagai makan lumpur yang menempel di kulit semangka. Saya beri tahu Anda, raja Daud membunuh orang dan merebut istrinya, berzina; tetapi anaknya justru yang membangun Bait Allah, apakah Anda mau meniru dia?
Ada orang memakan semangka dengan sangat sederhana, beberapa kecap sudah menghabiskan daging semangkanya. Dia mendengarkan khotbah, menyerap semua yang baik. Sebagaimana orang ini mendengarkan khotbah, demikian juga seluruh kehidupannya. Namun, saya tampak banyak saudara saudari yang memegang erat sedikit yang ada padanya, tidak mau melepaskannya, karena itu mereka tidak dapat tampak visi. Orang yang tampak visi adalah orang yang mau menuang, melepaskan; dia bisa melepaskan seluruh Yudaisme, seluruh hukum Taurat, seluruh Perjanjian Lama. Orang sedemikian pasti memiliki visi.
Saudara saudari terkasih, kita harus memiliki hati, harus bisa melepaskan. Harus senantiasa belajar pelajaran melepaskan, dan melepaskan. Tak peduli apa yang dimilikinya dulu, harus dilepaskan. Sekalipun telah memiliki Ishak, itu masih bukan diri Allah sendiri. Meskipun Ishak bukan dilahirkan karena berbuat dosa, Ishak berasal dari Allah, tetapi Allah berkata bahwa Ishak harus dipersembahkan. Jika Abraham tidak mau mempersembahkan Ishak, itu berarti dia memegang erat yang tidak mulia, dan tidak mau Allah.
Saya ingin bertanya kepada para penatua dalam gereja, apakah kalian menganggap saudara saudari dalam gereja sebagai anak-anak kalian? Jika ya, ini baru benar. Jika tidak memiliki hati sedemikian, berarti kalian menjadi ibu tiri. Setiap saudara pewajib gereja harus memandang setiap saudara saudari sebagai anak-anaknya sendiri. Akan tetapi, saya ingin bertanya, jika suatu hari Allah menyuruh kalian meninggalkan tempat asal kalian dan pergi ke tempat lain, relakah kalian? Ingatlah, rasa enggan meninggalkan ini adalah menyuruh kalian meninggalkan yang tidak mulia untuk mendapatkan yang mulia. Apakah gereja itu berharga? Ya. Akan tetapi, dibandingkan dengan Allah, tentu jauh lebih berharga Allah. Kapan saja kita memegang erat sesuatu di luar Allah, kita sudah tamat. Jangan katakan dunia, emas perak, nama, bahkan hal-hal rohani pun, begitu Anda memegang erat-erat itu, Anda telah tamat. Anda tidak akan memiliki visi.
Ada saudara-saudara yang memikul tanggung jawab di dalam gereja, selalu tidak mau melepaskan pendapat pribadi mereka, selalu tidak bisa akur dengan orang lain, selalu memegang opininya sendiri. Saya beri tahu Anda, Anda telah tamat. Ketika saya berada di China daratan, sering ada saudara atau saudari yang berkata, “Saudara Lee, pada diri Anda ada satu masalah, yakni ketika orang lain beralasan kepada Anda, Anda sulit mendengarkannya, orang semakin berbicara, Anda semakin tidak percaya.” Saya menjawab, “Ya, saya mengakui fakta ini. Namun ada juga yang tidak saya akui. Sering kali, berdasarkan urusan, saya senang mendengarkan opini orang, saya senang mendengarkan alasan orang; tetapi berdasarkan manusia, kalau seorang senang beralasan, berarti dia sudah tamat. Karena itu saya tidak senang mendengarkan alasan orang. Jika Anda memegang erat yang tidak mulia, di dalam Anda pasti tidak terang. Meskipun Anda seratus persen benar, Anda tidak seharusnya memegang erat benar Anda itu. Salam setiap hal, dalam setiap urusan, Anda harus memilih yang berharga dan mulia, lepaskanlah yang rendah, yang tidak mulia.
Karena itu ketika kita berkata jangan berebut, bukan berarti kita memiliki suatu kemampuan untuk bersabar. Melainkan kita tampak bahwa di sini ada satu hal yang berharga, yakni Allah sendiri. Di dalam diriku tidak ada tempat untuk masalah lain, kecuali Tuhan. Saudara saudari, saat ini Anda akan tampak bahwa di dalam Anda ada terang. Segala sesuatu yang di luar Allah adalah tidak mulia, hanya Allah yang mulia. Begitu Anda memegang erat yang mulia ini, Anda memiliki terang.
Ketiga, harus belajar menunggu di hadapan Allah. Daniel pasal 10 memberi tahu kita bahwa Daniel menunggu selama tiga minggu di hadapan Allah; setelah tiga kali tujuh hari, barulah malaikat Allah memberitahukan perkara-perkara yang akan datang kepadanya, memberi visi kepadanya. Demikian juga rasul Yohanes, pada hari Tuhan, ketika ia berhampir kepada Tuhan, ia tampak visi dari Tuhan, demikianlah ia menuliskan kitab Wahyu.
Ada lagi, yaitu hati harus bersih. Hati yang suci baru bisa melihat. Kita harus khusus mau Allah, tidak mau yang lain.
Selain itu, hati harus berpaling kepada Tuhan. Dua Korintus mengatakan bahwa begitu hati kita berpaling kepada Tuhan, maka selubung itu akan diambil dari kita. Begitu hati berpaling kepada Tuhan, selubung segera tersingkir. Begitu selubung tersingkir, wajah kita terbuka kepada Tuhan. Tuhan adalah hakiki visi itu, hakiki wahyu itu. Tampak Tuhan berarti tampak visi, tampak wahyu. Jika kita tidak terbuka kepada Tuhan, kita tidak akan bisa tampak visi, tampak wahyu. Pendek kata, harus memiliki hati, harus melepaskan, harus menunggu, harus terbuka, harus bersih. Kalau tidak ada barang yang menutupi terang yang di dalam, pada waktunya, Tuhan akan menampakkan kepada kita.
Kata tambahan: Dalam satu zaman yang sama, bukan semua orang yang melayani Allah masing-masing secara langsung mendapatkan visi. Paulus tampak visi, tetapi Alkitab menampakkan kepada kita bahwa visi Timotius adalah visi yang diberikan Paulus kepadanya. Apakah Anda menemukan visi Timotius sendiri? Tidak ada. Semua yang dilihat oleh Timotius dilihatnya melalui Paulus. Karena itu Paulus berkata bahwa Timotius tahu ia belajar dari siapa, dan sejak kecil ia telah mengenal Kitab Suci (2 Tim. 3:14-15). Artinya, visi yang ia dapat adalah belajar dari Paulus, juga berasal dari Alkitab. Ini berarti, dalam waktu yang sama kita melayani Allah, belum tentu pada waktu yang sama kita langsung mendapatkan visi. Bagaimanapun, yang kita dapatkan adalah satu, dan jalan untuk mendapatkannya sama.