PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (6)
Pembacaan Alkitab: Mrk. 7:24-30
Injil Markus adalah kitab yang progresif, suatu catatan tentang kehidupan Tuhan di bumi. Tidak diragukan lagi, apa pun yang dialami Tuhan adalah kedaulatan Allah, karena Allah mengatur lingkungan agar Tuhan mengalami hal-hal tertentu dalam hidup-Nya di bumi.
Sejauh ini, kita telah nampak isi pelayanan Injil Hamba Penyelamat, cara melaksanakan pelayanan ini, dan tindak-an-tindakan penunjang untuk pelayanan Injil. Kita juga telah nampak bahwa dalam pasal 4, Tuhan Yesus membe-rikan perkataan yang tegas mengenai unsur esens Kerajaan Allah. Selanjutnya, Ia melaksanakan kekuasaan-Nya, kuasa kerajaan, untuk menanggulangi keadaan luaran manusia. Mengenai hal ini, dalam Injil Markus terdapat suatu gambaran masyarakat manusia. Kita juga mempunyai gambaran yang menunjukkan sikap orang-orang duniawi terhadap Injil Tuhan. Kemudian dalam pasal 7 ada peralihan dari menanggulangi keadaan luaran manusia, kepada menanggulangi keadaan hati manusia.
PEREMPUAN SIRO-FENISIA
DAN ROTI ANAK-ANAK
Dalam berita ini kita akan membahas kasus perempu-an Siro-Fenesia (7:24-30). Markus 7:24 memberi tahu kita bahwa Tuhan “pergi ke daerah Tirus”. Kemudian seorang perempuan, yang anak perempuannya kerasukan roh najis, datang kepada-Nya dan sujud di depan kaki-Nya (ayat 25). Perempuan itu seorang Yunani, keturunan Siro-Fenisia. Ia berbahasa Siria, dari suku Fenisia (lihat Kis. 21:2-3), ka-rena orang-orang Fenisia adalah keturunan orang-orang Kanaan, maka ia adalah seorang perempuan Kanaan (Mat. 15:22). Entah apa yang menjadikannya seorang Yunani agama, pernikahan, atau faktor lainnya sulit diselidiki. Dalam Perjanjian Baru kata “Yunani” digunakan untuk melambangkan dunia orang-orang bukan Yahudi. Perempuan ini adalah lambang seorang bukan Yahudi. Kita bisa menga-takan bahwa ia adalah seorang bukan Yahudi yang campur aduk karena ia seorang Yunani, seorang Siro-Fenisia, dan seorang Kanaan. Namun ia datang dan minta Tuhan mela-kukan sesuatu baginya. Ia ingin Tuhan mengusir setan dari anak perempuannya (ayat 26).
Karena perempuan Siro Fenisia ini orang bukan Yahudi, maka Tuhan Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang di-sediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada an-jing” (ayat 27). Di sini Tuhan seolah-olah berkata kepadanya, “Sebagai orang bukan Yahudi, kamu adalah anjing kecil, dan Aku tidak bisa melemparkan roti anak-anak itu kepa-damu. Kamu tidak layak menjadi salah seorang dari anak-anak itu. Kamu hanya cocok menjadi orang bukan Yahudi. Karena Aku harus mengenyangkan anak-anak dahulu, Aku tidak akan mengambil roti anak-anak itu dan melempar-kannya kepadamu.”
Dalam Yohanes 6 Tuhan dengan jelas memberi tahu orang-orang Yahudi bahwa Ia adalah roti hayat (Yoh. 6:35). Ia menunjukkan kepada mereka bahwa Ia adalah roti yang berasal dari Allah, yang “turun dari surga dan yang membe-ri hidup kepada dunia” (Yoh. 6:33). Ia turun dari surga men-jadi roti hayat untuk mengenyangkan dunia yang lapar. Walaupun perkataan mengenai ini dengan jelas diberikan dalam Yohanes 6, namun dalam kitab Injil sinoptik seperti Matius, Markus, Lukas tidak ada perkataan tentang hal ini. Tetapi dalam Markus 7:27 Tuhan Yesus menggunakan kata “roti”. Ia mengatakan bahwa roti itu hendaknya dibe-rikan lebih dulu kepada anak-anak.
