← Daftar isi Markus (3) · bab 21/23

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (5)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 7:1-23

Dalam berita sebelumnya telah ditunjukkan bahwa dalam pasal 7, penentangan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memberikan suatu kesempatan emas bagi Tuhan Yesus untuk menyingkapkan keadaan batin manusia, yaitu keadaan hati manusia.

Dalam 7:15 Tuhan berkata kepada orang banyak itu, “Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang ke-luar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskan-nya.” Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “‘Apakah kamu juga tidak dapat memaha-minya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat me-najiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?’ Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal” (ayat 18-19). Dalam ayat 19 Tuhan membicarakan hati. Dalam ayat 20 Ia me-lanjutkan, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” Setelah itu, Tuhan menyebutkan sejumlah hal jahat yang keluar dari hati manusia (ayat 21-22).

SUATU SUSUNAN KEJAHATAN

Dalam 7:21-22 Tuhan berkata, “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pen-curian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesom-bongan, kebebalan.” Di sini Tuhan menunjukkan bagian manusia tempat timbulnya hal-hal yang jahat — hati. Hati manusia itu bobrok, bejat. Hati manusia yang telah jatuh begitu bejat sehingga tidak tertolong lagi (Yer. 17:9). Karena itu, janganlah mengira diri kita baik hati. Mungkin Anda baik di luaran, tetapi hati Anda sama sekali tidak ba-ik. Karena itu, Paulus mengaku bahwa tidak ada kebaikan di dalamnya (Rm. 7:18).

Dalam pasal ini keadaan batin manusia dibeberkan oleh Hamba-Penyelamat. Dalam pemberitaan Injil, kita pun hendaknya menyentuh keadaan hati manusia. Akan tetapi, banyak pemberitaan Injil hari ini tidak melakukan hal ini.

Kita perlu nampak dari firman Tuhan dalam Markus 7, bagaimana keadaan batin kita sebenarnya. Keadaan hati kita sebenarnya merupakan susunan kejahatan. Karena hati kita bejat, janganlah mengira hati kita baik. Meyakini hati kita baik berarti kita telah tertipu dan mempercayai dusta. Siapa saja yang mengira hatinya baik, sudah tertipu. Hati kita bejat, dan tidak seharusnya kita mempercayainya.

Dalam ayat 21, Tuhan Yesus memakai kata “timbul”. Menurut ayat ini, pikiran-pikiran jahat, percabulan, pen-curian, dan pembunuhan timbul dari hati manusia. Kata “timbul” menyiratkan sesuatu yang berkesinambungan. Hal-hal yang jahat itu tidak hanya timbul dari hati ma-nusia, bahkan terus keluar dari hatinya, susul-menyusul.

Angan-angan Jahat

Hal pertama yang dikatakan Hamba-Penyelamat tim-bul dari hati manusia adalah angan-angan jahat (Tl.). Angan-angan, tentu saja berasal dari pikiran. Perjanjian Baru mem-beri tahu kita bahwa pikiran manusia yang telah jatuh itu terkutuk, tidak diperkenan (Rm. 1:28). Karena pikiran ma-nusia itu terkutuk, maka tidak ada satu pun yang keluar darinya bisa diperkenan Allah atau dibenarkan oleh-Nya. Sebaliknya, angan-angan dari pikiran manusia yang telah jatuh itu terkutuk dan ditolak Allah. Karena pikiran kita yang telah jatuh itu terkutuk, maka angan-angan kita adalah jahat, tidak peduli betapa baik kelihatannya.

Percabulan dan Pencurian

Setelah angan-angan jahat, Tuhan menyebut percabul-an. Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Tuhan tidak membicarakan hal-hal ini secara sembrono. Sebaliknya, ka-rena mengetahui situasi batin manusia, dengan hati-hati Ia mengatakan apa yang timbul dari hati manusia. Mula-mula muncul angan-angan jahat, kemudian percabulan. Hal ini me-nunjukkan angan-angan jahat berkaitan dengan percabulan.

