← Daftar isi Markus (3) · bab 20/23

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (4)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 7:1-23

Injil Markus ditulis secara progresif. Dalam Injil Markus kita memiliki catatan yang disusun menurut rangkaian peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Tuhan Yesus. Kita percaya, menurut kedaulatan Allah, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan Tuhan berlangsung dalam rangkaian yang istimewa dan progresif.

ORANG-ORANG FARISI DAN AHLI-AHLI TAURAT MENANYAI TUHAN

Dalam 6:45-52 terdapat catatan tentang Tuhan berjalan di atas air. Kemudian dalam 6:53-56, ada catatan tentang penyembuhan yang Tuhan lakukan di mana-mana. Keadaan saat itu sangat menakjubkan. Tuhan dan murid-murid-Nya menyeberangi danau yang berbadai, dan orang banyak di mana-mana menikmati penyembuhan-Nya.

Kemudian, secara tiba-tiba, “mata-mata” agamawi, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, “dari Yerusalem datang menemui Yesus” (7:1). Orang-orang yang terpelajar itu, pemimpin-pemimpin agama Yahudi, sengaja datang kepada Tuhan untuk memata-matai-Nya. Yerusalem jauh di selatan, dan Tuhan Yesus ada di utara, di Galilea. Namun, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat datang untuk mengamati apa yang sedang dilakukan Tuhan Yesus.

Markus 7:2 mengatakan bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang datang untuk memata-matai Yesus melihat “bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak diba-suh.” Ayat 3 dan 4 menjelaskan bahwa orang-orang Farisi, yang menganut tradisi nenek moyang mereka, tidak akan makan jika belum mencuci tangan. Jika pulang dari pasar, mereka juga tidak akan makan sebelum membasuh dirinya.

Menurut ayat 5, “Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, ‘Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?’” Kata “nenek mo-yang” di sini, seperti dalam ayat 3, mengacu kepada orang-orang zaman dulu, yaitu orang-orang generasi sebelumnya. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengira mereka mempunyai alasan untuk mengkritik Tuhan, karena mu-rid-murid-Nya melakukan sesuatu yang berlawanan dengan tradisi orang-orang Yahudi yang telah diterimanya dari nenek moyang mereka.

KEADAAN BATIN MANUSIA

Ketika kita membaca Injil ini, kelihatannya apa yang tercatat dalam 6:45—7:23 merupakan cerita belaka. Dalam potongan ini kita diberi tahu bagaimana Tuhan Yesus me-nyeberangi danau yang berbadai, menyembuhkan banyak orang, dan bagaimana Ia ditanyai orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Namun, jika kita memohon Tuhan mene-rangi kita tentang bagian ini, kita akan menyadari, men-jelang pasal 7, Tuhan merasa perlu untuk menanggulangi keadaan batin manusia. Hal-hal yang terjadi sebelum pasal 7 berkaitan dengan keadaan luaran manusia, bukan keada-an batinnya. Namun, Injil adalah untuk seluruh diri manu-sia. Masalah keadaan batin manusia jauh lebih serius dari-pada keadaan luarannya. Sebenarnya, keadaan batin kita merupakan akar segala masalah.

Dalam keenam pasal pertama Injil Markus telah diba-has banyak hal. Akan tetapi, sejauh itu belum ada yang menjamah keadaan batin manusia yang telah jatuh. Kini dalam pasal 7, saat Tuhan ditanyai orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, pertanyaan mereka memberi-Nya kesem-patan untuk berbicara tentang keadaan batin manusia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bermaksud me-nuduh Hamba-Penyelamat. Namun, mereka justru dipakai oleh Allah dalam kedaulatan-Nya. Tanpa mereka, Tuhan mungkin tidak berkesempatan membicarakan keadaan batin manusia.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentu saja tidak bermaksud menyinggung keadaan batin manusia. Me-reka hanya memperhatikan aturan luaran, seperti pencu-cian dan pembersihan luaran. Mereka tidak tertarik pada segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaan batin manu-sia. Akan tetapi, mereka memberi peluang emas kepada Tuhan dan bahkan membuka jalan bagi-Nya untuk menyingkapkan keadaan batin manusia. Tuhan Yesus menyingkapkan keadaan batin manusia, bukan hanya kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, tetapi juga kepada orang banyak, dan terutama kepada murid-murid-Nya (ayat 17).

