Daftar isi Markus (1) · Berita Keempat · bab 4/23

Berita Keempat

PERMULAAN INJIL DAN PERKENALAN HAMBA-PENYELAMAT (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 1:1-13

Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas permulaan Injil dan perkenalan Hamba-Penyelamat.

PENGAKHIRAN DAN PENUNASAN

Markus 1:1-2 mengatakan, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab Nabi Yesaya, ‘Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu.’” Permulaan Injil Hamba-Penyelamat adalah seperti apa yang tertulis dalam Kitab Yesaya tentang ministri Yohanes Pembaptis. Ini menunjukkan bahwa pemberitaan Yohanes mengenai baptisan tobat juga merupakan bagian dari Injil Yesus Kristus. Pemberitaan Yohanes mengakhiri zaman hukum Taurat dan menggantinya menjadi zaman anugerah (kasih karunia). Jadi, zaman anugerah dimulai dengan ministri Yohanes, sebelum ministri Hamba-Penyelamat.

Permulaan Injil adalah pengakhiran hukum Taurat dan penunasan anugerah. Permulaan Injil ini mengakhiri zaman hukum Taurat dan memulai zaman anugerah. Permulaan Injil ini bukan hanya memulai zaman anugerah, lebih-lebih menunaskan zaman anugerah. Memulai sesuatu adalah hal luaran, tetapi menunaskan sesuatu adalah membuatnya memiliki permulaan batiniah dalam hayat.

Permulaan Injil adalah pengakhiran dari seluruh zaman yang lama, zaman hukum Taurat. Tetapi agar suatu pengakhiran disebut permulaan, pengakhiran tersebut harus diikuti oleh penunasan. Penunasan ini melibatkan injeksi ilahi, dan injeksi ini adalah perkenalan Hamba-Penyelamat.

MINISTRI YOHANES PEMBAPTIS

DI PADANG GURUN

Markus 1:3 berbicara tentang “ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun”. Permulaan ministri Injil Hamba-Penyelamat hanyalah suatu seruan, bukan suatu pergerakan yang besar. Tidak hanya demikian, pemberitaan Injil Hamba-Penyelamat tidak dimulai dari pusat peradaban apa pun, tetapi di padang gurun, jauh dari pengaruh kebudayaan manusia.

Sesuai dengan nubuat, Yohanes Pembaptis memulai ministrinya di padang gurun. Hal ini menunjukkan bahwa perkenalan ekonomi Perjanjian Baru Allah oleh Yohanes bukanlah kebetulan, tetapi telah direncanakan dan dinubuatkan sebelumnya oleh Allah melalui Nabi Yesaya. Hal ini menyiratkan bahwa Allah merancang ekonomi Perjanjian Baru-Nya agar dimulai dengan cara yang mutlak baru. Yohanes Pembaptis melaksanakan pemberitaannya bukan di Bait Suci, di kota yang suci, di tempat masyarakat yang agamawi dan berbudaya menyembah Allah menurut aturan-aturan Kitab Suci mereka, melainkan di padang gurun, tidak terikat pada peraturan usang mana pun. Hal ini menunjukkan bahwa cara usang penyembahan kepada Allah menurut Perjanjian Lama telah tidak berlaku, dan suatu cara baru telah diperkenalkan. Padang gurun adalah suatu tempat tanpa kebudayaan, agama, atau milik masyarakat atau peradaban manusia. Pemakaian kata “padang gurun” di sini menunjukkan bahwa cara baru ekonomi Perjanjian Baru Allah berlawanan dengan agama dan kebudayaan.