Hal ketiga dalam ayat 21 adalah “pencurian”. Beberapa orang mungkin menyatakan bahwa mereka tidak pernah mencuri. Sebenarnya, setiap orang telah melakukan pencurian, baik dengan cara apa pun. Sebenarnya, percabulan itu sendiri adalah sejenis pencurian, karena percabulan merupakan perkara memperoleh sesuatu dengan tidak wajar. Mencuri adalah mengambil sesuatu dengan tidak sah. Pada prinsipnya, percabulan termasuk kategori ini. Percabulan adalah suatu perkara mengikuti jalan yang tidak sah, termasuk jalan yang tidak ditetapkan oleh Allah. Apa pun yang diambil secara tidak sah bukan hanya merupakan perkara pencurian, tetapi juga dalam prinsip percabulan.

Walaupun kita adalah orang-orang yang telah beroleh selamat, anak-anak Allah, namun sifat kita yang jatuh, ter-masuk hati kita yang usang, masih ada pada kita. Khusus-nya, dua hal jahat — percabulan dan pencurian, mengendap-endap di belakang kita, menunggu kesempatan untuk menghancurkan kita. Selama berabad-abad, banyak orang Kristen, termasuk para pendeta dan penginjil, telah terja-tuh ke dalam jerat percabulan. Bahkan banyak orang yang mengasihi Tuhan Yesus juga terperangkap. Banyak orang yang meremehkan fakta bahwa hati mereka itu jahat. Se-bagai akibatnya, mereka gagal menjaga jarak yang benar dengan lawan jenis dan jatuh ke dalam percabulan.

Dalam arti yang sesungguhnya, kehidupan gereja adalah kehidupan sosial. Pria dan wanita sering saling berkontak. Karena bahaya percabulan, kita perlu menjaga jarak yang wajar terhadap lawan jenis.

Saya ingin menekankan fakta bahwa walaupun kita telah dilahirkan kembali, menurut pengajaran Perjanjian Baru, sifat usang kita masih tinggal bersama kita. Kita tidak boleh melupakan fakta ini. Sebelum tubuh kita ditebus, ditransfigurasi, sifat kita yang telah jatuh masih ada pada kita. Tidak peduli betapa kudusnya Anda, Anda perlu me-nyadari bahwa Anda masih memiliki sifat alami yang telah jatuh. Inilah sebabnya saya menasihatkan kaum beriman agar tidak berduaan di suatu ruangan dengan orang yang berlawanan jenis.

Saya sangat menghargai dan menghormati negara Amerika Serikat ini. Namun, saya merasa terganggu de-ngan fakta bahwa pria dan wanitanya terlalu bebas dalam hubungan mereka satu sama lain. Banyak wanita tidak menyadari akan bahaya tercemar. Bila mereka memiliki kesadaran sedemikian, mereka akan menjaga jarak yang wajar dengan lawan jenisnya.

Seperti telah kita tunjukkan, dalam pemberitaan Injil kita perlu menjamah kondisi hati manusia. Khususnya kita perlu membeberkan fakta bahwa dalam prinsipnya manusia yang telah jatuh adalah orang yang cabul dan pencuri. Ketika saya memberitakan Injil di China, saya sering mengatakan, “Anda sekalian, Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan kelihatannya sangat baik. Tetapi andaikata aku bisa menggunakan sinar X untuk menggambarkan apa yang ada di dalam Anda, Anda pasti tidak akan berani te-tap berada di sini. Anda tahu bahwa batin Anda sangat jahat dan tidak bersih. Mungkin ketika Anda mendengar-kan berita ini pun, Anda sedang memikirkan hal yang jahat. Anda mempunyai penampilan seorang nyonya dan tuan, tetapi kondisi di dalam Anda adalah najis.” Adalah suatu fakta bahwa angan-angan jahat keluar dari hati manusia, angan-angan ini berkaitan dengan percabulan dan pencurian.

