Daftar isi Markus (1) · Berita Ketujuh · bab 7/23

Berita Ketujuh

CARA HAMBA-PENYELAMAT MELAKSANAKAN PELAYANAN INJIL-NYA (1)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 2:1-12

SUATU KELOMPOK LIMA PERISTIWA

Dalam 1:14-45 kita telah tampak bahwa isi pelayanan Injil meliputi lima perkara: memberitakan Injil (ayat 14-20), mengajarkan kebenaran (ayat 21-22), mengusir setan-setan (ayat 23-28), menyembuhkan orang sakit (ayat 29-39), dan melahirkan orang sakit kusta (ayat 40-45). Setelah itu, dalam 2:1—3:6 kita tampak cara (jalan) Hamba-Penyelamat melaksanakan pelayanan Injil. Dalam bagian Injil Markus ini kita dapati lima peristiwa: Mengampuni dosa-dosa orang sakit (2:1-12), makan bersama orang dosa (2:13-17), membuat para pengikut-Nya bersukacita tanpa berpuasa (2:18-22), lebih memperhatikan kelaparan para pengikut-Nya daripada peraturan agama (2:23-28), dan lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama (3:1-6). Kelima peristiwa ini membentuk suatu kelompok.

Cukup sulit membuat garis besar Injil Markus ini. Dalam Injil ini satu peristiwa menyusul yang lainnya tanpa urut-urutan atau pengaturan yang jelas. Karena itulah kita mungkin membaca Injil Markus berkali-kali, tetapi tetap saja masih belum mampu membuat garis besar kitab ini atau membaginya dalam bagian-bagian. Tetapi oleh belas kasihan Tuhan, saya percaya bahwa kita memiliki garis besar yang bermanfaat, garis besar yang menolong kita memasuki semua bagian Injil ini. Menurut garis besar ini, pasal 1 menyajikan isi Injil yang lengkap. Kemudian dalam pasal 2 dan pada bagian pertama dari pasal 3, kita tampak cara Tuhan melaksanakan Injil yang kaya ini.

Kelima peristiwa yang ditulis dengan jelas dalam 2:1—3:6 membentuk suatu kelompok yang menonjol, menunjukkan bagaimana Hamba-Penyelamat sebagai Hamba Allah melaksanakan pelayanan Injil-Nya untuk memperhatikan kebutuhan orang-orang yang jatuh, yang tertawan oleh Iblis, yang meninggalkan Allah dan kenikmatan akan Allah, agar mereka dapat diselamatkan dari tawanan dan dapat dikembalikan kepada Allah sebagai kenikmatan mereka.

Pertama, sebagai Allah dengan kuasa ilahi-Nya, Ia mengampuni dosa-dosa penderita sakit, melepaskannya dari penindasan Iblis (Kis. 10:38) dan memulihkannya kepada Allah. Ahli-ahli Taurat menganggap hal ini bertentangan dengan teologi agama mereka (2:1-12).

Kedua, sebagai seorang Tabib bagi orang sakit dan orang-orang yang merana, Ia makan bersama para pemungut cukai, orang-orang yang tidak jujur dan tidak setia terhadap bangsa mereka, dan bersama orang-orang berdosa yang dihina dan diasingkan dari masyarakat, supaya mereka dapat mengecap belas kasihan Allah dan dipulihkan kepada kenikmatan akan Allah. Hal ini dikutuk oleh ahli-ahli Taurat, orang Farisi yang merasa dirinya benar, tetapi tidak berbelas kasihan (2:13-17).

Ketiga, sebagai Mempelai Laki-laki yang disertai pengiring-pengiring, Ia membuat para pengikut-Nya bergembira tanpa berpuasa. Dengan demikian Ia menghapus praktik murid-murid Yohanes (pengikut agama baru) dan orang-orang Farisi (pengikut agama lama), sehingga para pengikut-Nya dapat diselamatkan dari praktik-praktik keagamaan mereka ke dalam kenikmatan akan Kristus Allah sebagai Mempelai Laki-laki mereka, yang dengan kebenaran-Nya sebagai jubah luar mereka dan hayat-Nya sebagai anggur batini mereka dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah (2:18-22).

