← Daftar isi Markus (3) · bab 6/23

ISI PELAYANAN INJIL HAMBA PENYELAMAT (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 1:14-45

Kedua bagian pertama Injil Markus menyinggung tentang permulaan Injil dan perkenalan Hamba-Penyela-mat (1:1-13) serta ministri Hamba-Penyelamat untuk penyebaran Injil (1:14—10:52). Dalam berita sebelumnya kita telah mulai melihat isi pelayanan Injil seperti yang diwahyukan dalam 1:14-45. Kita nampak bahwa pela-yanan ini mencakup lima perkara: Memberitakan Injil (ayat 14-20), mengajarkan kebenaran (ayat 21-22), meng-usir setan-setan (ayat 23-28), menyembuhkan orang sa-kit (ayat 29-39), dan mentahirkan orang sakit kusta (ayat 40-45). Setelah melihat secara rinci tentang pemberitaan Injil, dalam berita ini kita akan meneruskan untuk melihat tentang mengajarkan kebenaran, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang sakit kusta.

MENGAJARKAN KEBENARAN

Markus 1:21-22 mengatakan, “Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus se-gera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar me-reka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” Ayat 21 menyinggung rumah ibadat. Rumah ibadat adalah suatu tempat pertemuan, tempat orang-orang Yahudi membaca dan mempelajari Kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15).

Di dalam rumah ibadat, Tuhan Yesus mengajar orang-orang dengan kuasa. Kejatuhan manusia ke dalam dosa me-rusak persekutuannya dengan Allah, membuat semua ma-nusia bodoh, tidak mengenal Allah. Kebodohan sedemikian mula-mula mendatangkan kegelapan, kemudian kematian. Hamba-Penyelamat, sebagai terang dunia (Yoh. 8:12; 9:5) da-tang ke Galilea, tanah kegelapan, tempat orang-orang ber-ada dalam bayang-bayang maut, sebagai terang yang besar untuk menyinari mereka (Mat. 4:12-16). Pengajaran-Nya memberikan firman terang untuk menerangi mereka yang berada dalam kegelapan maut, sehingga mereka bisa mene-rima terang hayat (Yoh. 1:4). Hal kedua yang dilakukan Ham-ba Allah sebagai Hamba-Penyelamat dalam pelayanan-Nya bagi manusia yang telah jatuh adalah melaksanakan penga-jaran tersebut (Mrk. 2:13; 4:1; 6:2, 6, 30, 34; 10:1; 11:17; 12:35; 14:49) untuk mengeluarkan orang-orang dari kegelap-an Iblis ke dalam terang ilahi (Kis. 26:18).

Adalah kuasa kedaulatan Allah bahwa Tuhan Yesus dibesarkan di daerah Galilea dan juga bahwa Ia memulai pemberitaan dan pengajaran-Nya bukan dari Yudea, mela-inkan dari Galilea. Menurut catatan Alkitab, Galilea bukan hanya daerah yang terhina, tetapi juga tempat kegelapan. Mengenai hal ini, Matius 4:15-16 mengatakan, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan Yesus berjalan melewati Galilea, Ia adalah terang be-sar yang bersinar di dalam kegelapan dan menyinari orang-orang yang duduk di negeri yang dinaungi maut. Khusus-nya, ajaran Hamba-Penyelamat adalah sinar dari terang yang besar. Setiap firman yang keluar dari mulut-Nya ada-lah firman yang menerangi. Karena itu, ketika Ia meng-ajar orang-orang, terang itu menyinari mereka. Demikian-lah orang-orang di dalam kegelapan diterangi oleh ajaran Tuhan.

Menurut Markus 1:22, mereka yang di rumah ibadat merasa takjub akan pengajaran Tuhan dan mengatakan bahwa Ia mengajar seperti seorang yang berkuasa, tidak se-perti ahli-ahli Taurat. Orang-orang yang mengangkat diri-nya sendiri sebagai ahli-ahli Taurat, mengajarkan pengeta-huan yang sia-sia berdasarkan diri mereka sendiri, dan ti-dak mempunyai kekuasaan dan kekuatan. Tetapi Hamba yang diberi wewenang oleh Allah ini, mengajarkan realitas kepada orang berdasarkan Allah. Dia tidak hanya memiliki kekuatan rohani untuk menaklukkan orang, tetapi juga ke-kuasaan ilahi untuk menundukkan orang kepada pemerin-tahan ilahi.

MENGUSIR SETAN-SETAN

Dalam 1:23-28 kita dapati kasus terusirnya setan-setan. Seseorang yang dirasuk roh najis berteriak, dan Tuhan Yesus menghardiknya, “Diam, keluarlah dari dia!” (ayat 23-25). Roh najis ini bukan malaikat yang jatuh, melainkan setan (ayat 32, 34, 39; Luk. 4:33), roh salah satu dari makh-luk hidup yang tidak bertubuh, yang hidup dalam zaman sebelum Adam dan yang dihukum Allah ketika mereka ikut serta dalam pemberontakan Iblis (lihat Pelajaran-hayat Kitab Kejadian, berita 2). Malaikat-malaikat yang jatuh itu bekerja bersama Iblis di udara (Ef. 2:2; 6:11-12), dan roh-roh najis ini, setan-setan, bergerak bersama Iblis di bumi. Keduanya berbuat jahat terhadap manusia demi kerajaan Iblis. Merasuknya setan ke dalam manusia menandakan Iblis merampas manusia yang diciptakan Allah untuk ke-hendak-Nya. Hal ketiga yang dilakukan oleh Hamba-Penye-lamat yang datang untuk menghancurkan pekerjaan Iblis sebagai bagian dari pelayanan-Nya kepada Allah (1 Yoh. 3:8), adalah mengusir setan-setan itu dari orang-orang yang dirasuknya (Mrk. 1:34, 39; 3:15; 6:7, 13; 16:17) agar me-reka dapat dilepaskan dari kekangan Iblis (Luk. 13:16), yak-ni keluar dari kuasa kegelapan Iblis (Kis. 26:18; Kol. 1:13), masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mrk. 1:15). Dalam Injil ini tercatat lima kasus yang mengilustrasikan hal tersebut (1:23-27; 5:2-20; 7:25-30; 9:17-27; 16:9).

Markus 1:27 mengatakan, “Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, ‘Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi pe-rintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!’” Ayat ini bukan membicarakan kekuatan, tetapi kekuasaan yang mengusir setan. Untuk pelayanan-Nya, Hamba-Penyelamat mempunyai kekuasaan ilahi bukan hanya untuk mengajar orang-orang (ayat 22), tetapi juga untuk mengusir setan-setan.

Banyak tahun yang lalu, seorang misionaris bernama Dr. Nevius menulis sebuah buku yang menjelaskan banyak kasus mengenai kerasukan setan di China. Di seluruh China ada kasus-kasus kerasukan setan, dan di dalam bukunya Dr. Nevius memberikan rincian kasus-kasus itu. Hari ini, di negara yang berkebudayaan dan berperadaban tinggi seperti Amerika Serikat, nampaknya tidak ada lagi kasus-kasus kerasukan setan. Akan tetapi, setan itu licik, dan ia beru-saha merasuki orang-orang dengan cara lain. Dengan kelici-kannya, ia memiliki cara untuk merasuki orang-orang di negara yang berperadaban tinggi sama seperti ia memiliki cara untuk merasuki orang-orang di negara berkembang. Karena itu, bahkan hari ini, di negara yang paling tinggi kebudayaannya pun, setan mampu menggunakan berbagai cara untuk merasuki orang-orang. Karena alasan inilah, dalam pemberitaan Injil kita bukan hanya harus memiliki pengajaran yang benar, tetapi juga mengusir setan, meng-usir hal-hal yang digunakan setan untuk merasuki orang-orang. Untuk melakukan hal ini, kita harus belajar berdoa untuk menerima kekuatan, bahkan kekuasaan, untuk meng-usir unsur yang merasuki orang-orang. Begitu kita meneri-ma kekuatan dan kekuasaan ini, pemberitaan dan peng-ajaran kita akan disertai kekuatan untuk mengusir unsur musuh yang merasuki orang-orang.

Kita perlu kekuatan untuk mengusir unsur setan yang dipakai oleh musuh untuk merasuki orang-orang di negaranegara modern hari ini. Setan, si ular licik, sangat cerdik, dan ia tahu bagaimana merasuki orang-orang secara modern. Di negara yang tak berkebudayaan, ia bisa menggunakan cara yang tak berkebudayaan untuk merasuki orang. Tetapi di negara modern, berkebudayaan, ia akan menggunakan cara modern dan berkebudayaan untuk merasuki orang. Sebagai contoh, di institut-institut dan universitas-universitas yang terkemuka, setan akan merasuki orang-orang dengan cara intelek. Kita tidak dapat mengalahkan musuh yang mera-suki umat manusia hanya melalui pemberitaan dan peng-ajaran biasa. Untuk mengusir setan dewasa ini, kita harus memiliki kekuasaan dan kekuatan ilahi dalam pengajaran dan pemberitaan kita. Kekuatan dan kekuasaan ini hanya dapat dilaksanakan di dalam nama Yesus. Karena itu, kita perlu menyeru nama Tuhan dan menerapkan kekuasaan ilahi di dalam dan melalui nama-Nya. Jika kita melakukan hal ini, pemberitaan dan pengajaran kita mengandung ke-kuatan dan kekuasaan untuk mengusir unsur musuh yang merasuki orang-orang. Karena itu, mengusir setan adalah hal ketiga dari isi Injil.

MENYEMBUHKAN ORANG SAKIT

Dalam 1:29-39 kita dapati penyembuhan orang sakit oleh Tuhan. Ayat 30 mengatakan, “Ibu mertua Simon terba-ring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.” Demam ini dapat melambang-kan temperamen manusia yang tak terkendali, abnormal, dan tak dapat menguasai diri.

Menurut ayat 31, Tuhan datang kepada ibu mertua Simon, membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Menurut ayat 34, “Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.” Penyakit adalah akibat dari dosa dan suatu tanda dari kondisi manusia yang abnormal di hadapan Allah karena dosa. Hal keempat yang dilakukan Hamba-Penyelamat untuk menyelamatkan orang dosa sebagai bagian dari pelayanan Injil-Nya ialah menyem-buhkan kondisi mereka yang sakit, baik secara jasmani maupun rohani, dan memulihkan mereka menjadi normal, sehingga mereka bisa melayani Dia (1:34; 3:10; 6:5, 13, 56). Ada sembilan kasus yang tercatat dalam Injil ini untuk mengilustrasikan penyembuhan tersebut (1:30-31, 40-45; 2:3-12; 3:1-5; 5:22-43; 7:32-37; 8:22-26; 10:46-52).

Hari ini setiap manusia yang jatuh adalah orang yang sakit. Banyak yang sakit jasmani, namun semua orang sa-kit secara rohani. Karena setiap orang yang jatuh itu sakit secara rohani, kita dalam gereja lokal harus belajar mem-beritakan Injil dan mengajarkan kebenaran seperti dokter-dokter. Ini berarti ketika kita mengajar dan memberitakan, kita harus memberikan resep surgawi dan obat ilahi untuk menyembuhkan mereka. Semua orang kudus di antara kita hendaknya belajar memberitakan Injil dan mengajarkan ke-benaran sedemikian rupa sehingga orang disembuhkan. Ketika kita mengajar dan memberitakan, kita harus mem-berikan injeksi obat rohani untuk menyembuhkan mereka.

Di antara orang-orang yang ada di dalam gerakan Pen-takosta hari ini, penyembuhan jasmani sangat ditekankan. Akan tetapi, kita perlu lebih banyak memperhatikan penyem-buhan rohani daripada penyembuhan jasmani. Kaum ber-iman hendaknya diperlengkapi sehingga dalam pemberitaan dan pengajaran mereka obat rohani disuplaikan kepada orang-orang agar mereka sembuh secara rohani.

Menurut Markus 1:32, menjelang malam Tuhan me-nyembuhkan banyak orang sakit. Kemudian pagi-pagi benar pada keesokan harinya, Ia keluar dan pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tuhan berdoa untuk berse-kutu dengan Allah, mencari kehendak dan perkenan Allah bagi pelayanan Injil-Nya (ayat 38). Hamba-Penyelamat ti-dak melakukan pelayanan pengabaran Injil oleh diri-Nya sendiri, lepas dari Allah, atau menurut keinginan-Nya, me-lainkan menurut kehendak dan perkenan Allah, melalui menjadi satu dengan Allah demi kegenapan tujuan-Nya.

Menurut 1:37, Simon dan orang-orang yang bersamanya berkata kepada Tuhan, “Semua orang mencari Engkau.” Tuhan berkata kepada mereka, “Marilah kita pergi ke tem-pat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Sebagai Hamba Allah untuk melayani Allah di dalam Injil-Nya, Hamba-Penyelamat tidak melakukan pelayanan Injil-Nya untuk memenuhi kehendak-Nya sendiri, juga bukan untuk memuaskan usul orang, melainkan untuk memenuhi kehendak Allah yang mengutus-Nya (Yoh. 6:38; 4:34).

MENTAHIRKAN ORANG SAKIT KUSTA

Dalam 1:40-45 kita dapati kasus pentahiran orang sakit kusta. Ayat 40 mengatakan, “Seorang yang sakit kusta da-tang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.’” Seorang penderita kusta me-lukiskan seorang berdosa yang khas. Penyakit kusta adalah penyakit yang paling kotor dan merusak, jauh lebih serius daripada demam (ayat 30), yang menyebabkan si penderita dikucilkan, baik dari Allah maupun dari manusia. Menurut hukum Taurat, seorang penderita kusta harus dikucilkan da-ri masyarakat karena kenajisannya. Tidak boleh ada orang yang menyentuhnya (Im. 13:45-46). Menurut contoh-contoh dalam Alkitab, kusta timbul karena pemberontakan dan ke-tidakpatuhan. Miriam terkena kusta karena pemberon-takannya terhadap wakil kuasa Allah (Bil. 12:1-10). Kusta Naaman ditahirkan karena kepatuhannya (2 Raj. 5:1, 9-14). Semua manusia yang jatuh telah terkena kusta dalam pan-dangan Allah karena pemberontakan mereka. Karena kusta mengucilkan korbannya dari Allah maupun manusia, maka mentahirkan penderita kusta berarti memulihkan orang dosa itu kepada persekutuannya dengan Allah dan manusia. Ini adalah bagian terakhir dari pelayanan Injil Hamba-Penyelamat menurut catatan pasal ini.

Markus 1:41-42 mengatakan, “Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyen-tuh orang itu dan berkata kepadanya, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh.” Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan. Belas kasihan dan kerelaan Hamba-Penyelamat yang berasal dari kasih-Nya sangatlah mesra dan berharga bagi penderita kusta yang putus asa itu. Tuhan mengulur-kan tangan-Nya dan menjamah si penderita kusta. Ini me-nunjukkan simpati dan keakraban-Nya kepada si penderita kusta yang menderita, kasihan, yang tak seorang pun bera-ni menyentuhnya. Menurut ayat 42, seketika itu juga penya-kit kusta itu lenyap dan ia menjadi tahir. Ayat ini mengata-kan bahwa penderita kusta itu bukan hanya disembuhkan, tetapi juga ditahirkan. Penyakit kusta tidak hanya memerlukan penyembuhan sebagaimana penyakit-penyakit lain, juga memerlukan pentahiran, seperti dosa (1 Yoh. 1:7), karena sifatnya yang kotor dan menjijikkan itu.

Kita semua perlu terkesan atas kelima perkara yang tercakup dalam pelayanan Injil Hamba-Penyelamat: (1) pemberitaan (ayat 14-15, 38-39) untuk menyiarkan kabar gembira kepada orang-orang yang terbelenggu dalam kese-dihan; (2) pengajaran (ayat 21-22) untuk menerangi orang-orang yang bodoh dalam kegelapan dengan terang kebenaran ilahi; (3) pengusiran setan-setan (ayat 25-26) untuk menia-dakan perampasan Iblis atas manusia; (5) menyembuhkan kondisi manusia yang sakit (ayat 30-31) sehingga manusia dapat melayani Hamba-Penyelamat; dan (5) mentahirkan pen-derita kusta (ayat 41-42) untuk memulihkan orang-orang dosa kepada persekutuannya dengan Allah dan manusia. Alangkah ajaib dan menakjubkan pekerjaan-Nya!

Dalam pemberitaan Injil kita juga harus dilatih untuk memberitakan, mengajar, mengusir setan, menyembuhkan, dan mentahirkan. Jika pemberitaan kita lemah, mungkin ada beberapa yang diselamatkan, tetapi mereka mungkin belum tahir. Mereka bisa saja diselamatkan dalam arti me-nerima pengampunan dosa, tetapi mereka bisa jadi belum tahir dari sifat dosa yang mencemarkan. Karena itu, kita perlu dengan serius memperhatikan fakta bahwa gambaran pelayanan Injil Tuhan ini ditutup dengan pentahiran orang sakit kusta. Tuhan memberitakan, mengajar, mengusir se-tan, menyembuhkan orang sakit, dan akhirnya mentahirkan orang sakit kusta. Pentahiran ini adalah bagian perampung-an dari pelayanan Injil Tuhan.

Setelah mentahirkan orang sakit kusta, Tuhan Yesus memperingatkan dengan keras dan berkata, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, per-lihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah un-tuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka” (Mrk. 1:44). Perin-tah sedemikian di seluruh catatan pelayanan Injil Hamba-Penyelamat sangat menonjol (5:43; 7:36; 9:9). Hal ini serupa dengan apa yang dinubuatkan tentang karakter-Nya yang pendiam dalam Yesaya 42:2. Dia menghendaki pekerjaan-Nya dikerjakan dalam gerakan yang terbatas yang mutlak sesuai dengan tujuan Allah, bukan dipromosikan oleh kega-irahan dan propaganda manusia. Di seluruh ministri-Nya, Hamba-Penyelamat sebagai Hamba Allah, tidak menyukai publisitas (penyiaran).

Menurut 1:45, orang yang ditahirkan itu tidak bertin-dak menurut perkataan Tuhan, melainkan, “pergi membe-ritakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang ter-pencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari se-gala penjuru.” Di sini nampak bahwa kegiatan manusia menurut konsepsi alamiah menghalangi pelayanan Hamba-Penyelamat yang menurut tujuan Allah.