ISI PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (1)
Pembacaan Alkitab: Mrk. 1:14-45
Bila Anda menelusuri garis besar Injil Markus yang di-cetak dalam Versi Pemulihan, Anda akan nampak bahwa Injil ini terdiri atas enam bagian utama: Permulaan Injil dan perkenalan Hamba-Penyelamat (1:1-13); ministri Hamba-Penyelamat untuk penyebaran Injil (1:14—10:52); persiapan Hamba-Penyelamat untuk pelayanan penebusan-Nya (11:1— 14:42); kematian dan kebangkitan Hamba-Penyelamat untuk penggenapan penebusan Allah (14:43—16:18); kenaik-an Hamba-Penyelamat bagi peninggian-Nya (16:19); penye-baran Injil ke segala penjuru oleh Hamba-Penyelamat melalui murid-murid-Nya (16:20). Dalam berita-berita sebe-lumnya kita telah melihat permulaan Injil dan perkenalan Hamba-Penyelamat. Dengan berita ini kita akan mulai me-lihat ministri Hamba-Penyelamat untuk penyebaran Injil.
Kita telah nampak bahwa Hamba-Penyelamat telah diperkenalkan ke dalam ministri-Nya melalui dua langkah: Baptisan dan pengujian. Dalam 1:14—10:52 sang Hamba-Penyelamat melaksanakan ministri yang ke dalamnya Ia telah diinisiasikan, suatu ministri untuk penyebaran Injil.
Dalam berita ketiga Pelajaran-hayat ini kita telah nam-pak bahwa Injil adalah penggenapan janji-janji, nubuat-nubuat, dan lambang-lambang dalam Perjanjian Lama serta penghapusan hukum Taurat. Yesus Kristus, Persona yang hidup ini, telah menggenapkan janji-janji, nubuat-nubuat, dan lambang-lambang, juga telah menghapuskan hukum Taurat. Kristus sendiri adalah penggenapan ini, dan Ia sen-diri yang menghapus hukum Taurat itu. Jadi, apakah per-mulaan Injil? Permulaan Injil sebenarnya adalah diperke-nalkannya Persona yang hidup ini. Hari ini bagi kita Kristus adalah segalanya. Asal kita memiliki Dia, kita memiliki segala sesuatu. Kita bukan memiliki janji-janji, kita me-miliki Kristus; kita bukan memiliki nubuat-nubuat, kita memiliki Kristus; kita bukan memiliki lambang-lambang, kita memiliki Kristus. Kita tidak perlu berjuang untuk me-melihara hukum Taurat, karena Kristus ada di sini, dan kita memiliki Dia. Dalam kamus rohani kita, kata yang unik ini adalah Kristus.
Kini setelah kita nampak apakah Injil itu, kita perlu melanjutkan melihat isi pelayanan Injil yang diwahyukan dalam Markus 1:14-45. Menurut Injil Markus bagian ini, isi pelayanan Injil terdiri atas lima hal: Memberitakan Injil (ayat 14-20), mengajarkan kebenaran (ayat 21-22), mengusir setan-setan (ayat 23-28), menyembuhkan orang sakit (ayat 29-39), dan mentahirkan orang sakit kusta (ayat 40-45). Dengan istilah yang sederhana, isi pelayanan Injil HambaPenyelamat adalah pemberitaan, pengajaran, pengusiran setan, penyembuhan, dan pentahiran. Mungkin kita mem-baca Markus 1:14-45 berkali-kali tanpa menyadari bahwa ayat-ayat tersebut melukiskan isi pelayanan Injil. Marilah kita teruskan melihat apa yang dicatat Markus 1:14-20 mengenai pemberitaan Injil.
MEMBERITAKAN INJIL
Di Daerah yang Terhina
Markus 1:14 mengatakan, “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah.” Pe-menjaraan Yohanes merupakan suatu tanda penolakan Injil, terutama di wilayah yang terpandang. Karenanya, Hamba-Penyelamat meninggalkan daerah itu dan kembali ke daerah yang terhina untuk pelayanan Injil-Nya.
