← Daftar isi Markus (3) · bab 19/23

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (3)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 6:1-56

Dalam berita yang lalu kita nampak bahwa dalam 6:1-6 Hamba-Penyelamat diremehkan oleh orang Nazaret, dan dalam 6:7-13 Ia mengutus kedua belas murid-Nya untuk memberitakan Injil. Telah kita tunjukkan, sama seperti kedua belas murid itu menginjil, mengusir setan-setan, dan mengurapi orang sakit, hari ini kita perlu menginjil, menyajikan kebenaran untuk mengusir setan-setan, dan menyuplaikan hayat kepada orang melalui mengurapi mereka dengan kesaksian kita tentang peng-alaman atas Kristus. Dalam berita ini kita akan mem-bahas 6:14-56, bagian Injil Markus yang membahas em-pat perkara: Mati martirnya pelopor (ayat 14-29), mem-beri makan lima ribu orang (ayat 30-44), berjalan di atas air (ayat 45-52), dan di mana-mana menyembuhkan (ayat 53-56).

MATI MARTIRNYA PELOPOR

Jangan mengira kita akan disambut jika kita menginjil, menyajikan kebenaran, dan menyuplaikan hayat. Tidak, seperti Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus, dan murid-murid-Nya, kita pun harus siap ditolak.

Setelah Tuhan ditolak oleh orang-orang Nazaret, Ia mengutus kedua belas murid-Nya. Setelah kedua belas mu-rid itu diutus, Yohanes Pembaptis, pelopor Injil, mati martir. Kematian Yohanes Pembaptis menunjukkan kebencian Iblis yang dinyatakan oleh kegelapan dan ketidakadilan orang-orang duniawi yang berkuasa terhadap pelopor setia Hamba-Penyelamat.

Bagaimana mungkin Yohanes Pembaptis dihukum mati? Hukuman itu terlaksana atas permohonan Herodias. Markus 6:17-19 memberi tahu kita bahwa Herodes menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhu-bung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus, saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Karena Yohanes pernah menegur Herodes: Tidak boleh engkau meng-ambil istri saudaramu! Karena itu Herodias menaruh den-dam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat. Yohanes dibunuh oleh kegelapan politik, oleh kegelapan orang-orang yang berkuasa. Pada diri Herodes tidak ada keadilan. Herodes telah berzina dengan Herodias, istri saudaranya, dan wanita tersebut membenci Yohanes Pembaptis.

Herodes tahu, Yohanes adalah seorang yang benar dan suci, dan dalam beberapa hal ia menghormatinya. “Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia” (ayat 20). Tidaklah adil membelenggu orang yang benar dan suci itu di penjara.

Ayat 21-22 mengatakan, “Akhirnya tiba juga kesem-patan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya.” Karena terbuai dan tertipu oleh tariannya, Herodes berkata kepadanya, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!” (ayat 22). Sesuai perintah ibunya, Herodias, ia meminta ke-pala Yohanes Pembaptis. Jadi, akibat kebencian, kegelapan, dan hawa nafsu, dibunuhlah pelopor Injil yang benar dan suci itu. Ini merupakan lukisan yang jelas tentang penolak-an dunia terhadap Injil.

Dalam 4:35—5:43 ada gambaran masyarakat saat ini. Menurut gambar itu, masyarakat penuh dengan pemberontakan, setan-setan, usaha najis, penyakit, dan maut.

Dalam 6:1-29 ada gambar lain, gambar tentang pe-nolakan, ketidakadilan, dan kebencian terhadap Injil dan orang-orang yang terlibat dalam Injil. Karena keadaannya demikian, janganlah berharap disambut oleh dunia. Jangan sekali-kali berharap dihormati dan dipandang. Tidak ada hal seperti itu bagi orang-orang yang melayani Tuhan de-ngan menginjil. Jika kita setia kepada Tuhan dalam mi-nistri-Nya, kita akan diremehkan dan menderita karena ditolak, diperlakukan dengan tidak adil, dibenci, dan bahkan mati martir. Namun, janganlah kecewa karena penolakan dan kebencian dunia. Sebaliknya kita harus terdorong karenanya.

MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

Setelah pelopor Injil mati martir, Hamba-Penyelamat berkata kepada murid-murid-Nya, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” (ayat 31). Untuk beristirahat, berangkatlah mereka dengan perahu me-nyendiri ke tempat yang terpencil. Akan tetapi, orang ba-nyak mengikuti mereka. Di satu pihak, dalam pasal ini terdapat penolakan, kebencian, dan ketidakadilan. Di pihak lain, orang banyak masih mengikuti Tuhan.

Markus 6:34 mengatakan, “Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulai-lah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” Ungkapan belas kasihan-Nya memamerkan kebajikan insani Hamba-Penyelamat, yang ternyata melalui kekuatan ilahi-Nya. Kebajikan insani dan kekuatan ilahi-Nya berbaur menjadi satu, membuktikan bahwa Dia adalah manusia juga Allah. Ketika murid-murid-Nya mengusulkan kepada Tuhan agar menyuruh orang banyak itu pergi, Ia menjawab, “Kamu harus memberi mereka makan!” (ayat 35-37). Hamba-Penye-lamat berbelaskasihan kepada orang banyak itu dan ingin memberi mereka makan.

Lima Roti dan Dua Ikan

Kita semua tahu bahwa Tuhan dengan lima roti dan dua ikan memberi makan lima ribu orang (ayat 38-42). Yohanes 6:9 memberi tahu kita bahwa lima roti tersebut adalah roti jelai. Dalam perlambangan, jelai melambangkan Kristus yang bangkit (Im. 23:10). Jadi roti jelai melam-bangkan Kristus dalam kebangkitan sebagai makanan bagi kita. Roti dibuat dari hayat tumbuh-tumbuhan (nabati) me-lambangkan aspek melahirkan (regenerasi) hayat Kristus; tetapi ikan berasal dari hayat hewan, melambangkan aspek penebusan hayat Kristus. Untuk memuaskan rasa lapar rohani kita, kita perlu hayat Kristus yang melahirkan dan menebus. Kedua aspek ini dilambangkan oleh hal-hal yang kecil — roti dan ikan.

Mempersembahkan Milik Kita

Lima roti dan dua ikan juga menunjukkan apa pun yang kita miliki dari Tuhan perlu kita bawa kepada-Nya agar dapat menjadi berkat besar bagi banyak orang. Tuhan sering memakai persembahan kita kepada-Nya untuk mencukupi keperluan orang lain.

Jangan memandang ringan pengalaman kita dengan berkata, “Kami tidak memiliki banyak hal dari Tuhan. Ka-mi belum cukup mengalami Dia.” Lihatlah apa yang dapat Tuhan lakukan dengan lima roti dan dua ikan itu. Tuhan tidak meminta lebih dari yang kita punya. Jika kita mem-berikan kepada-Nya apa yang kita punya, Ia akan member-katinya. Bila kita mempersembahkan milik kita, Ia akan mencurahkan berkat, mengaruniakan berkat-Nya yang tak terbatas atas apa yang kita persembahkan kepada-Nya.

Ayat 43 mengatakan, “Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan.” Di sini kita lihat hasil berkat Tuhan. Ini bukan hanya memperlihatkan kekuatan keilahian Hamba-Penyelamat sebagai Pencipta, yang membuat apa yang ti-dak ada menjadi ada (Rm. 4:17), tetapi juga menandakan suplai hayat ilahi-Nya yang limpah lengkap dan tak ber-kesudahan (Ef. 3:8; Flp. 1:19).

Saya berbeban menanamkan kesan pada Anda terhadap gambaran dalam 4:35—5:43 dan 6:1-44. Tidak perlu resah dan kecewa karena fakta sedikitnya jumlah orang-orang dalam pemulihan Tuhan di negara ini. Sudah ditentukan bahwa kita akan diremehkan dan ditolak. Boleh juga dika-takan bahwa Allah telah menetapkan kita untuk hal terse-but. Manusia-Allah sendiri diremehkan dan ditolak. Jika Dia ditolak, tidak seharusnya kita mengharapkan yang lain. Tidak hanya demikian, Pelopor Tuhan, Yohanes Pembaptis, yang merupakan tonggak dalam sejarah, juga dipenjarakan dan mati martir. Jika hal itu terjadi pada Yohanes Pembaptis, tidak seharusnya kita mengharapkan yang lebih baik.

Jangan cemas dengan fakta bahwa bagian kita adalah ditolak, dibenci, dipenjara, dan bahkan mati martir. Ini ti-dak seharusnya membuat hati kita untuk menempuh jalan pemulihan Tuhan; sebaliknya, hal ini seharusnya mendorong kita mempersembahkan semua milik kita kepada Tuhan. Mungkin kita hanya memiliki lima roti dan dua ikan, teta-pi kita dapat memberikannya kepada Tuhan agar diberkati. Jika kita memberikan milik kita kepada Tuhan, Ia akan mengaruniakan berkat-Nya atas apa yang kita persembah-kan kepada-Nya. Hasilnya, orang lain akan dikenyangkan dan puas, dan masih tersisa dua belas bakul.

Tidak peduli berapa banyak penolakan, kebencian, dan ketidakadilan, hari ini kita memiliki hayat kerajaan. Da-lam hayat kerajaan ini, orang disembuhkan, dirawat, dike-nyangkan, dipuaskan, dan masih ada sisa dua belas bakul. Inilah gambaran yang jelas dari hidup gereja hari ini.

GAMBARAN HIDUP GEREJA

Hidup gereja dilukiskan oleh gambaran dalam 4:35—5:43 dan 6:1-44. Dalam gambar pertama ada badai, setan-setan, babi, penyakit, dan maut. Namun, Hamba-Penyela-mat datang ke dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menaklukkan pemberontakan, mengusir setan-setan, mem-bersihkan usaha najis, menyembuhkan orang sakit, dan membangkitkan orang mati. Hasilnya, kita semua sembuh, hidup, dan terpulihkan.

Menurut gambaran kedua, kita akan dihina, dan meng-alami penolakan, kebencian, ketidakadilan, dan mati mar-tir. Namun, dalam keadaan itu pun orang banyak justru dipuaskan. Setiap orang kenyang dan gembira. Kita persem-bahkan segala milik kita kepada Tuhan, lalu menerima dari-Nya lebih daripada yang kita persembahkan. Inilah hidup kerajaan, hidup gereja. Betapa bahagianya kita ber-ada dalam hidup kerajaan hari ini. Meskipun kelihatannya kehilangan segalanya, sebenarnya kita memperoleh segala sesuatu di dalam Tuhan.

Dalam Markus 4 ada benih kerajaan. Pada berita yang lalu, kita membahas sejarah pertumbuhan dan perkembang-an benih tersebut. Kita melihat, dari pandangan Allah, ke-rajaan adalah perkembangan diri-Nya sebagai benih yang ditabur ke dalam kita. Akan tetapi, dari pandangan Iblis, kerajaan adalah penaklukan pemberontakan. Itulah makna catatan penaklukan badai pada pasal 4, yang menyusul ajar-an Tuhan tentang Kerajaan Allah. Lalu dalam pasal 5 ada penampilan kerajaan dengan pengusiran setan-setan, pem-bersihan usaha najis, penyembuhan penyakit fatal oleh Ham-ba-Penyelamat. Dengan datangnya persona Yesus Kristus, Allah yang berinkarnasi, lima perkara negatif dibereskan: pemberontakan, setan-setan, usaha najis, penyakit, dan ma-ut. Puji Tuhan atas gambar yang indah tentang Kerajaan Allah!