Ayat 4 mengatakan, “Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa.” Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai seorang imam (Luk. 1:8-13, 57-63); seharusnya ia menempuh hidup sebagai seorang imam dalam bait dan melakukan pelayanan imamat. Namun dia justru datang ke padang gurun dan mengabarkan Injil. Ini menunjukkan bahwa zaman imamat yang mempersembahkan kurban kepada Allah telah diganti dengan zaman Injil yang membawa orang-orang dosa kepada Allah, agar Allah bisa mendapatkan mereka dan mereka bisa mendapatkan Allah. Ayat 6 mengatakan, “Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.” Cara hidup Yohanes menunjukkan bahwa kehidupan dan pekerjaannya mutlak berada dalam zaman yang baru, tidak menurut cara agama, kebudayaan, dan tradisi yang usang. Sebagai seorang imam menurut peraturan hukum Taurat, Yohanes seharusnya mengenakan jubah imam, yang dibuat dari lenan halus (Kel. 28:4, 40-41; Im. 6:10; Yeh. 44:17-18). Ia juga seharusnya memakan makanan imam, yang terbuat dari tepung terbaik dan daging kurban yang dipersembahkan kepada Allah oleh umat-Nya (Im. 2:1-3; 6:16-18, 25-26; 7:31-34). Akan tetapi Yohanes justru sebaliknya. Ia mengenakan jubah bulu unta, berikat pinggang kulit, dan makan belalang dan madu hutan. Hal-hal ini tampak tidak beradab, tidak berbudaya, dan tidak sesuai dengan peraturan-peraturan agama. Bagi seorang imam, mengenakan jubah bulu unta merupakan suatu pukulan yang sangat drastis terhadap pikiran yang agamawi, karena unta dianggap najis menurut peraturan Imamat (Im. 11:4). Selain itu, Yohanes tidak tinggal di tempat yang beradab, melainkan tinggal di padang gurun (Luk. 3:2). Semua ini menunjukkan bahwa ia telah sama sekali meninggalkan pengaturan Perjanjian Lama yang telah jatuh ke dalam suatu jenis agama yang bercampur dengan kebudayaan manusia. Amanat Yohanes adalah memperkenalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang hanya terdiri atas Kristus dan Roh hayat.

BAPTISAN TOBAT

Sebagai seorang yang menandai pengakhiran zaman yang usang dengan kebudayaan dan agama usang, Yohanes Pembaptis memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Bertobat berarti mengubah pikiran, memalingkan-nya kepada Hamba-Penyelamat; baptisan berarti mengubur orang-orang yang bertobat, mengakhiri mereka, agar Hamba-Penyelamat menunaskan mereka melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5-6). Kata Yunani yang diterjemahkan “untuk” dalam ayat ini juga berarti “kepada”. Bertobat dan dibaptis adalah untuk pengampunan dosa dan juga menghasilkan pengampunan dosa, sehingga hambatan karena kejatuhan manusia dapat dihapuskan dan manusia dapat diperdamaikan dengan Allah.

Dalam pemberitaannya, Yohanes Pembaptis menekan-kan pertobatan. Bertobat adalah mengalihkan pikiran kita dari hal-hal yang bukan Allah, termasuk kebudayaan, agama, pengetahuan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat, dan memalingkannya kepada Allah. Agama, kebudayaan, peradaban, masyarakat, pengetahuan, dan pendidikan semuanya menyimpangkan kita dari Allah. Kini setelah zaman yang usang diakhiri, kita harus bertobat dan memalingkan pikiran kita kepada Allah.

Menurut Injil Markus, Yohanes Pembaptis tidak mengajar orang-orang yang bertobat mengenai apa yang harus mereka perbuat, melainkan ia hanya menguburkan mereka. Penguburan ini menandakan pengakhiran. Di padang gurun, Yohanes memberitakan pertobatan dan mengakhiri semua orang yang bertobat. Hal ini merupakan bagian dari permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah.

INJIL YESUS KRISTUS, ANAK ALLAH

Markus 1:1 berbicara tentang Injil Yesus Kristus, Anak Allah. “Yesus Kristus” menunjukkan keinsanian Tuhan. Injil ini mengenai seorang Manusia yang bernama Yesus Kristus. Yesus Kristus ini adalah Anak Allah. Markus 1:1 tidak mengatakan, “Yesus Kristus dan Anak Allah”, tetapi mengatakan, “Yesus Kristus, Anak Allah.” Tanda koma di sini menunjukkan bahwa “Anak Allah” menerangkan “Yesus Kristus”. Ini menunjukkan Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Anak Allah menyatakan Yesus Kristus. Sebutan “Anak Allah” menunjukkan keilahian Tuhan. Karena itu, fakta bahwa Injil ini mengenai Yesus Kristus, Anak Allah berarti Injil ini mengenai keinsanian dan keilahian. Injil ini penuh dengan keinsanian dan juga penuh dengan ke-Allahan. Sebutan majemuk ini dipakai dalam kaitannya dengan Injil menyatakan bahwa baik kebajikan-kebajikan insani maupun atribut-atribut ilahi terdapat di dalam Injil ini. Injil ini penuh dengan keinsanian Tuhan dalam kebajikan dan kesempurnaan-Nya dan juga penuh dengan keilahian-Nya dalam kemuliaan dan kebesaran. Jadi, Injil ini mengenai keinsanian yang penuh dengan kebajikan dan kesempurnaan dan mengenai keilahian yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran. Semua aspek ini dapat terlihat dalam keenam belas pasal Injil Markus.