Walaupun Yohanes Pembaptis menunaikan ministri di padang gurun, bukan di dalam Bait Suci di kota suci, na-mun ministrinya di Yudea, tidak jauh dari perkara-perkara “suci”. Karena penolakan orang-orang terhadap Yohanes, Tuhan Yesus datang ke Galilea untuk memulai pelayanan Injil-Nya, jauh dari Bait Suci dan kota suci. Ini terjadi menurut kedaulatan Allah untuk menggenapkan nubuat Yesaya 9:1-2. Galilea adalah tempat yang berpenduduk campuran, Yahudi dengan orang-orang kafir, karena itu di-sebut “Galileanya bangsa-bangsa lain” dan direndahkan oleh orang Yahudi ortodoks (Yoh. 7:41, 52).
Pelayanan Injil diawali dengan ministri pelopor Hamba-Penyelamat (1:1-11) di Yudea, daerah yang terpandang, tetapi ini dilanjutkan oleh ministri Hamba-Penyelamat di Galilea, daerah yang terhina, dalam kurun waktu sekitar tiga tahun (1:14—9:50). Markus tidak menceritakan mi-nistri Hamba-Penyelamat di Yerusalem dan Yudea selama masa ini, seperti yang dicatat Yohanes dalam Injilnya (Yoh. 1:29-42; 2:13—3:36; 5:1-47; 7:10—11:57). Markus hanya mencatat Tuhan meninggalkan Galilea menuju Yerusalem pada saat-saat terakhir (10:1) untuk merampungkan pekerja-an penebusan-Nya. Kemudian pelayanan Injil itu dilanjutkan melalui ministri-Nya dalam perjalanan menuju Yerusalem dan di Yerusalem serta daerah-daerah sekitarnya (10:1— 14:42). Ini berakhir dengan kematian-Nya untuk pene-busan, kebangkitan-Nya untuk menyalurkan hayat, kena-ikan-Nya untuk peninggian, dan kesinambungan pelayanan Injil-Nya melalui pemberitaan murid-murid-Nya kepada segala makhluk (14:43—16:20). Meskipun demikian, Rasul Yohanes dalam Injilnya menceritakan kejadian-kejadian di Yerusalem dan Yudea sebelum Markus 10 yang tidak ter-cantum dalam Injil Markus (lihat Yoh. 1:29-42; 2:13—3:36; 5:1-17; 7:10—11:57).
Menurut Markus 1:14, Yesus datang ke Galilea mem-beritakan Injil Allah. Pemberitaan Hamba-Penyelamat ada-lah menyiarkan kabar sukacita Allah kepada orang-orang yang kasihan dan terbelenggu. Pengajaran-Nya (1:21-22) adalah untuk menerangi orang-orang yang bodoh dalam kegelapan dengan terang kebenaran ilahi. Pemberitaan-Nya mencakup pengajaran, dan pengajaran-Nya mencakup pem-beritaan (Mat. 4:23). Ini adalah hal pertama yang Ia lakukan dalam ministri-Nya, dan merupakan struktur pelayanan Injil-Nya yang meliputi segalanya (1:38-39; 3:14; 6:12; 14:9; 16:15, 20).
Mengembangkan Kecakapan untuk Mengajarkan Injil
Hal pertama dalam pelayanan Injil Hamba-Penyelamat adalah memberitakan Injil. Telah saya tunjukkan bahwa pemberitaan Tuhan selalu menyiratkan pengajaran, dan pengajaran-Nya menyiratkan pemberitaan. Hal ini menun-jukkan sesuatu yang penting yang berkaitan dengan pembe-ritaan Injil kita hari ini. Banyak orang beriman yang ber-beban memberitakan Injil. Mereka sungguh damba untuk memberitakan Injil kepada sanak keluarga, tetangga, kawan-kawan, teman sekolah, dan rekan sekerja mereka. Tetapi, banyak yang mengalami kesulitan harus mengatakan apa ketika mereka mencoba untuk menginjil. Hal ini karena mereka belum mengembangkan kecakapan untuk menga-barkan Injil, walau mereka mempunyai beban untuk mem-beritakan Injil. Bila kita tidak tahu bagaimana mengajar-kan, kita tidak akan mampu memberitakan dengan efektif. Pemberitaan Injil tergantung pada pengajaran.
Saya menghimbau semua orang kudus yang setia ke-pada Tuhan dalam pemulihan-Nya agar tidak hanya belajar memberitakan Injil, tetapi juga belajar bagaimana menga-jarkan Injil. Misalnya, dalam membicarakan tentang Allah, mungkin ada orang yang mengatakan, “Teman-teman, di alam semesta ini hanya ada satu Allah yang sejati. Selain Dia, tidak ada yang lain. Apa pun lainnya yang menyata-kan diri sebagai Allah adalah palsu. Allah yang sejati adalah Allah yang kita sembah.” Cara pembicaraan mengenai Allah seperti ini sangatlah terbatas. Di dalam pemberitaan seperti ini, tidak ada ajaran lain mengenai Allah. Saya menggunakan ini sebagai satu contoh akan perlunya mengembangkan kecakapan baik mengajarkan maupun memberitakan Injil. Karena itu, saya mendorong para penatua di gereja-gereja agar mencurahkan banyak waktu dan tenaga untuk me-masuki firman dan menolong kaum beriman mempelajari berbagai kebenaran Injil dan juga belajar untuk menyaji-kannya kepada orang lain. Pertama, semua orang beriman perlu belajar kebenaran. Kemudian, mereka perlu memiliki kecakapan untuk menyajikan kebenaran itu kepada orang lain.
Sidang-sidang gereja lokal hendaknya almuhit. Secara rohani, gereja adalah rumah, rumah makan, rumah sakit, hotel, gelanggang olahraga, dan juga sekolah. Mengenai ke-butuhan kita untuk mengembangkan kecakapan mengajar-kan Injil, sidang-sidang gereja tertentu hendaklah seperti kelas pengajaran. Dalam sidang-sidang tersebut kaum ber-iman bisa dibantu mengenal kebenaran dan menyajikannya.
Mengenai keperluan ini, saya ingin menyampaikan se-patah kata kepada penatua. Sangatlah sulit menjadi seorang penatua di gereja lokal karena seorang penatua harus mam-pu melakukan banyak macam hal. Karena gereja adalah rumah, seorang penatua harus tahu bagaimana membesar-kan anak-anak rohani. Karena gereja adalah rumah makan, seorang penatua harus tahu bagaimana menyediakan ma-kanan rohani yang bergizi untuk kaum beriman. Karena ge-reja adalah rumah sakit, seorang penatua harus belajar merawat saudara dan saudari sebagai seorang dokter rohani. Karena gereja adalah hotel, seorang penatua harus belajar bagaimana melayani kaum beriman, bagaimana memper-hatikan mereka. Karena gereja adalah gelanggang olah-raga, seorang penatua harus bisa menjadi pelatih, melatih anggota-anggota tim dalam latihan rohani mereka bersama-sama. Karena gereja juga adalah sekolah, seorang penatua harus tahu bagaimana mengajar kaum beriman. Ajaran bagi kaum beriman ini berbeda-beda tingkatnya: Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan Per-guruan tinggi, bahkan sekolah Pasca Sarjana. Seorang pe-natua hendaknya mampu mengajar kaum beriman dalam hal rohani di semua tingkat yang berbeda-beda ini. Walaupun tanggung jawab kepenatuaan mengenai semua perkara ini sangat berat, oleh belas kasihan Tuhan para penatua perlu belajar melakukan hal-hal tersebut.
Jalan pemulihan Tuhan itu sempit. Karena jalan ini sempit, jangan berharap banyak orang akan menempuh ja-lan ini. Meskipun demikian, jika jumlah orang beriman yang sekarang di dalam pemulihan Tuhan dilatih dengan tepat, semua orang beriman akan mampu menyajikan ke-benaran dalam hidup mereka sehari-hari di sekolah, tempat kerja, dan di antara tetangga. Di mana pun kaum beriman berada, mereka akan memberitakan dengan pengajaran dan mengajarkan dengan pemberitaan. Jika kita memberitakan secara demikian, pemberitaan kita akan efektif.
Pemberitaan Injil kita yang lampau kurang efektif atau berbuah. Penyebab kurangnya keefektifan ini adalah pemberitaan beberapa orang beriman kurang berbobot. Ke-tika kita berbicara kepada orang lain, kita harus mempu-nyai suatu kekayaan yang disajikan kepada mereka. Contoh-nya, tentunya tidaklah cukup memberi seseorang cangkir yang hanya berisi beberapa tetes air. Sebaliknya, Anda hen-daknya memberinya cangkir yang penuh terisi. Ini ada-lah ilustrasi yang menunjukkan perlunya kita diisi dengan kekayaan ilahi sehingga kapan kala kita berbicara kepada orang lain, kita bisa menyuplaikan kekayaan ini kepada mereka.
