AYUB MENGUTUKI HARI KELAHIRANNYA
Pembacaan Alkitab: Ayub 3
Di dalam pasal 3, Ayub mengutuki hari kelahirannya. Ia adalah seorang yang baik, dan ia berusaha untuk memelihara kesempurnaan, ketulusan, dan kejujurannya, tetapi karena kekesalannya, ia tidak bisa memuaskan dirinya, dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak diragukan lagi, ia berharap untuk memiliki satu waktu untuk bersekutu dengan Allah, tetapi ini bukanlah sesuatu yang berani ia mulai. Karena tidak mau kehilangan kesempurnaannya, maka ia melepaskan kekesalannya dengan mengutuki hari kelahirannya.
I. AYUB MEMECAHKAN KESUNYIAN ITU DAN MEMULAI PERDEBATAN DENGAN MENGUTUKI HARI KELAHIRANNYA
Ayub memecahkan kesunyian selama tujuh hari dan tujuh malam itu dan memulai perdebatan dengan mengutuki hari kelahirannya karena ia menderita rasa sakit yang amat sangat (2:13; 3:1-3).
A. Terganggu, Dibingungkan, dan Terjerat oleh Penderitaannya
Ayub terganggu, dibingungkan, dan terjerat sampai pada puncaknya oleh penderitaan karena kemalangan yang menimpa harta bendanya, anak-anaknya, dan tulah pada tubuhnya, sebagai pengganti dari kesempurnaan, ketulusan, dan kejujurannya. Ketika Ayub mengutuki hari kelahirannya, ia sungguh tidak sempurna dan tulus. Dalam berbuat demikian, ia tidak berpegang pada kejujurannya. Sebaliknya dengan mengutuki hari kelahirannya, ia menjadi bangkrut dalam kejujurannya. Bagi Ayub mengutuki hari kelahirannya itu berarti ia mengutuki ibunya.
B. Lebih Suka Kegelapan dan Membenci Terang
Ayub lebih suka kegelapan dan membenci terang (ay. 4-10). Mengenai hari kelahirannya, ia mengatakan, “Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya.” Saya menemukan, sulit sekali percaya bahwa Ayub lebih suka kegelapan dan membenci terang.
C. Lebih Suka Kematian Bukannya Kehidupan
Ayub menunjukkan bahwa ia lebih suka kematian bukannya kehidupan (ay. 11-23. Sulit percaya bahwa Ayub sebenarnya lebih suka kematian bukannya kehidupan. Jika kematian adalah kesukaannya, lalu mengapa ia tidak mengakhiri dirinya sendiri dengan demikian memecahkan permasalahannya? Mungkin Ayub tidak berbuat demikian karena ia ingin memelihara kejujurannya.
D. Keluhannya Datang sebagai Makanannya
Ayub mengatakan bahwa keluhannya datang sebagai makanannya dan bahwa keluhannya tercurah seperti air dalam penderitaannya (ay. 24). Yang ia takutkan itulah yang menimpa dia (ay. 25), dan ia tidak memiliki ketenangan, ketentraman dan perhentian, tetapi sebaliknya kesulitan itu datang (ay. 26).
II. PENGALAMAN AYUB TERHADAP PENGHABISAN DAN PELUCUTAN ALLAH DI DALAM PERJANJIAN LAMA INI JAUH KETINGGALAN DARI PENGALAMAN YANG PAULUS MILIKI DI DALAM PERJANJIAN BARU
Pengalaman Ayub terhadap penghabisan dan pelucutan Allah di dalam Perjanjian Lama ini jauh ketinggalan dari pengalaman yang Paulus miliki di dalam Perjanjian Baru. Penghabisan Allah adalah untuk menghabisi kita, dan pelucutan Allah adalah untuk mengambil kekayaan kita dari diri kita. Pertama, Allah melucuti Ayub dari harta bendanya, dan kemudian Allah menghabisi dia. Penderitaan Ayub terhadap tulah pada tubuhnya adalah satu penghabisan. Hari demi hari dan jam demi jam, Ayub sedang dihabisi. Di dalam Perjanjian Baru, penghabisan dan pelucutan Allah menjadi hal-hal yang menyenangkan. Sejak hari Paulus bertobat, ia adalah seorang yang berada di bawah penghabisan Allah dan pelucutan Allah (2 Kor. 4:16).
A. Paulus Ditakdirkan Lahir untuk Disalibkan dan Dilahirkan Kembali Tersalib
Paulus ditakdirkan lahir untuk disalibkan, dan ia dilahirkan kembali tersalib supaya bukan lagi dia yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam dia (Gal. 2:20a). Ketika kita dilahirkan kembali, kita, seperti Paulus, dilahirkan kembali tersalib dengan tujuan agar sejak waktu itu dan seterusnya bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam kita.
