← Daftar isi Ayub · bab 21/38

BERITA DUA PULUH SATU

RONDE KETIGA DARI TIGA RONDE DI DALAM PERDEBATAN-PERDEBATAN DI ANTARA AYUB DAN KETIGA TEMANNYA

PASAL 21—31

(4)

PEMBICARAAN AKHIR AYUB KEPADA KETIGA TEMANNYA

(2)

Pembacaan Alkitab: Ayub 29—30

Di dalam berita ini, kita akan melanjutkan untuk melihat pembicaraan akhir Ayub kepada ketiga temannya

VI. MEMBANGGAKAN MASA LALUNYA YANG UNGGUL

Pasal 29 adalah satu catatan tentang Ayub membanggakan masa lalunya yang unggul. Ia mengingat kembali masa remajanya, ketika Allah bergaul karib dengannya di dalam kemahnya, ketika Yang Mahakuasa masih beserta dengannya dan anak-anaknya ada di sekelilingnya. Ia ingat bahwa ia menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya dan hati seorang janda dibuatnya bersukaria. Maka Ayub bisa mengumumkan, “Aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serban” (ay. 14). Ayub selanjutnya mengatakan bahwa dalam masa lalunya yang unggul, ia adalah mata bagi orang buta, kaki bagi orang lumpuh, dan bapa bagi orang miskin. Orang lain mendengarkan nasihatnya, dan setelah ia bericara tiada seorang pun yang angkat bicara. Ayub menentukan jalan bagi mereka dan ia duduk sebagai pemimpin, “aku bersemayam seperti raja di tengah-tengah rakyat, seperti seorang yang menghibur mereka yang berkabung” (ay. 25).

VII. MENGELUH ATAS MASA KINI YANG SENGSARA

Setelah membanggakan masa lalunya yang unggul, di dalam pasal 30, Ayub mengeluh atas masa kini yang sengsara. Ayub mengatakan bahwa ia ditertawakan oleh mereka yang umurnya lebih muda dari padanya, dan yang lainnya membuatnya menjadi ejekan, membencinya, mengejikan dia, dan menjauhkan diri dari padanya. Selanjutnya Ayub mengatakan bahwa kedahsyatan ditimpakan kepadanya, kemuliaannya diterbangkan seperti oleh angin, dan bahwa bahagianya melayang hilang seperti awan, jiwanya hancur dalam dirinya, dan hari-hari kesengsaraan mencekam dia. Ayub melanjutkan sambil mengatakan bahwa ia berseru kepada Allah, tetapi Allah tidak menjawab dia. Menurut perasaan Ayub, Allah telah berubah menjadi kejam terhadapnya. Ayub mengatakan kepada-Nya, “Ya, aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut, ke tempat segala yang hidup dihimpunkan” (ay. 23). Ayub juga mengeluh atas fakta bahwa bila ia mengharapkan yang baik, yang jahat itu datang dan bila ia menantikan terang, kegelapan itulah yang datang. Ayub menyimpulkan dengan mengatakan bahwa batinnya bergelora dan tak kunjung diam, hari-hari kesengsaraan telah melanda dirinya dan bahwa permainan kecapinya menjadi ratapan, dan tiupan serulingnya menyerupai suara orang menangis. Di sini kita melihat satu gambaran tentang penderitaan Ayub.

Ayub tidak mengerti penyebab bagi penderitaan-penderitaannya, tetapi hari kita kita tahu penyebabnya. Memang benar bahwa Ayub menderita, tetapi penderitaannya itu diizinkan oleh Allah untuk satu tujuan. Allah ingin mengangkut semua kesuksesannya. Ayub sangat sukses, baik secara materi maupun secara etika. Ia telah mencapai satu tingkatan kesempurnaan dan ketulusan yang sangat tinggi. Itulah kejujurannya, dan bahwa ia bangga atas hal itu. Ayub menganggap kesempurnaan dan kejujurannya sebagai satu jubah yang menutupinya dan sebagai serban untuk memuliakan dia 29:14). Namun, Allah mengambil hal-hal ini supaya Ayub mau menuntut Allah sendiri bukan hal-hal lainnya, namun Ayub tidak memahaminya. Ia mengira bahwa ia benar dan bahwa Allah telah melakukan sesuatu yang salah terhadapnya. Karena itu, ia berharap untuk memiliki satu kesempatan untuk menyajikan kasusnya di hadapan Allah. Dari hal ini, kita bisa melihat bahwa Ayub mutlak berada di dalam alam lainnya, yaitu alam yang bertentangan dengan kedambaan Allah.

Akhirnya, Ayub mengakui bahwa ia telah mengenal Allah hanya “dari kata orang saja” (42:5a). Ia telah mendengar tentang Allah dan telah percaya kepada Allah, tetapi ia belum pernah melihat Allah. Namun, melalui semua pelucutan dan penghabisan, waktunya tiba di mana Ayub melihat Allah (42:5b).