SATU TANDA

Bila kita membaca Markus 1:1-2 dengan teliti, kita akan tampak bahwa permulaan Injil adalah tampilnya Yohanes Pembaptis untuk memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Ketika Yohanes tampil secara tak beradab dan tidak agamawi sambil memberitakan pertobatan, itulah permulaan Injil. Seperti telah kita tampak, permulaan Injil meliputi pengakhiran zaman hukum Taurat dan penunasan zaman anugerah. Zaman hukum Taurat berakhir dengan kedatangan Yohanes Pembaptis, dan zaman anugerah juga dimulai dengannya.

Di antara ahli-ahli teologi telah terjadi perdebatan mengenai permulaan zaman anugerah. Ada yang mengatakan bahwa zaman ini dimulai pada hari Pentakosta, dan yang lain menyatakan bahwa zaman ini dimulai dengan penyaliban dan kebangkitan Kristus. Ada lagi orang yang mempunyai opini yang lain lagi. Menurut Alkitab, permulaan Injil yang adalah permulaan zaman anugerah, adalah tampilnya Yohanes Pembaptis. Jadi, kedatangan Yohanes Pembaptis adalah tanda yang memisahkan zaman hukum Taurat dengan zaman anugerah. Kedatangannya menandai pengakhiran zaman hukum Taurat dan permulaan zaman anugerah.

JALAN DAN LORONG-LORONG

Markus 1:2 menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis datang untuk mempersiapkan jalan untuk Tuhan, dan ayat 3 mengatakan, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan (lorong-lorong) bagi-Nya.” Dalam ayat-ayat ini kita dapati jalan dan lorong. Mempersiapkan jalan untuk Tuhan berarti melalui pertobatan mengubah pikiran manusia, memalingkan pikiran mereka kepada Hamba-Penyelamat, dan menepatkan hati mereka, meluruskan setiap bagian hati mereka, sehingga Hamba-Penyelamat dapat masuk ke dalam mereka menjadi hayat mereka dan menduduki mereka (Luk. 1:17).

Kita perlu mengerti perbedaan antara jalan dengan lorong-lorong. Mempersiapkan jalan untuk Tuhan adalah bertobat. Kita telah tampak bahwa bertobat adalah mengubah pikiran kita, memalingkan pikiran kita. Memalingkan pikiran kita adalah mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan. Jalan dalam ayat 3 mengacu kepada pikiran kita. Kita perlu mempersiapkan jalan untuk Tuhan melalui pertobatan. Yohanes Pembaptis melaksanakan tugas yang sangat baik dalam mempersiapkan pikiran orang-orang yang bertobat untuk kedatangan Tuhan.

Lorong-lorong adalah semua bagian kecil, batini dari diri kita, misalnya: Angan-angan, suka dan tidak suka, maksud hati, hasrat, keputusan. Jika kita membandingkan pikiran dengan jalan raya, kita dapat membandingkan lorong-lorong dengan jalan-jalan dan gang-gang kecil. Jalan raya dan semua lorong di dalam diri kita perlu dipersiapkan bagi Tuhan.

Sebagai umat manusia, kita tidaklah sederhana. Sebaliknya batin kita sangatlah rumit. Pikirkan betapa banyak “jalan” dan “lorong” yang ada di dalam kita. Bayangkan juga betapa pikiran orang jauh dari Allah dan diduduki oleh perkara-perkara filsafat dan kebudayaan. Demikian, bagaimana mungkin Kristus masuk ke dalam manusia? Agar Kristus dapat masuk ke dalam seseorang, jalan dan lorong di dalam-nya perlu dipersiapkan.