Misalnya kita berjumpa dengan seseorang yang menga-takan bahwa gereja lokal itu bidah. Kita tidak perlu men-debat dan menyangkal bahwa kita itu bidah, kita sebaiknya mengambil kesempatan itu untuk memberinya “berlian” kebenaran. Misalnya, kita bisa menunjukkan kepada orang itu janji yang diberikan Allah dalam Kejadian 3:15 — janji bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Kemudian Anda bisa menunjukkan bahwa Tuhan Yesus, sebagai keturunan perempuan, adalah penggenapan atas janji tersebut dan bahwa di atas salib Ia meremukkan ke-pala Iblis, demikianlah Ia menghancurkan musuh Allah. Bila kita memiliki kesempatan lain, kita bisa membagikan aspek kebenaran lainnya kepada orang itu. Mungkin setelah sejangka waktu ia akan menyatakan keinginannya untuk menghadiri sidang bersama-sama kita. Cara tepat untuk me-nanggulangi orang-orang yang menuduh kita bidah adalah membagikan kebenaran-kebenaran firman Allah yang ber-harga kepada mereka.
Walaupun kita memiliki kekayaan, banyak di antara kita yang tidak tahu bagaimana menyajikan kekayaan tersebut kepada orang lain. Kita tidak berniat menjual kekayaan tersebut — kita ingin memberikannya dengan gratis. Tetapi kita mungkin tidak tahu bagaimana membe-rikannya kepada orang lain. Jika Anda berbantah dengan se-seorang untuk menyangkal tuduhan salah yang mengatakan bahwa kita adalah bidah, Anda mungkin gagal memberikan “berlian-berlian” apa pun kepada orang itu dengan gratis.
Kita hendaknya memberi orang lain berlian kebenaran satu demi satu, bukannya berbantah dengan mereka.
Saya menyadari bahwa banyak orang beriman menye-nangi pelatihan-pelatihan dan menikmati berita-berita pela-jaran-hayat. Tetapi kaum beriman boleh jadi hanya sedikit secara umum mengetahui apa yang terkandung dalam be-rita-berita tersebut. Isi yang riil dari berita-berita tersebut mungkin belum tersusun ke dalam mereka. Marilah kita sekali lagi memakai contoh janji dalam Kejadian 3:15. Jika kita tersusun dengan kebenaran tersebut, kita akan mampu menyajikan kebenaran mengenai keturunan perempuan kepada orang lain dalam satu percakapan singkat, mungkin selama lima menit waktu istirahat di tempat pekerjaan.
Pada saat ini (1985) ada kira-kira tujuh ribu lima ratus orang kudus dalam pemulihan Tuhan di Amerika serikat. Walaupun jumlah ini tidak banyak, bayangkan akibatnya bila semua orang beriman dilatih untuk menyampaikan ke-benaran hari demi hari. Saya percaya bahwa setelah sekian tahun akan besar pengaruhnya bagi seluruh negeri ini. Ka-rena itu, walaupun kita berbeban untuk memberitakan Injil, kita perlu mempunyai kemampuan yang tepat untuk meng-ajarkan kebenaran. Dalam pemberitaan kita harus ada pengajaran.
Keperluan untuk Memberitakan dan Mengajar
Seprinsip dengan itu, bila kita mengajarkan kebenaran, kita juga harus memberitakan. Kita tidak seharusnya meng-ajar secara harfiah, maksudnya, pengajaran kita harus hidup dan bukan pengajaran doktrin saja. Contohnya, jika kita mempelajari kelahiran Kristus dari seorang perawan hanya secara doktrinal, pelajaran sedemikian itu akan mem-bunuh, pertama-tama diri kita sendiri, kemudian orang lain. Dalam pengajaran kita hendaknya ada pemberitaan yang hidup. Bila kita mengajarkan satu ayat Alkitab kepa-da orang lain, kita juga memberitakannya kepada mereka. Dalam pengajaran firman suci kita, Injil harus keluar. Ini-lah praktek Tuhan dalam Injil Markus. Kapan saja Tuhan memberitakan, Ia mengajar, dan kapan saja Ia mengajar, Ia memberitakan. Gabungan pengajaran dan pemberitaan ini sungguh menakjubkan.