Matius 5:8 mengatakan, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Di sini, melihat Allah adalah satu pahala yang besar di dalam kerajaan. Menurut pandangan yang jelas di dalam Perjanjian Baru, melihat Allah berarti menerima Allah ke dalam kita. Jika melihat Allah itu berarti hanya melihat Allah secara obyektif dan bukan lainnya lagi, maka itu sangat sedikit maknanya. Tetapi melihat Allah itu berarti menerima Allah, dan ini berarti bahwa Allah masuk ke dalam kita sebagai elemen kita untuk memperbarui kita, mentransformasi kita, karena Allah datang untuk menambahkan elemen ilahi ke dalam diri kita. Elemen ilahi ini bekerja di atas diri kita dan di dalam kita untuk memperbarui kita, membuang semua elemen usang kita. Akhirnya, seluruh diri kita menjadi baru. Inilah transformasi.

2 Korintus 3:18 mengatakan, “Kita semua seperti cermin memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan degan muka yang tidak berselubung, dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan Roh, maka kita diubah menjadi serupan dengan gambar-Nya dari kemuliaan kepada kemuliaan.” Pertama-tama, kita memandang Allah, yatiu melihat Allah; kemudian, kita memantulkan Dia dan ditransforamsi. Ketika kita melihat Allah, kita ditransformasi ke dalam gambar-Nya yang mulia, dari satu tingkat kemuliaan kepada tingkat kemuliaan lainnya. Ini adalah dari Tuhan Roh.

Allah yang dilihat oleh Ayub juga adalah Roh itu, tetapi pada waktu itu, Allah masih berada di dalam kedudukan asal-Nya. Allah memilki elemen ilahi-Nya dengan atribut-atribut ilahi-Nya, tetapi Dia tidak memiliki sesuatu yang berhubungan dengan inkarnasi, keinsanian, dan penghidupan insani. Menurut 2 Korintus 3:18, Allah yang ktia pandang pada hari ini itu berbeda, karena Dia jauh lebih kaya di dalam unsur-unsur-Nya. Karena itu, semakin kita memandang Dia, semakin ktia akan menerima unsur-unsur-Nya ke dalam diri ktia sebagai suplai batini kita yang bekerja di atas diri kita, untuk membuat yang usang dan membuat kita menjadi baru. Ini adalah untuk mentransformasi kita ke dalam gambar Allah.

Melihat Allah seharusnya menghasilkan transformasi diri kita ke dalam gambar Allah. Saya tidak percaya bahwa Ayub memiliki realisasi yang demikian ketika ia melihat Allah. Ini adalah satu fakta bahwa penderitaan-penderitaannya sungguh menghasilkan satu hal—ia melihat Allah. Namun, sulit untuk dikatakan, dengan cara bagaimanakah Ayub melihat Allah, apakah secara fisik, atau secara wahyu rohani.

Cara kita melihat Allah pada hari ini mutlak adalah perkara di dalam roh. Allah yang bisa kita lihat adalah Roh yang telah rampung, dan kita bisa melihat Dia di dalam roh kita. Kadang-kadang, kita terlalu sibuk atau terlalu ceroboh mengambil kesempatan untuk melihat Tuhan. Di dalam penyegaran pagi kita, sekalipun hanya lima belas atau dua puluh menit saja, kita bisa memililki waktu bersama dengan Tuhan, waktu untuk tetap tinggal di dalam Roh itu. Pada waktu yang demikian, kita bisa mendoa-bacakan firman-Nya, berbicara kepada-Nya, atau mendoakan doa-doa yang singkat kepada-Nya. Kemudian kita akan memiliki perasaan bahwa kita sedang menerima sesuatu dari elemen Alah, bahwa kita sedang menyerap kekayaan-kekayaan Allah ke dalam diri kita. Dengan cara demikian, kita berada di bawah transformasi ilahi hari demi hari.

Kehidupan Kristiani kita itu bukanlah satu kehidupan yang diubah secara lahiriah, melainkan ditransformasi dari dalam dengan memiliki elemen ilahi yang ditambahkan ke dalam batin kita untuk menggantikan elemen lama kita. Ini mutlak melalui kita memandang kepada Allah yang telah melalui proses dan rampung, yang adalah Roh yang almuhit.

Melalui membaca pembicaraan Ayub yang terakhir di dalam pasal 30 ini, kita bisa menyadari bahwa Ayub dan teman-temannya sedang berjalan di jalan pohon pengetahuan baik dan jahat. Mereka bukan berada di dalam alam yang berusaha untuk mencari Allah untuk belajar daripada-Nya dan terutama untuk menerima Dia supaya mereka bisa ditransformasi dengen elemen-Nya dan esens-Nya untuk menjadi sama dengan Allah di dalam hayat dan sifat. Kita semua perlu melihat satu perbandingan yang jelas antara jalan yang ditempuh oleh Ayub dan teman-temannya dan jalan yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru.