BERITA SEMBILAN BELAS
KEBUTUHAN UNIK KITA—ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES DAN RAMPUNG SEBAGAI ROH PEMBERI HAYAT, YANG ALMUHIT
Pembacaan Alkitab: Gal. 2:20; 1 Kor. 15:10; Why. 22:17
Di dalam berita ini, saya ingin memberikan satu perkataan lebih lanjut mengenai Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sebagai Roh pemberi hayat, yang almuhit.
UNSUR-UNSUR DARI KEKAYAAN ALLAH KITA YANG BERLIMPAH
Hari ini, Allah kita bukan lagi Allah yang “mentah” melainkan Allah yang telah melalui proses. Setelah Allah menciptakan manusia, Dia tetap menjadi Allah yang “mentah”, yaitu Allah yang belum terproses, yang mengamati, menguji, dan membuktikan keinsanian tetapi belum bergerak atau mengambil tindakan apa pun. Kemudian pada satu hari, Dia mulai melalui satu proses. Setiap tahap dari proses ini menjadi satu unsur dari Roh itu sebagai perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung.
Unsur-unsur ini meliputi inkarnasi, penghidupan insani, penyaliban, kebangkitan, kenaikan, dan turunnya Dia. Di dalam kekekalan, Allah memiliki unsur keilahian, tetapi tidak memiliki unsur keinsanian dan penghidupan insani. Melalui inkarnasi, unsur keinsanian ditambahkan kepada-Nya. Ini diikuti dengan penghidupan insani Kristus dan unsur penting yaitu kematian-Nya yang almuhit di atas salib. Kemudian, datanglah unsur kebangkitan, yaitu satu perkara tentang melalui kematian tanpa ditahan oleh maut. Melalui kebangkitan, Kristus diperanakkan untuk menjadi Putra sulung Allah (Rm. 8:29), dan melalui kebangkitan, Dia juga menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b). Selain itu, di dalam kebangkitan Kristus, semua umat pilihan Allah dilahirkan kembali untuk menjadi putra-putra Allah (1 Ptr. 1:3). Di dalam kenaikan-Nya, ada unsur lainnya, yaitu Kristus itu unggul. Kristus adalah Dia yang berada di atas semua, dan segala sesuatu sekarang ada di bawah kaki-Nya (Ef. 1:19-23). Terakhir, kita memiliki unsur turunnya Kristus sebagai Roh yang almuhit untuk menghasilkan gereja, Tubuh-Nya.
Ketika kita mempertimbangkan semua unsur ini, maka kita bisa melihat bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung ini jauh lebih kaya daripada Allah yang “mentah.” Tentunya, Allah yang belum melalui proses, memiliki atribut-atribut ilahi, yang bisa dianggap sebagai unsur, tetapi sekarang Dia juga memiliki unsur inkarnasi, penghidupan insani, kematian yang almuhit, penyaluran hayat, dan kebangkitan yang menghasilkan hayat, kenaikan dan turunnya Dia, yang menghasilkan Tubuh. Betapa kayanya Allah kita pada hari ini! Dia kaya berlimpah, kaya melimpah-limpah. Dia adalah segala sesuatu bagi kita sebagai Roh itu, yang adalah perampungan dari Allah Tritunggal.
Saya kadang-kadang ditanya mengapa kita berdoa kepada Bapa atau kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak berdoa kepada Roh itu. Sebenarnya, ketika kita berdoa kepada Bapa, kita berdoa kepada Roh itu. Siapakah Allah? Allah adalah Roh itu. Siapakah Bapa? Bapa adalah Roh itu. Siapakah Kristus? Kristus adalah Roh itu. Totalitas, keseluruhan, perampungan dari Allah Tritunggal dengan semua unsurnya adalah Roh itu. Karena itu, di dalam Roh itulah ktia memiliki tiga dari Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh—dengan semua tahap dari proses Allah sebagai unsur-unsurnya.
ALLAH TRITUNGGAL DIGARAPKAN KE DALAM KITA DI DALAM KEDUDUKANNYA YANG TELAH RAMPUNG
Allah Tritunggal sekarang sedang digarapkan ke dalam kita, bukan di dalam kedudukan-Nya yang masih “mentah” melainkan di dalam kedudukan-Nya yang telah rampung. Allah tidak bisa digarapkan ke dalam Ayub secara demikian karena pada zaman Ayub, Allah masih “mentah.” Dia belum melalui proses dan rampung melalui inkarnasi, penghidupan insani, penyaliban, kebangkitan, kenaikan dan turunnya Dia. Di luar kematian Kristus yang almuhit, bagaimana mungkin kita bisa diakhiri? Bagaimana mungkin kita bisa ditebus? Di luar kebangkitan Kristus, bagaimana mungkin kita ditunaskan? Kita perlu melihat bahwa kita sedang hidup di zaman yang besar—zaman setelah Allah Tritunggal telah melalui proses dan rampung.