Umat manusia yang telah jatuh perlu mendengar baik pemberitaan maupun pengajaran Injil. Betapa acuh tak acuhnya umat manusia yang telah jatuh terhadap Allah dan hal-hal tentang Allah! Walaupun masyarakat kita mungkin menekankan pentingnya pendidikan, orang-orang masih acuh tak acuh mengenai kebenaran ilahi. Mereka tidak mengenal Allah, mereka tidak mengenal arti hidup ma-nusia, dan mereka tidak tahu dari mana mereka datang atau ke mana mereka pergi. Sebaliknya, dalam ketidak-acuhan mereka, mereka memperhatikan nafsu daging dan kesenangan duniawi. Karena itu, orang-orang hari ini perlu pengajaran firman Allah yang benar, pengajaran yang akan menerangi mereka.
Sebagai seorang Hamba yang melayani Allah, Tuhan Yesus memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran ke-pada orang-orang yang acuh tak acuh dan yang di dalam ke-gelapan. Gereja, sebagai kelanjutan, perluasan, dan pertum-buhan Tuhan, harus melakukan hal yang sama hari ini. Kepada orang-orang yang telah jatuh dalam kegelapan, ge-reja harus memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran.
Saya harap semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan akan menjadi pemberita-pemberita Injil yang baik dan guru-guru Alkitab yang baik.
Jika kita semua menjadi pemberita dan pengajar yang baik, Tuhan akan mempunyai jalan untuk mempercepat ke-datangan-Nya kembali. Situasi hari ini tidak mengizinkan Tuhan datang kembali karena belum ada yang siap untuk kedatangan-Nya. Karena itu, kita perlu setia mengikuti lang-kah-langkah Tuhan dalam perkara pemberitaan Injil dan pengajaran kebenaran. Ia adalah pemberita yang baik dan guru yang baik, dan kita harus belajar dari Dia juga untuk menjadi pemberita dan pengajar yang baik. Mengenai perka-ra ini, secara khusus saya berharap bahwa anak muda akan setia terhadap Tuhan dalam pemulihan-Nya. Anak muda, jalan masih panjang di hadapan Anda. Saya mendorong Anda untuk setia dalam pemulihan Tuhan untuk memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran.
INJIL DAN KERAJAAN
Menurut 1:14, Tuhan memberitakan Injil Allah. Bebe-rapa naskah menambahkan “kerajaan”. Ini berarti Ia mem-beritakan Injil Kerajaan Allah. Injil Yesus Kristus (ayat 1) adalah Injil Allah (Rm. 1:1) dan Injil Kerajaan Allah (lihat Matius 4:23). Dalam 1:15 Tuhan Yesus berkata, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Kerajaan Allah adalah pengatur-an, pemerintahan Allah dengan semua berkat dan kenik-matannya. Ini adalah sasaran Injil Allah dan Yesus Kristus (lihat catatan 32 dan 263 dalam pasal 4). Untuk memasuki kerajaan ini, orang-orang harus bertobat dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Injil sehingga dosa-dosa mereka dapat diampuni, dan mereka dapat dilahirkan kembali oleh Allah untuk memiliki hayat ilahi, yang sesuai dengan sifat ilahi kerajaan ini (Yoh. 3:3, 5). Semua orang beriman dalam Kristus dapat berbagian atas kerajaan pada zaman gereja untuk kenikmatan mereka terhadap Allah di dalam kebe-naran, damai sejahtera, dan sukacita-Nya dalam Roh Kudus (Rm. 14:17). Kerajaan ini akan menjadi Kerajaan Kristus dan Allah bagi kaum beriman pemenang untuk diwarisi dan dinikmati pada zaman kerajaan yang akan datang (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:21; Ef. 5:5), sehingga mereka dapat memerin-tah bersama Kristus selama seribu tahun (Why. 20:4, 6). Kemudian, sebagai kerajaan kekal, ini akan menjadi berkat kekal dari hayat kekal Allah untuk dinikmati oleh seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sam-pai kekekalan (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14, 17). Kerajaan Allah yang demikianlah yang telah semakin dekat, dan Injil Hamba-Penyelamat ini akan membawa kaum beriman-Nya masuk ke dalamnya. Bagi kerajaan inilah Hamba-Penyelamat menyuruh orang bertobat dan percaya kepada Injil (lihat catatan 33 dalam Yoh 3, 281 dalam Ibr 12, dan 34 dalam Mat 5).