Dalam 7:1-23 ada tiga golongan orang: orang banyak, termasuk orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat; sebagian dari orang banyak itu (ayat 14); dan murid-murid Tuhan, para pengikut-Nya yang dekat dengan-Nya. Ayat 17 menga-takan, “Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk me-nyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya ke-pada-Nya tentang arti perumpamaan itu.” Kemudian Tuhan menyingkapkan kepada mereka dengan sejelas-jelasnya ke-adaan batin manusia. Akhirnya para pengikut Tuhan yang dekat dengan-Nya itulah yang menerima manfaatnya. Me-reka nampak dengan jelas, tidak hanya keadaan lahir manusia, juga keadaan batin manusia.

Sebagai persona insani-ilahi, Tuhan Yesus menyembuh-kan penyakit manusia. Penyembuhan tersebut tidak hanya menyangkut penyakit luaran kita, tetapi terutama tentang penyakit batin kita. Tentang ini, dalam Markus 7 terdapat langkah yang penting dalam pelayanan Injil Hamba-Penye-lamat. Seperti yang telah kita ketahui, sebelum pasal 7, pelayanan Injil Tuhan berhubungan dengan keadaan luaran manusia. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, para penentang, memberi peluang baik bagi Tuhan untuk menjamah keadaan batin manusia yang telah jatuh.

Dalam pasal 6 kita nampak penentangan dan penolakan. Pasal 6 mencatat mati martirnya Yohanes Pembaptis, pelopor Hamba-Penyelamat; mati martirnya disebabkan oleh kebencian Herodias terhadap Yohanes. Pada akhir pasal 6, Tuhan menyeberang danau dan tiba di suatu daerah tempat orang-orang menerima penyembuhan-Nya. Murid-murid Tuhan tentu sangat bahagia dan takjub atas apa yang terjadi. Ke mana pun Tuhan pergi, Ia disambut dan orang-orang disembuhkan. Jika saat itu kita berada di antara para pengikut Hamba-Penyelamat, kita pasti juga merasa senang dengan keadaan itu.

Kita boleh mengatakan, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam pasal 7 adalah para penentang profe-sional. Mungkin sebelum mereka turun dari Yerusalem ke tempat Tuhan Yesus, mereka telah dilatih untuk me-mata-matai Dia, mencari alasan untuk menangkap-Nya dan menghukum mati Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu mungkin berkata satu sama lain, “Orang ini Iblis dan kita harus menyingkirkan-Nya. Kita harus mencari sesuatu untuk meyakinkan pemerintah Romawi agar menghukum mati orang ini.” Para mata-mata yang terlatih dan profesional ini mengira mereka telah mene-mukan dasar untuk menuduh Tuhan Yesus dalam hal makan dengan tangan yang tidak dibasuh. Padahal, me-reka malah membuka jalan bagi-Nya untuk membica-rakan keadaan batin manusia.

Kita dapat membandingkan Tuhan Yesus dalam pa-sal 7 dengan seorang ahli bedah yang sedang meng-operasi seorang pasien. Kita juga bisa mengatakan bahwa para penentang profesional itu mempersiapkan “ruang bedah” untuk “pengoperasian” Tuhan. Kemudian Ia membuka hati manusia dan menyingkapkan kondisi batinnya.

ORANG-ORANG FARISI DAN AHLI-AHLI TAURAT DITEGUR OLEH TUHAN

Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ayat 6-7). Di sini Tuhan seolah-olah berkata, “Kalian orang-orang munafik hanya memperhatikan situasi luaran. Kalian tidak memper-hatikan kondisi batin manusia. Kalian mencuci tangan atau tidak sebelum makan itu tidak berarti apa-apa. Yang penting adalah kondisi batin kalian. Biarlah Kucelikkan mata kalian dan menyingkapkan kondisinya.” Dalam pasal ini Tuhan melanjutkan menyingkapkan kondisi jahat hati manusia yang telah jatuh.

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat datang de-ngan tujuan mencari-cari kesalahan pada Tuhan Yesus. Te-tapi hasilnya adalah mereka ditegur oleh-Nya. Tuhan itu murni; Dia tidak pernah berpura-pura. Di satu pihak, Ia baik dan mempunyai belas kasihan terhadap orang-orang yang menuntut Dia. Tetapi di pihak lain, seperti yang di-tunjukkan oleh catatan dalam pasal 7, Ia terang-terangan terhadap para penentang profesional itu, dan menyebut me-reka orang-orang munafik. Dalam ayat 8-9 Tuhan melanjut-kan berkata kepada mereka, “Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang. Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu da-pat memelihara adat istiadat sendiri.” Selanjutnya, dalam ayat 13 Ia berkata bahwa mereka menyatakan firman Allah tidak berlaku demi adat istiadat yang mereka ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang mereka lakukan.

Di sini Tuhan seolah-olah berkata, “Kalian orang-orang munafik datang untuk mencari kesalahan-Ku. Tetapi Aku gunakan kesempatan ini untuk menyingkapkan kalian. Ka-lian bertanya mengapa murid-murid-Ku tidak memelihara tradisi. Aku bertanya mengapa kalian menyatakan firman Allah tidak berlaku demi tradisi kalian. Kalian melayani Allah dengan mulut kalian, tetapi Aku akan menyingkap-kan kalian atas apa yang ada di dalam hati kalian.”

Dalam ayat 10-12 Tuhan berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu, “Karena Musa telah ber-kata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang me-ngutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibu-nya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dari-ku adalah Kurban, — yaitu persembahan kepada Allah —, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya.” Dari sini kita nampak bahwa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak hanya salah dalam hal penyembahan kepada Allah, tetapi juga sa-lah dalam cara mereka menghadapi orang tua mereka. Me-ngenai perkara menghormati ayah dan ibu, perintah Allah mereka nyatakan tidak berlaku demi tradisi yang mereka ikuti.

Kata “kurban” dalam ayat 11 berasal dari kata Ibrani qorban, berarti persembahan, menunjukkan segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah. Kata ini dipakai berkali-kali dalam ketujuh pasal pertama Kitab Imamat, yaitu pasal-pasal yang membicarakan bermacam-macam persembahan. Sebenarnya, kata “persembahan” seperti yang dipakai dalam Imamat 1-7 adalah terjemahan dari kata Ibrani qorban.

Tuhan menegur orang-orang Farisi dan para ahli Taurat karena kesalahan mereka dalam perkara menghormati dan memperhatikan orang tua. Karena mereka sebenarnya meng-ajar orang lain untuk mengabaikan penghormatan kepada orang tua mereka, dan dengan berbuat demikian menyata-kan firman Allah tidak berlaku. Seseorang hendaknya me-ngeluarkan sejumlah biaya untuk merawat orang tuanya. Tetapi menurut orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, jika orang tersebut telah memberi kurban kepada Allah, ia boleh tidak merawat orang tuanya. Mengenai tradisi ini, Tuhan Yesus dengan keras menegur orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, memberi tahu mereka bahwa mereka me-nyatakan firman Allah tidak berlaku demi tradisi mereka.

