← Daftar isi Markus (3) · bab 18/23

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 6:1-44

Dalam berita ini, sampailah kita kepada Markus 6:1-44. Dalam bagian ini kita dapati empat perkara: Hamba-Penye-lamat diremehkan orang (ayat 1-6), mengutus murid-murid (ayat 7-13), mati martirnya pelopor (ayat 14-29), dan memberi makan lima ribu orang (ayat 30-44).

Ketika kita membaca 6:1-44, kelihatannya bagian ini tidaklah menekankan perkara hayat. Bagi kita keempat peristiwa yang tercatat di sini seolah-olah hanyalah cerita belaka. Namun, kita percaya bahwa catatan ini adalah ba-gian dari Kitab Suci yang dihembuskan oleh Allah. Me-mang, pasal ini ditulis oleh Markus. Namun, kitab ini tetap merupakan bagian firman Allah yang diwahyukan. Karena itu, kita perlu memohon Tuhan memberikan daya pandang rohani agar kita dapat menyelami kedalaman bagian catatan ini.

GAMBARAN PENOLAKAN

Mula-mula, dalam 6:1-6 Tuhan diremehkan (dihina) dan ditolak oleh orang-orang Nazaret. Sebenarnya, penolakan ini tidaklah merisaukan Dia atau mengecewakan Dia. Se-kalipun Ia pergi meninggalkan mereka karena mereka me-nolak-Nya, namun ini tidak berarti Dia kecewa atau me-nyerah. Hamba-Penyelamat ingin melakukan sesuatu bagi orang-orang Nazaret, tetapi mereka tidak mau terbuka terhadap-Nya. Markus 6:5 mengatakan, “Ia tidak dapat me-ngadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuh-kan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya di atas mereka.” Orang-orang Nazaret yang tidak percaya menghalangi Tuhan melakukan banyak mukjizat di antara mereka.

Akibat penolakan orang-orang Nazaret, Tuhan bukan-nya patah semangat dan kecewa malahan lebih bersema-ngat. Ini terbukti dengan fakta diutus-Nya kedua belas murid-Nya dalam 6:7-13 untuk melakukan hal yang sama dengan yang Ia perbuat. Secara khusus, “Ia memberi me-reka kuasa atas roh-roh jahat” (ayat 7). Tuhan menunjuk kedua belas murid untuk melakukan apa yang Ia perbuat.

Dalam 6:14-29 tercatat mati martirnya Pelopor Injil, Yohanes Pembaptis. Secara manusiawi, hal ini pastilah sa-ngat mengecewakan. Nyatanya Tuhan Yesus tidak merasa kecewa dengan mati martirnya Yohanes Pembaptis. Setelah Yohanes mati martir, kita menemukan Tuhan memberi makan dan memuaskan lima ribu orang. Penolakan orang-orang Yahudi di daerah-Nya tidaklah mengecewakan Dia; sebaliknya, penolakan itu mendorong-Nya untuk mengutus murid-murid-Nya. Demikian pula, mati martirnya pelopor-Nya tidak mengecewakan Dia; sebaliknya mendorong Dia memberi makan lebih banyak orang.

Dalam 4:35—5:43 kita nampak bagaimana Kerajaan Allah memenuhi kebutuhan keadaan manusia. Seperti yang telah kita tunjukkan, keadaan masyarakat dilukiskan da-lam bagian tersebut. Masyarakat, dan juga setiap manusia perorangan, penuh dengan “badai” pemberontakan, setan-setan, industri najis (ternak babi), penyakit fatal, dan ke-matian. Itulah keadaan sebenarnya dari umat manusia. Akan tetapi Hamba-Penyelamat telah membawa kerajaan kepada kita dan kerajaan adalah jawaban bagi keadaan ma-nusia yang jatuh. Kerajaan menaklukkan pemberontakan, kerajaan mengusir setan-setan, kerajaan membersihkan in-dustri najis, kerajaan menyembuhkan orang sakit, dan ke-rajaan membangkitkan orang mati. Dalam 4:35—5:43 kita nampak suatu pameran Kerajaan Allah memenuhi kebu-tuhan masyarakat. Betapa menakjubkan gambaran ini!

Dalam 6:1-44 Markus menyajikan gambaran yang lain. Pada gambaran ini kita nampak penolakan, kebencian, dan mati martir. Tidak peduli berapa banyak berkat yang di-datangkan oleh kerajaan dan pemberitaan Injil, dunia ma-sih tetap membenci dan menolak Hamba-Penyelamat dan orang-orang yang bekerja bersama Dia. Karena itu, dalam 6:1-44 kita nampak sikap orang-orang duniawi terhadap Injil. Apa yang akan kita perbuat untuk menghadapi sikap semacam ini? Apa yang akan kita perbuat ketika kita diremehkan, ditolak, dan dibenci, dan bahkan ketika bebe-rapa orang dibunuh? Apakah kita akan tawar hati? Harus-kah kita berhenti memberitakan kabar gembira dan berhenti bekerja untuk kerajaan? Tentu saja tidak! Sebagai ganti tawar hati, kita harus terdorong oleh sikap negatif yang diperlihatkan oleh orang-orang duniawi terhadap Injil.

DIREMEHKAN ORANG

Segera setelah Tuhan melakukan pekerjaan yang me-nakjubkan, yakni mendatangkan berkat-berkat kerajaan, Ia datang ke daerah asal-Nya sendiri. Markus 6:1 mengatakan, “Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.” Ayat 2 dan 3 menunjukkan bahwa Ia diremehkan dan ditolak oleh orang-orang Nazaret. “Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan banyak orang takjub mendengar-Nya dan berkata, ‘Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukji-zat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?’ Lalu mereka me-nolak Dia.” Di sini kita nampak bahwa orang-orang Nazaret mengenal Hamba-Penyelamat menurut daging, tidak menurut Roh itu (2 Kor. 5:16). Mereka dibutakan oleh pengetahuan alamiah mereka.

Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Se-orang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asal-nya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya” (ayat 4). Perkataan ini menunjukkan bahwa mungkin beberapa orang dari keluarga-Nya sendiri ikut serta dengan orang-orang yang meremehkan dan menolak Dia.

Penggenapan Nubuat

Perkataan orang-orang yang meremehkan yang buta di sini bisa dipandang sebagai penggenapan nubuat mengenai Hamba-Penyelamat dalam Yesaya 53:2-3, “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada se-hingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang.” Ini adalah mengenal Dia menurut daging dalam keinsanian-Nya, bukan menurut Roh dalam keilahian-Nya (Rm. 1:4). Dalam keinsanian-Nya, Dia adalah tunas dari tanah kering, tunas yang keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang tum-buh dari pangkalnya (Yes. 11:1), sebuah Tunas bagi Daud (Yer. 23:5; 33:15), Tunas yang adalah seorang Manusia dan Hamba TUHAN (Yehova) (Za. 3:8; 6:12), keluar dari ketu-runan Daud menurut daging (Rm. 1:3). Di dalam keilahian-Nya, Ia adalah Tunas TUHAN bagi keindahan dan kemulia-an (Yes. 4:2), Putra Allah yang dinyatakan dalam kekuatan menurut Roh (Rm. 1:4).

Seorang dari Status yang Rendah

Hanya dalam Injil Markus Tuhan Yesus disebut tukang kayu. Orang-orang yang menolak Dia bertanya, “Bukankah Ia ini tukang kayu?” Mereka memakai kata “tukang kayu” dengan sikap menghina. Mereka tercengang oleh ajaran-Nya, hikmat-Nya, oleh perbuatan-Nya yang penuh kuasa. Tetapi mereka menganggap-Nya sebagai orang yang rendah statusnya. Pada saat ini, mereka mungkin mempersoalkan kecakapan yang Ia miliki, gelar apakah yang Ia miliki.

Kata “menolak” dalam 6:3 dalam bahasa aslinya ada-lah “tersandung karena”, menunjukkan bahwa orang-orang Nazaret menolak Hamba-Penyelamat. Mengapa mereka ter-sandung karena Dia? Mereka tersandung karena Dia, sebab meskipun di satu pihak mereka mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulut-Nya dan melihat beberapa perbuat-an-Nya yang menakjubkan, namun di pihak lain mereka memandang-Nya tidak memiliki status atau gelar yang ting-gi. Mereka melihat-Nya tak lain sebagai seorang tukang ka-yu. Karena itu, mereka tersandung dan meremehkan Dia.

Demikian pula secara prinsip hari ini. Kebanyakan orang Kristen memandang status dan gelar orang lain dan sangat antusias mengamati hal-hal semacam ini. Beberapa tahun yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang pengkhotbah yang sangat mempromosikan diri sendiri. Ia bertanya kepada saya berapa banyak di antara kami yang mempunyai gelar doktor. Saya tidak memberikan jawaban apa-apa atas pertanyaan itu. Kebungkaman saya menun-jukkan bahwa kami tidak menghiraukan berapa banyak anggota gereja yang mempunyai gelar doktor. Orang ini terus membanggakan banyaknya orang-orang dalam kelom-poknya yang memiliki gelar doktor. Ini adalah ilustrasi mengenai perhatian orang Kristen hari ini terhadap status dan gelar.

