← Daftar isi Ayub · bab 23/38

BERITA DUA PULUH TIGA

RONDE KETIGA DARI TIGA RONDE DI DALAM PERDEBATAN-PERDEBATAN DI ANTARA AYUB DAN KETIGA TEMANNYA

PASAL 21—31

(5)

PEMBICARAAN AKHIR AYUB KEPADA KETIGA TEMANNYA

(3)

Pembacaan Alkitab: Aby. 31:1—32:1

Di dalam berita ini kita akan melihat 31:1—32:1, yaitu kesimpulan dari pembicaraan Ayub yang terakhir kepada ketiga temannya.

VIII. BERMEGAH ATAS KETULUSAN, KEBENARAN, KEJUJURAN DAN KESEMPURNAANNYA

Di dalam pasal 31, Ayub bermegah akan ketulusan, kebenaran, kejujuran dan kesempurnaan/kesalehannya.

A. Membatasi Hawa Nafsu Dagingnya di dalam Takut akan Allah

Untuk mempraktekkan ketulusan, kebenaran, kejujuran, dan kesempurnaannya, Ayub membatasi hawa nafsu dagingnya di dalam takut akan Allah (ay. 1-4). Perkataan Ayub di dalam ayat 4 menunjukkan bahwa ia takut akan Allah: “Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku?”

B. Tidak Berjalan dengan Dusta dan Tipu Daya

Ayub bermegah bahwa ia tidak berjalan dengan dusta dan tipu daya (ay. 5-8). Ia mengatakan, “Jikalau aku bergaul dengan dusta, atau kakiku cepat melangkah ke tipu daya, biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah” (ay. 5-6). Secara manusia, betapa baiknya Ayub tidak mempraktekkan dusta atau tipu daya.

C. Membenci Percabulan sebagai satu Perbuatan Keji

Ayub selanjutnya mengatakan bahwa ia membenci percabulan sebagai satu perbuatan yang keji (ay. 9-12). Percabulan itu adalah kejahatan dan kita semua harus membencinya.

D. Tidak Mengabaikan Hak Budak-budaknya Laki-laki atau Perempuan di dalam Takut akan Allah

Ayub tidak mengabaikan hak budak-budaknya laki-laki atau perempuan ketika mereka beperkara dengannya (ay. 13). Ini berarti bahwa ia memperhatikan kebutuhan mereka. Ayat 14 dan 15 menunjukkan bahwa di dalam perkara ini Ayub takut akan Allah: “Apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya? Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?”

E. Memperhatikan Orang yang Miskin, Janda, Anak Yatim, dan Orang-orang yang Membutuhkan

Di dalam ayat 16 sampai 23, Ayub bermegah tentang memperhatikan orang yang miskin, janda, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan karena malapetaka dari Allah dan kebesaran-Nya. Ayub tidak menahan makanan atau pakaian terhadap orang-orang miskin, tidak menindas anak yatim. Mengenai ini, Ayub juga takut akan Allah, dan mengatakan, “Karena celaka yang dari pada Allah menakutkan aku, dan aku tidak berdaya terhadap keluhuran-Nya” (ay. 23). Ia terancam oleh kebesaran Allah, dan ia takut jika ia tidak berbuat baik, maka malapetaka akan menimpa dia.

F. Tidak Menaruh Kepercayaan kepada Emas dan Bersukacita karena Kekayaan

Ayub selanjutnya mengatakan bahwa ia tidak menaruh kepercayaan kepada emas dan bersukacita karena kekayaan, atau pun ia memandang untuk menyembah matahari yang bersinar atau bulan yang beredar dengan indah, sehingga menyangkal Allah di surga (ay. 24-28). Ia tidak membuat emas menjadi harapannya atau menyebut emas murni sebagai kepercayaannya, dan ia tidak bersukacita karena kekayaannya yang besar. Ini berarti bahwa apa yang Ayub mustikakan itu bukanlah emas melainkan Allah. Di dalam perkara ini, Ayub berbeda dengan kebanyakan orang, yang memustikakan kekayaan tetapi menyangkal Allah.

G. Tidak Bersukacita karena Kecelakaan Orang yang Membenci Dia

Ayub mengatakan bahwa ia tidak bersukacita karena kecelakaan orang yang membenci dia, bersorak sorai karena penderitaannya, atau mengutuki kehidupannya (ay. 29-30).

H. Memberi Makan Setiap Orang dan Memberi Tempat untuk Menginap kepada Semua Musafir

Ayub juga bermegah bahwa ia memberi makan setiap orang yang memerlukan dan bahwa ia memberi tempat untuk menginap kepada semua musafir (ay. 31-32).

I. Tidak Menutupi Pelanggarannya dan Menyembunyikan Kesalahannya Karena Takut akan Khalayak Ramai

Ayub melanjutkan sambil mengatakan bahwa ia tidak menutupi pelanggaran-pelanggarannya seperti yang Adam lakukan atau pun menyembunyikan kesalahannya di dalam hatinya karena ia takut akan khalayak ramai dan penghinaan kaum keluarga mengagetkan dia (ay. 33-34). Ia sadar bahwa menutupi pelanggaran-pelanggarannya itu adalah dosa karena ia takut kepada orang lain. Kemudian ia mengatakan, “Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku!—Inilah tanda tanganku! Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku! Sekiranya ada surat tuduhan yang ditulis lawanku! Sungguh, surat itu akan kupikul, dan akan kupakai bagaikan mahkota. Setiap langkahku akan kuberitahukan kepada-Nya, selaku pemuka aku akan menghadap Dia” (ay. 35-37).

J. Tidak Memakan Habis Hasil Tanah dengan Tidak Membayar, atau Menyebabkan Para Pemiliknya Kehilangan Kehidupan Mereka

Terakhir, Ayub bermegah bahwa ia tidak merampas kedudukan orang lain dari kedudukan mereka yang sesungguhnya. Ia tidak memakan habis hasil tanah dengan tidak membayar atau menyebabkan para pemiliknya kehilangan kehidupan mereka (ay. 38-40)

Kemegahan Ayub di sini menunjukkan bahwa ia ada di dalam alam etika manusia, bukan di dalam alam dari ekonomi ilahi. Mengenai etika manusia, Ayub sangat baik; namun, mengenai ekonomi ilahi, ia kehilangan arah. Di dalam pemulihan hari ini, kita perlu memperhatikan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

IX. KETIGA TEMAN AYUB BERHENTI MENJAWAB DIA

Ayub 32:1 mengatakan, “Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.” Mereka tidak bisa menangani Ayub, dan merkea tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya, maka mereka berhenti berbicara. Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka utnuk berhenti menjawab Ayub. Karena telah lelah berbicara kepada Ayub, maka mereka memutuskan untuk berhenti berbicara kepadanya.

X. AYUB MENYINGKAPKAN DIRINYA SENDIRI MELALUI KEDELAPAN KALINYA IA BERBICARA KEPADA KETIGA TEMANNYA

Melalui kedelapan kalinya ia berbicara kepada ketiga temannya, Ayub menyingkapkan dirinya sendiri, menyingkapkan banyak hal negatif mengenai dirinya.

A. Membenarkan Diri

Ayub menyingkapkan dirinya sebagai orang yang membenarkan-diri (6:30; 9:20; 27:5-6; 32:1. Ia benar di dalam pandangannya sendiri dan ia teguh berpegang kepada kebenarannya.

B. Penuh Alasan

Ayub juga menyingkapkan dirinay sebagai seorang yang penuh dengan alasan. Seorang yang membenarkan-diri selalu siap untuk memberikan banyak alasan mengenai situasinya.

C. Menyalahkan Teman-temannya karena Tidak Memahami Dia

Ayub menyalahkan teman-temannya karena tidak memahami dia dan karena tidak bersimpati terhadapnya di dalam kasih. Teman-temannya tidak bersimpati terhadapnya, ia juga tidak bersimpati terhadap mereka.