Kebutuhan unik kita sebagai orang-orang Kristen adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit. Roh itulah yang kita perlukan. Kita terutama tidak memerlukan kebenaran atau pembenaran, kita juga tidak memerlukan kekudusan atau pengudusan—kebutuhan sentral kita adalah Allah Tritunggal yang telah rampung sebagai Roh itu dengan suplai-Nya yang kaya. Roh ini sekarang ada di dalam kita dan kita bersatu dengan Dia. Kita semua perlu memiliki satu visi yang jelas mengenai hal ini.
Saya bisa mempersaksikan bahwa, meskipun saya sangat sibuk hari demi hari, bukan saya yang bekerja; sebaliknya, Kristus, yang hidup di dalam saya, Dialah yang bekerja. Enam puluh lima tahun yang lalu, saya melakukan banyak hal, tetapi oleh belas kasihan Tuhan, saya telah belajar dari Paulus untuk berkoordinasi dengan Dia yang hidup di dalam saya. Di dalam Galatia 2:20, Paulus mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Di dalam 1 Korintus 15:10, ia mengatakan, “Karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang diaugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Secara manusia, saya tidak bisa melaksanakan pekerjaan Tuhan pada hari ini, atau memikul beban gereja-gereja di seluruh bumi. Namun, pekerjaan ini mudah dilakukan dan beban ini mudah untuk dipikul bila Dia yang telah melalui proses dan rampung yang hidup di dalam sayalah yang melakukan pekerjaan itu dan yang memikul beban itu. Saya memuji Dia bahwa saya hanya menikmati penghidupan-Nya dan pekerjaan-Nya dan bersukacita di dalam Dia.
SATU-SATUNYA ORANG YANG BISA MENJADI SEORANG KRISTEN—ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES DAN RAMPUNG YANG HIDUP DI DALAM KITA SEBAGAI ROH YANG TELAH RAMPUNG
Menjadi seorang Kristen itu bukan hanya sulit—melainkan juga tidak mungkin. Hanya Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampunglah yang hidup di dalam kita sebagai Roh yang almuhit yang bisa menjadi seorang Kristen. Yang dituntut oleh Perjanjian Baru terhadap kita itu terlalu tinggi. Misalnya, jenis kekudusan yang dituntut, itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita hasilkan. Kita memuji Tuhan bahaw bukanlah kita yang perlu memenuhi tuntutan-tuntutan Perjanjian Baru melainkan Roh itu di dalam kitalah yang memenuhinya. Bukannya melakukan hal-hal di dalam diri kita sendiri, kita malah seharusnya hanya menikmati penghidupan-Nya dan pekerjaan-Nya. Hanya Roh itulah yang bisa menjadi seorang Kristen, dan hanya Roh itulah yang bisa menjadi seorang pemenang. Ingatlah, Roh itu adalah Allah kita, Bapa, kita, Tuhan kita, Penebus kita, Penyelamat kita, Gembala kita, dan hayat serta suplai hayat kita.
Roh itu adalah segala sesuatu bagi kita untuk menempuh kehidupan orang Kristen. Kehidupa orang Kristen itu mutlak adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sebagai Roh yang almuhit. Di dalam Roh ini, kita memiliki Bapa, Putra, dan Roh. Di dalam Roh ini, kita ada di dalam Bapa, Putra dan Roh (Mat. 28:19). Allah yang bagaimanakah yang kita miliki pada hari ini? Allah ktia adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung, yang adalah Roh almuhit yang telah rampung sebagai segala sesuatu bagi kehidupan Kristiani kita. Bila kita memiliki satu keperluan atau satu ketidakmampuan, maka kita bisa mengingatkan Dia tentang hal itu. Bila kita menghadapi satu situasi yang sulit, kita bisa berbicara kepada-Nya tentang hal itu. Kemudian, Dia, yang hidup di dalam kita ini, akan datang untuk menghadapi situasi itu dan melakukan apa saja yang diperlukan.
PERNIKAHAN DARI ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH RAMPUNG DENGAN MANUSIA TRIPARTIT YANG TELAH DIMULIAKAN
Di dalam Kisah Para Rasul 2, kita melihat pencurahan Allah Tritunggal yang telah rampung sebagai Roh yang almuhit ke atas umat pilihan Allah. Pada akhir dari Alkitab, kita memiliki ekspresi “Roh itu dan mempelai perempuan itu” (Why. 22:17). Siapakah keduanya ini? Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah rampugn, dan mempelai perempuan itu adalah manusia tripartit yang telah dilahirkan kembali, dikuduskan, ditransformasi, dan dimuliakan. Akhirnya, Allah Tritunggal yang telah rampung dan manusia tripartit yang telah dimuliakan ini akan menikahdan menjadi satu di dalam hayat, di dalam sifat, di dalam elemen, dan di dalam esens. Ini akan menjadi satu kesatuan yang korporat—Yerusalem Baru sebagai keseluruhan dari perbauran antara keilahian dan keinsanian untuk mengekspresikan Allah Tritunggal untuk kekekalan. Kehidupan gereja hari ini haruslah menjadi satu miniatur dari Yerusalem Baru yang menakjubkan ini.