Apa yang Tuhan katakan mengenai roti untuk anakanak dalam ayat 27 menunjukkan bahwa Ia datang bukan hanya untuk melakukan mukjizat-mukjizat. Tuhan Yesus datang untuk merawat anak-anak yang lapar. Perkataan Tuhan di sini dengan pasti menunjukkan bahwa dalam pa-sal-pasal sebelumnya Tuhan sedang merawat orang.
MERAWAT DAN MENYALUR
Merawat adalah perkara menyalurkan. Dalam mempel-ajari kata Yunani “oikonomia”, saya mengerti bahwa kata ini berasal dari akar kata yang berarti membagikan makanan.
Suatu contoh, Yusuf membagikan makanan di Mesir. Sebagai orang yang membagikan makanan kepada orang lain, ia adalah seorang pengurus rumah tangga yang baik, yang me-laksanakan tugas kepengurusan rumah tangga. Pekerjaan kepengurusan rumah tangga ini adalah oikonomia, penya-luran-suplai makanan.
Kita bisa mengatakan bahwa Tuhan Yesus, Hamba Penyelamat, adalah Yusuf yang sejati. Dalam Markus 7, kita nampak Dia menyalurkan diri-Nya sebagai roti, seba-gai makanan yang bergizi. Ia menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai unsur suplai hayat untuk mengenyangkan orang-orang yang lapar.
Ketika perempuan Siro Fenisia, lambang seorang bukan Yahudi, datang dan memohon agar Tuhan mengusir setan dari putrinya, Tuhan membuka diri-Nya agar ia tahu siapakah Tuhan itu. Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai roti. Tuhan membuatnya menyadari bahwa Tuhan adalah roti untuk merawat anak-anak yang lapar, bahwa Tuhan sedang menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai suplai hayat kepada orang.
Banyak orang yang menerima manfaat dari ministri Tuhan tidak menyadari bahwa ketika Ia melayani mereka, Ia sedang merawat mereka. Demikian pula, banyak orang Kristen hari ini tidak tahu bahwa Tuhan ingin menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai roti. Sebagian orang Kristen men-junjung tinggi penyembuhan dan mukjizat-mukjizat. Akan tetapi, pernahkah Anda mendengar bahwa penyembuhan sejati dan mukjizat sejati tidak lain ialah agar Tuhan dapat merawat orang-orang yang lapar? Justru inilah yang justru Tuhan Yesus wahyukan kepada perempuan Siro Fenisia itu.
Dalam percakapan-Nya dengan perempuan itu, Tuhan mewahyukan bahwa yang dilakukan-Nya bukan hanya mukjizat-mukjizat, tetapi juga merawat. Sebenarnya, Ia tidak melakukan mukjizat, melainkan sedang menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai roti, sebagai suplai makanan.
Dalam bagian Injil Markus yang di depan, telah kita bahas isi pelayanan Injil, cara untuk melaksanakan pela-yanan Injil, tindakan penunjang pelayanan Injil, uraian ten-tang unsur esens kerajaan, lukisan tentang masyarakat, gambaran sikap orang-orang duniawi terhadap Injil, dan pe-nyingkapan keadaan hati manusia. Setelah nampak ini semua, sekarang kita perlu melihat dalam 7:24-30, Tuhan membagi-bagikan diri-Nya sendiri sebagai suplai hayat yang diperlukan oleh kita semua. Sebenarnya, kita tidak memerlukan mukjizat, dan bahkan kita tidak memerlukan penyem-buhan. Kebutuhan kita yang riil adalah roti, suplai hayat. Karena itu, Tuhan Yesus menyalurkan diri-Nya kepada kita sebagai makanan.
LANGKAH LANJUT DALAM PELAYANAN
INJIL HAMBA-PENYELAMAT
Dalam 7:24-30 Hamba-Penyelamat mengambil langkah lebih lanjut dalam melaksanakan pelayanan Injil-Nya. Kita telah nampak bahwa dalam 7:1-23 Tuhan memakai sepuluh perintah Allah untuk menyingkapkan keadaan hati manu-sia. Ini juga merupakan langkah lebih lanjut dalam pelayanan Injil-Nya. Setelah mengambil langkah tersebut, ke-mudian Tuhan menunjukkan bahwa dalam pelayanan Injil-Nya, Ia bukan hanya melakukan mukjizat. Itu bukan makna hakiki pelayanan Injil-Nya. Makna hakiki pelayanan ini adalah Dia menyalurkan diri-Nya sebagai makanan.
Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada perempuan Siro Fenisia itu, “Kamu pikir, kamu memerlukan Aku un-tuk menyembuhkan putrimu. Sesungguhnya, kamu me-merlukan Aku sebagai rotimu. Aku juga harus membim-bingmu untuk mengetahui posisimu yang sebenarnya. Posisimu adalah sebagai anjing yang kecil. Karena itu, kamu tidak mempunyai hak untuk menikmati bagian anak-anak. Aku adalah bagian anak-anak, dan anak-anak itu adalah orang-orang Israel, umat pilihan Allah. Aku datang dari Bapa untuk merawat anak-anak-Nya.”
Pernahkah Anda menyadari bahwa Injil Markus me-nyatakan Tuhan Yesus sebagai roti kita? Karena catatan Injil ini bersifat progresif, yakni maju selangkah demi se-langkah dan naik setahap demi setahap, akhirnya sampailah kita pada perkara penting yakni Tuhan Yesus sebagai roti kita.
Jika kita tidak memiliki firman Tuhan perihal diri-Nya sebagai roti anak-anak, kita tidak akan mengerti bahwa dalam pelayanan Injil-Nya, Ia menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai roti kita. Tidaklah sulit bagi kita untuk memahami Tuhan sebagai Tabib, Mempelai Laki-laki, dan Pembebas. Mudah bagi kita mengenal Dia secara demikian. Tetapi siapa pernah membayangkan bahwa Tuhan adalah roti? Ya, sebagai Manusia Allah, Ia adalah Tabib, Mempelai Laki-laki, dan Pembebas. Tetapi kini kita nampak, melalui jawaban-Nya kepada perempuan Siro Fenesia itu, Ia adalah roti untuk anak-anak. Betapa me-nakjubkan!
MENGAMBIL POSISI YANG TEPAT
Baiklah kita membaca ayat 27 sekali lagi, “Lalu Yesus berkata kepadanya, ‘Biarlah anak-anak kenyang dahulu, se-bab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.’” Dalam bahasa aslinya, “anjing” di sini mengacu kepada anjing-anjing piaraan, anjing-anjing jinak. Dalam ayat 28 kita dapati jawab-an perempuan Siro-Fenisia itu, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuh-kan anak-anak.” Dalam jawabannya, seolah-olah ia berkata, “Memang Tuhan, aku tidak menyangkal bahwa aku adalah anjing. Tetapi anjing di bawah meja pun mempunyai hak untuk makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
Jawabannya menunjukkan bahwa ia mengambil perkataan Tuhan sebagai posisinya untuk meminta sesuatu dari-Nya. Apakah posisinya? Posisinya adalah ia seekor anjing, anjing peliharaan, di bawah meja. Menurut kata Yunani yang dipakai, ia bukanlah anjing liar; ia adalah peliharaan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai orang bukan Yahudi, ia adalah salah satu “binatang peliharaan” Allah. Kita dapat mengatakan bahwa orang bukan Yahudi hari ini juga adalah “anjing-anjing peliharaan” Allah.
Perempuan Siro Fenesia itu, dengan kedudukannya yang sebenarnya, mungkin berkata, “Tuhan, aku memang seekor anjing, tetapi aku bukanlah anjing liar, anjing yang di luar rumah, melainkan anjing peliharaan yang berada di bawah meja ketika Tuannya memberi makan anak-anak. Karena aku adalah anjing peliharaan-Mu, Engkau menyukai aku. Ya, Engkau memang mengasihi anak-anak-Mu, tetapi Engkau juga menyenangi aku. Ketika anak-anak-Mu makan di meja, anjing peliharaan-Mu pergi ke bawah meja. Tuhan, bukankah aku anjing peliharaan-Mu? Bukankah aku menyukakan hati-Mu? Aku tidak memiliki tempat (posisi) di meja, tetapi aku memiliki tempat di bawah meja.”
ROTI DI ATAS MEJA DAN DI BAWAH MEJA
Kita boleh mengatakan bahwa perempuan Siro-Fenesia itu menangkap Tuhan dengan kata-kata-Nya sendiri. Ia me-makai ungkapan “anjing”. Langsung saja, nampaknya ia me-nangkap perkataan itu, dan berkata, “Bagus Tuan! Engkau mengatakan bahwa aku seekor anjing peliharaan. Itu cukup bagus bagiku. Aku tidak perlu menjadi anak-anak di meja. Asalkan aku anjing kecil di bawah meja, aku mempunyai tempat untuk makan remah-remah yang jatuh dari meja.”