Sangatlah bermakna, dalam Markus 7 Hamba-Penyelamat menjamah keadaan batin manusia dalam pelayanan Injil-Nya. Kita harus ingat bahwa firman Tuhan dalam 7:21-23 adalah firman yang diucapkan bukan kepada orang banyak, tetapi kepada orang-orang yang mengikuti-Nya dengan akrab. Di sini seolah-olah Tuhan berkata, “Petrus, Yohanes, Yakobus, kalian semua perlu menyadari bahwa dari dalam hati kalian timbul angan-angan jahat, percabulan, dan pencurian.”

Pembunuhan dan Perzinaan

Hal berikutnya, yang keluar dari hati manusia adalah pembunuhan. Banyak pembunuhan yang dilakukan demi percabulan atau pencurian. Percabulan dan pencurian sering berakhir dengan pembunuhan.

Berikutnya, Tuhan menyebutkan perzinaan. Percabulan berbeda dengan perzinaan. Jika seseorang yang telah me-nikah berdosa dengan orang yang juga telah menikah, hal itu adalah perzinaan. Tetapi jika seorang yang belum me-nikah berdosa dengan orang yang juga belum menikah, itu percabulan. Di sini Tuhan berbicara tentang percabulan dan perzinaan.

Keserakahan

Selanjutnya Tuhan menyebutkan keserakahan. Paulus memberi tahu kita bahwa ia bisa mengatasi segala perkara, tetapi tidak bisa mengatasi keserakahan (Rm. 7:7-8 LAI: keinginan). Ia bisa memelihara semua perintah dari Sepuluh Perintah Allah, kecuali keserakahan (keinginan). “Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan, ‘Jangan mengingini!’ Tetapi dengan pe-rintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkit-kan di dalam diriku rupa-rupa keinginan.” (Rm. 7:7-8). Sebab-musabab Paulus tidak bisa memenuhi perintah ten-tang keinginan ini adalah karena perintah itu berkaitan dengan keadaan batin manusia, sedangkan perintah-perin-tah lainnya berkenaan dengan perilaku luaran. Keinginan (keserakahan), seperti hal-hal lainnya yang disebutkan oleh Tuhan, timbul dari hati manusia yang bobrok.

Kelicikan dan Hawa Nafsu

Dalam 7:22 Tuhan menyebutkan kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati (mata jahat), hujat, kesombongan, dan kebebalan. Kata Yunani yang diterjemahkan “kelicikan” bisa juga diterjemahan “tipu muslihat”.

Percabulan, perzinaan, dan perbuatan tidak senonoh adalah satu kategori. Telah kita tunjukkan perbedaan an-tara perzinaan dengan percabulan. Orang-orang yang me-muaskan dirinya baik dalam percabulan maupun perzinaan adalah orang yang mengumbar perbuatan tidak senonoh. Tuhan tentu tahu keadaan manusia yang sebenarnya. Itu-lah sebabnya, Ia memakai kata-kata khusus ini.

Mata Jahat dan Hujat

Mungkin kita heran, apa hubungannya mata jahat (iri hati, LAI) dengan hati kita. Memang, kelihatannya mata tidak mungkin ada di dalam hati. Namun, jika kita memperhatikan perkara ini, kita akan nampak, kadang-kadang dalam hati kita ada mata yang jahat. Menurut perkataan Tuhan, mata yang jahat adalah sesuatu yang timbul dari hati kita.

Dalam ayat 22, mata yang jahat disusul dengan hujat. Mata jahat adalah terhadap orang lain, sedang hujat ditujukan terhadap Allah.

Kesombongan dan Kebebalan

Dua hal terakhir yang Tuhan sebutkan adalah kesombongan dan kebebalan. Kesombongan lebih tajam daripada kecongkakan. Kebebalan di sini menunjukkan hal-hal yang tidak berarti, omong kosong. Banyak hal yang timbul dari hati kita adalah kebebalan, omong kosong.

PEMERIKSAAN KEADAAN BATIN KITA

Dalam 7:21-22 Tuhan menyebutkan tiga belas hal. Da-lam Roma 1 Paulus mendaftarkan lebih banyak hal dalam penjelasannya tentang umat manusia yang telah jatuh. Tetapi ketiga belas hal yang Tuhan sebutkan sudah cukup untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari hati manusia yang telah jatuh. Kita perlu sadar bahwa semua itu masih ada dalam hati kita yang usang, bejat. Keadaan hati kita seperti yang disebutkan Tuhan dalam Markus 7.