Keempat, Ia memperbolehkan para pengikut-Nya me-metik bulir gandum di ladang pada hari Sabat agar mereka tidak lapar. Jadi, tampaknya mereka melanggar perintah Allah mengenai hari Sabat, tetapi hal tersebut sebenarnya menyenangkan Allah, karena kelaparan pengikut-pengikut Kristus dipuaskan oleh Dia, sebagaimana kelaparan Daud dan pengikut-pengikutnya dipuaskan dengan roti sajian di dalam Bait Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah bukan perkara memelihara peraturan agama, melainkan menikmati kepuasan di dalam dan melalui Kristus sebagai perhentian Sabat yang sejati (2:23-28).

Kelima, Tuhan menyembuhkan orang yang tangannya mati sebelah pada hari Sabat, tanpa mempedulikan pemeliharaan hari Sabat, melainkan lebih mempedulikan kesehatan domba-Nya. Dengan ini Ia menunjukkan bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah yang penting bukan perkara memelihara peraturan-peraturan, melainkan perkara membagi-bagikan hayat. Karena itulah Ia dibenci orang-orang Farisi, para agamawan (3:1-6).

Kelima cara yang penuh belas kasihan dan hidup yang dilakukan oleh Hamba-Penyelamat untuk merampungkan pelayanan Injil-Nya bertentangan dengan agama yang tradisional dan formal. Karena itu, Ia sangat dibenci oleh pemimpin-pemimpin yang bersifat daging, keras kepala, dan tanpa hayat itu.

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Markus 1 berhubungan dengan Injil. Pasal ini memberi tahu kita apakah Injil, kapan Injil dimulai, dan apa isi Injil. Dalam pasal ini kita tampak sifat, substansi, esens, unsur, isi, dan realitas Injil. Saya percaya bahwa gereja-gereja akan melaksanakan Injil yang kaya ini melalui pelayanan Injil mereka.

Setelah tampak isi pelayanan Injil dalam pasal 1, kita perlu tampak cara melaksanakan pelayanan Injil dalam 2:1—3:6. Sangatlah bermakna bahwa dalam Injil Markus Tuhan Yesus tidak mengajar kita dengan kata-kata bagaimana melaksanakan pelayanan Injil, melainkan Ia menggambarkan diri-Nya sebagai Dia yang bekerja, Dia yang melayani, bukan sebagai Dia yang berbicara. Karena itu, dalam Injil Markus kita belajar bagaimana melaksanakan pelayanan Injil, terutama melalui perbuatan-perbuatan Tuhan, bukan melalui perkataan-Nya.

Dalam 2:1—3:6 Tuhan tidak memberi tahu kita bagaimana melaksanakan pelayanan Injil. Sebaliknya, Ia melakukan hal-hal tertentu, dan kelima peristiwa yang tercatat dalam bagian Injil Markus ini menampakkan kepada kita bagaimana Tuhan melaksanakan pelayanan Injil. Jika kita ingin tahu bagaimana melaksanakan pelayanan ini, kita perlu mempelajari bagaimana Tuhan mengampuni dosa-dosa orang sakit, bagaimana Tuhan makan bersama orang-orang dosa, bagaimana Tuhan membuat para pengikut-Nya bergembira tanpa berpuasa, bagaimana Tuhan lebih memperhatikan kelaparan para pengikut-Nya daripada peraturan agama, dan bagaimana Tuhan lebih memperhatikan pembebasan orang yang menderita daripada ritual agama.

Banyak pembaca Alkitab menikmati kisah-kisah dalam Injil Markus. Kelima peristiwa yang tercatat dalam 2:1—3:6 bisa dipandang sebagai cerita semata, cerita-cerita yang dipakai dalam sidang anak-anak atau untuk dibacakan kepada anak-anak menjelang tidur. Memang, peristiwa tersebut adalah kisah yang bagus. Alkitab adalah kitab yang ilahi, tulisan suci, karena itu mengandung cerita-cerita yang paling bagus. Akan tetapi, kita jangan puas hanya dengan mengetahui cerita-cerita dalam Injil Markus.