Gambar kedua tentang kerajaan terlukis dalam 6:1-44. Dalam gambar ini kita nampak sikap dunia terhadap Ham-ba-Penyelamat. Karena menghargai orang yang berstatus tinggi, orang dunia meremehkan dan menolak Injil. Pada pe-ristiwa dihukum matinya Yohanes Pembaptis, kita nampak kegelapan dan ketidakadilan politik duniawi. Ini merupakan gambaran dunia hari ini.

Dunia meremehkan dan menolak Injil. Namun, Tuhan Yesus tidak kecewa karenanya. Malah, sebagai Yang dito-lak, Ia mengutus kedua belas murid-Nya. Lalu, setelah mati martirnya pelopor Injil, Tuhan mendapatkan lima ribu orang, mengenyangkan mereka, dan memuaskan mereka. Setelah musuh membunuh satu orang, Tuhan menghasil-kan lima ribu orang. Hal ini sudah menjadi sejarah dalam pergerakan Tuhan selama berabad-abad, dan saya yakin akan terulang di antara kita.

BERJALAN DI ATAS AIR

Dalam 6:45-52 ada catatan tentang Hamba-Penyelamat berjalan di atas air. Markus 6:45-46 mengatakan, “Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.” Tuhan berdoa untuk bersekutu dengan Allah, mencari ke-hendak-Nya dan perkenan-Nya bagi pelayanan Injil-Nya. Hamba-Penyelamat tidak sendirian melakukan pelayanan Injil itu sebagai orang yang merdeka terhadap Allah dan menurut kehendak-Nya sendiri. Sebaliknya, Ia melaksana-kan pelayanan Injil menurut kehendak dan perkenan Allah melalui bersatu dengan Allah untuk tujuan-Nya.

Ayat 48 mengatakan, “Ketika Ia melihat betapa payah-nya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka.” Dalam 4:38 Hamba-Penyelamat sedang tidur di perahu yang diserang badai yang mengancam pengikut-pengikut-Nya. Di sini Ia berjalan di atas air sementara pengikut-pegikut-Nya sedang susah payah mendayung karena ombak laut itu. Peristiwa ini me-nunjukkan bahwa Hamba-Penyelamat, sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta (Ayb. 9:8), tidak terganggu oleh keadaan lingkungan apa pun, dan Dia akan memperhatikan kesulitan para pengikut-pengikut-Nya dalam perjalanan mereka mengikuti Dia.

Ketika murid-murid melihat Tuhan berjalan di atas air, mereka berteriak dan cemas. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “‘Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!’ Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda” (ayat 50-51). Mukjizat ini tidak hanya mempersaksi-kan Tuhan sebagai Pencipta dan Penguasa langit dan bumi, tetapi juga menunjukkan bahwa Ia memperhatikan kesu-litan para pengikut-Nya dalam mengikuti-Nya. Bila Tuhan ada di perahu kita, angin pun reda. Catatan kedua muk-jizat dalam pasal ini menunjukkan bahwa pada saat Kristus ditolak, Ia dan para pengikut-Nya ada di padang gurun dan di tengah laut berbadai. Namun, Ia sanggup mencukupi keperluan mereka dan membawa mereka melalui kesulitan.

DI MANA-MANA MENYEMBUHKAN

Dalam 6:53-56 ada catatan ringkas tentang penyembuh-an oleh Hamba-Penyelamat di mana-mana. Ia dan murid-murid-Nya telah menyeberang laut dan tiba di Genesaret. Segera orang-orang mengenali Dia dan mulai membawa orang-orang sakit kepada-Nya. Ayat 56 mengatakan, “Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kam-pung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh.” Jubah Kristus me-lambangkan perbuatan benar-Nya, dan jumbai-Nya melam-bangkan pemerintahan surgawi (Bil. 15:38-39). Dari perbu-atan Kristus yang diatur oleh surga, keluar kebajikan yang menjadi kuasa menyembuhkan. Semua orang yang menyen-tuh-Nya sedemikian menjadi sembuh.