Semasa muda saya, saya suka Injil Yohanes karena kitab itu adalah kitab hayat. Menurut Yohanes 10:10, Tuhan Yesus datang agar kita mempunyai hayat, dan mem-punyainya dengan berlimpah-limpah. Dalam Injil Markus, mungkin kita tidak menemukan kata “hayat”, tetapi kita mempunyai hayat dalam keadaan yang sesungguhnya. Mi-salnya, benih dalam Markus 4 menyiratkan hayat. Tuhan datang untuk menaburkan benih kerajaan. Bagi-Nya, menaburkan benih berarti menyalurkan hayat. Menaburkan benih berarti menyalurkan hayat. Karena itu, apa yang kita miliki dalam Injil Markus adalah catatan tentang hayat yang ditulis secara riil.

Markus 7 tidak hanya memberi tahu kita bahwa hati manusia itu jahat. Berkata demikian adalah berbicara se-cara doktrinal. Yang Markus lakukan adalah mencatat fir-man Tuhan Yesus tentang apa yang keluar dari hati kita. Ini berarti menanggulangi hati secara riil. Dari sini kita nampak, Injil Markus bukanlah kitab tentang doktrin, melainkan tentang sesuatu yang riil, yang nyata.

Dalam Markus 7 Tuhan sengaja menyebutkan hal-hal jahat yang timbul dari hati kita. Tidak seorang pun dari an-tara kita yang terkecuali. Pasal 7 sangat menonjol karena menjamah keadaan batin manusia.

Dalam pelayanan Injil-Nya, Hamba-Penyelamat meng-ambil kesempatan yang diperoleh-Nya dari para penentang untuk menyingkapkan, menganalisis, dan memeriksa batin manusia. Dalam 7:21-22 kita memiliki pemeriksaan keada-an hati kita. Setiap orang mempunyai masalah hati, dan pemeriksaan Tuhan atas hati manusia dapat diterapkan pada diri kita masing-masing.

Menyimpulkan pemeriksaan-Nya atas hati manusia, da-lam 7:23 Tuhan mengatakan, “Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” Hal-hal jahat yang tim-bul dari dalam adalah hasil-hasil jahat dari sifat manusia yang telah jatuh dan berdosa (Rm. 7:18). Hal-hal jahat itu ti-dak hanya ada di dalam hati kita, bahkan timbul dari dalam kita. Ini berarti, hati manusia terus-menerus menimbulkan hal-hal jahat, dan hal-hal itu menajiskan orang. Ketika orang-orang dunia kembali ke tempat kerja setelah akhir pekan, mereka sering membicarakan hal-hal jahat yang telah mereka lampiaskan. Percakapan mereka adalah hal-hal jahat yang timbul dari dalam hati mereka. Mereka mungkin berpendidikan dan sopan, tetapi dari dalam hati mereka timbul hal-hal jahat yang menajiskan.

Injil Tuhan mampu menanggulangi keadaan hati ma-nusia. Akan tetapi, dalam pasal 7, kita hanya memiliki ha-sil pemeriksaan, bukan penanggulangan hati secara positif. Dalam pasal itu Tuhan membuka hati kita, membeberkan keadaan hati kita, dan kemudian seolah-olah membiarkan kita berada di atas meja operasi. Namun, pasal 7 bukanlah akhir dari kitab ini. Dalam pasal-pasal selanjutnya, kita akan melihat bagaimana Tuhan adalah “ahli hati” yang me-ngetahui hati manusia, dan bagaimana Ia memperhatikan keadaan hati manusia.

Gambaran yang dilukiskan dalam pasal 7 sangat berbeda dengan gambaran-gambaran dalam pasal-pasal sebelumnya. Sebelum pasal 7, kita dapati gambaran masyarakat, dunia. Tetapi dalam pasal 7 kita dapati gambaran kondisi batin kita, suatu gambaran tentang situasi lubuk hati kita.