B. Paulus Tidak Terjepit di bawah Tekanan-tekanan di Setiap Sisi
Di dalam pengalamannya terhadap penghabisan dan pelucutan Allah, Paulus tidak terjepit bawah tekanan-tekanan di setiap sisi dan ia dihempaskan namun tidak binasa (2 Kor. 4:8-9). Ada banyak tekanan di setiap sisi, namun Paulus tidak terjepit. Setiap hari ia dihempaskan namun ia tidak binasa. Paulus tidak mengutuki hari kelahirannya, dan ia tidak mengatakan bahwa ia lebih suka mati daripada hidup. Sebaliknya, setelah banyak pertimbangan, Paulus mengatakan bahwa ia tetap lebih suka hidup, bukannya mati, karena baginya hidup adalah Kristus (Flp. 1:21-25). Paulus memperhidupkan Kristus itu berarti ia memperbesar Kristus. Kedambaannya adalah memperbesar Kristus baik melalui hidup atau pun melalui mati (ay. 20). Ia tidak peduli akan hidup atau mati; ia hanya peduli untuk memperbesar Kristus.
C. Paulus Rela berada dalam Kesukaran Demi Kristus
Ketika Paulus menderita kesukaran demi Kristus (2 Kor. 12:10), ia rela, ia senang, dan ia bahkan bersukacita di dalam Tuhan karena pengalaman-pengalamannya (Kol. 1:24). Reaksi Paulus terhadap penderitaan-penderitaannya itu sangat berbeda dengan reaksi Ayub. Ayub tidak bersukacita melainkan kesal sepanjang waktu.
D. Paulus Menuntut untuk Diserupakan kepada Kematian Kristus dalam Persekutuan dengan Penderitaan-penderitaan-Nya
Paulus menuntut untuk diserupakan kepada kematian Kristus dalam persekutuan dengan penderitaan-penderitaan-Nya (Flp. 3:10). Ia mengambil kematian Kristus sebagai satu cetakan bagi kehidupannya. Bagi Paulus, adalah satu kesukaan yang besar untuk dicetak dalam kematian Kristus.
E. Selalu Membawa Maut Yesus di dalam Tubuhnya
Paulus mengatakan bahwa ia selalu membawa maut Yesus di dalam tubuhnya dan selalu diserahkan kepada maut demi Yesus agar hayat Yesus bisa dimanifestasikan di dalam tubuhnya yang fana (2 Kor. 4:10-11). Setiap hari di dalam kehidupan Kristianinya, Paulus dimatikan. Satu-satunya jalan baginya untuk memanifestasikan hayat Kristus adalah mengalami kematian Kristus.
F. Manusia Lahiriah Paulus Dihabisi, namun Manusia Batiniahnya Diperbarui Hari demi Hari
Di dalam pengalamannya terhadap penghabisan dan pelucutan Allah, Paulus tidak tawar hati. Meskipun manusia lahiriahnya dihabisi, namun manusia batiniahnya diperbarui hari demi hari. Ia mengatakan bahwa penderitaannya yang ringan sementara ini mengerjakan baginya satu bobot kemuliaan yang kekal (2 Kor. 4:16-17).
Paulus adalah seorang yang berharap untuk dihabisi setiap hari. Ia adalah seorang yang demikian karena ia ingin diperbarui. Pembaruan hanya bisa dirampungkan oleh penghabisan. Jika Anda tidak dihabisi, maka Anda tidak bisa diperbarui. Pembaruan melalui penghabisan semacam ini menambahkan bobot kemuliaan yang akan Anda nikmati di zaman yang akan datang. Kita semua akan mengambil bagian dalam kemuliaan Tuhan, tetapi bobot kemuliaan ini akan berbeda di antara kaum beriman. Melalui penghabisan Allah, maka kemuliaan yang akan kita nikmati itu akan menajdi satu bobot yang kekal.
Ayub menganggap penderitaan kesusahannya sebagai sesuatu yang sangat berat, tetapi Paulus menganggap penderitaannya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan ringan. Bukannya memperhatikan penderitaan kita, kita malah perlu memperhatikan pertambahan bobot kemuliaan itu. Seberapa berbobotnya kemuliaan yang akan kita miliki itu tergantung kepada berapa banyak kita menderita di dalam penderitaan sekarang ini demi Tuhan. Paulus tidak mempedulikan berapa banyak ia telah menderiat. Ia tahu bahwa semakin ia menderita, semakin berbobot kemuliaan yang akan ia nikmati dalam kekekalan.