Karena saya tidak puas dengan pengetahuan sedemikian itu, maka saya menengadah kepada Tuhan agar saya diterangi sehingga saya mengerti Injil ini. Tuhan menampakkan kepada saya bahwa dalam Markus 1 pelayanan Injil-Nya menyajikan Injil dengan sempurna. Dalam pasal lain Alkitab tidak kita dapati penggambaran yang begitu sempurna mengenai Injil seperti yang kita dapati dalam pasal 1 Injil Markus. Bahkan dalam tulisan-tulisan Paulus pun tidak dapat kita temukan satu pasal yang memberi kita penggambaran Injil yang begitu terperinci dan penuh dalam sifat dan isinya. Tetapi kita perlu diterangi agar tampak apa yang diwahyukan dalam Markus 1. Seseorang bisa saja menghafalkan pasal ini, namun masih belum memiliki terang apa pun mengenai pasal tersebut. Orang lain mungkin mempelajari dengan tuntas pasal ini dalam bahasa Yunani, mengetahui arti setiap kata Yunani, namun orang itu tidak mempunyai terang apa pun mengenai Injil yang diperlihatkan dalam pasal ini. Saya percaya bahwa oleh belas kasihan Tuhan, kita telah tampak pandangan yang jelas mengenai Injil yang diperlihatkan dalam Markus 1. Sekarang kita juga tampak jelas akan cara Tuhan melaksanakan pelayanan Injil, yaitu apa yang dipraktikkan Tuhan dalam pelayanan Injil-Nya. Marilah sekarang kita melihat peristiwa pertama yang berkaitan dengan ini, peristiwa pengampunan dosa-dosa orang sakit (2:1-12).

PENGAMPUNAN DOSA-DOSA ORANG SAKIT

Orang Dosa yang Lumpuh karena Dosa

Ketika Tuhan sedang mengajar orang-orang yang mengerumuni-Nya di sebuah rumah di Kapernaum, seorang yang lumpuh digotong oleh empat orang dibawa ke hadapan-Nya (2:1-3). Orang yang lumpuh ini melambangkan orang dosa yang lumpuh karena dosa, orang yang tidak bisa berjalan, bergerak di hadapan Allah.

Markus 2:4 mengatakan, “Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring.” Kegairahan mereka dalam mencari penyembuhan dari Hamba-Penyelamat memaksa pencari-pencari itu mendobrak rintangan

yang ada — suatu perbuatan yang liar. Kemudian melalui atap mereka menurunkan tikar, kasur atau matras kecil, di mana orang sakit itu berbaring.

Ayat 5 mengatakan, “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, ‘Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!’” Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus (Rm. 10:17), menunjukkan bahwa orang-orang yang mencari-Nya telah mendengar tentang Hamba-Penyelamat. Melihat iman mereka, Tuhan memanggil orang yang lumpuh itu “anak”. Perkataan kasih dari Hamba-Penyelamat ini menyiratkan rahmat, di sini kebajikan insani-Nya terekspresikan.

Tuhan berkata kepada orang lumpuh tersebut, “Dosa-dosamu sudah diampuni!” Dosa-dosa adalah penyebab penyakit. Perkataan Hamba-Penyelamat di sini menyentuh penyebabnya sehingga mendatangkan pengaruh penyembuhan. Begitu dosa-dosanya diampuni, sakitnya pun sembuhlah.

Sangat penting dan bermakna bahwa peristiwa yang pertama dalam bagian pelaksanaan pelayanan Injil ini adalah pengampunan dosa-dosa orang yang sakit. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan Injil, hal pertama yang harus dilakukan adalah menolong orang agar dosa-dosa mereka diampuni.