Banyak orang yang mempunyai gelar doktor dalam teologi tidak banyak memiliki pengalaman tentang Kristus yang hidup. Mereka juga tidak memiliki banyak kekayaan Kristus atau pengetahuan terhadap kedalaman kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Pengertian mereka akan Alkitab malah sebaliknya, sangatlah dangkal.

Kekayaan Kristus

dan Kedalaman Kebenaran

Dalam Markus 6 kita nampak Tuhan Yesus adalah tukang kayu. Ia tidak memiliki gelar atau status yang tinggi. Tetapi yang pasti, Ia memiliki kekayaan Allah Tritunggal, dan Ia juga mengetahui kedalaman kebenaran dalam Kitab Suci. Para pendengar-Nya sangat heran atas pengetahuan-Nya tentang Kitab Suci.

Catatan dalam pasal 6 hendaknya membuat kita ber-tanya kepada diri sendiri, apa yang kita inginkan dan apa yang kita hargai. Apakah kita menginginkan gelar yang lebih tinggi atau status sosial yang tinggi? Dalam pemulih-an Tuhan kita menginginkan Yesus dan kekayaan Kristus. Kita tidak mau doktrin dangkal dalam Alkitab, kita meng-inginkan kedalaman kebenaran ilahi dalam firman Allah. Kita ingin mengikuti Tuhan Yesus dalam melayankan kekayaan Allah Tritunggal kepada orang-orang, dan menya-jikan kebenaran ilahi dalam Kitab Suci kepada mereka. Inilah yang kita inginkan dan yang damba kita lakukan.

Jangan mengira jika kita memiliki kekayaan Kristus dan kedalaman kebenaran, kita akan disambut. Tidak, ini bukan zamannya orang menyambut kebenaran Tuhan di bumi. Sebaliknya, ini adalah zamannya Tuhan dan murid-murid-Nya diremehkan dan ditolak.

Tidak seorang pun bisa disamakan dengan Tuhan Yesus. Ia memiliki kekayaan Allah Tritunggal dan mengenal ke-dalaman kebenaran. Tetapi, tidak peduli betapa kayanya Dia, berapa banyak Ia mengenal kebenaran dalam Kitab Suci, Ia diremehkan dan ditolak, tidak disambut.

Walaupun Tuhan telah memperlihatkan kepada kita sedikit tentang kebenaran ilahi dalam firman, kita yang di dalam pemulihan Tuhan tidak disambut. Sering kali orang-orang yang hanya memiliki pengetahuan dangkal tentang kebenaran alkitablah yang memimpin orang untuk menolak kita dan menentang apa yang kita sajikan. Sebagian orang bertindak berlebihan, membuat tuduhan palsu yang menen-tang kita. Salah satu dari tuduhan palsu itu mengatakan bahwa kita menganut panteisme, yaitu bahwa kita memper-cayai segala sesuatu di alam semesta ini sebagai Allah. Yang lain menuduh kita aliran kepercayaan atau bidah. Akan tetapi, walaupun kita dituduh, diremehkan, dan ditolak se-cara tidak benar, saya tidak kecewa. Sebaliknya, saya se-makin terdorong. Ketika Yesus ditolak, Dia mengutus ke-dua belas murid. Kita percaya semakin kita ditolak, sema-kin banyak orang beriman dalam pemulihan Tuhan akan pergi menginjil, menyajikan kebenaran, dan menyuplaikan hayat.

MENGUTUS MURID-MURID

Dalam 6:7-13 tercatat pengutusan dua belas murid un-tuk menginjil. Menurut ayat 7, Tuhan memanggil kedua belas orang itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ayat 12-13 mengatakan, “Lalu pergilah mereka memberitakan bah-wa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak se-tan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.” Di sini kita nampak dua belas murid diutus untuk melakukan tiga perkara: Memberi-takan Injil, mengusir setan-setan, mengurapi orang sakit dan menyembuhkan mereka.

Mengusir Setan

Melalui Menyajikan Kebenaran

Bila kita meninjau tiga hal yang dilakukan oleh kedua belas murid yang diutus, kita akan nampak bahwa hal-hal ini berkaitan dengan ketiga perkara ini: memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan menyuplaikan hayat. Perkara pertama — memberitakan Injil — sudah jelas sama, dan tidak perlu dibahas lebih lanjut di sini. Akan tetapi, kita perlu nampak hubungan antara mengusir setan melalui menyajikan kebenaran.

