BERITA DELAPAN BELAS
RONDE KETIGA DARI TIGA RONDE DI DALAM PERDEBATAN-PERDEBATAN DI ANTARA AYUB DAN KETIGA TEMANNYA
PASAL 21—31
(2)
KEDAMBAAN AYUB UNTUK MEMBERSIHKAN KASUSNYA DENGAN ALLAH DAN PENGENALANNYA MENGENAI ALLAH DI DALAM PENANGGULANGANNYA TERHADAP BERBAGAI JENIS ORANG DAN PERKATAAN KESIMPULAN BILDAD
Pembacaan Alkitab: Ayub 23—25
Di dalam berita ini, kita akan meliput perkataan Ayub di dalam pasal 23 dan 24 dan kemudian dilanjutkan dengan komentar mengenai perkataan kesimpulan Bildad di dalam pasal 25
KEDAMBAAN AYUB UNTUK MEMBERSIHKAN KASUSNYA DENGAN ALLAH
Ketika Ayub mengekspresikan kedambaannya untuk membersihkan kasusnya dengan Allah (ps. 23), ia mengatakan bahwa keluhannya pahit dan bahwa tekanan terhadapnya begitu berat disebabkan karena keluhannya (ay. 2). Ayub rindu untuk mengenal di mana ia bisa mendapatkan Allah, dan boleh datang ke tempat Dia bersemayam untuk memaparkan kasusnya di hadapan-Nya, dan memenuhi mulutnya dengan kata-kata pembelaan (ay. 3-4). Ayub yakin bahwa ia akan mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan Allah kepadanya dan akan mengerti apa yang akan difirmankan Allah kepadanya, Ayub mengatakan bahwa Allah tidak akan bertikai dengannya dalam kuasa-Nya, melainkan akan memberikan perhatian terhadapnya. Karena menurut Ayub, orang jujur akan membela diri di hadapan-Nya, dan ia akan dibebaskan dari Hakimnya selama-lamanya (ay. 5-7). Di sini Ayub kelihatan sangat sensitif dan berbicara seolah-olah ia berada di dalam satu mimpi. Ketika Ayub berbicara, Allah diam saja, dan kelihatannya Dia tidak mendengarkan semua hal ini.
Di dalam ayat 8 sampai 10, Ayub mengatakan, “Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Ayub tidak bisa menemukan Allah di tempat yang dibayangkannya. Sekali lagi, perkataan Ayub menunjukkan bahwa ia berada di dalam mimpi. Ia sungguh bermimpi ketika ia mengatakan bahwa jika Allah mengujinya, ia akan timbul seperti emas.
Ayub selanjutnya mengumumkan bahwa kakinya tetap mengikuti jejak Allah, ia menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang, tidak melanggar perintah dari bibir-Nya, dan bahwa ia memustikakan kata-kata dari mulut-Nya lebih daripada makanan bagiannya. Namun, Ayub mengatakan bahwa Allah tidak pernah berubah dan melakukan apa yang didambakan jiwa-Nya, melaksanakan apa yang telah ditetapkan untuk Ayub. Karena itu, Ayub gemetar di hadirat-Nya dan takut terhadap-Nya, dan merasa bahwa Allah telah membuat hatinya menjadi lelah dan bahwa Yang Mahakuasa telah menggetarkan dia (ay. 11-16).
II. PENGENALAN AYUB MENGENAI ALLAH DI DALAM PENANGGULANGANNYA TERHADAP BERBAGAI JENIS ORANG
Di dalam pasal 24, kita melihat pengenalan Ayub mengenai Allah di dalam penanggulangan-Nya terhadap berbagai jenis orang.
A. Penanggulangan Allah terhadap Orang-orang yang Merampas Harta Benda Orang Lain
Pertama-tama, Ayub membicarakan mengenai penanggulangan Allah terhadap orang-orang yang merampas harta benda orang lain, khususnya mereka yang menggeser batas tanah, merampas kawanan ternak, menggembalakannya, melarikan keledai kepunyaan yatim piatu, menggadaikan lembu betina kepunyaan seorang janda, mendorong orang miskin dari jalan (ay. 1-8). Kemudian Ayub membicarakan tentang beberapa orang yang merebut anak yatim dari susu ibunya dan menerima bayi orang miskin sebagai gadai (ay. 9-12).
B. Penanggulangan Allah terhadap Orang-orang yang Memberontak melawan Terang
Ayub melanjutkan dengan membicarakan mengenai penanggulangan Allah terhadap orang-orang yang memberontak melawan terang, yang tidak mengenal jalannya dan tidak tetap tinggal pada lintasannya (ay. 13). Yang termasuk di antara orang-orang yang demikian adalah para pembunuh, para pezinah, yang tidak mengenal terang (ay. 14-16). “Karena kegelapan adalah pagi hari bagi mereka sekalian, dan merea sudah biasa dengan kedahsyatan kegelapan” (ay. 17).
C. Penanggulangan Allah terhadap Orang-orang yang Berdosa
Terakhir, di dalam ayat 18 sampai 25, Ayub membicarakan tentang penanggulangan Allah terhadap orang-orang yang berdosa. Ayub mengatakan bahwa Allah memberinya keamanan yang menjadi sandarannya, kemudian mereka dikerat seperti hulu tangkai gandum. Ayub menyimpulkan sambil mengatakan, “Jikalau tidak demikian halnya, siapa berani menyanggah aku dan meniadakan perkataanku?” Kelihatannya bahwa di sini, meskipun Ayub sakit, tetapi Ayub memamerkan dirinya kepada teman-temannya.
III. PERKATAAN KESIMPULAN BILDAD
Pasal 25 adalah satu catatan tentang perkataan kesimpulan Bildad. Perkataan akhirnya itu singkat. Dari pembicaraan sebelumnya, Bildad telah belajar pelajaran bahwa cara kehilangan kasus dan nampak bodoh adalah terlalu banyak berbicara. Ini mungkin menjadi alasan mengapa perkataan kesimpulannya itu begitu singkat.
A. Mengatakan Bahwa Allah Memiliki Kuasa
Pertama-tama, Bildad mengatkan bahwa kekuasaan dan kedahsyatan/kekuatan ada pada Allah, dan Dia menyelenggarakan damai di tempat-Nya yang tinggi (ay. 2). Kemudian Bildad bertanya apakah pasukan Allah dapat dihitung dan siapakah yang tidak disinari oleh terang-Nya (ay. 3). Perkataan Bildad di sini bukanlah menurut prinsip dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Meskipun demikian, seperti halnya Ayub, Bildad ini sedang memamerkan diri.
B. Mengatakan Bahwa Tidak Ada Seorangpun yang Bisa Menjadi Benar di hadapan Allah
Di dalam ayat 4 sampai 6, Bildad kembali kepada pohon pengetahuan baik dan jahat. Bildad bertanya bagaimana manusia bisa menjadi benar di hadapan Allah dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih. Sambil menyimpulkan bahwa hal ini tidak mungkin, Bildad mengatakan, “Sesungguhnya, bahkan bulanpun tidak terang dan bintang-bintangpun tidak cerah di mata-Nya. Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!” (ay. 5-6). Inilah perkataan terakhir dari Bildad di dalam kitab Ayub.