Masalah Utama Kita

Sebagai umat manusia yang telah jatuh, masalah utama kita adalah dosa kita. Ketika Allah menciptakan manusia, manusia saat itu murni, bersih, dan tanpa dosa. Pada akhir Kejadian 1, Allah melihat ciptaan-Nya dan berkata, “Sungguh amat baik.” Adalah suatu perkara besar bahwa Allah mengatakan “sungguh amat baik”. Manusia telah diciptakan dalam gambar Allah dan rupa Allah. Tidak hanya demikian, Allah juga menghembuskan napas hidup ke dalam manusia dan manusia menjadi jiwa yang hidup (Kej. 2:7). Napas hidup ini menjadi roh di dalam manusia. Sebab itu, manusia dalam ciptaan Allah memiliki gambar Allah, rupa Allah, dan roh di dalamnya. Sebagai ciptaan, manusia bersih, murni, dan lengkap. Namun, menurut Kejadian 3, si jahat, Iblis, musuh Allah, datang meracuni manusia yang diciptakan oleh Allah. Manusia “dipagut” oleh ular, dan dosa terinjeksi ke dalam manusia.

Segala masalah umat manusia adalah akibat dosa. Karena dosa, keadaan manusia yang jatuh tidak ada harapan. Karena dosa, setiap orang telah rusak, bobrok. Apakah Anda tidak percaya bahwa umat manusia, termasuk Anda, telah bejat? Apakah Anda tidak percaya bahwa lingkungan sekitar Anda, kota Anda, dan negara Anda telah bejat karena dosa? Seluruh dunia telah bejat karena dosa. Karena itu, dalam melaksanakan pelayanan Injil, hal pertama yang harus kita perbuat adalah menunjukkan kepada orang-orang bagaimana agar dosa-dosa mereka diampuni. Karena semua masalah umat manusia adalah akibat dosa, maka dosa harus ditanggulangi jika mereka hendak dipulihkan bagi Allah.

Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa dulu kita berusaha sekuatnya untuk mendapatkan pendidikan yang baik agar kita memiliki masa depan yang cerah. Namun, masalah dosa masih tetap tak terpecahkan dan menyebabkan kita lebih bejat lagi. Tetapi pada hari kita percaya Tuhan Yesus dan menerima Dia, dosa-dosa kita diampuni.

Dalam Markus 2:1-12 kita dapati kasus yang memperlihatkan kepada kita bahwa tugas pertama yang dilakukan oleh Tuhan sebagai Hamba-Penyelamat dalam melaksanakan pelayanan Injil-Nya adalah mengampuni dosa-dosa. Inilah alasannya Tuhan berkata dalam 2:5, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Perkataan ini mungkin menga-getkan orang yang lumpuh itu dan keempat orang yang membawanya kepada Tuhan. Mereka tentu tidak pernah mengira bahwa penyebab dari penyakitnya adalah dosa. Tetapi sungguh mengherankan, Tuhan berkata kepada orang lumpuh itu bahwa dosa-dosanya telah diampuni.

Ahli-ahli Taurat yang Bertanya-tanya

Menurut ayat 6-7, ketika ahli-ahli Taurat mendengar hal ini, mereka berpikir dalam hati, “Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, ‘Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?’” Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, pengikut agama yang usang dan mati, digerakkan dan diperalat oleh Iblis (musuh Allah), untuk menentang, melawan, dan meng-halang-halangi pelayanan Injil Hamba Allah dalam seluruh ministri-Nya (2:16, 24; 3:22; 7:5; 8:11; 9:14; 10:2; 11:27; 12:13, 28). Mereka mengira bahwa mereka menyembah Allah dan bergairah bagi-Nya, tanpa mengetahui bahwa Allah ne-nek moyang mereka — Abraham, Ishak, dan Yakub — pada saat itu berada di hadapan mereka dalam rupa seorang Hamba untuk melayani mereka. Karena dibutakan oleh agama tradisional mereka, mereka tidak tampak Dia dalam ekonomi ilahi Allah, malah berkomplot untuk membunuh Dia (3:6; 11:18; 14:1) dan mereka benar-benar membunuh Dia (8:31; 10:33; 14:43, 53; 15:1, 31).