Andaikata, Anda berkata kepada seseorang, “Kamu te-lah dirasuk setan, dan aku datang untuk mengusir setan itu.” Bila Anda demikian berbicara, tidak seorang pun mau mendengarkan Anda. Pada prinsipnya, cara terbaik meng-usir setan hari ini adalah menyajikan kebenaran dari firman Allah. Jika Anda berbicara dengan orang yang tidak per-caya, Anda bisa menyajikan kebenaran tentang persona dan pekerjaan Kristus. Jika Anda berbicara dengan seorang Kristen, Anda bisa menyajikan kebenaran khusus tentang kehidupan orang Kristen. Contohnya, Anda bisa menyajikan kebenaran tentang pengubahan (transformasi). Dalam me-nyajikan kebenaran ini, Anda bisa berkata, “Mari kita ber-sama-sama membaca 2 Korintus 3:18.” Kemudian bacalah ayat itu. “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan de-ngan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemulia-an yang semakin besar.” Setelah membaca ayat ini, Anda boleh menguraikan secara ringkas kebenaran tentang pengu-bahan. Sudah tentu, orang Kristen sejati yang menuntut akan tertarik dengan penyajian kebenaran yang demikian.

Menyajikan kebenaran adalah mengusir setan. Masyarakat hari ini dipenuhi setan. Setan-setan itu dapat disamakan dengan kuman. Kita perlu menyajikan kebenaran sebagai obat untuk menghentikan penyebaran “kuman” setan. Kita perlu menyajikan kebenaran, tidak hanya tentang pertumbuhan hayat dan pengubahan oleh hayat, tetapi juga kebenaran tentang keselamatan awal.

Saya tahu, dalam beberapa buku Kristen terdapat se-jumlah kekayaan rohani. Akan tetapi, sebagian besar keka-yaan tersebut telah terkubur atau terselubung. Jarang se-kali yang terjamah oleh kaum beriman. Hasilnya, keadaan orang Kristen hari ini pada umumnya miskin rohani. Con-tohnya, banyak orang Kristen sejati yang tidak tahu apa artinya diubah. Mereka belum pernah mendengar kebenar-an tentang pengubahan. Demikian pula, banyak orang ti-dak tahu makna sesungguhnya dari pengudusan. Mereka belum pernah mendengar bahwa pengudusan sejati memi-liki dua aspek: Aspek kedudukan (posisi) dan aspek watak (sifat). Kaum beriman ini mungkin hanya memiliki penger-tian umum tentang pengudusan. Mereka sebenarnya tidak tahu apa artinya dikuduskan.

Salah satu contoh kemiskinan dalam kebenaran ilahi adalah pernyataan yang dibuat oleh salah seorang siswa teologi bahwa Kristus sebenarnya tidak ada di dalam kaum beriman, melainkan diwakili oleh Roh Kudus di dalam me-reka. Menurut pandangan itu, Roh Kudus adalah wakil Kristus di dalam kaum beriman. Ajaran seperti itu jauh se-kali dari kebenaran Alkitab. Ini adalah sebuah ilustrasi ten-tang bagaimana “setan-setan” hari ini merebut, merasuki akal orang, dan menutupi pengertian mereka.

Apa yang akan kita lakukan terhadap situasi yang de-mikian? Sebagai pengobatan, kita perlu menyebarkan segala kebenaran yang telah Tuhan tampakkan kepada kita dalam pemulihan-Nya, dan menyajikan kebenaran itu sebagai “pe-nangkal” kuman-kuman setani. Kita dapat bersaksi, setiap kebenaran yang telah Tuhan tunjukkan kepada kita dari fir-man-Nya adalah obat yang manjur untuk membunuh ku-man-kuman itu. Sekarang kita perlu dengan cara yang te-pat terus menyajikan kebenaran-kebenaran Alkitab kepada orang.

Ketika kita menyajikan kebenaran kepada orang, kita perlu berhikmat. Jangan berkata, “Di dalam Anda banyak kuman, dan kami datang membawa obat pembunuh ku-man-kuman itu.” Jika Anda berkata demikian kepada orang lain, mereka akan bangkit menentang Anda.

