← Daftar isi Markus (3) · bab 16/23

GEREJA DAN KERAJAAN

Pembacaan Alkitab: Mrk. 4:26-29; Mat. 16:16-19; 1 Kor. 3:9b; Why. 14:4, 14-16

Dalam berita-berita sebelumnya kita telah membahas Kerajaan Allah seperti yang diwahyukan dalam Markus 4. Khususnya, kita telah memperhatikan benih kerajaan se-bagai unsur hakiki kerajaan. Sekarang kita akan maju lagi dan membahas hubungan antara gereja dengan kerajaan.

Gereja dan kerajaan berada di antara subyek-subyek terbesar dalam Alkitab. Jika kita membaca Perjanjian Baru dengan cermat dan tepat, kita akan nampak pentingnya gereja dan kerajaan.

Dalam Matius 3, menjelang awal Perjanjian Baru, terdapat perkataan mengenai kerajaan. Yohanes Pembaptis datang, memberitakan di padang gurun Yudea, katanya, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 3:2). Pemberitaan Yohanes Pembaptis merupakan permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Pertobatan dalam pem-beritaan Yohanes Pembaptis, sebagai pembukaan ekonomi Perjanjian Baru Allah, adalah berpaling kepada Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah berfokus pada kerajaan-Nya.

FONDASI GEREJA

Dalam Matius 16 Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya ke wilayah Kaisarea Filipi dan di sana Ia bertanya ke-pada mereka, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat. 16:13). Setelah mereka menjawab, kemudian Tuhan bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Simon Petrus, yang menerima wahyu dari Bapa menjawab, katanya, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup” (ayat 16 Tl.).

Menurut Efesus 5:32, ada rahasia besar yang terdiri atas dua bagian, Kristus dan gereja. Karena wahyu Bapa tentang Kristus hanyalah setengah dari rahasia besar ini, maka Tuhan meneruskan perkataan-Nya tentang gereja, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (ayat 18). Ini dengan tegas menunjukkan bahwa gereja haruslah dari Kristus dan untuk Kristus. Pertama-tama, Kristus diterima, dikenal, dan bahkan dimiliki. Kemudian Tuhan berkata bahwa di atas “batu karang ini” Ia akan mendirikan gereja-Nya. Batu karang ini tidak hanya meng-acu kepada Kristus, tetapi juga kepada wahyu tentang Kristus, yang diterima Petrus dari Bapa. Gereja didirikan di atas wahyu mengenai Kristus ini. Karena itu, “batu ka-rang” di sini bukan hanya Kristus sendiri, tetapi juga rea-lisasi, pengenalan, pengalaman, dan pemilikan atas Kristus ini.”

Hari ini banyak orang menyatakan dirinya mengakui bahwa Kristus adalah fondasi gereja. Akan tetapi, mereka tidak nampak bahwa fondasi sesungguhnya pembangunan gereja adalah pengenalan terhadap Kristus. Bila kita tidak mengenal Kristus dalam pengalaman kita, kita tidak akan memiliki fondasi pembangunan gereja. Karena itu, kita ha-rus mengenal Kristus. Kemudian pengenalan, pengalaman, kenikmatan, dan pemilikan kita atas Kristus akan menjadi fondasi yang di atasnya Ia mendirikan gereja.

KUNCI-KUNCI KERAJAAN

Dalam Matius 16:19, segera setelah berbicara menge-nai gereja, Tuhan melanjutkan pembicaraan-Nya tentang kerajaan, “Kepadamu akan Kuberikan kunci (kunci-kunci) Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan ter-ikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Di sini, “Kerajaan Surga” digunakan se-cara bergantian dengan “gereja”, yang dipakai dalam ayat sebelumnya. Saya tidak mengatakan bahwa istilah-istilah ini bersinonim; namun, dalam ayat 18 dan 19 istilah-istilah ini dipakai secara bergantian. Ini merupakan bukti kuat bahwa gereja yang sejati adalah kerajaan pada zaman ini. Hal ini diperkuat oleh Roma 14:17, satu ayat yang dituju-kan kepada hidup gereja (church life) yang tepat.