Ahli-ahli Taurat yang penuh alasan dan yang menganggap diri mereka sendiri “alkitabiah” dan “teologis”, mengakui Hamba-Penyelamat hanyalah seorang manusia, bahkan seorang Nazaret yang hina (Yoh. 1:45-56). Mereka tidak menyadari bahwa Pesona yang mengampuni dosa-dosa orang lumpuh itu adalah Allah, Sang pengampun yang telah berinkarnasi dalam rupa seorang manusia yang hina, menjadi seorang Hamba untuk melayani mereka dengan karunia keselamatan-Nya. Ahli-ahli Taurat itu, yang menganggap bahwa mereka mengerti Alkitab, mengira bahwa hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa-dosa, dan bahwa Yesus, yang dalam pandangan mereka hanya seorang manusia, menghujat Allah ketika Ia mengatakan “dosa-dosamu telah diampuni”. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menyadari bahwa Tuhan adalah Allah. Dengan mengucapkan perkataan itu, mereka menolak Dia. Ini adalah penolakan pertama oleh para pemimpin agama Yahudi.

Dalam hati mereka, para ahli Taurat itu menuduh Tuhan menghujat Allah. Mereka seolah-olah berkata, “Siapakah orang ini yang mengaku bisa mengampuni dosa-dosa? Hanya Allah yang memiliki kekuasaan melakukan hal itu. Kita mengenal orang ini adalah orang Nazaret. Bagaimana mungkin seorang Nazaret yang hina mengampuni dosa-dosa orang?”

Para ahli Taurat tidak menyadari bahwa Tuhan mengetahui apa yang mereka pikirkan dalam hati mereka. Mengenai hal ini, ayat 8 mengatakan, “Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya (roh-Nya Tl.) bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?” Kata “mengetahui” di sini, menurut bahasa Yunaninya berarti mengetahui sepenuhnya. Hamba-Penyelamat mengetahui iman orang-orang yang mencari-Nya, dosa-dosa orang yang sakit (ayat 5), dan pikiran hati para ahli Taurat. Ini menunjukkan bahwa Ia mahatahu. Kemahatahuan-Nya ini menyatakan atribut ilahi-Nya, mengungkapkan keilahian-Nya bahwa Dia adalah Allah yang mahatahu.

Ahli-ahli Taurat itu tentu sangat terkejut dengan kata-kata Tuhan. Mereka mungkin berkata kepada diri sendiri, “Kami tidak mengatakan apa-apa. Bagaimana Ia tahu apa yang kami pikirkan dalam hati?” Tuhan mengetahui apa yang mereka pikirkan karena Ia bukan hanya orang Nazaret

— Ia juga Allah yang mahatahu.

Butir yang menonjol dalam Injil Markus adalah bahwa Injil ini menyajikan Tuhan dalam rupa manusia dan dalam rupa seorang hamba. Ahli-ahli Taurat itu tidak menyadari bahwa di dalam keinsanian Hamba ini ada unsur ilahi. Tuhan berperilaku sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa dalam keinsanian-Nya ada unsur ilahi. Tuhan adalah orang Nazaret dalam rupa seorang Hamba; namun Ia mahatahu. Karena Ia mahatahu, maka Ia tahu apa yang dikatakan para ahli Taurat itu di dalam hati mereka. Ia tidak berdebat dengan mereka, melainkan hanya berkata tentang faktanya.

Kuasa untuk Mengampuni Dosa-dosa

Menurut ayat 9, Tuhan kemudian bertanya kepada ahli-ahli Taurat, “Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah?” Di sini Tuhan tidak mengatakan “mana yang lebih sulit”, karena bagi-Nya tidak ada yang sulit. Bagi-Nya mengatakan “dosa-dosamu telah diampuni” adalah lebih mudah daripada mengatakan: “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.”