G. Paulus Memperbesar Kristus melalui Memperhidupkan Dia
Paulus memperbesar Kristus melalui memperhidupkan Dia, baik melalui hidup atau pun melalui mati, oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19-21a0. Inilah kehidupan orang Kristen. Ketika Allah menciptakan manusia, inilah hayat yang Dia inginkan agar manusia memperhidupkannya.
III. MAKSUD ALLAH TERHADAP AYUB
A. Menghabisi “Kesempurnaan dan Ketulusan” Ayub dan Melucuti Pencapaian-pencapaiannya dalam Standar Etika yang Tertinggi dalam Kesempurnaan dan Ketulusan
Maksud Allah terhadap Ayub adalah untuk menghabisi persona yang “sempurna dan jujur” ini dan melucuti pencapaian-pencapaiannya, perolehan-perolehannya di dalam standar etika yang tertinggi dalam kesempurnaan dan ketulusan (Ayb. 1:1)
B. Untuk Merobohkan Alamiah Ayub dalam Kesempurnaan dan Ketulusannya
Maksud Allah juga adalah merobohkan alamiah Ayub dalam kesempurnaan dan ketulusannya sehingga Allah bias membangun seorang Ayub yang telah diperbarui di dalam sifat dan atribut-atribut Allah.
C. Memiliki seorang Ayub di dalam Garis Pohon Hayat
Maksud Allah bukanlah memiliki seorang Ayub di dalam garis pohon pengetahuan baik dan jahat melainkan memiliki seorang Ayub di dalam garis pohon hayat (Kej. 2:9).
D. Membuat Ayub menjadi seorang Manusia Allah
Akhirnya, maksud Allah adalah membuat Ayub menjadi seorang manusia Allah (1 Tim. 6:11; 2 Tim. 3:17), yang dipenuhi dengan Kristus, perwujudan Allah, untuk menjadi kepenuhan Allah bagi ekspresi Allah di dalam Kristus, bukan seorang manusia dengan standar etika yang tinggi di dalam kesempurnaan alamiah, ketulusan alamiah dan kejujuran alamiah Ayub, yang Ayub coba untuk dipertahankan dan dipelihara (Ayb. 2:3, 9a). Orang yang demikian, yang disusun dengan Allah menurut ekonomi-Nya, tidak akan pernah terjerat oleh kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah apa pun, sehingga ia akan mengutuki kelahirannya dan lebih suka kepada mati daripada hidup.
Setelah Allah menciptakan Adam, Dia menaruhnya di depan dua pohon—pohon hayat dan pohon pengetahuan baik jahat. Kemudian Allah menyuruh Adam agar tidak makan dari pohon pengetahuan baik dan jahat, karena jika ia memakan dari pohon itu, maka ia akan mati (Kej. 2:9, 16-17). Allah ingin agar Adam makan dari pohon hayat. Jika Adam makan dari pohon hayat, maka pohon ini akan masuk ke dalamnya dan kemudian akan bertumbuh di dalamnya. Namun, Adam malah makan dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Jadi, pohon ini ditaburkan ke dalam Adam dan bertumbuh di dalamnya, dan pohon ini juga telah bertumbuh di dalam semua keturunan Adam. Pada zaman Ayub, pohon pengetahuan baik dan jahat ini hanya berumur dua ribu tahun, tetapi sekarang pohon ini telah berumur enam ribu tahun. Hari ini, seluruh ras manusia adalah satu ras yang disusun menurut pohon pengetahuan baik dan jahat. Di dalam setiap masyarakat manusia, tidak peduli etika apa yang dimilikinya, pohon pengetahuan baik dan jahat ini sedang bertumbuh. Selama pohon ini bertumbuh di antara ras manusia, maka tidak akan ada damai sejahtera.
Sebelum kita dilahirkan kembali, kita ada di dalam garis pohon pengetahuan baik dan jahat. Ketika kita dilahirkan kembali, Kristus menanamkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai pohon hayat. Namun, di dalam penghidupan praktis, penghidupan sehari-hari kita, apakah kita ada di dalam garis pohon pengetahuan baik dan jahat atau di dalam garis pohon hayat? Di dalam kehidupan pernikahan kita, misalnya, kita mungkin berada di dalam garis pohon pengetahuan, dan melalui cara kita berbicara terhadap pasangan kita, ktia mungkin bukan hanya menumbuhkan pohon ini melainkan juga menyiraminya dan menyuburkannya. Lalu, apakah yang harus kita lakukan? Kita perlu mengingat perkataan Paulus di dalam Galatia 2:20—“Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”—dan berpaling dari pohon pengetahuan kepada pohon hayat. Jika kita berbuat demikian, maka kita akan memperhidupkan Kristus dan menumbuhkan Kristus sebagai pohon hayat.