Perkataan Tuhan kepada Petrus dalam Matius 16:19 perihal kunci Kerajaan Surga digenapi dalam Kitab Kisah Para Rasul. Aspek pertama dari penggenapan ini terdapat dalam Kisah Para Rasul 2 dan aspek kedua dalam Kisah Para Rasul 10. Dalam kedua peristiwa ini Petrus menggunakan dua kunci. Dalam Matius 16:19 Tuhan berbicara tentang kunci-kunci, bukan satu kunci. Pada hari Pentakos-ta, seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus menggunakan salah satu kunci untuk membuka pintu bagi orang-orang Yahudi untuk masuk ke dalam Kerajaan. Ke-mudian di rumah Kornelius, seperti yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 10, Petrus menggunakan kunci kedua un-tuk membuka pintu masuk bagi orang-orang bukan Yahudi. Inilah alasannya dalam Efesus 2 kita nampak orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi dibangunkan bersa-ma-sama menjadi satu gereja: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, de-ngan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (ayat 19-20).

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa dalam Matius 16:18 kita memiliki gereja dan kemudian dalam ayat beri-kutnya kita memiliki kerajaan. Hal ini menunjukkan bah-wa ketika disebutkan untuk kali pertama dalam Perjanjian Baru, gereja dikaitkan dengan kerajaan. Selanjutnya, seper-ti yang telah kita ketahui, dalam ayat-ayat tersebut gereja dan kerajaan merupakan istilah-istilah yang dapat saling dipertukarkan.

REALITAS KERAJAAN DALAM GEREJA

Gereja disebut dengan jelas dalam Matius 16, namun Injil Markus tidak menyinggungnya. Dalam pasal 4, khu-susnya, Tuhan membicarakan Kerajaan Allah. Dalam 4:26-29 terdapat perumpamaan tentang benih. “Lalu kata Yesus, ‘Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah’” (ayat 26). Perumpamaan ini mewahyukan bahwa kerajaan adalah perkara hayat, yang bertunas, bertumbuh, berbuah, masak, dan menghasilkan tuaian. Dalam ayat 27 dan 28 kita nampak pertumbuhan benih yang spontan. Kemudian dalam ayat 29 ada tuaian. Perumpamaan ini adalah ilustrasi singkat tentang kerajaan.

Apakah gereja disinggung dalam perumpamaan tentang benih ini? Memang, gereja tidak disebut secara langsung di sini. Meskipun demikian, sedikit banyak di sini juga men-cakup gereja. Dalam perumpamaan ini ada penabur, benih yang ditaburkan, ladang, pertumbuhan benih, dan tuaian. Inilah suatu gambaran yang lengkap tentang kerajaan. Tetapi di manakah kita dapati gereja dalam gambaran ini? Perkara ini patut kita perhatikan.

Sebagai bantuan untuk menjawab pertanyaan mengenai di manakah gereja dalam 4:26-29, baiklah kita perhatikan perkataan Paulus tentang ladang Allah. Dalam 1 Korintus 3:9b, Paulus berkata kepada gereja di Korintus, “Kamu ada-lah ladang Allah.” Secara harfiah, kata “ladang” di sini da-lam bahasa aslinya berarti tanah pertanian. Gereja adalah ladang Allah, tanah pertanian-Nya, tanah garapan-Nya. Jika kita memperhatikan perkataan Paulus dalam 1 Korintus

3:9 bersama perumpamaan tentang benih dalam Markus 4:26-29, kita akan nampak bahwa perkataan Paulus mem-bantu kita memahami hubungan antara gereja dengan kera-jaan.

Kita boleh menggunakan kebun sebagai ilustrasi hubungan antara gereja dengan kerajaan. Di halaman rumah saya ada kebun kecil yang boleh disebut kerajaan, kerajaan tanaman. Kerajaan tanaman ini mengilustrasikan kerajaan yang ditaburkan sebagai benih dalam kitab-kitab Injil.