Ayat 10-11 mengatakan, “Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — ‘Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!’” Hamba-Penyelamat adalah Allah yang berinkarnasi, yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Secara lahiriah, Ia berada dalam rupa dan corak seperti manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba, tetapi di dalam batin, Dia adalah Allah (Flp. 2:6-7). Ia adalah Hamba-Penyelamat juga Allah-Penyelamat. Sebab itu, Ia bukan hanya mampu menyelamatkan orang dosa, tetapi juga mempunyai kuasa mengampuni dosa-dosa mereka. Dalam peristiwa ini, walaupun Ia sebagai Allah yang mengampuni dosa-dosa orang, Ia menegaskan bahwa diri-Nya adalah Anak Manusia. Ini menunjukkan bahwa Ia adalah Allah sejati dan Manusia sejati, yang mempunyai sifat ilahi serta sifat insani. Di dalam-Nya manusia dapat tampak atribut ilahi-Nya dan kebajikan insani-Nya.

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa untuk menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa mengampuni dosa-dosa, Tuhan berkata kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Ini adalah penyembuhan atas orang lumpuh itu. Penyelamatan Tuhan tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga membuat kita “bangkit dan berjalan”. Bukan bangkit dan berjalan dulu baru dosa-dosa diampuni, demikian berarti bersandarkan perbuatan; melainkan dosa-dosa kita diampuni terlebih dulu baru bangkit dan berjalan, demikian berarti bersandarkan anugerah.

Dalam ayat 12 kita dapati kata penutup mengenai peristiwa ini, “Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, ‘Yang begini belum pernah kita lihat.’” Di sini kita dapati penggenapan perkataan Hamba-Penyelamat, “Bangunlah, angkatlah tikarmu.” Mengatakan “dosa-dosamu sudah diampuni”, lebih mudah daripada mengatakan “bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah”. Karena yang terakhir telah digenapi, maka yang pertama, yang lebih mudah, tentu juga telah digenapi. Ini adalah bukti yang kuat bahwa Hamba-Penyelamat mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa-dosa di bumi.

Orang yang lumpuh itu bangun, mengangkat tikarnya, dan pergi ke luar dari hadapan mereka semua. Tuhan bukan hanya membuat orang lumpuh itu bisa berjalan, melainkan juga mengangkat tikarnya dan berjalan. Dulu tikar itu menopang dia, kini dia yang menopang tikarnya. Inilah kekuatan karunia keselamatan Tuhan. Orang lumpuh itu dibawa kepada Tuhan oleh orang lain, tetapi ia pulang sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa bukan orang dosa itu mampu datang ke hadapan Tuhan, melainkan orang dosa itu mampu pulang dari hadapan Tuhan oleh karunia keselamatan Tuhan.

Sifat Insani dan Sifat Ilahi Hamba-Penyelamat

Dalam peristiwa ini kita tampak sifat insani maupun sifat ilahi Hamba-Penyelamat. Ketika Tuhan menyebut orang lumpuh itu sebagai anak, Tuhan bersikap sangat insani. Tuhan menyapanya secara akrab, dengan penuh kebaikan insani. Tetapi ketika Tuhan menyuruh orang lumpuh itu bangun, mengangkat tikarnya, dan pulang ke rumah, Ia mengekspresikan keilahian-Nya. Jadi, keilahian Tuhan terekspresi pada keinsanian Tuhan. Keinsanian-Nya penuh dengan kebajikan, dan keilahian-Nya penuh dengan kuasa. Kemuliaan Tuhan yang kita tampak di sini adalah ekspresi dari kekuasaan Tuhan. Perkataan Tuhan kepada orang sakit itu agar bangun, mengangkat tikarnya, dan pulang ke rumah bukanlah perkataan ajaran, melainkan perkataan kuasa. Perkataan ini ditegaskan oleh fakta bahwa orang lumpuh itu kemudian menerima kemampuan, tenaga untuk bangkit, mengangkat tikarnya, dan berjalan. Semua orang yang berkumpul melihat kekuasaan, kemuliaan, dan kehormatan (kebesaran) Tuhan. Jadi, dalam kasus ini kita tampak keinsanian Tuhan tertampil dalam kebajikan dan kesempurnaan insani, keilahian-Nya termanifestasi dalam kemuliaan dan kehormatan.