Injil ini bukan hanya perkara objektif, karena Injil sebenarnya adalah Yesus Kristus sendiri sebagai perwujudan Allah yang hidup. Sebagai Yang sedemikian, Ia sedang menunggu agar orang-orang terbuka terhadap-Nya, sehingga Ia dapat masuk ke dalam mereka. Akan tetapi, orang-orang telah membiarkan pikiran mereka diduduki dan dipenuhi oleh banyak perkara. Karena itu, penginjil yang paling baik adalah orang yang dapat membuka jalan di dalam pikiran orang lain dan kemudian mempersiapkannya untuk menerima Tuhan. Jika kita memberitakan Injil dengan tepat, akhirnya Kristus akan ada jalan untuk masuk ke dalam orang-orang dan menduduki mereka.

ORANG-ORANG YANG BERTOBAT DIPIMPIN

KEPADA HAMBA-PENYELAMAT

Markus 1:5 mengatakan, “Maka berdatanganlah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis olehnya di Sungai Yordan.” Yudea adalah suatu wilayah yang memiliki kota suci, Bait Suci, dan kebudayaan tinggi; suatu wilayah yang terpandang. Meskipun demikian, ayat 5 mengatakan bahwa orang-orang dari seluruh Yudea dan semua penduduk Yerusalem datang kepada Yohanes Pembaptis. Ketika orang-orang bertobat melalui pemberitaannya, Yohanes membenamkan mereka ke dalam air kematian untuk mengubur mereka, mengakhiri mereka, dengan demikian mempersiapkan mereka untuk dibangkitkan oleh Hamba-Penyelamat yang menunaskan mereka dengan Roh Kudus, melalui pengakuan dosa-dosa mereka.

Membaptis orang adalah membenamkannya, menguburkannya ke dalam air. Jadi, baptisan melambangkan kematian. Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang bertobat tersebut hanya pantas dikubur. Baptisan ini juga melambangkan pengakhiran manusia usang dan melambangkan bahwa suatu permulaan baru dapat direalisasi dalam kebangkitan melalui Kristus sebagai pemberi-hayat. Jadi, mengikuti ministri Yohanes, Kristus datang. Baptisan Yohanes bukan hanya mengakhiri orang-orang yang bertobat, tetapi juga meman-du mereka kepada Kristus agar memperoleh hayat. Baptisan dalam Alkitab menyiratkan kematian dan kebangkitan. Dibaptis ke dalam air adalah dimatikan dan dikuburkan, dan keluar dari air berarti dibangkitkan dari kematian.

Markus 1:7 mengatakan tentang Yohanes Pembaptis, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Walaupun Yohanes memberitakan baptisan tobat, sasaran ministrinya adalah Persona yang ajaib, Yesus Kristus, Putra Allah. Dia tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat ministrinya, seperti magnet yang menarik orang kepada dirinya. Dia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang utusan yang diutus oleh Yehova semesta alam untuk membawa orang-orang kepada Putra-Nya, Yesus Kristus, dan meninggikan Dia sebagai sasaran ministri-Nya.

Yohanes Pembaptis memberitakan pertobatan, dan ia membaptiskan orang-orang yang bertobat. Melalui baptisan, hayat usang orang-orang yang bertobat itu diakhiri. Pengakhiran ini mempersiapkan jalan dan meluruskan lorong-lorong bagi Hamba-Penyelamat untuk masuk ke dalam orang-orang yang bertobat. Dalam ministrinya, Yohanes memandu orang-orang kepada Hamba-Penyelamat. Karena itu, ia memberi tahu mereka bahwa ministrinya bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Orang lain, Orang yang besar, yang akan datang. Yohanes bahkan mengatakan bahwa ia tidak layak untuk membungkuk dan membuka tali kasut Orang tersebut.