D. Mengeluh Bahwa Allah Tidak Adil dalam Memperlakukan Dia Dengan Cara yang Tidak Bisa Dijelaskan dan Keras

Di dalam pembicaraannya kepada teman-temannya, Ayub mengeluh bahwa Allah tidak adil dalam memperlakukan dia dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dan keras.

E. Berharap dan Menunggu untuk Membersihkan Kasusnya dengan Allah

Ayub merasa bahwa ada satu kasus di antara dirinya dengan Allah. Ia berharap dan menunggu untuk membersihkan kasusnya dengan Allah, bahkan jika ini sungguh-sungguh yaitu dengan “membawa Allah ke pengadilan.”

F. Mengenal Allah dalam Pengetahuan yang Sia-sia yang Diwarisi dari Tradisi

Pembicaraan Ayub menyingkapkan dirinya sendiri sebagai seorang yang mengenal Allah hanya dalam pengetahuan yang sia-sia yang diwarisi dari tradisi. Pengenalan yang demikian mutlak obyektif.

G. Belum Menerima Wahyu Ilahi mengenai Sasaran Akhir Allah untuk Didapatkan, Diterima, Dimiliki, dan Dinikmati oleh Umat Pilihan-Nya

Pembicaraan Ayub menunjukkan bahwa ia belum menerima wahyu ilahi, seperti yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru mengenai ekonomi kekal Allah, bahwa sasaran akhir Allah, seperti yang Allah dambakan bagi kerelaan kehendak-Nya, adalah bahwa Dia bisa didapatkan, diterima, dimiliki, dan dinikmati oleh umat pilihan-Nya supaya mereka bisa dihabisi oleh penanggulangan Allah, diperbarui di dalam sifat ilahi (2 Kor. 4:16), dan ditransformasi kepada gembar mulia Kristus di dalam hayat ilahi oleh Roh itu (2 Kor. 3:18) sebagai perwujudan dari Allah bagi ekspresi Allah. Ayub telah hidup lama sebelum wahyu ini diberikan.

H. Digelapkan oleh Kesuksesan dan Pencapaian-pencapaian Alamiahnya

Mengenai etika dan hal-hal moral, Ayub memiliki kesuksesan besar dan pencapaian-pencapaian yang tinggi. Namun, seperti yang disingkapkan oleh pembicaraannya, ia digelapkan oleh kesuksesan dan pencapaian-pencapaian alamiahnya.

I. Dibutakan oleh Konsep Pemahaman Alamiahnya

Ayub juga dibutakan oleh konsep pemahaman alamiahnya.

J. Meraba-raba di dalam Kegelapan dan di dalam Kebutaan mengenai Hubungannya dengan Allah menurut Apa yang Allah Inginkan

Selain itu, Ayub adalah seorang yang meraba-raba di dalam kegelapan dan di dalam kebutaan mengenai hubungannya dengan Allah menurut apa yang Allah inginkan. Ayub tidak melihat bahwa maksud Alalh adalah untuk melucuti dia dari segala pencapaian alaianya, dari kesempurnaan dan kejujuranya, supaya ia bisa mendapatkan Allah.

K. Puas dengan Apa Adanya Dia

Seperti yang ditunjukkan oleh pembicaraannya, Ayub adalah seorang yang puas dengan apa adanya dia. Ia bangga akan jubah kebenarannya dan mahkotanya, serta serban kejujurannya.

L. Tidak Sadar akan Situasinya yang Kasihan di hadapan Allah

Ayub tidak sadar akan situasinya yang kasihan di hadapan Allah. Ia mengakui Allah dalam sebutan saja tetapi tidak di dalam realitas. Ia belum dijenuhi oleh Allah dan dipenuhi dengan Allah. Ia belum berbaur dengan Allah dan belum menjadi satu dengan Allah. Selain itu, ia tidak memiliki elemen apa pun yang menunjukkan beberapa aspek dan beberapa ciri dari Yerusalem Baru sebagai organisme Allah untuk memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Allah untuk kekekalan. Ayub tidak mengenal situasinya, dan ia tidak mengenal Yerusalem Baru.