Ketika orang lumpuh itu mengangkat tikarnya dan berjalan pergi, mulut para penentang, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang Farisi terbungkam. Mereka terbungkam oleh kuasa Tuhan dalam keilahian dan oleh rahmat-Nya dalam keinsanian-Nya. Di sini kita tampak seorang Hamba, namun di dalam Dia Allah diekspresikan. Karena banyak orang tampak keilahian-Nya terekspresi dalam keinsanian-Nya, mereka lalu mengikuti Dia.

MEMBANTU ORANG LAIN AGAR

DOSA-DOSA MEREKA DIAMPUNI

Menurut peristiwa dalam 2:1-12, hal pertama yang harus kita pelajari dalam pemberitaan Injil adalah membantu orang lain agar dosa-dosa mereka diampuni. Tuhan tidak berkata kepada orang lumpuh itu, “Aku prihatin akan sa-kitmu. Tetapi ketahuilah bahwa sakit ini timbul dari dosa. Karena kamu lumpuh, pasti kamu telah berbuat sesuatu dosa. Kamu tahu dosa-dosa apa yang telah kamu lakukan.” Jika Tuhan berkhotbah demikian kepada orang lumpuh itu, orang lumpuh itu mungkin akan berkilah dengan-Nya, “Tidak, aku selalu menjadi orang baik. Aku baik terhadap orang lain. Tetapi tiba-tiba aku menjadi lumpuh.” Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang tidak berdebat dengan orang lain mengenai dosa-dosa mereka. Itu hanya akan membangkitkan amarah mereka dan membuat mereka tidak peduli dengan apa yang akan kita katakan. Kita harus meniru Tuhan Yesus memberi tahu orang-orang bahwa dosa-dosa mereka diampuni. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa kita harus mengulang secara harfiah kata-kata “dosa-dosamu telah diampuni”. Maksud saya adalah kita perlu meniru prinsip yang tertampak di sini.

Ketika kita mendekati orang untuk memberitakan Injil, kita perlu berdoa dalam batin. Akan tetapi, jangan ketahuan mereka bahwa kita berdoa. Tuhan mungkin memimpin kita berkata seperti ini, “Teman-temanku yang terkasih, hanya Tuhan Yesus sebagai Anak Allah dan Penebus kita yang mempunyai kekuasaan, kekuatan, dan kemampuan untuk mengampuni dosa-dosa kita.” Jangan mengatakan “dosa-dosamu”, melainkan “dosa-dosa kita”. Tuhan bisa mengatakan “dosa-dosamu” karena Ia bukan orang dosa. Namun, kita harus menyertakan diri kita sendiri, karena kita tahu bahwa kita juga orang-orang dosa. Ini berarti kita tidak boleh mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka berdosa. Sebaliknya, kita katakan kepada mereka bahwa hanya Tuhan yang mampu mengampuni dosa-dosa kita. Kita boleh meneruskan, “Dalam kehidupan insani kita, semua kesulitan dan masalah timbul dari dosa-dosa kita. Kita perlu pengampunan atas dosa-dosa kita, dan hanya Tuhan Yesus yang memiliki kuasa melakukannya.”

Jika kita menyajikan Injil kepada orang lain dengan tepat, Roh Kudus akan menghormati perkataan kita. Kemudian orang-orang yang mendengarkan kita akan terkesan dengan ucapan bahwa hanya Tuhan Yesus yang bisa mengampuni dosa-dosa kita. Hasilnya, perkataan mengenai pengampunan akan ditaburkan ke dalam mereka sebagai benih Injil.

Cara lain untuk membantu orang mengalami pengampunan dosa-dosa adalah membaca Markus 2:1-12 bersama mereka secara hidup. Kita bisa mengambil buku saku Injil Markus dan membacanya secara kuat agar mengesankan orang lain dengan fakta bahwa hanya Tuhan Yesus yang mampu mengampuni dosa-dosa seseorang. Kemudian kita bisa membantu mereka melihat bahwa damai sejahtera timbul akibat terampuninya dosa-dosa kita. Menurut urutan kasus-kasus dalam 2:1—3:6, cara pertama untuk melaksanakan pemberitaan Injil adalah membantu orang lain agar dosa-dosanya diampuni.