Dalam Surat-surat Rasul benih ini bertumbuh dan berkem-bang, dan akhirnya, dalam Kitab Wahyu, menjadi suatu tuaian. Wahyu 14 membicarakan buah sulung (ayat 4) dan kemudian masaknya tuaian (ayat 14-16). Tuaian itu akan menjadi perkembangan yang penuh dari kerajaan, dan me-nurut 1 Korintus 3:9, ladang di mana tuaian itu bertumbuh adalah gereja. Karena itu, dengan memakai gambaran ke-bun saya, kita bisa mengatakan bahwa kebun itu melukis-kan gereja, dan tanaman-tanaman yang tumbuh di kebun itu menggambarkan kerajaan. Gambaran ini membantu kita nampak bagaimana kerajaan ada dalam gereja. Teris-timewa Injil Matius menunjukkan kepada kita bahwa dalam gereja hari ini ada realitas kerajaan. Misalnya halaman saya hanya berupa tanah kosong, tanah yang gundul, tanpa tanaman apa pun yang tumbuh. Mungkinkah tanah yang kosong itu menjadi kebun? Tidak mungkin, yang ada ha-nyalah halaman dengan tanahnya yang gundul. Lalu, bagai-makah halaman itu bisa menjadi kebun? Ia bisa menjadi kebun hanya jika ada tanaman yang tumbuh di sana. Se-makin banyak tanaman yang tumbuh di sana, semakin ter-bentuklah kebun itu. Sama halnya, semakin banyak benih kerajaan bertumbuh di tanah yang telah dibajak, ladang, gereja, maka gereja akan semakin merupakan realitas kerajaan.

Dalam hidup gereja hari ini, banyak “tanaman” ber-tumbuh. Jika kita belum dilahirkan kembali, tetapi hanya merupakan orang-orang duniawi, kita hanyalah tanah ko-song. Namun karena kita telah dilahirkan kembali, maka kita semua adalah tanaman yang tumbuh di ladang Allah. Karena itu, kita adalah tanah garapan Allah, kebun-Nya. Lalu apakah kerajaan? Kerajaan sebenarnya adalah realitas dari tanaman-tanaman yang tumbuh di ladang Allah. Se-makin kita bertumbuh dalam hayat, realitas kerajaan semakin hadir bersama kita.

Perjanjian Baru membicarakan Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga. Namun, hal ini tidak berarti ada dua ke-rajaan. Kerajaan hanya ada satu, Kerajaan Allah yang unik, dan Kerajaan Surga merupakan bagian dari kerajaan yang unik ini.

Kita bisa menyamakan Kerajaan Allah dengan suatu negara seperti Amerika Serikat dan Kerajaan Surga de-ngan ibukotanya, Washington D.C. tempat markas-markas besar pemerintah federal berlokasi. Amerika Serikat dan Washington D.C. bukanlah dua negara. Bukan, Washington D.C. adalah suatu wilayah khusus, wilayah pemerintahan dalam negara Amerika Serikat. Kita bisa mengatakan Ke-rajaan Surga adalah Washington D.C. rohani, suatu wila-yah pemerintahan Kerajaan Allah. Karena itu, Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga bukanlah dua kerajaan. Yang benar adalah, Kerajaan Allah merupakan kerajaan yang unik, dan Kerajaan Surga adalah bagian dari kerajaan ini.

Untuk ini saya minta Anda mempelajari bagan kera-jaan yang ada pada halaman 202-203. Menurut bagan itu, dua lingkaran membentuk Kerajaan Surga — satu lingkaran untuk zaman anugerah dan lingkaran lainnya untuk za-man kerajaan. Dalam zaman anugerah ada gereja, dan da-lam gereja, seperti yang ditunjukkan oleh lingkaran dengan garis putus-putus, ada kaum beriman pemenang, orang-orang yang berada dalam realitas Kerajaan Surga.

Dalam gambaran kebun di halaman rumah saya, realitas Kerajaan Surga digambarkan sebagai tanaman-tanaman yang sedang tumbuh. Semakin tanaman-tanaman di kebun saya bertumbuh, realitas kebun di halaman itu semakin tampak. Andai semua pohon dan tanaman di kebun saya mati, dalam keadaan ini, kebun itu sama sekali tidak mempunyai realitas apa pun.