Tidaklah berhikmat bila seorang dokter selalu memberi tahu seluruh hasil diagnosis kepada pasiennya. Jangan mem-beri tahu orang bahwa mereka terserang kuman-kuman, sajikan saja obat kebenaran kepada mereka dalam bentuk makanan rohani yang bergizi untuk mereka terima dan nikmati. Ketika mereka makan makanan sehat itu, mereka akan menerima obat yang mereka perlukan untuk menang-gulangi kuman-kuman yang ada di dalam mereka.

Baiklah kita gunakan kebenaran tentang pengudusan sebagai ilustrasi. Anda mungkin berkata kepada seorang beriman, “Tahukah Anda bahwa menurut Perjanjian Baru, pengudusan mempunyai dua aspek? Dalam Alkitab kita memiliki pengudusan dari aspek posisi dan aspek watak.” Bila Anda menyajikan kebenaran tentang pengudusan ini dengan benar, orang lain akan bersikap menerima. Mung-kin mereka akan berkata, “Ya, apa yang Anda katakan ke-padaku itu benar. Ketika aku percaya Tuhan Yesus, aku dikuduskan dari aspek posisi. Namun, kini aku nampak bahwa dari aspek watak aku belum begitu kudus. Mengenai watak, aku belum kudus, dalam banyak hal aku masih seperti orang lain pada umumnya.”

Baiklah kita semua belajar menjadi “pelayan” yang ba-ik, yang melayani orang dengan makanan kebenaran yang bergizi. Baiklah kita belajar menjadi orang yang cakap me-nyajikan kebenaran-kebenaran Alkitab. Dalam situasi hari ini, cara mengusir setan adalah menyajikan kebenaran.

Mengurapi Orang Sakit

Melalui Menyalurkan Hayat

Kita telah nampak bahwa semua orang di dalam pemulihan Tuhan harus keluar memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan menyuplaikan hayat. Kita pun telah nampak, menyajikan kebenaran adalah mengusir setan. Kini kita perlu melihat lebih lanjut bahwa menyuplaikan hayat kepada orang sama dengan mengurapi orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Banyak orang Kristen yang menderita sakit rohani ka-rena kekurangan gizi. Bagaimana kita merawat mereka? Cara terbaik untuk merawat mereka adalah bersaksi kepa-da mereka tentang pengalaman kita akan Kristus. Kesak-sian sejati tentang pengalaman rohani kita merupakan makanan yang terbaik.

Kesaksian kita kepada orang lain juga merupakan pengurapan kita terhadap mereka. Keperluan riil hari ini bukanlah menumpangkan tangan secara luaran, seperti yang dipraktekkan dalam gerakan Kharismatik atau Pentakosta. Yang perlu adalah bersaksi tentang pengalaman kita akan Kristus. Anda dapat bersaksi bagaimana Anda telah disela-matkan dan ditangkap oleh Tuhan, bagaimana Tuhan me-muaskan Anda, dan bagaimana Anda mengalami dan menik-mati-Nya hari demi hari. Melalui kesaksian itu, orang akan menerima pengurapan yang kaya. Melalui pengurap-an itu mereka akan terawat dan beroleh kesembuhan secara rohani. Karena itu, menyalurkan hayat kepada orang lain berarti merawat mereka dan mengurapi mereka dengan kesaksian kita.

Allah Tritunggal

Menjadi Kenikmatan Kita Setiap Hari

Kita semua perlu lebih banyak mengalami kenikmatan akan Tuhan. Kemudian kita perlu mempersaksikan kenikmatan tersebut kepada orang lain.

Bagi kebanyakan orang Kristen, pendapat tentang me-nikmati Tuhan ini mungkin terasa aneh. Banyak orang belum pernah mendengar bahwa Tuhan bisa kita nikmati. Mereka mungkin berkata, “Apa yang Anda maksud dengan menikmati Tuhan? Allah itu besar dan berkuasa. Bagaima-na kita bisa menikmati-Nya?” Jangan berdebat mengenai hal itu, persaksikan saja bagaimana Allah Tritunggal telah menjadi kenikmatan Anda sehari-hari. Kesaksian seperti itu akan mengurapi, merawat, dan mengenyangkan mereka.

Kita semua hendaknya mengikuti Tuhan dan kedua belas murid, yakni memberitakan Injil, mengusir setan, dan menyembuhkan orang sakit. Saya harap, kita semua keluar memberitakan Injil, mengusir setan dengan menyajikan kebenaran, serta mengurapi orang dan menyembuhkannya dengan bersaksi kepada mereka. Dengan demikian, kita akan mengenyangkan orang, mengurapi mereka, dan menyuplaikan hayat kepada mereka.