TIGA PERKARA PENTING

Kesepuluh Perintah

Jika kita pelajari 7:1-23 dengan teliti, kita akan nam-pak bahwa perkataan Tuhan di sini sebenarnya meliputi keseluruhan Sepuluh Perintah Allah. Tuhan bahkan meng-gunakan kata perintah dalam ayat 8, “Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Kemudi-an dalam ayat 9 Dia meneeruskan, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat me-melihara adat istiadat sendiri.” Dalam ayat 13 Tuhan membicarakan firman Allah, menunjukkan bahwa orang-orang agamawi meniadakan firman Allah demi tradisi me-reka. Dalam potongan Injil Markus ini, perintah-perintah ini adalah firman Allah.

Setelah kita pelajari potongan Injil Markus ini, kita nampak bahwa perkataan Tuhan di sini berkaitan dengan penyembahan terhadap Allah. Keempat perintah pertama dari Sepuluh Perintah berkaitan dengan penyembahan ter-hadap Allah. Perintah kelima adalah tentang menghormati orang tua. Dalam ayat 10 Tuhan secara khusus memberikan perintah untuk menghormati orang tua. Perkataan Tuhan yang lainnya yang tercatat di sini berhubungan dengan ke-lima perintah yang terakhir, perintah tentang percabulan, pencurian, pembunuhan, saksi palsu, dan keserakahan.

Jika kita memperhatikan semua perkara ini bersama-sama, kita akan nampak bahwa percakapan Tuhan dengan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, dengan orang ba-nyak, dan dengan para murid itu berdasar pada Sepuluh Perintah Allah. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat meniadakan firman Allah, itu berarti mereka menyatakan Sepuluh Perintah itu tidak berlaku. Penting sekali kita nam-pak bahwa dalam potongan Injil Markus ini Sepuluh Perin-tah Allah dibahas dalam firman Tuhan.

Adat Istiadat dan Hati Manusia

Markus 7:1-23 sebenarnya meliputi tiga perkara penting: Perintah Tuhan, yaitu firman Allah; adat istiadat manusia; dan kondisi hati manusia yang sebenarnya. Kondisi hati ma-nusia selalu disingkapkan oleh firman Allah, atau perintah Allah. Tetapi tradisi manusia selalu menutupi kondisi hati manusia. Karena itulah, di mana tradisi dipelihara, di sana ada kemunafikan. Bukannya membeberkan situasi manusia yang sebenarnya, tradisi malah menutupinya. Tuhan bahkan mengatakan bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat “pandai mengesampingkan perintah Allah” supaya mereka dapat memelihara adat istiadat sendiri (ayat 9).

Kelihatannya adat istiadat itu baik, sebenarnya adat istiadat itu licik, dan orang-orang yang memeliharanya adalah orang-orang yang munafik. Dalam agama hari ini terdapat banyak sekali kemunafikan karena adanya banyak sekali adat istiadat untuk menutupi kondisi manusia yang sebe-narnya. Tetapi firman Allah selalu menyingkapkan situasi batin manusia.

Dalam potongan yang pendek dari Injil Markus ini, Sepuluh Perintah Allah diterapkan. Tuhan Yesus sebenarnya mengulangi Sepuluh Perintah dan memakainya untuk me-nyingkapkan kondisi batin manusia. Sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sangat memperhatikan pencu-cian tangan, dalam Sepuluh Perintah tidak disebutkan ten-tang pencucian tangan. Yang penting dalam penerapan Se-puluh Perintah bukanlah kita mencuci tangan, melainkan kita datang untuk menyembah Allah dengan hati yang tulus, menghormati orang tua kita, dan dengan setia melak-sanakan kewajiban-kewajiban kita. Perintah Allah tidak menyingkapkan kotoran pada tangan manusia, melainkan menyingkapkan kenajisan dalam hati manusia. Sebab itu, Tuhan menyinggung kembali Sepuluh Perintah untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya dari hati manusia. Saya mendorong Anda melihat ke dalam bagian Injil Markus ini menurut butir-butir ini.