BERTOBAT DAN PERCAYA KEPADA INJIL
Dalam Markus 1:15, kata “bertobat” dalam bahasa aslinya berarti berpikir secara berbeda, yaitu, berubah pikiran dengan menyesali yang lampau dan berpaling kepada yang akan datang. Pada aspek negatifnya, bertobat di hadapan Allah bukan hanya bertobat dari dosa-dosa dan kesalahan, tetapi juga bertobat dari dunia dan kebejatannya yang merampas dan merusak manusia yang Allah ciptakan bagi diri-Nya, dan bertobat dari kehidupan masa lalu yang me-nolak Allah. Pada aspek positifnya, bertobat berarti berpaling kepada Allah dalam setiap aspek dan perkara demi pengge-napan tujuan-Nya dalam menciptakan manusia. Inilah “ber-tobat kepada Allah”, “bertobat dan berpaling kepada Allah” (Kis. 20:21; 26:20).
Dalam pemberitaan-Nya Tuhan menyuruh orang-orang bertobat dan percaya kepada Injil. Pertobatan terjadi ter-utama di dalam pikiran; percaya terutama terjadi di dalam hati (Rm. 10:9). Percaya kepada berarti percaya ke dalam hal-hal yang kita percayai dan menerima hal-hal yang kita percayai itu ke dalam kita. Percaya kepada Injil terutama berarti percaya kepada Hamba-Penyelamat (Kis. 16:31), dan percaya kepada-Nya berarti percaya ke dalam Dia (Yoh. 3:15-16) dan menerima Dia ke dalam kita (Yoh. 1:12), sehingga kita bisa bersatu dengan Dia secara organik. Iman dalam Kristus yang sedemikian ini (Gal. 3:22) diberikan Allah ke-pada kita melalui pendengaran kita akan firman kebenaran Injil (Rm. 10:17; Ef. 1:13). Iman ini membawa kita ke da-lam segala berkat Injil (Gal. 3:14). Sebab itu, iman sangat berharga bagi kita (2 Ptr. 1:1). Iman yang demikian ber-harga ini perlu didahului dengan pertobatan.
Percaya adalah menerima Hamba-Penyelamat bukan hanya untuk pengampunan dosa-dosa (Kis. 10:43), tetapi juga untuk kelahiran kembali (1 Ptr. 1:21, 23), sehingga orang-orang yang percaya bisa menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13) dan anggota-anggota Kristus (Ef. 5:30) dalam suatu kesatuan organik dengan Allah Tritunggal (Mat. 28:19).
INJIL YESUS KRISTUS, INJIL ALLAH, DAN INJIL KERAJAAN ALLAH
Secara khusus, dalam Markus 1:15 Tuhan Yesus mem-beritakan bahwa kita harus percaya kepada Injil. Ini adalah Injil Yesus Kristus, Putra Allah (ayat 1), Injil Allah, dan Injil Kerajaan Allah. Yesus Kristus, Putra Allah, dengan se-mua proses yang Dia lalui (antara lain: Inkarnasi, penyalib-an, kebangkitan, dan kenaikan) dan semua pekerjaan pene-busan yang Dia rampungkan, itulah isi Injil (Rm. 1:2-4; Luk. 2:10-11; 1 Kor. 15:1-4; 2 Tim. 2:8). Sebab itu, inilah Injil Yesus Kristus. Injil ini direncanakan, dijanjikan, dan diram-pungkan oleh Allah (Ef. 1:8-9; Kis. 2:23; Rm. 1:2; 2 Kor. 5:21; Kis. 3:15), dan Injil adalah kekuatan Allah yang me-nyelamatkan setiap orang yang percaya (Rm. 1:16), agar mereka dapat didamaikan dengan Allah (2 Kor. 5:19) dan dilahirkan kembali oleh Dia (1 Ptr. 1:3) menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13; Rm. 8:16) dan menikmati semua ke-kayaan dan berkat-Nya sebagai warisan mereka (Ef. 1:14). Sebab itu, inilah Injil Allah. Injil ini membawa orang-orang beriman ke dalam alam pemerintahan ilahi, supaya mereka boleh mengambil bagian dalam berkat hayat ilahi di dalam kerajaan ilahi (1 Tes. 2:12). Karenanya, ini juga adalah Injil Kerajaan Allah. Jadi, seluruh isinya sama dengan Perjan-jian Baru berikut semua warisannya. Ketika kita percaya kepada Injil ini, kita mewarisi Allah Tritunggal berikut penebusan-Nya, penyelamatan-Nya, dan hayat ilahi-Nya be-serta kekayaan-Nya sebagai bagian kekal kita.