← Daftar isi Ayub · bab 20/38

BERITA DUA PULUH

RONDE KETIGA DARI TIGA RONDE DI DALAM PERDEBATAN-PERDEBATAN DI ANTARA AYUB DAN KETIGA TEMANNYA

PASAL 21—31

PEMBICARAAN AKHIR AYUB KEPADA KETIGA TEMANNYA

(1)

Pembacaan Alkitab: Ayub 26—28

Di dalam beriat ini kita akan mulai melihat, dari pasal 26 sampai 28, mengenai pembicaraan akhir Ayub kepada ketiga temannya.

I. MENEGUR BILDAD DENGAN KERAS

Di dalam 26:1-4, Ayub menegur Bildad dengan keras, sambil mengatakan, “Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya! Alangkah baiknya nasihatmu kepada orang yang tidak mempunyai hikmat, dan pengertian yang kaujajarkan dengan limpahnya! Atas anjuran siapakh engkau mengucapkan perkataan-perkataan itu, dan gagasan siapakah yang kaunyatakan?” Sungguh ini bukanlah satu perkataan yang ramah. Ketiga teman Ayub datang mengunjunginya dengan tujuan untuk menghibur dan menopang dia, tetapi pada akhirnya, Ayub dan teman-temannya itu masuk ke dalam satu perdebatan, bertikai, dan bahkan bertengkar satu sama lain. Kata-kata mereka tidak memiliki terang atau realitas rohani. Sebaliknya, pembicaraan mereka adalah menurut prinsip pohon pengetahuan baik dan jahat. Teman-teman Ayub hanya memiliki pengetahuan tentang perkara-perkara seperti menjadi baik untuk menyenangkan Allah dan menerima kemakmuran.

II. MEMAMERKAN PENGETAHUANNYA YANG UNGGUL MENGENAI KUASA ALLAH YANG TAK TERBATAS

Setelah menegur Bildad, Ayub berbicara kepada teman-temannya mengenai kuasa Allah seperti yang terlihat di dalam penciptaan-Nya. Pembicaraan Ayub di sini menunjukan bahwa ia memiliki satu kerumitan yang unggul. Di dalam ayat 5 sampai 14, Ayub memamerkan pengetahuannya yang unggul mengenai kuasa Allah yang tak terbatas. Ayub mengatakan bahwa dunia orang mati terbuka di hadapan Allah, bahwa Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan, Dia telah meneduhkan laut dengan kuasa-Nya dan meremukkan Rahab (seekor monster laut yang dibicarakan di dalam tulisan-tulisan purbakala) dengan kebijaksanaan-Nya dan oleh Roh-Nya langit menjadi cerah. Kemudian Ayub menyimpulkan sambil mengatakan, “Sesungguhnya, semuanya itu hanya ujung-ujung jalan-Nya; betapa lembutnya bisikan yang kita dengar daripada-Nya! Siapa dapat memahami guntur kuasa-Nya?” (ay. 14).

Ayub tidak perlu memamerkan pengetahuannya yang unggul atau berbicara kepada teman-temannya seperti ini. Percakapan di antara Ayub dan teman-temannya itu bukanlah apa yang kita harapkan dari teman-teman yang saling memperhatikan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengusulkan agar mereka berdoa dan memandang kepada Tuhan.

III. DENGAN GIGIH MEMPERTAHANKAN KEBENARAN DAN KEJUJURANYA

Ceramah Ayub di dalam 27:1-7 menunjukkan kepada kita bahwa ia dengan gigih mempertahankan kebenaran dan kejujurannya. Ia mengumumkan bahwa selama Allah hidup dan selama nafasnya masih ada padanya maka bibirnya sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahnya tidak akan melahirkan tipu daya. Kemudian ia mengatakan kepada teman-temannya, “Aku sama sekali tidak membenarkan kamu” (ay. 5a). Di sini Ayub mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mengakui bahwa teman-temannya itu benar. Setelah itu, Ayub mengatakan perkataan yang keras mengenai kejujuran dan kebenarannya, “Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahaw aku tidak bersalah. Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela seharipun daripada umurku” (ay. 5b-6). Ia menyelesaikan bagian dari ceramahnya ini dengan satu perkataan mengenai musuhnya, “Biarlah musuhku mengalami seperti orang fasik, dan orang yang melawan aku seperti orang yang curang” (ay. 7). Pemikiran Ayub adalah demikian, tidak seperti yang lainnya, ia tidak akan pernah tidak adil.

IV. MENGAJAR TEMAN-TEMANNYA DENGAN PIKIRAN YANG TERLALU TINGGI MENGENAI HARAPAN DARI MANUSIA YANG DURHAKA

Di dalam ayat 23 sampai 23, Ayub melanjutkan dengan mengajar teman-temannya dengan pikiran yang terlalu tinggi mengenai harapan dari manusia yang durhaka. Pertama, Ayub menanyakan tentang harapan dari manusia durhaka ketika Allah menghabisinya, menuntut nyawanya, dan tidak mendengarkan seruannya. Kemudian Ayub, yang memiliki satu kerumitan yang unggul mengatakan kepada teman-temannya, “Aku akan mengajari kamu tentang tangan Allah, apa yang dimaksudkan oleh Yang Mahakuasa tidak akan kusembunyikan” (ay. 11). Setelah ini, Ayub mengajar teman-temannya mengenai bagian yang akan diteriman orang fasik dari Yang Mahakuasa. Mengenai orang fasik, Ayub mengklaim bahwa anak-anaknya bertambah banyak untuk menjadi makanan pedang, siapa yang luput daripadanya, akan turun ke kubur karena wabah, dan bahwa orang benar akan memakai pakaian-pakaian, dan orang yang tidak bersalah yang akan membagi-bagi uang itu, bahwa kedahsyatan akan mengejar dia seperti air bah, Allah akan melempari dia dengan tak kenal belas kasihan, dan orang-orang akan beruit-suit karena dia dari tempat kediamannya.

Ayub tidak perlu mengucapkan perkataan yang demikian. Ini adalah satu perkataan yang tidak ada terang, hayat, kasih, atau kebaikan. Paling-paling, ini adalah satu pengajaran seperti semacam peringatan. Namun, tidak satu pun dari teman-temannya memerlukan pengajaran ini; Mereka sudah tahu hal-hal ini dan bisa mengajarkan mengenai hal-hal ini. Meskipun demikian, karena kerumitannya yang unggul, ia mengajar teman-temannya dengan pikiran yang terlalu tinggi.

V. MEMAMERKAN PENGETAHUANNYA YANG MEMBUBUNG TINGGI MENGENAI CARA UNTUK MENDAPATKAN HIKMAT DAN PENGERTIAN

Di dalam pasal 28, Ayub selanjutnya memamerkan pengetahuannya yang membubung tinggi mengenai cara untuk mendapatkan hikmat dan pengertian. Ayub dua kali bertanya di mana hikmat bisa ditemukan dan di mana tempat pengertian itu (ay. 12, 20). Kemudian ia mengatakan bahwa Allah, yang memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit tahu jalan ke sana, dan mengenal tempat kediamannya (ay. 23-24). Karena itu Allah berfirman kepada manusia, “Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal bumi” (ay. 28). Teman-teman Ayub memang sudah tahu tentang takut akan Tuhan dan meninggalkan kejahatan. Setiap orang yang saleh tahu tentang hal ini; Ayub tidak perlu mengulangnya. Namun, Ayub berbicara dengan cara demikian karena ia berpikiran terlalu tinggi dan mengira bahwa dalam pengetahuan, ia lebih unggul daripada teman-temannya.