PENCOBAAN-PENCOBAAN TERHADAP AYUB (2)
Pembacaan Alkitab: Ayub 2
Di dalam berita ini, kita akan melanjutkan melihat pencobaan-pencobaan Ayub.
IV. SATU RAPAT DIADAKAN LAGI DI SURGA MENGENAI AYUB
Satu rapat diadakan lagi di surga mengenai Ayub (2:1). Tidaklah mudah bagi Allah untuk memperoleh seseorang seperti Ayub yang takut akan Allah dan berpaling dari kejahatan. Namun yang Ayub capai itu mutlak kesia-siaan. Ini tidak menggenapkan tujuan Allah dan tidak memuaskan kedambaan Allah. Jadi, Allah dengan penuh kasih memperhatikan Ayub dan mengadakan dua kali rapat di surga mengenai bagaimana untuk menanggulangi Ayub (1:6-8; 2:1-3).
A. Diadakan oleh Allah dengan Malaikat-malaikat
Rapat kedua juga diadakan oleh Allah dengan malaikat-malaikat, yaitu anak-anak Allah (ay. 1a).
B. Satan Datang Lagi sebagai Salah Satu dari Yang Hadir
Satan datang lagi sebagai salah satu dari yang hadir, menghadap di hadapan Allah (ay. 1b).
C. Perbincangan Allah dengan Satan mengenai Ayub
Di dalam ayat 2-6 kita melihat bahwa Allah berbincang-bincang lagi dengan Satan mengenai Ayub.
1. Pertanyaan Allah dan Jawaban Satan
Yehovah berkata kepada Satan, “Dari manakah engkau? Lalu jawab Iblis kepada Yehovah: Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi” (ay. 2).
2. Allah Bertanya kepada Satan mengenai Ayub
Menurut ayat 3, Yehovah mengatakan kepada Satan, “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kejujurannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.” Di sini, Allah mengakui bahwa yang dilakukan kepada Ayub itu tanpa alasan.
3. Satan Mengatakan Bahwa Semua yang Dimiliki Seseorang akan Dia Berikan Demi Hidupnya
Satan menjawab Yehovah, sambil mengatakan, “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu” (ay. 4-5). Kelihatannya, Satan sedang menantang Allah. Sebenarnya, Satan mengatakan persis apa yang Allah inginkan, dan Allah senang akan hal itu.
4. Yehovah Memberi Tahu Satan Bahwa Ayub Ada di dalam Tangannya
Yehovah memberi tahu Satan bahwa Ayub ada di dalam tangannya. Tetapi Satan harus membiarkan nyawa Ayub (ay. 6).
5. Allah Membatasi Satan di dalam Batasan Seizin-Nya
Jika Allah tidak membuat satu garis untuk memelihara para pengasih-Nya bagi eksistensi mereka agar mereka bisa mendapatkan Dia sampai tingkat yang paling penuh bagi kepuasan-Nya yang penuh, maka Satan, di dalam sifat jahatnya, akan menyerang para pengasih Allah sedemikian rupa hingga merusak mereka. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa meskipun setelah Allah menghakimi Satan, Allah masih mengizinkan dia untuk leluasa menuduh, menyerang, merusak, menganiaya, dan membuat orang-orang kudus-Nya martir sehingga Allah memakainya sampai satu tingkat tertentu bagi penggenapan tujuan khusus Allah, tetapi Allah selalu membatasi Satan di dalam batasan seizin-Nya.
V. SATAN MENYERANG AYUB, DAN AYUB MENDERITA PENCOBAAN DI DALAM TUBUHNYA
Di dalam ayat 7 dan 8 kita melihat bahwa Satan menyerang Ayub dan bahwa Ayub menderita pencobaan di dalam tubuhnya.
A. Satan Pergi dari Hadapan Allah
Satan pergi dari hadapan Allah (ay. 7a).
B. Serangan Satan
Satan menyerang Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya (ay. 7b).
C. Rasa Sakit Ayub
Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu (ay. 8). Barah yang menutupi tubuhnya itu sangat sakit. Ketika ia duduk di sana dalam kesakitan, ia tidak mengatakan apa-apa.
D. Reaksi Ayub terhadap Pencobaannya
Di dalam ayat 9 dan 10, kita memiliki reaksi Ayub terhadap pencobaannya.
1. Reaksi Cemoohan dari Istrinya
Di dalam reaksi cemoohannya terhadap pencobaan Ayub, istrinya mengatakan, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu/kejujuranmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (ay. 9).
2. Jawaban dan Reaksi Ayub
Di dalam menjawab dan memberikan reaksi kepada istrinya, Ayub mengatakan, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah ktia mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (ay. 10a). Kelihatannya pemikiran Ayub di sini bukanlah menurut prinsip komersil untung dan rugi. Di satu pihak, ia rela menderita kerugian. Namun, rasa sakit fisiknya itu tidak tanggung-tanggung.
3. Ayub Tidak Berdosa dengan Bibirnya
Dalam kesemuanya itu, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (ay. 10b).
VI. SATU PEMANDANGAN YANG BERMAKNA, MENGANDUNG PELAJARAN, DAN DISINGKAPKAN
Di sini kita memiliki satu pemandangan yang bermakna, mengandung pelajaran, dan disingkapkan, satu pemandangan yang melibatkan bumi dan surga. Karena surga adalah asal mula dari pemandangan ini, maka apa yang terjadi kepada Ayub di bumi ini di mulai dari surga. Hari ini, melalui bantuan dari Alkitab, kita bisa melihat pemandangan di bumi dan pemandangan di surga.
A. Pada Akhir dari Rangkaian Serangan-serangan Satan yang Pertama ini, Ayub Tidak Berdoa melainkan Memberkati Allah
Pada akhir dari rangkaian serangan-serangan Satan yang pertama ini, Ayub tidak berdoa melainkan memberkati Allah tanpa berbuat dosa atau menuduh Allah berbuat yang kurang patut (1:20-22).
B. Pada Akhir dari Serangan Satan yang Kedua, Ayub Sangat Menderita Rasa Sakit dengan Tidak Menucapkan Sepatah Kata Pun
Pada akhir dari serangan Satan yang kedua, Ayub sangat menderita rasa sakit dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun (2:13b).
C. Tidak Ada Seorang Pun dari Teman-teman Ayub yang Mengucapkan sepatah Kata pun kepadanya
Dalam kunjungan mereka, ketiga teman Ayub menangis dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dengan dia di tanah selama tujuh hari dan tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya (ay. 12-13a). Mereka tidak bisa mengatakan apa-apa karena mereka tidak memiliki pengenalan, pemahaman mengenai tujuan dari apa yang telah terjadi kepada Ayub.
D. Ayub Mengutuk Hari Kelahirannya
Akhirnya, Ayub mengutuk hari kelahirannya (3:1). Bukannya mengeluh terhadap Allah atau manusia, Ayub malah mengutuki dirinya sendiri ketika mengutuk kelahirannya.
E. Ayub dan Ketiga Temannya Tidak Tahu mengenai Peristiwa Yang Paling Menyakitkan dan Paling Menakutkan itu
Pemandangan yang demikian menunjukkan bahwa Ayub dan ketiga temannya itu semuanya tidak tahu mengenai peristiwa yang paling menyakitkan dan paling menakutkan itu dan mereka bingung dalam kesalehan mereka, serta tidak mampu menjelaskan apa penyebabnya, apa tujuannya, dan apa hasilnya.
VII. SATU TAHAP DARI EKONOMI ILAHI
Pengalaman Ayub adalah satu tahap dari ekonomi ilahi. Di dalam situasi ini, Allah mengambil satu tahap untuk menggenapkan sesuatu pada diri Ayub.
A. Peristiwa itu Telah Direncanakan oleh Allah
Tidak diragukan lagi, peristiwa itu telah direncanakan oleh Allah. Ini tidak seharusnya menjadi satu masalah bagi kita. Dalam rencana-Nya, Allah dua kali mengadakan satu rapat dan dua kali berbincang-bincang dengan Satan mengenai Ayub, dan Satan jatuh ke dalam rencana Allah.
B. Untuk Melaksanakan Penghabisan dan Pelucutan terhadap Ayub yang Puas Diri
Tahap di dalam ekonomi Allah ini adalah untuk melaksanakan penghabisan dan pelucutan terhadap Ayub yang puas diri dengan pencariannya terhadap Allah. Sebelum Satan menyerang kali pertama, Ayub adalah seorang yang merasa sudah puas. Ia puas sepenuhnya dan dipuaskan dengan pencapaian-pencapaiannya di dalam segala sesuatu. Akhirnya, harta benda, kesehatan, dan kejujuran Ayub dilucuti dan dihabisi.
C. Untuk Membawa Ayub ke dalam satu Pencarian yang Lebih Dalam terhadap Allah
Maksud Allah adalah untuk membawa Ayub ke dalam satu pencarian yang lebih dalam terhadap Allah agar ia bisa mendapatkan Allah bukannya berkat-berkat Allah dan pencapaian-pencapaiannya dalam kesempurnaan dan kejujurannya. Ayub merasa puas dalam alam kesuksesan atas perolehannya akan hal-hal materi dan dalam pencapaian-pencapaian etikanya, tetapi ia tidak memiliki sesuatu yang berasal dari Allah. Karena itu, Allah membawa dia ke dalam alam lainnya agar ia bisa mendapatkan Allah.
VIII. SATU ALAT YANG BURUK DENGAN SATU AMANAT YANG TIDAK TERHORMAT
Satan adalah satu alat yang buruk yang dipakai Allah untuk menggenapkan satu amanat yang tidak terhormat.
A. Satan Tetap Bebas untuk Sengaja Dipakai Oleh Allah sebagai satu Alat yang Buruk
Pemandangan di dalam Ayub 1 dan 2 ini menunjukkan bahwa Satan, yang telah dihakimi oleh Allah, masih tetap bebas untuk sengaja dipakai oleh Allah sebagai satu alat yang buruk untuk melaksanakan penanggulangan Allah yang keras terhadap orang-orang yang dikasihi-Nya.
B. Amanatnya itu Tidak Terhormat
Amanat Satan dalam melaksanakan penanggulangan Allah terhadap orang-orang yang dikasihi-Nya itu mutlak tidak terhormat.
IX. SATU PERAMPUNGAN YANG MISTERIUS DAN MULIA
A. Serangan Satan atas Ayub Meletakkan satu Dasar yang Misterius dan Mulia
Serangan Satan atas Ayub di dalam dua tahap ini meletakkan satu pondasi atau satu dasar yang misterius dan mulia, bagi Allah untuk menggenapkan transformasi-Nya yang mulia atas diri Ayub dan agar Ayub bisa mengalami transaksi-transaksi yang misterius di dalam hubungannya dengan Allah yang misterius.
B. Untuk Mencapai Standar dan Tingkatan dari Ekonomi Kekal Allah mengenai Orang-orang Pilihan-Nya
Perampungan yang misterius dan mulia adalah bahwa kita akan mencapai standar dan tingkatan dari ekonomi kekal Allah mengenai orang-orang pilihan-Nya, seperti yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru melalui tulisan-tulisan rasul Paulus (2 Kor. 3:18; Ef. 3:9).
Allah itu sangat misterius bukan hanya di dalam persona-Nya melainkan juga di dalam tujuan-Nya, di dalam kedambaan-Nya. Namun, hari ini, kita memiliki Perjanjian Baru, khususnya tulisan-tulisan rasul Paulus, yang melengkapi wahyu ilahi (Kol. 1:25). Jika kita merendahkan diri kita di hadapan Allah dan mengosongkan diri kita dan jika kita miskin di dalam roh, dan mengakui bahwa kita tidak memiliki apa-apa dan tidak tahu apa-apa mengenai persona Allah, tujuan Allah, dan kedambaan Allah, dan datang kepada tulisan-tulisan Paulus dengan bantuan dari berita-berita pelajaran-Hayat, maka kita akan melihat sesuatu mengenai Allah menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam ekonomi kekal-Nya.
Kitab Ayub yang kuno ini misterius, dan kita perlu mempelajarinya di dalam terang dari tulisan-tulisan Paulus. Tanpa surat-surat kiriman Paulus, maka akan sulit bagi kita utnuk memahami kitab Ayub ini karena kesimpulan Ayub tidak memberikan satu pandangan yang jelas kepada kita mengenai tujuan Allah menanggulangi umat-Nya. Namun, di dalam pandangan Perjanjian Baru, sangatnya jelas bahwa tujuan Allah dalam menanggulangi umat kudus-Nya adalah bahwa Dia damba agar mereka dikosongkan dari segala sesuatu dan menerima Allah saja sebagai perolehan mereka. Kedambaan hati Allah adalah bahwa kita mau mendapatkan Dia sepenuhnya sebagai hayat, sebagai suplai hayat, dan sebagai segala sesuatu bagi diri kita.