BAPTISAN AIR DAN BAPTISAN ROH KUDUS

Menurut Markus 1:8, Yohanes Pembaptis berkata, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Air melambangkan kematian dan penguburan untuk mengakhiri orang-orang yang bertobat. Roh Kudus adalah Roh hayat dan kebangkitan untuk penunasan orang-orang yang diakhiri. Yang pertama adalah tanda ministri pertobatan Yohanes; yang terakhir adalah tanda ministri hayat Hamba-Penyelamat. Yohanes mengubur orang-orang yang bertobat ke dalam air kematian; Hamba-Penyelamat membangkitkan mereka untuk dilahirkan kembali di dalam Roh hayat kebangkitan-Nya. Air kematian menunjukkan dan melambangkan kematian Kristus yang almuhit, yang ke dalamnya orang-orang beriman-Nya dibaptiskan (Rm. 6:3). Air ini bukan hanya mengubur orang-orang yang dibaptis itu, tetapi juga dosa-dosa, dunia, dan kehidupan serta sejarah mereka yang lampau, (sebagaimana Laut Merah mengubur Firaun dan tentara Mesir bagi umat Israel — Kel. 14:26-28; 1 Kor. 10:2), dan memisahkan mereka dari dunia yang menolak Allah beserta kejahatan-kejahatannya (seperti yang dilakukan air bah bagi Nuh dan keluarganya — 1 Ptr. 3:20-21). Roh Kudus, yang ke dalam-Nya Hamba-Penyelamat membaptiskan orang-orang yang percaya kepada-Nya, adalah Roh Kristus dan Roh Allah (Rm. 8:9). Jadi, dibaptis dalam Roh Kudus berarti dibaptis ke dalam Kristus (Gal. 3:27; Rm. 6:3), ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19), bahkan ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13), yakni disatukan dengan Kristus dalam satu Roh (1 Kor. 6:17). Melalui pembaptisan di dalam air dan di dalam Roh yang sedemikian, kaum beriman dalam Kristus dilahirkan kembali ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:3, 5, dan cat. 52), ke dalam alam hayat ilahi dan pemerintahan ilahi, sehingga mereka dapat hidup dengan hayat kekal Allah dalam kerajaan-Nya yang kekal.

PERKENALAN HAMBA-PENYELAMAT

Dibaptis

Markus 1:9 mengatakan, “Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes.” Galilea disebut “wilayah bangsa-bangsa lain”, suatu wilayah yang tidak terpandang, jadi suatu wilayah yang terhina (Yoh. 7:52) dan Nazaret adalah kota terhina dari wilayah yang terhina (Yoh. 1:46). Hamba Allah yang rendah ini dibesarkan dan berasal dari sumber ini.

Sebagai seorang Hamba Allah, Hamba-Penyelamat ini juga dibaptis, menyatakan bahwa Dia rela melayani Allah, dan Dia tidak akan melayani secara alamiah, melainkan melalui kematian dan kebangkitan. Pembaptisan sedemikian ini membawa masuk pelayanan-Nya.

Tuhan dibaptiskan agar diri-Nya diletakkan ke dalam kematian dan kebangkitan, sehingga Ia bisa melayani bukan secara alamiah, tetapi dalam jalan kebangkitan. Dengan dibaptis, Ia hidup dan melayani dalam kebangkitan bahkan sebelum kematian dan kebangkitan-Nya yang sebenarnya tiga setengah tahun kemudian.

Karena baptisan Yohanes adalah baptisan tobat, mungkin ada orang yang tidak paham, mengapa Tuhan Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes. Mereka mungkin berkata, “Ini adalah baptisan tobat. Apakah Hamba-Penyelamat perlu bertobat? Tentunya Ia tidak perlu bertobat.” Jika kita memiliki konsepsi sedemikian, bisa jadi kita tidak tampak makna yang sejati dari bertobat. Bertobat adalah mengakhiri pikiran, konsepsi, filsafat, dan cara kerja kita. Jadi, bertobat bukan hanya menyesali perbuatan yang salah. Pengertian bertobat yang semacam itu terlalu dangkal. Bahkan sekalipun seseorang tidak bersalah, ia masih perlu bertobat, mengubah pikirannya, dan tidak lagi berbuat apa-apa menurut dirinya sendiri atau menjadi seseorang di dalam diri-nya sendiri. Bertobat berarti kita berpaling dari hidup, bekerja, dan berperilaku dalam diri sendiri dan bagi diri sendiri. Jika kita menyadari hal ini, kita akan tampak bahwa kedatangan Tuhan untuk dibaptis menunjukkan bahwa Ia tidak ingin hidup, bertindak, berbicara, atau bekerja oleh diri-Nya sendiri. Tuhan ingin mengakhiri diri-Nya sendiri dan dikuburkan. Karena itu, dibaptisnya Tuhan menunjukkan bahwa Ia tidak akan hidup, berbicara, atau berbuat apa pun berdasarkan diri-Nya sendiri, tetapi hidup berdasarkan Allah, berjalan berdasarkan Allah, dan melayani berdasarkan Allah. Ia akan menjadi seorang Hamba bagi Allah dan berdasarkan Allah. Inilah alasan Ia dibaptis. Baptisan Tuhan adalah langkah pertama perkenalan-Nya ke dalam pelayan-an Injil-Nya, yang adalah ministri Injil.