Kita perlu memperhatikan berapa banyak realitas hidup gereja yang ada di antara kita. Besarnya realitas tergantung pada besarnya pertumbuhan hayat. Jika Anda mengunjungi kebun saya dan nampak betapa sehat dan indahnya ta-naman-tanaman serta pohon-pohon yang ada di sana, Anda akan berseru, “Betapa cantiknya kebun ini!” Anda akan me-lihat sebuah kebun yang penuh realitas. Inilah gambaran yang kita maksud dengan realitas kerajaan dalam gereja.

MUTLAK PERKARA HAYAT

Gereja adalah kebun, dan kerajaan adalah kaum ber-iman yang tumbuh sebagai tanaman di dalam kebun ini. Bila kaum beriman, tanaman ini, mencapai kematangan, mereka layak menjadi raja beserta Kristus di dalam Kera-jaan Allah. Sewaktu Tuhan datang kembali, semua orang yang telah tumbuh matang akan layak meraja bersama-Nya dalam manifestasi kerajaan selama seribu tahun. Se-perti yang ditunjukkan oleh bagan itu, manifestasi kerajaan itu adalah di masa mendatang.

Perjanjian Baru bukannya menyajikan Kerajaan Allah hanya sebagai doktrin atau nubuat yang obyektif. Tidak, Perjanjian Baru mengajarkan kebenaran kerajaan sebagai realitas hayat. Kerajaan Allah sepenuhnya adalah perkara hayat ilahi.

Kitab 1 Korintus menyatakan bahwa Kerajaan Allah adalah perkara hayat Allah. Dalam 1 Korintus 1:2 terdapat gereja, karena Surat Kiriman ini ditujukan kepada “gereja Allah di Korintus”. Dalam Surat Kiriman ini Paulus ber-kali-kali menyinggung gereja atau gereja-gereja (4:17; 6:4; 7:17; 10:32; 11:16, 18, 22; 12:28; 14:4, 5, 12, 19, 23, 28, 33, 34, 35; 15:9; 16:1, 19).

Kita telah menekankan fakta bahwa dalam 1 Korintus 3:9 kita nampak gereja adalah ladang Allah. Dalam 1 Korintus 6:9-11, Paulus meneruskan pembicaraannya me-ngenai Kerajaan Allah, menunjukkan bahwa kaum beriman yang berdosa akan tidak layak mewarisi Kerajaan Allah. Karena itu, dalam pasal 1 kita memiliki gereja; dalam pasal 3, ladang; dan dalam pasal 6, kerajaan. Dalam 1 Korintus 15 Paulus sekali lagi membicarakan perihal Kerajaan Allah (ayat 24, 50).

Dalam Perjanjian Baru terdapat pemikiran bahwa Ke-rajaan Allah mutlak adalah perkara hayat. Benih hayat ini adalah Kristus yang almuhit. Persona ini telah ditaburkan ke dalam kita sebagai benih, dan benih ini sekarang ber-tumbuh dan berkembang di dalam kita hingga mencapai kematangan. Sewaktu benih ini bertumbuh di dalam kita, Kristus menggantikan kita dengan diri-Nya sendiri. Ketika kita mencapai kematangan, kita akan memiliki Kristus se-bagai pengganti kita sepenuhnya, dan Ia akan menjadi sega-la sesuatu kita. Saat itu juga merupakan masa panen dan masa kita memenuhi syarat untuk memerintah bersama Kristus. Dalam zaman ini kita memiliki realitas pertum-buhan hayat ilahi, dan dalam zaman berikutnya kita akan mengalami manifestasi kerajaan di mana Kristus dengan orang-orang yang meraja bersama-Nya memerintah atas seluruh dunia.

Kita semua perlu nampak bahwa Kerajaan Allah adalah perkara hayat. Kerajaan Allah diawali dengan penaburan benih hayat ke dalam kita. Benih ini adalah Kristus yang almuhit sebagai inti hayat yang tumbuh di dalam kita, berkembang di dalam kita, dan matang di dalam kita. Dalam hubungannya dengan benih ini, kita mempunyai Kristus, gereja, dan kerajaan. Kristus adalah benih, gereja adalah ladang atau kebun, dan kerajaan adalah realitas.