Teguran Tuhan yang berani itu membungkam para pe-nentang profesional itu. Ia telah menyingkapkan mereka di depan umum. Betapa memalukan hal ini bagi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang menguasai hukum Musa dan mungkin menganggap diri mereka lebih unggul daripa-da orang-orang Galilea. Akan tetapi, di depan orang banyak itu Tuhan menyingkapkan mereka dan menegur mereka, menyebut mereka orang-orang munafik. Ia mengatakan bah-wa mereka menyembah Allah dengan mulut mereka, tetapi hati mereka jauh dari Dia. Ia bahkan menyingkapkan mereka yang menyatakan tidak berlakunya hukum Allah, yang menjadikan hukum itu tidak ada artinya. Ia menying-kapkan mereka bukan hanya karena mereka menipu Allah, tetapi juga menipu orang tua mereka. Suatu teguran yang keras! Dengan teguran ini orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu terbungkam. Tidak disangsikan lagi, mereka menyingkir dengan diam-diam dari kumpulan orang banyak.

HAL-HAL YANG MENAJISKAN MANUSIA

Setelah orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu pergi, Tuhan memanggil lagi orang banyak itu kepada-Nya dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya, tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskan” (ayat 14-15). Di sini Tuhan menunjukkan bahwa hal-hal yang menajiskan manusia adalah hal-hal yang keluar dari hatinya. Karena itu, kita jangan mem-perhatikan hal-hal luaran, karena hal-hal itu tidak dapat menajiskan kita. Sebaliknya, kita hendaknya memperha-tikan hal-hal batiniah, karena hal-hal inilah yang menajis-kan kita.

Ayat 17 mengatakan, “Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.” Karena tidak memahami perkataan Tuhan, para murid me-minta-Nya untuk menjelaskan kepada mereka. Tuhan ber-kata, “‘Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perut-nya, lalu keluar ke jamban?’ Dengan demikian Ia menya-takan semua makanan halal . . . Apa yang keluar dari sese-orang, itulah yang menajiskannya” (ayat 18-20). Menurut firman Tuhan di sini, apa yang keluar dari hati manusia, itulah yang menajiskannya. Yeremia mengatakan bahwa kondisi hati manusia sudah tidak tertolong lagi (Yer. 17:9). Hati manusia yang telah jatuh adalah bobrok, penuh dengan bakteri yang menajiskan.

Dalam ayat 21-22 Tuhan menyebutkan sejumlah per-kara yang menajiskan hati manusia, “Sebab dari dalam, da-ri hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pen-curian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesom-bongan, kebebalan.” Kemudian dalam ayat 23 Tuhan me-nyimpulkan, “Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” Hal-hal jahat yang timbul dari dalam batin adalah akibat buruk dari kejatuhan manusia dan sifat dosa (Rm. 7:18).

Kita perlu menerapkan firman Tuhan ke atas diri kita dan menyadari bahwa apa pun yang keluar dari hati kita itu menajiskan. Tidak sesuatu pun yang bersumber dari dalam kita itu bersih. Secara alami, kita ini tersusun dari hal-hal yang jahat.

Adalah suatu perkara besar bahwa dalam Markus 7 Hamba-Penyelamat dalam pelayanan Injil-Nya tiba pada perkara menganalisis kondisi batin manusia. Tuhan mela-kukan hal ini untuk kebaikan murid-murid-Nya, para peng-ikut-Nya yang dekat dengan-Nya. Ia ingin mereka mengerti bahwa apa saja yang keluar dari hati mereka menajiskan orang lain. Tuhan seakan-akan berkata kepada mereka, “Waspadalah untuk tidak menajiskan orang lain, dan waspa-dalah untuk tidak dinajiskan orang lain. Tidak seorang pun di antara kalian yang bersih. Tidak peduli berapa banyak kalian mencuci tangan, kalian tidak bisa membersihkan hati kalian. Hal-hal yang menajiskan kalian adalah hal-hal yang ada di dalam hati kalian. Kalian perlu nampak bahwa apa pun yang keluar dari hati kalian adalah najis dan menajiskan kalian sendiri dan orang lain.”