Dalam Markus 1:10-11 tertulis mengenai Tuhan Yesus, “Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Catatan Markus mengenai seorang Hamba tidak mencerminkan kemegahan status persona Hamba ini, melainkan kerajinan pelayanan-Nya. Kata “segera” digunakan dalam catatannya sebanyak empat puluh kali dan lebih banyak satu kali lagi dalam beberapa naskah kuno lainnya.

Langit yang terbuka bagi Hamba-Penyelamat menyatakan bahwa kerelaan-Nya mempersembahkan diri-Nya sebagai seorang Hamba bagi Allah telah diterima baik oleh Allah, dan Roh seperti burung merpati yang turun ke atas-Nya menyatakan bahwa Allah mengurapi Dia dengan Roh untuk pelayanan-Nya kepada Allah (Luk. 4:18-19). Merpati bersifat lembut, dan matanya hanya dapat melihat satu benda pada satu saat. Jadi, merpati melambangkan kelembutan dan ketulusan dalam pandangan dan tujuan. Melalui Roh Allah yang turun ke atas-Nya sebagai seekor merpati, Tuhan Yesus melayani dalam kelembutan dan ketulusan, yang hanya berfokus pada kehendak Allah.

Dalam ayat 10 dan 11 kita tampak Allah Tritunggal. Roh yang turun adalah diurapinya Kristus; pembicaraan Bapa adalah kesaksian bahwa Kristus adalah Putra yang terkasih. Di sini ada gambaran Trinitas ilahi: Putra yang keluar dari air, Roh yang turun ke atas Putra, dan Bapa berbicara mengenai Putra. Ini membuktikan bahwa Allah Bapa, Putra, dan Roh hadir pada saat yang bersamaan. Ini adalah untuk penggenapan ekonomi Allah.

Diuji

Kita telah tampak bahwa langkah pertama dari perkenalan Tuhan ke dalam ministri-Nya adalah baptisan. Sekarang kita harus maju untuk melihat bahwa langkah yang kedua adalah Dia diuji. Setelah dibaptis, Tuhan perlu diuji untuk membuktikan kesempurnaan-Nya yang tanpa cela.

Mengenai hal ini, ayat 12 mengatakan, “Segera sesudah itu Roh memimpin (mendesak) Dia ke padang gurun.” Setelah penerimaan dan pengurapan Allah, hal pertama yang dilakukan Roh terhadap Hamba Allah ini ialah mendesak Dia ke dalam suatu ujian untuk membuktikan kesempurnaan-Nya yang tanpa cela. Kata “memimpin” di sini menurut bahasa aslinya adalah “mendesak”, ini merupakan kata yang kuat, menunjukkan bahwa setelah dibaptis, Tuhan sepenuhnya berada di bawah tangan Allah. Karena Ia tidak hidup dan bergerak berdasarkan diri-Nya sendiri, maka Roh Allah dapat mendesak Dia ke padang gurun. Tuhan menurut saja didesak ke padang gurun. Jika Ia mempunyai tekad yang kuat untuk melawan desakan ini, Ia tentu tidak akan terdesak oleh Roh. Tetapi karena Ia sangat taat, Roh Kudus dapat mendesak Yesus yang telah dibaptis itu ke padang gurun. Ketaatan-Nya kepada Roh membuktikan bahwa Ia sepenuhnya setia kepada baptisan-Nya. Bagi Tuhan, bukan lagi “Aku”, melainkan Allah.

Ayat 13 mengatakan, “Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.” Angka empat puluh melambangkan masa pencobaan dan penderitaan (Ul. 9:9, 18; 1 Raj. 19:8). Iblis (satan), musuh Allah, digunakan untuk menguji dan membuktikan Hamba Allah. Binatang-binatang liar di bumi (dalam arti negatif), dan malaikat-malaikat dari surga (dalam arti positif), juga dipakai untuk pengujian ini. Puji Tuhan, Ia lulus ujian di padang gurun!

Melalui kedua langkah permulaan — baptisan dan pengujian — Tuhan diperkenalkan ke dalam pelayanan-Nya. Setelah Ia diuji dan telah terbukti bahwa Ia adalah persona yang tepat untuk melaksanakan pelayanan ini, Ia kini dapat masuk ke dalam pelayanan-Nya bagi Allah.