Dengan pengertian yang sesungguhnya, dalam 7:24-30, Tuhan Yesus sendiri bukan roti di atas meja. Sebaliknya, Ia di bawah meja. Kita harus ingat, peristiwa ini terjadi di Kaisarea Filipi, di perbatasan tanah suci, suatu daerah yang boleh disebut “di bawah meja”. Tanah suci adalah “meja”. Tetapi orang-orang Yahudi sebagai “anak-anak nakal”, mem-buang roti yang di atas meja. Sebagai remah-remah di bawah meja, Tuhan sekarang bisa menjadi bagian anjing-anjing bukan Yahudi.
Dari 7:29 kita tahu bahwa Tuhan Yesus berkata ke-pada perempuan Siro Fenisia itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Ketika pe-rempuan itu kembali ke rumahnya, “didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan setan itu sudah keluar” (ayat 30). Namun, yang penting di sini bukanlah pengusiran setan dari putri perempuan Siro-Fenisia itu. Yang penting ialah bahwa dalam pelayanan Injil-Nya, Tuhan Yesus membagi-bagikan diri-Nya sendiri kepada orang-orang sebagai roti mereka, sebagai suplai batin mereka.
KEBUTUHAN KITA AKAN TUHAN
SEBAGAI SUPLAI HAYAT KITA
Kurangnya pemahaman terhadap keperluan akan Tuhan Yesus sebagai roti, sebagai suplai hayat, boleh jadi meru-pakan kekurangan terbesar dalam gerakan Pentakosta atau Kharismatik hari ini. Orang-orang dalam gerakan tersebut mungkin memustikakan penyembuhan dan mukjizat di lu-ar, tetapi mereka tidak memustikakan Tuhan sebagai roti untuk menjadi suplai hayat batiniah mereka. Sekalipun ki-ta menerima penyembuhan dari Tuhan, kita masih memer-lukan-Nya sebagai suplai hayat kita. Mengalami mukjizat tanpa menerima Tuhan sebagai suplai hayat batiniah kita adalah sia-sia. Di antara orang-orang yang menekankan hal-hal mukjizat, mungkin memang ada beberapa penyembuhan atau mukjizat yang sejati, tetapi sedikit sekali realitas perawatan Tuhan dalam batin sebagai suplai hayat kita. Kita perlu menyadari bahwa bahkan saat Ia menjadi Penyembuh kita, Tuhan Yesus adalah roti kita.
Dalam Markus 7 Tuhan membuka diri-Nya kepada perempuan Siro-Fenisia itu agar ia tahu bahwa Tuhan ada-lah makanannya. Ia memerlukan Tuhan bukan hanya seba-gai Penyembuh putrinya; lebih-lebih secara khusus memer-lukan Tuhan sebagai makanannya, rotinya.
Wahyu dalam 7:23-30 lebih dalam daripada wahyu dalam 7:1-23. Dalam langkah pelayanan Injil yang tercatat dalam 7:1-23, Tuhan menyingkapkan keadaan hati manusia yang sesungguhnya agar kita tahu keperluan kita. Ke-perluan kita bukanlah yang luaran, tetapi yang batini. Kita tidak memerlukan pembasuhan luaran, kita memerlukan pembasuhan batini, pembasuhan hati kita. Kemudian dalam 7:24-30 Tuhan mengambil langkah selanjutnya yang membuat kita nampak bahwa jika kita hanya memiliki pembasuhan batini, kita masih tetap akan kosong. Hati kita tidak cukup hanya dibersihkan, disucikan. Hati yang bersih bisa saja masih merupakan hati yang kosong. Kare-nanya, di samping pembasuhan hati kita pada sisi negatif-nya, kita masih memerlukan suplai roti pada sisi positifnya. Lebih daripada pembasuhan, kita memerlukan Tuhan Yesus menjadi roti kita. Wahyu mengenai diri-Nya sendiri sebagai roti kita merupakan langkah lebih lanjut yang diambil Tuhan dalam melaksanakan pelayanan Injil-Nya.